Title: Sun Burns Down Ch. 6 – Szayel Aporro

Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.

Warnings: Typos, OOC, OC, Violence

Note: We don't have super powers like they do. Credits to 'abang' Tite Kubo. The title comes from Akanishi Jin's America single. I just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Thanks for my forever love BlackWind1001!

.

.

.

Ichigo berbaring di atas tempat tidurnya menatap langit-langit, matanya memperhatikan retakan yang ada di sana dan melipat kedua tangannya agar dapat dijadikan bantal dibelakang kepala. Dia berpikir apakah ada orang yang masih terbangun pada jam sedini itu? Apakah sekarang seseorang yang tinggal di atas apartemen kecilnya, Rukia sedang bermimpi buruk? Bagaimana mungkin seseorang yang menghabiskan hidupnya sebagai bahan eksperimen sains tidak memiliki mimpi buruk yang seperti keluar dari film horor.

Dia menyerah untuk mencoba tidur, bayangan-bayangan itu terputar di dalam kelopak matanya tiap kali ia memejamkan mata, dan akhirnya ia menyingkirkan selimutnya. Selalu ada malam ketika ia tidak bisa tidur pada masa remajanya dan pada saat itu ia akan berjalan-jalan sebentar ditegah angin malam yang segar – kadang-kadang sendirian, kadang-kadang bersama beberapa temannya.Keadaan masih berbahaya saat itu, tapi bukan berarti sekarang tidak. Saat itu, jika mereka berada di tempat-tempat tertentu mereka akan tetap aman. Tetapi keadaan sudah berubah, sudah tidak ada lagi malam tanpa bunyi sirene yang terdengar secara konstan di dalam kegelapan malam, perusahaan-perusahaan bisnis yang dibumi hanguskan tiap dini hari, dan hal ini terjadi dimana-mana.

Ichigo mengeluarkan sekaleng minuman dari kulkasnya, menghidupkan televisi sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ini akan berhenti sebentar lagi. Dia selalu dapat tidur dengan nyaman ketika dirinya sedang melakukan suatu pekerjaan – mengikuti orang-orang tertentu, mempelajari jadwal mereka, dan menemukan cara dan waktu terbaik untuk menghabisi mereka. Semua itu sangat melelahkan. Tapi dengan begitu ia dapat lebih fokus ke masa sekarang, membuat memori-memori buruk itu terkubur sementara.

Mungkin itu juga kenapa, keberadaan Rukia disekitarnya membuat tenang teriakan-teriakan di dalam kepalanya. Ataukah itu mungkin hanya sifat alami gadis itu, keluguan yang datang dari dirinya karena hidupnya yang telah dipisahkan dari masyarakat membuatnya hanya mempunyai waktu-waktu hidup yang sederhana. Untunglah sekarang ia adalah tanggung jawab Renji. Ichigo lebih memilih untuk tetap menjaga Rukia agar tetap seperti itu. Lugu dan polos dan tidak mengetahui apa-apa karena sifatnya yang apa adanya.

Tidak ada yang menarik di televisi pada jam semalam ini – atau sekarang sudah pagi? Dia tidak yakin yang manapun itu – yang ada hanya beberapa sekilas berita dan program-program dewasa yang tersensor. Dia menghela napas, meneguk sodanya saat seorang wanita sedang mempromosikan banyak alat olahraga di sebuah channel dengan gambar yang jelek, garis-garis berjalan melalui gambar. Apabila beruntung, besok keadaanya akan jauh lebih baik, setidaknya untuk dirinya.

.

"Yang satu ini tidak akan berjalan dengan mudah, Ichigo." Suara percakapan pelanggan dan denting lembut antara alat makan perak dengan piring porselen cukup meredam suara Renji sehingga hanya Ichigo yang bisa benar-benar mendengarnya. Renjilah yang selalu mengajak untuk membicarakan sesuatu di tempat umum seperti café, tapi memang nyaman rasanya untuk berbicara di pojok ruangan yang cukup gaduh dan keluar dari gedung apartemen itu. Membicarakan hal seperti ini di tempat seperti itu terlihat lebih aman. "Ini akan berlangsung lama dan mungkin berba-"

Renji berhenti bicara ketika sebuah suara keras terdengar dari belakang Ichigo. Rukia duduk disana, sendirian di meja untuk bedua, meminum iced tea dari sedotan sampai membuat sebuah suara yang cukup meganggu di antara kubik-kubik es yang tersisa. Renji memanggil pelayan, meminta refill untuk minuman Rukia. Rasanya agak tidak sopan membiarkannya duduk sendirian, tapi Ichigo tidak ingin ia mendengar apapun dari percakapan ini dan Renji tidak ingin Rukia ditinggal sendirian di apartemennya, menghiraukan apapun perkataan Arisawa mengenainya yang 'berada dalam kontrol'. Lagipula Rukia terlihat senang berada disini, matanya mempelajari seluruh bagian café, mengamati kelakuan orang-orang yang tidak dibesarkan dalam lab sejak masih bayi.

"Aku tak peduli." Kata Ichigo sebagai respon pada peringatan Renji. "Aku akan melakukan ini."

Pandangan yang ia lihat di wajah Renji saat dia menggaruk kepalanya adalah sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya. Itu pandangan yang mengatakan ia menyesal telah membawa Ichigo ke jalan ini. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya lagi, mereka berdua tahu itu dengan benar. Renji tahu, pertanyaan seperti "Apa kau benar-benar ingin melakukan ini?" atau pertanyaan lain yang setipe dengan itu tidak ada gunanya untuk ditanyakan pada Ichigo lagi. Dan ia pasti akan memberinya saran lain nanti. "Dan apa yang akan kau lakukan setelah ini selesai?"

Renji memang sering bertanya tentang hal seperti ini padanya, tapi biasanya dia punya jawaban untuk menjawabnya, jawaban seperti 'dia sama dengan target lain yang mayatnya pantas untuk tercampur dengan sampah di sebuah lorong terlantar. Hari ini, dia tidak punya jawaban. Dibalik nama-nama yang tertera dikertas sobekan ditangannya, ia tidak punya jawaban, dan tidak ada di dalam dirinya yang bisa dia jadikan sebagai alasan balas dendam yang tepat. Jawaban lain yang ada hanyalah pembunuhan. Dan dia tidak bisa melakukan ini dengan alasan itu, ia tidak bisa menjadi orang semacam itu. Tetapi dendam adalah semua yang ia miliki, karena tidak ada hal lain yang bisa mengisi lubang dihatinya itu. "Aku… akan memikirkannya nanti."

"Oke, dan ingatlah," Renji tersenyum, tangannya terjulur menyeberangi meja untuk menepuk pundak Ichigo. "Aku akan selalu siap membantumu, atau setidaknya telepon, dan," Ia menunjuk melewati bahu Ichigo. "ada kemungkinan Rukia akan terlibat juga."

Ichigo mengangguk, memberikan senyum kecil sebagai 'terima kasih' dalam diam, tapi dengan cepat mengubah kembali topik pembicaraan ke awal. "Jelaskan padaku tentang ini, oke?"

Dengan menghela napas berat, Renji mengangguk. "Yang pertama," Dia menarik kertas yang dipegang oleh Ichigo "adalah orang ini. Szayel Aporro." Renji meletakkan kertas itu diatas meja, dan mengetukkan jarinya di atas nama itu. "Ketua dari pengamatan dan pengembangan. Tatsuki mengatakan ia datang beberapa kali dalam sebulan ke lab itu untuk mengecek. Dialah yang bertanggung jawab atas percobaan genetic pada anak-anak – bayi – dan mengubah mereka menjadi monster." Ichigo menyadari Renji melihat ke gadis yang berada dibelakangnya, kelihatan menyesal akan hal terakhir yang ia katakan, dan dirinya sendiri menoleh pada Rukia yang menyedot iced tea baru lewat sedotan. Sebab, Renji seperti baru saja membandingkan Rukia dengan maniacs – meskipun Ichigo juga ragu-ragu untuk menyebut Rukia dengan maniac – namun tetap saja ada beberapa hal yang tidak normal dengannya. "Aku tidak bermaksud untuk me-"

"Apa aku harus pergi keluar kota untuk melakukan ini?" Ichigo bertanya tanpa menunjukkan emosi sedikit pun, menghentikan arah pembicaraan bahkan sebelum itu dimulai.

Renji diam sejenak, mengetukkan jarinya di meja, dengan suatu tatapan dimatanya yang tidak bisa Ichigo mengerti. "Kupikir tidak. Berikan aku waktu untuk memikirkan caranya."

Ichigo mengangguk dan mereka lalu terdiam. Ia menyadari sebuah seringai kecil di wajah Renji karena gagal menyembunyikan pikirannya. "Kupikir," Renji mulai mengatakan apa yang ada dipikirannya dengan mencondongkan tubuhnya, "Kau mempunyai seorang penggemar."

Ichigo berbalik dengan cepat dan menemukan Rukia memandanginya, mata Rukia sempat membesar sebentar sebelum mengalihkan pandangannya. Ketika ia berbalik kembali, Renji masih memberikannya seringai itu.

"Oh, Diamlah."

.

Szayel Aporro bukanlah orang yang sulit untuk ditemukan, dan jadwal kegiatannya mempunyai banyak celah, seperti berpihak pada Ichigo agar ia bisa cepat menyelesaikannya. Ia sudah menunggu selama hampir seminggu, dan akhirnya hari itu datang – hari dimana Szayel akan pergi ke lab. Renji sudah mengurus semuanya untuk menyingkirkan supir reguler Szayel dari misi ini, Ichigo tidak pernah bertanya bagaimana caranya. Dia sendiri tidak yakin dirinya benar-benar ingin tahu.

"Dimana Kifune?" Kata Szayel saat ia mendekati mobil, tidak terlalu memperhatikan Ichigo.

Ichigo membukakan pintu, memberi hormat dengan membungkuk dengan sopan. "Dia menelpon karena sakit." Entah karena jawaban yang cukup bagus atau hanyalah Szayel yang tidak peduli, tapi Szayel memberikan anggukan kecil. Mungkin juga karena keduanya.

Ichigo menjaga dirinya agar ia tetap fokus ke jalan karena ia beberapa kali harus menoleh ke GPS untuk meyakinkan dirinya mengemudi ke arah yang tepat, setidaknya sampai mereka keluar dari area perkotaan. Sangat jauh, tapi ia tahu jalan ini. Ketika ia cukup jauh berada di area dimana hanya ada jalan dan gurun selama bermil-mil, ia akan mulai bekerja. Semuanya berjalan sesuai rencana.

"Tidak, tidak. Ini tidak bagus." Ichigo melihat di kaca spion, menguping pembicaraan telepon yang dimiliki oleh Szayel yang sekarang sedang marah. "Bukannya ini agak berbahaya bagi keamanan? Baik bagi perusahaan maupun penduduk? Aku masih mencoba untuk menjalankan tempat sial itu sebagai fasilitas perusahaan dengan benar! Bisakah kalian mengerjakan hal simpel seperti ini dengan benar?" Szayel sudah membuat berantakan kursi penumpang, kertas-kertas dan map portofolio yang terbuka berada dimana-mana. Dia memukulkan tangannya ke map portofolio di atas pahanya. "Bukan, ini bukan suatu kebetulan. Kau pikir aku bodoh?"

Kedua tangannya terasa menegang di seter mobil, dengan mudahnya mengerti akan alasan dari kemarahan Szayel. Szayel terus berteriak, mengatakan sebaiknya mereka membuat moodnya bagus ketika ia sampai. Beruntunglah siapapun yang dimaksud dengan 'mereka', karena Szayel tidak akan sampai disana.

Sekarang tidak ada apapun diluar sana, hanya ada matahari, jalan, dan gurun yang sebagian sisinya ditumbuhi rumput mati. Ichigo melambatkan mobil itu ke pinggir jalan, Szayel mengangkat kepalanya. "Kenapa kau berhenti?" Orang ini hampir pantas untuk mati karena kesal sepanjang waktu.

"Kupikir aku mendengar mesin membuat suara aneh. Maaf, ini hanya akan berlangsung sebentar." Ucap Ichigo sambil keluar dari mobil itu. Ketika pintu menutup dibelakangnya, dia mengangkat celananya, menarik keluar sebuah pisau yang ia sembunyikan disana. Ini hampir selesai, ia hanya perlu membuka pintu belakang dan menggorok tenggorokannya. Dia bisa merasakan lagi rasa yang sangat familiar ini, darah yang terpompa keras melewati seluruh tubuhnya, sampai terdengar jelas di telinganya. Cepat dan mudah, seperti apa yang biasa ia lakukan.

Dia salah sasaran tusuk, Szayel mendorongnya ketika dia telah membuka pintu, pisau itu menusuk di bagian dada lelaki itu. Ini bukan apa yang ia inginkan, tapi ketika pisau itu ditariknya dan darah menyemprot keluar mengenai wajah Ichigo ketika jantung lelaki itu berdetak, dia tahu pada akhirnya akan berakhir sama saja.

"Kau sialan!" Szayel berteriak kearahnya, satu tangan mencoba menutupi luka di dadanya, tubuhnya jatuh dari tempat duduk, kertas yang bertebaran bernoda merah. Mata Ichigo membesar ketika dia melihat tangan Szayel yang lain, sebuah pistol hitam kecil berada disana, mengarah padanya. Dia berhasil bergerak menghindar ketika pelatuknya ditarik, tapi pelurunya mengenai lengan kanannya. Ichigo menahan teriakan, meringis kesakitan, tetapi dia berhasil menghiraukannya masuk kembali ke dalam mobil, merebut pistol tersebut dari Szayel, dan mengarahkannya pada pemiliknya.

Ichigo menembak diantara matanya dan dia melepaskan napas berat yang ia tidak tahu telah ditahannya sejak kapan. Ia melempar pistol itu kedalam mobil, mengumpat pada dirinya sendiri sambil hendak menutup pintu. Pada detik terakhir dia berhenti sebentar, meraih dan mengambil sebuah folder yang berlumuran darah di paha Szayel sebelum menutup pintu dengan keras.

Dia kembali ke kursi pengemudi, dengan segera menyingkirkan jaketnya untuk melihat keadaan tangannya yang terluka dan memprediksi akankah ia bisa bertahan sampai ia pulang. "Ck! Ayolah." Gumamnya, mencoba merobek sebagian dari kemejanya seperti apa yang para aktor lakukan di film-film, tapi ia gagal. Akhirnya setelah beberapa saat dia berhasil, merobeknya, ia lalu berusaha dengan keras untuk mengikatkannya di lengannya sambil membuka folder Szayel. Wajah cantik Rukia memandanginya dari sebuah foto yang tertempel, setetes cairan merah berada di wajahnya. Ichigo menarik tangannya yang lain dan menyeka noda itu dari wajahnya. Rukia tidak pantas menjadi data portofolio yang dimiliki orang itu. Dia layak untuk hidup. Ichigo tersenyum lelah sambil menghidupkan mobil itu.

.

Butuh sedikit waktu baginya untuk sampai disini, setelah menelantarkan mobil Szayel di sebuah daerah kota yang terkenal dengan serangan maniac. Mungkin mobil itu sudah hangus terbakar ketika pagi tiba. Ia memaksa dirinya berjalan, kaki-kakinya sepertinya tidak menginginkan dirinya untuk berjalan lebih jauh dari ini, tapi akhirnya ia berhasil untuk sampai di depan pintu apartemen Renji. Ketukan asal-asalan yang ia hasilkan mencerminkan betapa lelah dirinya dan ia bisa mendengar suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa dan berat dari balik pintu.

Renji membuka pintu, menarik Ichigo kedalam. "Kau kelihatan kacau." Katanya, wajah dengan penuh perhatian yang tulus. "Duduklah." Dia memapah Ichigo mendekati sofa, membantunya duduk dan melepaskan jaket Ichigo. "Kupikir kau bisa melakukan ini dibawah kontrol."

"Kau tidak perlu mengejekku disaat seperti ini." Gumam Ichigo, meringis ketika Renji memeriksa lukanya.

"Maaf. Rukia," Renji menoleh ke gadis yang duduk di pojok ruangan seperti hendak meminta tolong sesuatu, tapi dia lalu menghembuskan napas seperti baru saja mengubah pikirannya. Sebaliknya, Renji mulai memeriksa lemari dan mengeluarkan sebuah botol dan handuk kecil yang lalu diberikannya pada Rukia. "Bersihkan lukanya, Oke? Aku akan kebawah sebentar." Dia menoleh ke Ichigo "Kau masih punya P3K kan?" Ichigo mengangguk, berpikir kenapa Renji tidak memilikinya. Mungkin dia punya, tapi kotak itu berada di busnya. Yang manapun itu alasannya, Ichigo tidak ingin bertanya.

Setelah sosok Renji menghilang di koridor, Rukia bergerak dari kursinya untuk duduk disebelah Ichigo, memperhatikan botol dan handuk seperti dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ichigo mengambil botol ditangannya, membaca labelnya – sejenis disinfectant – dan menuangkan sedikit ke handuk. Rukia mengerti apa yang ia harus lakukan mulai dari situ, menekankannya pelan ke luka di lengan Ichigo. Rasa perihnya membuat Ichigo meringis.

"Apa orang itu mati?" Tanya Rukia, dengan suara lembut.

Ichigo menatapnya bingung. Mereka tidak pernah mengatakan apapun tentang ini padanya, dan telah memutuskan untuk meneruskan perlakuan Ichigo padaya; membuatnya tidak tahu akan hal yang dapat membuatnya menjadi emosional. "Bagaimana bisa…"

"Aku mendengar kau dan Renji membicarakan tentang itu." Dia menunduk meminta maaf dan Ichigo menarik napas tajam.

"Rukia," Ichigo meraih lengan gadis itu karena dorongan hati, seperti dia takut Rukia akan lari. "Aku… Dia… Aku tidak akan menyakitimu." Rukia berkedip padanya, tampak bingung. "Maksudku, jika kau khawatir akan hal itu."

"Aku tidak khawatir akan apapun." Balas Rukia dengan senyum di bibirnya yang terasa seperti sudah biasa dilihat Ichigo. "Kau melakukannya untuk orang-orang sepertiku, kan? Jadi itu terasa seperti kau melakukannya untukku." Ichigo memperhatikan Rukia melakukan pekerjaannya, membersihkan lukanya dengan kelembutan yang membuatnya merasa tenang.

.

.

To Be Continued.

.

.

Author's Tea Time!

Ini gokil. Betapa tantangan bisa membuatmu sakit kepala XD

Apalagi bagian pembunuhan itu… saya tidak bisa memberikan Ichigo langsung pistol, nani nggak seru... Tapi hati saya menginginkan si abang Icchi yang ganteng itu membunuh pake pistol XD jadi kalo dia bawa langsung, ga seru. LOL

Btw…. Free! Itu anime nyiksa saya banget. Meleleh dengan mata setengah terpejam saya menontonnya… cowok-cowok ganteng XD Makotoo XDD

Saya hanyalah seorang newbie yang masih belajar, maukah kalian kasih review untuk membantu saya 'menyempurnakan' EYD atau entah apa aja untuk tulisan saya yang akan datang?

Terimakasih uda mau baca! :D