Title: Sun Burns Down Ch. 8 – Kurotsuchi Mayuri

Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.

Warnings: Typos, OOC, OC, Violence, Headaches, mention of dirty things.

Note: We don't have super powers like they do. Credits to 'abang' Tite Kubo. The title is comes from Akanishi Jin's America single Sun Burns Down (It's good if you listen to that while reading this) I just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Thanks for my forever love BlackWind1001!

.

.

.

"Dia tidak akan mudah dihabisi seperti Szayel." Gumam Ichigo sambil melihat catatan dari hasil menguntit target berikutnya dalam beberapa minggu ini, seseorang yang bernama Mayuri Kurotsuchi – Atasan Szayel yang menghabiskan sebagian besar waktunya di apartemen mewah dan kantornya, membuat dirinya mendapatkan perlindungan terbaik dari bahaya apapun. Dan penjagaan disekitarnya semakin ketat sejak tubuh Szayel ditemukan mati di area kumuh kota.

"Aku sudah bilang ini akan sulit untuk dikerjakan." Kata Renji, mengambil minumannya dan meneguknya. "Kupikir kali ini kau tidak akan bisa mebajak mobilnya. Trik seperti itu hanya bekerja sekali." Ia mencondongkan tubuhnya, siku bertumpu pada lututnya saat dia memperhatikan catatan-catatan yang tersebar di atas meja. "Kantor atau apartemen?"

Tidak butuh waktu lama bagi Ichigo untuk memikirkannya. "Apartemen. Ada banyak security di kantor."

"Kau pikir seorang pria yang memiliki posisi penting tidak memiliki penjaga juga dirumahnya?"

Benar juga, tapi, "Ada banyak orang yang tinggal di gedung apartemen itu. Selama aku bisa masuk cukup jauh ke dalam, aku bisa berimprovisasi."

Renji mengangkat minumannya ke bibirnya lagi. "Kau percaya diri sekali ya…" Ucapnya bukan sebagai pujian, tapi juga bukan sebagai penolakan. Hanya sebagai pernyataan biasa. Renji harus percaya padanya, tidak ada pilihan lain. Keraguan bisa membuat siapa saja terbunuh.

Mereka berdua kaget ketika tiba-tiba Rukia berdiri di antara jarak meja mereka berdua. "aku ingin membantu."

"Tidak. Kau tidak boleh." Renji mengatakannya dengan cepat seperti sebuah reflek.

"Kenapa tidak?"

Tanpa ragu, Renji menjawab. "Tatsuki memintaku untuk menjagamu, bukan memintaku untuk membiarkanmu ikut di pekerjaan yang berbahaya."

"Kau pikir dia akan kembali padamu jika kau menjadi pengasuh bayi yang baik?" Ichigo hampir tertawa.

"Berisik."

"Aku bukan anak bayi!" Bentak Rukia, membuat mereka berdua diam. "Aku bisa melakukan banyak hal. Aku juga sudah menyelamatkan diriku lebih dari sekali."

Ichigo bisa membuktikannya, walaupun pada saat itu Rukia memang secara tidak sengaja telah membakar sebuah stasiun kereta dalam prosesnya. Dia menarik lengan Rukia, menurunkan volume suaranya dan berharap Renji tidak mendengarnya. "Mungkin itu bukan ide yang buruk."

"Tentu saja." Jawab Rukia, mengangguk pelan.

"Rukia benar, Renji. Kau bilang ini akan sulit dilakukan, mungkin aku membutuhkan seorang partner-"

"Jangan menariknya ke dalam hal ini." Ucap Renji tegas dan Final dan Ichigo mendapati dirinya mengangguk tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Renji tersenyum penuh simpati ketika dia melihat kembali ke arah Rukia, "Percayalah, kau lebih baik tidak terlibat."

Itulah kalimat terakhir yang menutup pembicaraan mereka tentang hal ini.

.

.

Butuh waktu lebih lama dari yang mereka kira, untuk menemukan cara masuk ke gedung apartemen Kurotsuchi. Mereka menggali data mengenai seluruh penghuni apartemen – siapa membutuhkan apa, untuk menemukan cara yang dapat dimamfaatkan Ichigo untuk menyamar. Renji akhirnya berhasil menemukan satu cara: seragam berwarna abu-abu dari suatu perusahanaan jasa pengiriman barang yang biasa dipakai salah satu toko sayuran untuk mengirimkan pesanan pada pelanggannya di apartemen itu, seorang wanita tua di lantai sepuluh. Bila kau telah membantu banyak orang selama bertahun-tahun, kau akan memiliki banyak koneksi seperti Renji.

Ichigo menaikkan belasan kotak ke dalam mobilnya, kotak yang telah diisi berbagai macam benda untuk membuatnya terasa berat sebelum menutup bagasinya. Renji tidak tahu ia akan melaksanakan ini hari ini, ia harus bertindak cepat sebelum dia tahu. "Yo, Ichigo. Kau pergi sekarang?" Ichigo hampir melompat kaget ketika dia melihat Rukia, tiba-tiba ada disana tersenyum sambil bersender di mobilnya.

"Shit, Rukia." Gumamnya, berjalan menuju pintu pengemudi. "Kau tahu, Kau seharusnya mengatakan sesuatu sebelumnya." Ichigo membuka pintu itu. "Apa kau datang untuk mengantarku pergi?" Rukia mengangguk dan Ichigo tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum tipis dan mengatakan dengan pelan, "Terimakasih." Sebelum masuk ke kursi pengemudi.

Sebelum dia bisa meletakkan kakinya di pedal gas, pintu mobil di sisi yang lain terbuka dan Rukia menjatuhkan dirinya di kursi penumpang sebelahnya. "Aku ingin ikut."

"Tapi," Kata Ichigo, menelan ludah dengan gugup. "Renji bilang-"

"Aku tahu." Ada senyuman di wajah Rukia yang tampaknya benar-benar tidak cocok dalam situasi ini. "Dan Aku pada awalnya akan mendengarkannya. Tapi kau pernah mengatakan padaku 'kau bisa melanjutkan hidupmu sesukamu', dan dia juga bukan Ukitake-sensei ataupun Arisawa-sensei, maka Renji tidak punya hak untuk mengaturku. Itu juga karena aku tidak ingin kau terluka lagi. Lagipula, bila aku ikut kau akan punya bantuan." Logikanya masuk akal, tapi Ichigo berpikir itu tidak benar-benar akurat. "Aku bisa berguna" tambahnya dengan suaranya dalam nada yang nyaris memohon yang hampir memanipulasi pikirannya.

Ichigo menemukan dirinya mengangguk sebelum dia sadar untuk membuat keputusan. "Aku tahu kau berguna." Dengan perasaan sedikit enggan, dia mulai keluar dari area parkir. Rukia tersenyum, menarik sebuah topi berwarna abu-abu ke atas kepalanya. "Jangan beri tahu Renji." Ucap Ichigo, dan Rukia menaruh satu tangannya di depan mulutnya untuk menunjukkan pemahamannya. Jika Ichigo tidak sedang berpikir tentang akibat apabila Renji tahu, dia akan lebih sadar betapa imutnya Rukia tampak pada saat itu.

.

"Kau pandai dalam hal ini, Ichigo." Kata Rukia pelan ketika Ichigo berhasil membuat pintu apartemen Kurotsuchi terbuka. Dia tidak tahu bagaimana Ichigo melakukannya dan dia juga tidak ingin bertanya. Rukia pikir ini bukan jenis informasi yang ia perlukan untuk menjalani hidup.

Ichigo menarik keluar pistol yang telah ia sembunyikan dari balik jaketnya sebelum memutar gagang pintu dan membukanya dengan pelan. "Tetap berada di belakangku, oke?" Ichigo memberitahu Rukia dengan suara terpelan yang bisa ia keluarkan. Rukia mengangguk, menunggu Ichigo masuk ke dalam apartemen itu dengan pelan dan waspada. Ia lalu mengikutinya, meniru cara Ichigo berjalan masuk.

Mereka baru mengambil tiga langkah masuk ke ruang tengah ketika ia mendengar bunyi 'klik' di belakang mereka. Ichigo berbalik untuk melihat asal dari bunyi tersebut, mengarahkan pistolnya kesebelah kanan Rukia. "Jangan bertindak bodoh." Ucap seorang lelaki yang berdiri di sana. "Jatuhkan pistolnya." Ichigo ragu-ragu sebentar sebelum menaruh pistolnya pelan-pelan di atas lantai. Lelaki itu – Kurotsuchi, pikirnya – maju beberapa langkah untuk menendang pistol itu menjauh. Ketika dirinya sadar, Rukia bisa melihat dari sudut matanya pistol lelaki itu diarahkan ke kepalanya. "Lain kali kalau kau berniat menyelinap ke suatu tempat, jangan bawa orang dengan wajah yang dikenal."

Kurotsuchi menempelkan pistol itu di punggung Ichigo, membuatnya melangkah ke depan, masuk ke dalam apartemen, mengarahkan mereka berdua duduk ke sebuah sofa yang mahal namun tidak nyaman. "Tapi sepertinya aku harus berterima kasih karena kau telah mengembalikan properti perusahaan. Kau tetap akan ditangkap, tentu saja, tapi setidaknya kau telah melakukan sesuatu yang baik." Ichigo menatapnya sinis, alisnya semakin berkerut karena marah. "Ada apa dengan wajah itu?"

"Rukia itu manusia. Bukan barang." Rukia pasti merasa senang sekaligus aman karena dilindungi seperti itu jika nyawa mereka sekarang tidak sedang terancam.

"Oh. Ini bagus." Kata Kurotsuchi dengan nada ironi, meletakkan tangannya yang bebas di bahu Rukia. "Kau punya teman." Ichigo mengatakan sesuatu pelan dan sebuah pukulan dengan cepat mendarat di kepalanya. "Apa yang kau pikir lakukan di sini? Hah? Warga gila lain yang menyalahkan kami atas keadaan sekarang?"

"Aku di sini untuk apa yang telah kau lakukan pada Rukia," Jawab Ichigo tegas, tapi matanya terlihat seperti terkejut atas kata-kata itu. "Dan... dan orang-orang seperti dia."

Kurotsuchi menghela napas, berusaha tetap tenang. Walaupun dialah yang memegang pistol saat ini. "Rupanya kalian telah sangat siap untuk mengambil jalan terburuk."

"Jangan Mengalihkan pembicaraan! Kalian mengubah manusia menjadi senjata!" Kepercayaan diri Ichigo mulai terdengar runtuh semakin banyak ia bicara, tapi dia mencoba tetap bertahan pada pendiriannya. "Aku tidak bisa melihat satupun hal positif mengenai hal itu."

"Ini adalah metode untuk memulihkan ketertiban dunia." Kurotsuchi terdengar kesal, seperti Ichigo tidak mengerti. "Apa ini metode terbaik? Mungkin tidak. Tapi orang-orang yang memiliki kemampuan berbeda dan pikiran yang masih suci akan menyelamatkan nyawa yang tak berdosa. Sebenarnya sudah cukup sulit untuk memperbaiki keadaan tanpa orang-orang yang sok mengerti hukum seperti kau ikut campur dan-"

"Bagaimana dengan Rukia?" Potong Ichigo, membuat baik Kurotsuchi dan Rukia kaget karena ketiba-tibaannya. "Bukankah dia tidak berdosa? Dan kau berniat untuk membunuhnya." Kenyataan itu tidak terlintas dalam pikiran Rukia, bahwa ia akan dikirim kembali ke lab itu, bahwa dia akan mati. Tangannya terulur dan mengenggam Ichigo, seperti itu akan membuat segalanya lebih baik. Ketika Ichigo mengencangkan genggamannya, itu menenangkannya walau hanya sedikit.

"Hey bocah, kau masuk kesini membawa sebuah pistol." Ucap Kurotsuchi, mengeluarkan handphonenya. "Dan kau baru saja menguliahiku tentang hak asasi?" Dia berjalan mendekati Ichigo, mengejeknya dari jarak yang dekat. "Kami telah menyelidiki sidik jari di mobil itu. Jadi aku tahu kau pasti akan datang dan memburuku. Dan apa kau tahu? Tidak peduli apa yang kau katakan pada dirimu sendiri saat hendak tidur di malam hari, kau adalah pembunuh, kau tahu itu dengan benar kan?"

Rukia mendapatkan perasaan itu lagi. Perasaan yang ia rasakan di stasiun kereta beberapa saat yang lalu yang terasa sudah lama sekali terjadi. Entah karena perkataan Kurotsuchi atau karena keselamatannya dan Ichigo, dia tidak tahu dan perasaan ini terlalu kuat untuk dikendalikannya. Dia bisa mendengar suara Kurotsuchi saat dia bicara pada orang lain di sisi lain telpon dan kepalanya mulai terasa berdenyut, hampir sama menyakitkannya dengan pada saat Ichigo menemukan dirinya. "Rukia?" Suara Ichigo terdengar sangat jauh walaupun dia tepat berada di sampingnya.

Rukia memegang kepalanya dengan tangannya, matanya terpejam kuat. Dia nyaris tidak berhasil untuk membuat matanya terbuka ketika dia mendengar Kurotsuchi berteriak, Panas menjalar dari api yang mengkonsumsinya, api yang lebih besar dari yang pernah ia lakukan, seperti api neraka dan diluar kendali. Handphone-nya terjatuh dari tangannya dan dia roboh ke sofa di seberang mereka, api mulai menyebar. Rukia hampir terhipnotis dengan cahaya kuning-oranye dan warna daging yang menghitam.

Bayangan mengerikan itu menyita perhatiannya bahkan ketika ia merasa tarikan pada lengannya. "Rukia! Bangunlah!" dia tidak bereaksi, dan Ichigo menariknya berdiri, meletakkan lengan di pinggangnya, dengan cepat membawanya ke pintu, menjauh dari api yang mulai menghanguskan ruangan itu. Dia melewati lift yang membawa mereka naik ke lantai ini dan menuju tangga darurat. Rukia hampir tersandung beberapa kali sebelum mereka benar-benar berhenti karena mendarat di area kecil di antara tangga. "Rukia? Katakan sesuatu! Apa kau baik-baik saja!?" Dia bisa merasakan tangan Ichigo di wajahnya, kelembutannya secara perlahan menenangkannya, sakit dikepalanya mulai hilang. "Rukia?" Dia menjawab dengan sebuah anggukan dan Ichigo menariknya mendekat tanpa mengatakan apapun.

Rasanya nyaman dan aman berada di dalam pelukan Ichigo, setidaknya sampai alarm mulai berbunyi ke seluruh penjuru bangunan. Ichigo melepaskannya dengan cepat, bergumam, "Ayo." Sambil meraih tangan Rukia dan melesat dengan kecepatan penuh menuruni tangga.

.

"Ichigo, menepi." Rukia memohon dengan suara yang terdengar gemetar, tangannya mencengkeram dashboard sebaik mungkin yang ia bisa sedangkan Ichigo mengebut dijalan, mendahului banyak mobil seperti seorang pembalap professional dengan pikiran seakan jika mereka menjauh secepat mungkin akan membuatnya melupakan hal-hal yang baru saja terjadi. Mematuhi batasan kecepatan adalah sesuatu yang polisi tidak pedulikan lagi seperti mereka dulu. "Kumohon."

"Kita harus menjauh secepat mungkin." Mata Ichigo tidak pernah meninggalkan pemandangan jalan di hadapannya, mencari jalan di antara mobil-mobil yang melaju lebih lambat di hadapan mereka.

Rukia mulai mengambil napas dalam dan cepat. "Aku merasa tidak enak, Ichigo." Akhirnya Ichigo melihat ke kursi penumpang di sampingnya, ke wajah Rukia yang pucat, dan pada akhirnya dia memutuskan untuk melakukan apa yang dipinta Rukia sebelumnya. Lagipula gedung apartemen Kurotsuchi sekarang sudah tak terlihat dan kata-kata Kurotsuchi tentang akan menangkap mereka pun sekarang belum jelas karena tidak ada yang mengikuti mereka. Dia menepikan mobil itu ke sisi jalan, Rukia melepas seatbeltnya dan membuka pintu sebelum mobil itu benar-benar berhenti, jatuh terduduk di trotoar yang untungnya pada saat itu sedang sepi.

Ichigo menunggu beberapa saat di dalam mobil itu, mengumpulkan kesadarannya dan menarik pistol yang disimpan di saku kemejanya, melemparkannya ke arah kotak-kotak yang sebelumnya telah mereka penuhi dengan barang. Ia melangkah keluar dan memutari mobil untuk berdiri di sebelah Rukia yang terbatuk-batuk dan terlihat gemetar. "Rukia?" Ichigo berlutut di sebelahnya mengangkat tangan untuk menyentuh punggungnya dengan ragu-ragu."Apa… Ada apa?"

Dia harap Rukia tidak melihat ke arahnya saat itu, dengan mata yang terlihat basah karena air mata. Seribu alasan yang membuat Rukia seperti itu mulai melayang memasuki pikirannya. Karena sesuatu yang telah Kurotsuchi katakan? Bila itu benar, maka Ichigo bisa mengerti, namun dia khawatir bila bukan itu alasannya.

Rukia tertawa pelan, mengelap hidungnya dengan lengan baju. "Aku tidak apa-apa." Kata itu tidak terdengar seperti dia menyembunyikan perasaan takutnya pada Ichigo atas apa yang baru diketahui Rukia tentangnya. Sebenarnya Rukia juga tidak pernah benar-benar mengatakan apapun tentang dirinya tapi, "Tapi… seseorang pasti akan merindukannya, kan?" Untuk mendengar Rukia mengucapkan kata-kata itu terasa menyakitkan lebih dari apapun. Karena dia tidak pernah mengakui apa yang telah ia lakukan. Karena ia tidak pernah berpikir bahwa setiap nyawa yang dibunuhnya akan menyakiti seseorang di luar sana.

Dia ingin mengatakan sesuatu, sesuatu seperti kata 'maaf' yang simpel atau yang lainnya, tapi kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokannya. Sebaliknya ia hanya melingkarkan tangannya di sekitar Rukia, menariknya mendekat dan berharap perlakuan itu akan mengatakan kata-kata itu untuknya. Di saat yang sama, itu kelihatan juga seperti satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk memegang kontrol dirinya.

.

Ichigo tidak mengatakan apapun setelah mereka kembali ke mobil, perjalanan kembali ke apartemen mereka diisi dengan keheningan kecuali suara yang dihasilkan mesin. Tangannya belum berhenti gemetar, jadi dia menggenggam kedua tangannya di atas pangkuannya untuk menyembunyikannya, seolah Ichigo sedang memperhatikannya.

Sebenarnya dia tidak harus mengikuti Rukia naik ke tempat Renji, tapi untuk alasan tertentu, dia mengikutinya. Mungkin karena ia tahu Renji akan marah padanya karena membiarkan Rukia mengikutinya, Renji pasti marah walaupun dia agak ragu. Menilai dari bagaimana ia terlihat sekarang, hukuman mungkin sesuatu yang ia inginkan sekarang, untuk dimarahi atas sesuatu yang disesalinya.

Rukia masih tidak tahu apa yang ia rasakan atas apa yang terjadi di dalam apartemen itu, entah perasaan ini rasa bersalah atau emosi lain yang belum dikenalnya dan secara alami telah diprogram ke dalam otak manusia miliknya yang telah di kurung di dalam sebuah lab. Sebuah program emosi yang seharusnya tidak boleh dialaminya.

Rukia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, namun dia berhenti, meraih tangan Ichigo. "Ichigo…" Ucapnya pelan, tidak yakin bagaimana dia akan mengambarkan pikirannya. Ia melepaskan tangan Ichigo dan mengetuk dengan pelan.

Pintu itu terbuka dengan cepat, memperlihatkan Renji yang kelihatan lebih lega karena melihat mereka berdua. "Rukia." Dia menarik gadis itu masuk, Ichigo mengikuti di belakang dengan pelan. "Apa yang terjadi? Kau tidak terluka kan?" Dia mendudukkan Rukia diatas sofa, memeriksa kepalanya untuk mengecek apakah ada luka di sana. Ada banyak sekali hal yang tidak dikenalinya hari ini, tapi Rukia yakin dia tidak akan bisa berjalan dengan normal apabila ia punya luka di kepala atau di tempat lain.

"Aku baik-baik saja." Jawabnya pelan, memaksakan sebuah senyum yang tidak terlalu lebar tapi cukup untuk menyatakan maksudanya.

Lalu Renji mengalihkan perhatiannya pada Ichigo, ekspresinya masih menunjukkan kepedulian tapi lebih terselubung dengan kemarahan dan frustasi. "Jadi, tidak ada satupun kata yang telah kuucapkan dapat kau pahami sekarang? Aku sudah memberitahumu untuk tidak melakukan itu dulu, memikirkan rencana agar lebih matang, dan kau pergi begitu saja dan melakukannya?" Ichigo tidak bereaksi sedikitpun. "Hey! Dengarkan aku!" Teriaknya, menarik kerah Ichigo. " Orang-orang di luar sana termasuk kau tidak bisa kembali normal karena itu!"

"Aku tahu," Kata Ichigo, suara bergetar dan terdengar rapuh dari semua suara yang pernah Rukia dengar. "Aku tahu."

Perlakuan Renji padanya melembut, tarikan di kerahnya melonggar. "Aku tidak bermaksud…"

Rukia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ichigo yang terpuruk seperti ini. Ia belum pernah melihatnya seperti ini, selama ini, selama dia mengenalnya.

"Aku ini pembunuh."

Rukia mendengar isakan di dalam perkataannya.

"Sudah kubilang." Kata Renji pada Ichigo, tenang dan yakin, seperti lupa bahwa Rukia berada di sana juga. "Mereka pantas menerimanya. Mereka melukai banyak orang. Mereka-"

"Tapi Ibu dan Oyaji dan-"

Rukia bergidik saat mendengar suara kontak antara tangan Renji dengan wajah Ichigo. "Orang itu bukan kau. Apa kau mendengarku?" Dia menaruh tangannya di dagu Ichigo, membuat ia mengadah untuk menatapnya. "Orang itu bukan kau. Jangan lupakan itu."

Ichigo menarik napas dalam dengan gemetar, yang menenangkannya walau hanya sedikit. Dia melihat ke Rukia di balik pundak Renji, menggerakkan bibirnya, namun tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa didengar di seluruh ruangan. Rasanya menyakitkan di dalam dadanya untuk melihat mata itu, mata dengan begitu banyak kepedihan yang tersembunyi di dalamnya yang sepertinya sudah Ichigo pendam selama beberapa waktu. Apakah ini perasaan yang orang-orang maksud dengan rasa iba, perasaan ketika seseorang merasa tidak enak dan sedih? Apaun itu, Rukia tidak menyukainya.

Dia bisa mendengar Renji menggumamkan sesuatu yang sangat pelan untuk dapat dimengertinya sebelum Ichigo mengangguk pelan dan berjalan keluar dari apartemen itu. Rukia tidak tahu mengapa, namun tubuhnya membuatnya berdiri, mengambil dua langkah maju ke arah pintu. "Beri dia waktu sendiri, Rukia." Ucap Renji, dengan pelan mendorong Rukia untuk duduk kembali di sofa.

"Ada apa dengannya?" Tanya Rukia dengan khawatir, terus menatap ke arah pintu. Renji memberinya jawaban samar-samar yang membuatnya tidak puas. "Renji, apa yang terjadi padanya? Maksudku sebelumnya."

Renji memberikan gestur tubuh seperti dia tidak akan menjawab pertanyaannya, sikap Renji yang menandakan dia akan berpura-pura tidak mendengar apapun sampai malam berlalu. Dia mengagetkan Rukia ketika dia mulai bicara, "Kau harus mengerti." Sambil mengambil bir kalengan dari dalam kulkas. "Orang muda adalah orang-orang yang idealis. Mereka pikir begitu mereka besar dan memiliki sedikit kekuatan, mereka bisa menyelamatkan dunia." Dia menjatuhkan dirinya ke sofa di seberang Rukia, mendorong naik sesuatu di bagian atas minuman kalengnya. "Kurosaki… dia hanya ingin membantu. Obat-obatan itu memberimu kekuatan, tapi tidak ada yang berpikir lebih panjang tentang efek sampingnya."

Rukia mencondongkan tubuhnya maju dan memperhatikan lantai seperti sedang berpikir. "Jadi kau mengatakan bahwa Ichigo adalah salah satu dari maniacs itu?" Entah bagaimana, rasanya tidak terlalu mengherankan apabila pikiran Rukia mengarah pada hal itu.

Renji mengangguk, mengangkat kaleng itu ke mulutnya. "Ketika aku menemukannya, semua tentangnya sangatlah berantakan." Ekspresi Renji berubah kosong, seperti dia sedang tersesat di dalam suatu kenangan. "Perlu banyak sekali penawar sampai efek obat itu benar-benar hilang. Aku sampai sekarang masih tidak yakin pikiran, akal sehat, dan kesadarannya telah kembali – yah memang tidak semuanya benar-benar kembali."

"Dia…" Rukia berusaha untuk menghilangkan keinginan untuk berlari keluar, mengejar Ichigo karena dorongan reflek. "Apakah dia pernah menyakiti orang?" Ia tidak yakin dirinya menginginkan jawaban untuk pertanyaan ini.

"Dia sudah memberitahumu tentang keluarganya, kan?" Tanya Renji pelan, minumannya sekarang sudah setengah kosong.

"Ichigo memberitahuku mereka telah tiada." Renji mengangguk lagi dan pada saat itulah Rukia sudah tidak bisa menahan dirinya.

Dia berdiri dari sofa, dengan cepat bergerak menuju pintu sebelum Renji bisa menghentikannya. Dia berlari menuju pintu tangga darurat – menunggu lift akan membuang waktunya – dan mengambil langkah-langkah lebar. Melewati dua anak tangga sekaligus setiap kali ia melangkah.

Untuk pertama kalinya dia berlari di koridor lantai Ichigo, mengetuk dengan tidak sabar ketika sampai di depan pintu Ichigo dan mundur sesaat untuk mengatur napas. "Ichigo?" Ucapnya sambil mulai mengetuk lagi menghiraukan kepala-kepala yang mulai terjulur keluar karena kegaduhan yang tidak biasa.

Akhirnya ia meraih knob pintu Ichigo dan mendorongnya, tidak terkunci. "Ichigo?" ucapnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan. Begitu ia mulai memasuki ruangan itu matanya langsung tertuju pada Ichigo yang duduk di lantai di sebelah tempat tidur dan menatap hampa tembok yang berada di seberangnya.

Rukia berjalan mendekatinya dengan pelan, dan mengambil tempat untuk duduk di lantai di sebelahnya. Apa yang harus ia katakan sekarang? Haruskah ia menyentuh pundaknya atau memegang tangannya atau melakukan hal lain yang dapat membuatnya merasa lebih nyaman? Ini mungkin salah satu tahap yang harus dipelajarinya dalam proses normal kehidupan. "Um…" Butuh beberapa saat bagi otaknya untuk merakit kalimat yang tepat. "Kupikir Renji benar." Ucapnya pada akhirnya, menatap di tempat sama yang tampaknya sangat menarik bagi Ichigo. "Ya. Renji benar karena Ichigo adalah orang yang terlalu baik untuk melukai seseorang yang tidak jahat. Jadi-"

Kata-katanya memudar ketika Ichigo bersandar padanya, wajahnya dibenamkan di pundaknya dan kedua tangannya di sekitar pinggangnya, terlihat rapuh baginya. Ichigo tidak mencoba untuk menjelaskan atau membicarakan apapun, ia hanya meminta sesuatu padanya dengan suara serak. "Jangan tinggalkan aku, Rukia."

Rukia menngangguk pada dirinya sendiri, melingkarkan lengannya di sekitar Ichigo seperti apa yang telah Ichigo lakukan untuknya disaat dirinya bersedih. "Kenapa aku harus pergi?" Rukia tidak mengharapkan jawaban dan Ichigo juga tidak memberinya respon apapun, mulai menangis dalam diam di bahu Rukia. Rasanya damai seperti ini, pikirnya sambil mengelus pelan rambut oranyenya, untuk dapat melakukan sesuatu yang berarti bagi Ichigo sesekali dan jika ia punya pilihan untuk melakukannya, Rukia tidak akan pernah melepaskannya.

.

.

To Be Continued

.

.

Author's Tea Time!

Ada yang sadar keanehan di komik Bleach volume 54 gak?

Ada satu tokoh yang tiba-tiba ilang… saya belom sempet nonton animenya karena saya jabanin satu-satu dan baru selesai download bulan juni kemaren. Saya baru nyampe episode 310-an, masih long way to go.

Saya nggak salah lihat, di awal-awal ada Yachiru nemplok di pundak Kenpachi. Terus di belakang-belakangnya (waktu Hitsugaya bilang 'Kuchiki dan Kuchiki') dia nggak ada! LOL abang Tite yang gahol itu emang unyu. XD

Saya hanyalah seorang newbie yang masih belajar, maukah kalian kasih review untuk membantu saya 'menyempurnakan' EYD atau entah apa aja untuk tulisan saya yang akan datang? XD

Terimakasih uda mau baca! :D