Title: Sun Burns Down Ch. 9 – He is in love with her
Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.
Warnings: Typos, OOC, OC
Note: We don't have super powers like they do. Credits to 'abang' Tite Kubo. The title is comes from Akanishi Jin's America single Sun Burns Down (It's good if you listen to that while reading this) I just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Thanks for my forever love BlackWind1001!
.
.
.
Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali ia 'terpuruk' seperti ini. Menghabiskan sepanjang malam dalam diam memikirkan banyak hal-hal buruk yang entah masa lalunya atau bukan sampai dia kelelahan dan akhirnya tertidur. Rukia duduk di sampingnya sepanjang waktu, hampir sama sekali tidak bersuara dan hanya melakukan hal-hal yang menenangkannya. Tanpa menilai, Ichigo bersyukur saat itu Rukia ada di sana setelah apa yang terjadi. Pandangan Rukia terhadapnya berubah, namun cara dia bicara pada Ichigo dan cara menatapnya saat bicara masih sama seperti biasanya.
Bahkan ketika dia menceritakan ingatan menyakitkan itu – yang membuatnya mengutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa ia tidak merasakan apapun atas apa yang telah ia lakukan sampai seluruh keluarganya tergeletak dingin tak bernyawa di lantai di ruang tamu rumahnya – Rukia tetap mengelus pundaknya dengan lembut. Dia tahu Rukia tidak bisa mengatakan apapun padanya untuk berempati, tapi apa yang Rukia lakukan padanya baginya sudah cukup.
Ketika dia bangun, pagi sudah lama berlalu, sinar mentari terik mulai menyinari ruangan itu dari tirai yang setengah terbuka. Dia bisa merasakan ada suatu beban berat di pahanya, Rukia meringkuk dengan tidak nyaman di atas lantai seperti seekor hewan peliharaan. Ichigo menggerakkan pelan kakinya, mencoba untuk membangunkannya lembut. Mata Rukia perlahan-lahan terbuka, melihat ke sekeliling sejenak seperti dia lupa dimana ia berada sekarang sebelum dia berkedip ketika melihat Ichigo.
"Ohayou." Ucap Rukia sambil menguap saat ia mencoba untuk duduk. "Bagaimana keadaanmu?" Ichigo hanya bisa membuat ekspresi yang menggambarkan ia tidak benar-benar tahu apa yang dirasakannya sekarang. Mungkin lebih baik? "Apa kau ingin aku tetap di sini? Karena aku bisa tetap di sini kalau kau mau."
Dia ingin mengatakan pada Rukia bahwa ia tidak harus terus menemaninya, tapi mulutnya menolak untuk mengatakan hal itu dan malah mengatakan "Tolong tetap disini." Sebagai gantinya. Rukia tersenyum simpul dan mengangguk. "Apa kau lapar?"
"Ya, Sedikit." Jawab Rukia, berdiri untuk membuka tirai sepenuhnya.
"Buatlah makanan atau apapun." Ichigo berdiri melangkah mendekati lemari. "Aku rasa aku harus mandi."
"Kenapa kau memintaku untuk tetap tinggal jika kau ingin waktu sendirian." Rukia tertawa, mengecek isi lemari pendingin Ichigo. Ichigo yakin dirinya tersenyum untuk pertama kali sejak kemarin sambil berjalan ke kamar mandi.
Airnya terasa hangat dan nyaman, membantu ototnya yang terasa tegang agar kembali rileks, membiarkan air yang mengaliri kepalanya membawa ingatan tentang malam sebelumnya. Ia tahu ingatan itu tidak akan pernah benar-benar pergi, tidak selama ingatan mengenai masa lalunya tetap berada di kepalanya. Dari banyak sekali hal yang tak bisa diingatnya pada masa itu, mengapa ingatan yang paling buruk dapat diingatnya? Dia hampir berharap penawar yang diberikan Renji mengambil semua ingatannya. Membiarkan otaknya tak memiliki apapun dan membuatnya menjadi sepolos Rukia. Dia pasti bisa menjalani hidupnya seperti tidak ada yang terjadi, bukannya terasa kosong seperti sekarang, terisi dengan ingatan-ingatan tentang misi-misi yang sudah dilakukannya.
"Ichigo?" Dia hampir melompat kaget ketika dia mendengar suara Rukia, pintu kamar mandi terbuka lebar. "Aku membuat pancake. Kau mau?"
"Ru-Rukia." Dengan cepat ia menutupi tubuhnya, pipinya memerah. Dia menelan kembali apapun yang ingin ia katakan yang akan membuatnya merasa lebih malu. Sedangkan Rukia tetap berdiri di sana dan kelihatan tidak mengerti apapun tentang batasan privasi. "Kau… Kau bisa masak?" adalah hal selanjutnya yang datang ke kepalanya.
Rukia mengangguk dengan bibir yang melengkung ke atas dalam senyuman bangga. "Renji yang mengajariku. Kau mau tidak?" Ulang Rukia pelan seperti Ichigo tidak mendengar pertanyaannya yang sebelumnya.
Ichigo berkedip. "I-iya, Tentu saja." Rukia mengangguk dan menutup pintunya saat ia keluar.
Air hangat yang mengalir di wajahnya tidak membantu mendinginkan pikirannya. Apakah Renji tidak pernah mengajarkan Rukia tentang konsep mengetuk pintu? Atau mungkin itu karena Rukia merasa terlalu nyaman dengan Ichigo sampai batasan privasi tidak lagi dipikirkannya. Pikiran tentang dugaan terakhirnya membuat wajahnya terasa lebih panas dari pada air yang mengaliri tubuhnya.
Dia menunggu di dalam kamar mandi lebih lama, memberikan dirinya beberapa waktu untuk menenangkan dirinya atas kejadian barusan, sebelum dia keluar dari bath tub dan mengeringkan dirinya. Rasanya lebih baik setelah membersihkan tubuhnya, seperti ia baru saja mensucikan jiwanya kembali, walaupun sebenarnya perasaan tidak enak itu tidak pernah benar-benar pergi. Tanpa sadar ia tersenyum geli ketika mengingat Rukia yang masuk saat dia mandi tanpa pemberitahuan apapun. Itu memalukan.
Ada makanan yang diletakkan di atas meja ketika ia berjalan melewati dapur, herannya tidak hangus dan terlihat cukup enak serta aman untuk dimakan. Dia tidak mendengar suara apapun dari Rukia, dan pikirannya langsung mengarah pada Rukia yang telah kembali ke tempat Renji. Ichigo menghembuskan napas berpikir dirinya ditinggalkan, walaupun ia telah memintanya untuk tetap tinggal. Tetapi instingnya menyuruhnya berbalik, dan ia melihat gadis itu berbaring di atas tempat tidurnya, dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka.
Ichigo duduk di sebelahnya, meraih dagunya dengan pelan untuk menutup mulutnya. Mulut gadis itu terbuka lagi dengan pelan dan kali ini Ichigo hanya tertawa kecil sambil mengelus pipi Rukia dengan lembut. "Kupikir aku jatuh cinta padamu." Ucapnya tanpa berpikir, tanpa proses di otaknya yang dapat mencegah dirinya untuk mengatakan sesuatu yang belum pernah benar-benar dipikirkannya, tetapi begitu kata-kata itu telah terucap, ia tidak menariknya kembali.
"Apa?" Rukia dengan suara kecil dan mata yang setegah terbuka membuat Ichigo membeku di tempat sampai ia ingat dimana tangannya sekarang berada dan dengan cepat menyentakan tangannya dari wajah Rukia.
"B-Bukan apa-apa" Ucapnya dengan suara yang tidak meyakinkan. "Aku hanya… berterima kasih atas pancakenya." Dan Rukia hanya mengangguk dengan mengantuk.
Apakah Rukia tahu dia berbohong atau tidak, ia tidak tahu, tapi dari cara gadis itu berbaring di atas kasurnya dan kembali tidur membuat Ichigo merasa sedikit lega, menganggap Rukia tidak mengerti apa artinya 'cinta'. Tapi anggapan itu juga membuatnya merasa agak sedih.
.
Renji sudah makan malam ketika Rukia pulang, wajahnya menunjukkan rasa bersalah karena telah pergi seharian tanpa mengatakan apapun. Sejujurnya, Renji tidak terlalu memikirkannya, karena pada saat Rukia pergi, ia menghabiskan malam di bar sampai mabuk dan kemudian tertidur sampai siang. Dia tahu Rukia ada dimana –memangnya ada tempat lain yang akan didatanginya?- dan itu menenangkannya karena jika sesuatu terjadi pada Ichigo dalam keadaan seperti itu, ada Rukia yang bisa menanganinya.
"Bagaimana kabarnya?"
"Cukup baik untuk menyuruhku pulang." Jawab Rukia dengan sedikit nada kecewa. "Dia bilang dia mau tidur." Rukia menjatuhkan dirinya di atas kursi malasnya, pikirannya menganalisis sesuatu. Renji bertanya apakah ia ingin sesuatu, tetapi ia kelihatan tidak mendengarnya. Renji mengangkat bahu dan mengeluarkan sekaleng soda untuk dirinya sendiri. "Renji?" Ia menoleh untuk melihat ke arah Rukia, ekspresi yang dibuat gadis itu agak membuatnya bingung lagi. "Apa itu jatuh cinta?"
Kata yang aneh bahkan untuk orang pintar, Renji tidak mengerti pertanyaan itu. "Apanya yang apa?"
Rukia memutar bola matanya dan menjatuhkan pandangan ke lantai. "Jika seseorang mengatakan 'Kupikir aku sedang jatuh cinta', apa itu artinya?"
"Itu…" Dia mencoba mencari cara untuk menggambarkan sesuatu seperti cinta, tapi pikirannya mengacau seperti seakan-akan Rukia baru saja bertanya padanya darimana bayi berasal – yang sebenarnya Renji tahu pertanyaan seperti ini akan datang suatu saat. Dia akan pastikan dirinya menelantarkan Rukia pada Ichigo apabila pertanyaan itu muncul. "Itu… Aku tidak tahu."
"Kau tidak tahu?"
"Bukan." Erang Renji, menjatuhkan dirinya ke atas sofa. "Maksudku, cinta pada dasarnya adalah perasaan sangat peduli pada seseorang." Penjelasan yang tidak terlalu jelas, tapi dia tidak tahu bagaimana untuk merangkai kata-katanya agar Rukia bisa mengerti.
Rukia mengangguk pelan seakan dia mengerti. "Seperti bagaimana kau dan Ichigo peduli satu sama lain?"
"Tidak, tidak, tidak." Renji hampir tertawa karenanya. Ichigo lebih terasa seperti saudara baginya, dan perasaan itu berbeda konsep dengan cinta yang sedang Rukia bicarakan. "Cinta itu… kurasa, tergantung dari siapa dirimu."
"Renji pernah jatuh cinta?" Tanya Rukia dengan tatapan innocent.
Renji berharap Rukia tidak bertanya tentang itu, berharap Rukia tidak membuatnya mengingat orang yang selalu membuatnya berusaha untuk tidak ditelponnya, karena semua ini akan berakhir menyedihkan pada sisinya. Jika Tatsuki sudah melupakannya, maka ini juga sudah waktunya ia melupakan Tatsuki. Tapi hal yang ditanyakan padanya bukan tentang itu. "Ya, tentu saja."
"Nah, Bagaimana rasanya?" Rukia menatapnya dengan penuh perhatian seperti seorang anak yang hendak dibacakan sebuah dongeng.
"Bahagia." Adalah kata pertama yang muncul di kepalanya ketika dia memikirkan hari-hari dengan Arisawa dulu. "Hanya dengan bersamanya, semuanya terasa menyenangkan. Aku sampai lupa dengan kenyataan bahwa saat itu keadaan dunia sedang 'menggila'. Dan ketika dia menciumku, itu terasa hampir seperti aku bisa merasakannya di dalam…" Dia tidak sadar suara yang dikeluarkannya semakin memudar seakan dirinya tersesat di dalam kenangannya sendiri sampai Rukia memberikan suara denguman kecil yang terdengar senang. "Kau… Kau akan mengetahuinya bila sudah saatnya. Bisakah kita tidak membicarakan tentang ini?"
"Baiklah." Rukia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi, kelihatan tidak memasalakan penjelasan Renji yang belum selesai.
"Jika kau ingin tahu lebih banyak lagi tentang… hal semacam itu," tawar Renji, mencoba untuk mencari tahu alasan dari ekspresi kosong yang ditunjukkan Rukia. "Aku bisa membawamu menemui seseorang yang lebih mengetahuinya."
Rukia mengalihkan pandangannya pada Renji, menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tidak usah." Dan dengan itu Rukia mengakhiri percakapan mereka, dan mulai menonton iklan-iklan yang sedang ditayangkan di televisi.
Setelah hening setelah beberapa menit, Renji bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamarnya menuju koridor sebentar, tidak terlalu peduli dengan Rukia yang bisa mendengar percakapannya. Dia mengeluarkan handphonenya, menscrolling kontak-kontak yang dimilikinya sampai dia berhenti ketika menemukan nama Arisawa Tatsuki. Oke, entah ide sial apa yang memenuhi kepalanya saat ini. Dia menekan tombol hijau dan mengangkat handphone itu ke telinganya. Terdengar nada sambung beberapa kali sebelum mengarah ke voicemail. Renji berniat mematikan telpon itu, tetapi tubuhnya tidak mengizinkannya.
"Uh, Hai, Tatsuki." Ucapnya dengan gugup seperti seorang remaja yang mencoba mengajak kencan seorang gadis. "Ini Renji. Aku… Rukia baik-baik saja, tidak perlu khawatir, tapi… aku ingin bertemu denganmu. atau hanya bicara, jika kau tidak sibuk." Ini benar-benar menyedihkan, dan dan dia akan mengakhiri keputus asaan ini di sini. "Jadi, telpon aku ketika kau mendapatkan pesan ini oke? Kumohon. Bye."
Dia menatap handphone itu selama beberapa saat, seperti itu akan membuatnya segera berdering, tapi tidak ada yang terjadi. Renji menghembuskan napas saat tangannya jatuh ke sisinya. Dia sudah patah hati dengan banyak orang di hidupnya selama ini dan dapat mengatasinya dengan tidak menemui mereka lagi, dan semuanya berakhir baik-baik saja. Tapi kenapa seorang gadis yang kuat, pintar, dan keras kepala seperti dia yang tidak bisa dilupakannya? Renji meraih gagang pintu, menendang dinding di sebelah pintu untuk meredakan kemarahannya sebelum ia kembali ke dalam.
.
"Kau harus keluar dari apartemen sial ini." Kata Renji pada Ichigo dengan sebuah senyum, melemparkan sebuah lengan di atas bahunya ketika mereka berjalan di trotoar bersama Rukia yang mengikuti dengan patuh di belakang mereka. Rukia belum pernah pergi ke bagian kota yang ini sebelumnya, ada banyak orang yang berjalan-jalan walaupun hari sudah gelap, matahari sudah tenggelam di balik awan tebal beberapa jam lalu. Ini pertama kalinya Ichigo keluar setelah berhari-hari, masih belum benar-benar melepaskan mood gelap yang menyelimutinya. Renji bilang ini akan menyenangkan – bersenang-senang dengan sedikit minum-minum, sedikit menari, sesuatu yang lebih layak dilakukan untuk menghabiskan waktunya ketimbang memikirkan hal-hal yang tak bisa diubahnya. Rukia juga diajak karena Renji pikir dia harus merasakan kehidupan malam sesekali, bagi Renji ini seperti membunuh dua burung dengan satu batu.
Rukia mendorong pintu untuk membukanya, suara keras musik terdengar ke seluruh penjuru gedung. Ia ragu-ragu dengan tetap berdiri di luar, menatap kedalam dan mencoba menguraikan apa yang terjadi, tapi Renji menarik pergelangan tangannya sebelum dia bisa menebaknya. "Ini tidak akan melukaimu, Rukia."
Suara musik terdengar lebih keras di sini. Dia bisa melihat Renji mengatakan sesuatu padanya dengan sebuah senyuman lebar, tetapi kata-kata itu menghilang, suaranya seperti suara dengungan terkubur di bawah musik yang mengalun. Dia memimpin mereka berdua ke bar, memesan beberapa minuman, dan salah satunya ia sodorkan ke arah Rukia, tetapi Ichigo mencegahnya. "Apa kau mencoba membuatnya mabuk?" Ia bisa mendengar suara Ichigo. Ada sebagian dirinya yang menginginkan untuk mengambil minuman itu dari tangan Renji dan meneguknya dengan satu tegukan karena Ichigo memperlakukannya seperti seorang anak kecil. Tapi ia tidak melakukannya untuk suatu alasan, sebab Ichigo memutuskan untuk menolaknya. Ichigo tidak akan membuatnya merasa seperti anak kecil tanpa alasan yang baik, setidakya itu yang terlintas di pikirannya.
Rukia mengamati ruangan itu. Suasananya gelap, tapi masih ada sedikit cahaya yang membuat segala sesuatu terlihat – cukup untuk mencegah orang-orang menumbur orang lain. Setiap orang di sana kelihatan tersenyum, baik yang sedang berkumpul di bar, maupun yang berada di dalam kumpulan massa yang terus bergerak di tengah ruangan. Semuanya terlihat menyenangkan, dan dia menemukan dirinya memperhatikan mereka, mencoba memahami semua itu seperti yang biasa dilakukannya ketika berada di situasi yang baru.
Dia hampir melompat ketika merasakan sebuah tangan yang menepuk bahunya. "Apa kau ingin pergi kesana, Rukia?" Dia berkedip beberapa kali pada Ichigo sampai ia merasakan jari yang mengenggam tangannya. "Ayo." Ichigo tersenyum. Melihat itu, Rukia tidak bisa melakukan hal lain selain tersenyum juga saat Ichigo menariknya ke tengah keramaian.
"Apakah Renji tidak apa-apa ditinggal sendirian?" Tanya Rukia, wajahnya sedikit mendekat dengan Ichigo untuk memastikan Ichigo bisa mendengarnya.
"Dia akan baik-baik saja." Ichigo mengangguk. "Aku tahu kebiasaannya. Mungkin nanti dia akan mendekati seorang gadis dan menghabiskan waktu bersamanya." Rukia memberinya tatapan bingung tetapi Ichigo hanya tertawa karena itu. "Ayo." Ucapnya, mulai bergerak seperti orang lain disekitar mereka.
Rukia berdiri di sana, memperhatikan pinggul dan kaki Ichigo, bibirnya melengkung ke atas dengan aneh ketika dia kembali melihat ke wajah Ichigo. "Aku tidak tahu bagaimana."
"Cobalah. Ini mudah." Ichigo hampir tertawa. "Bahkan bayi pun bisa melakukannya. Bergerak saja mengikuti musiknya." Rukia bergerak seperti apa yang Ichigo katakan, melihat ke sekeliling untuk memastikan ia melakukan hal yang benar. "Benar, kan?" Dia tersenyum. "Ini tidak terlalu sulit." Rukia tidak bisa tidak membalas senyumnya.
Ichigo meletakkan tangannya di pinggang Rukia, membimbing mereka dengan pelan, bertindak seperti seorang instructor tari, cukup bagi Rukia untuk tahu dirinya di sana, tapi tidak membuat apapun terasa aneh, namun bukan berarti dia merasa seperti itu. Kumpulan massa yang menari kelihatan bertambah ramai, dan semakin mengambil ruang gerak mereka. Beberapa orang membentur punggung Ichigo, membuatnya maju selangkah, menghilangkan jarak sempit yang ada diantara mereka berdua. Dia bisa merasakan tangan Ichigo di punggungnya, dan tangannya sendiri tertekan ke pundak Ichigo, membuatnya dapat merasakan otot-otot yang berada di bawah kemejanya.
Sebenarnya, dia mungkin terlalu lama membiarkan kedua tangannya berada di sana, dengan lembut dan pelan ia menurunkan tangannya ke dada Ichigo untuk merasakan jantungnya yang mulai berdetak liar. "Rukia." Ucap Ichigo, menariknya lebih dekat sehingga mebuatnya tidak bisa bergerak. Sesuatu terpantul di mata Ichigo dan dengan cepat ia melepaskan dirinya, menggumamkan sesuatu pada dirinya sebelum dia pergi, dengan cepat menyingkir dari kerumunan itu, menuju ke pintu keluar.
"Ichigo?" Rukia memperhatikan ia pergi untuk beberapa saat sampai ia ingat kakinya bisa bergerak dan mulai mengikutinya. "Jangan tinggalkan aku di sini." Ucapnya, tidak yakin apabila Ichigo dapat mendengarnya. Ichigo melangkah keluar dari gedung itu dengan Rukia di belakangnya.
Sesuatu yang kecil dan basah mengenai wajahnya. Itu cukup mengagetkannya dan membuatnya lupa dengan apa yang sedang dilakukannya untuk beberapa saat. Tapi saat ia melihat Ichigo, ia dapat mengingatnya. "Kenapa kau meninggalkanku di tengah-tengah itu?" Menunjuk ke arah pintu dan cemberut. Ichigo tidak menjawab, mengambil beberapa napas dalam. "Ichigo? Jawab-" tetesan lain mengenai wajahnya, dan segera disusul dengan tetes-tetesan yang lain.
Rukia mengadah ke atas, mencoba untuk menemukan darimana asalnya, sampai ia bisa merasakan sebuah jari mengusap sebuah tetesan di keningnya. "Ini hanya hujan, Rukia." Kata Ichigo dengan suara lembut.
Rukia mengangguk, sedikit terbawa dengan kelembutan dari perlakuan itu. "Kenapa kau lari dariku? Apabila aku melakukan suatu kesalahan, beri tahu aku sehingga aku tidak akan melakukannya lagi."
"Ini bukan salahmu." Jawab Ichigo, mengelus bagian belakang lehernya dan melihat ke arah lain jalan. Ichigo tiba-tiba meraih tangannya, menarik Rukia menjauh dari jalan trotoar yang sibuk, menuju gang di luar pintu masuk sebuah gedung apartemen. "Aku pikir… Aku mungkin ingin menciummu."
"Apa?" Rukia tertawa, lebih keras dari yang seharusnya bila dilihat dari ekspresi yang diberikan Ichigo padanya. "Maksudku," Ucapnya, mendiamkan dirinya. "Kenapa?"
"Karena," Kata itu terucap seperti dia akan mengakhiri jawabannya di sana, tapi itu membuatnya ambigu. "Aku pikir… bukan," Dia menghela napas, melihat kebawah sebentar. Dia mendorong Rukia sedikit kasar ke dinding, meraih salah satu tangannya yang sebenarnya ia tidak tahu mau diapakan. "Aku mencintaimu." Ucapnya dengan cepat, kata-kata itu hampir terdengar tidak jelas memberi kesan seperti jika dia tidak mengatakannya dengan cepat, maka kata-kata itu takkan pernah terucap.
"Cinta?" Ulang Rukia pelan, dan dia berharap lebih dari apapun dia mempunyai sedikit pengetahuan mengenai hal itu untuk menarik kesimpulan tentang arti kata itu. Tapi sayangnya ia tidak mengerti dan itu membuatnya merasa tidak enak karena ia tidak bisa memberikan Ichigo suatu respon. Untuk itu ia mengatakan, "Kalau begitu cium aku."
Pada awalnya Ichigo hanya menatapnya, mungkin ia tidak mengira akan mendapatkan reaksi seperti itu. Tapi akhirnya, ia mendekatkan wajahnya, Mata Rukia perlahan-lahan menutup saat bibir mereka bersentuhan. Sangat lembut, hampir tidak terasa, tapi Rukia bisa merasakan suatu sensasi yang membuatnya bergidik, jari-jarinya secara tidak sadar meremas kemeja yang dipakai Ichigo. Sejujurnya dia agak merasa kecewa ketika Ichigo menarik dirinya. "Rukia…" Katanya, menempatkan salah satu tangannya kebelakang lehernya. Ichigo menggerakkan bibirnya seperti dia mencoba mengatakan sesuatu. Rukia mendekatkan sedikit wajahnya dan dengan itu Ichigo menyerah untuk mengatakan apapun untuk memberinya ciuman lain.
Saat itu, dia pikir dia mengerti apa yang dimaksud oleh Renji.
.
Mereka kembali ke apartemen Ichigo dalam keadaan basah kuyup, warna pakaian mereka terlihat lebih gelap dan lembab menempel di kulit. Ini salah Rukia dan ia mengakuinya. Dialah yang berhenti tiba-tiba di tengah hujan lebat untuk merasakannya, bermain genangan air yang berada di sekitar mereka dan keadaan berubah menjadi lebih menyenangkan dari apa ayang ia kira. Ichigo sudah memberitahunya untuk berhenti, tetapi Rukia selalu menunjukkan senyum itu ketika ia melakukannya. Mereka tidak mengingat Renji sama sekali, sampai ia mendapat telpon dari Renji yang marah karena telah meninggalkannya. Pada awalnya ia merasa bersalah, tetapi ketika melihat sekilas wajah Rukia yang penasaran, ia merasa kembali rileksya.
Ichigo melepas kemejanya yang basah, melemparkannya ke pinggir bathtub dan meraih sebuah handuk untuk mengeringkan rambutnya. Rukia berdiri di tengah-tengah ruangan, tidak ingin duduk di atas manapun dalam pakaian yang basah. Dia memperhatikan Ichigo saat ia berjalan melintasi ruangan, menggali lemari pakaiannya untuk mencari sesuatu yang kering dan pantas. Rukia menempatkan tangan di depan dadanya, merasakan panas yang berdetak kuat di balik tulang rusuknya saat matanya fokus pada Ichigo, kulit dan ototnya, seperti menghinoptisnya untuk alasan yang ia tidak ketahui.
Dia tersenyum dan tertawa pelan ketika berbalik ke arah Rukia, memakai sebuah kaus putih dari atas kepala. "Ada apa dengan wajah itu?"
"Aku tidak tahu." Jawab Rukia jujur.
Ichigo mengeluarkan sepasang kaus dan celana lain, menyodorkannya pada Rukia. "Ini. Pakailah. Aku tidak mau kau sakit."
Dia mengambil pakaian itu dari tangan Ichigo, memberinya tatapan bingung. "Kenapa kita tidak ambil pakaianku saja?"
"Um, tidak sekarang," Kata Ichigo, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Renji sedang… sibuk dengan… banyak hal."
"Hal apa?" Tanya Rukia lagi.
"Dia sedang… kencan." Dengan pelan, Rukia bertanya lagi apa itu artinya. "Itu… yah, biasanya melakukan sesuatu dengan orang yang kau suka."
Sebuah senyum kecil menghiasi bibir Rukia. "Seperti Ichigo menyukaiku?" Ichigo mengangguk, mendorongnya pelan ke arah kamar mandi untuk membuatnya berganti pakaian.
Pakaian yang benar-benar tidak pas di tubuhnya ini membuatnya tersenyum sendiri, mengingatkannya dengan keadaan fashion yang sama di hari pertama ia bersama Ichigo. Baik baju dan celananya terlalu besar, celananya nyaris jatuh dari pinggangnya, tapi itu lebih baik daripada pakaian basah yang menempel di kulitnya.
Begitu ia keluar dari kamar mandi, Ichigo sedang duduk di atas sofa dengan sebuah tangan yang memegang handphone di telinga kanannya. "Ah… merepotkan! tapi, Baiklah lakukan saja sesukamu." Ichigo memutuskan sambungan dan memasukkan handphone itu ke dalam saku celananya.
"Renji?" Tanya Rukia sambil melipat pakaian basahnya sambil berjalan, meletakkannya di atas meja di dapur.
"Begitulah… dia bilang… kau tidak bisa pulang malam ini."
Rukia menjatuhkan tubuhnya ke sebelah Ichigo. "Kenapa?"
Ichigo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dia… punya hal yang ingin dilakukannya dan tidak ingin diganggu… yah… begitulah."
Dia mengangguk, memposisikan dirinya ke posisi yang lebih nyaman. "Sebenarnya apa yang dilakukan Renji? Biasanya keberadaanku tidak terlalu mengganggunya." Ichigo tidak memberinya jawaban yang jelas, hanya kata-kata entah apa yang tercampur dengan rasa malu meluncur keluar dari mulutnya. "Ichigo? Kau tidak apa-apa?" Rukia tertawa pelan, bersandar pada Ichigo.
Ichigo menggelengkan kepalanya dan mengulurkan lengan di sekitar bahu Rukia, menariknya lebih dekat dan menghidupkan televisi. Hal itu membuat Rukia tersenyum, mengangkat sedikit kepalanya untuk menempelkan bibirnya di pipi Ichigo dan respon yang tampak pada wajah Ichigo membuatnya tahu itu hal yang bagus untuk dilakukan.
Terpeluk erat oleh kedua lengan Ichigo membuatnya merasa aman, seperti tempat nyaman yang membuatnya ingin tetap di sana selamanya. "Ichigo?" Ichigo menunduk untuk melihat ke arahnya. "Aku bisa menginap di sini malam ini, kan?"
"Tentu saja." Ichigo menatapnya, membuat pola garis dengan ibu jarinya di sepanjang pipi Rukia. "Tempatmu sayang sekali sedang dipakai saat ini."
"Bolehkah aku menginap walaupun misalnya Renji sedang tidak ingin melakukan sesuatu?" Tanyanya penasaran.
Ichigo menarik Rukia bersamanya saat ia menjatuhkan kepalanya ke atas bantal. "Kau boleh tinggal di sini kapanpun kau mau." Dia tersenyum, merigkuk lebih dekat dengan Ichigo sedekat mungkin. Rukia bertanya dalam hatinya kalau benar ini adalah rasanya saat jatuh cinta.
.
To Be Continued
.
Author's Tea Time!
Chap ini mulai ada romance, ada yang nanya kan kemaren romance-nyah mana, khehehe
pada dasarnya saya gak bisa melepaskan genre yang satu ini. Jangan salahkan… saya seorang gadis SMA normal. Hehehe warning awas muntah XD
Ada yang nanya sama saya, saya kemaren download yang bahasa apa, saya downloadnya sub bahasa inggris, soalnya kebiasaan eng sub sejak dulu, jujur juga nih, bahasa Indonesia saya hancur, kecampur sama jepang dan inggris. Mungkin kalo denger saya ngomong kaya ngedenger Rena JKT ngomong. ;A;
Kalo indo sub, Saya downloadnya di wardhanimedotnet tadi saya udah cek, ada, tapi mungkin linknya masih pada mati. Kata mimin-tachinya sih lagi pada di re-upload-in tungguin aja~ ato ga request lagi di komennya :D di narutobleachloverdotnet juga ada
Terimakasih uda mau baca! :D
