Title: Sun Burns Down Ch. 10 – Kumoi Kuukaku

Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.

Warnings: Typos, OOC, OC, Violence, Headaches, mention of dirty things,

Note: We don't have super powers like they do. Full credits to 'abang' Tite Kubo. The title is comes from Akanishi Jin's America single Sun Burns Down (It's good if you listen to that while reading this) I just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Thanks for my forever love BlackWind1001!

.

Rukia merasa enteng sepanjang perjalanan kembali ke apartemen Renji, ia bahkan mengucapkan salam pada saat membuka pintu apartemen itu. "Ohayou Ren-" Dia berhenti, memperhatikan seorang wanita yang berdiri di tengah-tengah ruangan. "Oh."

"Hai." Ucap wanita itu, tersenyum pada Rukia dan menepuk pipinya beberapa kali. "Kau cantik." Wanita itu berbalik pada Renji. "Adik perempuanmu?"

"Ya, anggap saja begitu." Jawab Renji, terdengar seperti ia tidak tertarik dengan pembicaraan ini. " Well, Aku hari ini agak sibuk…"

"Baiklah." Kata wanita itu, meraih tasnya dan mengatakan sesuatu dengan suara kecil pada Renji sebelum keluar, memberi sebuah senyuman pada Rukia saat ia melewatinya.

Setelah beberapa saat memperhatikan pintu, Rukia berbalik pada Renji dengan ekspresi datar. "Siapa dia?"

Renji melambaikan tangannya ketika dia membuka pintu lemari es. "Bukan siapa-siapa." Gumamnya, ia meraih sebotol air mineral dan membukanya saat ia menjatuhkan dirinya ke sofa.

"Eh?" Ucap Rukia, menaikkan sebelah alis. Renji hanya mengangkat bahu seperti dia tidak peduli. "Aku menginap di tempat Ichigo semalam." Tambahnya, tidak yakin Renji mendengarkannya atau peduli dimana ia berada semalam, karena tidak ada tempat lain yang akan didatanginya selain tempat itu.

"Bagaimana kabarnya?" Renji menaruh botol itu di meja dihadapannya setelah meneguk isinya untuk terakhir kali karena merasa hausnya sudah hilang.

"Dia baik-baik saja." Rukia mengambil sesuatu dari keranjang buah dengan cepat di dapur. "Ichigo menciumku."

Pernyataan itu menyita perhatian Renji, dengan cepat mengalihkan pandangannya dari kegiatan memperhatikan botol yang diletakkan dihadapannya dan handphone yang baru saja dikeluarkannya. "Dia melakukan apa?" berkebalikan dengan keadaan sebelumnya yang seperti tidak peduli pada apapun, kali ini Rukia bisa mendengar sentuhan kesenangan di suara Renji, satu hal lagi yang tidak dimengertinya.

"Dia menciumku." Ulangnya. "Kenapa?" Rukia duduk di atas kursi malasnya.

"Tidak, bukan apa-apa." Renji bersandar pada sofa, meregangkan kedua lengannya di atas kepala. "Hanya saja itu tidak seperti dia." Rukia mengangkat bahu. Baginya itu hal yang luar biasa yang seharusnya tidak mendapatkan respon seperti ini tetapi respon yang lebih heboh. Akan tapi mungkin penyebabnya karena yang merasakannya adalah Rukia, bukan Renji. "Yah, itu perkembangan bagus untuk kalian berdua. Kecuali, tunggu," Renji mencondongkan tubuhnya sedikit kedepan, menatap Rukia dengan penasaran. "Apa menurutmu tentang hal itu?"

Rukia menahan sebuah senyuman. "Aku sangat senang."

Renji bersandar kembali ke sofa. "Kalau begitu, untunglah. Hubungan yang sesungguhnya terjadi jika kedua pihak sama." Ada sesuatu pada suaranya yang tidak pas dengan sentimen kata-katanya, hampir seperti rasa tidak suka bila Rukia mencoba menggambarkannya. "Maksudku, jika kalian berdua sama-sama merasakannya." Apa mereka begitu? Rukia tidak benar-benar tahu apa memang itu yang ia rasakan.

"Renji, apa yang kau lakukan saat kencan?" Tanya Rukia dengan nada datar, dagu bertumpu tangan dan sedikit condong ke arah dimana Renji duduk. Renji memberikan tatapan bingung yang lain dan menaikkan sebelah alis mata. "Kupikir, jika aku akan kencan dengan Ichigo – bila aku bisa melakukannya, walaupun hanya sekali – aku bisa tidak terlalu bingung."

"Demi burung parkit yang jatuh cinta." Rukia menganggapnya sebagai gurauan, tetapi nada yang dikeluarkan Renji sama sekali tidak menunjukkannya. "Tidak banyak sebenarnya. Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan – makan malam, menonton film, pergi ke taman, diam dirumah saja dan melakukan apa saja. Apapun hal yang ingin kau lakukan bersamanya dihitung sebagai kencan. "

"Oh. Kedengarannya mudah." Ia tersenyum dan Renji mengangguk, memiringkan kepalanya kebelakang saat meneguk habis air mineralnya. "Apakah kau menyukai wanita yang tadi?" Ekspresi Renji selanjutnya seperti mengatakan padanya ia berharap dirinya tidak mengungkitnya. "Semalam, Ichigo bilang kau pasti menemukan seorang gadis yang disukai lalu kencan dengannya."

"Tidak. Kencan itu tidak selalu harus dilakukan dengan orang yang kau suka atau cintai." Renji menghela napas.

Rukia menatapnya selama beberapa menit, memikirkan kata-kata itu lagi dan lagi. "Kupikir aku mungkin jatuh cinta pada Ichigo." Ucapnya pelan, sebuah senyuman mulai tampak dibibirnya.

Renji kelihatan seperti menghiraukannya kali ini, menggumamkan sesuatu yang tidak jelas sambil membaringkan tubuhnya di sofa, menonton televisi seperti dia benar-benar tertarik pada acaranya. Rukia berpura-pura melakukan hal yang sama, tapi pikirannya berada di tempat lain, pada Ichigo dan perasaannya sendiri, hal kecil yang dapat membawa senyuman pada wajahnya.

.

.

Renji seharusnya senang untuk mereka berdua, ia tahu ia harus. Tapi tiap kali mereka bertiga berkumpul bersama untuk alasan yang tidak terlalu penting, dia hampir tidak tahan lagi. Cara Ichigo dan Rukia bicara satu sama lain, saling berdekatan dan begitu lovey-dovey, membuatnya ingin muntah. Mungkin ini karena fakta, ia membutuhkan satu panggilan cinta lagi setelah puluhan panggilan yang telah lewat – oh, betapa dia berharap Tatsuki mendengarnya mengatakan itu – mungkin hubungan mereka akan berlanjut lebih berwarna, tetapi ia memilih keadaan yang sekarang.

Oke, dia akan mengakuinya, ia senang untuk melihat Ichigo tersenyum dengan jujur dan tertawa tanpa batuan alkohol, dan Rukia… Yah, dia tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, tapi ini salah satu pelajaran hidup yang sebagian dari dirinya senang bahwa Rukia bisa memilikinya. Hal terbaik dari ini mungkin adalah Ichigo tidak menyebutkan apapun tentang misi balas dendamnya. Dia masih cemburu pada mereka, walaupun ia tidak pernah benar-benar menunjukkannya.

Ichigo tidak disini sekarang, dan walaupun sebenarnya dia sangat peduli pada lelaki itu setelah dirinya, ini adalah hal yang bagus. Istirahat sebentar tidak ada salahnya, kan? Rukia menonton televisi dari meja makan di dapur, memakan sarapannya dari sebuah mangkuk dan hampir menumpahkannya beberapa kali karena terlalu fokus pada layar televisi. Dia gadis yang cantik dan polos, sungguh, dan Renji bisa mengerti alasan mengapa Ichigo jatuh cinta padanya, tapi dia lebih memilih wanita yang lebih dewasa dan menarik.

"Keadaan di luar semakin buruk." Gumam Rukia, menonton sebuah rekaman sebuah sekolah yang hampir habis terbakar, menurut beberapa saksi mata semua ini dilakukan oleh beberapa remaja. Keadaan bertambah buruk dari sebelumnya, kegiatan para maniacs menjalar ke dalam kota. Tapi bila mereka tetap disini, masih ada kemungkinan mereka bisa menghindarinya. Sekarang, melangkah keluar dari rumah sama saja dengan menempatkan nyawa pada bahaya. Tempat aman yang tersisa sekarang adalah mungkin kota-kota pelarian yang berada diluar area utama kegiatan negara. Entah berada dimana. Selain itu kota itu mungkin juga telah ditinggalkan para maniacs karena sudah tidak ada orang yang tersisa. Yang manapun itu alasannya, Renji tidak yakin.

Dia mendengar sebuah suara ketukan datang dari pintu apartemennya, cukup pelan karena Rukia tidak menyadarinya. Renji melihat sekilas pada Rukia untuk memastikan apakah Rukia memperhatikannya bangkit berjalan menuju pintu dan mengintip lewat lubang di pintu. "Tatsu…" dia hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya, berpikir bahwa ini adalah salah satu ilusi pikirannya, tapi dia dengan cepat meraih gagang pintu untuk membukanya, memutar gagang dengan tangan yang salah dan memalukan. Tapi dengan cepat ia melupakannya, dan sebuah senyuman jujur muncul di wajahnya. " Tatsuki." Katanya pelan, melangkah satu langkah mendekati Arisawa, tapi terdorong minggir saat Arisawa melangkah masuk, menutup pintu dibelakangnya. " Tatsuki, apa yang kau-"

Renji terdorong ke tembok saat Rukia berlari ke pintu untuk menyambut tamu mereka. "Arisawa-sensei!" ucap Rukia dengan senang, kegembiraan terlihat pada wajahnya. "Renji." Rukia menarik kemejanya. "Ini Arisawa-sensei."

Jika dia tidak sadar bahwa tidak ada alasan baginya untuk cemburu pada Rukia yang dekat dengan Arisawa, Renji pasti sudah menariknya menjauh seketika. "Aku tahu, Rukia." Katanya, mata masih menatap wajah Tatsuki yang terlihat senang untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu yang cukup lama. Sayangnya, Renji tahu wajah senang itu bukan karena dirinya.

"Apa yang kau lakukan di sini, Tatsuki?" Tanyanya, masih terpaku akan kenyataan Tatsuki sedang berdiri di sini, di apartemennya ketika ia tidak terlalu memedulikan telpon darinya.

"Aku… mungkin sedang berada dalam masalah kecil." Jawabnya tidak yakin.

Ekspresi Rukia berubah dari senang menjadi khawatir. "Masalah?"

Tatsuki memberinya sebuah senyuman seakan segalanya baik-baik saja. "Aku tidak apa-apa, Rukia." Dia mendorong Rukia kembali ke ruang tengah dengan pelan. "Lakukan lagi hal yang telah kau tinggalkan." Rukia mengangguk, masih menyimpan rasa penasaran dalam kepalanya saat dia beranjak pergi, dan Tatsuki menarik lengan Renji, menariknya menuju kamar tidur Renji dan menutup pintu dibelakang mereka. "Atasanku ditahan, dan aku mungkin yang selanjutnya." Ucapnya pelan, duduk di pinggir tempat tidur.

"Apa yang kalian lakukan sehingga ditahan?" dari semua orang yang dikenal Renji, Tatsuki berada pada deret paling terakhir yang akan ditahan di penjara suatu hari nanti.

"Tuduhan mencuri properti perusahaan." Jawabnya dengan nada mengejek yang jelas.

"Secara teknik, kalian memang melakukannya, kan?" Dengan cepat, Renji menyesal telah mengatakannya. Bukan karena itu tidak benar, tetapi karena hubungan mereka yang sudah tidak stabil, seharusnya ia tidak mengatakan hal ini dihadapan logika Tatsuki dan membuat keadaan bertambah buruk.

"Aku tidak pernah bilang aku tidak melakukannya." Tatsuki menghela napas, meletakkan telapak tangan di atas lututnya. "Sensei mengatakan aku harus pergi sebelum mereka menahannya. Aku pikir- dia pikir aku akan membocorkan dimana Rukia berada saat interogasi."

Renji tertawa, reaksi lain yang dengan cepat ditahannya karena timing yang salah. "Kejadian pelarian itu sudah berbulan-bulan lewat." Ucapnya, mencoba menjelaskan alasan mengapa dia tertawa. "Aku pikir, mereka sudah menyerah mencarinya sekarang."

"Mereka tidak akan pernah menyerah." Volume suara Tatsuki sedikit mengeras dan dia menyadarinya, melihat ke arah pintu dan menurunkan suaranya lagi. "Jika seseorang kehilangan sebuah bom, apa kau pikir mereka akan memutuskan untuk menghentikan pencarian setelah beberapa bulan?" Ini terdengar seperti ia merendahkan diri, tapi Renji menyimpan tanggapan itu pada dirinya sendiri. "Dan lalu 'senjata' mereka muncul dengan seorang lelaki lain di rekaman CCTV dari gedung Kurotsuchi di menit-menit terakhir sebelum apartemen itu hangus terbakar. Aku dengar mereka tidak terlalu senang dengan itu."

"Lelaki itu bukan aku." Ucap Renji tenang, sadar dengan nada bantahan yang terselip pada perkataannya.

"Maka lelaki itu adalah salah satu bawahanmu."

Tinjunya mengenai tembok sebelum otaknya bisa memprosesnya, tapi dia tidak meminta maaf untuk bertindak kasar tiba-tiba.

Dia tahu hal seperti ini akan datang lagi, awan gelap yang mengakhiri hubungan mereka masih disana dan berpotensi memberi makna lain bagi mereka, benar-benar mengakhiri hubungan mereka selamanya. Ketika ia memikirkannya lagi, keesokan harinya setelah hari dimana Tatsuki memintanya untuk pergi dan tak kembali ke hadapannya, apa yang Tatsuki katakan memang benar, memiliki kekasih di hampir setiap kota dimana ia pernah singgah memang agak menjijikkan. Tapi dia tidak pernah memperlakukan Tatsuki seperti ia memperlakukan mereka. Renji tidak akan ragu untuk memutuskan hubungan dengan mereka semua jika dia bisa terus bersama Tatsuki. Ia bahkan tidak akan berpikir dua kali dalam waktu yang sangat sedikitpun untuk melakukannya. Tapi dia tidak pernah mendapatkan kesempatan itu, bila dia bisa mendapatkannya lagi, dia pasti akan langsung mengambil keputusan itu.

"Kurosaki bukan salah satu…" dia membiarkan pernyataan itu tidak selesai. "Jadi, bisa dibilang kau berada di dalam masalah. Dari semua tempat yang ada, mengapa kau datang kesini? Kupikir kau membenciku." Suaranya terdengar berharap ia salah dengan anggapannya itu.

"Aku ingin tahu apakah Rukia baik-baik saja." Jawab Tatsuki. Setidaknya tidak ada nada pahit yang biasa di dalam kata-katanya. "Mereka akan mengejarnya, kau tahu. Dia, temanmu itu, dan aku yang sekarang lari, aku yakin aku sekarang berada dalam daftar pencarian mereka juga." Dia menaruh sebuah tangan di keningnya seperti dia baru saja sadar akan hal itu. "Skenario terbaiknya, mereka mengirim security perusahaan. Setidaknya kau bisa melihat mereka datang."

"Apa skenario terburuknya?" Tatsuki hanya menggelengkan kepalanya dan Renji mengakhiri pembicaraan ini disitu. Dia berjongkok di lantai di depan Tatsuki, ragu-ragu sejenak sebelum menaruh tangan kanannya diatas tangan Arisawa yang meremas lututnya. "Jika kau mau, kau bisa tinggal disini." Renji menghela napas, seperti itu bukan apa yang ia ingin katakan, tapi dia tidak berpikir Tatsuki punya pilihan lain. "Dan, jika kau membiarkanku, Aku ingin membantu"

Tatsuki memberikan sebuah senyuman, senyuman kecil yang hampir tak terlihat, tapi Renji melihatnya disana. "Bagaimana caranya?" Dia akan berpikir tentang hal itu nanti. Suara berisik alat makan berdenting dan air yang mengalir datang dari balik pintu seakan seperti gangguan yang diberkati oleh tuhan atas pertanyaan dua kata itu. "Rukia, hati-hati dengan piring dan mangkuknya!" teriak Renji pada orang di balik pintu. Tatsuki tertawa lepas, dan tawa itu menghangatkan hatinya.

.

"Tapi kaulah orang yang selalu memintaku untuk berhenti." Ucap Ichigo dengan perlahan, menatap dengan pandangan bingung pada Renji dari sofanya.

"Aku tahu." Dia menyenderkan punggungnya di tembok, menggaruk bagian belakang kepalanya. "Tapi ini… adalah sesuatu yang harus kulakukan. Aku hanya meminta bantuanmu."

Ichigo melirik Renji dari kursinya. "Kau ingat apa yang terjadi terakhir kali, kan?" gumamnya.

"Ya. Tentu saja." Renji berjalan menyebrangi ruangan, duduk disebelah Ichigo. "Itu sebabnya Rukia tidak boleh berada di sana." Mengikut sertakan Rukia dalam hal ini bisa dibilang sama saja dengan membawanya kembali ke lab itu. Dan hal itu merupakan hal terbodoh untuk dilakukan.

Mereka duduk dalam diam selama beberapa waktu, tidak melihat satu sama lain. Tidak ada gunanya memaksa Ichigo untuk mengambil keputusan, Renji juga sebenarnya tahu ia akan menjawab apa. Kumoi Kuukaku berada dalam daftar yang dulu diberikannya, dialah investor dari perusahaan yang memiliki lab itu yang membuatnya secara langsung bertanggung jawab atas jalannya eksperimen. Dan dari sudut pandang Ichigo, dialah orang yang juga memegang kendali akan apa yang akan terjadi dengan objek eksperimen - memutuskan objek mana (termasuk Rukia dan entah berapa orang lainnya) yang gagal dan pantas untuk mati. Membunuhnya tidak akan menyelamatkan atau memperbaik keadaan mereka. Tapi setidaknya bagi Renji merupakan awal dari usaha penyelamatan diri.

"Jika kita tidak melakukannya," Ichigo terus menatap tangannya yang dikaitkan satu sama lain di pangkuannya. "Apa yang akan terjadi?"

" Tatsuki mengatakan bahwa mereka akan datang mengejarmu… apapun alasannya, kupikir."

"Lalu bagaimana kita menghentikannya?"

Renji punya jawaban untuk pertanyaan itu, namun memiliki resiko yang besar dan gila seperti kedengarannya. "Hancurkan perusahaan itu. Jika tidak bisa sepenuhnya, maka setidaknya habisi para atasan yang cukup berpengaruh sehingga mereka tidak akan peduli siapa atau dimana kita berada." Menaikkan semua orang ke dalam busnya dan melarikan diri dari kota ini adalah rencana awalnya, tapi lari dari masalah hanya dapat membuat masalah itu menjauh sementara. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya.

"Ini akan berbahaya."

"Tentu saja. Memangnya misi-mu yang mana yang tidak berbahaya?" Renji memberi Ichigo seringai kecil.

Ichigo mengangguk, berdiri dari sofa dan akhirnya melihat ke arah Renji membalas seringai Renji. "Baiklah aku ikut."

Renji tahu dia akan mengatakan itu, karena jika mereka sampai tertangkap, Rukia akan mati. Dan jika Ichigo kehilangan Rukia, mungkin ia akan mengikutinya ke alam sana. Ia tidak yakin ia bisa membuat Ichigo bertahan apabila Rukia benar-benar ditangkap.

.

Biasanya, apabila terdapat sebuah piring di hadapannya yang berisi makanan dan apalagi jika piring itu berada di hadapannya ketika dia sedang berada di dalam sebuah restoran ternama, makanan tersebut akan mendapatkan hampir semua perhatiannya. Tapi tidak malam ini, tidak ketika Rukia duduk diseberangnya dengan sebuah senyum manis di wajahnya, lilin yang berada di atas meja makan memantulkan cahaya yang indah di mata ungunya.

Rukia tidak memberikan reaksi yang baik ketika Ichigo menyampaikan apa yang telah ia dan Renji rencanakan – terdiam, dengan wajah khawatir, dan memegang erat baju Ichigo seolah-olah ia akan pergi saat itu juga dan tidak akan pernah kembali. Ichigo lupa berapa kali ia mengulangi kalimat "Aku akan baik-baik saja." Padanya dengan lembut sebelum ia tertidur. Tetapi ketika pagi tiba ia terlihat baik-baik saja, membangunkan Ichigo dengan kasar dan bertanya dengan antusias. "Bisakah kau mengajakku kencan, Ichigo?". ia menyetujuinya. karena itu mungkin akan membuat Rukia senang, dan dapat mengalihkan perhatiannya dari sesuatu yang mengganggu pikirannya, atau mungkin karena ia merasa ia ngin mempunyai sesuatu yang dapat dikenangnya apabila semua berjalan tidak lancar. Yang manapun itu, tidak masalah karena Rukia tersenyum sekarang, terlihat cantik dalam cahaya redup lilin, berbalut gaun violet milik Tatsuki yang sedikit terlalu besar, tetapi tidak terlalu mencolok.

Rukia mencoba untuk bicara dengan mulut yang penuh, meletakkan tangannya didepan mulutnya ketika dia sadar ucapannya tidak jelas. Dia memiliki tata krama, Ichigo tidak yakin dimana ia mempelajari itu. "Ini enak." Katanya setelah dia menelan, memegang sebuah potongan yang agak besar di garpu di tangan kirinya dan menyodorkannya ke Ichigo. "Cobalah, Ichigo." Ichigo mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mengigitnya, tersenyum dan membuat sebuah suara "Mm," pelan, dan Rukia membalas senyumnya.

Malam ini sangatlah sempurna, bahkan setelah mereka beranjak pergi dengan tenang dari restoran tersebut. Ichigo bersumpah senyuman itu tidak pernah meninggalkan bibir Rukia sedikitpun saat mereka berjalan menyusuri jalan, jari terpaut satu sama lain. Rasanya sudah lama sekali sejak Ichigo melakukan ini dengan orang lain. Dia ingat, terakhir kali ia melakukan ini adalah saat sebelum ia mendapatkan obat-obatan itu, sebelum keluarganya mati di tangannya sendiri, sebelum Renji menariknya dari jalan 'itu' dan menyelamatkannya.

Dia tidak bisa bilang bahwa ini pertama kalinya dia merasa jatuh cinta, tapi ada sesuatu tentang Rukia yang terasa sedikit berbeda dari yang lainnya. Sesuatu yang pure, simpel dan kuat. Dan seolah-olah dunia bisa merasakannya juga, malam ini tidak terdengar satupun kekacauan dan sirene-sirene yang biasanya menghiasi kota, sehingga mereka bisa menikmati momen bahagia itu tanpa terganggu. Itu mungkin pemikiran yang agak konyol, tapi tidak apalah sesekali.

Mereka melewati banyak sekali tempat di sepanjang perjalanan pulang, sebagian besar dengan pintu dan jendela yang tertutup rapat. Ichigo tidak berpikir untuk bertanya apakah Rukia ingin mampir di tempatnya untuk sementara waktu atau langsung pulang. Dia bisa membayangkan Rukia yang tiba-tiba berhenti didepannya sambil tersenyum dan berkata "Mampir di tempatmu, tentu saja." Dan pikiran itu membuatnya tersenyum pada dirinya sendiri.

"Malam ini menyenangkan, Ichigo." Katanya pelan, saat Ichigo menggantung jaketnya di gantungan yang berada di sebelah pintu masuk.

"Syukurlah." Dia mengecup dahi Rukia, dan membimbingnya menuju ke tengah ruangan. "Tunggu di sini sebentar, Oke?" Rukia mengangguk, kakinya menepuk-nepuk lantai dengan ujung sepatu haknya saat Ichigo mengutak-atik sebuah radio tua dan mencari siaran yang cocok. Sebagian besar siaran terisi dengan suara hening atau suara beberapa orang yang berbicara atau jenis musik yang bisa di temukan di sebuah club yang digantinya dengan cepat karena itu bukan siaran yang ia inginkan. Dia akhirnya menemukan apa yang ia cari – sesuatu yang terdengar lembut dan pelan serta romantis. "Sempurna."

Ichigo berjalan kembali mendekati Rukia yang berdiri di tengah ruangan. "Untuk apa?" Tanya Rukia dengan sebuah senyum kecil dan wajah bingung.

"Berdansa." Jawab Ichigo, meletakkan tangan Rukia di atas pundaknya, sedangkan ke dua tangannya sendiri berada di pinggang Rukia yang ramping. Dia mulai bergerak dengan lambat dan tenang, secara perlahan-lahan menarik diri mereka lebih dekat sampai ia bisa menyandarkan dahinya di dahi Rukia. "Aku jarang melakukan hal ini."

Rukia tertawa pelan. "Tapi kemarin kau yang mengajariku, Ichigo."

"Tidak seperti ini." Jelas Ichigo, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rukia. "Kupikir… Terakhir kali aku melakukan ini adalah di pernikahan sepupuku."

"Pernikahan?"

Tentu saja, kenapa pula ia berpikir Rukia tahu apa artinya. "Itu terjadi saat kau menikah… ano… pada dasarnya janji untuk bersama orang yang dicintai selamanya."

"Hmm…" Gumam Rukia dengan sebuah senyum simpul. Mereka terus berdansa, bahkan setelah lagu itu berakhir dan berganti dengan yang lain. Ichigo merasa terkejut ketika kedua tangan Rukia yang bearada di pundaknya bergeser untuk melingkar di lehernya. "Ichigo, aku mencintaimu." Bisiknya. Ketiga kata itu bahkan lebih mengejutkannya.

"Rukia."

"Aku tahu," ada sebuah kebahagiaan tak tertahankan pada suara Rukia yang membuat jantung Ichigo terasa meleleh. "Aku tahu apa yang sedang aku bicarakan." Dan dengan itu Ichigo menggerakkan satu tangan dibelakang kepala Rukia, menariknya ke dalam sebuah ciuman yang dalam.

.

Dia tidak memberi tahu Tatsuki dengan persis apa yang akan mereka lakukan, tapi itu tampaknya tidak terlalu menjadi masalah. Dari caranya melihat ke arah Renji saat dirinya bersiap-siap, Renji tahu ia khawatir dengan apa yang akan terjadi di lab itu nanti. Tatsuki mencoba untuk menyembunyikan itu, bertingkah seperti dia sangat berterima kasih atas bantuan ini, tapi tetap saja Renji mengetahuinya, dan itu memberinya sebuah harapan kecil untuk hubungan mereka.

"Jangan sampai tertangkap, Renji," Kata Tatsuki, dengan suara yang serius. "Bukan hanya kau yang berada di dalam masalah kalau kau benar-benar tertangkap."

"Aku tahu," ia menafsirkan itu sebagai ungkapan peduli Tatsuki pada dirinya, tapi mungkin saja, itu hanya pikirannya yang senang berlebihan. Dia mengambil tasnya yang telah terisi baju ganti dan perlengkapan P3K, dan menarik talinya ke bahu. "Aku harus pergi sekarang."

Dia menunggu beberapa saat, menanti pesan terakhir dari Tatsuki sebelum dia pergi. "Jangan mati, Renji."

"Khawatir padaku?" Renji tersenyum, dan kata-kata barusan terdengar lebih puas dari yang dia inginkan.

"Aku hanya tidak ingin kematianmu menghantui pikiranku selama sisa hidupku." Jelas Tatsuki, melipat tangannya di atas dada.

Renji melihat itu di pojok matanya, dan gerakan selanjutnya terlalu cepat, sampai Tatsuki tidak punya waktu untuk bereaksi saat Renji menciumnya lembut. "Aku masih mencintaimu, kau tahu?" Tatsuki membuka mulutnya, tapi Renji tidak menunggu untuk mendengar kata-katanya, berjalan ke arah pintu sebelum Tatsuki bisa mengatakan sesuatu yang bisa menghancurkan harapannya.

Ichigo menunggunya di koridor, bersender di tembok dengan kedua tangan di pinggang Rukia. Dia membanting pintu apartemennya saat menutupnya untuk mendapatkan perhatian mereka. Rukia terkejut dan tanpa sadar mendekatkan diri pada Ichigo, yang menatapnya seperti seekor anjing yang siap menyalak. "Waktunya untuk pergi."

"Baiklah." Dia berbalik kembali ke Rukia, membisikkan sesuatu yang pelan di telinganya sebelum memberinya sebuah senyuman dan sebuah ciuman yang cukup lama untuk membuat Renji merasa agak canggung. Dia menepuk ringan bahu Ichigo dan mereka pada akhirnya menarik diri, sebuah semburat pink kecil menghiasi pipinya.

Rukia tetap berdiri di luar, mengawasi mereka yang berjalan menuju lift sampai mereka menghilang. Renji mengetahuinya karena Ichigo terus menoleh ke belakang dan melambai pelan.

"Kau ingat bahwa kita harus pulang kembali malam ini, bukan?" Renji bertanya dengan sebuah seringai kecil.

"Ya." Jawab Ichigo pelan. "Hanya saja…"

Ichigo tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi Renji mengerti. "Ya. Aku tahu."

.

Rukia mencoba untuk tidak menyipitkan mata ketika Arisawa-sensei mengarahkan senter ke matanya, memeriksa sesuatu yang tidak pernah di jelaskan padanya sejak di lab dulu. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk memberinya check up, pikir Tatsuki, memastikan tidak ada gangguan fisik atau mental yang terjadi pada Rukia sejak terakhir kali ia melakukannya.

Tatsuki menjauhkan senter itu, menaruhnya kembali di dalam tas yang berisi peralatannya yang lain, dan tersenyum pada Rukia. "semuanya kelihatan baik-baik saja."

Rukia mengangguk, bibirnya melengkung menunjukkan sebuah senyuman. "Itu karena Ichigo dan Renji menjagaku baik-baik."

"Itu bagus, Rukia." Tatsuki menjatuhkan dirinya di sebelahnya di atas sofa, membiarkan kepalanya jatuh di atas sandaran sofa itu. "Maka aku menelpon orang yang tepat untuk membantumu." Sekali lagi, Rukia mengangguk setuju. "Kau belum menggunakan kemampuanmu, kan?"

Rukia menunduk melihat ke arah lantai. "Bukan dengan sengaja."

Itu membuat senyum lembut Tatsuki pudar seketika, digantikan oleh sesuatu yang lain saat ia mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Rukia. " Kami sudah memberitahumu-"

"Aku tahu." Ucap Rukia, tiba-tiba merasa bersalah. "'Jangan sampai marah'. Aku tidak bermaksud melakukannya. Itu terjadi begitu saja."

Tatsuki menepuk-nepuk pudaknya pelan. "Aku yakin kau tidak bermaksud melakukannya. Tapi kau tidak kenapa-kenapa, kan? Kau tidak melukai dirimu sendiri kan?"

Ini pertanyaan yang agak lucu baginya, karena jika dia mengalaminya, Arisawa pasti sudah melihatnya saat mengecek tubuhnya. "Tidak. Tapi itu membuat kepalaku sakit." Dia memberikan Tatsuki pandangan khawatir. "Itu tidak buruk, kan?"

"Jangan khawatir," Tatsuki hampir tertawa. "Kami sering menemukan gejala itu pada subjek yang tidak memiliki kontrol penuh pada kemampuan mereka."

"Ada berapa banyak orang lain sepertiku di lab itu?" Kata-kata itu meluncur keluar begitu saja, sebuah pertanyaan yang sudah disimpannya di dalam kepalanya secara bertahun-tahun.

"Aku tidak tahu persis." Arisawa mengangkat bahunya. "Sekitar lima belas. Aku hanya pernah bertemu dengan beberapa. Kau salah satu dari yang tertua, aku tidak terlalu sering bekerja dengan yang lain."

"Kau sering bekerja denganku."

"Ya, tapi kaulah satu-satunya yang terdekat."

Tatsuki bergerak turun dari sofa, wajahnya menunjukkan ekspresi lain secara tiba-tiba, mencari-cari sesuatu di dapur dan mengintip keluar lalu, kembali ke sebelah Rukia. Rukia juga sering melakukan hal itu, bertanya-tanya berapa lama mereka harus menunggu sampai Ichigo dan Renji berjalan memasuki pintu apartemen itu dengan keadaan baik-baik saja.

"Arisawa-sensei?" Tatsuki menoleh ke arahnya, satu tangan memegang gagang pintu lemari es. "Kau tidak benar benar-benar membenci Renji, kan?"

Tatsuki melanjutkan hal yang sedang dilakukannya. "Tidak." Ucapnya pelan. "Aku tidak membencinya."

"Lalu mengapa kau bertindak seperti kau membencinya?" Tanya Rukia lagi.

"Aku tidak-" Tatsuki menghela napas, Rukia tahu betapa ia tidak suka berbicara tentang hal ini bahkan tanpa meihat wajahnya. "Aku marah padanya."

"Kenapa?"

"Ini urusan pribadi, Rukia."

Dia hampir mengakhiri percakapan ini disitu, karena itu adalah hal yang diinginkan Tatsuki dengan jelas, tapi Rukia tidak bisa mengakhiri pembicaraan ini di sini. "Tapi Renji mencintaimu."

Tatsuki diam beberapa saat sebelum bergumam, "Aku tahu."

"Lalu, kenapa-"

"Rukia," Kata Tatsuki tegas, membuat Rukia diam seketika di atas sofa. "Kami sudah dewasa," Suaranya melembut. "Kami bisa mengatasi masalah kami sendiri." Rukia ingin membantah itu, tapi Tatsuki tidak akan mendengarkan opini dari seseorang yang baru saja dikenalkan pada dunia beberapa bulan yang lalu. Setidaknya tolong beri dia kesempatan, pikir Rukia, tapi dia tidak mengucapkan kata-kata itu dari mulutnya.

.

Ichigo menghabiskan sebagian besar waktu perjalanan ke sini mempelajari peta di setiap lantai, untuk menemukan jalan tercepat ke kantor Kumoi dengan menghindari para security dan kamera CCTV yang diingat tempatnya oleh Tatsuki untuk ditandai di peta-peta itu. Renji berjalan di sampingnya saat mereka melewati koridor-koridor, mencoba mengidentifikasi dimana mereka berada dan berpura-pura membicarakan bisnis perusahaan seperti mereka adalah benar-benar orang yang bekerja disana. Ichigo setengah memperhatikan Renji, sebagian besar fokusnya berada pada struktur bangunan di sekitarnya.

Di sinilah tempat dimana Rukia tinggal sebelum bertemu dengannya, di balik dinding putih steril yang mengingatkannya pada keadaan rumah sakit. Memberikannya kesan sebagai tempat yang mengerikan untuk tumbuh, bagi Rukia dan orang lain sepertinya – apalagi setelah melihat remaja-remaja tidak berekspresi yang berpakaian sama dengan pakaian yang dipakai Rukia ketika mereka bertemu yang kebetulan berpapasan dengan mereka, dengan patuh mengikuti seseorang yang memakai jas lab. Sebagian besar pintunya terbuat dari baja, bahkan tidak terdapat jendela kecil untuk megintip ke dalam. Ichigo tidak ingin mencoba membayangkan bagaimana keadaan di dalamnya.

"Lift." Gumam Renji, menyiku lengan Ichigo pelan. Ichigo mengangguk, menahan keinginan untuk mengambil langkah lebih cepat untuk menghindari kecurigaan. "Lantai berapa lagi?" tanyanya, menekan tombol dengan segitiga yang mengarah ke atas.

"Dua belas." Renji mengangguk, menonton angka-angka yang semakin berkurang pada tampilan di atas pintu lift. Ini seharusnya mudah untuk dilakukan bila sesuai dengan rencana mereka – menemukan Kumoi, mencari tahu apa yang mengejar mereka, menghentikannya jika mereka bisa. Tapi ia tahu bahwa rencana itu tidak akan berjalan semulus yang mereka inginkan.

Ketika lift mulai bergerak ke atas, membawa mereka ke lantai yang mereka tuju, rasa penasaran mereka mulai berubah menjadi rasa gugup. Apa yang dia lakukan di sini? Setelah apa yang terjadi di apartemen Kurotsuchi, dia seharusnya tidak berpikir untuk melakukan hal seperti ini lagi, apalagi dengan seorang partner yang tidak bisa menghanguskan musuh jika keadaan berubah buruk. Dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa semua ini dia lakukan untuk Rukia, jika ia masih dianggap sebagai senjata yang hilang bagi orang-orang ini, Rukia tidak akan pernah menjalani hidup normal menurut standar kehidupan orang biasa.

"Ketika semua ini selesai, kupikir kita harus pindah." Kata Ichigo, pandangan mata tertuju pada pantulan lemah dirinya di pintu lift.

Renji tertawa pelan. "Apa?" dia melihat ke arah Ichigo seperti dia sedang bercanda atau menggumamkan suatu omong kosong.

"Kita harus pindah. Keluar dari kota ini, pergi ke sebuah kota kecil tanpa maniacs atau perusahaan yang akan mengejar kita. Untuk hidup santai dan hanya mengikuti hidup kita."

"Kedengarannya bagus," Renji tersenyum bersandar di pegangan. "Kau berubah, Ichigo." Ichigo melemparkan pandangan bingung pada Renji, tapi dia tidak membantahnya.

Lift itu mulai melambat dan berhenti, mengakhiri waktu imajinasi bahagia mereka. Ichigo mencoba mengingat struktur lantai itu ketika mereka melangkah ke koridor, menghitung pintu saat mereka melewatinya. Dia dengan pelan menunjuk salah satu pintu di tengah koridor itu, nama Kumoi tertulis dia atas papan yang menggantung di depan pintu. Renji menempelkan telinganya ke daun pintu, mendengarkan apakah ada seseorang di dalam, dan memutar knobnya. Pintu itu tidak terbuka dan Renji berlutut di depan knob itu, mengeluarkan sesuatu yang kecil dan tipis dari kantungnya dan mulai memainkannya dengan kunci. "Awasi keadaan." Bisiknya.

Ichigo mengangguk, melirik kedua sisi lorong untuk memastikan tidak ada seseorang menyusuri lorong ini sementara Renji mencoba membuka kuncinya. Dia ternyata cukup mahir dalam melakukannya, pintu itu terbuka sebelum Ichigo mulai khawatir akan tertangkap.

Kantor Kumoi tersusun dengan rapi dan terorganisir, tembok yang berwarna dan furnitur yang membuat kantor tersebut tampak personal. Renji berjalan mendekati laptop di atas meja, menjatuhkan dirinya di atas sebuah kursi yang tampak mahal. Dia mengetikkan beberapa huruf dan tersenyum ketika dia berhasil membuka desktop. "Mari kita lihat apa yang kau punya," Gumamnya pelan, menelusuri file-file untuk menemukan sesuatu yang berkaitan dengan situasi mereka sementara Ichigo menempelkan telinganya di daun pintu, mendengarkan suara dari seseorang yang mendekat dari luar.

"Ada sebuah folder yang berisi tentang Rukia," Ucap Renji, ia tahu Ichigo pasti tertarik dengan ini. "Data tes, dan rekaman percobaan, dan nama keluarganya adalah Kuchiki," dia mengklik sesuatu, menatap layar. "Ini menyedihkan." Ichigo berjalan memutari meja, menonton video yang diputar di layar. Video itu direkam dari pojok ruangan yang kelihatan tidak berbeda jauh dengan sel penjara, Rukia tidur di atas tempat tidur yang menempel ke tembok. Entah bagaimana, pemandangan itu meluluhkan hatinya.

Ichigo menekan tombol merah untuk menutupnya. "Kita disini bukan untuk menontonnya," gumamnya, menghentikan video itu. Renji mengangguk, dan kembali ke hal yang dilakukannya.

Mereka berada di sana selama kurang dari setengah jam, dan setiap menit yang berlalu membuat perut Ichigo terasa menegang karena gugup. "Apa-Apaan itu US028?" Dia mendengar Renji bertanya, melihat ke arahnya seperti dia akan tahu jawabannya.

"Apa?" Tanya Ichigo kembali, kali ini berada di dekat pintu.

Renji menatap layar, membaca dengan keras sebuah dokumen. "Sebuah pesan dari pemimpin perusahaan. Ia bilang untuk mengirim US028 untuk mengejar Rukia – untuk pemulihan atau penghancuran, ini belum disetujui Kumoi."

"Penghancuran?" Ulang Ichigo, tiba-tiba merasa khawatir. Dia tidak ingin berada di sini lagi, dia ingin bisa kembali ke tempat dimana ia bisa melihat bahwa Rukia aman. Renji mengeprint catatan itu, melipat kertasnya dan memasukkannya ke dalam sakunya.

Pikiran Ichigo terlalu disibukkan dengan bayangan seseuatu yang tidak mereka ketahui membantai orang yang sangat dicintainya sampai ia tidak menyadari suara pintu yang dibuka dengan kunci sampai Renji menyadarkannya. Dia menarik keluar pistol yang diselipkan di belakang celananya dan mengarahkannya ke pintu. Jantungnya mulai berdetak liar yang sangat dikenalinya, saat pintu itu terbuka. Ichigo menarik masuk lelaki itu dengan cepat, menendang pintu untuk menutup dibelakangnya dan menguncinya sementara Renji menariknya untuk duduk di atas kursi. Butuh beberapa detik bagi Renji untuk mengkonfirm bahwa lelaki itu adalah Kumoi.

Dia bisa mengingat bagaimana cara Kurotsuchi bereaksi saat memiliki dua orang asing yang masuk ke apartemennya, mengeluarkan sebuah pistol untuk memojokkan mereka dan menggunakan nada mengancam untuk membuktikan bahwa ia sedang berada dalam kontrolnya. Kumoi sama sekali tidak seperti itu. "Apa yang kalian inginkan?" tanyanya dengan suara yang bergetar, tubuhnya kelihatan menegang saat ia melihat ke arah Renji dan Ichigo secara bergantian. "Uang? Narkoba? Aku akan memberikanmu apa saja."

"Aku tidak ingin orang-orangmu mengejar Tatsuki Arisawa." Ucap Renji, mengambil alih pembicaraan walaupun Ichigo sebenarnya punya pertanyaannya sendiri untuk lelaki ini. "Bagaimana caranya aku bisa membuat hal itu terjadi?"

"Aku… aku…" Ichigo yakin dia hampir membasahi celananya. "Aku bisa mengirimkan memo yang mengatakan dia bersih."

"Tidak, aku bukan orang bodoh." Ejek Renji, bersandar dengan tupuan satu tangan di meja. "Katakan padaku caranya dan aku akan melakukannya." Kumoi berjalan melewatinya, pistol Ichigo berada hanya beberapa inci dari pelipisnya. Renji tidak benar-benar mendengarkannya ketika ia mencoba memberitahunya hal untuk ditulis, memilih kata-katanya sendiri untu meyakinkan dirinya tidak ada kode rahasia tersembunyi di dalam kata-kata yang diucapkan Kumoi padanya.

Kumoi melihat mereka secara bergantian lagi, mata melebar tiap kali dia melihat bayangan dari pistol itu. "Sudah? Hanya itu saja? Aku boleh pergi, kan? Aku berjanji aku tidak akan memberitahu siapaun. Aku-"

"Kenapa kau mencoba mengirim sesuatu untuk membunuh Rukia?" Kata-kata itu terucap begitu saja dari bibir Ichigo tanpa pemikiran kedua.

"Ru-Rukia?" Ulang Kumoi. "Apa yang-" matanya tiba-tiba melebar ketika ia sadar akan sesuatu. "Yatuhan. Kalian orang yang membunuh Kurotsuchi, kan?" Mereka berdua tidak memberinya respon. "Iya, kan?"

"Katakan saja alasannya." Ichigo memaksanya, jari mulai menekan pelatuk pistol.

"Karena dia tidak berguna." Bentak Kumoi dengan suara yang hampir histeris dan cepat. "Dia gagal memenuhi kriteria yang diinginkan pihak militer. Jika dia tidak terlalu berbahaya, kami pasti hanya akan menjualnya. Dia-" Ichigo tidak sadar bahwa ia menarik pelatuknya sampai ia mendengar suaranya, sampai darah menyebur dari luka di kepalanya, sampai empat peluru meninggalkan selongsongnya, sampai Renji menariknya menjauh dan memanggil namanya berulang kali.

Renji menarik pistol itu dari tangannya. "Ichigo! Kendalikan dirimu!" Ichigo mengambil beberapa napas dalam, memperhatikan tubuh Kumoi yang merosot dari kursinya, cipratan merah yang sangat mengerikan mewarnai tembok yang semula putih. Entah mengapa pandangan itu tidak sedikitpun mempengaruhinya. "Ichigo." Renji menarik lenngannya menuju ke arah pintu.

Empat peluru yang telah ditembakkan Ichigo berbunyi cukup keras, jadi tidak mungkin tidak ada orang yang tidak mendengarnya. Dan cipratan darah yang sangat banyak di jas lab mereka akan meyulitkan mereka untuk lari dari tempat itu. Mereka dengan cepat berlari menuju lift, Renji menekan tombol panah ke bawah secara terus-menerus dengan cepat. Ichigo meraih lengannya. "Tangga." Katanya, menarik Renji ke arah pintu tangga darurat. Menunggu lift sampai di lantai itu dan membiarkan diri mereka terlihat security kelihatannya seperti ide yang sangat bodoh.

Mereka bergegas menuruni tangga dengan kecepatan penuh, melengkahi banyak anak tangga sekaligus. Renji menghitung mundur lantai setiap kali mereka melewati pintu, dari sebelas ke lima. Disitulah ia berhenti, dan Ichigo bisa mendengar alasannya, suara komando keras yang berasal dari lantai di bawah mereka. "Sial." Umpatnya. Dia melihat ke sekeliling selama beberapa saat sebelum keluar dari pintu di lantai lima itu, membiarkan Ichigo mengikutinya dari belakang. "Lewat tangga, kelihatannya lebih aman." Kata Renji dengan nada mengejek, menekan tombol lift seperti yang ia lakukan sebelumnya, tapi di lantai yang berbeda.

Waktu menunggu ini terasa menyiksa, bahkan kepanikan tetap terlihat dari raut wajah Renji yang mencoba untuk tetap tenang. Mereka berbalik ketika mendengar suara dari belakang mereka yang memperingatkan mereka untuk berlindung, karena ada seseorang yang berbahaya berkeliaran di dalam lab. Berbalik badan dengan jas putih mereka yang bernoda darah kelihatannya seperti pilihan yang salah. Tiga lelaki yang berpakaian security itu dengan serentak mengarahkan pistol ke arah mereka, tampilan di atas pintu lift menunjukkan angka 4, sebentar lagi pintu lift akan terbuka di lantai dimana mereka berada. "Tunggu aku!"

Renji menembakkan beberapa peluru dengan pistol Ichigo, ketiga security itu bersembunyi di antara gang koridor dan Renji mengenai sasaran yang salah. Para security itu membalas, menghujani mereka dengan tembakan tepat pada saat pintu lift terbuka. Ichigo segera masuk ke dalam, menekan tombol yang akan membawa mereka ke lantai dasar. Dia menunggu Renji masuk dan menembakkan beberapa tembakan dengan pistol yang ditemukannya di laci di ruangan kerja Kumoi sampai Renji terdesak , jatuh terduduk ke dalam lift. Ichigo mencoba untuk menomor satukan usaha melarikan diri mereka, membuat pintu itu menutup sebelum perhatiannya beralih pada temannya. "Renji." Katanya dengan napas terengah-engah.

"Sial, sial, sial!" Kutuk Renji, tangan kanannya menekan bahu kirinya, warna merah darah segar membasahi jas itu.

"Kau baik-baik saja?" Ucap Ichigo berlutut di lantai di sebelah Renji. "Kau baik-baik saja, kan?" Renji mengangguk, rasa sakit yang dirasakannya tergambar dengan jelas di wajahnya. Dalam diam Ichigo mulai berdoa, memperhatikan nomor lantai yang berhitung mundur dan berharap bahwa mereka akan segera sampai ke lantai dasar sebelum seseorang menghentikan lift itu. Dia tidak ingin mati disini, mati kehabisan darah di tempat mengerikan ini.

Dia membantu Renji berdiri saat tampilan menunjukkan nomor lantai yang berada tepat di atas lantai dasar. Renji menggumamkan sesuatu tentang ia tidak membutuhkan bantuannya hanya untuk berdiri, tapi dia tidak melawan ketika Ichigo tetap memapahnya keluar dari lift.

Garasi gedung itu terlihat kosong untuk saat ini. Tapi mereka tahu, keadaan kosong itu tidak akan berlangsung lama, Ichigo berharap garasi bukan tempat pertama yang akan mereka periksa (tentu saja mereka akan memeriksa lift terlebih dahulu). "Bisakah kau lari, Renji?"

"Ya, tentu saja." Renji memberinya sebuah seringai sombong. "Kakiku baik-baik saja. Aku masih punya kekuatan lebih untuk membuktikannya." Dari arah pintu masuk terdengar suara langkah kaki yang ramai, dan dengan itu mereka bergegas pergi, berlari ke arah jalan masuk yang mereka ciptakan di pagar pembatas yang mengelilingi garasi itu saat menyusup ke lab ini. Jalan masuk itu terasa begitu jauh dan Ichigo bisa merasakan dirinya mulai lelah. Jarak jauh bukan sesuatu yang disukainya sejak dulu.

Dialah yang pertama melewati lubang itu, menunggu di sisi lain pagar untuk menarik Renji. Tiba-tiba ide awal mereka untuk memakirkan mobil di tempat yang cukup jauh dan aman kelihatan seperti ide yang sangat, sangat buruk. Tapi dia pasti bisa sampai disana, mereka berdua akan sampai disana, mereka berdua harus untuk sampai disana. Karena kali ini ia memiliki seseorang yang menjadi alasannya untuk hidup. Dan begitu pula kelihatannya bagi Renji.

.

To be continued.

.

Author's Tea Time!

Terimakasih sudah mau baca! Jangan lupa meninggalkan Jejak! :D

Maafkan saya, ada sedikit edit karena lupa klo ffn ga bisa meletakkan kata sehabis titik tanpa spasi -_-

Chapter ini sengaja dipanjangin, saya menghilang selama hampir 3 minggu maaf… minggu kemaren saya mid… :''O abis itu karena udah lama gak ngetik, saya uget-uget karena nulis romance LOL entah kenapa rasanya geli. Kalo jelek maafkan saya XD

Sebentar lagi selesai. Heheheh. XD