Title: Sun Burns Down Ch. 11 – 028US

Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.

Warnings: Typos, OOC, OC, Violence, Headaches, mention of dirty things,

Note: We don't have super powers like they do. Full credits to 'abang' Tite Kubo. The title is comes from Akanishi Jin's America single Sun Burns Down (youtube watch? v=QC7HKUcDBuI) just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Thanks for my forever love BlackWind1001!

.

Dia berpura-pura menonton televisi, melihat ke bibir pembaca berita yang bergerak, tapi tidak benar-benar mendengarkan apa yang wanita itu katakan. Ichigo telah berjanji mereka pasti kembali. Dia juga mengatakan dia akan menelponnya ketika mereka berada di tempat yang cukup aman. Tapi Rukia tidak bisa menahan dirinya untuk khawatir.

"Rukia?" Tatsuki duduk di sandaran lengan sofa. "Kau tidak apa-apa?"

Dia mengangguk, walaupun dia masih tidak yakin dirinya merasa begitu. Dia tidak suka dengan perasaan seperti ini, perasaan khawatir dan ketidak berdayaan seperti ini. Mungkin perasaan ini juga bagian dari siklus jatuh cinta. Jika memang begitu, mungkin ia harus menerimanya karena apa yang ia rasakan bersama Ichigo kemarin hari terlalu menyenangkan sehingga perasaan ini pantas ia terima.

Satu jam lagi berlalu, rasanya begitu lama, sampai ada ketukan di pintu. Rukia mulai bergerak bangkit dari duduknya, tapi Tatsuki mendorongnya duduk kembali dengan pelan. Dia waspada dengan siapa yang berada di balik pintu apartemen itu, dan Rukia bisa mengerti alasannya. Tatsuki mengintip sekilas lewat lubang intip sebelum ia dengan cepat membuka kunci dan pintu itu.

Rasa khawatir itu lenyap seketika saat melihat Ichigo membantu Renji memasuki apartemen itu, wajah lelaki yang berambut merah menahan rasa sakit dan sebuah tangan tertekan di bahunya yang bernoda merah. "Aku bisa berjalan sendiri, Ichigo." Keluh lelaki itu sambil mendekati sofa dengan pelan.

"Apa yang terjadi?" suara Tatsuki terdengar panik, Rukia mengingat nada itu sama persis dengan nada yang dikeluarkan Tatsuki saat mencoba membawanya keluar dari lab. Tatsuki duduk di sebelah Renji, menarik tangan Renji menjauh dari bahunya.

"Ini hanya luka tembak kecil," Kata Renji.

Rukia menghiraukan kelanjutan percakapan itu, memeluk Ichigo untuk meyakinkan dirinya bahwa dia benar-benar di sini. "Maafkan aku, Rukia." Ucap lelaki itu pelan. Rukia tidak mengatakan apapun, tapi Ichigo tahu apa yang ingin dikatakannya. Dia ingin bertanya apa yang terjadi, apakah Ichigo terluka, atau apakah mereka sudah aman sekarang, tapi entah mengapa ia tidak ingin menghentikan keheningan damai di pelukan Ichigo saat ini.

Dia mencuri kesempatan melihat ke balik bahu Ichigo. Tatsuki duduk dengan sebuah kotak P3K yang terbuka disampingnya, kemeja Renji setengah terbuka menggantung di lengannya agar lukanya bisa diobati. "Ichigo," ucapnya pelan, menepuk pundak Ichigo. "Kupikir kita harus meninggalkan mereka sendiri untuk beberapa saat." Ichigo menoleh ke belakang, tersenyum pada Rukia dan menaruh sebuah tangan di pinggang ramping Rukia saat mereka keluar dari apartemen itu dengan pelan.

Ichigo melangkah pelan saat mereka berjalan menuju apartemennya, ada sesuatu yang dipikirkan Rukia dengan serius. Dia ingin membiarkan Ichigo istirahat saat Ichigo menjatuhkan dirinya di atas kasur dengan napas berat, tapi ada sebagian dirinya yang tidak bisa menghiraukan pikiran itu. "Ichigo?" tanyanya, duduk di sebelahnya di pinggir tempat tidur, "Kau tidak terluka seperti Renji, kan?"

"Tidak." Ichigo memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat Rukia. "Aku baik-baik saja." Rukia mengangguk, tapi tidak benar-benar mendengarkan jawaban Ichigo, ia memposisikan dirinya agar duduk lebih nyaman saat jari-jarinya membuka kancing kemeja yang dipakai Ichigo. "Ano, Rukia…" Ichigo tertawa gugup.

"Diamlah. Aku hanya ingin memastikan, oke?" Rukia memberikan wajah serius sambil berusaha menyingkirkan kemeja itu.

Ichigo benar, tidak ada luka baru di tubuhnya, yang ada hanya beberapa bekas luka yang hampir rata dengan kulit di lengannya, tapi selain dari itu semuanya terlihat baik-baik saja. "Syukurlah, tidak ada yang terluka." Ia tersenyum lega.

"Aku kan sudah bilang." Ichigo menghela napas, dan tersenyum kepada Rukia.

.

Di saat-saat seperti ini, ia bersyukur dengan adanya seorang dokter di dekatnya. Ini lebih baik daripada pergi ke rumah sakit dan lalu dituntut untuk menjelaskan bagaimana tepatnya ia mendepatkan luka tembak di bahu. Renji meringis dan membuat beberapa hentakan saat Tatsuki menjahit lukanya, tampak tidak perduli dengan kenyataan Renji yang terlihat agak menyedihkan. "Berhentilah menjadi seperti bayi." Gumam Tatsuki dengan nada yang tercampur antara kesal dan geli.

"Kupikir kau membuatnya menjadi lebih menyakitkan dari yang seharusnya." Responnya setengah mengeluh.

"Aku tidak berpikir bahwa Abarai Renji selemah ini." Renji melihat Tatsuki tersenyum sambil meneruskan pekerjaannya. Entah mengapa kali ini ia merasa tidak ada sesuatu seperti 'penghalang' diantara mereka. Entah mengapa kali ini, berada di satu ruangan dengan Tatsuki tidak terasa pahit.

Tatsuki selesai menjahit lukanya dan mencari sesuatu di dalam kotak P3K. "Aku memang lemah." Ucap Renji pelan, dan Tatsuki mengangkat kepalanya. "Kalau aku tidak lemah, kita pasti…" dia tertawa, kepalanya jatuh ke belakang melawan bantal sofa. "Katakan kepadaku, Tatsuki. Apa aku punya kesempatan?... untuk kita?"

Diam menyelimuti mereka untuk beberapa saat, Tatsuki nyaris tak bergerak, jari-jarinya seakan membeku memegang perban. "Kau… ini…. seperti aku benci padamu." Akhirnya Tatsuki angkat bicara, dan Renji bisa menebak kalimat apa yang akan datang selanjutnya. "Tidak benar-benar 'membenci'-tapi, Kau hanya tidak…"Tatsuki menghela napas, diam beberapa saat untuk membalutkan perban di atas luka tembak yang baru dijahit. "Aku pikir kita tidak cocok satu sama lain, jika kau ingin aku jujur."

Dan itu terasa seperti sebuah paku yang baru saja menyegel sebuah pintu, Renji tidak bisa membuat dirinya menerima pernyataan itu begitu saja. Tatsuki membereskan kotak P3K, berdiri untuk mengembalikan kotak itu ke tempatnya semula, tapi Renji meraih pergelangan tangannya. "Jangan katakan itu." Ucapnya dengan nada seperti mengemis. "Kumohon."

"Renji…" dia tidak bisa menebak arti dari nada dalam suara Tatsuki dan itu juga tidak membantunya dalam menyelesaikan sesuatu yang telah rusak. Renji tidak pernah benar-benar mengatakannya, tidak pernah membiarkan orang lain mengetahui perasaannya pada gadis ini begitu kuat, tapi ia akan melakukan apa saja untuk Tatsuki, berlutut dihadapannya dan memohon jika memang harus ia lakukan. Memang Tatsuki tidak benar-benar mengubah hidupnya dalam cara yang Rukia lakukan untuk Ichigo, tapi itu tidak membuat apa yang ia rasakan berbeda jauh dengan apa yang mereka rasakan satu sama lain. "Aku tidak bisa bersama seseorang yang menganggapku hanya sebagai pacar ke-12 dalam haremnya."

"Aku tidak pernah menganggapmu begitu." Kata Renji padanya dengan yakin namun tetap lembut. Masih banyak yang ingin ia katakan pada Tatsuki tapi hanya itu yang bisa diucapkannya sekarang. Dia mengeluskan ibu jarinya di punggung tangan Tatsuki, berharap ia bisa menggunakan telepati karena itu akan membuatnya mengatakan kata-kata itu lebih mudah untuk di dengar. Ia ingin mengatakannya, ia tidak butuh orang lain jika Tatsuki bersedia kembali dengannya.

Kotak P3K jatuh ke lantai dengan suara keras, dan Tatsuki menjatuhkan dirinya di sofa di sebelah Renji. "Jangan katakan itu," erangnya, tapi erangan itu masih terdengar lembut dan perhatian. Jika ia mau, saat itu Renji bisa menariknya mendekat dan menciumnya, tapi ia menyerahkan kendali pada Tatsuki sekarang. Tatsuki membisikkan "Kumohon." Dengan pelan, suaranya terdengar putus asa.

Tatsuki tidak ragu-ragu untuk waktu yang terlalu lama sebelum meletakkan tangan dibelakang kepala Renji dan menariknya mendekat untuk bersandar di kepalanya. "Kau tahu, Rukia pikir aku harus kembali padamu." Ucapnya.

Renji tertawa pelan, kedengaran seperti sesuatu yang akan Rukia lakukan, mengatakan apa saja pikiran yang tersirat dibenaknya. "Yah, dia memang pintar," canda Renji.

Mereka tidak mengatakan apapun setelah itu, membiarkan apa yang masing-masing ingin katakan, menunggu waktu yang tepat untuk didengarkan jika diperlukan. Renji bisa merasakan dirinya berharap dari cara Tatsuki memeluknya dan dia bukan tipe orang yang bisa memalsukan perasaan seperti itu. Setidaknya, Ini adalah awal sesuatu.

.

Tidak mengherankan, Rukia menghabiskan malam itu di apartemen Ichigo. Dia mungkin tidak memiliki pilihan lain juga, ia pikir ia harus memberikan Renji dan Tatsuki beberapa waktu sendiri untuk menyelesaikan apapun yang terjadi di antara mereka.

Ichigo melingkarkan sebelah tangan di tubuh Rukia yang masih tertidur, beristirahat dengan tenang di sisi lain tempat tidur mungilnya, Sebelah tangannya menggantung di tepi tempat tidur dan salah satu kakinya bertaut dengan kaki Ichigo. Ia akhirnya menemukan alasan mengapa baginya Rukia selalu tampak seperti bagian alami dari apartemennya, entah berapa lama waktu berlalu sampai akhirnya ia menyadari dirinya benar-benar menyukai gadis ini. Salah satu misteriyangmungkin tak akan pernah bisa ia pecahkan.

Dia menempatkan sebuah ciuman di kening Rukia, ketika Rukia membuka matanya dan mengatakan selamat pagi padanya. "Ohayou." Kata Ichigo.

"Kau tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya hari ini, kan?"

Pertanyaan itu datang entah dari mana, menyebabkan Ichigo kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. "Tidak, aku tidak merencanakan apapun hari ini."

"Baguslah," Rukia tersenyum tipis pada Ichigo sebelum duduk, menciptakan suara berderit di matrasnya. Dia melihat ke sekililing apartemen, seakan sedang mematri penglihatannya akan setiap sudut dan celah tempat itu pada benaknya. "Kupikir, aku harus menyimpan beberapa pakaian disini."

"Itu," Ichigo bangkit untuk duduk, memijat belakang lehernya yang terasa menegang. "Terdengar seperti ide yang bagus." Sungguh, itu sesuatu yang seharusnya sudah terpikirkan sejak dulu, mengingat sudah beberapa kali Rukia jatuh tertidur di sini tanpa pakaian ganti. Mungkin akan lebih baik lagi jika Rukia memindahkan seluruh barang-barangnya ke sini. Ichigo cukup yakin ia mendengar suara benturan di langit-langit semalam sesudah Rukia tertidur. Bukan sesuatu yang sering ia dengar dari atas sana ketika Renji membawa kencannya ke apartemen.

Dia tidak sadar dirinya tidak memperhatikan, sampai ia kaget ketika Rukia mencium pipinya. Membisikkan suatu kata, yang entah darimana.

Dari manapun itu berasal, pipi Ichigo terasa panas. Ia tersenyum dan menyelipkan sehelai rambut di belakang telinga Rukia.

.

Hari ini cerah tidak seperti biasanya, cocok untuk pergi keluar dan menghabiskan waktu di dunia luar jika itu bukan ancaman bagi keselamatan. Rukia memberikan tatapan tertentu di wajahnya saat dia memperhatikan Renji dan Arisawa-sensei beberapa langkah di depannya. Dia menyenggol lengan Ichigo, menunjuk dengan pelan bagaimana tangan kedua orang itu bertaut satu sama lain untuk beberapa saat sebelum melepasnya. Itu terlihat manis, bagaimana mereka kelihatan belum yakin satu sama lain, tapi mengakui bahwa ada sesuatu di antara mereka.

Ichigo tidak tahu sejak kapan mereka kembali, tapi Rukia mengatakan Renji dan Tatsuki tidur bersandar satu sama lain di sofa ketika dia memutuskan untuk pulang di malam pertama dimana mereka tidur bersama. Untuk minggu berikutnya setelah itu, mereka sudah seperti ini, seperti mereka mencoba untuk mencari tahu dimana hubungan mereka sekarang, dan seberapa jauh mereka bisa mengambil langkah. Ichigo tidak yakin dengan apa yang mereka lakukan disaat Rukia menginap di tempatnya, tapi dia tidak bisa membayangkan mereka melakukan sesuatu yang terlalu intens di atas sana. Lain ceritanya jika sekarang mereka bisa berpegangan tangan tanpa berpikir terlalu banyak.

"Arisawa-Sensei," kata Rukia. "Aku ingin pergi ke taman."

"Kenapa?" Tatsuki menghela napas, menoleh ke kebelakang bahunya. "Dan kenapa kau memberitahuku?"

Rukia memperhatikan kaki mereka. "karena itu romantis? Kupikir sensei akan menyukainya."

Tatsuki mendesah, pipinya terasa panas dan dia memutar kepalanya kembali sehingga Ichigo tidak bisa melihat wajahnya lagi. "Kenapa aku harus menyukai itu?" Renji tertawa, memberikan Ichigo tatapan penuh arti.

Renji bersandar medekat ke Tatsuki. Mengatakan sesuatu padanya yang tidak bisa didengar siapapun selain mereka berdua. Dia menyeringai atas apapun yang ia katakan, mengintip ke belakang dimana Ichigo dan Rukia berjalan berdampingan. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi ia kehilangan kesempatan untuk mengatakan apa yang ada di benaknya, seorang lelaki berjalan terlalu dekat dengannya dan menumbur bahunya cukup keras untuk membuatnya kehilangan keseimbangan. Lelaki itu berhenti berjalan, berbalik dengan sebuah tatapan di matnya yang membuat Tatsuki menarik lengan Renji untuk terus berjalan dan mengabaikan orng itu. Renji, seperti yang diduga, tidak mendengarkan. "Hei! Perhatikan dimana kau berjalan, sialan!"

Pria itu melihat kembali pada mereka, ekspresinya mengatakan dia tidak sadar dia melakukan sesuatu yang salah atau hanya tidak peduli. Tatsuki memperhatikannya, menarik-narik lengan Renji sampai ia kembali berjalan. "Ayo. Rukia benar, ayo pergi ke taman sekarang." Kata Tatsuki. Sudah jelas bahwa ia mencoba untuk membuat mereka terhindar dari suatu kemungkinan. Tatsuki menoleh ke lelaki itu beberapa kali saat mereka terus berjalan. Salah satu alisnya naik. Itu menimbulkan rasa ingin tahu Ichigo.

"Mm, Ichigo," perhatiannya tertarik dari lelaki tak dikenal itu ke tangannya yang digengam Rukia.

"Apa?"

Rukia merasa waspada akan pikirannya. "Bukan apa-apa." Dan Ichigo tertawa pelan, mengambil asumsi bahwa Rukia tidak benar-benar memiliki sesuatu untuk dikatakan, hanya ingin mengenggam tangannya.

Di depan mereka, Renji dan Tatsuki kelihatan terlibat dalam pembicaraan yang serius, sesuatu yang akan dihiraukan Ichigo sebagai salah satu percakapan khas mereka dimana segala sesuatu tampak lebih mengerikan daripada yang sebenarnya, tapi kemudian dia menoleh ke belakang mereka. Lelaki tidak sopan itu berjalan ke arah mereka kali ini, mengikuti mereka seperti seekor predator. Dia yakin, dia melihatnya terlalu lama, dan kaget ketika Renji menarik lengannya dan meningkatkan kecepatan langkah mereka.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ichigo, hampir tersandung kakinya sendiri saat ia menyesuaikan kecepatan.

"Kita diikuti." Kata Tatsuki dengan gigi terkatup.

Ichigo menoleh ke belakang lagi. Dia masih disana, dengan rambut dan pakaian hitam dan ekspresi yang begitu kosong seperti alien. "Kau marah pada orang yang salah," gumamnya, merasa tangan Renji menegang di sekitar lengannya,

"Teruslah bercanda, jika mau berakhir mati," Renji mengumpat ke dirinya sendiri, sebuah respon untuk suatu kilatan menggelegar diatas bahu Ichigo, dan dia berlari. Ichigo mendengar teriakan-teriakan di belakang mereka sebelum terdengar suara berdengung yang familiar, seberkas kilat hijau mengenai tanda jalan di dekatnya.

Mereka berhasil berbelok ke sebuah gang ditengah kekacauan yang diciptakan oleh seorang maniac, yang selalu berhasil membuat keributan di jalan sibuk. "Apa itu?" Tanya Ichigo terengah-engah.

Tatsuki menendang sebuah kantong sampah yang disandarkan di jalan. "Subjek dua puluh delapan, US, Ulquiora, apapun nama yang mereka pakai untuk memanggilnya minggu ini."

"US," Ichigo melihat ke Renji, dan wajah yang ditunjukkan Renji telah mengonfirm pertanyaan berikutnya. "Seperti benda yang seharusnya menghancurkan Rukia?" Ichigo masih ingat dengan jelas bagian dari memo yang mereka temukan di kantor Kumoi.

"Aku tidak ingin mati," Ketakutan di suara Rukia akan pikiran itu terdengar sangat jelas.

"Kau tidak akan mati," Ichigo meyakinkannya, memberikan sebuah ciuman lembut di kening untuk menenangkannya. "Tidak bisakah kita lari dari sini?" Ichigo melihat bolak-balik antara Renji dan Tatsuki, Jeritan yang sesekali terdengar, atau suara decitan ban yang membuat perutnya menegang.

"Kita bisa mencoba." Dari cara Tatsuki memijit pelipisnya mengatakan ia tidak mendukung ide itu. Tapi apa yang seharusnya mereka lakukan, melawannya? Dengan apa, sampah di gang itu?

Seolah-olah seperti ia memiliki pemikiran yang sama, Rukia melepaskan genggaman Ichigo dan melangkah tidak lebih dari dua langkah menuju jalan utama sebelum Ichigo meraih tangannya dan menghentikannya. "Rukia."

"Aku akan menyelamatkan diriku sendiri kali ini," adalah jawaban yang dia berikan, seperti anak kecil yang ingin bermain sebagai ksatria dalam fantasi anak-anak. Ichigo melepaskannya pergi dibalik rasa gentarnya. Pada akhirnya Rukia adalah satu-satunya yang bisa melawan saat ini tanpa terpanggang terlebih dahulu. Dia tidak memberinya ucapan keburuntungan, yang mungkin hanya akan membawa kesialan.

Rukia berjalan kembali ke jalan utama dengan kepercayaan diri yang tampak. Renji mulai menggali di sekitar tumpukan plastik sampah di ujung gang sementara Ichigo dan Tatsuki terpaku mengawasi Rukia. "Dia bisa melakukan ini, kan?" Tanya Ichigo pada Tatsuki dengan Ragu.

"Yeah," Keyakinan Tatsuki tidak begitu tampak. "Rukia adalah salah satu dari yang terbaik."

"Bagaimana dengan US, eh, Ulquiora?" Kali ini ia tidak mendapatkan jawaban, dan itu cukup untuk membuat Ichigo khawatir.

Dia hampir tidak bisa memperhatikan dengan baik, matanya mengawasi punggung Rukia tanpa berkedip. Ketika matanya mengangkap bayangan Ulquiora, dia bisa melihat lompatan-lompatan arus listrik di antara jari-jarinya.

Ini mengingatkannya dengan sebuah duel di salah satu film barat lama, dan Rukialah yang pertama menyerang Ulquiora. Itu mengalihkan perhatiannya, tangannya memukul-mukul dengan cara yang hanya seseorang yang tidak tahu menangani api akan lakukan. Jika Rukia menyerangnya lagi selama dia teralih, lelaki itu akan kalah.

Tapi, Rukia tidak melakukannya, salah satu tangannya menekan kepalanya. Ichigo mengenal cukup baik untuk mengetahui Rukia mendapat rasa sakit itu lagi. Kenapa Ulquiora tidak mendapat pengaruh seperti itu, Ichigo tidak tahu. Mungkin itu ada hubungannya dengan Tatsuki yang tidak memberinya jawaban. Rukia berhasil menghasilkan satu serangan lagi, tapi ternyata sedikit terlambat, arus dari tangan Ulquiroa memotong udara terlalu cepat bagi Rukia untuk menghindar.

Ketika tubuh Rukia jatuh ke trotoar, Ichigo tidak bisa bergerak. Pikirannya kembali ke sebuah malam gelap di rumahnya, Oyaji, ibu, dan kedua adiknya terkapar tak bernyawa di atas lantai. Sisa bagian tubuhnya yang lain terasa membeku sehingga tidak berfungsi.

Tatsuki lari mendekati Rukia dahulu, dan Renji beberapa saat sesudahnya. Dia melewati Rukia, berlari ke arah Ulquiora dengan sebuah tongkat kayu di tangannya. Tatsuki berjongkok di samping Rukia, menaruh jari ke lehernya, wajahnya memberikan ekspresi yang tidak ingin Ichigo ketahui sebelum dia mulai memompakan tangannya di atas dada Rukia beberapa kali, berhenti beberapa saat untuk mengambil napas. Ichigo tidak bisa membuat dirinya melakukan apa-apa.

Di sudut matanya, ia bisa melihat Ulquiora jatuh ke tanah, Renji menjatuhkan tongkat kayu yang baru saja ia pukulkan ke belakang kepala lelaki itu, dan berjongkok disebelahnya untuk mengecek apakah dia masih hidup, tapi tidak ada satupun dari hal itu yang dapat membuat tubuhnya bekerja. Tidak ketika Rukia terbaring di tanah, memberikan ekspresi damai dan tidak bergerak saat Tatsuki melakukan CPR. Seluruh badannya terasa mati, anggota badannya terasa berat. Ia teringat arti dari ketakutan yang sebenarnya, adalah kehilangan seseorang yang beharga. Rasa ini dengan menyakitkan sangat familiar baginya, ingatan pahit mengenai kejahatannya sendiri terhadap keluarganya, tapi di atas semua itu, kali ini perasaan ini untuk Rukia, orang yang ia pilih sebagai keluarganya mulai dari sekarang.

Dia bisa mendengar Renji meneriakkan sesuatu yang diproses otaknya sementara dia membajak mobil orang bodoh yang lewat, dan dia nyaris memproses suaranya untuk berusaha, memohon sesuatu yang tercampur dari masa sekarang dan masa lalunya yang tampak seperti omong kosong. Dia tahu tentang keadaan sekarang dimana ratusan orang bisa mati seperti ini setiap harinya, tapi setelah apa yang terjadi , semua ini terlalu melebihi limitnya. Hal ini tidak mungkin terjadi, tidak bisa terjadi.

Ichigo tidak bisa menjelaskan perasaan lega luar biasa yang mendatanginya ketika dia mendengar suara napas yang familiar. Butuh beberapa waktu baginya untuk menyadari semua ini tidak hanya terjadi di kepalanya sampai Tatsuki dengan pelan mulai mengulang. "Apa kau baik-baik saja? Apa kau baik-baik saja?" dan memeberi intruksi untuk mengambil napas dalam yang membuat Ichigo merangkak menjauh dari tembok yang tidak ia sadari sedari tadi menjadi tempat ia bersandar.

"Rukia. Rukia?" Rukia menatapnya dengan mata ungu besarnya, dadanya bergerak naik dan turun dengan stabil. Ichigo menempatkan banyak kecupan di wajah Rukia, suara serak mengatakan "Jangan lakukan itu lagi." Rukia mengangguk pelan dan Ichigo membantunya berdiri dari tanah, menolak tawaran Tatsuki. Ini bisa dia lakukan sendiri.

"Apa dia perlu kita bawa ke rumah sakit? Tanya Renji, mengetuk-ngetuk dengan ggugup atap mobil yang bukan miliknya.

"kupikir itu tidak perlu," Jawab Tatsuki membuka pintu belakang mobil itu sehingga Ichigo bisa membantu Rukia masuk, dengan ekspresi tidak setuju di wajahnya. "Dimana Ulquiora?" Renji memberikan gestur ke bagasi di bagian belakang mobil. Dia dan Tatsuki bertukar beberapa kata yang terlalu pelan untuk didengar Ichigo, tapi dia tidak peduli.

Dia menepiskan poni panjang Rukia dari wajah Rukia. "Kau sangat berani." Bisiknya pada rambut Rukia dan mendapatkan sebuah senyum tipis sebagai balasan. "Tapi jangan dibuat menjadi kebiasaan oke?"

.

Renji tidak peduli dirinya tidak memarkir mobil itu dengan benar, membiarkannya mengambil tiga ruang sekaligus. Dia tidak berpikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk peduli terhadap orang lain, tidak ketika ada seorang maniac di dalam bagasi mobil yang bisa bangun kapan saja. Lagipula mobil ini juga bukan miliknya dan ia harus menelantarkannya segera. Tidak ada alasan untuk melakukan usaha yang tidak diperlukan. "Pastikan dia baik-baik saja." Katanya pada Tatsuki ketika mereka keluar dari mobil itu. Lagipula dia adalah dokter mereka, jadi Tatsuki tidak menolak.

Rukia baru beberapa langkah berjalan di tanah ketika Ichigo mengangkatnya, menggendongnya selama sisa perjalanan ke gedung. Renji bisa mendengar Rukia berkata pelan "Aku baik-baik saja, Ichigo." Saat mereka menuju ke pintu masuk, tetapi Renji tidak mendengar respon Ichigo.

Begitu mereka sudah menghilang ke dalam gedung, Renji segera melanjutkan untuk membuat bagasi itu terbuka. US atau Ulquiora atau Schiffer atau entah apa yang disebut oleh Tatsuki untuk memanggilnya masih disana, tubuhnya meringkuk dengan aneh supaya muat di dalamnya. Renji sedikit kesulitan untuk mengeluarkan Ulquiora dari bagian belakang mobil itu, tapi dia berhasil. Rasanya sudah lama sekali sejak dia terakhir kali memakai bus yang terparkir agak dibelakang itu, selama berbulan-bulan dia menghabiskan waktu mengawasi Rukia daripada bepergian.

Sangat sulit untuk membuat pintu itu terbuka saat kedua tangannya memiliki pekerjaan, tapi dia berhasil membuat pintu metal itu melipat sehingga ia bisa masuk ke dalam. Renji menariknya ke bagian belakang bus, melewati sebuah pintu ke sebuah ruangan kecil yang ia bangun dibelakang, pekerjaan besar yang dia putuskan tidak lama setelah dia meninggalkan rumah sebelum datang ke kota ini, sebuah keputusan yang masih ia pertanyakan tapi tidak ia sesali. Ada sebuah peti disana yang dijadikan tempat dimana ia menjatuhkan Ulquiora, peti dan ruangan itu setiap permukaannya terlapisi material yang dapat menahan arus listrik – sangat cocok untuk subjek tertentu. Ini sesuatu yang masuk akal baginya ketika berhadapan dengan arus listrik.

Dia menutup pintu di belakangnya, memasang berbagai macam baut dan kunci pengaman di frame pintu itu. Renji telah memasukkan cukup banyak orang (maniac) disana untuk tahu menggedor pintu adalah apa yang mereka pertama kali coba lakukan. lebih baik berwaspada dan tetap selamat daripada ada sesuatu yang rusak. Ketika dia puas akan hasil kerjanya, dia keluar untuk mengecek teman-temannya yang lain.

Itu mungkin sebuah ide yang bagus, pikir Renji saat dia berjalan menaiki tangga, apa yang Ichigo katakan saat mereka menyelinap ke lab itu. Meninggalkan kota ini mungkin apa yang terbaik untuk mereka. Kota dimana ia tumbuh cukup nyaman – dan yang terakhir kali ia dengar, bebas dari maniac. Pulang kesana mungkin akan membuat perubahan yang merilekskan. Masih ada sisa-sisa dari perusahaan itu, tentu saja. Membunuh orang yang menduduki posisi direktur adalah apa yang pada awalnya ada di pikirannya, tapi apa akan ada hal baik yang akan terjadi pada akhirnya. Dia pasti akan digantikan dan mereka hanya akan menggali lubang kuburan mereka sendiri. Permasalahannya disini adalah jaringan mereka itulah, pengingat konstan elektronik yang mengingatkan adanya mereka. Mengeluarkan itu, dan membuat mereka menjadi sesuatu yang terlupakan salah satu peluang terbaik mereka untuk mengeluarkan Rukia dan mereka semua dari masalah untuk kehidupan yang lebih baik.

Pikirannya dengan cepat terbungkam ketika dia melihat ke Tatsuki, duduk di lantai koridor yang bersebrangan dengan pintu apartemen Ichigo, lutut ditekuk ke atas dan tangan di kepalanya. "Apa yang terjadi?" satu hal yang ada di pikirannya adalah jangan-jangan Rukia tidak sebaik yang kelihatan, ada sesuatu yang salah, dan tidak terlihat oleh mereka.

Tapi ketika Tatsuki mendongak ke arahnya dengan ekspresi tenang, walau sedikit terlihat letih. "Bukan apa-apa. Aku hanya tahu mereka ingin waktu berduaan." Renji bernapas lega, merosot di dinding untuk duduk di sebelah Tatsuki.

"Kerja bagus hari ini," Kata Renji, melawan keinginannya untuk memegang tangan Tatsuki, tapi menepukkannya di pundak Tatsuki. "Kalau kau tidak disana, Aku tidak akan bisa membantu Ichigo yang depresi lagi ."

"Jangan bicarakan tentang itu." Sebuah senyuman menjalar ke wajahnya yang Renji artikan sebagai ucapan 'Terima Kasih' yang bisu. "Apa yang kau lakukan dengan Ulquiora?"

"Dia kuamankan," Jawab Renji dengan kata tersederhana yang terpikirkan untuk menjelaskan.

Tatsuki hanya mengangguk, kepalanya bersender di dinding di belakang mereka. "Yah, bagaimanapun juga dia masih manusia. Dia pasti akan merasa lapar atau sesuatu. Mungkin kita bisa… aku tak tahu, sesuatu yang tak akan membuat kita terbunuh."

Renji menolehkan kepalanya untuk melihat ke Tatsuki, mata mereka bertemu untuk sesaat, dan kali itu tidak ada dari mereka berdua yang mengalihkan pandangan karena malu. Tatsukilah yang pertama mencodongkan badan, dan membuat Renji terkejut, tapi Renji tidak mempertimbangkan untuk menghentikan Tatsuki. Dia tahu dirinya membuat keputusan yang tepat ketika dia merasakan bibir itu, suatu rasa familiar yang ingin lebih dirasakannya.

"Tatsuki" Katanya, menyentuh pipi Tatsuki dengan lembut dan mencoba untuk tidak tersenyum terlalu lebar (dan gagal). "Jika aku meninggalkan kota ini, kau akan ikut bersamaku, kan?" Renji tidak yakin kenapa dirinya mengatakan itu, tapi dia tahu apa yang dia maksudkan dengan itu : tetaplah bersamaku.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" kata Tatsuki sambil tertawa, dan jika bukan karena tangan yang diletakkan Tatsuki di atas pahanya atau bagaimana kepalanya bersandar di bahunya, Renji mungkin sudah menganggap respon itu sebagai serius. Tapi karena situasi ini, yang bisa dia lakukan adalah tersenyum.

.

"Aku berpikir untuk pulang," Gumam Renji, tidur terlentang diatas sekolompok kursi dan menatap langit-langit logam busnya yang sedikit berkarat.

Suara Tatsuki berasal hampir dua meter disebelahnya, samar-samar terdengar geli, "Begitukah?" yang membuat Renji memutar kepalanya hanya untuk mendapatkan senyum sekilas di wajahnya. "Ada apa dirumah? Orang tua, Saudara? Ah mungkin seekor anjing kecil dengan nama bodoh?"

"Mungkin hanya debu dan hama yang tidak diinginkan, jika kau mencari hewan peliharaan." Candanya. Tatsuki menggelengkan kepalanya dan kembali ke kegiatannya membaca sebuah buku dengan sampul mencolok. "Ayah dan Ibuku meninggalkan tempat itu beberapa waktu yang lalu. Terakhir kali kami berbicara, mereka bilang semua tempat itu milikku jika aku menginginkannya. Jadi pulang ke sana tampaknya seperti ide yang bagus sekarang." Dia meregangkan tangan diatas kepala dan melirik Tatsuki. "Selama aku tidak sendirian."

"Memangnya siapa yang ingin hidup denganmu?" Tatsuki menurunkan bukunya dengan sebuah senyuman lebar yang menjawab pertanyaannya sendiri.

Apapun pembicaraan yang berlangsung diantara mereka, terhenti oleh suara 'bruk' keras yang dihasilkan seseorang yang menaiki bus itu. Renji mengangkat kepalanya untuk menemukan Rukia berdiri di dekat setir bus itu dengan pakaian yang terlihat familiar sebagai punya Ichigo, sebuah ekspresi panik terpasang di wajahnya. Dia kelihatan seperti seekor anjing hilang, yang membuatnya kelihatan lucu. "Apa?"

"Ichigo bilang," dia mulai bicara, terengah-engah dengan pelan seperti dia berlari sepanjang jalan ke sini. "Bahwa kau akan membunuhnya."

Orang seperti Ichigo yang mengatakan sesuatu yang masih mereka pertimbangkan membuatnya terdengar seperti fakta. "Kami… belum memutuskan."

"Yah, jangan." Rukia menghela napas, berjalan ke pintu di belakang, membuat Renji dan Tatsuki tegang seketika. "Biarkan aku bicara dengannya. Jika dia tahu aku tidak berniat buruk atau diluar kendali, mungkin dia tidak akan menyakitiku. Atau kalian semua."

Renji melirik ke Tatsuki, mencari sesuatu seperti nasihat yang bisa dikatakan kepada Rukia. "Aku… aku tidak yakin Ichigo akan menyukai ide itu."

"Arisawa-Sensei dan Renji berada disini." Rukia tersenyum. "Jadi, aku akan baik-baik saja."

Dia tidak benar-benar menyukai ide itu, tapi Renji bangkit dari tempatnya, membukakan semua segel pintu itu. "Jika kau pikir dia bersikap kasar, keluar dengan segera, mengerti?" Rukia mengangguk dan Renji dengan perlahan membuka pintu itu, melihat sekeliling di dalam untuk menemukan Ulquiora. Dia tampak tidak terlalu mengintimidasi sekarang, tubuhnya merosot hampir menyedihkan di lantai dengan punggungnya yang bersandar di dinding. Renji menunggu di ambang pintu, mengawasi tawanan mereka dengan hati-hati saat Rukia duduk di depannya.

Suara langkah berat di belakangnya menandakan bahwa Ichigo baru saja naik. "Siapa namamu?" Tanya Rukia dengan nada lembut. Mereka sudah tahu itu, tapi lebih sopan baginya untuk bertnya, walaupun jika konsep kesopanan belum dimengerti oleh Ulquiora. "Namaku Rukia, kau mungkin sudah tahu itu, kan."

Ulquiora diam untuk beberapa saat, tapi pada akhirnya dia berkata, "Ulquiora," pelan dan terdengar lelah, sudah lebih dari dua puluh empat jam mereka meninggalkan dia disini dan sisa tenaga yang dimilikinya sudah dikeluarkannya ketika dia bangun.

"Ulquiora." Ulang Rukia. "Nama yang bagus. Aku pikir Rukia adalah sebuah nama yang bagus, juga, kan?" Ulquiora mengangkat bahu, seperti dia tidak tahu atau tidak peduli. "Para dokter tidak bicara terlalu banyak denganmu, ya?" simpati pada nada Rukia terdengar jelas, mungkin karena ini pertamakalinya ia bertemu orang yang seperti dia. "Tapi itu bukan masalah." Katanya lagi dan dia berdiri, menyodorkan tangan pada Ulquiora.

Rukia menariknya ke arah pintu, memberikan gestur pada Renji dengan kepalanya untuk memberikan mereka jalan. "Tunggu, apa yang kau lakukan?"

"Kupikir, dia ingin bertemu dengan semuanya." Kata Rukia, melirik ke Ulquiora di belakangnya dengan senyuman.

"Rukia, Aku pi-"

"Pikirkan tentang hal ini, Renji." Gadis itu hampir tertawa, melangkah lebih dekat sehingga dia bisa bicara dengan suara pelan yang tidak akan terdengar orang lain. "Kau tidak akan menyerang orang yang kau kenal. Setidaknya aku begitu. Jika Ulquiora bisa nyaman bersama kita, dia tidak akan melawan kita, kan?" Ini cerdas, simpel, dan mudah dimengerti – cara pikir seperti yang akan dipikirkan oleh Rukia – bahkan jika Renji benar-benar meragukan kebenarannya. Dia menyingkir dari jalan, membiarkan mereka berdua lewat. Ulquiora menyipitkan mata akan cahaya pagi yang mengintip melalui bangunan di sekitarnya. Apakah sekarang benar-benar sudah pagi? Tapi ini tentu tidak terasa seperti itu.

Sedikit menarik untuk melihat Rukia sekarang, cara dia berusaha untuk mendapatkan Ulquiora bisa membuka diri terhadap Ichigo. Hampir seperti melihat ke arah anakmu dan menyadari bahwa mereka sudah dewasa dan kau bahkan tidak menyadarinya sebelumnya. Tatsuki menyilangkan tangan di depan dada sambil tersenyum dan lalu menghela napas.

.

Lima orang kelihatan terlalu banyak untuk berada di dalam apartemen kecil Ichigo. Semuanya kelihatan jauh lebih kecil, Rukia tidak terlalu memikirkannya, ini hanya hasil pengamatannya. Sama seperti pengamatannya saat ini akan kelakuan Ulquiora, caranya memperhatikan setiap makanan di atas piringnya dan dengan hati-hati memasukkannya ke dalam mulutnya seperti makanan itu akan melukainya terlihat agak lucu karena kelakuan itu datang dari seseorang yang membuat mereka ketakutan. Rukia tidak bisa mengingat dirinya pernah seperti itu, berhati-hati akan segala hal. Jika adapun, semuanya kebalikan dari kelakuan Ulquiora. Bagaimana ia berhasil bertahan hidup sekarang tampak seperti sebuah misteri.

"Berhenti memandanginya seperti itu," Kata Ichigo, menyilangkan tangan di depan dada.

Rukia mengalihkan pandangannya pada Ichigo, memiringkan kepalanya. "Kenapa?"

"Aku… tidak menyukainya." Ichigo mengangkat bahu, dan melihat ke bawah di sebuah titik di tekstur celananya. "Kau tidak tahu bagaimana sebagian besar hubungan berjalan," gumamnya.

Sayangnya, dia tidak bisa membantah itu. "Kau mungkin benar," kata Rukia "Aku hanya penasaran tentang sesuatu. Aku sudah senang bisa bersama Ichigo." Dia tertawa pelan. "Kau hanya bertingkah konyol."

Dia menyukai cara Ichigo mencoba dan gagal untuk menyembunyikan senyumnya. "Mungkin." Katanya pelan, sebuah tangan mengulur di sekitar pinggang Rukia.

Di seberang ruangan itu, Renji membuat sebuah wajah, menatap sesuatu di tangan Ulquiora. "Hey," dia melambai pada Tatsuki untuk mendekat, dan menunjuk ke arah itu. "Apa itu?"

Rukia mencoba untuk berdiri dan melihatnya sendiri, tapi Ichigo menariknya kembali untuk tetap duduk di tempat duduknya. "Itu bukan apa-apa. Biarkan mereka berurusan dengan itu, oke." Katanya lembut menariknya lebih dekat untuk sebuah ciuman. Tiba-tiba, dia tidak peduli akan apa yang menarik perhatian Renji.

Sampai Tatsuki mengumpat pelan, "Shit." Dan memegang lengan Ulquiora ke meja. "Ambil pisau atau sesuatu." Katanya, mengambil jeda waktu itu sebagai kesempatan untuk menenangkan tamu mereka bahwa dia tidak apa-apa dan mereka tidak mencoba untuk menyakitinya, mungkin untuk mencegahnya dari ketakutan dan membuat mereka semua merasa mereka baru saja memasukkan jari mereka di dalam stop kontak listrik.

"Apa itu?" Tanya Ichigo, bangkit dari tempatnya, tapi menjaga tangannya agar tetap di bahu Rukia untuk memastikan dia tetap disana.

"Alat pelacak perusahaan." Kata-kata itu membuat dada Rukia menegang sebelum Rukia mengerti mengapa. "Itu masuk akal, sebenarnya. Setelah Rukia menghilang dari lab mereka, mereka pasti ingin pengaman pada apapun yang mereka kirimkan." Renji mengeluarkan sebuah pisau tajam dari dalam salah satu laci. Saat itulah Ichigo berdiri di hadapan Rukia, menutupi pandangannya ke tiga orang yang sedang berusaha menyingkirkan alat itu dengan tubuhnya.

Rukia tidak melihat sisanya, hanya mendengar Ulquiora mengeluarkan sebuah teriakan dan suara Tatsuki sehabis itu. "Tidak apa-apa, sudah selesai." Ichigo duduk kembali ke sebelahnya di saat Rukia melihat Tatsuki membimbing Ulquiora ke wastafel dan air mengalir di atas lengannya. Tetesan merah besar menandai jalan mereka di lantai.

"Hey," Ichigo tersenyum kepadanya, walaupun matanya terlihat khawatir. "dia baik-baik saja, lihat? Dia baik-baik saja."

Ada sepotong logam kecil di tangan Renji, dan dia bisa melihatnya sesaat sebelum Renji menjatuhkannya kelantai dan menghancurkannya dengan satu injakan keras. Tatsuki melihat ke arahnya seperti itu adalah hewan peliharaannya yang barusan Renji bunuh. "Apa yang baru saja kau..."

"Mereka tidak akan menemukan kita sekarang." Renji kelihatan percaya diri ketika ia mengatakannya, tapi tatapan yang ada di wajah Tatsuki mengubah pemikiran itu. "Apa, mereka bisa?"

Tatsuki mengambil salah satu handuk Ichigo, menekankannya ke lengan Ulquiora. "Jika mereka kehilangan sinyal, mereka akan mencari tahu apa alasannya! Bisa kau pegang ini?" katanya pelan pada Ulquiora setelah berteriak pada Renji sebelum dia mengeluarkan kotak P3k dengan cepat. "Seseorang akan datang ke sini mencarinya, dan melacaknya apakah dia suah mati!"

"Kau tahu itu!?" teriak Renji, memandangi pecahan metal kesalahannya di atas lantai.

"Well, tidak," aku Tatsuki. "Tapi aku bekerja untuk mereka. Kupikir aku tahu bagaimana orang-orang itu melakukan hal." Tangan Rukia sepertinya menemukan jalannya ke tangan Ichigo, menggenggamnya terlalu kuat sampai sakit rasanya. Dia takut, Ichigo bisa merasakannya, mengeluskan ibu jarinya di atas punggung tangan Rukia untuk menenangkan.

Renji menghilang sesaat, lalu kembali dengan sebuah tas yang dilemparnya ke arah Ichigo tanpa melihat. "Ketika aku bertanya apa kau akan ikut denganku ketika aku meninggalkan tempat ini," katanya, mata terarah pada Tatsuki. "Aku ingin kau menjawabnya langsung sekarang."

Tatsuki nyaris menunggu beberapa detik berlalu, mengambil dua langkah besar ke arah Renji dan melingkarkan lengan di lehernya. Dia mengatakan sesuatu pelan, supaya hanya Renji yang mendengarnya, dan mencium pipinya lembut. Ulquiora mengamati mereka, kelihatan benar-benar bingung dengan kasih sayang. Rukia ingat perasaan seperti itu. Renji mengecup bibirnya dengan cepat sebelum bergegas ke arah pintu.

"Tatsuki," Ichigo menarik Rukia mendekat dengannya, seperti jika ia melakukan itu segala ketidak pastian di benaknya akan menghilang. "Apa yang harus kami lakukan?"

"Kemasi barang-barangmu," Jawabnya, kembali ke kegiatan mengobati luka Ulquiora. "dan bersiap-siaplah untuk perjalanan panjang."

.

Ichigo tidak sadar dirinya mempunyai banyak barang sampai dia harus mengemasi semuanya, mengisi beberapa tas ke titik hampir robek, risleting logam hampir tidak bisa menjaga mulut tas agar tetap tetutup kelihatan seperti metafora dari hidupnya yang tampaknya selalu berubah. Dia menjatuhkan tas-tas itu di sepasang kursi di dalam bus itu, mencuri pandang ke Ulquiora yang duduk beberapa baris dibelakang. Dia diam, menatap lurus ke luar, lebih tepatnya ke luar jendela pada beberapa anak-anak yang bermain di area kosong berumput di belakang tempat parkir itu. Ichigo tahu arti tatapan mata itu, salah satu daya tarik akan sesuatu yang tidak dimengertinya karena pengetahuannya yang terbatas.

"Um, bagaimana lenganmu?" Tanyanya, hanya untuk membuat percakapan.

Ulquiora bahkan tidak melihat ke kulit terperban dibawah kemejanya. "Baik."

"Itu bagus," kata Ichigo perlahan, menyerah pada gagasan topic pembicaraan setelah itu. Ulquiora tidak banyak bicara seperti Rukia dulu (dan sekarang tentu saja). Dia tidak yakin apakah itu hal yang baik atau buruk, tapi tetap kelihatan sedikit menakutkan. Hanya sedikit terlalu robotic untuk kenyamannya. "Hey, apa kau sudah melihat Rukia?" Dia mengangguk, tapi tidak ada yang lain setelah itu. "Bisa kau beritahu aku di mana dia?" dia menunjuk ke bagian belakang bus, melalui pintu ke kamar tahanan Renji.

Disini gelap, entah dimana jendela yang dulu berada disana,mungkin sudah tertutupi untuk membuat ruangan itu lebih efektif akan fungsi yang diharapkan Renji. Rukia meringkuk di sudut gelap, lutut tertarik ketat di depan dadanya, satu-satunya cahaya yang memantulkan sosok itu berasal dari pintu yang dibuka Ichigo. "Rukia?"Ichigo mengerutkan alisnya, berjongkok didepannya. "Apa yang kau lakukan?"

"Sembunyi," Jawabnya pelan, terdengar tegang.

"Ha? sem—Kau tidak perlu sembunyi," Ichigo tersenyum tidak enak, menyentuh pipi Rukia lembut. Dia bisa merasakan mata Rukia terpejam dengan erat dibawah sentuhannya. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat dengan gadis itu. "Rukia, ada apa?"

Rukia mengangkat kepalanya, sedikit cahaya di tempat itu memantulkan iris mata ungu Rukia yang terlihat kacau. "Aku tidak ingin mati." Katanya, suaranya pecah dengan emosi. "itu kedengaran hampa untuk tidak menjadi apa-apa dan aku tidak menginginkannya."

Ichigo menariknya dengan pelan ke sebuah pelukan. "Dengar, kau tidak akan mati, oke? Tidak ada yang akan mati."

"Tapi jika mereka menemukanku," suaranya teredam oleh bahu Ichigo. "Aku-kita akan mati."

"Kau tidak akan." Ichigo menariknya kembali dari bahunya untuk melihat langsung ke matanya.

"eh?"

"Tidak," dia menggelengkan kepalanya, menempatkan sebuah kecupan lembut di bibirnya. Mata Rukia menatap Ichigo penuh tanda tanya. "Karena itu akan membunuhku." Itu agak memalukan untuk dikatakan dan dia mengalihkan pandangannya, tapi dia tidak menariknya kembali. Itu benar, walaupun ia mengatakannya atau tidak.

Dia bermaksud untuk membuat Rukia merasa lebih baik, tapi sepertinya itu tidak terlalu membantunya seperti yang ia harapkan. "Aku tidak mengerti."

Ichigo menghela napas, jari-jarinya mencari jalan ke rambut raven Rukia. "Apa yang aku katakan adalah, aku membutuhkanmu. Jadi tidak ada yang bisa membawamu pergi," itu membuat senyuman kembali ke wajah Rukia. Bagi Rukia terlihat seperti alasan sungguhan dari pada harapan putus asa yang sebenarnya.

.

.

To be continued

.

.

Author's Tea Time!

Terimakasih sudah mau baca! Jangan lupa meninggalkan Jejak! :D Setengah tahun ilang…. Maapin saya… dandandan GELIIIIIII BANGET nulis chapter ini… kayaknya fail jugaa… -_-

Yap! AI SEWER AI WIL APDET LAST CHAPTER+EPILOG AT NEXT WEEK! (((o(*^v^*)o)))

Kalo saya tidak apdet silahkan bakar kotak PM saya. huahahahah

Terimakasih sudah mau mengikuti cerita ini sampai disini! *peluk satu-satu* (^3^)

Kalau yang mau bertanya apapun, silahkan pm saya atau review. yang untuk anonym silahkan tanya di review, dan akan saya balas di chapter terakhir! Mou ichido, Arigatooou!