Title: Sun Burns Down Ch. 12 – Last Fight

Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, Ulquiora Schiffer, dan akan bertambah seiring waktu.

Warnings: Typos, OOC, OC, Violence, Headaches,

Note: We don't have super powers like they do. Full credits to 'abang' Tite Kubo. The title is comes from Akanishi Jin's America single Sun Burns Down ( youtube watch ? v=QC7HKUcDBuI ) just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Thanks for my forever love BlackWind1001!

.

.

"Bisa kau cepat sedikit?" Teriak Tatsuki dari tempat parkir ke sebuah jendela di apartemen Renji yang terbuka. Tatsuki benar, mereka tidak mungkin duduk di sini sepanjang hari dan menunggu seseorang muncul, tapi Ichigo bisa mengerti apa yang membuat Renji berlama-lama. Renji mungkin sudah menghabiskan lebih dari setengah waktunya di jalan beberapa tahun belakangan ini, tapi apartemen ini selalu menjadi tempat dimana ia bisa kembali dan dianggap rumah. Itu bukan rahasia, dan sejujurnya Ichigo juga merasakan hal yang sama. Satu-satunya alasan dia tidak berada di ruangan apartemennya yang berjarak beberapa lantai dari tempatnya sekarang adalah itu membuang waktu terlalu banyak dan beresiko untuk Rukia.

Mereka sudah berada di dalam bus. Renji akhirnya kembali dengan sebuah tas yang diharapkan Ichigo sebagai tas terakhir yang akan diambilnya. Tatsuki mendekati Renji dan lalu memeluknya, mengatakan sesuatu pada Renji dengan suara yang sama sekali tidak bisa didengar Ichigo, dan Renji mengangguk pada hal itu. Mereka berdua berhenti bergerak disaat yang sama, melirik ke belakang bahu mereka sebelum dengan tergesa-gesa masuk ke dalam bus.

Renji sedang di tengah-tengah mengeluarkan serangkaian kata kasar saat ia menghantam masuk ke dalam kendaraan itu, melemparkan punggungnya ke salah satu kursi dan meraih pegangan untuk duduk di kursi pengemudi. Ichigo bisa melihat alasan dari ketergesa-gesaan itu beberapa detik kemudian, ketika tiga mobil hitam tak dikenal berbelok dari jalan raya menuju tempat parkir itu, salah satunya berhenti untuk menghalangi jalan keluar mereka. Renji mulai berteriak lagi.

"Rukia, kau baik-baik saja?" kata Ichigo, berusaha tetap tenang meski hatinya berdetak dengan begitu kencang seperti ingin meledak.

"Ya." Jawab Rukia pendek, tetap duduk dengan tegang dan melihat ke luar jendela pada lelaki-lelaki berpakaian hitam dengan kata 'Security' berwarna putih yang menyala di punggung mereka.

Renji tiba-tiba berdiri, melambai pada mereka untuk maju ke depan. "Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ichigo ragu-ragu dan melirik pada tas-tas mereka yang mereka taruh sembarangan di kursi penumpang.

"Aku tidak tahu." Respon Renji, dengan suara keras yang tidak dikontrol. "Lari? Tentu kita akan kehilangan barang-barang kita, tapi setidaknya kita tidak ter-" Ia menjatuhkan diri ke lantai pada suara sebuah tembakan, pelurunya mengenai dinding metal.

"Ulquiora," seorang laki-laki berbicara melalui sebuah megaphone, dinilai dari besar suara yang dihasilkan. "Jika Rukia berada di dalam sana, jadilah subjek yang baik dan bawa dia keluar."

Itu membuat Ichigo tegang seketika, menggenggam lengan Rukia dengan erat. Ini bukan salah Ulquiora, sungguh, ketika ia berdiri dan mulai berjalan mendekati mereka, meraih lengan Rukia dan menariknya. Semual hal yang diajarkan dalam hidupnya – selain untuk melemparkan arus-arus listrik ke sekilingnya – adalah untuk mematuhi perintah. Satu-satunya percakapan yang mungkin ia punya sebelum bertemu mereka hanyalah: diberi perintah untuk apa yang harus di lakukan dan tidak untuk mempertanyakannya.

"Tidak!" Rukia berteriak saat Ulquiora mencoba menariknya dengan kekuatan lebih. "Ulquiora, kau tidak akan menyerahkanku kepada mereka, kan?!" dia mengeluh ketika dia lepas dari genggaman Ichigo. "Mereka akan membunuhku!"

Ichigo mengejar Ulquiora dan meninjunya. Tangan Ulquiora dengan cepat menangkap kepalan tangan Ichigo dan memelintirnya sebelum melemparkan Ichigo ke lantai.

Ichigo berusaha bangkit dari lantai bus itu, tidak percaya Ulquiora yang memiliki tubuh lebih kecil darinya bisa menghentikannya dengan tangan kosong. "Ulquiora, kau temanku bukan? Kumohon jangan." Ichigo sejujurnya tidak percaya perkataannya itu akan menghentikan Ulquiora.

Dia berhenti di tengah-tengah bus, menatap ke Ichigo dan Rukia dengan suatu kilatan di matanya. Untuk sesaat, itu kelihatan seperti dia benar-benar akan membantu mereka, menggunakan bakat elektriknya untuk membebaskan mereka semua dari sini tanpa terluka. Tapi itu, tentu saja, terlalu optimis.

Ichigo kehilangan jejak atas apa yang terjadi selanjutnya, begitu banyak teriakan dan orang yang tiba-tiba mengelilingi mereka di dalam bus itu sampai sulit baginya untuk mengetahui apa yang terjadi di kurun waktu yang singkat itu. Mereka pasti sudah menyerah untuk mengambil Rukia dari tangan Ulquiora, membiarkannya memegang kontrol atas Rukia sendirian. Dia bisa mendengar Rukia dan Renji meneriakkan serentet penghinaan yang panjang, seperti soundtrack dari penangkapan mereka. Sepasang tangan mengelilinginya dan menariknya berdiri, membimbingnya dengan paksa keluar dari bus itu di belakang teman-temannya, seseorang mengikuti dibelakangnya dengan sebuah senjata yang sengaja di dorongkan ke bagian belakang kepalanya sesekali.

Tatsuki tidak mencoba melawan, begitu pula dengan Renji, keduanya cukup cerdas untuk tidak melawan orang-orang bersenjata. Ichigo tidak punya insting seperti itu, tampaknya, berteriak-teriak dan mencoba mendorong dua lelaki besar yang memeganginya untuk melepaskannya da mendapatkan imbalan sebuah pukulan di kepala yang cukup keras, cukup untuk membuatnya hampir kehilangan kesadaran selama beberapa waktu sampai mereka selesai memasukkannya ke dalam bagian belakang salah satu mobil.

"Ichigo!" dia mendengar panggilan Rukia, keputusasaanjelas terdengar di dalam satu kata itu. Ichigo berusaha menolehkan kepalanya untuk melihat Rukia, berusaha dengan keras untuk lari dari orang yang kelihatan begitu kuat baginya. Rasanya sakit lebih dari apapun untuk melihat wajah cantik Rukia terlihat begitu takut saat dirinya ditarik menjauh lagi dan berteriak, "Ichigo, tolong aku!" mengetahui tak ada yang bisa ia lakukan. Ichigo mencoba mendorong salah satu dari orang-orang yang mengawalinya untuk menyelamatkan Rukia, tapi seseorang meraih pergelangan tangannya, menariknya kembali dengan keras. Untuk sesaat, ia berpikir tulang lengannya akan lepas dari engselnya.

Dia dipaksa masuk ke dalam mobil di sebelah Renji, masih mengawasi Rukia saat lelaki-lelaki lain menarik Rukia dari tangan Ulquiora. Ulquiora dibimbing menuju tempat lain oleh seorang lelaki berjas lab yang baru saja keluar dari salah satu mobil. Lelaki-lelaki itu mendorongnya masuk dengan kasar. Dan saat itulah ketika neraka seperti terbentuk di sana, atau itu mungkin memang neraka dari awal, setidaknya itu apa yang terlihat baginya ketika semuanya terbakar saat Rukia kehilangan kontrol. Tidak ada satu areapun yang aman, tidak sisi bangunan apartemen mereka atau beberapa mobil di tempat parkir atau sebagian laki-laki yang sekarang jatuh ke tanah, berteriak-teriak saat mereka terbakar hidup-hidup, kulit menghitam dengan mengerikan, sementara mereka menyaksikan dengan kengerian.

Jika Rukia lebih kuat, secara fisik atau mental atau apapun mengenai cara kerja hal ini, seperti Ulquiora, Ichigo tidak akan meragukan kalau dia bisa mengusir semua orang-orang tak dikenal itu pada titik ini. Tapi sesuatu di dalam Rukia tidak terlalu kuat dan Ichigo bisa melihat saat dimana Rukia mencapai limitnya, meringis akan kepalanya yang sakit luar biasa sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, menangis kesakitan. Dia pikir dia bisa mendengar namanya, teredam oleh isakan, dengan suara yang membuat Ichigo hampir mau mati.

Perasaan itu menjadi komplit ketika tiga laki-laki mendekati Rukia dengan waspada, melakukan sesuatu pada Rukia yang tidak dilihatnya ketika seseorang menghalangi pandangannya untuk menutup pintu di depannya. Ketika dia bisa melihatnya lagi, Rukia mulai diangkat dari tanah, tidak bergerak dan mata tertutup, dan diseret ke kendaraan terpisah.

Saat mobil mereka mulai keluar dari area itu, Ichigo tidak bisa merasakan apapun, sebuah sensasi yang begitu familiar dengan saat ketika Renji selesai memperbaikinya dan dia mengingat apa yang dilakukannya pada keluarganya, kegilaan yang serupa. Itu adalah saat terakhir dia bisa melihat Rukia, bukan?

Ya, sekarang dia lebih memilih untuk mati.

.

Pikirannya mungkin sekarang sudah menjadi lumpur, berantakan dan begitu tercampur aduk dengan ketakutan untuk Renji, Tatsuki, dan dirinya sendiri atas jenis hukuman macam apa yang akan diberikan pada mereka. Dia tidak lagi memikirkan Rukia, tidak bukan karena dia tidak peduli, tapi karena Ichigo tahu apa yang akan terjadi padanya, dan memikirkan tentang itu hanya akan membuatnya gila, membuatnya akan memohon-mohon untuk mati juga. Seseorang hanya bisa menyatukan bagian-bagian puzzle berkali-kali sampai lemnya tidak bisa menahannya lagi.

Security melempar mereka ke dalam sebuah ruangan yang kelihatannya digunakan sebagai ruang rapat perusahaan itu, menutup pintu di belakang mereka. Renji mencoba untuk membuka pintu itu kembali, tapi dengan cepat menutup wajahnya. Serangkaian kata-kata keluhan yang keluar dengan volume keras dari mulutnya sudah diduga oleh kedua orang yang lain. Ichigo menjatuhkan dirinya di sebuah kursi, tidak ada hal yang bisa ia lakukan, di sana.

"Renji, berhentilah berteriak," pinta Tatsuki, pelan dan putus asa. Mengejutkan, karena Renji mendengarkannya, suaranya berhenti dan ruangan menjadi tenang mencekam.

Kemudian diam menyelimuti mereka, masih menyakitkan baginya, tapi ia bicara dengan lembut. "Maafkan aku, Ichigo." Kata Renji. Hanya itu yang ia katakan, namun masih begitu berlebihan untuk saat itu. Ichigo mengepalkan tangannya menjadi sebuah tinju, berharap rasa sakit dari kukunya yang menggali telapak tangannya mengalihkan perhatiannya dari kenyataan betapa dirinya ingin despresi. Itu tidak membantu. Sebuah isakan lepas dari tenggorokannya dan dengan cepat ia menutup mulutnya dengan tangannya. Renji duduk di kursi di sebelahnya sebelum ia menyadarinya.

"Ichigo," Renji meremas bahunya menenangkan, simpatik, seperti biasanya dia di sekitar Ichigo. "Ini akan baik-baik saja."

"Tidak, ini tidak akan baik-baik saja." Ichigo membiarkan air mata jatuh darimatanya. "Aku tidak bisa… aku tidak bisa…" dia membenamkan wajahnya di bahu Renji, menempel ke kemejanya. "Aku membutuhkan dia, Renji."

Dia menepuk kepala Ichigo pelan, suara yang lembut dan memahami. "Aku tahu." Ichigo melepaskan dirinya, menangis di lengan Ryo melawan keinginannya. "Kita akan… kita akan melewati semua ini." Renji tidak terlalu terdengar yakin atas perkataannya itu, hanya mengucapkan apa yang ia pikir ingin Ichigo dengar. Dia tidak bisa mengucapkan dengan mantap bahwa Rukia akan selamat, dan Ichigo akan bisa melihatnya, menyentuhnya, menciumnya lagi, dia tahu Ichigo tidak ingin mendengarnya.

Pintu ruangan itu terbuka, tapi Ichigo masih sedikit terlalu kacau untuk mendongak dan melihat siapa itu. Dia benar-benar tidak peduli, ini tidak bagus apapun yang akan terjadi. Tatsuki mengeluarkan sebuah suara yang terdengar aneh, "Aizen-san," dan Ichigo berasumsi siapa itu. Dia tahu nama itu : presiden perusahaan, nama terakhir yang belum dikerjakannya dalam daftar yang ia putuskan untuk menyerah untuk menghabisinya.

"Arisawa, bukan?" lelaki itu bicara, melihat ke arahnya. Dia hanya mengangguk, tetap diam dan dengan jelas melawan dorongan untuk mengambil langkah menjauh. "Ku dengar kau wanita yang cerdas. Sayang sekali." Renji menganggapnya sebagai sesuatu yang lebih personal dari yang seharusnya, dapat dilihat dari ekspresi di wajahnya, tapi dia berhasil untuk mengontrol apapun yang ia rasakan. Untuk saat ini setidaknya. "Dan siapa kau?"

"Aku?" Tanya Renji dengan pahit. "Seonggok sampah yang tak berguna, kupikir."

"Omong kosong,"Aizen hampir tertawa. "Semua orang punya sesuatu yang berguna untuk mereka sendiri. Bahkan jika itu adalah sesuatu yang… menjijikkan." Matanya berubah menjadi lebih gelap ketika mereka melihat Ichigo. "Ah kasus-kasus yang terjadi, dan intinya. Aku mengenali anda." Ichigo bisa merasakan dadanya menegang gugup saat Aizen mengambil selangkah mendekat. "Kaulah yang membunuh Szayel dan Kurotsuchi. Mungkin Kumoi juga. Kan?"

Semua ini hanya menggertak, Ichigo bisa melihat itu. Tapi suaranya masih mengeluarkan sebuah "Aku…" yang pelan sebelum dia diangkat berdiri dari kursinya tanpa peringatan atau waktu untuk bereaksi, Aizen melemparnya dengan keras ke dinding dan menahannya di sana.

"Kau pikir siapa kau, hah?! Sialan!?" katanya dengan gigi terkatup. "Apa yang kau maksud dengan semua itu? Tidak menyukai kebijakan perusahaan kami? Yah, memang. Tak ada orang yang bilang itu sesuai dengan moral yang berlaku, tapi itu apa yang harus kami lakukan. Kau ingin menghukum kami atas pekerjaan yang harus kami laku-" dia membiarkan Ichigo cukup lama untuk berbalik, Renji berdiri di belakangnya dan siap untuk entah kekerasan apa yang akan dialaminya. Aizen meraih lehernya, memaksa kepalanya beradu dengan permukaan meja dengan keras, suara yang dihasilkan itu sendiri terdengar menyakitkan.

Tatsuki berlutut di sampingnya, dengan panik memeriksa luka berdarah di kepalanya dan bertanya apakah ia baik-baik saja. Ichigo hanya sedikit merasa lega ketika ia mendengar sebuah gumaman kesakitan. "Yeah."

"Mereka adalah orang-orangku yang kau bunuh. Menyusahkan saja." Katanya melihat kembali pada Ichigo, yang membeku di tempatnya di hadapan dinding. Aizen menaruh sebuah tangan di lehernya, mencengkeram dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya sesak napas. "Ku harap kau akan mendapat hukuman mati. Itu pasti menyenangkan jika mereka membiarkanku menekan saklar yang akan membunuhmu."

Pintu itu terbuka lagi, kali ini Ulquiora berjalan melalui pintu, dengan ekspresi kosong seperti biasanya. "Bagus, Ulquiora." Katanya, membebaskan Ichigo. "Beri aku waktu sebentar, aku ingin kau awasi pintunya, pastikan sampah-sampah ini-" kejutan yang mengagetkan orang-orang di ruangan itu kelihatan entah datang dari mana, meskipun asalnya jelas. Untuk sesaat Ichigo pikir dirinya sudah mati, menutup matanya dengan erat dan menyambut nasibnya. Tapi tidak, dia masih di sini, dan ketika ia membuka matanya, Aizen tergeletak di lantai, bergerak gerak sedikit.

Ekspresi kaget itu masih berada di wajahnya – wajah Renji dan Tatsuki juga – ketika melihat kembali pada Ulquiora, kilatan kecil masih menari-nari di antara jari-jarinya. Ichigo setengah berharap untuk mendengar dia menginstruksikan untuk mengikutinya jika mereka masih ingin hidup. "Apa yang sebenarnya terjadi?" dari Renji memecah keheningan.

"Kupikir," kata Ulquiora, melihat ke bawah pada tubuh Aizen, "Aku ingin membantu." Adalah apa yang ia katakan sebelum keluar melewati pintu. Tatsuki dengan cepat mengecek Aizen untuk nadinya – belum mati. Ichigo sudah pernah mendengar bahwa dengan latihan yang cukup kemungkinan untuk mengontrol tegangan elektro yang bisa dilakukan maniacs dengan kemampuan mereka, ada, tapi pikiran mereka terlalu kacau sehingga tidak ada satupun yang bisa membuktikan teori itu. Di luar laboratorium, tentu saja.

Mereka mengikuti Ulquiora ke koridor, Renji memegangi kepalanya dan berjalan dengan bantuan Tatsuki hanya untuk menjaga keseimbangannya. "Tunggu." Katanya, membuat Ulquiora menoleh ke belakang. "Apa kau tahu dimana kantor Aizen?" Ulquiora mengangguk, menunjuk ke koridor di arah yang berlawanan. "Aku harus pergi ke sana." Arah perjalanan mereka kemudian berubah, Ulquiora memimpin mereka menyusuri koridor ke sebuah kantor yang besar di sudut koridor. Tatsuki membiarkan Renji berdiri dengan kedua kakinya sendiri untuk beberapa saat, agar ia bisa berjalan mendekati komputer-komputer di situ.

"Apa yang kau lakukan?" taya Renji, memperhatikannya sebentar, sebelum ia mengambil sehelai kain di atas meja yang menempel di dinding sebelah kiri dan menempelkannnya ke kepalanya.

"Mereka menyimpan semuanya di server perusahaan saat ini," jelasnya tanpa mendongak dari layar. "Aku sedang mengakhiri semua itu di sini."

Itu hal yang bagus, tapi Ichigo punya apa yang dia anggap sebagai kebutuhan yang lebih mendesak saat itu. "Ulquiora," katanya pelan, tapi masih berhasil untuk mendapatkan perhatian Ulquiora. "Apa kau tahu apapun tentang Rukia? Seperti dimana dia sekarang?"

"Dia pernah di sini," ada sedikit emosi dalam suaranya, berbeda dari sebelumnya. "Mereka meninggalkan tempat ini dengan Rukia beberapa menit yang lalu. Itu saja yang aku tahu."

"Bisakah kita mendapatkannya kembali?" itu satu-satunya harapan kecil yang dimilikinya sekarang, samar, tapi harapan itu bisa tumbuh dengan kata-kata yang tepat.

"Ichigo," dia menoleh pada suara Renji. "Aku berjanji kita akan mendapatkannya kembali. Kita… adalah keluarganya, pada akhirnya." Ichigo tersenyum, mengucapkan 'terima kasih' dalam bisu, dan berharap dalam hatinya.

Tatsuki mengetik seperti sedang marah di komputer, Renji melihat ke arah Ulquiora, menatapnya beberapa saat dengan ekspresi bertanya-tanya sebelum bertanya. "Kenapa kau membantu kami?"

Ulquiora balas menatap, dengan jelas tidak mempunyai alasan untuk menjawab. "Aku… tidak tahu." Katanya terus terang. "Rasanya aneh… memikirkan sesuatu yang akan terjadi pada kalian semua." Ichigo akan tersenyum jika dia tidak sedang khawatir, karena dia seakan bisa mengerti apa yang coba dijelaskan oleh Ulquiora tapi tidak dipahami oleh Ulquioranya sendiri. Dia menyukai mereka, mungkin itu lebih karena mereka adalah orang-orang yang benar-benar berbicara kepadanya, tapi Rukia juga tidak berbeda. Keterkejutan akan melihat segala sesuatu yang terlewati pada masa pertumbuhannya, membuat retak baju besi yang orang-orang itu pakaikan padanya.

Tatsuki mengatakan sesuatu dengan pelan, dengan cepat menyingkir dari computer itu dan meraih tangan Renji untuk menariknya ke arah pintu. Ichigo mengikuti di belakang dengan Uquiora yang menampilkan ekspresi bingung. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya, mencoba untuk megejar ketertinggalan dengan teman-temannya menyusuri koridor.

"Hanya membuat beberapa file menghilang dari eksistensi." Tatsuki tersenyum dari balik bahunya. "Kau bisa tenang sekarang. Mereka tidak lagi memiliki catatan atau rekaman tentang kau atau aku, atau tentang keberadaan Renji dan Ichigo. Dan itu akan menjadi hampir tidak mungkin untuk melacak Rukia atau kau. Kalian bisa membaur dengan baik." Tapi dirinya sendiri belum bisa tenang sampai Rukia kembali ke mereka, tempat dimana ia seharusnya berada.

"Jadi aku boleh mengira kau memutuskan Ulquiora akan ikut dengan kita?" Renji hampir tertawa, dia mungkin akan melakukannya jika waktunya pantas. Tatsuki mengangguk dan mereka tidak punya pilihan selain mengikutinya. Ulquiora telah menyelamatkan nyawa mereka, itu mungkin agak terlalu kejam untuk meninggalkannya. Ichigo tidak peduli akan kedatangannya, asalkan keluarga kecilnya akan menjadi utuh kembali.

.

Mereka mencuri sebuah mobil dari garasi di lantai dasar bangunan itu, sesuatu yang tidak disetujui Tatsuki, tapi dia sudah mengerti bahwa Renji melakukan itu karena itu pilihan tercepat mereka. Dia tidak berberdebat sama sekali, hanya masuk ke kursi penumpang disebelah Renji, Ulquiora dan Ichigo duduk di belakang.

"Bagaimana kau bisa tahu dimana mereka membawanya?" kata Ichigo, mencondongkan tubuhnya terlalu kedepan dari kursinya.

"Mereka suka untuk menangani hal-hal dengan tenang," jawab Tatsuki, kelihatan tegang dengan tidak nyaman karena Renji mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi. "Jika mereka akan membunuhnya, mereka akan membawanya kembali ke lab dan menanganinya seperti apa yang biasa mereka lakukan." Dia melihat ke kaca spion dan menambahkan, "Kecuali jika objek itu berada di luar lab, mereka akan mengirim electro-maniac untuk menangani hal itu untuk mereka. Semua orang – Renji! Hati-hati!" Tukasnya saat Renji hampir menabrak sebuah truk yang diparkir di pinggir jalan. "Semua orang sudah terlanjur membenci mereka dan kemampuan destruktif mereka." Renji menemukan pernyataan barusan sedikit ironis, mengingat kecerobohannya sekarang. "Jangan tersinggung, Ulquiora." Dari ekspresi di wajahnya, Ulquiora tidak tahu mengapa ia harus tersinggung.

Hanya ada satu jalan untuk menuju lab itu ketika kau sampai di jalur utama kota, dan Renji berharap kendaraan yang mengangkut Rukia sudah sampai di sana duluan, bukan karena dia ingin kehilangan Rukia, tapi dia tidak mau mengejar sesuatu yang berada di belakang mereka. Membuat mereka harus menunggu dan resiko tertangkap tentu saja besar. Tapi kendaraan yang mengangkut Rukia sudah melaju lebih awal, mereka pasti masih mengejar.

Dia tidak pernah mengemudi seperti ini normalnya, tapi karena dorongan adrenalin, untuk terus-menerus berpindah jalur, menyelip dari satu mobil ke mobil yang lain sementara Tatsuki sesekali berteriak padanya untuk berhati-hati atau apakah dirinya mencoba membuat mereka terbunuh dan Ichigo memperhatikan setiap truk ukuran sedang atau mobil yang ia lihat melalui kaca depan. Lalu lintas semakin padat karena jam sibuk semakin mendekat seakan membuatnya baik sebagai berkat dan kutukan.

Mereka sedang berada di tengah-tengah dari apa yang hanya bisa dihambarkan sebagai kemacetan ketika Tatsuki menepuk panik lengan Renji, menunjuk ke kejauhan di depan mereka. Itu kelihatan seperti ambulans atau sebuah mobil lapis baja, berwarna biru dengan nama yang dicat di samping. "Jika mereka membawa maniac yang berpotensi bahaya, mereka pasti memakai mobil seperti itu."

Renji menaikkan kecepatan untuk mendekat ke truk ukuran sedang itu, memberi klakson pada setiap warga senior yang bergerak lambat menghalangi jalannya, dan hampir dengan kasar menggabung dengan barisan mobil di belakangnya, tangan Ichigo menepuk-nepuk dengan gugup bagian belakang headrestnya.

Renji melakukan hal pertama yang ada di pikirannya: menekan pedal gas ke lantai mobil dan menyerudukkan mobil mereka ke bagian belakang truk itu. Tatsuki mengumpat pada dampaknya, menyeimbangkan dirinya dengan sebuah tangan menempel di dashboard. "Apa kau gila?" tanyanya, matanya seperti seekor rusa yang disorot lampu.

"Rukia ada di dalam sana!" Ichigo mengenggam bahunya dan mencoba menggoyangkannya. "Kau tidak bisa-"

"Apa kau punya rencana yang lebih baik?" Ia tidak punya, pundak jatuh kembali ke kursi, satu tangan masih mencengkeram bagian belakang kemeja Renji. "Aku tahu apa yang aku lakukan." Katanya menenangkan sebelum menggertakkan giginya dan mendorong pedal turun lagi.

.

Sentakan yang kedua membangunkannya, di dalam sebuah peti logam tak familiar dengan beberapa orang yang panic di sekelilingnya. Dia ingat saat dirinya dibawa pergi menjauh dari Ichigo dan yang lain, tapi hanya itu yang terakhir diingatnya. Dia pasti dibuat tak sadarkan diri, karena apapun ini, dia tidak tahu atau ingat bisa berada di sini dan di tidurkan dengan tidak nyaman di atas permukaan keras.

Insting pertama Rukia adalah untuk bangun dari kabur dari situ – walaupun ide bangun tiba-tiba itu ide yang sangat sangatlah buruk – tapi dia tidak bisa. Pergerakan Kedua lengannya terhenti oleh tali tebal yang diikatkan melintasi perutnya, simpul yang sejenis berada lebih bawah di kakinya. Dia mengeluarkan desahan kecil, berjuang melepaskan diri dan salah satu dari lelaki-lelaki itu melihatnya.

"Sial, dia terjaga," kata lelaki itu kepada temannya yang lain yang kemudian merespon dengan. "Yah, kita bius lagi saja dia." Ada banyak mesin di dinding, salah satunya terhubung dengan lengannya di bagian siku yang lelaki pertama coba untuk menekan tombol menyala, sebuah cairan putih mengalir melalui tabung tipis.

Saat itulah ketika Rukia benar-benar mulai panik, dan jika pikirannya cukup jelas untuk mengingat, cairan itu sangat-sangat tidak baik untuk seseorang sepertinya. Dia mencoba untuk tenang, mencoba untuk fokus pada sesuatu, apapun, sebelum dia membumi hanguskan ruangan ini. Tapi bahkan ketika dia mencoba memikirkan sesuatu yang tenang dan damai, seperti waktu-waktu saat bersama Ichigo beberapa bulan terakhir, hanya membuatnya mengingat apa yang telah terjadi ketika mereka bertiga diseret pergi, apa yang menantinya saat kembali ke lab, dan itulah yang akhirnya menghentikan pikirannya.

Dia mendengar teriakan seseorang, seorang lelaki, tapi dengan ketakutan sehingga terdengar hampir feminim, dan panas terasa di kulitnya tak lama kemudian. Rukia mencoba menjulurkan lehernya untuk melihat apa yang di atas kepalanya, api menghanguskan tangan si pengemudi dan merayap ke dashboard dan kursi pengemudi – dan akhirnya dia sadar dirinya berada di dalam sebuah mobil. Mobil atau truk atau apapun itu, oleng dengan cukup tajam untuk membuat lelaki-lelaki itu tumbang dari pijakan berdiri mereka, kepalanya pusing, dan kumpulan jeritan menyatu jadi satu akan perubahan tiba-tiba gravitasi.

Butuh sedikit waktu bagi Rukia untuk sadar dirinya terbaring ke samping, permukaan yang tadinya dinding metal sekarang adalah lantai, salah satu dari dua lelaki itu terjepit, tidak sadarkan diri, sedangkan yang lain tidak ada di jangkauan pandangannya. Panas, pikirnya pada dirinya sendiri, mengingat api yang ia ciptakan, dengan perlahan-lahan mengkonsumsi seluruh truk. Dia mulai berjuang lagi, kali ini sedikit sukses karena ia berhasil membebaskan salah satu kakinya dari simpul. Dia pikir dia mendengar sebuah suara bang keras di pintu logam di belakang dan suara orang yang mengikutinya, tapi ia tidak bisa memastikannya. Itu bukan hal yang terpenting saat ini, tidak ketika dirinya dengan mudah dapat terbakar hidup-hidup dengan apinya sendiri. Fakta yang ironis.

Panasnya semakin menjadi-jadi, agak terlalu berlebihan untuk ditangani, tapi dia tetap mencoba, menghiraukan keringat yang mulai membasahi pakaian Rukia dalam keputusasaannya. Kakinya yang satu lagi terbebas dan akhirnya ada sedikit harapan.

Api menjilat pinggiran peti logam, Rukia bisa merasakan panas yang mulai menghanguskan lengannya, rasa sakit menyengat yang membuat air matanya jatuh saat ia berjuang melawan simpul di atas lengan dan perutnya. Dia merasa seperti akan jatuh pingsan, asap mulai memenuhi area itu, memasuki paru-parunya, membuat bernapas begitu menyakitkan sampai ia nyaris tidak sadar dirinya telah bebas.

Rukia tersandung ke bagian belakang truk, pegangan di pintu terasa panas di bawah telapak tangannya. Suara benturan itu berlanjut, begitu pula suara orangnya, lebih keras di posisi ini, tapi asapnya mempengaruhi pikirannya mencegahnya dari berpikir jelas, tepi-tepi penglihatannya mulai kabur.

Rasanya sakit, Rukia menggenggam pegangan itu, memutarnya dan bersandar ke pintu sehingga terbuka. Rukia mengambil satu langkah canggung keluar menuju jalan, kakinya menyerah tak lama kemudian, tapi ia tidak jatuh ke tanah, melainkan jatuh ke tangan yang nyaman dan familiar. "Rukia? Rukia, katakan sesuatu. Kumohon."

Dia tersenyum pada dirinya sendiri, wajah setengah terbenam di bahu Ichigo. "Ichigo," katanya pelan, jari-jari mencengkeram lemah kemeja yang dipakai Ichigo. Sepasang tangan melingkar di tubuhnya tanpa kata apapun. Rukia memejamkan matanya, merasa aman dan lelah luar biasa. "Aku capek, Ichigo." Ada tawa lembut di telinganya dan Rukia bisa merasakan Ichigo mengangkatnya dari tanah.

Seorang pejalan kaki yang peduli bertanya apakah ia baik-baik saja, Ichigo dengan cepat menjawab, "Aku mengenalnya. Kami baik-baik saja." Rukia bisa membayangkan ekspresi Ichigo saat itu.

Dia menggendong Rukia ke dalam sebuah mobil yang tidak dikenalinya dengan bagian depan yang rusak. Agak sedikit sulit baginya, tapi Ichigo berhasil menggendongnnya masuk ke kursi belakang di sebelah Ulquiora sebelum Renji menghidupkan mobil, ada bagian logam yang terlepas di suatu tempat dan terseret di jalanan aspal. Suara yang ditimbukan cukup keras, namun tidak terlalu mengganggu Rukia untuk tidur bersandar bahu Ichigo.

"Rukia," suara Tatsuki membuatnya membuka kelopak matanya yang berat. "Biarkan aku mengecek lenganmu." Katanya, menunjuk lengan kirinya yang terbakar api. Dia mengulurkannya, mengawasi Tatsuki memeriksa luka bakarnya. Sepertinya itu menyakitkan daripada yang seharusnya, yang kemudian Rukia anggap sebagai hal yang baik baginya dalam hal tidak harus berurusan dengan rasa sakitnya. Hal ini mengingatkannya ke masa-masa dimana ia masih muda, pada ia masih beberapa kali bertemu Tatsuki, waktu-waktu ketika dia membakar dirinya sendiri karena kurang pengalaman dan membutuhkan seeorang untuk menangani luka bakarnya. Tatsuki selalu dapat mengatasinya dengan baik.

"Kau berhasil kabur," kata Rukia menatap Ichigo.

"Yah, begitulah." Kata Ichigo pelan. "Ulquiora sedikit membantu." Katanya dengan nada ringan, sedikit bercanda.

Rukia melihat ke sebelah kirinya, pada Ulquiora yang duduk di sana dengan menunduk dan sebuah senyum kecil di wajahnya. Sangat kecil, tapi dia yakin ada di sana. "Aku benar." Kata Rukia, Ichigo kelihatan setuju dengan itu dan tersenyum. Seakan sedang mengatakan. 'Ya, kau benar.'

.

"Berhentilah banyak bergerak." Gerutu Tatsuki saat dia mencoba menyelesaikan pekerjaannya membalut lengan Rukia. Dia berusaha tetap diam, memberikan kedipan minta maaf. "Jangan melihatku seperti itu," katanya setengah mengeluh, setengah tertawa. Bus itu sesekali melewati lubang, membuat Tatsuki mengumpat pelan ketika dia mengacaukan perbannya lagi.

Dia menepuk pergelangan tangan Rukia ketika dia selesai, bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke bagian depan bus, duduk di tempat pertama di belakang Renji yang duduk di kursi pengemudi dan dengan lembut memijat pundaknya. Dari ekspresinya yang terlihat di kaca spion, Renji menghargainya.

Di sisi lain bus, Ulquiora berbaring di atas beberapa kursi, satu lengan menggantung dan jari-jarinya menyentuh lantai metal saat ia tidur nyenyak. "Ulquiora bisa tinggal bersama kita." Kata Rukia bersender pada dinding metal di hadapan jendela yang terbuka. "Apa itu benar Ichigo?"

Ichigo yang berada di kursi seberang mengangguk, matanya bertemu mata Rukia dan menggaruk kepalanya. "Yah, kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Bisa kau bayangkan jika kami bertiga pergi tanpa kau?"

Rukia mengangkat kepalanya, senyum kecil berada di wajahnya. "Kau tak akan melakukan itu padaku." Mengerti dengan jelas maksud Ichigo.

"Memang," katanya cepat, dengan cepat berpindah ke tempat Rukia. "Kenapa pula aku harus melakukannya?" dia duduk di sebelah Rukia dan mengecup pipinya. Rukia tidak bisa memikirkan satupun alasan bila Ichigo benar-benar melakukannya. Tapi ia tertawa pelan dan bersandar di bahu Ichigo.

.

.

Author's Tea Time!

Epilog tidak bisa di post bersamaan chapter ini gomennasai~ karena ini lebih panjang dari perkiraan saya. howahowahowa tapi sedang dalam proses. Akan saya usahakan secepatnya.

Ga percaya. Ini fict akan selesai… oh my god oh my god… pertama kalinya fict berchapter saya yang selesai XDDD *tebar bunga*

Setelah sakit kepala bekepanjangan saya, ide-ide yang merengek dimuntahkan saat saya lagi sibuk-sibuknya, ocehan-ocehan gaje bersama si anginhitamsecengsatu dan musimdinginsia, dan kecenderungan lemon di chapter 11 (LOL) SAYA SURVIVE WAHAHA

Dan saya dapat banyak banget perhatian(AND LOVE!) dari para reader, makasih, makasih bangeet!

Jangan lupa meninggalkan jejak! :D