Title: Sun Burns Down – Epilogue
Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan Ulquiora Schiffer.
Warnings: Typos, OOC
Note: We don't have super powers like they do. Full credits to 'abang' Tite Kubo. The title is comes from Akanishi Jin's America single Sun Burns Down ( youtube watch? v=QC7HKUcDBuI ) just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Ini tidak dibeta gomennasai DX
.
.
Ada bentangan luas dari padang tandus dalam perjalanan mereka, jalan perlahan-lahan menjadi lebih dan lebih jarang semakin jarak mereka dari kota asal meningkat. Ulquiora menghabiskan sebagian besar waktunya tidur, karena pada dasarnya selain Renji yang berada di kursi pengemudi tidak memiliki apapun untuk dikerjakan dan yang lain tidak ingin mengambil resiko ketika mengajari Rukia dan Ulquira (terutama Ulquiora) sesuatu. Satu-satunya pemberhentian mereka adalah di sebuah pemberhentian truk angkut untuk makan malam bersama orang-orang berperangai buruk yang bisa kau temui di jalan raya saat malam. Walaupun sebenarnya bersama mereka jauh lebih baik dari pada bersama maniacs gila atau orang-orang berpangkat dari suatu perusahaan. Ulquiora melahap sebuah hamburger seperti dia belum pernah makan sebelumnya, membuat Ichigo sadar kalau Rukia sudah berperilaku lebih mendekati orang normal. Tapi itu masih lucu baginya. Dia tertawa bersama Renji dan Tatsuki, sedangkan Rukia memberikan senyuman kecil yang kemudian semua itu dibalas oleh tatapan datar tak mengertinya Ulquiora.
Malam sudah cukup larut ketika bus tua itu berbelok memasuki sebuah kota kecil, keadaannya gelap dengan sedikit pencahayaan meremang di sana sini cukup untuk membuat mereka tahu keberadaan bangunan di situ, tapi detail rincinya tak terlihat.
Bus itu melaju tidak terlalu jauh dari pinggir kota kecil itu, sebelum Ichigo mengambil alih tugas mengemudi untuk jarak terakhir – membelokkan bus di luar sebuah rumah berukuran sedang yang gelap. Renji yang pertama melompat keluar, mengecek banyak tempat dan melakukan hal lain yang tidak bisa dilihat di kegelapan malam. Tidak sampai sebuah cahaya menyala di dalam dan dia berlari kembali ke busnya dengan ekspresi positif di wajahnya.
"Mereka meninggalkan kuncinya di salah satu pot tanaman." Katanya sambil berjalan ke bagian belakang bus dimana mereka menyimpan tas-tas mereka. "Jadi aku tak perlu membobol pintu." Renji tersenyum, meminggul tas di pundaknya sebelum berhenti untuk membangunkan Ulquiora.
Ichigo melakukan hal yang sama, meraih beberapa tas dari tumpukan barang-barangnya dan Rukia menggengam tas satu-satunya. Dia membimbing Rukia turun dari bus, sambil merangkul bahunya saat mereka berjalan menuju pintu depan yang terbuka. "Aku belum pernah masuk ke rumah sebelumnya." Kata Rukia, dengan nada seperti itu sesuatu yang baru dan menarik. Ichigo tertawa akan kepolosan di pernyataan itu.
"Dimana kami tidur?" Tanya Ichigo, pada Renji yang menjatuhkan beberapa bawaan di lantai ruang tamu.
"Terserah kau, aku tidak peduli." Jawab Renji pada awalnya, tapi dengan cepat menambahakan, "Tapi aku akan ambil kamar tidur utama." Ichigo mengangguk mengerti, matanya menyusuri koridor mengecek kondisi bangunan itu.
Terkadang dia bisa jadi sangat pemilih, dan untuk memutuskan dimana dia akan tidur selama beberapa waktu yang tidak bisa ditentukan, membuat hasrat pemilih itu bangkit seketika. Setelah beberapa kali bolak-balik di koridor dan mengecek satu kamar dengan yang lainnya, dia memutuskan untuk memilih sebuah kamar dengan tembok bercat cream muda dengan ruang yang cukup luas bahkan dengan furniture di dalamnya. Di ujung koridor – di depan kamar yang diduganya sebagai kamar tidur utama dari Tatsuki yang bersandar di pintunya – dia bisa mendengar Renji berbicara, memberi tahu Tatsuki bahwa ia bisa mengambil kamar yang digunakannya sewaktu remaja. Balasan dari Tatsuki adalah, "Padahal aku berpikir untuk tidur di kamar ini." Membuat Ichigo tersenyum pada dirinya sendiri.
Rukia melangkah di depannya, menutupi apapun yang terjadi di ujung koridor. "Ichigo, dimana aku harus tidur?"
"Kenapa kau bertanya padaku?" dia tertawa, mengelus kepala Rukia dan mengecup keningnya.
"Karena," kata Rukia, dengan menghalihkan matanya, "Itu tergantung dari kau yang mau sekamar denganku atau tidak."
Ichigo terdiam. "Bagaimana kalau begini," Ichigo tersenyum simpul, merangkul Rukia dan menariknya mendekat sampai pinggul mereka bersentuhan. "Kau bisa ambil kamar di sebelah kamarku dan kalau kau mau menyelinap dan mengunjungiku, kita bisa punya sedikit waktu rahasia."
Jelas terlihat, Rukia tidak benar-benar mengerti. "Kenapa aku harus melakukan itu?"
Ichigo memberikan gesture sedang berpikir sebelum menempelkan dahinya di dahi Rukia. "Karena aku belum melakukan banyak hal denganmu," pipinya mulai sedikit memerah, tapi ini hanya di depan Rukia, jadi ia tidak terlalu memikirkannya.
"Ah," Rukia tersenyum. "Begitu," dia mengadah agar bisa mencium Ichigo selama beberapa saat sebelum dia mundur, berjalan ke pintu berikutnya yang berada di koridor yang sama. "Yang ini?" tunjuknya pada kamar itu. Bertanya akan persetujuan Ichigo, yang kemudian mendapat anggukan darinya. Rukia memberikan senyuman kecil dan lalu menghilang ke dalam.
Dia masuk kembali ke kamarnya sendiri, menjatuhkan badan di tempat tidur dan menatap langit-langit bercat putih. Merasa benar-benar damai setelah sekian lama.
.
Peralatan rumah itu cukup lengkap – orangtua Renji pasti tidak berpikir mereka akan membutuhkan semua itu untuk dibawa entah kemana mereka pergi – tapi mereka masih memerlukan beberapa keperluan dasar. Keesokan harinya setelah mereka sampai di sini, mereka melakukan jan ken pon untuk menentukan siapa yang harus harus membeli semua bahan makanan dan keperluan dasar itu, dan Ichigolah yang terpilih. Ia tidak bertanya, kenapa Renji tidak sekalian membelinya ketika membelikan mereka sarapan pagi ini. Lagi pula jika dia bertanya, Renji pasti bisa memenangkan argumen itu.
Tapi dia berhasil mengajak Ulquiora ikut serta, membujuknya tidaklah sulit. Di lab itu, dia selalu diajari untuk mematuhi segala hal tanpa banyak bertanya. Mungkin akan tidak mudah baginya untuk menuruti keinginannya sendiri, tapi dia sudah pernah melakukannya sekali, jadi mereka yakin Ulquiora akan baik-baik saja di masa depan nanti. Tapi untuk sekarang, Ichigo bersyukur dia ikut, kalau tidak dia akan membawa pulang semua kantung-kantung belanjaan itu sendirian.
"Apa menurutmu tentang tempat ini?" Tanya Ichigo di perjalanan pulang. Dia dan Ulquiora belum pernah benar-benar bicara satu sama lain, saat itu kelihatan seperti kesempatan yang bagus bagi Ichigo untuk memulainya.
"Di sini… tidak buruk." Jawabnya simpel. Ichigo bisa melihat di ekspresi wajahnya, Ulquiora sebenarnya tidak tahu harus mengatakan apa. Mungkin belum ada orang yang menanyakan pendapatnya sebelumnya.
"Kau tahu," kata Ichigo, memberikan Ulquiora sebuah senyuman, "Kalau kau menginginkan sesuatu, atau ingin melakukan sesuatu, kau bisa beri tahu kami." Ulquiora hanya menatapnya. "kita butuh sesuatu untuk dikerjakan sekarang, karena kita sudah tidak berada di kota besar yang banyak permainannya." Katanya setengah bercanda. Ulquiora mengangguk, Ichigo berharap dengan anggukan itu, Ulquiora benar-benar mengerti apa maksudnya.
Kota ini sangatlah nyaman, lampu jalan menerangi sekitarnya dengan cahaya yang lembut, tidak ada teriakan-teriakan, ataupun bunyi konstan sirene ambulans, pemadam, atau entahlah sirene apapun itu. Lain kali dia akan mengajak Rukia berjalan-jalan menikmati suasana malam. Rukia akan menyukainya, pikirnya.
Tvnya sedang hidup, dengan suara yang cukup besar ketika mereka sampai di rumah. Hanya ada Renji dan Tatsuki di ruang tengah itu, bersandar satu sama lain di atas sofa dengan Renji yang memainkan ujung rambut Tatsuki. Mereka hampir kelihatannya tidak sadar dengan pintu yang terbuka, Renji memberinya tatapan malas dan bergumam, "Hey, Ichigo."
Dia dan Ulquiora menaruh bawaan mereka di dapur, menatanya sedemikian rupa di dalam lemari es dan rak. Ichigo menyerahkan sisanya pada lelaki berkulit pucat itu, sebelum berjalan keluar untuk mencari Rukia. Rukia tidak di ruang tamu dan ruang tengah, dia tahu itu. Tempat lain yang terpikirkan adalah kamar Rukia, tapi yang ada di sana hanyalah beberapa benda pribadinya dan sebuah kasur dengan seprai bermotif manis nan nyaman, yang pasti akan Ichigo 'coba' nanti. "Renji," panggilnya dari koridor saat berjalan kembali ke ruang tengah. "Dimana Rukia?" dia tahu seharusnya dia tidak perlu khawatir, tapi entah mengapa dia tidak bisa menepiskan ke khawatiran itu. Renji menoleh ke arahnya, memberikan gestur ke pintu belakang yang belum pernah di buka Ichigo, sebelum kembali ke acara Tvnya.
Ichigo mendorong pintu itu terbuka. Rukia berdiri di sana, bersender di pagar yang memisahkan halaman mereka dengan halaman tetangga. Dia berjalan keluar dengan pelan, menyenderkan punggungnya di pagar di sebelah Rukia dan melihat ke arah gadis itu. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Mereka punya beberapa kelinci." Rukia tersenyum, pipinya bersemu merah, menunjuk ke arah yang sebelumnya. "Mereka manis sekali."
"Oh," kata Ichigo, walapun sebenarnya dia lega pagar itu memisahkan halaman mereka, karena Rukia kelihatan seperti siap melompat ke sana kapan saja. "Tentu saja."
"Bisa kita memelihara satu?" Tanya Rukia dengan mata berharap. Seperti dia sudah tahu efek yang bisa di timbulkan dari keluakuan seperti itu, ini berbahaya.
Ichigo ingin mengatakan tidak, tapi kata-katanya berubah menjadi. "Mungkin. Kita harus Tanya Renji dulu." Rukia tersenyum, melihat kembali ke kelinci-kelinci itu yang melompat-lompat pendek memakani wortel mereka.
"Ichigo, apa kau bahagia?" Kata-kata itu keluar entah dari mana dan Ichigo mengangkat kepalaya untuk melihat ke Rukia, yang perhatiannya masih di halaman sebelah.
"Apa?"
Sebuah senyum kecil tumbuh di wajah Rukia. "Aku ingin Ichigo bahagia." Itu kedengaran begitu simpel ketika Rukia mengucapkannya. Ia tidak tahu mengapa itu membuatnya merasa ingin menangis, tapi Ichigo tidak memikirkannya lebih jauh. Dia bergerak ke belakang Rukia, memeluknya dengan erat, dan mendengarkan tawa pelan Rukia saat Rukia meraih wajahnya dengan lengannya yang ramping.
Mungkin tidak ada yang istimewa di sini, tapi baginya ada sesuatu yang indah mengenai hal itu. Karena disini hanya ada dirinya dan Rukia dan keheningan yang nyaman dari dunia yang masih menjanjikan
.
.
Author's Tea Time!
Ini dia epilognya. Enjoy it~ Dengan ini Sun Burns Down bener-bener selesai. Pendek dan singkat seperti epilog biasanya. Wahaha
Sampai jumpa di lain waktu kalau saya ada ide bagus + waktu kosong~
Terimakasih sudah mau baca! Jangan lupa meninggalkan Jejak! :D
