Makasih untuk semua reviewnya, bener-bener g nyangka, ada yang mau review fict pertamaku.

Sekali lagi makasih (bungkuk-bungkuk)

Semoga suka dengan chapter kali ini. Maaf kalo ceritanya malah lebih ke mystery dan belum ada gregetnya.

Happy reading n enjoy it!

Sinar mentari mulai menampakkan keperkasaannya, menyorotkan cahayanya ke seluruh sudut kota yang dilewatinya, bahkan melewati pori-pori kain gorden kamar Si bungsu Uchiha, menunjukkan bahwa hari ini dialah yang berkuasa, dengan membangunkan sang pemilik rumah. Perlahan kelopak matanya terbuka, menampakkan kilauan manik hitamnya yang beberapa jam yang lalu tersembunyi dengan sempurna. Hingga akhirnya manik hitamnya terbuka sempurna, lama dia menatap langit-langit rumahnya, mengingat-ingat kejadian tadi malam dan rencana bunuh dirinya.

Terduduk dan tertunduk, onyxnya yang kelam, tersirat kesedihan yang mendalam, lama terdiam akhirnya dia melangkahkan kakinya, melakukan rutinitasnya yang bisa dibilang monoton. Setelah selesai, dia pun hendak pergi menemui agencynya, namun betapa terkejutnya dia, pintu rumahnya dalam keadaan terbuka, serta merta ingatannya pada si gadis Hyuuga itu kembali. Dicarinya gadis itu diseluruh ruangan dalam rumahnya, tapi tak ada gadis itu. Mungkin gadis itu sudah pergi tanpa menutup pintu lebih dulu. Begitulah menurut sasuke.

Dilangkahkan kakinya keluar rumah dan betapa terkejutnya dia melihat gadis yang dicarinya meringkuk di kursi dan masih tertidur, sepertinya. Dengan hati-hati, Sasuke membangunkan Hinata. Bagaimana bisa dia lupa kalau gadis ini bersamanya malam itu, dan apa yang dia lakukan didepan rumahnya, kenapa tidak masuk saja didlam rumah. Ya, pertanyaan itu terus menerus bergema dalam otak jeniusnya.

" Hyuuga, bangun" kata sasuke seraya mengoyangkan tubuh Hinata. Tapi, tak ada jawaban." Hei, bangun"

"emm,,," gumam Hinata, dengan tetap terpejam.

" Hei, jangan cuman 'emm', ayo!bangun" kata sasuke sedikit kasar menggoyangkan tubuh Hinata.

Hinata pun terbangun, meskipun dengan malas.

"Ada apa?Kenapa membangunkanku?aku masih ngantuk" kata Hinata sambil duduk dan masih terpejam.

" Kenapa ada disini?kenapa tadi malam kau tidak masuk rumah?" Tanya sasuke

" Apa boleh?"Tanya Hinata

" Tentu saja"jawab sasuke" dasar bodoh"

Mendengar apa yang Sasuke katakan, Hinata langsung masuk kedalam rumah, merebahkan tubuhnya di sofa empuk Sasuke, kembali meringkuk. Entah kenapa, kepalanya terasa berat dan dingin yang dia rasakan saat ini, sangat menusuk kulitnya. Tanpa dia sadari, nafasnya tersengal-sengal, serasa berlari mengelilingi lapangan 100x.

" Hei, kenapa tidur lagi?kau tidak mau mencari rumahmu?" kata sasuke

"Bisakah kau diam dan tidak berisik?Suaramu seperti lalat yang sibuk berputar-putar di aku tidur sebentar saja" kata Hinata dengan nafas tersengal-sengal.

"Apa kau bilang, aku seperti lalat?jangan se enaknya bicara ya, banyak wanita yang tergila-gila padaku, dan ingin sekali menjadi pasanganku" kata Sasuke tak terima disamakan dengan lalat.

Hinata hanya diam dan tak membalas, ditutupnya telinganya yang mendengar ocehan Sasuke yang membuatnya kepalanya semakin berputar-berputar. Sungguh, saat ini suara Sasuke sangat mengganggu pendengaran Hinata.

Sasuke yang melihat ke abnormalan Hinata, berjalan mendekat, menempelkan punggung tangannya di dahi Hinata.

"Panas sekali. Demam" kata sasuke lirih. Dia bergegas menuju dapur, dan membawa alat kompres untuk Hinata. Ada perasaan menyesal dalam hatinya, merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia seceroboh dan sebodoh ini dalam waktu yang bersamaan. Mungkin ini jawaban atas perasaan mengganjal yang tadi malam dia rasakan. Sebuah kenyataan bahwa, dia membiarkan gadis Hyuuga itu tidur diluar padahal tadi malam sangat dingin.

Sasuke menaruh kompresannya di dahi Hinata, menyelimuti Hinata dan membuatnya hangat. Ditatapinya gadis itu, ada perasaan hangat menjalar dalam hatinya, tanpa sadar Sasuke senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi malam, bahkan dia tak menyangka dirinya masih hidup sampai saat ini, dimana dia sudah menyiapkan rencana yang matang dan mental untuk melakukan usaha bunuh dirinya. Usaha 5 tahun yang lalu, kandas hanya dalam beberap menit saja.

Lamunannya buyar, saat handphonenya berdering. Dilihatnya nama yang terpampang pada handphonenya.

" Hn, ada apa Sai?" tanyanya dingin

"Paman Fugaku, memintamu malam ini datang ke mansion. Ada hal penting yang ingin disampaikan." Kata Sai

" Hn. Ada lagi?"

" tidak, aku hanya menyampaikan itu saja. Dan…" kata Sai "selamat ultah, sepupu"

Tak ada jawaban dari Sasuke, dan sambungan telepon pun terputus. Jemarinya menekan, nomor-nomor yang akan dia telepon, menunggu sebentar dan tersambung.

" Shika, bisakah kau kesini?aku butuh bantuan." Kata sasuke, menunggu respon dari seberang teleponnya."hn, terimakasih"

Lalu dipencetnya nomor-nomor yang tercetak di handphonenya lagi. "Hn, Kiba bisakah kau datang ke apartemenku?ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu dan aku juga butuh bantuanmu. Terimakasih" kata sasuke seraya mengakhiri percakapan telponnya.

Dipandanginya Hinata yang tengah tertidur, dengan nafas berat yang masih terlihat dari pergerakan naik turun bahunya. Tak lama, dia pergi ke dapur membuat bubur untuk Hinata, sekiranya nanti dia bangun. Sama seperti yang dilakukan ibunya ketika dia sakit dulu. Ya, dulu sekali, saat sasuke masih bisa melihat senyum tulus yang selalu terpancar dari ibunya yang kini sudah berada di sisi-Nya. Lagi, kesedihan menguasai pikiran Sasuke.

XXX

"Baiklah, aku segera kesana" kata Shikamaru yang sedang berbicara di telpon. Lalu datanglah seorang perawat yang kelihatannya tergopoh-gopoh.

"Dokter Shika, ada pasien korban kecelakaan, baru saja masuk ke ruang UGD." Kata Si Perawat.

"Ah, maaf. Aku ada janji dengan seorang pasien lain. Minta tolonglah pada Ino. Biarkan dia yang menggantikanku. Aku rasa dia bisa diandalkan." Kata Shikamaru

"Tapi?" belum si perawat itu melanjutkan perkataannya dan melayangkan protesnya, Shika melihat Ino yang baru keluar dari lift.

"Dokter Ino!"panggil Shikamaru."Bisa tolong aku hari ini?"

Ino mengangguk."Ada apa?"

"Hari ini aku ada janji dengan pasienku, baru saja ada korban kecelakaan dan sekarang sudah masuk UGD. Bisakah kau menggantikanku sebentar?" Tanya Shikamaru

"Tentu" kata Ino mantap.

"Terimakasih. Nanti ku traktir" kata Shikamaru

"Ah, tak perlu. Ini juga kan tugasku" kata Ino, tersenyum manis.

Dengan buru-buru, Shikamaru keluar dari rumah sakit dimana dia menjadi salah satu bagian darinya. Dalam perjalanan, otak jeniusnya tak henti-hentinya memikirkan sahabatnya yang baru saja menelponnya. Dan tibalah dia di apartemen Sasuke, lalu mulai masuk dan mendapati si pemilik rumah terlihat gusar. Semakin mendekat, hingga Shikamaru tampak sedikit terkejut melihat ada seorang gadis yang sedang meringkuk di sofa Sasuke. Tak biasanya, sahabatnya ini membawa seorang gadis ke apartemennya, bahkan sepertinya menginap.

"Apa dia yang sakit?Dia pacarmu?"Tanya Shikamaru, seraya berjalan mendekati Hinata.

"Hn. Dan dia bukan pacarku"jawab Sasuke singkat.

Shikamaru mulai melakukan hal yang semestinya seorang dokter lakukan, memeriksa pasien. Sasuke memandang kearah luar jendela, pandangannya menerawang jauh, tahun ini benar-benar sangat berat untuknya. Seakan-akan dia sedang menulis takdirnya sendiri, satu garis takdir, kematian.

"Dia hanya demam. Kau tak perlu khawatir"kata Shikamaru.

"Terimakasih, satu lagi, aku tidak khawatir"kata Sasuke."Bagaimana hasil risetmu?"

"Sepertinya semakin parah. Kemarin aku sudah memeriksa sample darahmu yang baru ku ambil seminggu yang lalu. Aku juga sudah melakukan percobaan pada seekor simpanse. Dan seperti perkiraanku, sehari sebelum simpanse itu mati, dia menunjukkan tanda-tanda yang aneh." Kata Shikamaru.

"Hei kenapa mengujinya pada seekor simpanse?memangnya tidak ada yang lain apa." Kata Sasuke

"Memangnya mau pakai apalagi?simpanse kan primata yang bisa dibilang sangat dekat dengan manusia, apalagi simpanse mempunyai tingkat kecerdasan lebih baik daripada primata yang lain."kata Shikamaru lagi."Kau tidak berpikir yang aneh-aneh kan Sasuke, aku tidak akan menyamakanmu dengan simpanse itu, aku hanya.."

"lalu apa hasilnya?"Tanya Sasuke memotong penjelasan Shikamaru soal dirinya dan simpanse itu. Tak ingin mendengar lagi persamaan simpanse dan manusia, apalagi subyeknya kali ini adalah dirinya.

"Di pagi hari simpanse itu mengerang, seperti merasakan sakit yang tak tertahankan. Tapi itu hanya berlangsung 1 jam saja. Lalu dia melakukan aktifitas seperti biasa. Tapi?"Shikamaru tak melanjutkan perkataannya. Ada keraguan untuk menceritakan hasil riset yang sudah dia lakukan 4 tahun belakangan ini.

"Tapi apa?"Tanya Sasuke. Shikamaru menghembuskan nafasnya dengan berat.

"12 jam sebelum kematian, dia mengalami pendarahan pada hidung, telinga dan mulut. 6 jam sebelum kematian dia mengerang lagi, merasakan rasa sakit yang melebihi rasa sakit yang dia derita di pagiharinya, darah yang keluar dari hidung, telinga dan mulutnya lebih banyak dari sebelumnya. Itu berlangsung terus-menerus. Semakin dekat dengan kematiannya, maka semakin dia merasakan kesakitan. Sampai akhirnya, tiba-tiba dia berontak, memecahkan kaca dan menggorok lehernya dengan pecahan kaca itu."

Sasuke diam, mencerna kata demi kata yang Shikamaru jelaskan padanya. Ada ketakutan dalam manik hitamnya, ketakutan yang sangat. Shikamaru menatap Sasuke sedih.

"Lalu apa kau?"Sasuke tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Mengerti apa yang ingin Sasuke tanyakan, Shikamaru melanjutkan hasil risetnya.

"Aku sudah mempelajari mutasi sel dalam darahmu, Yang bisa kusimpulkan adalah sel darahmu bermutasi menjadi sel perusak, tapi yang dia rusak hanya otakmu saja, dan otak adalah pusat dari semuanya kan. Perkembangan mereka menjadi signifikan saat kau berusia 19 tahun. Aku masih belum menemukan penawarnya Sasuke, kalau itu yang ingin kau tanyakan padaku."Kata Shikamaru" Tapi, aku akan mencari terus penawarnya"

"Waktuku sudah tidak banyak Shika, Aku hanya punya waktu 364 hari dari sekarang. Sepertinya, kutukan itu akan benar-benar terjadi padaku."Kata Sasuke

" Hei, kenapa jadi pesimis begitu" kata Shikamaru

"Aku bukannya pesimis, tapi aku sudah tahu apa yang akan terjadi padaku 364 hari kedepan. Jadi aku akan menunggunya. Ada seorang gadis yang bilang padaku, kalau aku harus tetap menjaga nyawaku ini, sampai dia lepas dari ragaku ini dengan sendirinya. Karena bukan aku, pemilik jiwa yang sekarang ada dalam tubuhku ini." Kata Sasuke, manik hitamnya melirik Hinata yang sedang terbaring "Sepertinya, aku harus mempersiapkan mentalku menghadapi detik-detik ajal menjemputku, kalau memang benar aku akan mengalami penyiksaan seperti yang simpanse itu rasakan."

Shikamaru tak bisa berkata-kata lagi, terperangah dengan kata demi kata yang meluncur dari bibir sahabatnya itu. Sebenarnya, tidak semua hasil riset yang selama ini dia lakukan disampaikan pada Sasuke. Masih ada keraguan dalam hatinya untuk mengatakan tentang penawar itu. Karena dia sendiri juga tidak yakin apakah ketidaksengajaan yang terjadi pada saat riset itu merupakan jawaban atas ditemukannya penawar untuk Sasuke. Apalagi jika pada akhirnya asumsinya meleset.

Lama mereka terdiam, sampai akhirnya Hinata membuka matanya berusaha untuk duduk. 2 pasang mata menatapnya tajam, Hinata jadi salah tingkah. Sepertinya dia bangun di waktu dan tempat yang salah. Kepalanya yang terasa sedikit ringan, kembali menjadi berat.

Sasuke berjalan mendekati Hinata, sambil membawa semangkuk bubur yang sudah dia buat. Di tempelkannya punggung tangannya pada dahi Hinata. Masih agak panas, katanya dalam hati.

"Makanlah" kata sasuke menyodorkan bubur yang ada di tangannya.

"Terimakasih, maaf aku merepotkan"jawab Hinata"emm, apa setelah ini kita akan pergi mengelilingi kota lagi?"

"habiskan dulu, baru bicara" kata Sasuke lagi

Shikamaru yang duduk di depan Hinata, terperanjah melihat sosok wanita yang ada di depannya. Ciri-ciri gadis itu sama dengan orang yang waktu itu, orang yang secara tak sengaja menjadi obyek risetnya. Ya, tak salah lagi, mata violet itu mengingatkannya pada orang itu. Tapi, dengan segera dia menguasai emosinya, dan sebuah harapan untuk sahabatnya datang lagi.

"Maaf, apa aku boleh mengambil darahmu?aku takut kau terkena penyakit berbahaya?kau tahu kan di musim seperti ini terkadang penyakit bisa datang kapan saja."kata Shikamaru

"Apakah perlu?bukannya tadi kau bilang dia cuman demam"kata sasuke melihatnya sahabatnya heran

"Aku ini dokter Sasuke, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati."Kata Shikamaru

"Boleh, kau boleh mengambilnya dokter Shikamaru" Kata Hinata. Kata-kata Shikamaru bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati kedengarannya masuk akal. Tapi, Sasuke merasa ada yang aneh dengan sahabatnya ini, Sasuke tahu betul siapa Shikamaru, orang yang tidak mau melakukan hal yang membuatnya direpotkan dengan hal-hal kecil.

Akhirnya Shikamaru mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia pun berpamitan pergi, dan meninggalkan Sasuke dan Hinata.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Shikamaru terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Ya, kemungkinan dia bisa melepaskan kutukan dari Sasuke, persentase 50-50 sudah cukup bagi seorang Shikamaru Nara. Dengan segera dia tancap gas dan menuju ruang laboratorium miliknya. Ya, Shikamaru sudah tak sabar menguji sample darah yang dia dapat dari Hinata.

XXX

Angin musim dingin menerpa dan melambaikan rambut pink pemilik manik berwarna hijau. Tampak terlihat gadis itu tengah bahagia, sesekali dia tersenyum sendiri dan menggumamkan melody dari bibir tipisnya. Saking senangnya, tak sengaja dia menabrak seseorang., hingga barang bawaanya berserakan.

"Maaf aku tidak sengaja"kata Sakura

"Hn" katanya pada Sakura, seraya membantu Sakura memunguti barang bawaanya yang berserakan.

"Terimakasih"kata Sakura seraya tersenyum, menatap mata violet pria itu, mata itu membuat Sakura merasa terhanyut dalam manik pria itu.

"Hn, lihatlah jalan, jangan senyum-senyum, nanti orang menganggapmu orang gila" kata pria itu

"Maaf"kata Sakura lagi, dia tak bisa membantah perkataan pria di depannya, karena memang dialah yang bersalah dalam hal ini.

Pria itu berjalan dan mulai menjauh dari Sakura, tiba-tiba saja suara Sakura menghentikan langkah pria itu.

"Hei!siapa namamu?"Tanya Sakura agak berteriak."Aduh, kenapa aku ini?kok malah minta , Sakura bodoh"

Pria itu menoleh, agak lama menatap Sakura, berjalan mendekati Sakura. Seraya mengulurkan tangannya, dia memperkenalkan diri.

"Neji, Hyuuga Neji"kata pria itu yang ternyata bernama Neji

"A..Aku Sakura, Haruno Sakura"kata Sakura.

Lalu Neji pun meninggalkan Sakura yang masih dengan setia menatap punggung Neji, hingga benar-benar menghilang ditelan kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang.

"Neji…Neji ya.." kata Sakura lirih. Entah kenapa, bertemu dengan Neji membuatnya sedikit aneh, ada perasaan yang dia sendiri tak mengerti, apalagi saat matanya bertemu dengan mata violet milik Neji, seperti perasaan nyaman dan terhanyut.

Sakura kembali berjalan, disana tak disangka bertemu dengan Shikamaru yang sibuk berbelanja bahan-bahan untuk laboratoriumnya. Di dekatinya Shikamaru yang terlihat masih sibuk memilih.

"Shika, sedang berbelanja ya?"Tanya Sakura.

Mendengar namanya di panggil, Shikamaru menolehkan kepalanya.

"Ohw, kau Sakura!"katanya lagi, lalu kembali sibuk dengan bahan-bahan yang dia cari.

"ehmm, Shika apa ada kemajuan yang berarti soal Sasuke?"Tanya Sakura lirih, ada kesedihan dan kekhawatiran dalam suara Sakura. Shikamaru akhirnya mendapat apa yang dia inginkan.

"Baiklah, akan aku ceritakan. Bagaimana kalau sambil makan mie ramen?"tawar Shikamaru

Mereka berdua pergi ke kedai ramen. Disana Shikamaru menceritakan hasil riset yang dia lakukan, hasil riset yang sudah dia ceritakan pada Sasuke, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang.

XXX

Di apartemen Sasuke, Kiba datang beberapa menit setelah Shikamaru meninggalkan apartemennya.

"Ada apa perlu apa kau memanggilku?"Tanya Kiba.

"Carikan aku informasi soal gadis itu"kata Sasuke seraya menunjuk Hinata yang tertidur lagi. Kiba memiringkan badannya. Manis, pikir Kiba.

"Apa yang ingin kau tahu soal dia?tanya Kiba

"Cari tahu, dimana rumahnya. Itu saja"kata Sasuke

"Hanya itu?Kau yakin?"Tanya Kiba

"Hn. Hari ini kau harus sudah dapat infonya. Aku tidak suka menunggu terlalu lama."kata Sasuke datar.

"Baiklah!"kata Kiba seraya meninggalkan Sasuke bersama Hinata disana, di apartemennya.

Di dalam mobilnya, Kiba mulai mencari informasi gadis yang bernama Hinata itu dengan laptop kesayangannya, dimana di dalamnya tersimpan data-data penting yang berhubungan dengan pekerjaanya.

"Menyusahkan saja. Si Uchiha itu benar-benar ingin mengujiku ternyata. Hanya nama yang dia berikan padaku. Dia meremehkan ku, Klan Inuzuka adalah Klan pencari jejak terhebat sepanjang sejarah manusia. Apa dia sudah lupa?Cih, menyebalkan"Omel Kiba."Akan aku berikan dia data yang lengkap, tidak hanya rumah gadis itu saja."

Masih didalam apartemen Sasuke, Hinata meringkuk di sofa milik Sasuke. Sasuke memandang gadis ber iris violet itu intens. Tak banyak gerak hanya menatap. Lalu Sasuke berjalan mendekati Hinata, digendongnya Hinata dan berjalan ke lantai dua, masuk kedalam kamarnya. Merebahkan tubuh mungil Hinata dan menyelimutinya. Tanpa sadar, tangan Sasuke menyibakkan rambut poni Hinata, sesekali mengelus pipi chubby Hinata.

Sasuke sangat sadar apa yang dia lakukan saat ini, yang dia tidak mengerti adalah alasan mengapa dia melakukannya. Apalagi pada gadis yang baru dia temui semalam.

Sasuke mencium kening Hinata dan menuliskan sesuatu di kertas dan menempelkannya ditempat yang sekiranya Hinata dapat dengan mudah membacanya.

"Aku pergi dulu, istirahatlah dan tunggu aku pulang." Kata Sasuke seraya pergi. Ya, hari ini dia harus menemui Fugaku Uchiha, ayahnya. Yang ingin membicarakan sesuatu yang penting katanya. Mungkin ada hubungannya dengan kutukan itu. Seandainya dia bisa memilih, dia memilih untuk di gugurkan saja waktu dia masih dengan nyaman berada dalam kandungan ibunya. Jadi dia tak perlu mengalami ini semua, apalagi setelah tahu penderitaan yang akan dia alami, apabila reaksi dari kelinci percobaan Shikamaru sama dengan reaksi yang akan dia alami nanti. Lagi, iris kelamnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.

T.B.C

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Chap 2 selesai….

Thx buat Diane ungu yang udah ingetin soal tulisan T.B.C, udah aku tulis ya,, ^_^

Arigatou buat yang sudah review, makasih banyak buat sarannya. maaf kalo humornya garing n g ngena di hati plus g banyak.T-T. lagi belajar.

Sekali lagi dan tidak akan pernah lelah buat minta satu kata ajaib ini, REVIEW please. Dengan begitu, author tahu apa yang harus diperbaiki dan dipertahankan.