Please Read n Review

Happy Reading n Enjoy It!

.

.

.

.

.

Sasuke mulai beranjak dari apartemennya dan meninggalkan Hinata yang masih tertidur di dalam kamarnya. Dengan mobil sedan hitamnya, dia menembus malam dan melewati lampu jalan yang tertata dengan apiknya, dengan warna-warni yang beragam, lambat laun lampu-lampu itu terganti dengan rimbunnya pepohonan saat dia mulai menaiki jalan yang berbukit, menuju tempat sang ayah, Fugaku Uchiha tinggal. Sesaat tibalah dia di sebuah mansion dengan arsitektur bergaya romawi, besar dan megah, tak lupa dengan symbol kipas,ciri khas Klan Uchiha.

Dilangkahkan kakinya menuju mansion, disana dia sudah disambut oleh para pelayan yang memang sudah menunggunya untuk pertemuannya dengan Fugaku Uchiha. Dengan sikap penuh hormat, seorang kepala pelayan mengantarkan Sasuke bertemu dengan ayahnya.

"Lama tak jumpa Chiyo" Kata Sasuke membuka percakapannya "Bagaimana kabarmu?"

"Saya masih sangat sehat Tuan Muda, seperti yang anda lihat dan ya, lama tak jumpa" kata Chiyo sembari tersenyum "Apa anda juga sehat?"

"Seperti yang kau lihat" Kata Sasuke lagi "Kenapa kau masih betah tinggal di tempat seperti ini, Chiyo?apa kau tidak mau menghabiskan masa tuamu di suatu tempat dimana kau bisa melepas segala kepenatanmu?"

"Karena saya menunggu tuan muda bisa kembali kerumah ini lagi dan saya bisa melayani tuan muda sampai saya mati nanti. Saya ingin menghabiskan masa tua ini dengan mengabdi pada keluarga anda" Kata Chiyo

Sasuke menghentikan langkahnya, begitupun Chiyo seraya menoleh ke belakang, menatap Sasuke yang juga menatapnya.

"Kau kan sudah tau alasannya aku tidak mau tinggal di sini kan, Chiyo?" Kata Sasuke. Chiyo pun mengangguk. " Kau juga tak perlu menghabiskan masa tuamu untuk melayaniku, karena aku akan lebih dulu mati daripada kau."

Chiyo melihat kesedihan di mata Sasuke, kesedihan yang sama setelah tuan mudanya tahu soal kutukan itu dan saat kematian Mikoto, ibunya, kesedihan yang selalu tampak setiap tuan mudanya itu datang ke tempat ini. Tempat ini hanya menyisakan kenangan buruk untuk tuan mudanya itu.

Lama mereka saling tatap, menyampaikan cerita-cerita yang tak sanggup dikatakan secara verbal. Lalu Sasuke memeluk Chiyo, wanita yang sudah berumur 70 tahun itu, wanita yang Sasuke anggap neneknya sendiri, wanita yang selalu membuatnya gembira, membuatnya tenang dan nyaman, saat ibunya sudah tak bisa lagi melakukan yang seharusnya seorang ibu lakukan.

"Tinggalkan rumah ini Chiyo" Bisik Sasuke dengan masih memeluk Kepala pelayannya itu "Aku akan baik-baik saja, sebentar lagi aku akan bertemu dengan ibu dan dia yang akan menjagaku disana. Jadi, kau tak perlu khawatir lagi padaku."

Sasuke melepas pelukannya, menatap Chiyo lembut.

"Saya akan pergi, kalau tuan muda benar-benar pergi. Saya sudah berjanji pada nyonya besar. Tidak mungkin saya melanggarnya." Kata Chiyo, seraya berjalan lagi.

Chiyo tahu betul, alasan tuan mudanya ini menginginkan dia pergi, setelah Mikoto Uchiha meninggal, sebenarnya tak ada lagi yang bisa dia lakukan di rumah ini, karena dia hanya mengabdi pada Mikoto. Tapi, karena dia sudah berjanji untuk menjaga Sasuke, maka dia harus menepati janjinya sampai dia mati.

"Tuan Muda Sasuke sudah sampai Tuan" Kata Chiyo seraya meninggalkan ruangan dimana Fugaku berada.

Sasuke dan Fugaku, sama-sama tidak ada yang mau buka suara, hanya diam.

"Selamat ulang tahun Sasuke. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Fugaku seraya mempersilahkan Sasuke duduk.

"Seperti yang ayah lihat dan Terimakasih atas ucapannya dan juga hadiahnya" Jawab Sasuke seraya duduk "Ada perlu apa ayah memanggilku kesini?Sai bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan ku."

"Tidak ada, aku hanya ingin melihatmu saja. Sudah lama sekali rasanya aku tidak bertemu dengan mu" Kata Fugaku

"Oh, ayolah ayah, jangan bercanda denganku. Sejak kapan seorang Fugaku Uchiha mengatakan hal-hal yang tidak penting seperti itu. Katakan saja, ada apa memanggilku kesini?" Kata Sasuke

Fugaku menghela nafas panjang, dan mulai bicara lagi

"Baiklah, kau memang orang yang tidak suka basa-basi ya. Langsung saja. Ini soal kutukan itu, ayah kira ada hubungannya dengan asal-usul terbentuknya Klan Uchiha, ada hubungannya dengan masa lalu Klan. Karena itu ayah menyuruh Itachi mencari gulungan tentang sejarah Klan Uchiha. Dan ayah rasa ada hubungannya dengan kutukan yang menimpa Klan Uchiha, mungkin juga kita bisa menemukan penawar untuk kutukanmu itu." Kata Fugaku

"Lalu, apakah aku harus senang dengan berita yang ayah bawa untukku?jadi inikah hal penting yang ingin ayah katakan padaku?" Kata Sasuke "Aku rasa itu tidak perlu ayah, aku tidak butuh itu lagi. Aku hanya ingin mati saja. Dengan begitu aku bisa bersama dengan ibu lagi"

"Apa kau bilang?" Tanya Fugaku

"Untuk apa ayah bersusah-susah mencarikan penawar atas kutukan itu?Sejak kapan ayah peduli padaku. Bukankah ini yang Ayah inginkan, bukankah dengan begitu Ayah tidak akan pernah melihatku lagi. Jadi ayah tidak akan merasa sakit di sini setiap melihatku" Kata Sasuke seraya menunjuk dadanya.

"Jangan bicara sembarangan seperti itu Sasuke!" Teriak Fugaku "Ayah tahu, kau sangat membenci ayah, tapi kau tetap putraku dan aku tidak akan membiarkanmu mati hanya karena kutukan sialan itu. Seberapapun bencinya kau pada ayah, ayah tidak peduli. Asal kau tetap hidup, itu sudah cukup. Hanya dengan melihat wajahmu, ayah bisa melihat Mikoto dalam dirimu"

Sasuke tercekat, mendengar pengakuan Fugaku. Tak pernah sekalipun dia melihat Fugaku se emosional seperti ini, apalagi dia terlihat sangat, sangat rapuh. Apakah ini lebih karena kutukan itu?, ataukah inikah yang namanya kasih sayang seorang ayah?, kasih sayang yang dia inginkan dari dulu?, apakah sejatinya ayahnya sangat menyayanginya?, ataukah selama ini dia telah salah sangka?Apakah kemiripannya dengan Mikoto adalah alasan mengapa Fugaku menghindarinya dan apakah karena itu Fugaku akan selalu tersiksa akan rindunya pada Mikoto?. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di otaknya.

Sasuke terdiam, rasa perih di hati yang tidak dia mengerti bisa sesakit ini, apakah jawaban bahwa dia sebenarnya sangat rindu dan sayang pada ayahnya. Akhirnya rasa sayang yang tersirat dari kata-kata sang ayah, mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia benar-benar telah salah mengerti tentang perasaan ayahnya selama ini. Dia bingung, sangat bingung. Sebaiknya pulang saja, pikir Sasuke begitu.

"Aku pulang" Kata Sasuke lirih, seraya beranjak dari kursinya dan meninggalkan Fugaku sendirian disana. Fugaku pun hanya diam dan membiarkan Sasuke pergi, hingga pintu menenggelamkan tubuh putranya dan tak terlihat lagi.

"Sasuke..Sasuke..Sasuke.." Kata Fugaku, hanya nama itu saja yang meluncur dari mulutnya. "Mikoto, apakah aku telah salah mengambil jalan?, apakah salah kalau aku selama ini berusaha menjauh dari dirinya karena dia sangat mirip denganmu? Kenapa kau pergi meninggalkanku Mikoto dan membuat ku menanggung ini semua. Aku merindukanmu."

Ruangan itu menjadi saksi bisu kerapuhan Fugaku Uchiha, yang terdengar hanyalah isakan tertahan dari empunya Mansion.

.

.

Saat hendak keluar dari Mansion, Sasuke bertemu lagi dengan Chiyo.

"Sudah mau pulang?apa tidak ingin makan sesuatu dulu?" Kata Chiyo

"Tidak terimakasih, ada beberapa hal yang masih harus aku lakukan." Kata Sasuke

"Hmm, baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah" Kata Chiyo lagi "Bolehkah saya bertanya sebelum anda pergi?"

"Apa?" Tanya Sasuke

"Apakah anda punya hubungan khusus dengan Nona Haruno?sepertinya anda sangat menyukainya?maaf kalau saya lancang menanyakan ini." Kata Chiyo

"Kau tidak perlu se formal itu denganku Chiyo. Ya, aku memang menyukainya. Seandainya saja, aku tidak terkena kutukan itu, aku mungkin akan melamarnya, menjadikan dia istriku. Tapi itu semua sia-sia." Kata Sasuke

"Apakah anda pernah mencobanya?untuk melamarnya?" Tanya Chiyo

"Tidak. Aku tidak mau, hanya karena ke egoisanku, membuatnya menderita. Untuk apa menikah dengan orang yang sudah mau mati." Jawab Sasuke

"Apa anda menyerah?" Tanya Chiyo, ada nada kesedihan dalam suaranya

Sasuke berbalik dan tersenyum

"Aku tidak menyerah Chiyo, hanya saja aku tidak berharap banyak, kalau aku akan lepas dari kutukan itu. Kau tahu kan apa yang kumaksud." Kata Sasuke seraya mengingat hasil riset yang dilakukan Shikamaru "Aku hanya tidak mau membuat Sakura bersedih karena aku"

"Tapi, kutukan macam apa hingga membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Hal yang seperti itu adalah hal yang sama sekali tidak mungkin kan. Tidak ada orang yang benar-benar melakukan hal bodoh itu jika tidak sedang tersudut dan hanya orang bodoh saja yang melakukan hal itu."

Sasuke hanya diam, dia tahu alasan mengapa nanti dia akan melakukan bunuh diri itu.

"Baiklah, aku pulang" Kata Sasuke

"Pertimbangkanlah lagi untuk melamar Nona Haruno, kalau dia juga memiliki perasaan yang sama dengan anda, saya yakin dia akan menerimanya" Kata Chiyo berusaha meyakinkan Sasuke

"Kau memang tidak pernah berubah" Kata Sasuke, lalu pergi.

Sekali lagi Sasuke melewati rimbunnya pohon dan melewati jalan yang dihiasi lampu-lampu yang penuh warna. Dalam perjalanan menuju apartemennya, Sasuke memikirkan perkataan Chiyo. Melamar Sakura dan menjadikannya sebagai istri, mungkin dia bisa mencobanya. Ya, dia harus mencobanya. Hatinya telah mantap, untuk mencoba melakukan apa yang Chiyo katakan. Setidaknya dia akan mati dengan tenang saat orang yang dia cintai ada di sampingnya.

Sasuke sebenarnya punya perasaan yang lebih dari sekedar seorang sahabat pada Sakura. Hanya karena kutukan itu, dia tak pernah sanggup untuk menyatakan perasaannya pada Sakura. Apalagi sepertinya Sakura juga punya perasaan yang sama dengannya. Dia kenal dengan Sakura sejak dia berusia 4 tahun. Bisa dibilang dia tahu semua sifat and karakter yang Sakura miliki, tidak hanya itu saja, Sasuke tahu Sakura luar dan dalam, begitupun Sakura terhadap dirinya. Tak ada satu rahasiapun yang disembunyikan diantara mereka berdua, kecuali perasaan hati.

Saat ini Sasuke harus mengutarakan perasaannya pada Sakura, masih ada cukup waktu baginya untuk memulai hubungan dengan Sakura. Terlihat rona bahagia di wajah tampan Sasuke, tak ada yang lebih membahagiakan dia saat ini, tanpa sadar tetesan darah mengalir dari hidungnya, merembes pada baju yang dia pakai, meninggalkan noda darah yang susah hilang. Ditepikannya mobil yang dia kendarai.

"Sial, kenapa aku ini?" umpat Sasuke seraya mengelap darah yang menetes dari hidungnya dengan tissue yang tersedia di mobilnya. Diambilnya beberapa tissue lalu mengelapnya lagi, sampai darah benar-benar berhenti lalu menyumbatnya dengan tissue baru. Mengganti pakaian yang selalu dia siapkan saat keluar apartemen, tak peduli dekat atau jauh, karena apapun bisa terjadi mengingat kariernya yang juga seorang selebritas. "Sebaiknya aku cepat pulang"

XXX

"Aku dimana?tempat apa ini?" Hinata berjalan menyusuri rumah adat jepang yang terlihat luas. Seingat Hinata, dia masih ada di apartemen milik Sasuke, tapi bagaimana dia bisa ada ditempat seperti ini. " Ini rumah siapa?"

Hinata menyusuri rumah itu, angin melambaikan rambut indigonya yang panjang. Kaki kecil Hinata melewati lorong-lorong rumah itu, lalu kemudian dia berhenti saat mendengar suara orang yang sedang mendekat dan hendak bersembunyi, tapi Hinata tidak bisa bersembunyi, dia pun gelagapan, bingung, tapi sepertinya kehadirannya tak disadari oleh kedua orang itu. Saat orang itu mendekat, manik violet Hinata membulat.

"Uchiha!" kata Hinata lirih dan kaget "Gadis itu, kenapa sangat mirip denganku?"

Kedua orang itu mendekat, berjalan sambil bergandengan tangan dengan senyum yang selalu mengembang, mereka terlihat bahagia. Lalu melewati Hinata yang sedari tadi berdiri. Ya, mereka tidak menyadari kehadiran Hinata. Tak menghiraukan Hinata.

Tiba-tiba, Hinata sudah tidak berada didalam rumah itu lagi. Berganti dengan padang lavender yang sangat luas, memanjakan matanya. Tapi bukan padang lavender yang sedap dipandang mata yang menjadi perhatian Hinata. Disana dia bisa melihat seseorang yang mirip dengan Sasuke sedang berdiri juga memandang padang lavender itu. Hinata yakin itu adalah Sasuke, meskipun dia melihatnya dari samping dan dengan jarak yang lumayan jauh.

Wajah pemuda itu terlihat kusut, ada suatu hal yang mengganggunya. Apakah dia sedang menunggu seseorang?atau sedang berpikir sesuatu?, pikir Hinata.

Tak lama, gadis itu datang. Ya, dia sedang menunggu seseorang. Gadis itu dengan tiba-tiba memeluk pemuda itu, sambil menangis. Pemuda yang mirip Sasuke itupun, lebih mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Terlihat dari wajahnya, bahwa dia juga sedang sedih. Mereka tidak bicara, menangis dalam pelukan yang erat. Lalu mereka berdua menatap Hinata dengan tajam, tapi penuh dengan kesedihan. Hinata shock, tatapan itu mengapa sangat menyakitkan untuk Hinata.

Hinata terbangun dengan peluh membasahi bajunya.

"Aku mimpi. Yang tadi itu apa?" Kata Hinata. Hinata meraba dadanya, jantungnya berdetak sangat kencang dan perih. Ditempelkannya punggung tangan miliknya ke dahinya. "Sudah turun"

Hinata turun dari tempat tidur, tenggorokannya kering, tujuannya hanya satu, minum, melepaskan dahaganya. Baju yang dia pakai sedikit basah, tapi tak ada baju yang bisa dia pakai, apalagi ini bukan rumahnya. Mengambil gelas lalu menuangkan air dan meminumnya. Lega yang dia rasakan.

"Sepertinya Uchiha belum pulang, disini juga tidak ada makanan." Kata hinata, diliriknya jam, masih pukul 7 malam. "Sebaiknya aku buat makan malam"

Dibukanya lemari es yang besarnya seperti lemari baju Hinata, disana dia hanya menemukan banyak tomat, ralat, sangat banyak tomat, ralat lagi, semuanya tomat.

"Dia ini penggemar tomat, atau maniak tomat. Sebanyak ini apa bisa dihabiskan, bukannya dia tinggal sendiri" Kata Hinata heran. "Ya, apa boleh buat. Aku masak yang ada saja"

Hinata mulai menyiapkan bahan-bahannya, tak kurang dari 1 jam, dia bisa menyelesaikan masakannya.

"Hah, bagus, sudah selesai semua" kata Hinata. Tak berapa lama, Sasuke datang.

"Wah, kebetulan sekali kau sudah datang, kau sudah makan?" Tanya Hinata seraya tersenyum.

Sasuke diam, bingung dalam diam. Lalu dia mendekati Hinata. Reflek, tanganya menyentuh dahi Hinata. Memeriksa suhu tubuh gadis yang sedang berdiri didepannya.

"panasnya sudah turun. Tapi, kenapa bajumu terlihat basah?" Tanya Sasuke

"Umm,,, tadi aku bermimpi yang aneh, saat bangun bajuku sudah basah karena keringat." Jawab Hinata malu.

Sasuke mengangguk, lalu meninggalkan Hinata, menuju lantai 2.

"Kenapa dia aneh begitu. Di ajak bicara kok malah pergi" Kata Hinata.

Tak berapa lama Sasuke membawa baju untuk Hinata.

"Ganti bajumu dengan ini. Kau itu kan baru sembuh, kalau pake baju yang basah seperti itu kau bisa sakit lagi. Itu artinya kau akan lama tinggal disini. Aku tidak suka orang asing lama-lama di rumahku" Kata Sasuke seraya menyerahkan baju yang dia bawa.

"Aku tahu, setelah ini aku akan pergi. Jadi, kau tidak perlu khawatir" Kata Hinata

Hinata meninggalkan Sasuke yang masih terdiam , mengganti bajunya yang sedikit basah.

"Orang itu menyebalkan sekali. Memangnya aku mau tinggal disini lama-lama" Kata Hinata seraya melepas semua bajunya dan mengganti dengan baju yang dia bawa.

Dilihatnya Sasuke yang duduk di sofa, terlihat lelah. Hinata menghampirinya.

"Kau sudah makan?" Tanya Hinata.

Sasuke menoleh asal suara itu.

"Kenapa?" Tanya Sasuke dingin

"Tidak, aku hanya tanya. Kalau begitu aku pergi. Baju yang aku pinjam ini akan ku kembalikan nanti." Kata Hinata seraya melangkah pergi, meninggalkan Sasuke.

Sasuke diam dan tetap duduk, dipikirannya saat ini masih teringat akan kejadian yang terjadi dalam mobilnya, hidungnya yang mengeluarkan darah dan perkataan Chiyo soal Sakura. Pikirannya kalut, Sasuke berjalan menuju dapur, sepertinya minuman dingin bisa membantu otaknya ikut dingin. Alangkah terkejutnya dia, saat banyak makanan terhidang di meja makan. Dalam kasus ini, otak jeniusnya benar-benar tidak bekerja dengan baik. Diambilnya minuman dingin dalam lemari es dan meminumnya, lalu kembali duduk di tempatnya tadi.

Beberapa saat, barulah otak jeniusnya kembali.

"Sial!" Umpat Sasuke, merutuki dirinya sendiri.

Dicarinya Hinata. Pastinya tidak jauh dari sini, pikir Sasuke. Mata Onyx nya, menangkap sosok yang dia cari.

.

.

"Perutku lapar!Dia itu apa sengaja memperlakukanku seperti ini?Apa dia marah, waktu aku gagalkan usaha bunuh dirinya itu?jadi inikah balasannya?" Kata Hinata. "Lalu aku harus kemana?Bukankah dia sendiri yang bilang mau membantu mencarikan rumahku?Tapi, kenapa dia bersikap begitu padaku?"

Hinata tetap berjalan, menuruti kemanapun kakinya melangkah. Udara malam ini masih sama dinginnya seperti malam-malam sebelumnya. Dirapatkannya kedua lengannya, memberikan rasa hangat sebisanya. Tidak bisa, malam ini lebih dingin dari biasanya. Dengan baju yang tidak terlalu tebal, bisa-bisa dia sakit lagi.

Tiba-tiba ada yang menarik lengannya, dan dia adalah Uchiha. Hinata terkejut, apalagi orang itu adalah Sasuke.

"Ada apa?Kalau soal baju, aku akan kembalikan, aku juga tidak mengambil apapun dari rumahmu." Tanya Hinata

"Ayo pulang!" Kata Sasuke seraya menarik lengan Hinata untuk ikut dengannya. Tapi, Hinata menolak.

"Kau ini kenapa?sebentar-sebentar bersikap dingin, lalu bersikap baik padaku. Apa maumu?" Tanya Hinata sedikit berteriak dan gemetar."Lepaskan tanganmu dariku"

Hinata marah, bagaimana bisa ada orang seperti Sasuke, berbuat seenaknya sendiri. Menyuruh pergi, lalu mengajak pulang lagi.

"Kalau kau marah soal kegagalan bunuh dirimu itu, katakan saja!Jangan bersikap baik padaku dengan membantuku mencari rumahku. Seharusnya kau biarkan aku disana, setidaknya aku tidak hutang budi padamu." Kata Hinata, menumpahkan amarahnya pada Sasuke, airmatanya pun mengalir di pelupuk matanya begitu saja.

Sasuke terkejut, dia akui perbuatannya pada Hinata sangat keterlaluan. Tak pernah dia lihat ada seorang wanita menangis dihadapannya kecuali Sakura. Tapi, kenapa berbeda, saat Sakura menangis, dengan mudah dia bisa menghiburnya hingga akhirnya Sakura kembali menjadi Sakura seperti biasa , tapi saat melihat Hinata menangis, hatinya sangat sakit, jantungnya berdetak lebih kencang, mulutnya terkunci, tak bisa mengeluarkan kata-kata yang menenangkan.

"Aku tidak marah soal itu. Hanya saja, akhir-akhir ini otakku memikirkan banyak hal yang terkadang membuatku kehilangan konsentrasi saat bicara dengan orang lain." Kata Sasuke lirih "Ayo pulang"

Hinata tak sanggup menolak. Dinginnya malam ini, membuatnya harus berpikir ulang untuk tidak egois dan berpikir logis. Perutnya lapar dan tubuhnya saat ini sangat membutuhkan istirahat. Untuk malam ini saja. Hinata mengangguk, menyetujui ajakan Sasuke. Mereka berjalan beriringan.

"Apa kau yang memasak makan malam?" Tanya Sasuke

"Hmm,, ya begitulah" Jawab Hinata

"Kau sudah makan?" Tanya Sasuke lagi

Hinata menggeleng. Lengkap sudah, Sasuke baru sadar betapa buruknya perbuatan Sasuke pada Hinata.

Kaki Hinata gemetar, maklum saja hari ini dia hanya makan bubur yang Sasuke buatkan untuk dirinya pagi tadi. Dan sampai malam ini, dia belum makan apapun. Hampir saja Hinata jatuh tersungkur, kalau Sasuke tidak dengan cepat ,menahannya tidak terjatuh. Digendongnya Hinata dan berjalan lagi.

"Aku tak apa, jadi turunkan aku Uchiha" pinta Hinata. Sasuke hanya diam, tak mengindahkan perkataan Hinata, tetap menggendongnya.

Sesampainya di apartemen, sasuke mendudukkan Hinata di kursi dapur. Ya, Sasuke menggendong Hinata sampai ke ruang makan.

"Ayo makan! Aku sudah lapar" Kata Sasuke seraya memasukkan nasi dan beberapa lauk yang terhidangkan di meja makan. Hinata hanya mengangguk dan mereka makan dalam diam.

.

.

"Kiba, bagaimana hasilnya?" Tanya Sasuke "Cih, bukankah kau bilang akan menyerahkannya hari ini?Ya, baiklah. Besok kau antarkan hasilnya"

"Emm,,apakah kita akan pergi mencari rumahku?" Tanya Hinata sedikit takut setelah mendengar Sasuke berbicara dengan sesorang di telp.

"Hari ini sudah malam. Besok saja. Lagipula aku sudah menyuruh orang untuk mencari rumahmu. Jadi, tunggu saja sampai besok." Kata Sasuke tanpa melihat ke arah Hinata yang berdiri di belakangnya. "Cepatlah tidur!"

Hinata menurut, lalu pergi ke kamar. Tunggu sebentar, bukankah tadi dia tidur dikamar Sasuke. Bukankah itu tidak mungkin kalau dia tidur disana. Dengan mengumpulkan sedikit keberanian, Hinata kembali menemui Sasuke.

Sasuke menyandarkan punggungnya di sofa, menyamankan dirinya sendiri. Hari ini dia letih, tak hanya tubuh saja, tapi juga batinnya. Hingga tak disadarinya, darah segar keluar dari hidungnya lagi.

"Maaf Uchiha, bisakah kau beritahu aku kamar mana yang bisa kupakai untuk tidur?" Tanya Hinata.

Karena tak ada jawaban dari Sasuke, Hinata berjalan ke arah Sasuke, tak berada di belakangnya lagi. Dilihatnya Sasuke yang tengah Hinata. Hinata terkejut, melihat darah keluar dari hidung Sasuke. Diambilnya tissue yang ada di meja, di usapnya darah di hidung Sasuke perlahan, tak ingin membangunkan Sasuke.

Betapa terkejutnya Sasuke melihat Hinata di depannya, apalagi sedekat ini. Sekilas Sasuke melihat sorot mata kesedihan dari manik violet Hinata. Dejavu, Sasuke merasa mengalami Dejavu. Entah dimana dan kapan, sepertinya Sasuke pernah melihat sorot mata itu.

"Kau tak apa?" Tanya Hinata, seketika membuyarkan lamunan Sasuke.

"Hn" Sasuke hanya mengeluarkan gumaman. Dan tak ada seorangpun yang paham arti gumaman itu.

"Begitu ya, syukurlah" Kata Hinata lega, mengartikan gumaman Sasuke sebagai jawaban bahwa dia tidak apa-apa.

"Ada apa?" Tanya Sasuke

"Begini, kalau boleh aku tau, aku tidur dimana?" Tanya Hinata.

Sasuke mengerutkan alisnya, bingung. Pertanyaan yang seharusnya sudah ada jawabannya. Kalau mau tidur, bukankah harus di tempat tidur. Hinata sepertinya menyadari kalau pertanyaannya mengandung ambigu.

"Maksudku, aku tidur dikamar yang mana?apakah apartemenmu ini punya kamar lebih dari satu?Kalau tidak ada, aku tidur di sofa saja" Kata Hinata.

Sasuke berdiri, menggandeng tangan Hinata dan menunjukkan kamar yang bisa dipakai.

"Kau bisa tidur disini" Kata Sasuke seraya pergi meninggalkan Hinata.

Sasuke berjalan menuju kamarnya, hari ini dia memilih cepat tidur dan mengistirahatkan tubuhnya. Hari ini sudah 2x dia mimisan. Direbahkan tubuhnya di kasur. Hidung Sasuke menghirup udara yang bercampur dengan aroma lavender yang menenangkan.

"Wangi ini, apa punya Hyuuga?" Tanya Sasuke. "Sepertinya ini memang baunya."

Dihirupnya lagi aroma yang tertinggal dari Hinata, baru kali ini dia merasa rileks daripada malam-malam sebelumnya, lebih nyaman dan tenang daripada hari-hari sebelumnya.

Sasuke memutar ulang memori kejadian malam ini, ingatan untuk melamar Sakura dan mimisannya membuat Sasuke bingung. Dia sangat tidak ingin membuat Sakura akhirnya menderita karena kutukan yang dia terima, tapi mungkin apa yang dikatakan Chiyo ada benarnya. Setidaknya dia sudah mencoba, perkara hasilnya tidak sesuai dengan harapannya, dia tidak akan pernah menyesal.

Di carinya nama Sakura di daftar kontak, Sasuke menyampaikan keinginannya.

"Sakura, maaf mengganggumu malam-malam begini. Bisakah kita bertemu, besok di tempat biasa? Ada yang ingin aku bicarakan" Kata Sasuke "Baiklah kalau begitu"

Seraya menghirup aroma lavender yang masih menguar, Sasuke memejamkan matanya dan dalam sekejab, terbuai ke alam mimpi. Setidaknya malam ini dia bisa mimpi indah.

XXX

Sasuke terbangun, pagi ini dengan penuh semangat dia menyongsong pagi. Hari ini dia akan melamar orang yang dicintainya. Tak ada lagi kebimbangan dalam hatinya. Dilakukannya aktifitas pagi seperti biasa. Yang tidak biasa adalah, saat dia menuju dapur, sudah ada makanan yang terhidang di meja makan dengan seorang gadis seraya menggumamkan sebuah nyanyian.

"Kau sudah bangun. Ayo sarapan!" Ajak Hinata

Sasuke menurut. Hinata menyiapkan menu terakhir yang sudah selesai dia buat. Mereka makan dalam diam, lagi.

"Kau kelihatan senang" Kata Sasuke

"Tentu saja" Kata Hinata "Hari ini akhirnya aku bisa pulang"

"Kau senang memasak ya?" Tanya Sasuke

"Kenapa?" Tanya Hinata

"Aku yang bertanya, seharusnya kau jawab pertanyaanku bukannya menjawab dengan sebuah pertanyaan." Kata Sasuke sewot

"Ya, aku senang memasak. Jangan berpikir yang macam-macam, aku tidak menaruh racun dalam makananmu." Kata Hinata

"Hei, aku juga tidak memintamu menjawab pertanyaanku sepanjang itu. Cukup bilang 'ya' saja." Kata Sasuke "Kau sangat cerewet"

Mood Sasuke buruk, padahal hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuknya. Tapi, kenapa setiap bertemu dan ngobrol dengan Hinata, selalu saja ada alasan untuk bertengkar.

"Ya, sebentar lagi kan kau tidak akan melihatku lagi. Jadi, kau juga tidak akan mendengar semua ocehanku. Setidaknya kedamaian hidupmu akan segera kembali." Kata Hinata seraya meninggalkan Sasuke

"Hei, cuci semua peralatan makan ini. Memangnya siapa yang membuat ini kotor semua." Kata Sasuke sedikit berteriak.

"Cuci sendiri, inikan apartemenmu dan peralatan itu juga punyamu." Kata Hinata "Huh, dasar tidak tahu berterimakasih"

Sasuke sudah tak selera makan. Diletakkannya sumpit yang dia pegang, sekarang berganti dengan handphone.

"Hei, Kiba. Kapan kau datang hah?" Kata Sasuke marah "Apa kau bilang?jadi bukan kau yang kesini, kau menyuruh temanmu yang kesini?"."Suruh dia cepat kesini"

Bel rumah berbunyi, Sasuke beranjak dari dapur menuju pintu depan.

"Selamat pagi!" Kata seseorang yang ada di luar apartemen Sasuke "Aku, orangnya Kiba"

"Oh, Jadi kau, masuklah" Kata Sasuke "Duduklah"

Orang itu pun duduk, sambil celingukan.

"Hyuuga, cepat keluar. Kau tidak mau pulang?" panggil Sasuke

Hinata keluar dari kamar menuju ruang tamu.

"Hinata! Benar itu kau?" Kata orang suruhan Kiba

"Naruto!" Kata Hinata

Naruto, orang suruhan Kiba itu ternyata kenal dengan Hinata. Sertamerta Naruto memeluk Hinata yang tidak jauh dari tempatnya duduk.

"Aku kangen sekali, Hinata" Kata Naruto seraya tertawa girang.

"Aku juga begitu, Naruto" Kata Hinata seraya tersenyum.

Sasuke yang ada disana, tak dianggap ada oleh Naruto dan Hinata. Mereka terlalu senang karena bisa bertemu lagi. Dan ini membuat hari yang cerah nan indah untuk Sasuke seketika mendung dengan petir yang menggelegar.

Ada perasaan tidak rela di hati terdalam Sasuke melihat Hinata dipeluk oleh Naruto, perasaan tidak suka dan cemburu?.

"Sudah berpelukannya?dasar tidak tahu malu" Kata Sasuke kesal.

"Maaf, Uchiha. Ini karena aku terlalu senang" Kata Hinata. "Baiklah, aku permisi dulu. Jaga dirimu baik-baik"

Hinata pergi dari apartemen Sasuke meninggalkan Sasuke yang masih diam disana. Tatapan matanya kosong, seperti apartemennya yang selalu kosong.

"Aku ini kenapa?bukankah aku harusnya senang, dia pergi. Tapi, kenapa hatiku hampa?kenapa aku jadi tidak rela dia pergi." Kata Sasuke lirih

Handphonenya berbunyi, tampil dilayar nama Sakura.

"Sakura, ada apa?" Tanya Sasuke "Ah, benar!bagaimana aku bisa lupa. Baiklah aku kesana"

Sasuke dengan cepat mengambil kunci mobil dan melesat ke tempat dimana dia dan Sakura akan bertemu.

"Sial, bagaimana aku bisa lupa, kalau hari ini aku ada janji dengan Sakura" Umpat Sasuke.

Sasuke dengan kemantaban hati menemui Sakura dan melamarnya. Tapi, terkadang ada hal-hal yang tidak bisa manusia paksakan dalam kehidupan ini, karena manusia hanya berencana dan Tuhan yang mengatur. Inipun terjadi pada Sasuke.

Wuihh! Akhirnya Up Date Chap 3. Maaf kalau ceritanya membosankan, jujur saja saya agak mentok buat ceritanya.

Jadi, Mohon reviewnya ya!

Arigatou