Happy Reading n Enjoy It

Arigatou…

.

.

.

.

.

Sasuke duduk berhadapan dengan Sakura, memandangi gadis cantik yang ada di depannya dengan lembut. Dalam beberapa saat mereka hanya terdiam, saling pandang.

"Kau mengajakku kesini bukan untuk melihatku seperti itukan, Sasuke?" Kata Sakura mengawali pembicaraan.

Sasuke tersenyum menanggapi pertanyaan Sakura.

"Aku minta maaf, soal tadi. Aku benar-benar lupa, kalau kita ada janji bertemu." Kata Sasuke

"Tak apa. Lagipula aku tahu kau kan orang yang sangat sibuk. Jadi, aku bisa mengerti." Kata Sakura "Lalu ada apa kau mengajakku kemari?"

Sakura melihat sekeliling, ada yang aneh menurutnya. Tak ada satu orangpun yang datang ke restauran tempat dia sekarang berada.

"Ehm, Sasuke!apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan restauran ini?" Tanya Sakura

"Apanya yang aneh?" Tanya Sasuke

"Tempat ini sepi sekali. Hanya ada kita berdua yang ada di tempat ini. Jangan-jangan restauran ini, makanannya tidak enak, atau harganya mahal, atau…" Kata Sakura

"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Kata Sasuke memotong perkataan Sakura yang mulai melantur. Padahal Sasuke berencana membuat suasana romantis, dengan menyewa restauran ini. Tapi ternyata apa yang ada dalam pikiran Sakura tidak sesuai dengan prediksinya. Ya, mungkin Sakura akan sangat senang, atau terharu karena dia mengajaknya ke tempat yang romantis.

"Menikahlah denganku Sakura" Kata Sasuke.

Sakura diam, kaget, dan tidak bisa berkata apa-apa. Ajakan menikah yang sungguh tidak keren dan tidak elite. Bukankah biasanya ada kata pembuka, ya setidaknya basa-basi dulu. Tapi, Sakura tahu siapa Sasuke. Orang yang sama sekali bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.

"Aku tahu, aku egois. Waktuku di dunia ini tidak banyak. Tapi, aku ingin sekali membuatmu bahagia. Aku menyukaimu semenjak kita masih anak-anak. Saat bersamamu, kesedihan yang aku rasakan bisa aku lupakan. Kau selalu mendukungku. Karena itu aku ingin menjadikanmu milikku selamanya." Kata Sasuke "Apakah kau juga punya perasaan yang sama denganku?"

Sakura terdiam. Jawaban apa yang bisa dia berikan pada Sasuke. Tak pernah dia bayangkan Sasuke akan melamarnya.

"Aku juga sangat menyukaimu Sasuke" Kata Sakura seraya menunduk. Ada perasaan senang dalam hati Sasuke. Setidaknya dia bisa merasa bahagia di sisa hidupnya.

"Sakura aku―" Kata Sasuke dengan raut muka bahagia.

"Maaf, tapi perasaan suka yang aku rasakan hanya sebatas rasa suka sebagai seorang sahabat. Kau tahu kan, aku punya prinsip kalau seorang sahabat tak akan pernah menjadi kekasih." Kata Sakura menatap Sasuke "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa menerima lamaranmu. Maaf aku harus pergi"

Selama beberapa saat Sasuke terpaku ditempat itu, sendirian. Sakura menolaknya. Dia tidak memungkiri hatinya sesakit ini. Tapi, dia bisa memahami alasan Sakura. Siapa yang mau menikah dengan orang sudah dipastikan akan mati. Hanya itu alasan yang bisa terpikirkan.

XXX

Sakura berjalan dengan langkah gontai, air mata keluar dari manik hijaunya. Tak mempedulikan tatapan orang-orang yang lalu lalang, Sakura berusaha menghapus air mata yang tak hentinya keluar. Hingga akhirnya, kakinya mengajaknya ke sebuah taman kota.

Sakura terkejut, ada seseorang yang menyodorkan saputangan padanya. Sakura mendongak, dilihatnya pria yang sepertinya tak asing.

"Hyuuga" Kata Sakura

"Kau masih ingat aku air matamu. Jangan menangis ditempat seperti ini." Kata Neji

Sakura menyeka airmatanya dengan saputangan yang diberikan oleh Neji

"Kalau kau mau, kau bisa cerita padaku apa masalahmu" Kata Neji lagi.

Awalnya ada perasaan enggan untuk menceritakan apa yang sekarang dia rasakan. Tapi, persaan sedih yang dia rasakan saat ini, sangat menyesakkan dadanya.

"Aku baru saja menolak ajakan menikah seseorang" Kata Sakura

Ada yang aneh dengan gadis ini, pikir Neji. Kenapa dia menangis, bukankah dia yang menolak, bukan ditolak.

"Aku hanya tidak mengerti, kenapa aku bisa mengatakan itu padanya. Aku merasa sangat jahat, padahal itu adalah permintaan dia yang terakhir." Kata Sakura.

"Kau merasa bersalah, karena menolaknya?" Tanya Neji.

Sakura menggangguk.

"Lalu kenapa kau tolak?kalau pada akhirnya kau akan merasa bersalah dan menyesal lalu menangis." Kata Neji

"Bukan itu, aku akui aku menyukainya. Hanya saja, aku menganggapnya teman. Dan aku berprinsip, seorang sahabat tak akan pernah menjadi seorang kekasih." Kata Sakura

"Lalu kau menolaknya hanya gara-gara prinsip bodohmu itu?" Tanya Neji

"Hei!prinsipku itu bukan prinsip bodoh. Jangan bicara sembarangan." Kata Sakura sewot.

"Lalu kalau bukan prinsip bodoh, apalagi?kau menyia-nyiakannya hanya karena kau berprinsip seperti itu." Kata Neji

Sakura diam. Bukan hanya itu alasan dia menolak Sasuke.

"Aku hanya ingin bahagia, begitu juga dengannya" Kata Sakura lirih. Meski begitu Neji masih bisa mendengarnya dengan jelas. "Mungkin kalau aku sangat mencintainya, aku akan menerimanya. Tapi, aku hanya tidak ingin nantinya, dia akan lebih menderita karena aku. Menikah dengan orang yang tidak mencintainya sepenuh hati. Bukankah dengan begitu, aku ataupun dia sama-sama tak akan bahagia"

Neji menghela nafas panjang.

"Kalau itu alasannya, aku rasa aku bisa terima. Tapi kalau alasan prinsip, itu bodoh sekali" Kata Neji

Belum Sakura membela diri, Neji menarik lengannya. Mengajaknya meninggalkan taman.

"Hei!Lepaskan tanganku, kau mau mengajakku kemana?" Tanya Sakura.

Neji diam seraya menarik lengan Sakura. Lalu behenti didepan sebuah toko.

"Selamat datang. Anda mau pesan apa?" Kata pelayan

"Aku mau es krim rasa coklat" Kata Neji "Kau mau rasa apa?"

"Aku stroberry" Kata Sakura

Tak menunggu lama, pesanan mereka jadi.

"Ayo kita makan disana" Kata Neji menunjuk kursi besi yang berada dekat toko.

Mereka berdua menikmati es krim yang sudah dipesan.

"Akhirnya kau berhenti menangis" Kata Neji

Sakura memajukan bibirnya, merajuk.

"Jangan berekspresi seperti itu. Kau jadi terlihat sangat manis" Kata Neji

Jantung Sakura berdetak kencang. Perasaan ini tak pernah dia rasakan sebelumnya. Pipinya panas. Sakura tahu, dia baru mengenal Neji. Tapi, ada perasaan nyaman dan aman saat dia bersama Neji. Perasaan yang tak pernah dia rasakan dengan Sasuke. Perasaan pada Sasuke, adalah perasaan sayang seperti layaknya seorang saudara. Tapi, dengan Neji, ada perasaan hangat menjalari hatinya saat dia bersama Neji. Meski ini pertama kalinya dia jalan bersama Neji.

"Baru kali ini, ada orang menangis karena sudah menolak seseorang. Biasanya kan, karena ditolak." Kata Neji seraya tersenyum.

Jantung Sakura berdetak lebih kencang, wajah neji yang tersenyum sungguh sangat tampan. Pipinya semakin panas, semburat merah pada pipinya terlihat semakin merah. Neji tahu itu dan dia menyukainya.

XXX

Gelak tawa selalu terdengar dari mulut Hinata dan Naruto, di atas vespa Hinata, mereka berdua membelah ramainya jalanan kota. Terlihat aura kegembiraan di wajah mereka.

"Hinata kita sudah sampai" Kata Naruto, diikuti anggukan Hinata.

"Ayo masuk Naruto" Ajak Hinata seraya membuka pintu apartemennya, dengan di ikuti Naruto. "Duduklah"

"Kau tinggal sendirian disini?" Tanya Naruto seraya duduk.

"Tidak, aku bersama Ino" Jawab Hinata, seraya membawa minuman dingin untuk Naruto

"Ceritakan padaku, bagaimana kehidupanmu selama ini. Terakhir kita bertemu setelah kita lulus dari sekolah menengah. Lalu bagaimana kau bisa ada di apartemen si Uchiha itu?" Tanya Naruto

Hinata menceritakan kehidupannya setelah dia lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di sebuah restoran. Begitu juga dengan keberadaannya di apartemen Uchiha.

"Kau tidak berubah Hinata. Kau masih tidak bisa mengingat jalan yang kau lewati. Untung saja kau bertemu dengan si Uchiha itu, kalau kau bertemu dengan orang jahat, aku tidak tahu apa aku bisa bertemu dengan mu lagi." Kata Naruto

"Kenapa kau yakin sekali, dia orang yang baik?" Tanya Hinata

"Aku memang tidak kenal, tapi aku tahu dari bos ku, kalau dia itu orangnya sangat baik. Setiap tahun dia selalu menyisihkan uang hasil kerjanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Bahkan hampir semua orang yang bekerja untuknya adalah orang-orang yang pernah ditolongnya. Tapi, sayang dia tidak bisa menikmati hasil kerja kerasnya lebih lama. Rumor yang aku dengar, dia akan mati di usianya yang ke 21." Kata Naruto panjang lebar " Kasian sekali dia"

"Memangnya dia punya penyakit yang parah?aku lihat dia baik-baik saja, bahkan tidak tampak seperti orang sakit" Tanya Hinata

"Aku tidak tahu pasti, bukankah tadi aku bilang itu rumor. Memangnya aku tadi bilang kalau dia sakit?" Tanya Naruto, Hinata menggeleng "Yang aku dengar, itu karena dia kena kutukan. Ada yang bilang ibunya meninggal juga karena kutukan."

"Benarkah?" Tanya Hinata tak percaya. Di jaman seperti ini, masih ada cerita semacam itu. "Aku rasa itu bukan rumor, tapi berita yang tidak bisa dipercaya. Di jaman seperti ini, mana ada hal semacam itu. Iya kan" Kata Hinata

"Ya, mungkin kau benar juga" Kata Naruto seraya meminum air dingin yang ada di depannya." Baiklah, aku permisi dulu. Ada pekerjaan yang masih harus aku lakukan. Kau masih menyimpan no ponselku kan, no ku masih yang itu. Bye!"

"Ehm! Hati-hati" Kata Hinata seraya menutup pintu apartemennya.

Perkataan Naruto soal Sasuke, membuat Hinata berpikir ulang, memutar kembali memori pertemuan pertamanya dengan Sasuke. Banyak pertanyaan muncul di otaknya. Apakah alasan bunuh diri Sasuke karena kutukan?apakah benar kutukan itu ada?kalau pun benar, kutukan seperti apa yang menimpa Sasuke?.

.

.

.

.

3 bulan sudah berlalu sejak kejadian yang dialami Hinata. Pertemuannya dengan Sasuke, juga pertemuannya dengan Naruto. Orang yang diam-diam dia sukai. Bahkan sampai sekarang pun, perasaan itu masih tersimpan dengan rapi dalam hatinya.

Hinata tampak tak bersemangat hari ini, dari wajahnya tersirat kesedihan. Chouji si pemilik restoran memperhatikan sikap Hinata yang terlihat tak seperti biasanya, akhirnya Chouji menghampiri Hinata yang sedang membersihkan meja, karena sebentar lagi mereka akan tutup.

"Kau tak apa Hinata?" Tanya Chouji

Mendengar suara baritone Chouji, tanpa sengaja Hinata menjatuhkan gelas dan piring yang sedang dia bawa.

"Maaf bos!saya akan menggantinya nanti" Kata Hinata seraya memungut pecahan gelas dan piring yang jatuhkan.

"Jangan terlalu formal denganku Hinata. Aku ini kan temanmu." Kata Chouji memprotes sapaan Hinata padanya. "Sudahlah, biarkan Kaname yang bersihkan. Kau pulanglah"

"Tapi, aku nggak apa-apa kok" Kata Hinata

"Kalau aku bilang pulang, kau harus pulang " kata Chouji "Ini perintah"

Hinata mengangguk. Dengan segera dia mengganti baju kerjanya dan segera meninggalkan tempat kerjanya. Dengan malas, Hinata melewati jalan yang masih terlihat ramai, meskipun malam ini sudah tengah malam.

Ingatan Hinata masih merekam dengan baik kejadian yang baru terjadi. Orang yang dia sukai ternyata sudah memiliki wanita spesial dalam hidupnya. Gadis yang sangat cantik dan juga terlihat sangat anggun dan terlihat dari kalangan orang berada. Dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang pelayan restoran, sungguh sangat jauh perbandingannya. Sungguh menyakitkan harus menerima kenyataan bahwa orang yang disukai tak pernah menganggapmu lebih dari sekedar teman.

Padahal 3 bulan ini dia merasa sangat dekat dengan Naruto, bahkan dia juga merasa ada kesempatan baginya untuk akhirnya bisa bersama dengan Naruto. Tapi ternyata dia salah, kesempatan itu hanyalah ilusi. Sikap Naruto yang dia tunjukan padanya, ternyata hanyalah sikap pada seorang teman dan dia salah paham.

Terlalu memikirkan kejadian yang baru dia alami, mengantarkan dia ke tempat yang tidak pernah dia lewati. Dan sekali lagi, Hinata tersesat. Menyadari dia sudah berjalan terlalu jauh dari arah yang harusnya dia lewati, Hinata mulai mengingat jalan mana yang sudah dia lewati dan berusaha mencari arah jalan yang benar. Dalam hati dia mengumpat atas kebodohan yang telah dia lakukan. Semakin dia mengingat dan mencari, semakin Hinata lupa dan tersesat.

Kakinya lelah dan sedikit kesemutan, berjalan berputar-putar dan melewati jalan yang sama, hingga akhirnya dia menyerah dan duduk di kursi kayu yang terletak tak jauh dari dirinya berdiri. Merutuki kebodohannya sendiri dan menunduk. Hatinya sangat hancur..

XXX

3 bulan sudah Sasuke berusaha melupakan Sakura, lebih tepatnya penolakan Sakura. Berusaha lebih menenangkan hati dan pikirannya. Perasaanya pada Sakura sampai saat ini tak pernah berubah, bahkan sampai saat ini. Meskipun setelah itu Sakura berusaha menjauh dari dirinya, tapi rasa sayangnya pada Sakura tak pernah berkurang sedikitpun.

Sasuke menikmati Coffee latte buatannya sendiri, di balkon atas menikmati malam sambil melihat jalanan yang mulai -lama di balkon, membuatnya bosan. Akhirnya dia melangkahkan kakinya keluar apartemen. Mungkin dengan sedikit jalan-jalan di tengah malam, bisa membantu dirinya tidur nyenyak malam ini. Dengan sepeda miliknya, dilewatinya pohon-pohon yang berjajar dengan apik di jalanan apartemennya. Dan memutuskan untuk pergi ke taman. Dan tak disangka dia bertemu dengan seseorang yang dia kenal.

"Hyuuga!Kau ada disini?" tanya Sasuke

Hinata yang merasa namanya di panggil, menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

"Jangan bilang kau tersesat lagi" Kata Sasuke

Hinata kembali menundukkan kepalanya tak ingin membaalas kata-kata yang dilontarkan Sasuke padanya. Saat ini dia hanya ingin kesunyian. Tak apa meskipun tersesat, setidaknya besok pagi dia bisa menelpon Ino, karena kali ini ponselnya tidak tertinggal di tempat kerja seperti waktu itu. Jadi dia bisa tenang.

"Kenapa diam saja" Tanya Sasuke

Tapi Hinata betah dengan diamnya, tak menggubris perkataan Sasuke yang berada tak jauh dari dirinya.

Melihat Hinata murung, muncul niatan jahil di otak Sasuke. Menjahili sesorang disaat moodnya sedikit buruk sepertinya lumayan membuatnya sedikit senang, pikir Sasuke.

"Ya, baiklah kalau kau memang tak mau di ajak bicara. Aku pergi." Kata Sasuke.

Hinata masih diam. Sasuke pun beranjak dari tempatnya berdiri, meninggalkan Hinata sendiri. Tapi dalam beberapa langkah, Sasuke berhenti lalu membalikan badannya.

"Hei!apa kau tahu kalau di daerah sini sering terjadi hal-hal yang menakutkan. Kabarnya banyak gadis-gadis hilang secara misterius begitu saja saat mereka duduk termenung, persis seperti yang kau lakukan saat ini. Apalagi di tengah malam seperti ini." Kata Sasuke seraya berjalan lagi.

Bulu kuduk Hinata meremang, mendengar perkataan Sasuke. Terdengar suara ranting-ranting pohon bersentuhan, membuat suara seakan-akan ada seseorang yang sedang bergerak-gerak di antara semak-semak. Muncul pikiran negatif dalam otak Hinata. Tak ingin menjadi salah satu gadis yang hilang secara misterius, Hinata akhirnya beranjak dari tempat dia duduk dan mencari Sasuke. Dengan tergesa-gesa, Hinata lari dan mencari , sayang Sasuke sudah tak terlihat. Berulang kali Hinata memanggil nama Sasuke, tapi tak ada jawaban.

"Mencariku?" Tanya Sasuke seraya menyeringai. "Takut?"

Dengan nafas yang terengah-engah, Hinata hanya mengangguk menjawab pertanyaan Sasuke. Ada perasaan lega dalam hati Hinata, setidaknya Sasuke tidak meninggalkannya. Dia pun mengikuti Sasuke.

"Ayo naik" Kata Sasuke. Hinata menurut. Mereka pun berboncengan dan melewati jalanan dan kembali ke apartemen Sasuke.

"Ini sudah terlalu malam, besok kau ku antar. Malam ini menginaplah disini. Lagipula aku sudah lelah dan mengantuk." Kata Sasuke.

"Maaf aku merepotkanmu" Kata Hinata.

Malam ini Hinata menginap di tempat Sasuke, untuk kedua kalinya. Setidaknya, dia bisa memberitahu Ino, kalau dia sedang menginap dirumah seorang teman, meski dalam hal ini kata "teman" sepertinya juga kurang pas.

Hinata berusaha memejamkan matanya, berusaha membawa kantuk dalam matanya, tapi usahanya tak berhasil. Pikiranya masih dipenuhi dengan Naruto dan patah hati.

Begitu juga dengan Sasuke. Pertemuan kembali dengan Hinata, mengingatkannya saat pertemuan yang pertama. Mengingat hal itu, membuat Sasuke tertawa kecil, apalagi usaha menjahili Hinata juga terbilang sukses. Setidaknya wajah Hinata yang ketakutan memberi sedikit hiburan. Tapi di hatinya ada perasaan hampa sejak lamarannya ditolak Sakura.

Sejak kejadian itu, Sakura berusaha menghindarinya, bahkan hampir tak pernah menelponnya. Dan Sasuke merasa semakin kesepian.

Dua manusia yang berada dalam atap yang sama, sama-sama patah hati dan sama-sama terlelap melepaskan kepedihan hati dan berharap bisa mimpi indah.

XXX

"Hinata" Kata seorang perempuan.

"Siapa?" Tanya Hinata

"Lindungilah Uchiha, aku mohon padamu" Kata Wanita itu dengan raut muka sedih.

"Kau siapa?" Tanya Hinata lembut.

"Lindungilah dia." Kata wanita itu lagi

"Kenapa harus aku yang melindunginya?melindunginya dari apa?" Tanya Hinata

Wajah wanita itu semakin kabur, semakin lama semakin tak terlihat dan menjauh.

Hinata terbangun dari tidurnya, mimpi aneh lagi. Di datangi wanita yang berwajah yang mirip dengan dirinya.

"Kenapa aku selalu bermimpi dia lagi?dan kenapa selalu Uchiha yang dia sebut?" Kata Hinata "Apa hubungan wanita itu dengan Uchiha?Uchiha siapa yang dia maksud?"

Pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan sendiri tanpa pernah ada jawaban, membuat kepala Hinata sakit. Hingga akhirnya Hinata turun dari tempat tidurnya dan keluar kamar.

Apartemen Sasuke masih sama, tak ada yang berubah, masih sepi. Dilangkahkan kaki Hinata menuju dapur, sepertinya Hinata sudah mulai terbiasa di apartemen Sasuke. Menenggak air putih yang dia ambil di dalam kulkas, menjernihkan seluruh tubuh yang baru saja terbangun dari tidur dan menyegarkannya. Di saat sedang menikmati acara bangun paginya, Hinata mendengar lamat-lamat suara gaduh yang berasal dari kamar Sasuke. Meskipun terdengar lirih, tapi Hinata yakin sepertinya ada yang sedang merintih kesakitan. Dengan segera Hinata berlari menuju lantai 2 dimana suara itu berasal, semakin dia dekat semakin jelas suara rintihan dari kamar yang dia yakini adalah kamar Sasuke. Dengan takut-takut Hinata membuka pintu kamar itu perlahan. Dilihatnya seseorang yang sedang meringkuk di dalam selimut seraya mengerang kesakitan, dihampirinya dengan segera dan di singkapnya selimut yang menutupi orang itu, betapa terkejutnya Hinata melihat Sasuke berdarah-darah.

Darah keluar dari mulut, telinga dan hidung. Tubuh Hinata gemetar, hatinya miris melihat Sasuke kesakitan. Tidak pernah dia melihat orang yang kesakitan seperti yang dialami Sasuke saat ini Diulurkannya tangan Hinata menyentuh tubuh Sasuke.

"Uchiha, kau kenapa?" Tanya Hinata dengan suara yang gemetar.

"Hyuu..ga, sakit, sa..sakit seka..li" Kata Sasuke terbata-bata dengan nafas yang terengah-engah.

Dalam keadaan seperti ini Hinata berusaha untuk kuat, dipeluknya Sasuke yang kesakitan. Hanya cara ini yang bisa dia lakukan. Tak terasa air mata Hinata jatuh dari sudut kelopak matanya.

Suara erangan Sasuke semakin membuat hati Hinata miris dan pilu. Semakin di eratkannya pelukannya pada Sasuke dan Sasuke pun membalas pelukan Hinata. Dipeluknya Hinata dengan sangat erat, seraya menahan kesakitan yang luar biasa.

"Apa yang bisa ku lakukan untukmu Uchiha?" Tanya Hinata dengan berurai air mata.

Tak ada jawaban dari Sasuke, hanya erangan-erangan pilu yang semakin menjadi. Lalu, Hinata teringat dengan salah satu teman Sasuke yang dulu pernah memberikannya obat saat dia sakit.

"Sebaiknya aku menelponnya" Kata Hinata seraya mencoba melepas pelukan Sasuke yang sangat erat, setelah terlepas, dicarinya ponsel Sasuke yang tergeletak di lantai. Dicarinya kontak nomor Shikamaru.

"Dokter Shika! Bisakah kau segera kemari?Uchiha sedang kesakitan" Kata Hinata seraya mengakhiri panggilan telponnya.

Ditempat lain Shikamaru yang mendapat telpon dari Hinata, segera menuju ke apartemen Sasuke

"Sial, kenapa bisa secepat ini?" Kata Shikamaru sedikit kesal dan khawatir. "Tenten, sampel darah untuk Sasuke apakah masih ada?"

"Ada apa?sepertinya kau kebingungan." Tanya Tenten, asisten Shikamaru di laboratorium pribadi miliknya.

"Sepertinya kita kalah, Sasuke sudah menunjukkan gejala-gejala yang aku prediksikan akan terjadi 6 bulan kedepan. Saat ada seseorang yang menelponku tadi, aku mendengar suara erangan kesakitan Sasuke." Kata Shikamaru

"Maksudmu Nona Haruno sekarang ada bersama Sasuke?" Tanya Tenten seraya mengambil sampel darah yang diminta Shikamaru dan menyerahkannya

"Sepertinya bukan, aku kenal betul suara Sakura." Kata Shikamaru "Apa hanya ini?"

Tenten mengangguk.

"Itu yang terakhir" Kata Tenten. "Dan kita sudah tidak punya lagi darah yang akan kita uji"

Shikamaru terduduk lesu, harapannya pupus, dia putus asa. Hasil kerja kerasnya selama ini tak membuahkan hasil sama sekali.

"Dokter!Dokter! Kau baik-baik saja?" Tanya Tenten "Jangan putus asa, kita msih punya waktu 9 bulan untuk mencari penawar untuk Sasuke. dan aku yakin kita pasti bisa menemukannya. Jangan putus asa, Sasuke mengandalkanmu."

Mendengar kata-kata Tenten, Shikamaru sadar dan merasa saat ini bukan saatnya untuk menyerah. Kata-kata Tenten bahwa masih ada 9 bulan kedepan, bukan hal yang mustahil baginya untuk menemukan penawar untuk Sasuke. Shikamaru segera beranjak dan pergi menuju apartemen Sasuke.

"Terimakasih Tenten" Kata Shikamaru.

Dengan kecepatan penuh, Shikamaru mengemudikan mobilnya dengan cepat. Tak peduli lampu merah, dia pacu mobilnya bahkan lebih cepat. Sasuke menunggunya saat ini.

Setelah berada di depan apartemen Sasuke, Shikamaru segera berlari menuju kamar Sasuke. Dapat dia dengar dengan jelas suara kesakitan yang terdengar sangat memilukan.

"Kau ada disini?" Tanya Shikamaru

"Nanti saja aku jawab. Sebaiknya segera obati Uchiha, aku tidak sanggup mendengar erangannya." Kata Hinata

Dengan segera Shikamaru menyuntikkan darah yang dia bawa, darah terakhir yang dia yakini sebagai penawar. Setelah beberapa saat, Sasuke terlihat mulai nyaman, nafasnya yang tersengal-sengal sekarang sudah mulai beraturan. Hinata dengan segera mengambil baskom yang berisi air. Di sekanya darah yang keluar dari mulut, telinga dan hidung Sasuke. dan dibantu Shikamaru, Hinata mengganti baju Sasuke yang basah karena keringat, lalu mereka berdua keluar kamar dan meninggalkan Sasuke yang tertidur.

Hinata dan Shikamaru duduk di sofa ruang tamu, keduanya terdiam, tidak ada yang berusaha memulai pembicaraan. Dapat terlihat dengan jelas dimata Shikamaru, Hinata mengalami shock, terlihat bekas air mata di pipi Hinata.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Shikamaru memulai pembicaraan.

"Ya, aku hanya terkejut melihat dia seperti itu." Kata Hinata " Apakah dia punya penyakit yang mematikan?"

Shikamaru terdiam dan bimbang. Apakah harus memberitahu Hinata atau tidak. Lalu Shikamaru teringat akan sampel darah yang dia minta pada Hinata. Hanya saja dia lupa menanyakannya pada Tenten soal hasilnya. Tapi, setidaknya dia masih punya harapan. Hinata mempunyai ciri-ciri yang sama dengan orang yang waktu itu bertemu dengannya di sebuah riset yang dia lakukan dengan beberapa temannya, dia dikenalkan pada Shikamaru sebagai penyandang dana atas riset yang dia lakukan. Hanya manik violet yang mengingatkan Shikamaru pada orang itu, yang ternyata juga dimiliki oleh Hinata.

"Ya, bisa dikatakan seperti itu." Jawab Shikamaru.

"Lalu yang kau suntikkan tadi itu, seperti darah?" Tanya Hinata

"Benar" Jawab Shikamaru singkat.

"Benarkah?Jadi itu darah ya?" Tanya Hinata tak percaya, sebenarnya pertanyaannya tadi hanya dugaan. Tak disangka dugaannya benar.

"Kenapa?Menurutmu aneh?" Tanya Shikamaru.

Hinata mengangguk.

"Tapi maaf aku tidak bisa menceritakan rahasia kesehatan klienku pada orang lain yang bukan keluarganya." Kata Shikamaru "Baiklah aku pergi dulu. Sepertinya Sasuke akan baik-baik saja sementara ini."

Sebelum Shikamaru meninggalkan apartemen Sasuke, ada perasaan janggal dalam benaknya. Seperti ada yang tertinggal. Lama dia berdiri di depan pintu, hingga akhirnya dia ingat apa yang tertinggal.

"Ehmm, waktu itu aku pernah meminta darahmu." Kata Shikmaru "ada seorang pasienku membutuhkan darah yang ternyata sama dengan yang kau punya dan besok kami akan mengoperasinya sedangkan stok yang kami punya tidak mencukupi. Bisakah kau membantu?" Tanya Shikamaru.

"Tentu, besok aku harus datang kemana?" Tanya Hinata.

"Berikan aku nomer ponselmu, aku akan emailkan alamatnya."Kata Shikamaru seraya mengeluarkan ponsel miliknya dan mencatat no Hinata.

"Baiklah aku pergi dulu. Setelah Sasuke bangun, sebaiknya kau beri dia minuman hangat. Dan suruh dia makan bubur untuk sementara waktu." Kata Shikamaru lagi "Besok, aku menanti kedatanganmu di rumah sakit"

Shikamaru menjalankan mobilnya dengan tenang, terbesit harapan dari raut muka Shikamaru. Kali ini, keyakinan akan menyembuhkan Sasuke semakin tinggi.

"Tenten, bisakah kau beritahu aku, bagaimana hasil dari sample B?"Tanya Shikamaru "Benarkah?baiklah aku segera kesana"

"Aku rasa gadis itu memang malaikat yang diutus Tuhan untukmu Sasuke". Kata Shikamaru.

XXX

Di kediaman Fugaku Uchiha, Itachi Uchiha putra pertama Fugaku baru kembali dari pencarian gulungan naskah yang berisi tentang sejarah Klan Uchiha.

"Kau sudah kembali Itachi?Bagaimana hasilnya?" Tanya Fugaku tak sabar

"Hei, Hei!Apa ayah tidak menanyakan kabarku dulu?Aku ini hampir mati." Kata Itachi santai

"Tapi kenyataannya kau kan masih hidup. Jadi sepertinya kau baik-baik saja" Kata Fugaku "Bagaimana?"

Itachi menyerahkan gulungan naskah yang berhasil dia dapatkan dengan susah payah.

"Lalu bagaimana?" Tanya Fugaku

"Apanya yang bagaimana?" Kata Itachi

"Jangan berlagak bodoh. Ayah tahu kau pasti sudah membukanya, dan kalau kau sudah melakukannya, kau pasti sudah menganalisanya kan, Itachi" Kata Fugaku

"Ternyata dugaan ayah tidak pernah meleset. Ayah memang mengerti aku sekali ya" Kata Itachi

"Cepat katakan, tidak usah berbelit-belit" Kata Fugaku

"Gulungan ini hanya berisi awal mula Klan Uchiha, kejayaan bahkan sampai kemunduran Klan. Tapi, tak ada hubungannya dengan kutukan yang menimpa Klan." Kata Itachi

"Hanya begitu saja?" Tanya Fugaku tak percaya

"Kalau ayah tidak percaya padaku, ayah bisa membaca sendiri gulungan itu." Kata Itachi

Tak ada jawaban dari Fugaku, dia percaya Itachi sudah mengatakan semua isi dari gulungan naskah itu.

"Istirahatlah. Besok kita bicarakan lagi" Kata Fugaku.

Itachi pun segera meninggalkan ruang pribadi Fugaku menuju kamar pribadinya. Disana Konan sedang merapikan baju-baju yang mereka bawa selama bepergian mencari kebenaran akan kutukan itu.

"Kau sudah kembali." Kata Konan seraya menoleh ke arah Itachi yang membuka pintu kamar.

Dipeluknya Konan dari belakang, istri yang sangat dia cintai, disandarkannya kepala Itachi di pundak Konan, sesekali mencium aroma yang menguar dari tubuh Konan.

"Kenapa?Apa kau bertengkar lagi dengan ayah?" Tanya Konan yang masih sibuk menata baju-bajunya.

"Tidak, dia percaya dengan semua yang aku katakan." Kata Itachi seraya melepas pelukannya dan menarik tangan Konan, mengajaknya duduk.

"Tapi kenapa mukamu masih kusut begitu?" Tanya Konan "Bukankah setelah ayah tahu kalau kutukan itu bisa dipatahkan, tugasmu akan lebih ringan. Kau jadi tidak perlu pergi ke penjuru dunia untuk mencari info soal Klan"

Itachi menghela nafas panjang, seolah-olah ingin melepas semua beban berat yang dia rasakan selama ini.

"Bagian itu, aku sama sekali tidak menceritakannya pada ayah. Sementara ini aku tidak mau dia tahu." Kata Itachi

"Kenapa?Bukankah setelah bertahun-tahun akhirnya kau bisa membebaskan Sasuke dari penderitaannya?" Tanya Konan

"Apa kau tahu apa yang akan dilakukan si Tua itu kalau dia tahu bahwa sebenarnya kutukan itu bisa dipatahkan? Tanya Itachi

"Aku tidak peduli asalkan kau tidak dalam situasi hampir terbunuh seperti waktu itu. Apa kau tahu aku hampir mati, melihatmu terluka seperti itu" Kata Konan terisak

"Waktu itu kita kan memang sedang bertransaksi di pasar gelap. Hal seperti itu sudah aku perhitungkan. Dan yang pasti, waktu itu tidak akan terulang, bukankah aku sudah mendapatkan apa yang aku ingin dapatkan"

Konan hanya terdiam.

"Dengarkan aku Konan, aku punya alasan kenapa kau tidak memberitahu si Tua itu soal penawar kutukan itu. Asal kau tahu dia tidak akan segan-segan mencari semua keturunan Hyuuga demi untuk mematahkan kutukan itu. Dan itu artinya Klan Uchiha dan Klan Hyuuga akan saling bunuh." Kata Itachi "Bukankah kau sudah tahu cara mematahkan kutukan itu kan?"

Konan mengangguk. Apa yang dikatakan Itachi, memang ada benarnya dan kemungkinan besar akan terjadi.

"Sudahlah, kita pikirkan lagi saja. Aku capek sekali. Ayo! Kita tidur" Kata Itachi seraya menggandeng tangan Konan menuju peraduannya yang hangat.

Malam ini, Itachi tak bisa memejamkan matanya sekalipun matanya sudah sangat berat menahan kantuk. Yang ada dalam pikirannya hanya Sasuke, adik yang sangat dia sayangi. Apalagi dia sudah berjanji pada Mikoto, ibunya, kalau dia akan menjaga dan melindungi Sasuke dari apapun. Termasuk harus mengorbankan nyawanya sekalipun.

"Sasuke, aku akan menyelamatkanmu dari kutukan sialan itu" Kata Itachi.

*************************************TBC********** ***********************************

Hallo minna,,,,,

Maaf aupdatenya ngaret-ret….

Thx buat yang udah review:

Novan n Yoval

Ryo Aileen

Hiru

Aeni Hibiki

Thx a lot y

Akhir kata, PLEASE REVIEW

Arigatou