CHAPTER 6

Di tempat berbeda, pasangan lain juga sedang menikmati indahnya malam. Layaknya pasangan yang lain, mereka pun saling bergandengan tangan dan terkadang saling membisikkan sesuatu satu sama lain.

"Terimakasih ya, sudah meluangkan waktu untukku. Meskipun kau banyak urusan, tapi kau masih mau menemaniku jalan-jalan." Kata Sakura

Neji mengangguk

"Aku senang, bisa menemanimu jalan-jalan. Asalkan kau senang, aku juga senang." Kata Neji, menatap Sakura yang tersipu dengan pandangan penuh rasa sayang. "Cepatlah masuk"

Sakura menuruti perintah Neji. Secara perlahan, Neji membiarkan punggung Sakura menjauh, lalu berhenti sebentar dan berputar. Tanpa sadar, Sakura sudah berada sangat dekat dengannya. Bahkan dia bisa melihat bulu mata panjang milik Sakura. Dan merasakan nafas Sakura yang hangat menerpa hidungnya.

"Terimakasih" Kata Sakura seraya berlari dan segera masuk kedalam rumahnya, terlihat sekilas, wajah Sakura bersemu.

Neji seperti tersihir, diam dan tak sadar apa yang telah terjadi beberapa menit yang lalu. Sakura menciumnya. Masih terasa bibir lembut Sakura menyentuh miliknya. Tanpa sadar, jemari Neji meraba bibirnya sendiri, memastikan bahwa apa yang baru saja dia alami, bukanlah sebuah mimpi. Ini adalah ciuman pertamanya. Meskipun bukan dia yang berinisiatif melakukannya, tapi tetap saja, itu adalah pertama untuk Neji.

Lamunannya buyar, saat sopir pribadinya memanggil namanya. Dengan segera, ekspresi Neji berubah. Saat dia membalikkan badannya, dan melihat sopir pribadinya sedang berdiri di pinggir jalan, saat inilah Neji yang hangat berubah menjadi pribadi yang dingin.

Dengan segera Neji masuk kedalam mobil dan di ikuti sopirnya.

"Apakah malam ini anda akan mendatanginya?" Tanya si Sopir

"Hm" Jawab Neji "Antarkan aku kesana"

Dalam perjalanan, ponsel Neji bergetar. Dilihatnya nama yang tertera di layar ponselnya. Di bukanya pesan dari Sakura.

From: H. Sakura

Message: Maafkan aku Neji. Tindakanku tadi, benar-benar diluar kuasaku. Aku juga tidak tau, bagaimana aku seberani itu. Kau tidak marah kan? Apa yang aku lakukan tadi, itu ungkapan isi hatiku. Kalau kau marah padaku, kau tidak perlu balas pesanku. Tapi, kalau sebaliknya, aku mohon segera balas pesanku.

Dengan wajah stoic nya, Neji membalas pesan dari Sakura. Tidak mungkin dirinya senyum-senyum sendiri, di saat dia sedang bersama orang lain, meskipun dalam hati tidak seperti itu.

XXX

Sakura yang berada di dalam rumah, berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tindakan yang dia lakukan beberapa menit ya ng lalu, diluar akal sehatnya. Saat itu, entah darimana keberanian itu muncul. Dengan segera dia mengirimkan pesan permintaan maaf pada Neji. Sakura tidak ingin, Neji beranggapan, kalau dia adalah wanita gampangan. Setelah pesan terkirim, Sakura menunggu pesan balasan dari Neji dengan tidak sabar. Selang beberapa menit, ponselnya bergetar. Dibukanya perlahan.

From: H. Neji

Message: Sekarang aku tau bagaimana perasaanmu padaku. Besok ku tunggu kau di tempat pertama kali kita bertemu, dengan waktu yang sama juga. Akan aku berikan jawabanku untuk pernyataan perasaanmu padaku.

Setelah membaca pesan dari Neji, Sakura bingung. Apakah Neji juga punya perasaan yang sama seperti perasaannya pada Neji?atau Neji akan menolak cintanya?. Sepertinya malam ini Sakura tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Saat akan beranjak menuju kamarnya, bunyi bel menghentikan langkahnya dan mengalihkan arah ke depan pintu. Mungkinkah Neji yang membunyikan bel?, mungkinkah Neji tidak bisa menunggu sampai besok?. Pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran Sakura, begitu juga degupan jantung yang tidak berirama. Perlahan Sakura membukakan pintu dan alangkah terkejutnya Sakura, orang yang kini berdiri dihadapannya adalah orang yang sangat ingin dia temui

"Sasuke!" Kata Sakura

XXX

Disebuah ruang keluarga, Hinata menonton acara televisi yang bisa dibilang membosankan. Pikirannya menerawang, mengingat kejadian saat wajah Sasuke begitu dekat dengannya, manik onyx nya yang menghanyutkan, bibirnya yang tipis bahkan aroma mint dari mulut Sasuke bisa Hinata rasakan, kehangatan tangan Sasuke saat menyentuh pipinya yang dingin, membuat aliran darah dalam tubuh Hinata berkumpul di pipinya. Mungkin saat itu wajahnya sudah merah, semerah kepiting rebus. Bahkan meskipun saat ini Sasuke tidak ada di hadapannya, membayangkannya saja membuat wajah Hinata memerah. Hinata menghela nafas panjang, dialihkan pikirannya pada acara TV yang dia tonton meskipun program yang di lihat sangat tidak menarik perhatiannya, dengan sekali pencet, Hinata mematikan televisi yang dia tonton. Beralih pada tumpukan buku yang tertata rapi di rak buku, Hinata mengambil sebuah buku Literatur karangan seoarang pengarang yang dikaguminya. Dibukanya buku yang dia ambil dan mulai membaca. Menit demi menit terlewati, bab demi bab pun terbaca, hingga akhirnya kedamaian yang dia ciptakan sendiri dan terlepas dari bayangan wajah Sasuke, tapi ketukan pintu membuatnya kembali dari kedamaian membaca buku.

Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, pikir Hinata siapa yang mau bertamu malam-malam begini, Hinata juga tidak merasa ada barang milik Sasuke yang tertinggal. Atau mungkin Say, kekasih Ino datang?. Banyak kemungkinan yang muncul di pikiran Hinata. Akhirnya dia membukakan pintu dan terlihat seorang pemuda tampan dengan rambut coklatnya yang panjang dan ter ikat seperlunya, semakin menambah ketampanan si pemuda itu. Tapi, bukan itu yang membuat Hinata terpana. Hinata terpana dengan mata amethyst nya yang indah dan juga tajam. Warna mata yang sama dengan dirinya.

"Maaf anda mencari siapa?" Tanya Hinata

"Yang mulia, akhirnya kami menemukan anda." Kata pemuda itu.

Hinata bingung, dia merasa pendengarannya masih normal saat mendengar kata 'Yang Mulia' terlontar dari pemuda tampan itu.

"Saya tau, anda bingung. Perkenalkan saya Neji, Hyuuga Neji" Kata Neji. "Kita dari keluarga yang sama, Keluarga Hyuuga."

Kata-kata Neji yang langsung ke pokok permasalahan tanpa harus basa-basi membuat Hinata diam bahkan otaknya tak bisa berpikir. Seperti mendapat serangan mendadak, sehingga mendadak pula Hinata terpaku seperti orang bodoh.

"Bolehkah saya masuk?akan saya jelaskan semuanya di dalam." Kata Neji menyadarkan Hinata yang terdiam

"Huh?...Oh! tapi ini sudah larut. Kalau anda mau, sebaiknya besok saja kita bicarakan. Aku tidak menerima tamu di jam-jam seperti ini, apalagi kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Maaf" Kata Hinata

"Maafkan saya Yang Mulia, kalau saya mendatangi anda di waktu yang tidak tepat. Mungkin anda tidak mengenal saya, tapi saya tau betul, anda siapa. Bukankah selama ini, anda mencari sanak saudara yang mungkin mengenal anda?apakah kesamaan bola mata kita, tidak bisa menjadi cukup bukti, bahwa saya adalah salah satu kerabat anda?" Kata Neji "Pastinya anda sudah tau, hanya keluarga Hyuuga yang memiliki bola mata seperti ini. Bukankah anda juga bermarga Hyuuga?Kalau anda penasaran dan ingin tau mengenai masa lalu anda datanglah besok pagi, orang saya akan menjemput anda jam 7 pagi. Kita bertemu di tempat yang seharusnya anda berada."

"Berarti kau tahu siapa orang tuaku dan asal-usulku?" Tanya Hinata

"Tentu. Karena itu datanglah besok pagi. Saya akan menjelaskan semuanya pada anda, bahkan sedetail-detailnya. Kalau anda merasa ragu, anda bisa mengajak seseorang untuk menemani anda" Kata Neji

Hinata terdiam, ini terlalu mendadak dan tidak masuk akal. Kedatangan Neji dan mengaku menjadi salah satu keluarganya membuatnya bingung.

"Ini kartu nama saya. Kalau anda memang ingin mengetahui segalanya, beritahu saya. Dengan segera, sopir saya akan menjemput anda." Kata Neji menyerahkan kartu namanya." Saya permisi"

Dengan begitu, Neji meninggalkan Hinata yang masih terdiam, dan terlihat jelas, raut shock di wajah manisnya.

Hinata menyandarkan punggungnya pada daun pintu, setelah dia menutup pintunya saat Neji berpamitan padanya. Kedatangan orang yang tak dikenal, lalu sekonyong-konyong mengatakan kalau mereka adalah satu keluarga, dan kebenaran akan kedua orang tuanya, semakin membuat Hinata bingung. Haruskah dia datang dan mempercayai semua perkataanya?kalau tidak datang, mungkin kebenaran yang dia cari selama ini tidak akan pernah terungkap.

Hinata merasa tidak ada satu kebohongan dalam tiap perkataan Neji, cara Neji berbicara, bahasa tubuhnya yang terlihat alami dan tidak dibuat-buat, memaksa Hinata berpikir, Neji ada benarnya. Perkataan Neji yang membuat Hinata berpikir bahwa itu bukanlah sebuah kebohongan adalah bola mata mereka yang sama, dan Hinata tahu pasti kalau hanya keluarga Hyuuga yang dianugerahi mata berwarna amethyst itu. Itulah yang dikatakan ibu kepala panti, bahwa saat dia mencari kebanaran akan keluarganya, tandanya hanya ada pada perbedaan mata yang tidak dipunyai banyak orang.

Dimantapkan hatinya untuk menerima ajakan Neji, untuk bertemu dengannya besok pagi. Kedatangan Neji malam ini, membuat Hinata merasa lega, setidaknya dia punya keluarga. Ya, akhirnya sebuah keluarga.

XXX

Dalam perjalanan menuju tempat Itachi, ingatan Sasuke memutar ulang kejadian di depan rumah Hinata. Wajah merah Hinata saat dia mendekatkan dirinya pada gadis itu, membuat Sasuke senyum-senyum sendiri. Wajah Hinata saat itu, sangat manis dan lucu, apalagi saat kedua tangannya menangkup pipi Hinata yang chubby, ingin rasanya Sasuke mencubit gemas, tapi untung saja control terhadap emosi dalam hatinya bisa dia kendalikan, bahkan bayangan untuk mencium Hinata sempat terlintas dalam pikiran Sasuke. Sekali lagi, untung kemampuan untuk mengendalikan emosi dan hasrat dalam diri Sasuke bisa di andalkan.

Saat dia membelokkan mobilnya, Sasuke tersadar, kalau ini adalah jalan menuju rumahSakura. Kenangan akan Sakura dan penolakannya saat itu, masih menyisakan sedikit rasa sakit dalam hati Sasuke.

Tanpa disengaja, Sasuke melihat Sakura dengan seorang laki-laki sedang mengobrol di depan rumah Sakura. Sasuke pun menghentikan mobilnya dan penasaran akan Sakura dan laki-laki itu, yang kemudian Sasuke kenali adalah Hyuuga Neji, Sasuke pun melihat keduanya dari kejauhan. Melihat Sakura begitu bahagia, menyadarkan Sasuke, keinginannya untuk bersama Sakura adalah ke egoisan dirinya.

Ada perasaan lega, ketika Sakura berjalan menjauhi Neji. Tapi, Sakura berbalik dan sedikit berlari, dia mendekati Neji. Manik onyx Sasuke membulat. Sakura mencium Neji. Ada perasaan tidak suka di dalam hatinya, cemburu. Meskipun Sakuralah yang berinisiatif lebih dulu. Tapi, tetap saja hati Sasuke sakit. Tak ingin melihat kelanjutannya, Sasuke pun meninggalkan tempat itu. Yang tanpa Sasuke sadari, air mata mulai membasahi pipinya. Apakah rasa sakit yang dia alami, juga termasuk kutukan yang juga dia terima?Apakah kutukan itu tidak hanya sakit secara jasmani?Haruskah sakit hati ini juga termasuk kutukan?.

Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke memutar balik mobilnya, kali ini adalah usahanya yang terakhir menyatakan perasaannya pada Sakura. Mungkin kalau dia memohon, Sakura akan merubah pikirannya. Mungkin akan ada kesempatan untuknya bersama dengan Sakura, sebelum ajal menjemputnya.

Didepan rumah Sakura, Sasuke tampak ragu. Tapi jemarinya, tak terasa memencet bel rumah Sakura. Tanpa menunggu waktu lama, gadis manis yang dia suka, sekarang berada di depannya. Kerinduan akan wajah dan suara saat Sakura memanggil namanya, serasa terobati dan membuat beban di pundaknya serasa ringan.

"Sasuke, ada apa kau malam-malam kesini?kau tidak marah padaku lagi kan?" Tanya Sakura

Tak ada jawaban muncul dari mulut Sasuke. Dia hanya diam memandangi Sakura yang berada di depannya. Sasuke hanya menghela nafas panjang.

"Apakah benar, sudah tidak ada tempat untuk ku dihatimu Sakura?Apakah waktu 3 bulan cukup untukmu untuk melupakanku?Apakah kau tahu bagaimana perasaanku padamu? "Kata Sasuke. Tersirat kesedihan dalam tiap kata yang dilontarkannya.

Sakura menunduk, tidak tahu harus menjawab apa, semua pertanyaan Sasuke.

"Maaf Sasuke." Jawab Sakura. Air mata mengalir membasahi pipinya. Sakura ingin sekali mengatakan, kalau Sasuke tentu saja selalu ada dihatinya, tentu tahu bagaimana perasaannya padanya, dan tentu saja dalam 3 bulan ini, dia tidak bisa melupakan sosok Sasuke. Tapi Sakura hanya bisa menjawab pertanyaan Sasuke dengan permintaan maaf. Dia tidak ingin menolak perasaan Sasuke untuk yang kedua kalinya. Dia juga tidak ingin melihatnya bersedih.

"Sekalipun ini adalah permintaan terakhirku?"Tanya Sasuke yang kali ini air matanya pun tak bisa di bendung lagi. "Sulitkah mencintai ku Sakura?"

Tetap tidak ada jawaban dari Sakura. Diam cukup lama, Sasuke mengerti, harapannya pupus dan seharusnya dia tidak perlu menanyakan hal yang sama pada Sakura, apalagi setelah peristiwa yang baru saja dia lihat.

"Aku menyedihkan ya?" Kata Sasuke, seraya tersenyum miris.

Sakura ingin sekali memeluk Sasuke, dia tidak ingin melihat Sasuke yang seperti ini, lemah, menangis bahkan terlihat menyedihkan. Sakura juga ingin sekali bisa membalas perasaannya, tapi sekalipun dia berusaha, tetap tidak bisa merubah perasaannya pada Sasuke.

Sakura tetap diam, sekalipun Sasuke bergerak menjauhinya, memunggunginya

"Maafkan aku Sasuke" Kata Sakura lirih dengan air mata yang tak berhenti mengalir.

Dalam keputusasaan, Sasuke berjanji pada dirinya sendiri, kalau dia tidak akan jatuh cinta lagi. Dengan begitu, dia hanya perlu merasakan sakit jasmani. Sepertinya dia juga harus menjauh dari Hinata, sebelum terlambat, terlambat untuk menyadari benih cinta mulai tumbuh, terlambat untuk menyadari setelah kematiannya akan ada yang akan menderita, terlambat untuk menyadari saat cinta sudah mengakar dan mendarah daging dalam tubuhnya. Karena itu, Sasuke harus mencabut benih cinta itu bahkan sampai ke akarnya, hingga tidak ada lagi kesempatan untuk tumbuh lagi lalu mati dalam kesendirian dan tanpa cinta. Dengan begitu, dia akan mati dengan tenang.

Saat Sasuke membuat keputusan dalam keputusasaannya, dia tidak menyadari bahwa cinta itu sebenarnya sudah mendarah daging dalam tubuhnya.

Sasuke berjalan menjauh dari rumah Sakura, janji bertemu dengn Itachi pu dia lupakan. Sasuke merasa kepalanya mulai berat, pusing dan berputar-putar, ditengadahkannya kepalanya melihat langit yang cerah malam itu, sangat indah. Terlihat air mata mengalir dari sudut matanya. Kehidupannya tak seindah dengan langit yang ditatapinya. Lalu pandangannya beralih pada jalan yang dia lewati.

Pandangannya mulai kabur, diusapnya air yang akan menetes dari hidungnya. Alangkah terkejutnya Sasuke, ternyata darah keluar dari hidungnya.

"Tidak, jangan sekarang!" Teriak Sasuke seraya terbatuk dan disaat yang bersamaan, mulutnya pun mengeluarkan darah. "Sial!"

Sasuke pun roboh, tubuhnya lemas. Tubuhnya terasa sakit, seperti pisau kecil yang menusuk-nusuk dari dalam, ototnya menegang, giginya bergemeretak menahan sakit, tubuhnya roboh dan melengkung seperti bola. Malangnya tidak ada orang satupun yang melintas dijalan itu. Pandangannya kabur, rasa sakit yang dia rasakan semakin menjadi, sebelum kegelapan menguasainya dan rasa sakit menghilang, Sasuke merasa sesosok tubuh mendekatinya, sekalipun tampak kabur, Sasuke merasa orang itu adalah Hinata ketika dia mendengar suara Hinata memanggil namanya. Meskipun hanyalah sebuah mimpi, suara Hinata membuat hatinya hangat. Dan kegelapan menguasai dirinya sepenuhnya. Benarkah Sasuke bermimpi?

_TBC_

Hai Readers... (^^)

Maaf Update super lelet, T_T

Maaf lagi kalo ceritanya membosankan dan g ngena di hati para readers.

Thank's buat yang udah review, dan capek2 baca fict payah ini (pundung di pojokan kamar)

So, Review ya...

Arigatou