CHAPTER 7
Hinata sedang memikirkan kejadian yang baru saja dia alami. Sampai-sampai dia tidak menyadari Ino memanggil namanya.
"Hinata" Panggil Hinata seraya mengguncang bahu Hinata lembut.
"Huh?Kau sudah datang" Kata Hinata
"Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Ino "Aku membawakanmu makanan, tapi kau hanya diam saja."
"Maaf Ino." Kata Hinata seraya tersenyum "Kau bawa apa?"
"Pizza" Jawab Ino seraya duduk dan membuka bungkusan yang dia bawa lalu memasukkan potongan pizza dan memakannya "Tumben, jam segini kau belum tidur ?"
"Emm.." Jawab Hinata
"Jadi?" Tanya Ino
"Apanya yang "Jadi"?" Tanya Hinata
"Apa yang sedang kau pikirkan?sampai-sampai kau tidak tahu kalau aku datang" Kata Ino
Diam sejenak seraya memasukkan potongan terakhir pizza yang dipegang kedalam mulutnya, Hinata akhirnya buka suara
"Ada pria yang datang kesini. Dia bilang namanya Neji Hyuuga, dan mengaku kalau dia adalah salah satu keluargaku. Besok aku dan dia akan bertemu di alamat yang dia berikan padaku. Hanya saja..." Kata Hinata ragu
"Hanya saja apa?" Tanya Ino
"Hanya saja aku ragu. Setelah bertahun-tahun, tiba-tiba saja datang seseorang yang mengaku sebagai keluarga. Menurutmu apakah aku perlu bertemu dengannya?" Tanya Hinata "Dia bilang, aku juga boleh mengajak seseorang untuk menemaniku."
Dalam hati, Ino setuju dengan perkataan Hinata tentang kedatangan orang yang tiba-tiba itu. Tapi, kalau tidak sekarang, bukankah kesempatan tidak akan datang untuk keduakalinya, apalagi Hinata boleh mengajak seorang teman.
"Sebaiknya kau datang, ini adalah kesempatanmu Hinata . Aku akan menemanimu, lagipula besok aku libur. Kalau pria itu macam-macam, akan aku hajar dia nanti." Kata Ino bersemangat.
Hinata merasa lega, Ino akan menemaninya bertemu dengan Neji dan setuju dengan perkataan Ino, kalau ini adalah kesempatan langka yang tidak bisa dilewatkan.
"Kau mau minum apa Ino?" Tanya Hinata
"Terserah kau saja." Jawab Ino
Di dapur, Hinata membuat secangkir teh untuk dirinya dan kopi untuk Ino. Dengan membawa nampan, dia berjalan ke ruang tamu, dimana Ino sedang nonton tv sambi mengunyah pizza. Hinata pun duduk disebelah Ino, ikut nonton acara tv dan mengambil teh yang ada di depannya. Saat akan meminumnya, tiba-tiba saja cangkir yang dia pegang, terbelah jadi dua. Air teh yang masih panas, menyentuh kulit Hinata, membuat Hinata dan Ino terkejut dan dengan segera Ino membawa Hinata ke dapur, dan mencuci tangan Hinata yang terkena teh panas.
"Kau tak apa?" Tanya Ino khawatir
Hinata mengangguk.
"Ada apa Hinata?" tanya Ino lagi
Hinata terdiam, pikirannya teringat Sasuke. Perasaannya menjadi tidak enak, kekhawatiran Hinata akan Sasuke beralasan, sebelumnya Sasuke pernah tak sadarkan diri di rumahnya. Detak jantungnya semakin tidak terkendali, keinginan untuk bertemu dengan Sasuke sangat mendesak. Dia ingin memastikan kalau Sasuke baik-baik saja. Tapi hati kecilnya berkata lain.
"Bisakah kau mengantarkan aku ke apartemen Sasuke, Ino?" Pinta Hinata
Ino bingung, muncul pertanyaan dalam pikirannya, kenapa tiba-tiba ingin ke apartemen Sasuke. Tapi Ino hanya diam, dan mengangguk.
Dalam perjalanan ke apartemen Sasuke, Ino sesekali melihat Hinata yang duduk disebelahnya sambil melihat jalan. Hinata hanya melihat jalanan yang mulai sepi melalui jendela mobil Ino. Nampak raut khawatir terlukis di wajah manis Hinata yang bisa Ino lihat dari pantulan kaca mobilnya. Perjalanan mereka terhenti saat lampu merah menyala. Setelah lampu merah berganti dengan warna hijau, Ino memutar mobilnya belok kekanan, tapi tiba-tiba terhenti karena Hinata, meminta Ino, membelokkan mobilnya ke arah kiri.
"Hinata, arah menuju apartemen Sasuke ada di sebelah kanan, kalau kita belok kiri, kita tidak akan sampai kesana." Jelas Ino
"Aku tahu. Tapi, kali ini tolonglah belok ke kiri. Aku tidak tahu kenapa, hanya saja hatiku mengatakan, kalau kita harus belok ke kiri. percayalah padaku Ino" Kata Hinata memohon.
"Baiklah" Kata Ino. Meskipun tidak mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya ini, Ino percaya pada Hinata.
Hinata memberikan arah yang sama sekali Ino tak mengerti. Arah yang ditunjuk Hinata, bukannya semakin dekat dengan apartemen Sasuke, bahkan semakin jauh. Mungkinkah Hinata salah memberinya arah atau jangan-jangan mereka tersesat. Ingin sekali Ino bertanya pada sahabatnya itu, tapi dia urungkan dan tetap menyetir sesuai dengan arahan Hinata, meskipun dia tahu, Hinata adalah orang yang sering tersesat.
"Berhenti disini Ino" Kata Hinata.
Ino pun memelankan mobilnya, dan menepikannya. Hinata dengan segera keluar dari tempatnya duduk. Kini mereka berada di blok perumahan yang bahkan Ino belum pernah menginjakan kakinya ketempat itu. Melewati lorong-lorong gang, Ino hanya mengikuti Hinata yang berada di depannya.
"Sasuke pindah rumah?" Tanya Ino
Hinata diam tak menjawab pertanyaan Ino, dia terus berjalan melewati beberapa rumah yang pemiliknya sudah dipastikan tidur. Setelah lama berjalan, akhirnya Hinata menghentikan langkahnya. Ino pun berdiri disebelah Hinata dan melihat arah pandangan Hinata.
Terkejutnya Ino, ada seseorang tergeletak di tengah jalan yang sudah sepi. Saat Ino terpaku, Hinata mendekati orang itu.
"Uchiha" Kata Hinata.
Ino terkejut. Terkejut karena Hinata menangis dan yang paling gila adalah, Hinata tahu kalau Sasuke berada di tempat seperti ini.
"Ino" Kata Hinata seraya mendongakkan kepalanya dan menatap Ino yang masih berdiri.
"Aku akan ambil mobil dulu. Aku rasa mobil masih bisa masuk." Kata Ino seraya meninggalkan Hinata
Seraya menunggu Ino datang, Hinata berusaha membangunkan Sasuke yang tidak sadarkan diri. Usahanya sia-sia, Sasuke bahkan tidak bergerak sama sekali. Hinata pun duduk bersimpuh, dengan hati-hati dia menarik tubuh Sasuke dan mengistirahatkan kepala Sasuke di pangkuannya.
Dibersihkannya darah yang keluar dari hidung dan mulut Sasuke yang agak mengering. Diusapkannya juga tetesan air yang membasahi pipi Sasuke. Ditengadahkannya kepalanya seraya melihat langit, terlihat raut bingung diwajahnya yang manis, langit terlihat cerah dan tak ada tanda turun hujan. Saat dia sadari, tetesan air yang dia sangka hujan ternyata air matanya yang menetes. Dipeluknya tubuh Sasuke yang gemetar dengan erat seraya menangis dalam diam.
XXX
Ino berjalan tergopoh-gopoh, sedikit berlari. dengan segera dia menyalakan mobilnya dan melaju ke arah dimana Hinata menemukan Sasuke. Pikiran Ino kalut, pertanyaan demi pertanyaan tak bisa dia jawab secara logika.
Dalam kekalutan pikirannya, Ino masih bisa berpikir jernih. Ditelponnya Sai, kekasihnya yang tak lain juga saudara sepupu Sasuke.
"Sai, temui aku di rumah sakit. Sekarang." Kata Ino tanpa basa-basi
"Aku baik-baik saja" Kata Ino menjawab pertanyaan Sai soal keadaannya. "Sasuke, saudaramu sepupumu, pingsan di jalan. Aku perjalanan ke rumah sakit."
Setelah mendengar jawaban dari Sai, Ino pun mematikan sambungan ponselnya. Lalu mobilnya pun berhenti dimana Hinata dan Sasuke berada.
Dibawah sinar lampu jalan, Ino nampak jelas melihat Hinata yang sedang memeluk Sasuke seraya menangis. Ino yang tak pernah ikut campur urusan Hinata, penasaran dengan hubungan antara sahabatnya dan Sasuke. Karena yang dia tahu, Hinata baru mengenal Sasuke. Melihatnya menangis seperti itu, terlihat kalau Hinata punya perasaan lebih dari sekedar teman dengan Sasuke, seperti yang dia katakan padanya selama ini.
Didekatinya Hinata,seraya membungkuk, dipanggilnya Hinata dengan lembut. Hinata pun menoleh, terlihat matanya yang sembab.
Ino membantu Hinata membopong Sasuke yang pingsan, tapi usaha mereka sia-sia. Untung saja ada 2 orang pria yang lewat, Ino pun meminta bantuan mereka lalu mereka pun membawanya masuk mobil. Dengan susah payah, akhirnya kedua pria itu berhasil membaringkan Sasuke di kursi belakang dengan Hinata memangku kepala Sasuke.
Dengan segera, Ino melaju mobilnya dengan cepat. Membawa Sasuke ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Hinata tak bersuara, pandangannya tak beralih pada Sasuke. Dibelainya pipi Sasuke lembut dengan ibu jari nya, sesekali mengusap air matanya yang berjatuhan.
XXX
Sai yang mendapat kabar dari Ino bergegas menuju rumah sakit dan menghubungi Itachi untuk segera menemuinya di rumah sakit, dimana Ino bekerja. Sesampainya di rumah sakit, Sai hanya bisa menunggu Ino datang. Saat menunggu, dengan raut kekhawatiran, Itachi datang bersama Konan.
"Dimana Sasuke, Sai?" Tanya Itachi
"Belum datang. Ino sedang perjalanan kesini. mungkin sebentar lagi dia datang." Jawab Sai
"Apa kau tahu, bagaimana keadaannya?" Tanya Itachi
Sai menggeleng.
"Aku tidak tahu pasti. Ino hanya bilang kalau Sasuke pingsan." Jawab Sai
Tak lama berselang, Shikamaru yang selama ini mengetahui perkembangan Sasuke, bergabung dengan Itachi, Sai dan Konan yang menunggu di lobi rumah sakit.
"Kau datang juga kepala nanas?" Kata Itachi ketus.
Shikamaru tidak menjawab pertanyaan Itachi yang menurutnya lebih pada sindiran dari sekedar bertanya.
Tak ada percakapan diantara mereka berempat, semuanya diam. Setelah menunggu lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Dengan cekatan , Shikamaru dengan dibantu perawat jaga, mendorong kereta dorong untuk Sasuke. Diangkatnya Sasuke dari dalam mobil ke atas kereta dorong dan dengan segera Shikamaru membawanya ke laboratorium pribadinya. Perawat jaga pun tidak berani menanyakan pada Shikamaru soal aksinya, meskipun menurut mereka, harusnya pasien dibawa ke unit gawat darurat, apalagi tubuh pasien yang hampir membiru.
Dengan sigap Shikamaru menyiapkan alat transfusi darah, diambilnya stok darah yang dia punya, memasangnya dan menancapkan ke jarum suntik di lengan Sasuke. Meskipun awalnya susah, akhirnya usaha Shikamaru menuai hasil. Darah mulai masuk ke lengan Sasuke, melewati vena di tubuhnya. Tubuh Sasuke mulai kembali normal begitu pun dengan tarikan nafasnya.
Setelah keadaan membaik, Shikamaru menemui mereka yang menunggu di luar ruang laboratoriumnya.
"Sasuke tidak apa-apa. Kondisinya sudah kembali normal" Kata Shikamaru
Tampak terlihat raut kelegaan di wajah mereka.
"Maaf dokter Shika, bolehkah aku masuk?" Tanya Hinata
"Ehm... Tentu" Kata Shikamaru
Hinatapun masuk ke dalam kamar, dimana Sasuke berada. Di ikuti dengan Ino dan Sai
Hinata menarik kursi yang ada di dekat nya untuk lebih dekat dengan Sasuke. Dipandanginya Sasuke yang terpejam. Terlihat nafasnya yang normal, menimbulkan kelegaan tersendiri di hati Hinata.
"Ehm, Hinata! Boleh aku bertanya?" Tanya Ino
Hinata mengangguk, tanpa menoleh ke arah Ino. Tatapannya terpaku pada Sasuke.
"Bagaimana kau bisa tahu, Sasuke ada disana?" Tanya Ino
"Aku juga tidak tahu Ino. Aku hanya mendengar, seseorang memanggilku dan menunjukkan arah kemana aku harus berjalan." Kata Hinata " Saat gelas yang aku pegang terbelah, pikiranku hanya fokus pada Uchiha. dan hatiku pun terasa sakit. Saat itupun aku juga tidak tahu kenapa."
Ino terdiam, begitu juga Sai.
"Maaf membuatmu bingung dan khawatir. Ku rasa Uchiha sekarang sudah baikan. Kau boleh pulang Ino. Aku ingin menemaninya" Kata Hinata.
"Baiklah. Besok aku datang lagi dan membawakanmu pakaian dan makanan" Kata Ino
"Terimakasih Ino" Kata Hinata lagi.
Dipandanginya Sasuke yang masih terpejam. Hinata merasa hatinya berdenyut sakit saat melihat Sasuke terbaring lemah seperti ini. Disandarkannya kepala Hinata di sisi Sasuke, dan dalam sekejab dia pun tertidur. Dan sekali lagi air mata Hinata mengalir dari sudut matanya.
XXX
"Ehm...Itachi, bisakah kita bicara sebentar?" Kata Shikamaru
Itachi mengangguk seraya menggandeng Konan untuk ikut bersamanya. Merekapun berjalan menjauh.
"Katakan padaku Itachi, kau tahu kan penawarnya?" Tanya Shikamaru
Itachi terdiam
"Jangan mendiamkan ku Itachi!" Teriak Shikamaru
"Hei,Hei! pelankan suaramu" Kata Itachi
Shikamaru menatap Itachi tajam. Itachipun ,menghela nafas panjang.
"Bisa dibilang, aku tahu penawarnya, tapi bisa juga tidak. Saat aku menemukan gulungan-gulungan yang pernah aku ceritakan padamu, ada 1 bagian yang hilang. Sampai sekarang, aku belum bisa menemukannya. Tapi, ada sedikit petunjuk dari bagian lainnya." Kata Itachi
"Apa?" Tanya Shikamaru
"Kau ini, sangat tidak sabaran" Kata Itachi "Traktir aku kopi"
"Apa?!" Kata Shikamaru sekali lagi sedikit berteriak
"Kau tidak bisa kalau tidak teriak-teriak. Kau ini dokter atau apa sih" Kata Itachi kesal.
Akhirnya Shikamaru mengajak Itachi ke kantin rumah sakit dan memesan kopi untuk Itachi.
"Kau ini, kelewat santai. Adikmu saat ini dalam keadaan seperti itu. Kau masih saja, bisa setenang ini" Kata Shikamaru seraya menyisip kopinya.
"Bukankah kau tadi bilang, keadaannya sudah membaik" Kata Itachi
"Lanjutkan ceritamu Itachi" Kata Shikamaru
"Dalam gulungan itu hanya dijelaskan, kutukan itu bisa hilang, asalkan darah dalam tubuh orang yang terkena kutukan diganti dengan darah orang yang memberi kutukan. Dalam kata lain, kutukan yang sekarang melekat pada Sasuke bisa hilang asal darah dalam tubuhnya diganti dengan darah orang yang yang mengutuknya." Kata Itachi
Shikamaru terdiam.
"Maksudmu, kita harus mengeluarkan semua darah yang ada di dalam tubuh Sasuke dan menggantinya dengan darah orang yang telah mengutuk klan kalian?" Tanya Shikamaru
Itachi mengangguk
"Tapi itu tidak mungkin Itachi dan lagi kita tidak tahu siapa yang telah mengutuk klan mu itu. Apa kau gila?" Kata Shikamaru.
"Aku tidak gila, bodoh!Bukankah kau sudah mendapat jawabannya?" kata Itachi ketus
"Jangan katakan, kalau darah Hinata adalah penawarnya" Kata Shikamaru
"Entahlah, bisa ya bisa tidak. Aku tidak tahu pasti. Karena itu, aku harus segera menemukan gulungan yang hilang itu" Kata Itachi "Dan kau cari cara menghilangkan kutukan itu."
"Bagaiman aku bisa melakukannya Itachi?info yang kau berikan tidak lengkap." Kata Shikamaru
"Gunakan otak mu itu kepala nanas" Kata Itachi seraya pergi.
-TBC-
Hi... Readers
I'm back... ^^
Meskipun pendek, aku harap kalian menyukainya.
Arigatou untuk reviewnya to:
Kensuchan : Maaf lama update nya, sampe bikin lupa jalan ceritanya (T_T)
Hinatauchiha69 : Ehm... ya kita lihat bagaimana akhir cerita ini.
Himenaina : Emang sengaja bikin Sasuke menderita (bwahahahahaha,,,lariiiiiii) * dilempar kunai sama Sasuke
Arigatou juga buat yang baca cerita ini, thank's to you all.
I Love U All ^^
