Chapter 8

Malam sudah berganti dengan pagi.1 hari sudah terlewati, dan waktu pun semakin dekat, itu berarti jalan menuju kematian pun semakin masih belum sadarkan diri, waktu untuk mendapatkan penawarnya pun semakin sempit. Tentu Shikamaru tak akan membiarkan Sasuke mati begitu saja, apalagi dia sudah berjanji untuk menyelamatkan nyawanya, apapun cara yang nantinya akan ditempuh.

Kali ini, Shikamaru kalut, otaknya tak bisa berpikir keadaan seperti ini pun, Itachi tak memberikan jawaban yang memuaskan untuknya. Tentu dia sudah membaca semua isi gulungan yang Itachi dapatkan, tapi tak ada satupun petunjuk jelas yang mengarah pada cara untuk menghilangkan kutukan itu.

"Dokter Shika" Panggil Hinata "Maaf aku mengganggu, apa kau sibuk?"

" apa?" Kata Shikamaru

"Ada yang ingin aku tanyakan soal Uchiha." Kata Hinata "Tolong ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi."

Shikamaru terdiam, timbul kebingungan di pikirannya, menceritakan apa yang dia tahu atau membiarkannya menjadi rahasia antara dia dan keluarga Uchiha.

"Aku ada hubungannya dengan ini semua kan dokter?Aku tahu kau mungkin bingung, mau menceritakan padaku atau tidak. Tapi…" Kata Hinata

"Bagaimana kau bisa menyimpulkan kalau kau ada hubungannya dengan semua ini?"Potong Shikamaru

"Aku juga tidak bisa saja, setiap kali Uchiha kesakitan seperti itu, kau selalu memintaku untuk tetap kau juga pernah memintaku untuk melakukan donor itu untuk Uchiha kan dokter?" Kata Hinata. Shikamaru terdiam dan terkejut dengan perkataan Hinata.

"Aku menanyakan perihal dokter kepada Ino menjelaskan semuanya padaku, begitu juga dengan rumor soal kutukan yang di alami Uchiha."Kata Hinata seraya mengingat perkataan Naruto dulu.

"Baiklah, akan aku ceritakan" Kata Shikamaru seraya menghela nafas panjang yang sedari tadi tanpa dia sadari tertahan di dadanya.

"Keluarga Uchiha terkena kutukan dari seseorang. Kutukan itu hanya terjadi pada anak bungsu dari keluarga Uchiha dan mereka akan mati saat usianya menginjak 21 tahun. Yang mengerikan adalah mereka akan mati terbunuh, bukan disebabkan orang lain atau apapun, melainkan karena tubuh mereka sendiri yang melakukannya." Kata Shikamaru seraya menghela nafas "Karena itulah keluarga Uchiha hanya memiliki 1 anak saja. Jadi Klan Uchiha selamat dari tragedi menyedihkan dan mereka pun bisa hidup dengan , semua menjadi runyam, saat keluarga Fugaku Uchiha mempunyai 2 orang putra dan Sasuke adalah bungsunya. Tapi aku juga tidak tahu, apakah mereka satu-satunya keluarga Uchiha yang mempunyai 2 orang anak"

Shikamaru terdiam, seolah-olah tidak sanggup menceritakan semua yang telah Sasuke lewati.

"Jadi apa yang Uchiha alami saat ini, itu adalah bagian dari kutukan?" Tanya Hinata

Dengan anggukan Shikamaru menjawab pertanyaan Hinata.

"Selama 10 tahun aku mengenalnya, selama itu pula dia menderita atau mungkin lebih dari itu. Pertama kali aku bertemu dengannya, adalah saat dia tiba-tiba saja kesakitan dijalanan yang sepi, saat itu aku dan ayahku akan mengunjungi kakek dan nenekku, dan kami memang harus lewat jalan itu. Keluar darah dari mulut, hidung dan telinganya. Saat itu aku ketakutan sekali, aku mencengkeram kuat kaos bagian samping ayahku karena suara rintihannya membuat bulu kudukku merinding dan membuatku menjadi lebih takut dari sebelummnya. Saat itu aku dan ayahku bingung soal orang tuanya, karena dia disana sendirian. Aku hanya terdiam, terpaku melihatnya seperti itu. Saat itu usia ku 10 tahun dan sepertinya usianya juga tak jauh berbeda denganku. Lalu ayahku menggendongnya dengan segera membawanya ke rumah sakit ini, ternyata disini dia sudah dikenal oleh hampir semua orang yang berkerja di rumah sakit ini." Kata Shikamaru seraya menghela nafas tertahan " Kami pikir, dia mengalami tabrak lari, ternyata tidak. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan kedua orang tua Sasuke. Dan ternyata ayahku adalah teman semasa mereka sekolah dulu. Lalu mereka menceritakan apa yang terjadi pada putra bungsu mereka. Aku mendengar semua cerita mereka dengan seksama, awalnya aku pikir itu hanya bualan atau cerita dongeng biasa. Tapi, setelah aku mengenal Sasuke lebih dekat, aku mengerti dan aku pun berjanji padanya, bahwa aku pasti bisa menyelamatkan hidupnya"

"Dengan bertambahnya tahun, semakin sering pula Sasuke mengalami serangan waktu itu aku hampir menyerah. Saat itu usia Sasuke 19 tahun. Lalu aku bertemu dengan Neji itu kami sedang menyelenggarakan acara donor darah, dia datang untuk menyumbangkan ijin kepala rumah sakit, aku di ijinkan untuk meminta sample dari semua pendonor untuk aku gunakan dalam penelitian yang aku aku menguji darah milik Neji, ternyata darah Neji bisa menetralisir darah Sasuke yang sel darah nya pun bisa kembali seperti , sayang aku hanya punya 1 kantong darah Neji, dan itu tak Sasuke mengalami serangannya lagi, persediaan darah yang kumiliki hanya 1 suntikan saja, aku merasa kesempatanku sudah habis, aku tidak bisa memenuhi janjiku padanya." Kata Shikamaru "Lalu aku bertemu denganmu. Saat itu aku sangat terkejut, warna bola matamu sangat persis dengan yang dimiliki Neji, harapanku pun segera aku melakukan tes pada darahmu, dan menakjubkan hanya dengan setetes kecil darahmu, dalam hitungan detik darah Sasuke menjadi normal. Hasilnya pun lebih baik, dibanding dengan milik Neji"

"Berarti kau sudah punya cara untuk menyembuhkan Sasuke kan?Kau boleh menggunakan darahku. Aku dengan sukarela akan mendonorkannya."Kata Hinata berbinar.

"Masalahnya tidak semudah saat kau membawa Sasuke kemari, aku harus menggunakan semua darah yang kau donorkan waktu semakin lama, 1 kantong darah tidak cukup membuat keadaan Sasuke membaik." Kata Shikamaru. Terdengar nada kesedihan dari suaranya.

Mereka berdua terdiam sampai akhirnya Hinata membuka suara

"Lalu apa kau sudah menemukan jalan yang lain?" Tanya Hinata penuh harap

Shikamaru menggeleng, raut wajahnya menggelap karena kesedihan yang tertahan.

"Aku masih , waktu yang kupunya tak hanya takut, aku terlambat menyembuhkannya" Kata Shikamaru tertunduk lesu.

"Aku yakin kau akan menemukan jalannya. Dan aku pasti akan membantumu." Kata Hinata seraya tersenyum. "Aku pergi dulu. Kalau dokter Shika sudah menemukan cara untuk menyembuhkan Sasuke, tolong kabari aku"

"Kenapa kau ingin membantu Sasuke?dari apa yang ku tahu, kau bahkan baru kenal dengannya?" Tanya Shikamaru.

Hinata yang sudah menarik handle pintu ruangan Shikamaru, menoleh ke arah Shikamaru

"Aku juga ingin tahu jawabannya. Karena aku sendiri juga tidak tahu." Dengan jawaban itu, Hinata pun menghilang dari pandangan Shikamaru, bersamaan dengan di tutupnya ruangan Shikamaru.

Hinata pun berjalan menuju kamar Sasuke seraya memencet nomor di ponselnya.

"Halo!Ya, aku Hinata. Aku akan segera datang" Kata Hinata

Sesampainya di kamar Sasuke. Hinata hanya memandangi wajah Sasuke yang terlihat sangat tenang dan damai. Dihabiskannya waktu 15 menit hanya menatap wajah Sasuke tanpa mengatakan apapun.

'Aku segera kembali Uchiha' Katanya dalam hati seraya meninggalkan Sasuke yang masih tertidur.

Setelah keluar dari lobi rumah sakit, Ino yang berada di kursi pengemudi sudah menunggu Hinata di depan lobi. Dengan segera Hinata pun masuk kedalam mobil dan mobil pun melesat meninggalkan rumah sakit.

XXX

Di kediaman Hyuuga, Neji Hyuuga terduduk di ruang kantornya dan terlihat merenung. Lamunannya buyar saat terdengar ponselnya berbunyi. Dilihatnya pada layar ponselnya, tertera nama Hinata.

"Halo!" Jawabnya, seraya menunggu jawaban dari ujung telp nya. "Baik akan kutunggu"

Hari ini dia akan bertemu dengan Hinata. Orang yang selama ini dia cari, dan orang yang akan dia lindungi dari Klan Uchiha.

Tak berapa lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kemudian nampaklah Kepala Pelayan Neji dari luar seraya masuk dan mendekat ke arah Neji, yang masih terduduk di kursinya.

"Maaf Tuan, Itachi Uchiha ingin menemui anda. Apakah anda bersedia?" Tanya si Kepala Pelayan itu dengan penuh sopan.

Dengan tetap menunjukkan wajah stoicnya, Neji hanya mengangguk menjawab pertanyaan pelayannya itu. Seraya bangkit dari duduknya, dia pun melangkahkan kakinya keluar ruang kerjanya.

Disana, di ruang tamu rumahnya, terlihat salah satu dari Klan Uchiha sedang berdiri, menatap pemandangan luar yang tersaji lewat jendela besar yang berada di sisi kiri rumah Neji.

Suara gemelatuk sepatu Neji, merubah pandangan Itachi ke arah Neji. Tak ada sapa ramah dan raut muka hangat di antara keduanya.

"Ada urusan apa kau kemari Itachi?" Kata Neji dingin.

"Kau pasti sudah tahu, apa urusanku kemari kan Neji. Bukankah kau yang menyuruh bajingan-bajingan itu untuk menghabisiku saat di pasar gelap itu kan." Kata Itachi

"Jadi kau kesini untuk membalas dendam?" Kata Neji

"Tentu saja tidak, itu akan aku urus nanti. Aku kesini untuk memintamu menyerahkan gulungan terakhir yang kau simpan soal Klan Uchiha." Kata Itachi

"Jadi saat ini kau sedang memohon?"Ejek Neji

"Aku tahu kau sudah menemukan Putri Hyuuga dan aku yakin sekali, kau pasti akan melindunginya dengan sepenuh hatimu, atau mungkin kau rela mati untuk melindunginya. Tapi, kau jangan lupa Neji, kita hanya punya kesempatan 1000 tahun sekali, agar kutukan ini sirna. Dan kali ini kesempatan kita dan mungkin kesempatan yang terakhir."Kata Itachi "Jadi pinjami aku gulungan terakhir yang kau punya"

"Heh!Kau pikir aku peduli?Aku yakin dengan otak cerdasmu itu, kau sudah tahu penawar dari kutukan Klan mu itu. Dan aku akan melindunginya apapun yang terjadi. Aku tidak peduli, sekalipun kutukan ini akan memusnahkan nama Klan Hyuuga ataupun Uchiha. Yang terpenting buatku adalah melindungi Putri Hyuuga dari kalian." Kata Neji dingin.

"Kau egois Neji. Kau bahkan merelakan Klan mu hancur dan membuat banyak orang menderita. Gara-gara kutukan ini, begitu banyak orang akan menderita karena kehilangan orang yang mereka sayangi?Coba kau bayangkan Neji, apa kau sanggup melihat orang dari Klanmu menderita? "Tanya Itachi

Neji terdiam sejenak dan terlihat dia sedang memikirkan perkataan Itachi

"Bukankah sudah ku bilang, aku tidak peduli. Tugasku hanya satu dan itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan orang lain. Aku juga tidak peduli sekalipun mereka menangis darah menangisi kepergian orang yang mereka sayangi. Aku akan tetap melindungi nya. Sekalipun aku harus melawan dunia ini" Kata Neji "Sebaiknya kau segera pergi. Percuma kau ada di sini. Karena pendirianku tidak akan berubah."

Dengan kesal, Itachi beranjak dari tempatnya berdiri. Usahanya kali ini memang sudah dia prediksi akan gagal. Berbicara dan meyakinkan seorang Neji bukanlah pekerjaan gampang.

Di luar rumah Itachi tak sengaja bertemu dengan Hinata dan Ino.

"Uchiha, tak kusangka kita bertemu disini." Kata Hinata

"Aku baru saja menemui sahabat lama." Kata Itachi "Kau sedang apa disini?"

"Aku ada janji dengan Neji. Membicarakan masalah keluarga" Kata Hinata

"Baiklah aku pergi. Hati-hati dengan Neji ya, dia itu orangnya moody" Kata Itachi seraya tersenyum

Hinatapun mengangguk seraya tersenyum.

Dengan begitu, Itachi segera meninggalkan kediaman Neji. Satu hal yang membuatnya merasa lebih baik setelah permintaanya ditolak Neji, kali ini dia sangat yakin, kalau pewaris Klan Hyuuga adalah benar Hinata. Dan Hinata adalah orang yang lebih mudah dimintai tolong daripada si Neji. Dia hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Hinata. Dan harapan akan kutukan ini sirna masih ada. Dengan begitu semua orang akan menjalani kehidupannya dengan normal.

Raut wajah Neji seketika berubah dari dingin menjadi sangat hangat, saat bertemu dengan Hinata.

"Duduklah" Kata Neji

Hinata dan Ino pun duduk berseberangan dengan Neji yang duduk saling berhadapan.

"Bisakah kau mulai?" Tanya Hinata

"Baiklah, akan aku ceritakan. Sepertinya Putri juga bukan orang yang suka berbasa-basi" Kata Neji lagi

Neji pun menceritakan perihal Klan Hyuuga dan bagaimana sebenarnya hubungan antara dia dan Hinata. Di sela-sela cerita, Neji dapat melihat berbagai macam ekspresi wajah Hinata. Bisa Neji katakan, Ekpresi antusias Hinata saat dia mendengar Neji menceritakan perihal ayah dan ibunya, bagaimana kebahagiaan mereka saat Hinata lahir dan kecintaan mereka yang sangat padanya, raut wajah bahagia dan haru terlihat dari raut wajah Hinata saat Neji memperlihatkan foto keduanya pada Hinata.

"Bolehkah aku menyimpannya?" Tanya Hinata yang dijawab dengan anggukan dari Neji.

"Lalu mengapa mereka menitipkanku di panti asuhan?" Tanya Hinata. "Bukankah kau bilang kalau mereka sangat menyayangiku?"

Neji tahu, Hinata akan menanyakan permasalahan ini padanya. Dan permasalahan ini membuat dirinya tidak nyaman.

"Itu adalah keputusan yang sudah para tetua dan Yang Mulia Raja tetapkan. Semua kami lakukan untuk keselamatan anda, Yang Mulia" Jawab Neji

Hinata hanya diam, menunggu Neji melanjutkan ceritanya.

"Dulu negeri ini di jalankan oleh dua Klan besar yaitu Hyuuga dan Uchiha. Awalnya kedua Klan saling bermusuhan dan memperebutkan wilayah satu sama lain, sampai akhirnya Klan Uchiha kalah dan menjadi bagian dari Klan Hyuuga. Dengan begitu yang menjalankan roda pemerintahan adalah Klan Hyuuga. Pada saat itu, negeri ini menjadi negeri yang disegani oleh negara lain, hingga suatu hari, Permaisuri melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Hanabi. Sekalipun kami berusaha agar Yang Mulia Permaisuri dapat mempunyai anak lagi, usaha itu gagal. Hingga akhirnya kami putus asa dan memerima kelahiran itu. Meski para Tetua tidak menginginkan kerajaan dipimpin oleh seorang wanita. Hingga akhirnya Putri Hanabi menjelma menjadi seorang wanita yang cantik dan juga tangguh. Bahkan nama Putri pun menjadi bahan pembicaraan banyak kalangan dan negara-negara lain, bukan karena beliau seorang wanita, tapi karena beliau adalah calon pemimpin yang dapat diandalkan." Kata Neji seraya meminum teh yang ada di depannya

"Sepeninggal Raja, Putri pun akhirnya menjadi penggantinya. Seperti yang sudah dibicarakan banyak orang, Putri adalah pemimpin yang sangat hebat bahkan lebih hebat dari ayahnya. Bisa dibilang, kehidupan rakyat pada waktu itu menjadi lebih baik. Hingga suatu hari, Putri menjalin hubungan dengan salah satu putra dari keluarga Uchiha. Saat itu adalah awal dari kehancuran kedua Klan" Neji terdiam sejenak, terlihat berpikir lalu dia pun melanjutkan ceritanya. "Putri Hanabi menjalin hubungan asmara dengan putra dari pemimpin Klan Uchiha, Izuna secara sembunyi-sembunyi. Para Tetua sangat marah mendengar berita itu. Mereka memberi 2 pilihan pada Putri, meletakkan jabatannya sebagai seorang Ratu atau memutuskan hubungannya dengan putra pemimpin Uchiha itu. Sebenarnya tujuan para Tetua bisa dimaklumi, karena ada selentingan berita yang mengatakan kalau Klan Uchiha akan melakukan pemberontakan dan ingin menguasai negeri. Entah apa yang ada di pikiran Putri saat itu, beliau memilih meletakkan jabatannya dan tetap menjalin hubungan dengan Izuna, bahkan Putri akan menikah dengannya. Pada saat yang bersamaan diketahui, bahwa Izuna hanya mempermainkan perasaan Putri karena ternyata Izuna mempunyai kekasih yang akan segera dia nikahi. Melihat hal itu, Putri menjadi murka dan kemurkaan itu semakin menjadi saat beliau tahu, kalau sebagian para Tetua ikut andil untuk mempermainkannya. Sehingga Putri menjadi yakin bahwa para Tetua dari awal memang tidak menginginkan Putri memimpin negeri dan dengan kekuatan mistis dari dalam dirinya, beliau mengutuk seluruh Klan Uchiha dan Klannya sendiri untuk mengalami penderitaan yang dia alami."

"Jadi kutukan itu benar adanya?" Tanya Hinata yang akhirnya membuka suara.

"Benar. Beliau mengutuk setiap bayi yang dilahirkan dari keluarga Uchiha akan menderita dan akan mati saat usianya menginjak 21 tahun, dan karena Izuna adalah anak bungsu, maka yang mengalami kutukan itu adalah anak bungsu dari Klan Uchiha, sedangkan untuk Klan Hyuuga, anak pertama mereka akan mati karena kesetiaan mereka pada pemimpin Klan Hyuuga di usia yang sama yaitu 21 tahun. Setelah itu, kejadian mengerikan terjadi. Pria dan wanita yang masuk dalam jangkauan kutukan itu, mulai merasakan kutukan yang sudah di ucapkan Putri." Neji terdiam, tampak raut kengerian dari wajah tampannya "Dari Klan Hyuuga, mereka yang berusia 21 tahun, membunuh diri mereka sendiri diluar kesadaran mereka sedangkan mereka yang berasal dari Klan Uchiha darah keluar dari mata, hidung dan mulut mereka, karena tidak tahan dengan rasa sakit yang mereka alami, mereka pun melakukan hal yang sama dengan apa yang Klan kita lakukan."

Tanpa Hinata sadari, air mata mengalir dari pelupuk matanya yang sendu.

"Apakah tidak ada cara untuk menghentikannya?"Tanya Hinata

"Ada. Putri Hanabi sebelum mengakhiri hidupnya mengatakan kalau hanya dengan darah murni darinyalah yang bisa mengakhiri kutukan itu. Dan kesempatan itu hanya akan ada setiap 1000 tahun sekali. Karena saat itu, Klan Hyuuga akan dipimpin oleh seorang wanita. Sejak saat itu, negeri menjadi kacau, Klan Hyuuga dan Uchiha terpecah dan menjalankan pemerintahan sendiri-sendiri. Mereka mulai melakukan penculikan pada keturunan bangsawan wanita kita untuk dijadikan alat percobaan. Dan membuat kami melindungi wanita-wanita kami dari Klan Uchiha "Kata Neji "Karena itulah kami menitipkan anda di panti asuhan. Agar mereka tidak tahu, kalau anda adalah putri dari Raja kami. Dan aku akan melindungi anda, bahkan dengan nyawa sekalipun"

"Jadi begitu ya" Kata Hinata.

Mendengar cerita Neji, Hinata mengerti dan paham kutukan yang Sasuke alami adalah berasal dari Klannya. Apabila apa yang Neji katakan benar, maka yang bisa menghilangkan kutukan itu adalah dirinya. Yang Hinata perlukan saat ini adalah versi dari keluarga Uchiha. Pasti ada sesuatu yang luput dari cerita versi Neji, bukannya Hinata tidak percaya, tapi saat kau mendengar cerita dari 1 sisi, maka kau perlu mendengar dari sisi yang lain kan, sehingga teka-teki tentang kutukan itu akan menjadi cerita yang lengkap.

Hari itu, Hinata mengetahui cerita di balik nama Hyuuga, nama keluarga yang selama ini dia sandang. Tidak hanya tentang dirinya, tapi Hinata juga tahu bahwa Neji juga termasuk dari orang-orang yang mengalami kutukan dan akan mati dengan cara yang mengerikan. Tentu saja dia tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi, Neji adalah keluarga pertama yang dia ketahui dan juga ternyata mempunyai hubungan yang sangat dekat dengannya. Selain itu dia juga bisa menyelamatkan Sasuke dari kutukan ini.

Ini adalah kesempatan dia yang terakhir, karena kalau tahun ini dia gagal, maka tidak hanya Klan Uchiha saja yang akan menderita, tapi juga Klannya, karena mereka akan menunggu 1000 tahun lagi kesempatan mereka akan terulang.

"Oleh karena itu Putri, saya mohon untuk anda tinggal disini dan tidak lagi berdekatan dengan Si Uchiha lagi. Mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Putri dan kami tidak bisa mendiamkan hal itu terjadi" Kata Neji

"Aku tahu kekhawatiranmu, tapi bukankah kau akan melindungiku?" Kata Hinata tersenyum "Akan aku lakukan apa yang harus aku lakukan. Jadi, kau tidak perlu khawatir"

Sudah diputuskan, Hinata akan menghentikan kutukan mengerikan ini dengan kemampuan yang dia miliki.

"Aku permisi dulu. Akan aku pikirkan nanti, apakah aku harus tinggal disini atau kah tetap menjalani kehidupanku seperti biasanya." Kata Hinata seraya berdiri dan membungkuk memberi hormat.

Neji terdiam, melihat semua gerak-gerik dan tutur kata yang keluar dari mulut Hinata, ada keyakinan dalam diri Neji, bahwa Hinata akan melakukan tindakan bodoh dengan mengorbankan dirinya untuk menghentikan kutukan ini. Tentu dia tidak akan tinggal diam. Kalau dengan cara halus, Hinata menolak tinggal bersamanya, maka dengan cara kasar pun akan Neji lakukan. Semua itu dia lakukan hanya untuk keselamatan Hinata.

XXX

Di dalam mobil, Hinata merenung, memikirkan bagian demi bagian yang telah Neji katakan padanya. Tentu ada cara untuk menghentikan kutukan itu, apa yang harus dia lakukan dengan darah yang ada dalam tubuhnya ini. Dan hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Mendengar asal kutukan itu dari versi Uchiha.

Ino sesekali mengalihkan pandangannya ke arah Hinata yang duduk di sebelahnya. Mendengar cerita dari Neji, kini dia tahu, siapa penyebab kutukan itu. Dan tak menyangka, penawar yang keluarga Uchiha cari selama ini, adalah Hinata. Orang yang selalu berada di dekatnya.

"Setelah mendengar cerita dari Neji, bagaimana perasaanmu Hinata?" Tanya Ino memecah keheningan diantara mereka.

"Tentu aku gembira Ino. Selama ini aku selalu bertanya-tanya siapa keluarga ku dan sekarang akhirnya aku mengetahui semuanya. Bahkan kutukan yang Uchiha alami, ternyata di sebabkan oleh keluargaku. Dan itu yang membuatku sedih. Bahkan Neji pun termasuk dari orang yang akan mati karena kutukan itu." Jawab Hinata sedih

"Lalu apa yang akan kau lakukan?Kalau keluarga Uchiha tahu, kau akan diburu oleh mereka dan aku tidak mau mereka menyakitimu Hinata. Meski aku punya hubungan dengan Sai, tapi kau adalah sahabatku dan aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu denganmu. Aku rasa sebaiknya kau terima tawaran Neji untuk tinggal bersamanya, dengan begitu kau aman dari keluarga Uchiha" Kata Ino dengan suara yang gemetar

"Aku harus menghentikan semua ini Ino. Nyawa banyak orang tergantung padaku. Aku harus segera mendapatkan cara untuk menghapus kutukan itu selamanya. Kalau keluarga Uchiha bisa menemukan jalannya, aku tidak keberatan mereka menjadikan ku sebagai bahan percobaan."Kata Hinata

"Kau gila Hinata. Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi. Mereka terkenal sangat kejam bahkan mereka juga bisa menghapus tindak kejahatan mereka tanpa polisi bisa melakukan apapun. Aku mohon pikirkan baik-baik Hinata" Kata Ino

"Keputusanku sudah bulat Ino. Dan aku tidak bisa mundur lagi. Tolong antarkan aku ke Rumah Sakit lagi. Aku harus bertemu dengan Itachi. Aku harus mendengar cerita dari sisi Uchiha. Dengan begitu, keputusan yang sudah aku ambil benar-benar sudah benar." Kata Hinata

Kali ini Ino tidak bisa membantah atau membujuknya untuk tetap menjalani kehidupan seperti biasanya tanpa harus bersinggungan dengan keluarga Uchiha, karena Ino melihat keyakinan dan kemantaban hati dari Hinata. Dan dia hanya bisa berdoa, apa yang nantinya akan terjadi, sahabatnya ini akan bisa melaluinya dengan baik.

Tak berapa lama, mereka sampai di rumah sakit dimana Sasuke dirawat. Kebetulan disana mereka bertemu dengan Itachi yang berada di lobi rumah sakit. Dihampirinya Itachi.

"Maaf bisakah kita bicara sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan?" Tanya Hinata

Itachi mengangguk.

Setelah mendapat tempat yang enak untuk bicara. Hinata yang didampingi Ino duduk berhadapan dengan Itachi yang duduk berseberangan dengannya. Tanpa basa-basi lagi Hinata menanyakan tentang kutukan yang menimpa keluarga Uchiha.

"Jadi kau ingin tahu?Kenapa kau ingin tahu Hinata?" Tanya Itachi

"Aku ingin mendengar dari sisi keluargamu tentang kutukan itu. Mungkin aku bisa membantu" Kata Hinata

"Ya, baiklah." Kata Itachi

Itachi mulai menceritakan kejadian pada zaman saat keluarga mereka saling berebut kekuasaan sampai akhirnya Klan Hyuuga sebagai pemimpin atas negeri yang mereka menangkan setelah mengalahkan Klan Uchiha dalam peperangan itu. Semua yang Itachi ceritakan sama persis dengan apa yang sudah Neji ceritakan.

"Suatu hari, Permaisuri melahirkan seorang anak perempuan yang mereka beri nama Hanabi. Kelahiran anak perempuan itu menjadi awal dari kutukan itu terjadi. Para Tetua Klan Hyuuga mendatangi kami, menceritakan soal keadaan di dalam istana dan meminta kami setelah Raja menunjuk putrinya sebagai penerus tahta. Bisa dibilang mereka melakukan kudeta tapi dengan memanfaatkan kami. Karena kami adalah Klan yang kalah perang melawan Klan Hyuuga, Klan Uchiha pun menyanggupi. Mereka meminta putra kedua dari pimpinan kami untuk memikat hati Putri Hanabi. Awalnya Izuna putra kedua pimpinan kami tidak ingin melakukan tindakan kotor itu, tapi karena pimpinan kami dibawah ancaman, maka Izuna pun akhirnya menyetujuinya. Setelah beberapa lama, usaha mereka membuahkan hasil, dan dengan rencana licik yang telah mereka buat, membuat seolah-olah Izuna mengkhianati Putri Hanabi. Melihat hal itu Putri Hanabi murka. Dan karena kemarahan itulah kutukan itu pun keluar dari ucapan Putri Hanabi. Sesuatu yang tak pernah para Tetua pikirkan, karena ternyata Putri Hanabi juga mengutuk Klannya sendiri. Saat itu akhirnya kami tahu, para Tetua tidak hanya ingin melenyapkan Putri Hanabi tapi juga ingin Klan Uchiha musnah. Dan rencana mereka gagal. Setelah itu kutukan pun terjadi sampai saat ini." Kata Itachi

Hinata mendengar betul-betul kata demi kata yang keluar dari mulut Itachi. Benar perkiraannya, pasti ada versi berbeda dari dua sisi

"Lalu bagaimana cara menghentikan atau bahkan menghapus kutukan itu?" Tanya Hinata. Pertanyaan yang sama, yang dia lontarkan pada Neji

"Aku tidak tahu. Karena gulungan tentang keluarga Uchiha hilang satu. Disana tertulis tentang cara menghilangkan kutukan itu. Dan sampai sekarang aku belum menemukannya. Aku merasa ada orang yang dengan sengaja menyimpan atau bahkan mungkin sudah menghancurkannya." Kata Itachi. Terdengar sedikit keputusasaan dari nada suaranya.

"Lalu kapan Uchiha akan berusia 21 tahun?" Tanya Hinata

"Tahun ini, waktu Sasuke hanya tinggal 5 bulan lagi dan sampai saat ini aku belum menemukan solusinya. Yang bisa aku andalkan saat ini hanyalah bantuan darimu. Darahmu masih bisa memurnikan darah Sasuke. Tapi seperti yang kau tahu, kebutuhan akan darahmu semakin lama akan semakin meningkat. Awalnya mungkin hanya sekali suntikan, tapi saat ini satu kantong darah baru bisa menetralkan rasa sakit yang Sasuke derita" Kata Itachi

Hinata mengingat dengan betul saat pertama kali bertemu dengan Sasuke. Dan saat Sasuke mengalami kesakitan yang luar biasa. Waktu berjalan begitu cepat, 4 bulan sudah terlewati dan kini waktunya hanya tinggal 5 bulan.

"Dan yang membuatku kesal dan jengkel, Si bodoh itu selalu menganggap permasalahan ini sepele. Bahkan dia mengatakan saat dia nanti mati, tidak akan ada yang merasa kehilangan, sedih atau bahkan merindukannya nanti. Perkataannya membuatku marah dan ingin sekali menghajarnya. Tapi mungkin perkataannya ada benarnya karena dengan begitu, saat kepergiannya nanti hatiku tidak terlalu sakit, kalau aku gagal menyelamatkannya." Kata Itachi seraya menghela nafas yang tertahan tanpa dia sadari.

Hinata mengerti dan tahu bagaimana perasaan Itachi pada Sasuke. Cahaya matanya menunjukkan kebenaran dan rasa kasih sayang yang besar untuk Sasuke. Bila satu keluarga mengalami kesedihan yang mendalam, Hinata tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila banyak keluarga akan mengalami hal yang sama seperti keluarga Itachi.

Setelah mendengar cerita dari versi Uchiha, keyakinan untuk menghentikan semua kekacauan ini semakin kuat. Apalagi semuanya berhubungan dengannya, dan yang bisa menghentikan ini semua adalah dirinya sendiri.

"Bisakah kau meminjamkan padaku gulungan itu?mungkin dengan membacanya, aku bisa membantu." Kata Hinata

"Tentu. Kau bisa memintanya pada Shikamaru. Gulungan itu aku pinjamkan padanya." Kata Itachi

"Baiklah. Terimakasih. Bolehkah aku menjenguk Sasuke?" Tanya Hinata

Dengan anggukan dan senyuman yang tersungging di bibir Itachi, mengijinkan Hinata untuk menjenguk Sasuke.

Hinata dan Ino pun berlalu dari pandangan Itachi.

Setelah perjalanannya ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan cara menghilangkan kutukan itu dari keluarganya, ternyata jawabannya ada dimana dia memulai pencariannya. Orang yang selama ini dia cari, ternyata orang yang dia temui saat pertama kali bertemu dengannya di rumah Sasuke. Ya, orang itu adalah Hinata. Pewaris dari Klan Hyuuga

"Kali ini, sepertinya kau akan kalah Neji. Karena sepertinya orang yang kita cari selama ini, akan membantuku menghilangkan kutukan yang Klanmu turunkan pada kami, Klan Uchiha" Katanya lirih seraya melihat punggung Hinata dan Ino di keramaian rumah sakit. "Aku harap kau berhasil Hinata"

...

Aroma obat dan bau khas rumah sakit menusuk hidung Sasuke yang masih setengah sadar. Perlahan matanya terbuka, dipandanginya atap berwarna putih lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain, semuanya juga serba putih. Di ingatnya kejadian malam itu. Dengan malas Sasuke berusaha duduk dan bersandar di papan tempat tidurnya seraya menghela nafas panjang.

'Aku benci tempat ini. Kapan aku akan bebas?aku ingin sekali mati' Kata Sasuke dalam hati. 'waktu itu, kenapa aku melihat Hinata?Apa mungkin dia yang membawaku kesini?tapi, tidak mungkin, sepertinya aku juga tidak menelpon siapapun'

Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya, membuatnya menyerah untuk berpikir lagi. Ingin sekali dia turun dari ranjang rumah sakit, tapi dengan selang infus yang masih menancap di lengannya membuatnya berpikir dua kali untuk turun.

'Membosankan' Kata Sasuke

Kebosanan Sasuke terobati, saat Hinata tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya. Tingkah Hinata yang menutup pintu kamarnya pelan bahkan mungkin sangat pelan, membuatnya tertawa kecil. Mendengar suara tawa itu, Hinata membalikkan tubuhnya dan mendapati Sasuke sudah sadar dan sedang duduk seraya menatapnya. Dengan tatapan itu, membuat wajah Hinata memerah karena malu dan membuatnya terdiam seperti orang bodoh di depan pintu.

Tak ada yang bicara, senyum kecil di bibir Sasuke membuat wajah Hinata semakin memerah dan tentu dia tidak ingin tiba-tiba pingsan di depan Sasuke.

"Hey!jangan cuman berdiri di situ. Disini banyak kursi yang bisa kau duduki. Kalau kau hanya berdiri disana, perawat tidak akan bisa masuk." Goda Sasuke

Hinata menurut dan duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang. Dipandanginya Hinata yang masih dengan muka memerah. Melihatnya seperti itu sungguh pemandangan yang jarang sekali di lihat. Ingin sekali Sasuke terus menggoda Hinata, karena wajah merahnya membuat Hinata terlihat sangat imut dan manis. Tapi, tentu dia juga tidak ingin Hinata pingsan karena malu.

"Jadi, kau yang membawaku kesini?" Tanya Sasuke

Hinata mengangguk tanpa melihat ke arah Sasuke.

"Bagaimana kau bisa menemukanku?" Tanya Sasuke lagi.

"Um..Um..Ano…Itu…Aku…" Jawab Hinata bingung.

Sekali lagi, Sasuke tertawa kecil melihat tingkah Hinata. Di pencetnya tombol darurat yang ada di sebelah tempat tidurnya. Dan tanpa waktu lama, perawat penjaga, masuk ke dalam

"Ada yang bisa dibantu?" Tanya si perawat

"Bisakah kau lepaskan ini?Aku rasa aku tidak butuh lagi" Kata Sasuke

"Saya harus minta persetujuan kepala perawat. Saya akan segera kembali" Kata perawat itu seraya keluar dari kamar Sasuke

"Apa kau yakin sudah baikan Uchiha?" Tanya Hinata yang sudah kembali 'normal'

"Aku bosan berada di tempat ini." Kata Uchiha

Tak berapa lama, dua perawat masuk dengan membawa peralatan untuk melepas selang infus di lengan Sasuke. Tak butuh waktu berapa lama, selang infus pun terlepas dari lengan Sasuke.

Dengan segera Sasuke masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dari lemari yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya

"Ayo!" Kata Sasuke seraya menggandeng tangan Hinata

"Kita mau kemana?" Tanya Hinata

"Sudah ikut saja" Kata Sasuke dengan tetap menggandeng Hinata

Dengan mengendarai mobil yang memang sudah Sasuke siapkan di tempat parkir rumah sakit, mereka keluar dari rumah sakit tanpa orang lain tahu kecuali dua perawat yang membantu Sasuke melepas infusnya, yang tentu saja mereka akan menginfokan hal ini pada Itachi dan yang lainnya.

Setelah satu jam berkendara, akhirnya mereka sampai di sebuah pantai dengan ombaknya yang beriak kecil dan di pinggirnya tak sedikit pepohonan yang cukup untuk berlindung dari panasnya matahari.

"Disana banyak orang. Apa kau tidak takut dikenali banyak orang?" Tanya Hinata.

Tanpa menjawab pertanyaan Hinata, Sasuke keluar dari mobilnya. Lalu berjalan mendekati Hinata, sekali lagi Sasuke menggandeng Hinata dan mengajaknya menjauh dari arah pantai.

"Hei, bukankah kita akan kesana?" Tanya Hinata seraya menunjuk ke arah pantai.

"Siapa yang bilang aku mau melihat pantai. Sudah ikut saja, aku janji kau pasti tida akan menyesal" Kata Sasuke

Hinata menurut. Dibiarkannya juga dirinya digandeng Sasuke. Dengan melewati beberapa tanjakan dan pepohonan yang sudah mulai banyak, keramaian pantai semakin lama semakin menghilang. Hingga akhirnya, mereka berada di sebuah bukit yang udaranya tidak lagi panas dan berganti dengan udara segar. Di bagian kanan bukit, terlihat pantai yang baru saja mereka lewati, lalu yang membuat Hinata takjub, di sisi kiri bukit, pemandangan gunung-gunung dan hijaunya rumput membuat mata menjadi segar.

Sasuke bisa melihat kekaguman Hinata. Duduklah dia di sebuah pohon besar yang dipenuhi dengan daun-daun, menikmati semilir angin yang menerpa kulit wajah Sasuke. Hidungpun dimanja dengan aroma bunga yang terpampar di depannya.

Dilihatnya Sasuke yang tengah duduk di rindangnya pohon besar seraya menutup mata dan menikmati segarnya udara bukit yang ditumbuhi penuh dengan bunga. Wajah damai Sasuke membuat hati Hinata terenyuh. Berbeda saat Hinata menemukannya pingsan di jalan yang sepi dengan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya. Tanpa Hinata sadari, air matanya menetes.

"Kenapa menangis?" Tanya Sasuke

Hinata yang terkejut dengan pertanyaan Sasuke, meraba pipinya yang sudah basah dengan air mata.

"Aku juga tidak tahu" Kata Hinata seraya menatap Sasuke. Air matanya semakin deras mengalir dari matanya yang teduh

Sasuke beranjak dari tempat dia duduk, mendekati Hinata yang terdiam dan menangis. Di peluknya tubuh Hinata yang mungil dan mendekapnya dengan erat. Tangan kanannya memegang bagian belakang kepala Hinata dan mengelusnya. Menenangkan Hinata yang menangis sesenggukan. Setelah sedikit tenang, di hapusnya air mata yang masih mengalir dengan dua ibu jarinya.

"Jangan menangis Hanabi" Kata Sasuke seraya mencium lembut bibir Hinata

Meski terkejut dirinya dipanggil Hanabi, Hinata membiarkan Sasuke menciumnya. Karena ada perasaan benar saat melakukannya. Perasaan bahwa dia melakukannya tidak hanya sekali ini. Jauh di lubuk hatinya, pertemuannya dengan Sasuke bukanlah pertemuan pertamanya di kehidupan ini.

XXX

Di sebuah ruang yang temaram, Fugaku Uchiha mengumpulkan dua anak buah terbaiknya.

"Kabuto dan kau Gai, cari info soal Hinata Hyuuga. Kalau dia memang pewaris tahta Hyuuga. Bawa dia kepadaku baik-baik." Perintah Fugaku " Usahakan Neji tidak tahu soal ini. Kalau ada yang menghalangi, habisi dan tentu saja tanpa jejak"

"Baik" Kata Kabuto dan Gai serempak seraya menghilang dari pandangan Fugaku.

"Sasuke, kali ini aku akan penuhi janjiku pada ibumu dan kau akan tahu, kalau aku sangat menyayangimu" Kata Fugaku.

(TBC)