Hi~ aku kembaliii… (?) Chapter kali ini udah mulai menuju inti cerita dan juga udah mulai jelas pairingnya.


Vocaloid belongs to Crypton Future Media and Yamaha Corp.

Warning: OOC, abal, gaje, typo, alur gaje dan lambat.


Hari ini masih seperti biasa,aku bersama-sama dengan Len pergi berangkat sekolah bersama. Tidak terasa sudah 4 bulanaku bersekolah di sekolah ini. Aku juga sudah semakin akrab dengan teman-teman di sekolah, terutama anggota klub musik. Klub kami juga sering mengisi acara di berbagai tempat. Kami juga sering memenangkan perlombaan. Itu semua berkat kerja keras kami. Dan itu semua membuatku semakin merasa nyaman di klub itu. Oh iya, diantara semua anggota klub, aku paling akrab dengan Gumi-chan. Aku dulu memanggilnya dengan panggilan 'san' tapi kemudian dia menyuruhku untuk memanggilnya dengan panggilan 'chan' agar kelihatan lebih akrab. Awalnya aku menolak karena terdengar tidak sopan memanggil kakak kelas dengan sebutan seperti itu. Tapi karena dia memaksaku, mau bagaimana lagi?

Seperti biasa juga, saat jam istirahat Len selalu ke kelasku dan mengajakku pergi ke kantin. Di kantin kami biasanya bertemu dengan beberapa anggota klub musik dan akhirnya kami makan bersama. Kami banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari kami. Kaito-san yang awalnya pendiam ternyata sekarang dia sangat cerewet. Dia yang paling banyak cerita. Meiko-san bilang "Kaito itu memang cuek, tapi kalau kau sudah kenal dekat dengannya pasti dia akan berubah dalam sekejap" sambil tertawa. Kami sering bercanda bersama, terutama Kaito-san yang sering membuat orang lain sebagai bahan candaan. Tapi saat dia ulang tahun, Luka-san dan yang lain bekerja sama untuk menjadikan Kaito-san sebagai bahan candaan.

Hari-hari berlalu. Saat liburan musim panas, Miku-san mengajak kami untuk main kerumahnya. Rumahnya sangat besar. Tentu saja karena dia seorang idol yang sangat popular sekarang ini. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak bersikap sombong. Itu sebabnya banyak orang yang menyukai Miku-san. Di rumahnya, disediakan banyak makanan untuk kami semua. Dan Miku-san berkata

"Ini untuk ber-pesta~ Ayo kita sambut kesuksesan klub kita yang ke-20 kalinya untuk angkatan kali ini!" dengan sangat bersemangat.

Malamnya pun kami berpesta kembang api di atap rumah Miku-san. Rasanya sangat menyenangkan, memiliki sahabat baik dan bersenang-senang bersama. Saat tidur,aku mendapatkan kamar yang sama dengan Gumi-chan. Dia bercerita banyak hal padaku.

"Rin-chan, kau sepertinya sangat dekat dengan Len-kun. Apakah dia pacarmu?" Tanya nya.

"Bu-bukan! Aku tidak memiliki pacar! Bahkanaku belum pernah memiliki pacar. Bagaimana kau bisa mengira begitu? Kami kan saudara tiri!" jawabku agak panik.

"Iyaaku tahu, tapi masih mungkin kan? Kalian kan tidak berhubungan darah" kata nya sambil tersenyum.

"Ti-tidak mungkin! Selama iniaku cuma menganggapnya sebagai saudara, ti-tidak lebih!" Aku mencoba menjelaskan apa yang kupikirkan.

"Kenapa? Len-kun itu cukup populer loh, banyak sekali gadis yang menyukainya. Kau yakin tidak suka?" dia mulai tersenyum agak licik.

"Tidak! Aku tidak menyukainya, lagipula selama iniaku tidak pernah tertarik dengan hal-hal seperti itu!" Aku mulai menjadi lebih panik. Aku tidak ingin Gumi-chan salah paham tentangku.

"Haaaah, kau tidak usah panik begitu Rin-chan~ Aku cuma bercanda kok! Tapi baguslah kalau kau tidak suka…"

"Eh? Memangnya kenapa bagus?" tanya ku.

"Karena sepertinya Miku-chan menyukai Len-kun. Kalau kau tidak suka, jadi itu bukan masalah untukmu kan?" jelas Gumi-chan padaku.

"E-eh, y-ya tentu saja. I-itu sama sekali bukan masalah kok! Hehehe…" Aku merasa ada yang aneh pada diriku. Tapiaku berusaha untuk tidak memikirkannya.

"Yasudah,aku mengantuk nih. Oyasumi Rin-chan~" kata Gumi-chan sambil menguap.

"Oyasumi" dan kemudianaku menutup mataku.

Besoknya, kami kembali kerumah masing-masing di sore hari. Saataku dan Len berjalan menuju rumah kami, kami melewati sungai di dekat rumah Miku-san. Aku bisa melihat matahari yang hampir terbenam.

"Wahhh, pemandangan yang bagus!" kataku.

"Iya, kau benar" katanya sambil tersenyum. Entah kenapaaku merasa wajahku agak memanas melihat ia tersenyum. Ahhhh, apa yang kupikirkan ini?

"Hey Rin?" tiba-tiba Len mengagetkanku.

"Ah! A-ada apa?!" tanyaku sambil terkejut.

"Kenapa kau melamun seperti itu?" tanya nya kebingungan.

"Ti-tidak ada apa-apa! La-lagi pula a-aku tidak melamun! Ayo pulang, sudah hampir malam" ucapku sambil berjalan meninggalkannya. Kemudian Len segera mengikutiku dari belakang.

"Rin, kau masih ingat janji kita kan?"

"Hm? Yang mana?" tanya ku.

"Janji tentang kita akan selalu bercerita satu-sama lain" jawabnya.

"Oh itu, tentu sajaaku ingat. Kenapa?"

"Kalau kau ada masalah, ceritakan padaku ya!" dia berkata sambil menepuk pundakku, dan kemudian dia tersenyum padaku.

"A-ah i-iya, a-aku akan ce-ceritakan" jawabku gugup.

"Eh Rin? Kau sakit ya?" tanya nya padaku dengan wajah khawatir.

"Ti-tidak! Aku tidak sakit! Sama sekali tidak!" jawabku dengan suara yang agak kencang.

"Ta-tapi wajah mu memerah seperti itu. Kau yakin tidak apa-apa?"

"Me-merah? Tidak! Kau pasti salah lihat. Sudahlah, Aku tidak apa-apa!" kataku padanya. Kemudianaku berlari meninggalkannya. Aku bisa mendengarnya berteriak kepadaku, tapiaku tidak perduli. Sampai di rumah,aku segera masuk ke kamarku dan mengunci pintunya.

"Huh, apa-apaan dia itu! Wajahku tidak memerah atau apapun! Pasti dia salah lihat! Ya, pasti dia salah lihat. Mana mungkin wajahku memerah hanya karena…"tiba-tibaaku teringat pada senyuman Len tadi. Danaku bisa merasakan wajahku memanas.

"Ahhhh, apa-apaan ini. Kenapa tiba-tiba panas begini? Apakah AC nya rusak? Tidak, AC nya tidak rusak. Tapi kenapa…Jangan-jangan"laluaku teringat kata-kata Gumi-chan semalam.

"Mungkinkahaku? Ti-tidak, itu tidak mungkin… selama iniaku hanya menganggapnya sebagai…"

"Iyaaku tahu, tapi masih mungkin kan? Kalian kan tidak berhubungan darah"

"Tidaaaaak, tidak mungkin…aku… mana mungkinaku… Tapi, bisa saja. Selama iniaku selalu merasakan perasaan yang berbeda saat dekat dengannya. Tidak, tidak mungkin. Mungkin itu hanya perasaan sebagai seorang saudara! Ya, saudara!"aku berusaha untuk menutupi perasaanku.

Beberapa bulan pun berlalu. Awalnya hari-hariku masih seperti biasanya. Tapi sampai suatu hari kakak kelas 3 bertambah sibuk, yang menyebabkan aktifitas klub dikurangi. Kami jadi jarang bercanda bersama lagi. Dan hal yang berubah lainnya adalah, Len mulai jarang mendatangi kelasku. Dulu ia selalu datang saat jam istirahat. Tapi sekarang…

"Mungkin dia sibuk? Dia kan berada di kelas unggulan. Pasti dia sibuk mengikuti perlombaan. Ya, mungkin begitu."

Saat bel pulang berbunyi, murid-murid segera bersiap untuk pulang. Terlihat ekspresi bahagia pada wajah mereka. Ya, tentu saja bahagia. Bel pulang adalah sesuatu yang selalu ditunggu oleh murid kelasku. Mereka semua tidak begitu menyukai pelajaran yang disampaikan guru. Begitu juga denganku. Aku sudah siap untuk pulang. Tapi,aku tidak melihat Len.

"Sebaiknyaaku tunggu dia di depan gerbang sekolah…" gumamku sambil beranjak menuju gerbang sekolah.

10 menit

.

.

.

20 menitaku telah menunggunya. Tapi dia belum juga datang.

"Ukhh, kemana sih dia? Jangan-jangan dia meninggalkanku… Tidak, dia bukan orang yang seperti itu. Lalu… sebaiknyaaku cek saja ke kelasnya" laluaku memutuskan untuk melihat ke kelasnya. Mungkin saja dia ada pelajaran tambahan atau yang lainnya. Aku menaiki tangga menuju lantai 2. Setelah melewati beberapa pintu akhirnyaaku menemukan satu pintu yang bertuliskan "1A". Pintunya tertutup tetapi tidak terlalu rapat.

"Jangan-jangan benar, ada pelajaran tambahan. Kalauaku buka begitu saja, mungkinakuakan dimarahi. Lebih baikaku tunggu saja. Atau mungkin,aku bisa sedikit mengintip" kataku sambil berusaha mengintip melalui celah pintu. Aku terkejut saat melihat apa yang terjadi di dalam. Itu bukan pelajaran tambahan atau semacamnya, tapi itu…aku melihat Len dan Miku-san, hanya berdua saja di dalam dan mereka… berciuman. Dadaku rasanya sangat sesak. Kenapa ini? Aku segera berlari keluar menuju rumah. Perasaanku hancur. Kenapa? Kenapa begini? Apa yang salah? Apa yang salah denganku?

"Tapi baguslah kalau kau tidak suka…"

"Eh? Memangnya kenapa bagus?"

"Karena sepertinya Miku-chan menyukai Len-kun. Kalau kau tidak suka, jadi itu bukan masalah untukmu kan?"

Seketika aku teringat pembicaraanku dengan Gumi-chan sebelumnya. Lalu aku berhenti didepan pagar rumahku, dan bergumam.

"Mungkinkah aku… menyukai Len? Tapi dia itu saudaraku sendiri. Ta-tapi itu mungkin saja, apalagi kita tidak berhubungan darah. Tidak, tidak mungkin aku menyukai nya! Aku tidak boleh berpikir seperti itu! Tapi kalau tidak, kenapa dadaku sangat sakit melihat kejadian tadi? Bukankah seharusnya tidak begini? Harusnya aku bahagia karena Len bisa mendapatkan Miku-san yang sangat populer. Bukankah itu bagus?" gumamku. Lalu tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pundakku.

"Kyaaa!" teriakku.

"Ma-maaf, aku mengaggetkan mu ya? Habis kau hanya diam saja di depan pagar. Kenapa tidak masuk?" tanya orang yang menepuk pundakku yang tidak lain adalah Len. Dadaku terasa semakin sakit saat melihatnya.

"Rin? Kau marah ya? Maaf ya aku lama. Tadi aku ada pelajaran tambahan. Dan saat aku melihat ke kelasmu, kau sudah tidak ada. Maafkan aku" kata Len sambil membungkukkan badan.

"Bohong! Kau bohong! Bukankah kau berjanji untuk tidak berbohong padaku?" gumamku.

"Rin, kau tidak mau memaafkanku ya?" kata Len dengan wajah bersalah.

"Len, sekarang ini aku sedang ingin sendiri. Jadi jangan ganggu aku" kataku sambil berlari masuk kedalam kamarku dan menguncinya.

Aku…sepertinya aku, telah jatuh cinta pada sahabatku sekaligus saudara tiriku. Tapi kenapa? Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Disaat dia sudah bersama dengan orang lain. Mengapa, cinta pertamaku harus seperti ini?


~Tsudzuku~


Selesai…

Pendek yaa o_o Tapi gak apa-apa kan?

Ceritanya makin gaje aja ya? XD Buat yang tahan baca fic gaje, tunggu chapter selanjutnya yaaa ;)

Tolong review nya ..