DISCLAIMER : MAS KIS (MASASHI KISHIMOTO! BUKANNYA MAS KISAME!)

RATE : UP TO YOU...

WARNING : FULL OOC

.

.

.

Nama gue Pein. Udah pada tau kan? Kalau belum gue ulangi lagi. Nama gue Pein. Inget? Chara antagonis di manga Naruto yang matanya bulet-bulet kaya obat nyamuk itu loh. Oke, gue lanjut. Sebagai ketua gadungan dari organisasi penuh chaos nan hopeless bernama Akatsuki *ketua aslinya juga gak jelas. bisa Obito, bisa juga si bongkot Madara*, gue bakalan ngasih tau kisi-kisi *bukan Kisimoto* kenapa kok makhluk-makhluk astral dari organisasi di bawah kepemimpinan gue ini punya ciri khas...

Jubah awan merah? Bukan. Yang ini sudah dibahas sama author bernama Iseng di fic gajenya yang berjudul Jubah (3 September 2009).

Kuteks? Yang ini sederhana. Cuma modal sebiji spidol merk Snomen *plesetan* yang beli di warung Mbok Tumijah samping kuburan China Khe Mo Ceng. Itu aja nyicil per minggu mbayarnya!

Tampang? Ya elah, anggota Akatsuki memang rata-rata mukanya di bawah standar SNI semua kecuali gue. *digebuk Itachi, Sasori, sama Kakuzu. eh, Kakuzu gak jadi nggebuk karena tiba-tiba merasa jelek kembali*

Caping. Itu yang mau gue ulas setajam...'silit'! *SILET*

.

.

.

~Caping Akatsuki~

Pertama, pas awal-awal gue dilantik jadi ketua Akatsuki pas anggotanya baru ada Konan sama Zetsu, di tengah-tengah kebon jengkol sama Obito dan Mandra eh Madara dengan penyerahan sebiji buah zakar monyet sebagai simbolis, gue langsung mikirin ribuan visi dan misi untuk memajukan organisasi yang bakalan gue ketuain ini. Walau dari ribuan visi dan misi itu nyaris gak ada SATUPUN yang terealisasi karena diluar nalar semua.

Karena gue ngerasa kalau jadi anggota organisasi rahasia sekelam dan sesuram Akatsuki ini butuh penyamaran kelas wahid, maka gue mikirin beberapa opsi-opsi yang nyaris rasional *ingat, nyaris!*. Yang paling penting dari penyamaran itu adalah wajah. Jangan sampai wajah eksotis *eksotis dalam pandangan orang idiot* kami terekspos ke media. Walaupun gue ragu banget sih ada media cetak sekalipun kualitasnya abal-abal yang mau meliput gue dan kawan-kawan, hiks..hiks... T _ T

Topi.

Itu dia. Ituuu. Gue sempat cari wangsit sama ilham di goa sarang dedemit selama tujuh hari tujuh malam buat mikirin kira-kira apa jenis topi yang pas, cool, keren, maskulin, karismatik, gak alay, gak najis, cucok, buat kita-kita. Dan jawabannya adalah...

1. ) Baseball Cap

Jawaban memuaskan ini gue dapat setelah dibisikin sama jin penunggu goa dedemit yang konon katanya sering disebut oleh masyarakat sekitar dengan nama Mbah Jirobo. Gue putusin untuk beli topi berjumlah sepuluh buah *ngutang* dan gue sablonin logo awan merah di bagian depan *lagi-lagi ngutang*.

"Gimana, keren gak gue?" Kata Sasori sambil pose narsis ala bintang film Korea favoritnya bernama Chou Chou Te yang booming setelah membintangi K-drama dua episode berjudul 'Fucking Shit Asshole'. Tapi konon drama itu langsung di-stop penayangannya oleh KBS (Kebun Binatang Surabaya) karena terlalu vulgar.

"Loe udah keren kaya Chou Chou Te, Sas." timpal Kakuzu sembari ngitungin duit hasil malak tadi subuh di pasar hewan.

Tapi itu tidak bertahan lama. Sasori langsung pulang gak lama setelah dia pergi menjalankan misi untuk memata-matai Gaara di kawasan pasar Sunagakure.

"Hiks..hiks..huwaaa..."

Gue sama kawan-kawan yang lain sontak menghampiri tuh orang sambil berusaha menenangkan.

"Tenang Sas, tenang." Itachi nampol pipinya.

"Cup cup cup..." Hidan nonjok gusinya.

"Nyebut Danna, nyebut, un!" Deidara mbejek selangkangannya.

Sasori manut sama saran partnernya itu, "But but but but buuutt..."

Setelah tuh boncel tenang, gue akhirnya berusaha mengorek informasi tentang alasan kenapa dia nangis mewek-mewek kaya barusan. Dan ternyata jawabannya adalah...

XXXXXXXXXX

Sesosok cowok berambut merah yang memakai topi baseball bersimbol awan merah dan jubah hitam bercorak awan merah lagi sibuk mengintai sang Kazekage kelima di tengah-tengah pasar Sunagakure dari jarak 3 meter. Iya, cuma 3 meter doang!

'Gue harus tau kemana si Gaara itu pergi. Ini misi dari Pein sebagai awal rencana menghancurkan Sunagakure.' batinnya.

Sasori lumayan tegang. Menyelinap dari balik tembok ke tembok lain agar tidak kehilangan jejak Gaara-sama. Gaara ternyata lagi asyik menawar barang dagangan di sebuah lapak yang reyot dan mau ambruk.

"Bang, ikan asinnya yang rasanya manis ada gak bang?" tanya Gaara kepada abang penjual ikan.

Si abang gak bereaksi. Berusaha mengamati sosok manusia konkret di hadapannya dengan baik-baik selama beberapa detik. Kemudian dia terhenyak.

"Kazekage-sama?!" jerit sang abang pemilik lapak reyot mau ambruk.

Gaara mantuk-mantuk.

Abang penjual ikan spontan sungkem sama Gaara. Padahal dia gak tau kalau pemimpinnya itu lupa cebok sehabis ber-feces tadi. XD

'Cih, itu anak. Pakai blusukan segala ke pasar kumuh. Padahal gue tau kalau aslinya dia tuh lagi pencitraan. Ntar gue bikin artikel di situs akatsukipiyungan. org buat fitnah dia. Gue kan timsesnya calon Kazekage periode 2014-2019 bernomor urut 99, Chiyo-baa. Nenek gua yang tegas, bukan Kage boneka, apa adanya alias non pencitraan, dan gak doyan black campaign.' ucap Sasori panjang-lebar dalam hati. Dia bergerak dengan perlahan-lahan mengendap-endap ke belakang sebuah kendaraan agar bisa mengintai sang target lebih dekat lagi.

"Pak-pak." seorang ibu-ibu gembrot nepuk-nepuk pundaknya Sasori.

"Apaan sih? Gue lagi sibuk tau." jawab Sasori ketus pakai gak nengok segala.

"Ya elah bapak ini, gue mau ngasih rejeki malah ditolak."

Perkataan aneh ibu-ibu gembrot itu barusan membuat Sasori bingung. Ngasih rejeki? Apa hubungannya?

"Ada apa sih bu?" akhirnya noleh juga dia.

Tangan kanan ibu itu menyodorkan selembar duit, "Anterin gue dong pak ke Puskesmas Suna."

Kedua alis Sasori terangkat ke atas. Matanya melotot. Mulutnya melongo. Langsung disadari olehnya jika kendaraan yang dijadikan tempatnya berlindung itu adalah sebuah...

BECAK!

Ibu itu garuk-garuk keteknya yang berbulu *hiiiyy*, "Bapak ini aneh banget jadi tukang becak. Ada penumpang gak merespon, disodorin duit bingung. Bapak tukang becak beneran kan? Topi yang bapak pakai persis kaya yang sering dipakai sama tukang becak."

xxxxx

"HUWAAAAAAA..." tangisan cucu durhaka nenek Chiyo itu makin keras. Gue berusaha mati-matian supaya bikin dia diam dan gak mewek lagi.

"Sas, udah dong jangan nangis." hibur gue penuh kelembutan. "Kalau nangis ntar jadi tukang becak beneran loh." gue nyiapin linggis di tangan kiri.

"HUWAAAAAA! GUE YANG KEREN BUKANLAH TUKANG BECAAAK!"

Linggis karatan meluncur ke mulut Sasori.

BUUAAKKK!

J

O

K

O

B

O

D

O

2. ) Coboy

Setelah terjadi tragedi nista bersejarah bernama 'Sasori The Pedicab Driver' tepatnya pada tanggal 21 Juni 2014, gue putuskan untuk membuang seluruh topi model baseball yang tadinya wajib dipakai oleh seluruh anggota ketika pergi misi. Nah, karena gue masih kukuh dengan pemikiran jenius *jenius di kalangan primata* di awal menyangkut penyamaran supaya wajah susah dikenali, maka gue lanjutkan untuk meminta wangsit dan ilham lagi. Kali ini sudah bukan di goa Dedemit.

Kali ini lokasinya di pantai keramat yang konon dikuasai oleh Nyi Tayuya Kidul Lor Wetan Kulon. Gue sempat ngguyu-ngguyu ngeres pas dengar kalau Nyi Tayuya sang jin wanita paling populer itu mengijinkan kepada penyembahnya untuk bercinta di ranjang singgasananya sebagai syarat mutlak memperoleh wangsit atau ilham.

Tapi lain di mulut lain di kenyataan.

Boro-boro bercinta. Gue malah disuruh supaya mbersihin WC kerajaan Nyi Tayuya Kidul Lor Wetan Kulon yang jumlahnya SERATUUUSS bilik dan baunya bak tinja kadaluwarsa.

Oke-oke, kenistaan hanyalah tinggal kenistaan. Kini gue sudah dapat wangsit *Akatsuki minus Pein : Hurraaay!* dari Nyi Tayuya... *kepanjangan*. Gue suruh Kakuzu buat beli topi coboy sejumlah sepuluh buah *ngutang lagi* dan disablonin juga *ngutang lagi? ya!*.

Kisame melangkahkan kedua kakinya pelan namun pasti. Ditatapnya seorang pria bercadar buluk yang sedang berdiri di hadapannya. Kisame menyeringai sok keren tapi malah kelihatan ndeso. Jari tangan kirinya mengangkat bagian depan topi koboi yang dipakainya. Tangan kanannya mengacungkan sebuah pistol bertuliskan '357 Magnum' ke depan.

"Harta...Atau...Nyawa?" ucapnya sok keren. Pelatuk siap ditarik.

Si eyang bercadar cuma geleng-geleng kepala, "Atau."

Harta-Atau-Nyawa? Atau?

Kisame bingung sendiri. Maklum, otaknya yang pernah mengalami goncangan dahsyat sewaktu baru lahir *lahir di tengah medan perang antara pasukan Atlantis melawan pasukan Neptunus* membuat daya pikirnya sangat-sangat terbatas.

Dia marah, Kisame marah! Ditariknya pelatuk pistol itu seketika...

"TUIT TUIT TUIT DEDEDEDEDET...TUIT TUIT TUIT DORDORDOR."

Pistol Kisame menyala merah campur biru dan menimbulkan suara gaje barusan.

Gue nyamperin tuh anak terus nyiapin kaki kanan buat melancarkan tendangan ala Tsusubasi Ozora.

JDUAKKK!

"CEPAT PERGI BELANJAAA!" perintah gue.

Tapi lagi-lagi kaya tadi. Kisame pulang dengan tangan hampa dan malah masang tampang madesu campur horror yang bisa bikin mayat hidup lagi kalau melihat hal itu.

"Lho Kis, mana softex bergambar Sundel Bolong pesanan gue?" tanya Konan.

"Lho Kis, mana mbak-mbak kasir pesanan gue?" tanya Sasori. *ya elah ini orang*

"Lho Kis, mana bedak The Fuck pesanan gue, un?" tanya Deidara. *Tje Fuk : The Fuck!*

"Lho Kis, mana ayam jantan tiren warna item yang matanya rabun satu terus belum pernah kawin pesanan gue?" tanya Hidan. *ayamnya buat ritual awet tua*

Lho Kis, mana duit buat gue?" tanya Kakuzu. *ini mah malak namanya*

Lho Kis, mana kondom bergerigi rasa duren montong pesanan gue?" tanya Itachi. *author tepar begitu tau pesanan ini orang*

Lho Kis, mana pupuk kandang kotoran kebo pesanan gue?" tanya Zetsu.

Lho Kisame-senpai, mana buku Akuntansi pesanan Tobi?" tanya Tobi. *kertas-kertas di buku itu bakalan dipakai buat bikin pesawat kertas, perahu kertas, sama bungkus gorengan*

"Lho Kis, mana harga diri yang telah lama hilang pesanan gue?" tanya gue.

BLAM!

Pintu itu ditutup dengan kencang. Gue sama konco-konco pun harus mati-matian berusaha untuk mencari tau apa penyebab kekesalan itu ikan asin. Dan akhirnya diketahui...

xxxxx

Sesosok manusia yang lebih cocok disebut sebagai siluman ikan berkulit biru sedang jongkok terdiam di depan supermarket 'Kerrepol' yang merupakan anak usaha dari jaringan supermarket Carrefour dikhususkan untuk kalangan bawah ke bawahnya lagi. Jadi pantas kalau orang sekelas Kisame belanja di situ.

"Nasib-nasib jadi orang susah. Seandainya aja ada produser atau sutradara berbaik hati yang kebetulan lewat di depan gue terus tiba-tiba aja ngajakin gue main film. Pastiii bakal gue terima dengan senang hati." Kisame ngomong sendiri kaya orgil sambil mesam-mesem ke segala arah. Sampai-sampai orang-orang yang ada di situ pada ngibrit ketakutan.

Dia ngelihatin kumpulan receh yang ada di genggaman tangan kanannya, "Uang segini buat beli kebutuhan seabrek dari anggota Akatsuki apa cukup ya?"

Tiba-tiba saja lewatlah seorang bapak-bapak tuwir yang tubuhnya nyusut ke bawah dan bukannya tumbuh ke atas di depan Kisame.

Kisame terperanjat, syok, serta deg-degan setengah mampus saat melihat muka bapak-bapak itu. Dia sering muncul di televisi *8 inch milik Akatsuki*, beberapa hari yang lalu diterpa gosip perselingkuhan dengan seekor domba betina, berprestasi karena telah memperoleh SATU penghargaan sepanjang kariernya di malam penganugerahan FFS (Festival Film Shinobi) dan itu pun katanya karena kebetulan semata.

Dia...Onoki. Sutradara sebuah movie yang pernah menduduki box office selama satu minggu saja lalu terpental dari peringkat sepuluh besar berjudul 'Nenek Berak'. Film layar lebar berdurasi satu jam saja yang menceritakan perjuangan seorang nenek bau tanah binti pikun yang kesulitan untuk melakukan buang hajat di rumahnya sendiri. Melalui berbagai macam konflik tunggal berupa pintu terkunci, kesetrum, kepleset, sampai-sampai kejedot lalu tidak sadarkan diri. Film yang dikatakan mampu menyedot perhatian banyak sekali kalangan terutama para cucu yang durhaka kepada neneknya. *Sasori nonton film ini sampai belasan kali bersama nenek Chiyo*

"Ehem..." Kisame bangkit berdiri lalu bersiap untuk memperagakan bakat akting terpendamnya kepada sang sutradara. Asal kita meyakini dengan sepenuh hati tanpa keraguan sedikitpun maka, Mukjizat itu...nyata saudara-saudara sekalian. *sok relijius*

Onoki bersiap untuk menekan tombol remot mobil kodok tahun '45-an miliknya. Dibelakangnya Kisame sudah bersiap untuk mengadu keberuntungan.

Kisame menarik nafas dalam-dalam. Kaki kanannya menekuk 90 derajat ke depan, kaki kirinya dilempar ke belakang, tangan kanannya lurus horizontal ke depan, tangan kirinya lurus horizontal ke belakang, dan yang paling parah wajahnya. Mata bulatnya melotot, gigi-gigi runcingnya meringis, hidungnya kembang-kempis, dan air mata meleleh membasahi pipinya yang amis. Benar-benar menjiwai peran!

Topi ala coboy itu membuat rasa percaya dirinya meroket tajam. Itu kata Kisame sih.

"Llla la la la la la la la laaaaa..." suara falseto barusan keluar dari tenggorokan Kisame.

Onoki tidak jadi memencet remot mobilnya gara-gara dikejutkan oleh suara ghaib barusan. Dia menengokkan kepalanya 180 derajat ke belakang kaya burung hantu.

Masih sama dengan posisi super abnormal tadi, si hiu menarik pita suaranya lagi, "Maaaarriiiaaaa Eeeevvvaaaa..." *Ave Maria kali. Maria Eva tuh pedangdut yang kena skandal mesum sama Yahya Zaini (-_-)" *

Onoki merogoh saku celananya lalu memberikan sebiji koin ke tangan Kisame yang mengadah horizontal ke depan. "Nih om. Ayo parkiri."

Butuh setengah menit bagi Kisame Hoshigaki untuk menyadari situasi serta kondisi.

"HAAAAAAAAAAAHHHH? PAAAARRRKIIIIIRRRR?!" jawdrop-nya sampai nyenggol tanah.

Onoki mengangguk, "Ya iya lah, wong dari topinya aja udah kelihatan. Topi kaya gitu biasa dipakai sama tukang parkir om. Lagian ngapain coba situ jongkok di pinggiran tempat parkir kalau bukan tukang parkir?"

Statement menusuk dari sang sutradara barusan membuat om Hoshigaki kalah telak dan mau gak mau harus memarkiri mobil kodok keluaran tahun '45-an milik tuh kakek.

"Mundur...terus-terus...stop." kata Kisame sambil ngusap air mata sama ingusnya yang meler.

"Yo majuu." mobil jebot itu pun sukses melaju dari parkiran.

Di tengah-tengah akting jadi tukang parkir *bukan akting ini mah, real!* dia mencoba tetap bersabar sekalipun diterpa oleh cobaan seberat ini. Untung aja dapat duit...

"ANJING!" gerutunya bar-bar saat mengetahui jika koin yang dikasih oleh sutradara movie Nenek Berak itu cuma bernominal 50 perak. Duit yang sudah gak diedarkan oleh bank nasional dunia ninja (BNDN) dan gak bakalan mampu buat beli permen SEBIJI pun!

XXXXXXXXXX

Gue, Pein no Kawaii, cuma bisa ngelus dada saat mendengar penjelasan langsung dari Kisame yang bakalan bikin siapa saja yang mendengarnya...KETAWA NGAKAK!

"Buakakakakak." gue ketawa keras banget sampai-sampai gue lupa tentang sakitnya dikalahin sama Naruto waktu itu.

"Loe harusnya kerja jadi tukang parkir aja Kis. Biar ada tambahan biaya buat bayar listrik." saran Kakuzu seenak udel.

"Berisik! Gue bantai loe-loe pada ntar malam. Inget!" ancam Kisame dengan warna muka yang merah campur biru. Jadi makin gak karu-karuan.

Yah begitulah akhirnya. Setelah topi model baseball yang sudah dicoret dari peredaran gara-gara tragedi 'Sasori The Pedicab Driver' kini gantian topi model coboy yang dipastikan hangus akibat tragedi 'Kisame The Poor Parking Worker'. XD

Nantikan gue di chapter 2 ya readers. Terutama para ladies yang cakep-cakep. Bye-bye...

-Pein no Kawaii-

Hehehe, maaf-maaf kalau fic ini super gak jelas a. k. a super gaje. Ada yang berkenan memberikan saran atau kritik? :D