DISCLAIMER : MAS KIS (MASASHI KISHIMOTO! BUKANNYA MAS KISAME!)
RATE : UP TO YOU...
WARNING : FULL OOC
.
.
.
Halo, kembali lagi di fic gaje dimana chara protagonis utama alias hero-nya itu GUE, PEIN! Gue tekanin sekali lagi, GUE, PEIN! Oke, det inaf. *that enough. skor TOEFL Pein tak terdefinisi soalnya*
Setelah gue kemarin menceritakan separuh perjalanan dari kisah sejarah heroik menyangkut caping Akatsuki *heroik mbahmu!*, kini gue mau melanjutkan yang separuhnya lagi. Oke daripada kelamaan membaca intro yang sarat makna ini *seret makna alias gak ada maknanya lah iya* maka nyok kita lanjutkan sesi keduanya.
3. ) OSIS
SOSIS? bukan dodol. OSIS! OSIS! Itu tuh topi yang dipakai sama murid-murid SMP atau SMA setiap upacara. Nah, ceritanya gue dapat ilham buat memilih topi jenis ini sebagai alternatif ketiga itu setelah pergi ke gunung Mbuako yang ada di ujung dunia ninja. Tempatnya agak nyelesep-nyelesep gitu jadinya kalah populer sama gunung Myobokuzan tempat para kodok lapuk bertapa. *dikeroyok Fukasaku and the gang*
Tapi lagi-lagi pikiran atau khayalan brilian *khayalan mesum* gue gak sesuai sama kenyataan. Gue kira gunung Mbuako ini gak kalah keren dan tetap bernilai historis kaya gunung Hua Kuo di film yang menceritakan seorang botak sok bijak, beruk sakti, babi lincah, sama brewok goblok yang melakukan perjalanan menuju ke selatan. *barat geblek!*
Di sini, isinya memang beruk berbagai jenis. Gak beda jauh lah sama jenis beruk-beruk yang ada di gunung Hua Kuo itu. Ada monyet biasa, orang utan, siamang, simpanse, lutung, uwa-uwa, sampai-sampai sekilas gue nemuin seekor Pithecantropus Ereksi *Erectus woy* di situ. Tapi yang paling bikin gue eneg adalah bosnya, bos para beruk.
"ENDANG?!" Heboh gue saat melihat sosok si bos gunung Mbuako.
"Endang-Endang bambang gurindang?! Enma songong!" tuh raja beruk menthung kepala gue sampai benjol pakai tongkat emasnya yang bisa mulur panjang.
"Ampun mbah, ampun." gue sujud syukur.
Setelah damai akhirnya gue mengutarakan uneg-uneg gue yang sebenarnya ke dia. Monkey Boss manggut-manggut setuju. Cuma...cuma...CUMA...ada syaratnya.
"Nama gue di dunia shinobi adalah Enma. Tapi julukan khas gue di dunia beruk adalah Sun Bo Kong!" dia menekankan nama Sun Bo Kong sampai ngeden-ngeden.
Firasat gue udah gak enak nih. Buktinya bibir gue rada nyut-nyutan.
Benar saja. Gue...Pein no Kawaii...dipaksa...nyipok...bokong...Endang eh Enma...24 JAM NON-STOP!
Sun : cium.
Bo Kong : pantat.
"Hoeekkk cuih! hoeeekk pueh! hoeeekk juh!" benar-benar tuh beruk nista. Seandainya aja gue gak diancam sama Madara bakal nyuruh si Emon 'ebol' gue kalau seenak udel lepas tanggung jawab maka gak bakalan gue mau ngelakuin hal-hal seniiiiisssstaa tadi. Kalau loe-loe mau tau rasanya kaya apa cipokan sama anus shity Enma itu maka loe wajib latihan dulu nyipok pantat babi habis berkubang di lumpur. Tiga kalilipatnya lah. Bikin gue trauma sama yang namanya pantat primata.
Kalau nyipok pantatnya Konan 48 jam non-stop sih gue mau. *Konan nyiapin gaban di markas*
"Leader, gue berangkat misi dulu yah, un." Deidara minta ijin ke gue sebelum bablas pergi misi buat nyari majalah Hidayah buat gue. *Pein mau tobat setelah dicincang-cincang sama Konan pakai gaban*
"Kalau bisa yang judul covernya 'Kemaluan Mayat Tidak Mau Turun Bagi Si Tukang Zina' Dei. Kayaknya cocok buat gue." *wasalam, author tepar*
"Ayo senpai. Tobi udah gak sabar kepengin jalan-jalan pakai topi ini." tuh bos (Obito) yang sok idiot megangin topi OSIS warna biru yang dipakai di kepalanya.
Tapi...lagi-lagi ya Jashin. Kedua orang itu pulang dengan tangan hampa dan yang paling parah polah tingkah mereka berdua.
Deidara nangis sama kejang-kejang. Tobi ketawa terus seakan-akan habis mengunjungi surga. Ada apa gerangan dengan mereka?
XXXXXXXXXX
Kedua orang anggota Akatsuki yang partneran itu lagi asyik berjalan di trotoar untuk menuju ke Orochimaru Book Shop yang menjual berbagai macam jenis buku. *aslinya sih pedagang emperan. cuma namanya aja yang wah*
"Senpai, main tebak-tebakan yuk." ajak Tobi sambil muter-muter gak jelas.
"Hn, un." jawab Dei asal keluar suara.
"Bis apa yang imut?" tanya Tobi sambil jalan mundur.
" 'Bis'a gue, un."
"Orang apa yang keren?" tanya Tobi sambil salto. *ini orang hiperaktifnya membahayakan publik sumpah*
"Orang cuma gue, un." jawab si rambut kuning dengan rasa enjoy.
"Anak apa yang manis?" tanya Tobi sambil jalan merem dan efeknya dia kejedot pohon. *modar!*
"Anak-anak bilang sih, gue, un." jawab Deidara lagi.
"Mobil apa yang oke?" tanya Tobi sambil ngesot karena habis kejedot pohon.
" 'Mobil'ang gue juga boleh, un."
"Lagu apa yang seksi?" tanya Tobi sambil naik kursi roda yang secara ghaib bisa langsung hadir di TKP. *namanya juga fanfiction. unleash your imagination!*
" 'Lagu'e banget tuh, un." Dei nepuk dadanya.
"Bus apa yang ganteng?" tanya Tobi sambil jalan pakai kedua tangannya dan kaki di atas.
" 'Bus'yet deh gue lagi."
"Udang apa yang paling imut?" tanya Tobi sambil melayang pakai bola angin kaya Avatar A'ang.
" 'Udang'apa jangan gue lagi, un!" bentak si maniak seni. *termasuk air seni*
"Satu lagi ya senpai." ucap Tobi.
Deidara mesam-mesem sombong karena sudah tau jawaban lanjutannya.
"Dara apa yang hermafrodit?"
Mak jleb! Deidara speechless.
Tobi berdehem, "Ehem, kalau bukan Dei'Dara' senpai ya siapa lagi."
Hampir aja tuh topeng monyet meleduk kena C4 sebelum seorang bapak-bapak berjenggot, merokok, dan memakai pakaian PNS berdiri di belakang kedua orang aneh itu dengan tatapan horror.
"Lagi ngapain loe berdua di sini pas upacara bendera berlangsung?" bentaknya melengking campur ngebass.
Suara horror barusan membuat bulu ketek Tobi merinding sama bulu pusar Deidara berdiri. Mereka berdua noleh kompak ke belakang.
"GERANDOOONNGGG?!" teriak Tobi heboh.
"ASU?!" Deidara syok.
Itu Asuma Sarutobi yang lagi menjalani kerja sampingan sebagai guru BP di SMPLB Konohagakure.
Tangan kanan Asuma nyekek leher Tobi, "Jangan samain brewok kece milik gue sama brewok kusut milik setan gerandong."
Tangan kiri Asuma nampong pipi Dei, "Memangnya susah ya ngucapin nama gue secara lengkap?"
"Ampuni Tobi paaakk..." dia mewek sampai-sampai pipis di celana.
"Kenapa loe nangkap kita berdua? Memangnya kita salah apaan, un?" Deidara berusaha membela diri ketimbang memilih nangis kaya Tobi.
Asuma nyawel topi yang dipakai di kepala teroris sama autis itu terus nunjukin tulisan yang tertera di masing-masing sisinya. "Lihat noh! SMPLB Konohagakure."
Akhirnya mereka berdua dipaksa hingga diseret oleh si brewok gerandong supaya mengikuti upacara bersama siswa-siswi yang merupakan teman sepermainan Tobi semua. Tobi sih senang malahan. Sedangkan Deidara?
"Ini rambut apaan? Cukuran anak SMP tuh wajib 3-2-1 kalau cowok. Gue bakalan cukur kuncir kuda sama poni panjang loe sekarang juga." Asuma nyiapin gunting semak-semak buat mangkas rambutnya Deidara tanpa waktu yang lama.
Dengan mata yang super sembab dan ingus yang meler panjang banget, Deidara harus menabahkan hati rapuhnya untuk menerima cobaan hidup sesakit ini. Ditonton oleh puluhan remaja yang sejenis dengan Tobi di tengah lapangan sambil digunduli oleh Asuma membuatnya ingin mati saja.
"Hiks..hiks..hiks..ngerti kaya gini gue gak bakalan ikut, un." Deidara meratapi nasibnya yang nista.
"Hah? Loe gak bakalan ikutan UN?" tanya Asuma dengan nada tinggi.
Yang ditanyai manggut-manggut pasrah, "Iya. Yang disuruh sebenarnya itu kan Tobi. Ngerti kaya gini gue gak bakalan ikut, un."
"Hah? Loe udah bego karena masuk SMPLB, gak mau ikutan Ujian Nasional lagi. Gimana sih loe ini?" oalah, gara-gara imbuhan 'un' yang selalu dipakai sama Deidara jadinya si guru BP songong itu salah tanggap.
XXXXXXXXXX
Gue dan anggota Akatsuki yang lain cuma bisa berdadah-dadah ria saat Deidara menaiki kendaraan yang akan membawanya pergi menuju ke kampung halamannya, Iwa. Dia berjanji bakal balik saat poni dan kuncir kudanya numbuh minimal 20 centimeter.
"Dadah Deidaraaa!" teriak gue dan yang lain bersamaan saat kedua kakinya telah berada di atas kendaraan yang siap tancap yaitu...GEROBAK!
"Kalau bisa baliknya yang lama ya. Hitung-hitung irit air soalnya loe kalau cebok ngambil airnya gak kira-kira." kata-kata yang penuh akan majas kekikiran ini sudah jelas terlempar dari mulut basi Kakuzu.
D
E
D
I
D
U
K
U
N
4. ) Knitting Hat (Kethu)
Gagal maning gagal maniiiinnggg! Benar-benar nasib gue. Udah tiga kali nyari wangsit sama ilham di tiga lokasi sakral yang berbeda (goa sarang dedemit, kerajaan Nyi Tayuya Kidul Lor Wetan Kulon, gunung Mbuako) tapi tetaaapp aja gagal total. Setelah Sasori mengalami kejadian nista berjudul 'Sasori The Pedicab Driver' lalu Kisame dengan kejadian berjudul 'Kisame The Poor Parking Worker' dan terakhir si Deidara yang harus kehilangan rambut panjangnya di kejadian bernama 'Deidara And Amazing Junior High School' *amazing : luar biasa. SMPLB : amazing junior high school* , maka kini tinggal jalan terakhir yang bakalan gue tempuh. Nyari ilham di tempat yang konon mengandung kesaktian paling mandraguna seantero dunia shinobi.
.
.
.
Gubuk.
Dewa.
Jashin.
.
.
.
"Mau apa loe kemari? Mau cari ribut sama gue ya?" tanya DJ (Dewa Jashin) penuh emosi ke gue saat ngelihat dengan matanya sendiri kalau gue ngetok-ngetok pintunya pakai palu raksasa. *ya iya lah marah wong ngetuknya pakai senjata perang*
"Gini nih Shin, gue kemari mau cari ilham atau minimal petunjuk lah supaya dicarikan alternatif penutup kepala yang pas buat organisasi Akatsuki yang gue ketuain." gue sungkem terlebih dahulu ke DJ biar gak bikin dia tambah ngamuk walaupun harus merelakan nostril indah *gundulmu indah* gue terbakar oleh bau jempol kaki tuh dewa.
Dewa Jashin sewot, "Shin-Shin, Shinta dan Jojo apa? Panggil gue dengan nama Alfonso De Abu Bakar Victoria Jashin Pakukaratan Sihombing Yahweh Kazuki Choi Li Lin. Itu nama kehormatan gue di kalangan jin." *buset. nama apa rel kereta?*
Pein nyatet nama yang gak lumrah itu di secarik kertas, terus nunjukin tuh kertas ke sang dewa ngaco, "Kalau gue singkat jadi ADABVJPSYKCLL gak apa-apa yah?"
"Gak apa-apa kok. Gue kan orangnya humble."
'Humble-humble pala loe penjol! Humble kok doyan nyiksa orang lewat nama.' padahal sih gue juga gak tau apa itu arti humble. Umbel lah gue tau.
DJ kembali duduk di singgasananya yang ternyata adalah kursi balita berwarna ijo bergambar muka orang lagi senyum. "Gimana kabar hamba gue yang paling setia bernama Hidan?"
Gue jawab apa adanya, "Puji Tuhan, kabarnya buruk kok. Kemarin habis kecemplung got sampai kepalanya bocor."
"Good-good." DJ ngacungin jempol. *astaga ini dewa*
Daripada kelamaan basa-basi ngalor-ngidul gak jelas maka gue langsung menceritakan apa permasalahan yang sebenarnya ke dewa gaje itu. Dia mantuk-mantuk dan bersedia untuk membantu asal...
"Carikan gue kaset game PC yang paling keren saat ini. Taruhannya nyawa. Kalau salah maka gue langsung cabut nyawa loe saat itu juga."
Buset, demi kolor gue yang digondol sigung. Kaset game PC yang paling keren saat ini itu apa?! Kalau gagal maka gue bakalan dibikin matek sama dewa sialan itu. Belum ngerasain enaknya kawin lagi. Gue wajib berjuang. Berjuang! *disinari cahaya lampu teplok*
Aha, gue punya ide.
"Ini ABCDEFGHIJKL, sudah gue bawain game PC yang paling keren di abad 22 mendatang." karena gue lupa singakatan namanya yang bikin otak berasap itu maka ABCDEFGHIJKL aja gak masalah kayaknya.
Kedua mata DJ berbinar-binar, "Masa? Cepat-cepat sini masukin ke dalam PC gue yang speknya high-end."
'High-end dari Ethiopia? Layar 14 inch retak, keyboard tombolnya pada nyungsep, mouse nyetrum, sama PC pentium 1 kaya gitu dikatain berkelas?' *padahal Akatsuki malah gak punya komputer blas*
Setelah dimasukin tuh Blu-ray disc bertuliskan 'The Elder Scrolls VI : Holy Shit *edan-edan* ke dalam slot CD/DVD di PC milik DJ, lalu tinggal menunggu aja sampai game-nya diputar.
1 menit...
5 menit...
15 menit...
"Lama amat?!" heboh gue karena kelamaan nungguin.
Di layar muncul tulisan 'Carilah 5 perbedaan di antara kedua gambar ini'. Di bawah tulisan ada dua gambar yang saling bersebelahan. Yang kiri gambar Naruto lagi ngangkang dan yang kanan gambar Sasuke lagi kayang.
"Game apaan nih? Gue kira terusannya Skyrim. Ternyata kaset Blu-ray isinya cuma dua gambar gak mutu kaya gini. Jelas-jelas gambarnya beda bagai bumi sama planet jupiter kaya gini kok disuruh cari perbedaannya segala. Cari mati loe ya?!" kedua bola mata DJ sudah memerah dan di tangan kanannya tiba-tiba muncul gada rujak polo kaya yang dipakai Bima di film kolosal Mahabaratha.
Wajah gue pucat pasi, "Enng..enggak-enggak. Ini mungkin masih intronya aja, hehehe. Tunggu sebentar lagi aja, hehehe." hampir aja gue mampus.
Itu dewa bego herannya kok langsung manut ke omongan gue. Dia perhatikan baik-baik kedua gambar yang terlihat sangat asusila dan jelas-jelas berbeda itu. Tidak ada suara. Hening sampai...
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"
Suara super falseto, hyper cempreng, dan over melengking barusan tecipta dari game tersebut. Tiba-tiba saja munculah wajah Kisame di sebelah kanan yang lagi meringis sama ngedipin mata kirinya dan wajah Kakuzu tanpa cadar yang lagi melet sambil ngedipin mata kanannya.
Itu lah game indie horror terbaru di pertengahan tahun 2014 ini yang bakalan menggebrak pasaran. Judulnya adalah...NGILERJO!
Sebelum DJ semaput gue sempat mendengarkan kata-kata terakhirnya yang berbunyi, "Coba pakai knitting hat alias kethu..." terus dia semaput di lantai. Gue injak mukanya terlebih dahulu sebelum cabut.
OOOOOOOOOO
"Pein, gue mau cabut duluan ke Konoha ya. Gue mau nengokin Sasuke yang sudah merindukan si kakak berbakti ini." Itachi meminta ijin dan gue ijinkan karena kebetulan dia gak ada misi.
"Oke, hati-hati Chi. Jangan lupa ya gue dikasih bagian 20 persen ntar."
'Anjrit! Si Pein udah tau kalau gue ke Konoha cuma mau minta duit ke Sasuke karena kantong gue udah kempes.' itu keriput membatin.
Cuma berselang tiga jam semenjak dia pergi pas senja hari, Itachi balik lagi ke markas dengan tubuh yang...babak belur.
"Buset, loe kenapa Chi?" gue langsung nyamperin tuh anak.
Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka pada terheran-heran kenapa si keriput itu pergi mulus tapi pulang bonyok.
"Jangan sentuh-sentuh gue. Sakit ngerti." kata Itachi pas anak-anak Akatsuki yang lainnya berusaha membantunya berjalan.
"Sini gue obatin pakai ramuan mujarab." Zetsu nekat ngoles-olesin krim berwarna cokelat ke lebam yang ada di kedua pipi Itachi.
Kakak Sasuke itu langsung namplok tangan Zetsu, "Loe gila apa?! Pupuk kandang itu woy!"
Setelah luka-lukanya agak mendingan, gue mencoba untuk menginterogasi itu orang. Kenapa kok bisa sampai kaya gitu. Dan jawabannya adalah...
XXXXXXXXXX
"Cuma dua puluh ribu Sas?!" Itachi syok berat saat melihat duit yang diterimanya barusan.
Si jambul enthok menatap sinis, "Iya. Segitu aja harusnya loe bersyukur banget. Duit tabungan gue yang mau gue pakai buat beli action figure Teletubbies *seleranya loh* nyusut gara-gara ulah loe aniki."
Itachi pasrah aja. Dimasukannya duit dua puluh ribu ryo yang berwarna ijo dan bergambar Tobirama Senju lagi hormat sambil monyong ke dalam sakunya.
"Nih gue kasih bonus buat loe sama sohib-sohib freak loe di Bakasuki." Sasuke menyerahkan sebungkus kain besar yang entah apa isinya.
"Apaan isinya Sas?" pria muka tuwir itu memanggul pemberian adiknya di atas bahu.
"Isinya banyak." jawab Sasuke. "Ada sempak bekas, sandal bekas, kutang bekas, sama kaos rombeng."
"GILA!"
Itachi sukses ditendang sama Sasuke dari depan kediaman klan Uchiha.
"Dasar ototou yang tak berperikemanusiaan. Kasih sesuatu yang keren kek gitu. Perhiasan, sepatu kets, kemeja baru, atau apalah." Itachi misuh-misuh sendiri di tengah jalan. Kebetulan waktu sudah malam.
Tapi, kesialan tidaklah berhenti sampai Kisame ganteng. Itu lah pepatah yang pantas disematkan kepada organisasi bentukan Madara, Obito, sama gue ini.
Mata belekan Itachi samar-samar menangkap sesosok bayangan orang yang membawa sesuatu besar yang dibungkus oleh kain di kejauhan. Orang itu berlari ke arahnya dan lewat begitu aja.
'Orang itu ngapain sih keburu-buru banget?' pertanyaannya barusan terjawab sudah saat segerombolan orang-orang Konoha berlari ke arahnya dengan membawa senter serta tak lupa senjata.
"Maling-maling!"
"Itu yang nyolong!"
"Hajar!"
Tidak perlu belajar sage mode untuk bisa lolos dari serangan seperti ini.
"WAAAAA!" Itachi langsung angkat kaki sekencang mungkin ke arah timur. Sedangkan maling aslinya ke arah barat. Namun sayangnya, orang-orang malah ngejarnya ke arah timur!
Di depan ada pertigaan lagi. Daripada harus capek-capek ngeluarin genjutsu atau ninjutsu maka Itachi putuskan untuk mengeluarkan kawarimi no jutsu saja.
Orang-orang pada kebingungan di pertigaan. Mereka semua kehilangan jejak sang maling alias Itachi Uchiha. Tapi ada yang aneh. Di tengah-tengah pertigaan itu berdirilah sebuah patung manusia yang sedang berdiri tegap sambil hormat.
"Patung ini perasaan kayak gak ada di sini sebelumnya?" tanya hansip 1.
"Iya benar. Sejak kapan sih Godaime pakai ndadak menaruh benda aneh seperti ini di pertigaan?" komentar hansip 2.
"Sebentar-sebentar. Kita tanyain dulu nih patung. Ehm, permisi?" warga 1 bertanya kepada si patung. *patung kok ditanyain?*
"Iya." jawab si patung yang itu adalah Itachi yang lagi nyamar jadi patung polisi.
"Apakah anda tau kemana perginya sesosok maling yang membawa karung dan memakai topi kethu?" tanya warga 2. *astaga pak, di depan loe persiiiss orangnya*
"Ke kiri."
"Yosh, terima kasih banyak patung polisi. Ayo semua, kita kejar si maling sebelum dia kabur terlalu jauh!" hansip 1 memperovokasi dan para warga pun mengikutinya.
Setelah kerumunan warga geblek itu tak terlihat lagi, Itachi menghembuskan nafas lega. "Fyuuuhh, orang-orang asli Konohagakure memang imbisil semua. Gue kecoh pakai kawarimi no jutsu level newbie aja pada ketipu." Itachi ngelap keringatnya dan bergegas untuk kabur. *memang loe bukan asli Konoha, Chi?*
Belum saja pengguna jutsu mata belekan itu melangkahkan kaki kanannya ke depan, gerombolan warga tiba-tiba balik lagi menuju ke arahnya.
"Itu diaaaa!" teriak hansip 2.
"Patung polisi gak mungkin hormat pakai tangan kiri!" jerit warga 1.
"WAAAAAAA!" Itachi ngebut secepat kilat bak Minato Namikaze KW 3. Di belakangnya segerombolan warga yang penuh emosi sedang mengejarnya. Dan di depan jalan buntu. Tapi...bukan Itachi namanya kalau tidak dipenuhi ide-ide futuristik.
"Kemana perginya dia? Si maling sialan itu?" hansip 1 nengok-nengok ke segala arah.
"Mustahil dia mampu kabur." ucap warga 2.
Di depan mereka semua, terlihatlah sesosok manusia yang sedang nungging sambil njilat-njilat tangannya pakai lidah. Itachi nyamar jadi kucing mamen!
"Meong..." ini suara Itachi yang dibuat-buat.
"Hah, kucing? Memang ada kucing segedhe dan seaneh ini?" warga 1 merasa heran sampai-sampai dielus-elusnya kepala kucing itu. Kepalanya Itachi.
"Meong, aku kucing dari planet Namex."
Hansip 2 mengangguk paham, "Ohh begitu. Yuk kita cari lagi si maling biadap itu dan jangan ganggu kucing langka ini. Ayo semuanya!"
Lagi-lagi...lagi-lagi...Uchiha Itachi selamat. Dia sampai berdoa kepada Tuhan YME setelah merasa aman dari kejaran warga Konoha.
"Terima kasih ya Tuhan atas kebaikanmu kepada hamba. Hamba menyesal tidak pernah menyembahmu selama ini. Amien." kedua telapak tangannya membasuh muka. Tapi hanya berselang beberapa detik setelah doanya dipanjatkan, para warga balik lagi ke situ.
"Itu dia saudara-saudara! Dia maling yang sesungguhnya!" provokasi hansip 2.
"Mustahil ada planet yang bernama Namex di anime Naruto. Itu cuma ada di dunia Dragon Ball." kata warga 1.
Itachi ngomel-ngomel sendiri, "Gue cabut pujian dan doa yang barusan gue panjatkan Tuhan. Gue resmi atheis lagi!"
Itachi terkepung. Belasan warga Konoha bersiap untuk memukulinya dengan senjata-senjata mengerikan semacam cangkul, pentungan, sekop, kenthongan, sama ulegan.
"Ampuni gue bapak-bapak sekalian. Ampuni gueee..."
"Pak-pak ndasmu! Gue wanita dan bukan pria." warga nomer 7 gak terima karena ternyata jenis kelaminnya adalah betina.
"Iya itu, ampuni gue lah pokoknyaaa..." Itachi sampai sujud-sujud dengan dua telapak tangan yang mengatup.
"Loe kan malingnya? Itu buktinya, kain berisi barang hasil curian sama topi kethu yang loe pakai." hansip 2 nunjuk-nunjuk ke arah dua barang milik Itachi.
"Kain ini berisi sempak bekas, kutang bekas, sama kaos rombengan. Gak ada barang berharga yang gue curi satupun" Itachi membela diri dengan berusaha jujur. Kini giliran dia masang tampang sombong ke arah warga.
"Nah, nah, nah? Yang loe curi memang pas sama barang-barang yang hilang milik warga. Malingnya itu maling daleman!"
Perkataan dari warga 1 barusan membuat Itachi lemas seakan habis nguli bangunan 3 hari 3 malam.
Ingat, kesialan tidaklah berhenti sampai Kisame ganteng. Camkan pepatah dari negeri antah berantah ini.
"Ya gustiiii. Tapi memang bukan gue pencurinya." saking kesalnya sampai-sampai si sulung Uchiha itu gigitin jempol kaki kanannya.
"Ya udah kaya gini aja. Gue lihat KTP milik loe." usulan dari hansip 1 ini langsung ditanggapi cepat oleh Itachi.
Hansip 1 mulai membaca data-data yang tertulis di KTP milik cowok tua sebelum muda itu *sudah keriputan sebelum menginjak masa remaja*. "Nama Uchiha Itachi. Tempat tanggal lahir Konoha 9 Juni XXXX. Pekerjaan...pekerjaan...KRIMINAL KELAS S?!"
Mulut Itachi mangap lebar banget kaya pintu masuk goa lawa. Dia lupa kalau pihak pemerintah Konoha terlalu jujur dalam mencantumkan jenis pekerjaan di KTP. Contoh lainnya adalah Jiraiya yang ditulisnya pengangguran mesum sama Izumo dan Kotetsu yang ditulis penjaga gerbang yang tidak sukses.
KESIALAN TIDAKLAH BERHENTI SAMPAI KISAME GANTENG. INGAT INI!
"Kalau bisa jangan serang pantat gue ya soalnya bisulnya belum matang." Itachi memberitahukan pesan terakhir sebelum dieksekusi.
BAK!
BUK!
DASH!
JDAK!
"Aaaarrghhh! Bisul gueeeee!"
PLAK!
POK!
DUG!
XXXXXXXXXX
Gue aja sampai menitikkan air mata buaya saat mendengar kisah pilu yang barusan dialami oleh Itachi. Kisah yang pantas diberi judul 'Itachi The Unlucky Burglar'.
"Sudah gue bilang berulang kali kalau gue tuh bukan tukang nyolong!"
Oke, abaikan erangan barusan. Kayaknya cerita ini sampai di sini dulu. Gak jadi TWO-SHOT karena ada chapter ketiga yang bakalan membahas masalah asal-usul caping.
Jangan lupa ya, stei cun *stay tune dongo* di fic ini. Bye...*bibir Pein nyipok kamera*
-Pein no Kawaii-
Maafkan author ya karena telah mengingkari janji di awal yang mengatakan jika fic ini akan selesai dalam dua chapter saja. Ternyata tiga, hehehe. :D
Ada yang berkenan memberikan saran atau kritik? :)
Terima kasiiiiihhh...
