DISCLAIMER : MAS KIS (MASASHI KISHIMOTO! BUKANNYA MAS KISAME!)

RATE : UP TO YOU...

WARNING : FULL OOC

.

.

.

Pagi hari yang cerah. Tapi tidak secerah selangkangannya Zetsu. Di mabes Akatsuki *baca : goa*, orang-orangnya yang mirip penghuni sel RSJ kecuali gue *loe malah ketua orang sakit mental* pada teriak-teriak laknat kaya habis melihat Kisame jadi ganteng.

"Kenapa softex gue sekarang diganti sama sabut kelapa sih?!" Konan ngamuk-ngamuk di kamarnya.

"Kenapa kondomnya dibelikan yang standar alias gak bergerigi sama rasanya hambar sih?!" Itachi teriak-teriak gak jelas.

"Kenapa gak ada duit buat operasi plastik biar muka gue lekas ganteng sih?!" si hiu biru protes sambil duduk di depan kaca benggala yang langsung retak pas siluman ikan itu ngaca.

"Kenapa tumbal gue diganti sama pithik *anak ayam* baru netas yang matanya gak rabun sama warnanya kuning sih?! Dasar setan alas!" Hidan murka kaya orang gila sungguhan. *memang dia nyaris gila kok*

"Kenapa gue gak dikasih dana buat kampanye gelap sih? Loe tau gak, gue mau bikin tabloid berjudul 'Opor Rakyat' yang isinya fitnah buat jatuhin calon Kage saingan nenek gue, Gaara." Sasori misuh-misuh.

"Kenapa lempung peledak yang biasa gue pesan sekarang diganti sama mercon bantingan sih, un?!" Deidara mbanting mercon yang ada di genggamannya ke tanah saking kesalnya dan malah membuat jempol kakinya melepuh sendiri.

"Tobi mau cebok gak ada air senpai-senpai sekalian. Apa Tobi biarin aja ya?" tuh boncel idiot langsung pakai celana dan membiarkan tumpukan tinjanya yang baunya selangit di lubang kloset.

"Kenapa sih pupuk kandangnya sudah bukan dari tai kebo lagi? Malah sekarang diganti tai amoeba yang ukurannya sangat mikroskopis kaya gini." siluman botani itu sibuk mengamati tumpukan e'e amoeba yang kecil buanget di telapak tangannya.

"Kenapa sih review di fic ini sedikit banget?" gue, Pein no Kawaii, memprotes hal yang paling vital di cerita ini setelah diperintahkan sama authornya. *author dihajar readers*

Dan kesembilan makhluk eksotis *eksotis di mata orang edan* yang beberapa detik lalu marah-marah akhirnya sepakat untuk menemui orang yang dianggap bertanggung jawab atas masalah-masalah yang menimpa kami semua.

"Gue?" Kakuzu nunjuk dirinya sendiri.

"Bukan. Sarwan." jawab Sasori.

"Ohh Sarwan." si rentenir manggut-manggut.

DUAK!

"Goblok! Ya loe lah songong!" Kisame nendang perutnya Kakuzu sampai-sampai sayur toge basi yang beberapa jam lalu dicerna oleh lambungnya muncrat semua.

Hidan nyolok kedua mata ijo itu pakai paku kaya adegan di film 'SAU' *SAW*. "Woy Kuz, kemana duit kita-kita yang setiap minggunya dikasih ke loe buat tabungan kalau ada perlu sewaktu-waktu? Dasar babi ambein!"

"Sakiiit woy, sakiiittt..."

Gue putuskan untuk menengahi pertengkaran kekanak-kanakan ini karena gue punya jiwa lider *ingat, TOEFL Pein skornya tak terdefinisi* yang sangat problem solving. *problem maker lah iya*

"STOOOPPP!" ucap gue keras dan lantang. "Hentikan penganiayaan terhadap Kakuzu sekarang juga!" kata-kata tegas nan berwibawa dari gue barusan sukses membuat anak-anak ajaib Akatsuki yang lain terdiam.

"Makasih Pein, hiks..." si onta Arab merasa terharu sepertinya.

Gue noleh ke arah Kakuzu, "Kuz, memangnya kemana uang tabungan anggota yang lain? Bukannya loe yang megang?" gue nanya sambil mentung kepalanya pakai vas. *lah, katanya hentikan penganiayaan?*

Dia njawab, "Iya. Gue yang megang. Tapi kan buat bayar utang beli empat jenis topi sama dua kali nyablon lambang awan merahnya. Jadinya habis."

"Gak percaya gue. Pasti duitnya dikorupsi sama loe kan buat biaya operasi plastik biar jadi ganteng kaya aktor Jepang bernama Kuraba Susurata itu?" tuduh Zetsu tak berperikehewanan. *soalnya terlalu naif jika menggolongkan makhluk seperti Kakuzu itu ke dalam golongan homo sapiens*

"Gak kok, gak." Kakuzu menyanggah.

"Gak salah maksudnya senpai?" kata Tobi yang tumbenan otaknya lagi jalan.

Gue dorong kepalanya dari belakang supaya ngangguk.

"Tuh kan? Tuh kan dia ngangguk?" gue mencoba memprovisasi. *provokasi dudul!*

"Gue gak korupsiiiii!" raut-raut keputusasaan nampak jelas di wajah abstraknya sekalipun tertutup oleh cadar.

"Loe gak bohong kan kalau loe mengkorupsi duit buat biaya oplas biar muka loe mirip kaya Kuraba Susurata, un?"

Sasori meluncurkan benang cakranya perlahan ke pinggiran gundulnya Kakuzu. Otomatis Kakuzu geleng-geleng sendiri karena ditarik dari pinggir.

"Tuh kan? Tuh kan dia geleng?" lagi-lagi gue mencoba mempengaruhi yang lain dengan trik murahan kaya barusan.

"Kenapa sih kepala gue geleng-geleng sendiri?!" Kakuzu tengak-tengok ke sekelilingnya.

"Kakuzu, loe gue nyatakan bersalah. Siapa yang setuju Kakuzu bersalah?" pertanyaan gue barusan langsung dijawab dengan acungan jari tangan kanan dari seluruh anggota organisasi gelap *suram lebih pantas* yang gue ketuain ini. Termasuk Kakuzu juga ikut ngacung.

"Woy, kenapa lagi-lagi anggota tubuh gue bergerak sendiri?!"

Sasori siul-siul sambil menghitung jumlah semut yang merayap di lantai.

"KAKUZUUUUU! LOE KELUAR DARI GOA EH MABES SEKARANG JUGA DAN JANGAN PULANG SEBELUM BAWA DUIT!" gue langsung nendang pantat baunya Kakus supaya itu orang kikir minggat dari sini sekaligus mempercepat cerita di chapter ini supaya gak kepanjangan.

W

I

R

O

S

A

B

L

E

N

G

5. ) Caping.

Gue, Kakuzu, calon pengganti Bil Get yang paling kece *kere mbah* kini sedang termangu-mangu di depan halte bus. Gak ada duit yang selalu gue puja, sembah, dan banggakan. Gak ada cewek yang bisa gue kecengin seperti saat gue punya duit dulu *memang ada pas loe punya duit?*. Tapi, itu gak masalah karena gue masih punya tampang yang oke. *oke? pala loe jamuran!*

Gue diusir sama Pein dkk gara-gara gue dituduh mengorupsi duit tabungan Akatsuki untuk biaya operasi plastik supaya bisa sekeren Kuraba Susurata. Sang aktor terkenal yang main J-drama atau dorama berjudul 'Boys After Flower' dimana dia berperan sebagai Gu Jun 'Poo', seorang pria super melarat yang hidup di pinggiran taman bunga bangkai. Pas sesuai judulnya.

Daripada gak action-action dan cuma bisa talk-talk maka sudah gue putuskan bulat-bulat sebulat tubuh Chouji untuk memulai karier di bidang...

PENGEMIS.

Kakuzu. Duduk selonjoran gak nggenah di tepian jalan raya dan hanya bermodalkan dirinya sendiri dan sebuah kaleng. Itu aja kalengnya ndadak rebutan sama tukang rongsok.

"Kasihanilah hamba..." rintihnya, memelaaass banget.

Orang-orang pada berlalu-lalang tanpa ada yang peduli.

"Kasihan pak, bu. Belum makan dua hari." padahal sendirinya asyik ngemil molen sebungkus. *dasar!*

Orang-orang tak ada yang peduli juga.

"Kasihanilah hamba. Hamba terkena penyakit kiriman dari orang yang sirik sama hamba." dia menunjukkan sulur-sulur menjijikan di kedua tangannya kepada khalayak.

"Mustahil ada orang yang sirik sama pengemis kere gak punya kelebihan kaya loe!" umpat orang yang lewat dan langsung bikin Kakuzu sewot.

Dibukanya cadar yang selalu menutupi muka buruk rupanya, "Hiks..hiks..,lihat wajah saya. Saya itu jelek karena salah operasi plastik. Dulu saya adalah seorang aktor yang tampan dan laris manis." sambil menunjukkan fotonya Sasuke Uchiha dengan tulisan BEFORE kepada masyarakat.

"Gak mungkin. Palingan juga loe jelek karena kena azab."

"BERISIK!" Kakuzu sampai ngelempar sandal ke orang yang barusan mengomentarinya.

Tak ada yang memberinya receh barang seperak pun sedari tiga jam yang lalu ketika dia memulai ngemis. Terbesit ide gila di otak lumutan miliknya.

Kakuzu tiduran ngangkang di tengah jalan!

"Kasihanilah hambaaa. Hamba ingin mati saja kalau begituuu..." ucapnya sambil terisak-isak. Dia pikir bakal ada orang yang mendadak berbelas kasihan kepada dirinya dalam posisi seperti itu. Namun nihil. Gak ada satu orang pun yang peduli atau cuma sekedar melirik ke arahnya.

'Anjrit! Gue gak dianggap sama sekali nih? Atau jangan-jangan gue pakai jurus invisible ya?' batinnya. *jurus invisible mbahmu!*

Naas selalu hadir menggelayuti laksana cengiran Kisame. Pepatah karangan sesepuh klan Hoshigaki dari antah berantah ini patut direnungkan oleh para anggota Akatsuki.

TIIIIINNNN...

Kakuzu menengok ke arah kanan dan sepersekian detik setelahnya...

"Uggghh!" kepalanya terlindas hingga bola mata ijonya mencolot. Otaknya berhamburan kemana-mana. Giginya rontok semua. Kepalanya remuk total. Darah kentalnya yang berwarna merah tua berceceran dan memiliki aroma anyir. Kakuzu tewas mengenaskan setelah kepalanya terlindas mobil.

Lho, kok jadi beralih ke genre suspense berbau gore seperti ini sih? Ulangi!

TIIIIINNNN...

Kakuzu menengok ke arah kanan dan sepersekian detik setelahnya...

"Woy loe, loe ngemis yang kira-kira dong. Gue tangkap loe." suara serak-serak gak enak didengar barusan berasal dari mulut Sarutobi Hiruzen. Dia mengenakan seragam hijau tua yang di bagian punggungnya bertuliskan SATPOL PP.

"Mobil SATPOL PP?!" jerit Kakuzu heboh. Dia hampir saja mengambil langkah seribu jika saja tidak digebuki duluan sama orang-orang SATPOL PP. Termasuk Hiruzen di dalamnya.

BAK!

BUK!

PLAK!

JDUAK!

Kakuzu tepar terus dilempar kepinggir jalan. *buset! bukannya dibawa untuk dibina malah digebuki terus dilempar begitu saja. kejam nian...*

PELAYAN RESTORAN

Kakuzu nekat. Nekat untuk melamar kerja sebagai pelayan di sebuah restoran cepat saji paling terkenal seantero dunia ninja. Kentongan Pret Chicken. *Kentucky Fried Chicken. author bisa dihantui sama arwahnya Kolonel Sanders nih gara-gara mempermainkan nama produknya*

Itu saja diterima dengan sangat amat terpaksa setelah mengancam untuk tidak berhenti njoget reog di depan kedai KFC jika masih belum diijinkan bekerja.

"Selamat datang di Kentongan Pret Chicken, jilat-kulum-tegang-nikmat-muncrat! Ada yang bisa gue bantu?" Kakuzu melayani customer yang ada di hadapannya dengan ramah tamah. Padahal sekalipun perkataannya terdengar lembut namun auranya masih terasa sadis.

"Mottonya ngeres banget ya?" sang customer yang memakai pin di kerah bertuliskan 'Hokage Wannabe' itu mengomentari motto dari restoran waralaba Kentongan Pret Chicken ini.

Padahal sih maksud sesungguhnya itu jilat kulit ayamnya, kulum dagingnya, tegang perasaannya, merasa kenikmatan, dan terakhir muncratlah liur sang konsumen karena keenakan. Tapi karena gak mampu membuat kalimat motto dengan lebih sopan lagi ya begitulah jadinya.

"Gue mau pesan nasi, dada ayam crispy, sama minumnya cola." kata sang pelanggan yang ternyata itu adalah Naruto Uzumaki.

Kakuzu menghitung harga keseluruhan di mesin kasir, "Beres. Total semuanya 30.000 ryo."

"Hah? Mahal amat? Nasi 2.000 ryo, dada ayam 7.000 ryo, sama minuman colanya 2.500 ryo. Seharusnya harga totalnya tuh..." dia langsung mengeluarkan hape bututnya buat menghitung melalui aplikasi kalkulator. "...11.500 ryo."

Kakuzu geleng-geleng, "Maaf, gak bisa. Totalnya tetap 30.000 ryo karena baru-baru ini ada pajak yang bernama PPK."

"PPK?" Naruto menautkan alis.

"Pajak Pembangunan Konoha." jawab partner Hidan itu seenak udel. Padahal aslinya Pajak Privat Kakuzu. *dasar setan duit*

Naruto menghela nafas panjang, "Fuuuhh, ya udah lah. Padahal gue sering langganan di sini pakai menu ini tuh selalu habisnya 11.500 ryo terus." dia menyerahkan tiga lembar uang bernominal masing-masing 10.000 ryo berwarna ungu dan bergambar Senju Hashirama lagi pose peace sambil juling kepada Kakuzu.

"Nih makanannya." tanpa mengucapkan terima kasih atau sebangsanya, itu maniak fulus menyerahkan piring berisi menu pesanan Naruto sama segelas minuman dingin.

Wajah Naruto masih tenang-tenang saja saat menerima menu pesanannya. Tapi itu tidak bertahan lama karena otak pas-pasan miliknya merasakan ada keganjilan.

"Apa iniii?!" telunjuk kirinya menowel-nowel potongan daging ayam yang ada di atas piring. "Ini bukan bagian dada gue jamin. Ini anus!"

Kakuzu membantah, "Itu dada ayam mas."

Ada satu lagi yang janggal. "Terus minumnya? Apa ini woy! Gelasnya bertuliskan cola. Tapi isinya?"

Itu...air cucian piring. *yeiks*

"Anus!"

"Dada!"

"Dubur!"

"Dada!"

"Asshole!"

"Chest!"

Adu debat gak mutu itu menarik perhatian para pengunjung yang lain.

"Di KFC gak ada menu anus crispy!"

"Ad eh gak ada memang. Itu dada spesial yang dibentuk mirip bagian anus!"

"Berani anus loe bengkak kalau bohong?"

"Berani!"

Sesosok pria tua botak, memiliki kutil yang cukup banyak di wajah, keriputnya menyaingi Itachi, berdiri di belakang Kakuzu sedari tadi. Di tangannya tergenggam sebuah linggis karatan yang entah apa gunanya itu. Name-tag di bagian dada sebelah kanan tertulis 'Manager : Hiruzen Sarutobi'. *dia lagi?*

"Kakuzu, nungging." instruksi darinya.

Sepuluh detik kemudian...

"IYYYAAAAAWWWWWW!"

Sang rentenir kikir yang fakir itu, nyungsep di parkiran KFC dengan secarik surat PHK di sisinya. Dan yang paling mengenaskan adalah...anusnya bengkak setelah disodok linggis!

PENULIS

Kakuzu telah memantapkan niatnya untuk menjadi seorang penulis. Iya betul, penulis pemirsa!

Itu semua terjadi secara singkat sesingkat jalan pikirannya *dihajar pakai sulur* setelah menonton acara infotainment berjudul 'Silit' yang kebetulan kemarin pas membahas seorang penulis sukses buku 'Hari Puter' yang bernama J. K. Loreng.

Maka dari itu Kakuzu telah membulatkan tekadnya sebulat payudara Tsunade Senju untuk bekerja keras membuat sebuah karya berbentuk buku cerita. Apalagi kisah sukses si J. K. Loreng tidak jauh berbeda darinya. Berasal dari orang yang hidup susah, merana, dan terlunta-lunta. Kalau J. K. Loreng punya ide membuat karya Hari Puter pas naik kereta api, kalau Kakuzu lain lagi. Dia punya ide membuat sebuah karya pas lagi boker mencret di WC mamen!

'Gue bakalan bikin cerita fantastis nan bombastis kaya Hari Puter itu. Judulnya emm...'

Bruuuttt...preeettt...

'Aha! Kakuzu The Hero! Iya betul tuh, betul banget. Genrenya petualangan, kalau bisa nyaris tanpa typo, multichapter, terus lebih-lebih kalau sekalian dibumbui unsur romance. Hihihi.'

Prepet...preeeet...brut...

Udah ah di skip aja ya. Ntar author bisa di-flame sama readers yang lagi makan pas baca chapter ini. XD

Seorang Kakuzu, nekat melangkahkan kedua kakinya yang bau menuju ke sebuah kantor penerbit di seantero desa besar ninja. Dia bersiap untuk mempersuasi pihak penerbit supaya mau menerbitkan karyanya.

Penerbit pertama (Konoha) : Kakuzu ditolak.

Penerbit kedua (Suna) : Kakuzu diusir.

Penerbit ketiga (Konoha) : Kakuzu diomelin.

Penerbit keempat (Iwa) : Kakuzu digampar.

Penerbit kelima (Kiri) : Kakuzu ditendang.

...

Penerbit kedua belas (Konoha) : Kakuzu hampir dicincang.

"Eh buset-buset, semua penerbit yang sudah gue samperin ngeri-ngeri semua. Persis Hidan sadisnya." keluh itu rentenir sambil berjalan terseok-seok di trotoar.

"Tapi gak apa-apa. Gue harus tetap semangat! J. K. Loreng pun konon katanya sempat ditolak sama banyak penerbit sebelum karyanya diterbitkan pada akhirnya." *ya elah, tapi kan dia ditolak dengan baik-baik? gak kaya loe yang ditolak dengan anarkisme Kuz*

"Permisi..." ucap Kakuzu dengan sopan ketika memasuki kantor penerbit yang ketiga belas di desa Kumogakure.

"Masuk." jawab seorang pria tua yang sedang duduk sambil merokok di meja kerjanya. Sepertinya dia adalah pemimpin di situ.

Kakuzu syok berat sampai-sampai mangap lebar banget pas mengetahui kalau pria itu ternyata adalah...

"Hiruzen Sarungan?!"

"Sarutobi bego! Sarungan-sarungan, enak banget kalau mbacot ente ya." sahut Hiruzen. *ini orang kok perasaan muncul terus ya?*

Setelah duduk, Kakuzu langsung to the point mengutarakan tujuannya mengapa dia menemui pihak penerbit di gedung ini.

"Ohh begitu. Jadi loe mau supaya kantor kita menerbitkan cerita karangan loe?" tanya Hiruzen sembari menghembuskan asap rokoknya yang super kebul ke muka Kakuzu. Untung si onta Arab itu pakai cadar.

Kakuzu mengangguk sumringah, "Iya-iya. Ini cerita karangan gue bos. Baca dulu aja." dia menyerahkan naskah ceritanya yang bentuknya...euh, kusam terus kuwes-kuwes gak jelas gitu lah pokoknya.

Bola mata Hiruzen menelusuri kata demi kata dan kalimat demi kalimat yang tertulis panjang lebar di situ. Ini isi ceritanya...

XXXXXXXXXX

KAKUZUU DE HERO

aku bangkit dri tmpt tidur. ini mash pagi sob. tp tenang ajah kog, saya bakalan menggebrak world dgn tangan-tangan kekar aq ini. namaqu CLOUD KAKUZU TIDUS. mukaku tampaaannn banget. tiga kalilipat daripada tampange onoki lah pokoke.

otot kekar men, otak jenius melebihi albret engsel, gesit lincah irit bak honda repo, bibir lumayan tebal truz eksotic kalo b uwat cipokan french fries, kejantanan panjang-kekar memuaskan ledis lah pokoknyah.

"kakussuuu" ini yang tereak-tereak nyaring sesosok cewe yang lg kejepit batu. mukanya berdarah darah truz uzuznya pada keluar sob. ngeri beut lah ngeliat nyah.

"APAAAAAA?" saya samperin dya. sy mau tolong dya dgn cara yg paling gak sakit n pnuh rasa kemanusiaan bgt.

"HYAAAAATTT" gue tusuk pala nya pake pedang andalan aq yg bernama hololoenfreudbrutisweqa. namanyah abstrak supaya gk ada yg ngmbarin coy.

itu cewe matek lgsng. gue doain biar dosanya diampuni Dewa Jashin...

sepulang dr menolong cewe yg kejepit batu saya dihadang sama sekumpulan monster se gedhe godzila.

"siapa nama kamu? akan kuhancurkan dunia hahaha" kata monster yang mukanyah lbh juelekz dr muka babeh gwe.

"namaq CLOUD KAKUZU TIDUS. sang pahlawan bumi pretiwi ini yg bakalan menumpaz org jht ky kalian kalian ni.

"kakuzu tidus yg ganteng beud"

"ai lof yu cloud kakuzu nikah yuk sama aq"

warga skitar pd manggilin nama saya karna kesengzem..,

"menumpaz org jahat ky kite-kite? mimpi kalee loe, , , hajar preen!" moster monster yg ukuran tubuhnya lebh gedhe dr saya itu menyerang aq bersamaan. aku takut karena badan mreka super jumbo tapi tnang aja kog..

"HENSHIN!" gue berubah jadi ultraman yang zuper gagah perkosa dan nama nyah adalah ULTRAMAN DOLLAR AMERICA..

"ciyat !" aq tendang moster prtama sampek dia burut di celana..

"ahh" monster ke 2 tepar setelah guwe hantam telor burung nyah,

"kakuzu punch.." makluk jahat ktiga mati tanpa per lawanan

TETETET TETETET

MAAFKARNATIBA-TIBACAPSLOCKSAMASPASINYARUSAKPAKPENERBIT

INTINYAKAKUZUTHEHEROTAMATDENGANDAMAISENTOSA

XXXXXXXXXX

Hiruzen Sarutobi, 75 tahun, tak kuasa menahan perasaan sangaaatt aneh yang berkecamuk di dada bengeknya. Nafasnya naik turun tak beraturan, sorot matanya seakan-akan kosong, bibirnya datar, intinya...ekspresinya poker face.

"Bagaimana pak? Diterima? Terus kalau diterima gue dapat honor berapa ya?" Kakuzu mencondongkan tubuhnya ke depan sambil cengar-cengir sendiri. Sudah gak sabar pengin dapat duit, terkenal, terus diganderungi cewek-cewek.

Tangan kanan kakek tua yang nongol terus di chapter 3 itu masuk ke saku celananya. Kemudian mengambil hapenya dan menekan angka 911 di keypad. Terakhir menghubunginya.

"Halo, di sini ada orang gila psikopat yang mengerikan. Alamat di jalan Kukira Takada no. 13, Kumogakure. Terima kasih banyak ya, akan saya tunggu."

Panggilan selesai.

Hiruzen menatap mata Kakuzu.

Kakuzu balas menatap mata Hiruzen. Dia berkedip-kedip berulang kali.

"AAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKHHHHHHHHHHHHH!"

Kakuzu...stroke mendadak!

PETINJU

Kakuzu masih belum menyerah! Tapi kali ini dia akan bersumpah untuk mengakhiri kenistaan dan kesialan juga kemelaratan yang menerpanya entah itu berhasil atau...gagal. *wuih, heroik!*

Kebetulan ada event tinju kelas teri yang diselenggarakan di Sunagakure. Dan yang paling membuat hatinya senang adalah biaya pendaftarannya.

Gratis brother!

Sudah gitu dapat hadiah kaos putih bergambar Gaara lagi ngacungin telunjuknya ke arah udara dengan ekspresi layaknya proklamator sejati. Di bawah gambar ada tulisan 'Coblos No. 2'. *nenek Chiyo kurang modal kayaknya. cuma bisanya menebar fitnah doang lagi timsesnya*

Kebetulan Kakuzu mendapat giliran bertanding pertama kali.

"Inilah dia kita sambut, petinju amatiran yang akan bertanding di pertandingan giliran pertama kali ini. Disudut kiri ring..." tangan kiri sang pembawa acara mengarah menuju peserta yang akan disebut olehnya.

Rambut panjang, muka pucat kaya mayit, mata licik bin picik, aura lekong kombinasi siluman.

"Oroooooooooooooooooooooo..."

Itu Orochimaru! Entah kesambet jin genteng atau jin galon, dia nekat mengikuti event ini pemirsa sekalian.

"...chiiimaaarruuuuuuuuu."

Teriakan demi teriakan serta raungan demi raungan penonton bergemuruh dengan keras menyambut tampilnya si ular sawah bangkotan itu.

Orochimaru mengangkat kedua lengannya ke atas sehingga bau keteknya yang amat terkutuk menguar di seluruh ring.

"Heyahahaha." dia ketawa-ketiwi.

Sang pembawa acara melanjutkan, "Dan di sudut kanan ring..." tangan kanannya mengarah ke sosok yang sudah jelas. Siapa lagi kalau bukan Kakuzu.

"Kakus."

krik...krik...krik...

krik...krik...

Penonton gak ada yang bereaksi. Semuanya anteng kaya lagi mendengarkan ceramahnya nenek Chiyo sang calon Kage bernomor urut 2 yang terkenal doyan menyindir lawan politiknya.

"Kenapa nama gue gak diucapkan sepanjang dan sebombastis Oro sih?! Terus ya, nama gue itu Kakuzu. Bukan sinonimnya jamban itu ngerti!" si cadar buluk ngomel-ngomel ke pembawa acara.

"Maaf, ehm ehm tenggorokan gue mendadak serak. Terus tentang nama memang di sini tertulisnyanya Kakus." padahal ini aslinya cuma alasan doang lho.

Wasit memasuki ring tinju. Kedua petinju saling mendekat ke tengah arena.

"Hah?!" Kakuzu mangap.

"Astajim?!" Orochimaru melongo.

Wasit pertandingan tersenyum sehingga gigi ompongnya nongol.

"Sarungan?!"

"Sensei?!"

Orochimaru sempat sungkem terlebih dahulu. Setelahnya Hiruzen ngemplang jidatnya Kakuzu, "Sarungan moyang loe Pithecantropus! Sarutobi o'on. Sarutobi!" dia ngomong sampai ngeden-ngeden.

Gak pakai mendengarkan ocehan-ocehan gak bermutu dari mereka bertiga, dewan juri langsung memukul panci. *loncengnya dicolong penyamun*

TANG TONG TENG...

"Ini dia ronde pertama. Orochimaru mendekati Kakuzu. Kakuzu mendekati Orochimaru. Lalu, lalu...mereka cipokan!"

"Salah dongo!" bentak Kakuzu plus Orochimaru kompak.

"Orochimaru menyerang sekali namun Kakuzu mampu menghindar. Giliran Kakuzu sepertinya yang akan menyerang. Ya ya, dia bersiap..."

Kakuzu menarik ke belakang siku kanannya untuk melancarkan right hook.

BUAKKK!

"Kakuzu berhasil...dipukul keras oleh Orochimaru tepat di bagian pipi!" *lho?*

"Dasar ular sawah. Gue gak bakalan kalah demi duit." ucap Kakuzu penuh emosi.

"Hehehe, coba aja kalau bisa." balas Orochimaru sembari melet-melet.

"Orochimaru melancarkan jab ke arah perut Kakuzu namun..."

-seeett-

Kakuzu menghindar ke kanan mode matrix.

JDUK!

"...yang kena malah 'anu'nya!"

"Emaaakk..." Kakuzu njungkal seketika dan kedua telapak tangannya memegangi telor kembarnya yang pastinya ngilu setengah mampus.

"Seharusnya ini merupakan pelanggaran bagi pihak Orochimaru namun..."

Hiruzen menggeleng.

"...wasit sepertinya mengisyaratkan bahwa tidak ada pelanggaran."

"ANJING!" umpat partner Hidan itu sambil berupaya bangkit dari njungkalnya.

"Pertandingan dilanjukan. Orochimaru memberikan dua kali pukulan swing namun kali ini Kakuzu sukses menghindar. Kakuzu giliran membalas dengan..."

Secepat kilat rentenir pelit itu melayangkan...kakinya!

JDAK!

"Akh!" Orochimaru guling setelah ubun-ubunnya dihantam tumit Kakuzu.

"Pelanggaran! Poin dikurangi!" kata Hiruzen tegas.

"Lho, bukannya ini olahraga boxing?!" Kakuzu menghampiri pak tua yang sudah nongol berulang kali di fic ini sampai readers bosan melihat ulahnya.

"Benar ini boxing alias tinju. Dan tinju gak boleh pakai ceker, ngerti?!"

"Thai boxing bukannya boleh nendang?" tanya Kakuzu songong.

"Wuuu!" penonton 1 melempar kulit duren.

"Geblek loe!" penonton 2 ngacungin thumb down.

"Dasar curang!" Sasuke nyorakin. *lah, dia ikut nonton toh?*

"Ya saudara-saudari hadirin di sini, sepertinya peserta bernama Kakuzu itu tidak tau sama sekali tentang peraturan tinju."

"Lha itu apa?" bogem kiri Kakuzu menunjuk ke arah sebuah spanduk rombeng berwarna merah yang berada di atas pintu masuk gedung.

TAI BOXING.

"Itu Tai dan bukannya Thai. Disebut tai karena pesertanya masih bau kencur semua di dunia tinju." omongan Hiruzen barusan membuat Kakuzu lemas mendadak.

"Pertandingan berlanjut. Masih tersisa setengah menit untuk menyelesaikan ronde pertama. Orochimaru mendekati Kakuzu. Kakuzu mundur terus dan terus hingga terpojok di tali pembatas ring. Kakuzu tidak mampu berkelit sama sekali. Kenapa? Kenapa?"

"Anjrit, kaki gue kesangkut tali edan ini. Wasit sit, hentikan sementara dong!" jerit Kakuzu super panik. Tapi apes, wasit Sarutobi malah lagi sibuk foto selfie pakai tongkat selfie di arena. *gila ini wasit sumpah*

Orochimaru nyengir ala siluman ular Nagin, "Mati loe Kuz!"

"Orochimaru menonjok wajah Kakuzu dengan pukulan yang membabi buta tidak beraturan."

BAK!

Mata ijo Kakuzu bonyok.

BUK!

Gigi tonggos Kakuzu copot.

BIK!

Hidung pesek Kakuzu...makin pesek lagi!

BUK!

Pipi Kakuzu lebam gedhe.

BAK!

Cadar Kakuzu lepas.

"Woah! Masker aneh yang menutupi muka peserta bernama Kakuzu lepas setelah dihantam berkali-kali oleh peserta bernama Orochimaru. Entah mengapa saya merasa malas untuk mengomentari jalannya pertandingan setelah melihat langsung wajah yang terbilang sangat mistis bin keramat itu."

Kakuzu kelimpungan. Orochimaru menghentikan pukulannya karena tangannya tiba-tiba keseleo. Ambruklah dia di atas ring.

Gubrak!

Hiruzen langsung menghampiri sosok Kakuzu yang tepar di lantai ring. Kemudian dia mulai menghitung mundur.

"Dua...satu..."

"Amsyong! Cuma dua hitungan?!" sedetik setelah protes Kakuzu langsung tepar permanen.

"Saudara-saudari sekalian, kita sambut pemenang di pertandingan pertama gelaran tinju berjudul Tai Boxing yang diselenggarakan sebagai ajang kampanye calon Kazekage bernomor urut 2. Ini diaaa..."

Orochimaru mengangkat kedua tangannya ke udara dengan raut wajah sangat bahagia. Jarang-jarang dia tidak dinistakan di fic bergenre humor/parody. Itu batinnya.

Tiba-tiba kaki kiri wasit Hairuzen dipegang oleh tangan seseorang. Dia spontan menengok dan langsung mengetahui siapa pelakunya.

Kakuzu.

"Gue sumpahin..." suaranya lirih lagi serak mirip kaya setan-setan di film horror.

Bapaknya Asuma itu menelan jigongnya yang penuh bakteri. Glek.

"...supaya keturunan loe..."

Keringat dingin mulai bercucuran di wajah penuh kutil Hiruzen.

"...dinistakan sama orang psiko."

Saking takutnya dia sampai mulas terus kepengin be'ol.

~Barangsiapa yang teraniaya maka berdoalah. Niscaya doamu akan dijawab sekalipun wajahmu sama-sama buruknya dengan perilakumu.~

(Kitab Jashin, surat Bar-Bar : 99)

Dari langit yang mendung tiba-tiba saja munculah sambaran halilintar menuju ke arah gedung tempat diselenggarakannya pertandingan Tai Boxing.

CTAAARRR!

"Aaaaahhhh!" Hiruzen semaput.

"Gwaaahh!" Oro gosong terus pingsan.

"Nyaaakk!" Kakuzu juga kena karena berada di dekat tempat sambaran. Kritis. (-_-)"

~Siapapun yang berdoa pada saat dia dianiaya namun pada saat tersebut mukanya lebih buruk daripada muka-ku (Jashin) maka sesungguhnya dia akan ikut terkena laknat dari-ku.

(Kitab Jashin, surat Rampok : 13)

Sebenarnya Dewa Jashin tidak sedang mendengarkan doa dari hati Kakuzu. Dia cuma sedang syok berat saat memainkan game 'Ngilerjo' pemberian dari gue (Pein) dan kebetulan tombol SHIFT di keyboard-nya kepencet. Itu tombol buat mengaktifkan petir.

Lalu tentang kutukan dari Kakuzu itu benar-benar terjadi. Keturunan Hiruzen yang dinistakan oleh orang gila adalah Asuma. Dan orang psikonya adalah Hidan. XD

S

I

T

O

G

E

N

D

H

E

N

G

Awan kumulus bergerombol di langit sore. Berusaha sekuat mungkin menutupi tirai jingga di angkasa raya. Saling berpadu satu sama lain untuk memberikan pemandangan elok bagi makhluk di atas tanah. Senja...telah...tiba.

kaak...kaak...kaaak...

Suara gagak yang berkoak menambah kesempurnaan suasana senja kali ini. Di hari ini. Namun, sepertinya itu tidak berlaku bagi sesosok pria bermuka buruk rupa, bernasib apes, dan berkantong super kempes yang sedang berjalan terseok-seok melewati atas jembatan. Dia sempat berhenti sejenak untuk sekedar menengok ke dasar jembatan. Melihat indahnya pantulan cahaya matahari senja yang berwarna oranye, menyejukan netra.

"Gue kangen kalian..." gumamnya lirih. Perlahan tapi pasti, bayangan kawan-kawannya yang berada di dalam satu naungan organisasi bernama Akatsuki nampak di permukaan sungai itu. Sungai yang sangat kumuh karena penuh sampah. Berarti Akatsuki itu identik dengan sampah dan kekumuhan.

"Kuz, loe jangan korupsi ya. Nih gue mau setor duit. Buat gue pribadi lho ya, bukan buat loe."

Ucapan Sasori terngiang di telinganya. Sedang apa bocah cebol maniak boneka itu ya?

"Woy Zu, loe jangan ngitungin duit mulu. Gue mau ambil duit tabungan gue buat beli pakan ikan yang penuh nutrisi buat ikan-ikan kesayangan gue."

Kisame ya? Satu-satunya hal yang gak bisa bikin dia (Kakuzu) sedih saat mengingatnya adalah karena muka horrornya. Kesedihan masih kalah jauh ketimbang rasa eneg.

"Un, jangan lupa Kuz beliin gue lempung yang biasa gue pesan. Awas lho kalau duitnya loe tilep, un."

Sosok laki-laki berambut kuning yang sering disebut-sebut sebagai banci, bencong, lekong, bishie, hode, weirdo, sama orang-orang itu membuatnya kangen. Kangen ingin mendengarkan suara un-nya yang aneh namun punya sensasi tersendiri di sukma.

"Akatsuki ya..." setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya yang bonyok karena masih dalam tahap penyembuhan setelah dua hari yang lalu dihajar sama Orochimaru di event Tai Boxing.

"Apakah gue masih bisa balik?" dua tetes...tiga tetes...empat tetes...air matanya terus berjatuhan.

"Hiks...hiks..."

Kuping Kakuzu mendengarkan suara tangisan. Tepatnya, tangisan seorang pria. Itu berasal dari seberang sisi jembatan sana. Dia berada di sisi kiri sedangkan Kakuzu berada di sisi kanan.

"Gue mau mati aja." pria itu nekat berdiri di atas pagar jembatan setinggi satu setengah meter. Kemudian dia membuka botol kecil bertuliskan 'Poison' yang sedari tadi dipegangnya di genggaman tangan kiri.

"Jangan!" dengan sigap Kakuzu segera berlari kencang menuju ke arah pria itu.

"Apa mau loe?" tanya pria itu kepada sang manusia kikir. "Apa loe mau mencegah gue buat mengakhiri hidup?!" dia mulai mendekatkan permukaan botol ke arah mulutnya.

"Jangan woy, jangan!" lagi-lagi Kakuzu menginterupsi.

"Gue jamin alasan loe mencegah gue karena alasan dosa lah, neraka lah, mengecewakan orang yang disayangi lah, sayang sama masa depan lah, terus terus..."

Kakuzu menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kalau itu sih gue gak peduli. Mau loe dijadikan jongos di akherat sana pun i don't care."

Tanda tanya gedhe nongol di atas kepala pria botak itu, "Lha, lantas kenapa loe mau mencegah gue?"

"Gue cuma mau minum racun yang loe pegang buat bunuh diri!" orang tua bercadar buluk itu melompat ke pembatas jembatan lalu manjat ke atas.

"Jangan dodol. Ini dosis khusus buat satu orang supaya cepat K. O." pria yang memiliki codet di atas alis kanan itu berusaha sekuat tenaga menyingkirkan tangan jorok Kakuzu yang sedang berupaya untuk merebut botol kecil berisi racun itu.

"Gue juga pengin mati!" kata Kakuzu lantang.

"Tapi ini racun milik gue!" sahut pria berkumis tebal bak Pak Raden itu.

"Buat gue aja sini!" rebut Kakuzu.

"Minggir loe bangke onta!" hujat sang pria botak.

Mereka terus memperebutkan botol racun yang aslinya difungsikan buat membunuh tikus-tikus itu sampai gak nyadar kalau keseimbangan masing-masing goyah.

"UWAAA!" jerit Kakuzu histeris. Tangan kanannya yang jorok mencengkeram botak si pria sampai akhirnya pria itu ikut terjun.

"KAMPRET!" umpat si pria botak.

JEBYUUURR!

Mereka berdua basah kuyup. Sungai itu dangkal alias gak dalam jadinya mereka gak bisa bunuh diri di situ. Kakuzu memutuskan untuk berdiri menyandar pembatas jembatan dengan tubuh yang basah mirip tikus got. Begitu juga pria itu. Racun tikus yang diperebutkan hilang terbawa arus sungai.

"Hoy..." pria yang punya codet di atas alis kanan membuka pembicaraan.

"Hn?" Kakuzu noleh sedikit.

"Kalau boleh tau, masalah loe apa?" tanya si PB (Pria Botak). *mulai kali ini kita sebut dia dengan inisial PB biar gak kepanjangan. bukan Point Blank tapi...pria botak*

"Gue..." si onta Arab menghirup nafas dalam-dalam, "...diusir sama konco-konco sependeritaan dan sepenistaan. Gue dituduh korupsi duit mereka. Padahal aslinya nggak." Kakuzu ngempos.

"Nggak salah kan?"

"Edan! Nggak ya nggak. Duit mereka habis karena buat beli empat puluh buah topi gaje sama nyablon berkali-kali. Haaahh nasib-nasib. Gue boleh balik asal dapat duit. Dan sudah gue lakukan empat job yang berbeda namun...gatot coy."

PB merenung sejenak. "Gue juga hampir sama. Masalah finansial. Bisnis gue yang ada di berbagai penjuru desa besar shinobi bangkrut berurutan gara-gara terlilit utang yang guedhe buanget."

"Bisnis?" Kakuzu menyahut.

PB manggut-manggut.

"Bisnis apa?" lanjut si kikir.

"Bisnis rongsok, toko sempak, ternak amoeba, semuanya hangus." keluh PB dengan tampang suram.

Kakuzu nepok jidat, "Pantas. Ketiga jenis usaha loe melenceng jauh dari garis kenormalan semua."

"Alah bacot loe!" omel PB.

Tak terasa senja hampir usai. Langit mulai menggelap dan sang surya sudah kembali ke peraduannya di ufuk barat.

"Hiks...hiks..." PB nangis-nangis lagi. Berkali-kali air matanya dihapus pakai lengan.

"Huwaaa..." Kakuzu ikutan nangis. Berharap air matanya berubah jadi mutiara seketika namun jelas-jelas 1000% MUSTAHIL!

Seorang pria tua tiba-tiba saja lewat di atas jembatan dengan menunggangi sepeda kumbang keluaran era dinasti Han. Dia kebetulan membawa radio yang dipasang di stang sepeda super jadulnya.

~Tikus makan sabun...tikus makan sabun...sabun mandiku dikotori...aku tersadar menjadi takuut...~

Tangisan bombay Kakuzu mendadak mandheg, PB melotot secara tiba-tiba. Keduanya menoleh serempak ke arah si pengonthel sepeda kumbang era dinasti Han yang jika diamati baik-baik itu adalah...

Hiruzen Sarungan! *Sarutobi*

Kakuzu langsung murka berat karena ingin membalaskan dendam kesumatnya. "HEYAAAAAHH!"

Menyadari dirinya sedang dalam bahaya, Hiruzen mencoba mengayuh pedhalnya sekuat tenaga untuk kabur dari situ. Namun yang kau tunggangi itu bukan sepeda macam Polygon Zen. Pedhalnya copot!

"Wuaaaa!"

BRAAAKKK!

Hiruzen kepalanya lepas ups maksudnya giginya yang pada lepas. Tanpa perlu dihajar sama Kakuzu dia sudah semaput dengan damainya di tepian sungai kumuh.

Kakuzu menghampiri radio yang ada di sepeda kumbang itu. "Ini lagunya gak sesuai sikon." terus diputar-putarnya tuas bunder di radio itu.

~kresek...kresek...kresek...Ya bertemu lagi dengan kita di acara Tanya-Jawab-Asal. Kali ini tamu kita yang akan diberi rentetan pertanyaan ngawur adalah pengarang sukses novel 'Hari Puter' yang bernama J. K. Loreng. Konon beliau baru saja meluncurkan buku seri ketiga yang berjudul 'Hari Puter Versus Tong Sam Cong'...~

'Gue kapok sama itu pengarang.' batin Kakuzu. Trauma dia sepertinya.

~kresek...kresek...Mahabarhaaaatt Mahabarhaaaattt...~

Kakuzu nengok ke PB. PB geleng-geleng. Kakuzu manggut-manggut.

~kresek...kresek...kresek...kresek...Kalau kamu merasa sakit tidak sembuh-sembuh dan tidak tau harus pergi berobat kemana maka datanglah ke klinik Tong Seng! Di sini kamu akan diberikan obat oleh tabib mujarab dan juga penyuluhan singkat secara gratis! Dijamin sembuh dalam dua kali 48 jam saja. Testimoni dari seorang pasien bernama Bapak Kakashi Hatake : Dulu saya sering berak di celana tanpa sebab. Setelah berobat ke Klinik Tong Seng saya jadi sering berak sembarangan tanpa sebab. Terima kasih Klinik Tong Seng! Testimoni kedua dari seorang anak seorang pasien yang bernama Sakura Haruno : Dulu bapak saya susah tidur alias insomnia. Setelah berobat ke Klinik Tong Seng bapak saya jadi tidur untuk selamanya. Terima kasih Klinik Tong Seng! Ya itulah segelintir testimoni alias pengakuan langsung dari para pasien atau keluarganya yang telah berhasil sembuh setelah berobat ke Klinik Tong Seng. Tunggu apalagi? Klinik Tong Seng beralamat di jalan Jenderal Danzou No. 15 Konohagakure. Telepon 0238765985. Diskon 1% bagi pasien yang berobat hari ini juga.~

Kakuzu geleng-geleng sendiri. Noleh ke PB. PB lagi asyik nyatet alamat Klinik Tong Seng sama nomer teleponnya sekalian. Kakuzu sweatdrop.

~kresek...kresek...kresek...Kuuga ksatria baja hitaaamm. Kuuga pembela kebenaraaann. Kuuga memang kuat sekaleee...~

Kakuzu noleh ke PB. PB lagi sibuk petantang-petenteng kaya Baja Hitam. Kakuzu sewot.

~kresek...kresek...aahhh ohhh yes fuck me...~

Channelnya langsung diganti sama Kakuzu. Takut dosa *halah*. Padahal di belakangnya PB masang tampang ngarep.

~kresek...Yang hujan turun lagi di bawah payung hitam kuberlindung. Yang ingatkah kau padaku di jalan ini dulu kita berdua. Basah tubuh ini, basah rambut ini, kau hapus dengan sapu tanganmu...~

Kakuzu sama PB udah pewe di tengah jalan sambil mewek bareng-bareng. Sambil ndengerin lagu lawas ini, Endang S. Taurina - Antara Benci Dan Rindu. Sejoli abnormal itu sedang asyik meratapi nasib.

"Huwaaaa..."

"Hiks...hiks...hiks..."

"Huweee..."

"Hiks...hiks...srooott..."

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Padahal sebelumnya langit cerah nyaris tanpa awan. Ohh ternyata itu adalah ulah Dewa Jashin yang lagi asyik nangis alay juga setelah menamatkan game berjudul 'Ngilerjo'.

Seorang penjual caping lewat di situ. Kakuzu menyetopnya lalu meminta PB supaya membelikannya agar kepalanya tidak kehujanan. PB nurut setelah diancam mau digorok sama Kakuzu.

Hujan telah reda. Malam mulai larut. Kedua insan yang diluar kewajaran itu sudah bosan dengan acara mewek yang telah dilalui selama berjam-jam.

"Kakuzu, ini kartu nama gue. Kalau kangen gue loe bisa pergi ke alamat itu." PB menyerahkan selembar kartu namanya kepada sang rentenir.

"Iya. Tenang aja. Kalau gue butuh duit pasti gue bakal mampir ke tempat loe kok." Kakuzu ngajak salaman dan PB pun menyalami tangan jorok si pelit.

"Kalau ke tempat gue minimal itu kita berbisnis dong." kata PB sok bijak.

PB merogoh-rogoh saku celananya terus mengambil sesuatu dari situ. "Nih Kuz, duit buat loe. Cuma sedikit sih tapi paling gak bisa bikin hati loe adem."

Kakuzu ngelihatin nominal selembar duit yang dikasih kepadanya. "Ya elah, ini sih bukan majas litotes namanya. Gue kira duit 100.000 ryo terus loe bilangnya cuma sedikit. Duit 10.000 ryo ini memang sedikit goblok. Cuma pas buat ongkos gue pulang ke mabes Akatsuki doang."

Setelah memberikan sedikit duit untuk sohib barunya yang sama-sama hampir bunuh diri tadi, PB melangkahkan kedua kakinya dari situ. Begitu pun dengan Kakuzu. Dia berniat pulang ke mabes (baca : goa) Akatsuki sekarang juga sambil senyam-senyum nista. Dipeganginya caping yang telah menjadi saksi persahabatan barunya dengan PB yang di kartu namanya tertulis Zangei pada kolom nama.

D

E

D

D

Y

D

O

R

E

S

"Gue pulang."

Spontan makhluk-makhluk astral penghuni goa ini kecuali gue (Pein) pada lari menuju ke depan.

"KAKUZU?!" teriak mereka bebarengan kaya paduan suara.

"Loe udah dapat duitnya Kuz?" tanya gue.

"Udah." jawabnya singkat.

Para Akatsuki yang lain mendadak sumringah mendengar berita tersebut.

"Cuma 10.000 ryo. Udah habis pas buat naik angkot ke sini."

.

.

.

.

.

KAKUZU BONYOK!

-THE END-

Hohoho, makasih banget bagi para readers yang sudah membaca chapter ini. Lebih-lebih bagi yang mengikuti fic ini dari chapter awal. :D

Ada yang lupa sama chara cameo bernama Zangei? Itu tuh yang ditemui KakuHidan di toilet bau. Kalau lupa coba cari di narutowikia.

Yosh, akhir kata...sampai jumpaaa! :)