Yosh.. chap 2 update.. masih absurd kayak orangnya, tapi mohon dimaklumi..

Disclaimer : Bukan bapak ulun.. bukan ulun juga

Warning : OOC, Typo pake s gaje de el el

happy reading...

Hari ini seperti biasa, kami bertemu di lapangan streetball dengan Ogiwara-kun yang selalu datang sambil berlari. Tapi hari ini kami tidak bisa main basket. Apa boleh buat, hari ini turun hujan. Terpaksa kami berteduh di halte bus dekat lapangan streetball.

Aku melihat rintikan hujan dengan tatapan kosong. "Hah.. kenapa harus hujan?" Keluhku sebal yang tidak akan terdengar karena hujan lebat yang mengalahkan suaraku. Sekilas kulirik Ogiwara-kun yang berdiri di samping kiriku. Dia hanya berdiri, sedikit menunduk. Tidak biasanya Ogiwara-kun diam seperti ini. Setelah kuperhatikan dengan seksama, ada yang aneh dengan Ogiwara-kun. Dia terlhat pucat dan sedikit... menggiggil?

"Ogiwara-kun." Seakan sadar dari lamunannya dia menoleh ke arahku. Walaupun terlihat pucat tapi matanya masih memancarkan semangat seperti pertama kali bertemu.

"Ada apa Kuroko?" Tanyanya merespon panggilanku. Suaranya terdengar bergetar.

"Kau terlihat pucat. Apa kau baik-baik saja? Kau sakit? Sakit di mana?" Aku mencercanya dengan berbagai pertanyaan.

"Haha.. Aku tidak apa-apa Kuroko. Cuma kedinginan. Aku memang tidak tahan cuaca dingin." Jawabnya sambil tertawa ringan. Berusaha meyakinkanku.

"Benarkah?"

"Iya. Tenang saja Kuroko."

Setelah itu suasana kembali hening. Kami berdua larut ke dalam pikiran masing-masing. Hingga aku kembali memecah keheningan.

"Ano.. Ogiwara-kun."

"Ya, Kuroko?"

"Kau... sejak kapan bermain basket?"

"Umm.. Aku mulai main basket sejak kelas 4 SD. Sayangnya aku nggak punya teman buat main basket dan aku juga nggak ikut klub basket di sekolahku. Jadi aku sering main sendiri. Tapi sekarang ada kau, jadi aku tidak sendiriaan lagi."

Aku tertegun mendengar penuturannya barusan. Jadi selama ini dia kesepian? Pantas saja, walaupun sorotan matanya selalu terlihat bersemangat dan selalu menyunggingkan senyum, tapi jauh di dalam matanya ada sorot kesepian.

"Begitu?" Aku merespon singkat. Lagi-lagi kami kembali terdiam. Sampai giliran Ogiwara-kun yang angkat bicara.

"Oh iya. Kalau hujan sudah reda gimana kalau kita beli takoyaki di depan minimarket dekat sana?"
"Takoyaki?"
"Ya. Aku sudah sering makan di sana. Takoyakinya sang..."

"Eh?" Tiba-tiba saja Ogiwara-kun menarikku. Memaksaku berlari di tengah hujan. Aku tidak mengerti kenapa dia nekat menerobos huujan. Padahal dia sendiri bilang tidak tahan cuaca seperti ini. Bahkan tubuhnya pun masih terlihat menggigil.

"Ogiwara-kun?" Aku memanggilnya, meminta penjelasan sambil berlari di belakangnya. Dia sedikit menoleh padaku, lalu kembali menghadap ke depan.

"Maaf Kuroko. Sepertinya kitatidak jadi beli takoyaki hari ini. Kita juga akan ke rumahku. Nanti biar kau keringkan tubuhmu." Jawab Ogiwara-kun dengan nada datar. Tapi aku menyadari sesuatu, ketika Ogiwara-kun menoleh padaku, wajahnya terlihat panik.

.

.

Keesokan harinya kami kembali bermain basket seperti biasa. Aku bersyukur Ogiwara-kun baik-baik saja. Padahal kemarin dia benar-benar kedinginan bahkan sampai pingsan. Sialnya lagi orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Jadi aku harus menemaninya tanpa bisa membantunya.

Hari ini cuaca terasa panas sekali. Aneh, padahal kemarin hujan lebat. Jadi setelah puas bermain basket kami memutuskan untuk membeli chu-chu popsicle di minimarket dekat lapangan streetball.

Setelah dari minimarket kami kembali ke lapangan basket untuk mengamil tas sekolah Ogiwara-kun tang memang sengaja ditinggalakn di bench. Tapi belum sempat kami memasuki lapangan basket tiba-tiba Ogiwara-kun berhenti. Penasaran aku pun berbalik melihat Ogiwara-kun yang berdiri di belakangku. Saat itu juga aku tertegun, aku melihat Ogiwara-kun berdiri mematung, dengan wajah yang sangat ketakutan.

"Ogiwara-kun? Ada apa?" Tanyaku sedikit khawatir. Walaupun wajahku masih datar seperti biasanya.

"Ku-Kuroko. Maaf.. Aku harus pulang sekarang." Ogiwara-kun sedikit menunduk. Lalu berlari meninggalkan lapangan basket tanpa mengambil tas sekolahhnya.

"Tu-tunggu! Ogi..." Aku berusaha memanggilnya tetapi dia sudah terlanjur menghilang di tikungan. Aku penasaran dengan apa yang membuatnya bertingkah aneh beberapa hari ini, tiba-tiba terlihat panik tanpa alasan.

"Lebih baik kutanyakan besok." Gumamku kepada diriku sendiri sambil melangkah ke lapangan basket.

Baru selangkah aku memasuki lapangan basket langkahku langsung terhenti. Aku melihat lima orang yang tak kukenal sedang duduk di bench. Tidak biasanya ada orang selain kami mendatangi lapangan ini di jam segini. Tapi yang membuatku terdiam adalah, apa yang mereka lakukan dengan tas Ogiwara-kun yang sengaja mereka jatuhkan ke tanah dan sudah kotor karena terinjak-injak?

Aku tidak terima jika mereka mengotori tas temanku jadi aku pun berjalan mendekati mereka, walau aku tak tahu harus melakukan apa setelahnya. Tapi belum sempat aku berhadapan dengan mereka tiba-tiba pandanganku mengabur, hingga semuanya menjadi gelap.

.

.

.

Hari ini lagi-lagi hujan. Ogiwara-kun juga belum datang, jadi aku menunggu di halte bus. Selama menunggu aku hanya berdiri diam sambil menatap hujan yang turun dengan deras. Pikiranku melayang ke kejadian kemarin sore. Terutama kepada kelima orang mencurigakan yang memainkan tas Ogiwara-kun. Aku bahkan dapat merasakan aura mengintimidasi di sekitar mereka meskipun jarakku dengan mereka terlampau jauh.

"KUROKO!" panggilan Ogiwara-kun seketika membuyarkan lamunanku. Nadanya agak aneh kali ini. Bukan seruan ramah dan ceria seperti biasanya.

"Ah, kau lama seka.. OGIWARA-KUN!? KAU KENAPA?!" Tanyaku panik ketika melihat Ogiwara-kun. Ada luka di pipi kirinya, bibirnya juga sobek sehingga mengeluarkan sedikit darah, selain itu dia juga nekad berlari di tengah hujan dengan langkah pincang.

"Kuroko, kita harus pergi dari sini!" Kata Ogiwara-kun panik sambil mencengkram bahuku.

"Eh? Memangnya ada ap..."

"Tidak ada waktu lagi! Kita haru..."

BUGH!

Belum sempat Ogiwara-kun menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba sebuah pukulan melayang ke wajahnya. Seseorang telah berdiri di hadapanku, membelakangiku. Dia menghadap ke Ogiwara-kun yang sudah tersungkur di tanah akibat pukulan yang datang dari orang di hadapanku ini. Orang itu memiliki tubuh yang tinggi, lebih tinggi dari Ogiwara-kun. Dia memiliki kulit gelap dengan rambut navy blue juga berwajah sangar.

"Wah..waah... Sedang apa kau di sini? Kau bermain terlalu jauh, Shigehiro." Sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakangku. Nadanya terdengar darat dan dingin. Seketika aku berbalik dan tanpa sengaja menatap matanya. Mata heterokomianya sangat tajam dan seperti menembusku. Selain itu rambutnya juga berwarna merah membara, membuatku tertekan hanya dengan melihatnya.

"Capek sekali mencarimu. Kami berkeliling seluruh wilayah ini dan baru menemukanmu kemarin-ssu!" Sahut seseorang yang datang dari sebelah kiriku. Orang itu cukup tinggi dan beriris madu senada dengan rambutnya.

"Kemarin kami melihatmu bermain sendirian di lapangan dekat sini. Dan kau membuat kami menunggu sampai malam kemarin." Kata orang yang datang dari arah kananku sambil menaikkan kacamatanya. Tunggu dulu, bermain sendirian? Berarti mereka tidak melihatku kemarin.

"Uh~ aku sampai kehabisan snackku~" Terdengar sebuah suara yang lebih seperti keluhan dari arah depan, lebih tepatnya dari belakang Ogiwara-kun. Aku terperangah melihat ukuran tubuhnya yang sangat tinggi. Rambut violetnya tergerai panjang sebahu hingga hampir menutupi matanya yang memandang malas kepada Ogiwara-kun.

Melihat orang-orang ini aku baru ingat. Mereka adalah lima orang yang kulihat di lapangan kemarin. Tapi yang membuatku bingung, mau apa mereka dengan Ogiwara-kun?

.

.

.

tbc

Nozomi : Maaf ya minna. Antagonisnya emang belum dikasih tahu sih, tapi pasti udah pada tahu kan?

Kuroko : Tapi Nozomi-kun. kenapa disini aku tidak kenal mereka?

Nozomi : yah.. emang sengaja ulun bikin gitu. soalnya kau kan orang asing di sini kuroko-kun.

Kuroko : Nozomi-kun hidoi desu..

ja.. mungkin semuanya masih pada bingung. tapi mohon dimaklumi karena ulun cuma anak bau kencur di sini, makanya storynya gaje dan absurd.

akhir kata...

RnR.. kudasai..