Hyaaa...! berapa lama nih fic nggak kesentuh ?! Entahlah..
Maafkan author ini yang punya kekurangan (kurang pulsa, kurang komputer, kurang ide) #bow
Disclaimer: Bukan punya saya, bukan bapak saya juga
Warning: OOC, Typo pake es, keabsurdan me-raja,lela dimana-mana. De el el.
Happy reading..
A-apa-apaan ini? Ada apa dengan situasi ini? Apa yang mereka inginkan dari Ogiwara-kun? Kenapa tatapan mereka mengerikan sekali?!
Aku mencoba melihat kondisi Ogiwara-kun yang terlindungorang berkulit hitam ini. Dia berusaha bangkit sambilmemegangi perutnya yang sempat ditendang si pria bersurai navy blue ini. Sungguh, jika saja aku tidak ketakutan dan kebingungan seperti sekarang, aku pasti akan menolong Ogiwara-kun dan melindunginya. Tapi bergerak saja aku hanya bisa berdiri mematung di tempatku sekarang.
"U-ukh! Ku-Kuro.."
BUGH! BRUKK!
Lagi, Ogiwara-kun kembali terjatuh akibat tendangan lutut dari pemuda tan itu. Aku hanya bisa membelalakkan mataku. Entah kenapa aku tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Diam kau, b*r*ngs*k! (A/N: karena ini rating K+ jadi kata 'itu' mesti disensor)" Desis pemuda tan itu sambil mentatap tajam Ogiwara-kun yang terkapar di tanah.
"Daiki, jaga mulutmu. Biar bagaimanapun Shigerhiro itu 'teman bermain' kita." Kata orang berambut merah kepada pemuda tan yang dipanggilnya Daiki. Lalu ia kembali bicara. "Atsushi."
Dengan segera Atsushi – si pemuda jangkung – mengunci pergerakan Ogiwara-kun yang baru saja berdiri. Entah kenapa aku melihat wajah yang lain berubah sedikit antusias dan menyeringai.
"Ku-kuroko.. cepat.. p..ergi..." Aku bisa mendengar Ogiwara-kun berbisikpelan memintaku pergi. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak mungkin meninggalkan Ogiwara-kun bersama orang-orang berbahaya ini.
"Baiklah, ayo bermain! Tapi tidak bisa di sini, terlalu ramai-ssu!" Pria berambut kuning berkata girang.
"Ceh, apa maksudmu dengan ramai Kise? Cuma ada kita di sini. Lagipula sekarang hujan, Cuma mobil yang lewat." Bantah daiki kepada pria blonde yang dipanggilnya Kise."
"Sudahlah kalian berdua, nanodayo. Aku tahu tempat yang bagus, ikuti aku." Pria berambut hijau mulai berjalan ke balik semak dekat halte. Diikuti yang lainnya dan juga Ogiwara-kun yang diseret paksa oleh Atsushi. Terlihat Ogiwara-kun berusaha memberontak walaupun hasilnya nihil karena perbandingan tenaga yang jauh, selain itu Ogiwara-kun juga sudah babak belur.
'Tunggu! Kalian mau kemana?!' Ingin sekali aku meneriakkan kata-kata itu. Tapi suaraku tidak bisa keluar sedikitpun. Tiba-tiba seseorang berjalan ke sampingku. Pria berambut merah yang berada di belakangku berusan berhenti di sampingku tanpa menoleh, sepertinya dia juga tidak menyadari keberadaanku. Dia menatap lurus ke arah semak yang baru dilewati Ogiwara-kun dan 4 orang lain.
"Kuroko?" Kudengar dia menggumamkan namaku pelan. "Huh. Dasar pengkhayal." Tambahnya sambil menyeringai. Lalu dia berjalan ke tempat yang terus dipandanginya.
"Pengkhayal?" Aku mengulangi kata-katanya, berusaha mencerna apa maksudnya. Sesaat aku tersadar, aku harus mengejar Ogiwara-kun. Kupaksakan kakiku untuk melangkah. Tetapi baru beberapa langkah dari semak-semak aku merasakan pandanganku mulai buram.
"Ukh! Tidak, jangan sekarang!" kesalku sambil memegangi kepalaku. Aku berusaha mempercepat langkahku. Tapi terlambat, semuanya terlanjur gelap.
.
.
.
Hari ini aku memilih untuk pergi ke rumsh Ogiwara-kun. Aku khawatir dengan keadaannya. Kemarin aku yakin terjadi sesuatu terhadap Ogiwara-kun.
Kutekan bel rumahnya. Samar-samar kudengar terikanan Ogiwara-un dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka, menampakkan Ogiwara-kun yang menggunakan kaos hijau muda dengan celana hitam selutut. Juga.. beberapa perban yang membalut tubuhnya.
"Oh, kuroko? Masuklah.." Sapa Ogiwara-kun setelah membukakan pintu.
"Permisi. Maaf mengganggu." Kataku seraya memasuki rumah Ogiwara-kun dan menuju ke kamarnya.
"Tidak apa-apa. Orang tuaku sedang tidak di rumah."
"Kerja?"
"Yah.. kau tahu lah~."
Ogiwara-kun tinggal bertiga dengan orang tuanya. Tapi orang tuanya seringkali sibuk bekerja sehingga dia lebih sering sendirian di rumah.
Setelah memasuki kamarnya, Ogiwara-kun melangkah ke luar untuk menyuguhkan air, tapi aku langsung mencegatnya.
"Ogiwara-kun." Panggilku setelah duduk di depan meja kecil samping kasur.
"...Ya? ada apa?" Tanya ogiwara-kun berdiri di depan pintu.
"Kau.. lukamu, tidak apa-apa?" Tanyaku sedikit menunduk.
"Bohong kalau aku bilang tidak apa-apa. Tapi kondisiku sudah lumayan. Hanya saja aku masih agak demam gara-gara hujan kemarin." Dia menjelaskan seraya duduk di sampingku.
"Orang tuamu bagaimana?"
"Mereka mengira aku berkelahi. Karena itulah mereka menghukumku. Aku tidak boleh keluar rumah selama seminggu ini.
"Maaf..." gumamku pelan yang masih bisa didengar oleh Ogiwara-kun.
"Eh? Untuk apa?"
"Soal kemarin. Maaf, aku tidak bisa menolongmu. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku. Aku benar-benar teman yang tidak berguna." Kataku sambil menundukkan kepalau. Aku tidak berani menatap matanya.
"Kenapa kau minta maaf? Ini kan bukan salahmu."
"Tapi-"
"Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini bukan salahmu atau salah siapapun. Tidak ada yang perlu disalahkan, oke?" Katanya lembut sambil menepuk kepalaku pelan.
"Ya.."
Kami berdua terdiam cukup lama. Tidak ada yang berniat bicara hingga aku memecah keheningan.
"Ohiwara-kun. Boleh aku bertanya." Tanyaku memulai.
"Soal apa?"
"Mereka.. orang-orang kemarin, siapa?" Ogiwara-kun sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, seakan enggan untuk menjawabnya. Ia menundukkan kepalanya sehingga bola matanya tersembunyi di balik rambutnya. Kemudian dia menghela napas dan mengangkat kepalanya, memandang intens ke mataku. Lalu ia mulai bicara.
"Mereka dijuluki Kiseki no Sedai, kakak kelasku sekaligus kelompok siswa paling disegani di sekolahku, Teiko. Pemimpin mereka, Akashi Seijuro adalah anak dari ketua Yayasan Teiko sekaligus pewaris tunggal perusahaan Akashi. Karena itulah tidak ada yang berani membantahnya. Anggota yang lain adalah Kise Ryota, Midorima Shintaro, Aomine Daiki, dan Murasakibara Atsushi. Mereka adalah anak-anak dari petinggi Teiko. Tidak ada yang berani berurusan dengan mereka, bahkan guru sekalipun.
"Lalu, apa hubungannya denganmu?"
"Aku.. pernah mencari masalah dengan mereka."
"Eh?"
"Sebenarnya itu tidak sengaja. Waktu itu aku hanya murid baru, jadi tidak tahu apa-apa soal Kiseki no Sedai. Aku tanpa sengaja bertubrukan dengan salah satu dari mereka, Murasakibara Atsushi dan menjatuhkan snacknya. Aku kemudian meminta maaf dan berlalu begitu saja karena aku sedang buru-buru untuk mengikuti klub basket, tanpa tahu siapa yang kuhadapi. Tapi sepertinya mereka tidak terima. Dan..." Ogiwara-kun terlihat ragu untuk meneruskan perkataannya.
"Dan?" Tanyaku sedikit mendesak.
"Dan, sejak saat itu mereka mulai mem-bully ku, teman-temanku juga kena imbasnya. Gara-gara itu tidak ada lagi yang mau berteman denganku, bahkan aku dikeluarkan dari klub basket hanya karena tidak mau bermasalah dengan Kiseki no Sedai."
"Apa kau sudah melapor ke gurumu?"
"Iya, sudah. Tapi para guru seakan menutup mata dengan masalahku. Mereka tidak mau berurusan dengan Kiseki no Sedai karena itu akan mengancam profesi mereka."
"Orang tuamu? Kau sudah memberi tahu mereka kan?"
"Tidak.. aku tidak mau membuat mereka cemas, aku juga tidak mau dipindahkan dari Teiko. Orang tuaku sudah berusaha keras agar aku diterima di sana karena untuk masuk ke sana sangat sulit. Aku tidak mau mengecewakan mereka."
"Tapi kalau begini terus kau akan terus terluka."
"Aku tahu itu Kuroko! Aku juga merasakan.. kalau peninidasan mereka semakin keras. Belakangan mereka tidak hanya memukuliku di belakang sekolah, tapi juga di luar sekolah. Bahkan tidak jarang mereka memperlakukanku di depan semua murid..."
"Ogiwara-kun.."
"Aku.. tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa melawan mereka. Tidak ada yang menolongku. A-aku.. sendirian..." Isakan kecil keluar dari mulut Ogiwara-kun. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya sedikit bergetar, aku tahu Ogiwara-kun sedang menangis.
Aku mencengkram baju bagian dadaku. Entah kenapa dadaku terasa sakit. Seakan aku mempunyai luka hati yang sama dengan Ogiwara-kun. Melihat Ogiwara-kun yang seperti ini membuatku merasa sangat sedih.
"Ogiwara-kun." Tidak ada sahutan. Dia masih menunduk, menangis dalam diam."
PUK!
"Eh?"
Kutepuk pelan kepala Ogiwara-kun, lalu kuelus rambutnya dengan lebut. Seperti seorang kakak yang menghibur adik kecilnya. Dia sedikit terkejut dan menoleh ke arahku, menatapku bingung. Kubalas tatapannya dengan pandangan lembut.
"Kau salah, Ogiwara-kun." Ucapku. "Kau tidak sendirian. Aku ada di sini, denganmu. Aku akan selalu ada untukmu dan tidak akan meninggalkanmu. Karena aku adalah sahabatmu."
"Ku-Kuroko.. Ukh~ Hiks.." Ogiwara-kun kembali terisak. Tubuhnya bergetar mencoba menahan tangisannya. Kuarahkan kepalanya ke bahuku, lalu kembali kuelus pelan.
"Tidak apa-apa." Ujarku. "Kau boleh menangis sekeras-kerasnya. Tidak perlu kau tahan lagi."
Setelah itu tangisan Ogiwara-kun semakin keras. Luapan emosinya keluar bersamaan dengan getaran tubuhnya. Kubiarkan dia menangis, melampiaskan seluruh perasaan yang selama ini dipendam dan ditanggungnya sendirian. Ogiwara-kun menangis cukup lama hingga akhirnya dia tertidur, bersamaan dengan hari dan pandanganku yang mulai gelap lagi.
.
.
.
Seminggu setelahnya hukuman dari orang tua Ogiwara-kun akhirnya selesai. Kami pun kembali bermain basket bersama. Tapi ada yang berbeda dari Ogiwara-kun. Dia terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya, dan seakan terlepas. Mungkin dia sudah lepas dari tekanan dalam dirinya.
Meski begitu penindasan yang terjadi kepadanya tidak berhenti. Seringkali kudapati tubuh Ogiwara-kun yang memar akibat dipukuli.
Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa minggu setelahnya luka yang dimiliki Ogiwara-kun semakin berkurang karena mereka sudah mulai berhenti menindas Ogiwara-kun. Aku tidak tahu alasannya tapi kurasa itu hal yang baik.
.
.
.
Suatu hari Ogiwara-kun mengajakku ke rumahnya. Kupikir orang tuanya pergi kerja, jadi aku setuju saja untuk menemaninya. Tapi sepertinya aku salah.
"Ayo, Kuroko. Jangan malu-malu. Masuk saja." Katanya sambil membukakan pintu.
"Permisi." Ucapku singkat sambil memasuki rumah. Tapi langkahku terhenti karena Ogiwara-kun juga berhenti di depanku.
"Ada apa?"
"Ah, tidak. Hanya saja orang tuaku sudah pulang."
"Apa tidak apa-apa? Mungkin sebaiknya aku pamit saja."
"Tidak apa Kuroko. Tak perlu sungkan."
Kami berniat ke lantai dua menuju kamar Ogiwara-kun sebelum orang tuanya mengintrupsi langkah kami.
"Shige-kun, kau sudah pulang?" Terdengar suara lembut seorang wanita yang merupakan ibu Ogiwara-kun.
"Ah, iya. Aku baru pulang." Sahut Ogiwara-kun yang berjalan ke ruang tamu menemui orang tuanya. Aku hanya mengikuti di belakang setelah memasuki ruangan itu aku bisa melihat dua orang dewasa, yang merupakan ayah dan ibu Ogiwara-kun. Ibunya memiliki ekspresi yang penuh semangat seperti Ogiwara-kun, sedangkan ayahnya terlihat lembut dan memiliki wajah yang mirip dengan anaknya.
"Huh.. mana ucapannya?" Kata ibu Ogiwara-kun dengan nada bercanda.
"Oh, maaf.. Aku pulang!" Jawab Ogiwara-kun sambil tersenyum dan duduk bersama orang-tuanya. Sedangkan aku hanya berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan mereka.
"Belakangan ini kau sering pulang telat. Memangnya apa yang kau lakukan?" Tanya ayah Ogiwara-kun lembut.
"Lho? Kok ayah tahu aku sering pulang telat?" Tanya Ogiwara-kun heran.
"Tentu saja ayah tahu! Kau kan anak ayah!" Kata ayahnya sambil mengacak rambut Ogiwara-kun.
"A-Ayah~ hentikan..!" Protes Ogiwara-kun, kemudian melanjutkan. "Biasanya pulang sekolah aku main basket dengan temanku."
"Temanmu?" Tanya ayahnya heran.
"Iya. Namanya Kuroko Tetsuya. Aku sering bermain basket dengannya sepulang sekolah. Kebetulan dia ada di sini." Ogiwara-kun menjelaskan dengan nada riang.
Tiba-tiba suasana menjadi hening, tidak ada seorang pun yang bicara. Ekspresi yang mereka perlihatkan berbeda-beda. Orang tua Ogiwara-kun tampak sedih, bingun, atau kecewa aku juga tidak tahu. Sedangkan Ogiwara-kun sendiri hanya menatap orang tuanya bingung. Aku tidak tahu ada apa, jadi yang bisa dilakukan orang luar sepertiku hanya memperhatikan mereka dari jauh.
"Shige.." Panggil ayahnya dengan nada datar dan agak dingin.
"Ada apa ayah?" Tanya Ogiwara-kun sambil menatap langsung mata ayahnya.
"Sudah.. cukup."
"Eh? Maksud ayah?"
"Sudah... lupakan temanmu itu. Berhenti memikirkannya."
"APA?!"
*TBC*
Ogiwara: Nozomi...!
Nozomi: Apa? #muka watados
Ogiwara: Berapa lama?
Nozomi: Berapa lama apaan #masih muka watados
Ogiwara: Berapa lama kau kacangin kita?! Ini sudah kelamaan tau!
Nozomi: Eh? Maap.. Ha-habis.. nggak sempat minjem PC sama Ba-chan! Jadi aku nggak sempat nulis deh..
Ogiwara: Hah.. ngenes banget hidup lo. Mana nih fic masih membingungkan lagi. Yang baca kan jadi susah!
Kuroko: Lagipula peranku disini apa Nozomi-kun? #muncul tiba-tiba
Nozomi: #Kaget... Nanti di chapter selanjutnya juga kau bakal tahu kok. Jadi..
Nozomi+Kuroko+Ogiwara: mind to RnR please...
