Ini dia! Chapter terakhir dari fic ini!

Saya sengaja melakukan double update soalnya nggak tahu lagi kapan bisa update selain hari ini.

Mungkin agak mengecewakan readers sekalian karena ceritanya yang nggak jelas sampe akhir... tapi moga aja reader-san suka..!

Disclaimer: Bukan punyaku. Bukan punya Abahku

Warning: OOC, Typo pake es, gaje, dramanya nggak dapet, de el el.

Happy reading..

Preview Chapter 3:

"Shige.." Panggil ayahnya dengan nada datar dan agak dingin.

"Ada apa ayah?" Tanya Ogiwara-kun sambil menatap langsung mata ayahnya.

"Sudah.. cukup."

"Eh? Maksud ayah?"

"Sudah... lupakan temanmu itu. Berhenti memikirkannya."

"APA?!"


"APA?!" Sontak aku dan Ogiwara-kun terkejut. Apa maksud dari perkataan ayah Ogiwara-kun tadi?!

"A-apa maksud ayah?! Kenapa aku tidak boleh berteman dengan Kur-"

"Bukan maksud ayah seperti itu Shige!" Ayah Ogiwara-kun segera memutus perkataannya dengan sedikit membentak. Kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Aku hanya memintamu untuk berhenti memikirkannya. Berhentilah berpikir... bahwa Kuroko Tetsuya itu ada."

"Eh?" Mata Ogiwara-kun sedikit membulat.

"Shige-kun.." Ibu Ogiwara-kun ikut dalam pembicaraan mereka dan mendekati Ogiwara-kun seraya memeluk anaknya. "Kami mengerti kamu kesepian, tapi.. kau tidak perlu berimajinasi seperti itu. Kuroko Tetsuya bukanlah temanmu, dia hanya khayalanmu Shige-kun."

Apa? Apa katanya? Khayalan Ogiwara-kun? Kuroko Tetsuya-aku?! Jadi selama ini aku tidak pernah nyata? Tapi aku di sini sekarang. selama ini aku di sini. Aku selalu bersama Ogiwara-kun, bersenda gurau, bermain basket bersama, berbagi rasa senang dan sedih. Semua kulakukan dengan Ogiwara-kun.

Tu-tunggu. Aku mengerti sekarang. semuanya kulakukan hanya dengan Ogiwara-kun. Selama ini aku baru berkativitas bila ada Ogiwara-kun. Pantas saja ketika main basket aku hanya ikut berlari tanpa bisa memegang bola, tidak ada seorangpun yang menyadari kebaradaanku. Bahkan seringkali pandanganku menggelap, kusimpulkan bahwa saat itu Ogiwara-kun berhenti memikirkanku.

"Ogiwara-kun." Aku berbisik pelan memanggilnya dari ambang pintu sambil melihat ke arahnya. Dia terlihat sedih akan sesuatu. Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Sadar akan apa yang terjadi, kulihat tanganku yang mulai transparan dan menghilang, begitu pula dengan tubuhku. Saat itu aku mengambil kesimpulan, saat ini Ogiwara-kun sedang tidak ingin memikirkanku.

.

.

.

Malam ini langit terlihat cerah, tanpa awan, juga tanpa bintang. Hanya bulan sabit yang setia bertengger di sana. Saat ini aku berada di sebuah kamar, memandangi seseorang yang duduk memunggungiku di meja belajarnya dan memandangi langit dari jendela di depannya.

"Ogiwara-kun." Kupanggil orang itu pelan. Tak lama dia melirik lalu memutar tubuh – dan kursinya – hingga kami saling berhadapan.

"Kuroko.." Jeda sesaat. "Soal yang tadi sore.." Ogiwara-kun menggantungkan kalimatnya.

"Ya, aku sudah dengar." Kulanjutkan dengan wajah datar.

"Ka-kau.. marah ya?"

"Ya. Aku marah."

"...!"

"Aku marah karena kau tidak cerita kepadaku. Aku marah karena aku tidak tahu apa-apa sebelumnya. Dan aku lebih marah lagi karena.. aku.. tidak bisa memahami dirimu, aku tidak bisa melakukan apa-apa ketika kau kesulitan, aku.. ukh~!" Aku mengomelinya dan mengadu di saat bersamaan. Tanpa sadar air mataku mengalir di wajahku. Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini. Seperti ada yang mengganjal di hatiku.

Sedikit kulirik Ogiwara-kun yang yang membuatku tertegun. Dia juga menangis sepertiku. Aku menangis karena Ogiwara-kun juga menangis. Tentu saja, aku adalah khayalan Ogiwara-kun jadi kami pun berbagi perasaan yang sama.

Beberapa lama kami terhenyak dalam kesunyian yang kami ciptakan. Kami sama-sama menangis dalam diam, hingga Ogiwara-kun berhenti menangis – begitu pula denganku. Dia membuka tutupkan mulutnya seakan ingin berkata sesuatu.

"Kuroko." Akhirnya dia memanggilku yang hanya kubalas dengan tatapan datar. dia balik menatap ke arahku kemudian bertanya. "Kau sahabatku kan?"

"Eh?... Iya." Jawabku sedikit ragu.

"Kalau begitu.. apa kau mau memaafkanku?" Ogiwara-kun sedikit menunduk ketika menanyakan itu, yang membuatku heran karenanya.

"Kau bilang kau marah padaku kan?" Kemudian dia mengangkat kepalanya untuk menatapku. Melihat wajahnya yang seperti memohon itu membuatku tertawa kecil.

"Menurutmu aku akan memaafkanmu?" Aku balik bertanya.

"Ma-maksudmu?"

"Kalau kau mau aku memaafkanmu, maka akan kumaafkan. Tapi kalau kau tidak mau maka aku tidak akan memaafkanmu. Apa kau lupa? Aku adalah imajinasimu, jadi apapun yang kulakukan semua tergantung padamu. Kalau kau ingin aku berdiri maka aku akan berdiri. Kalau kau ingin aku pergi maka aku akan pergi. Aku adalah sahabatmu dan kau adalah sahabatku. Aku akan selalu ada untukmu hingga kau tak menginginkannya lagi. Karena itulah aku terpikirkan."

Ogiwara-kun tercengang mendengarkan penuturanku. Entah itu karena ini pertama kalinya aku bicara panjang lebar, atau karena dia dinasehati oleh imajinasinya sendiri. Bahkan aku sendiri heran, sebagai khayalan aku seperti memiliki pikiran sendiri.

"Kau benar." Setelah lama terdiam akhirnya dia angkat bicara, tak lupa dengan senyum lebar yang selalu terpampang di wajahnya. "Kalau begitu aku ingin kau memaafkanku."

"Ya, aku memaafkanmu." Jawabku sambil mengulum senyum.

"Juga satu lagi." Sambungnya. "Aku mau kau jadi sahabatku, selamanya tidak akan meninggalkanku." Pintanya seraya mengacungkan jari kelingking.

"Ya." Jawabku singkat. "Sampai kapanpun kau menginginkannya." Kubalas dengan menautkan jari kelingkingku.

Dan malam itu kami lewati dengan keheningan ditemani sinar redup bulan sabit.

.

.

.

Sebulan berlalu setelah pembicaraan kami malam itu. Orang tua Ogiwara-kun tidak membahas soal imajinasinya lagi. Ogiwara-kun juga sepertinya tidak ingin mengungkapkannya kepada orang lain tentangku. Keluarga Ogiwara-kun pindah ke Osaka karena pekerjaan orang tuanya. Ogiwara-kun pintah sekolah dari Teiko ke Meiko, yang itu artinya ia tidak perlu berurusan dengan Kiseki no Sedai lagi. Aku tentu saja ikut dengan Ogiwara-kun.

Keesokan harinya setelah membongkar perabotan untuk diatur di rumah baru, Ogiwara-kun mengajakku berkeliling sekitar rumahnya, dan tetap dengan bola basket di tangannya. Sepertinya kami beruntung karena tidak jauh dari rumah Ogiwara-kun terdapat lapangan street ball. Kami pun berencana bermain di sana karena hari masih terang.

Baru lima menit kami bermain sebuah bola basket menggelinding di dekat kaki Ogiwara-kun. Kami pun menghentikan permainan dan melihat ke arah bola itu datang. Di sana kami melihat seorang anak lelaki yang sepertinya sebaya dengan Ogiwara-kun. Dia hanya berdiri di sana sambil memandang Ogiwara-kun. Orang itu cukup tinggi untuk anak seusianya, rambutnya merah gelap dengan alis terbelah dan warna mata senada dengan rambutnya.

"Yo." Sapa orang itu sambil berjalan mendekat. "Kau orang baru di sini ya? Aku baru kali ini melihatmu." Sambungnya seraya memungut bola yang tadi menggelinding.

"Iya, aku baru pindah kemarin. Namaku Ogiwara Shigehiro, salam kenal" balas Ogiwara-kun kemudian memperkenalkan diri.

"Aku Kagami Taiga, salam kenal. Ngomong-ngomong kau sendirian saja di sini?"

"Ah..." Sesaat Ogiwara-kun mengalihkan pandangannya ke arahku yang kubalas dengan tatapan datar. mengerti apa yang kumaksudkan dia akhirnya angkat bicara.

"Ya, aku sendirian." Meskipun agak ragu mengatakannya.

"Benarkah? Kalau begitu kau ma –"

"Taiga!" Perkataan Kagami-kun terpotong karena seseorang berponi panjang yang menutupi mata kirinya memanggilnya dari luar lapangan.

"Oh, Tatsuya!" Panggil Kagami-kun sambil melambaikan tangan dan tersenyum sumringah. Sepertinya mereka saling kenal.

"Maaf aku terlambat. Lho? Siapa dia?" Tanya orang yang bernama Tatsuya sambil berlari ke arah kami.

"Dia Ogiwara Shigehiro. Katanya baru pindah kemarin." Kata Kagami menjelaskan.

"Aku Himuro Tatsuya. Salam kenal Ogiwara-kun." Sapa Himuro-san.

"Salam kenal. Ngomong-ngomong kalian bermain basket?" Tanya Ogiwara-kun.

"Ya. Kau mau ikut bermain? Kami sedang kurang orang." Ajak Kagami-kun dengan semangat.

Mendengar itu aku tertegun. Sepertinya Ogiwara-kun sudah punya teman. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatiku ketika melihat itu. seperti perasaan senang, perasaan yang sama yang aku yakin juga dirasakan Ogiwara-kun.

Tiba-tiba tubuhku terasa ringan, pandanganku juga mulai kabur. Apakah ini tanda aku akan menghilang lagi? Kulihat tanganku yang mulai transparan dan bercahaya. Aku sadar, kali ini berbeda. Aku bukannya menghilang, tapi aku akan lenyap. Lenyap dari pikiran dan kehidupan Ogiwara-kun dan tak akan muncul lagi.

Aku sadar Ogiwara-kun tidak lagi menginginkanku. Dia sudah tidak membutuhkanku karena dia sudah mendapatkan lebih dari yang diinginkannya. Tapi daripada sedih, aku malah merasa lega. Karena akhirnya sahabatku tidak akan sendirian lagi.

Kulihat Ogiwara-kun sedang berbincang dengan teman barunya. Dia terlihat sangat bahagia. Melihat senyum Ogiwara-kun yang begitu lepas juga membuatku tersenyum lebar.

"Selamat tinggal, Ogiwara-kun." Aku berbisik sambil memandang lekat-lekat wajahnya untuk yang terakhir kali meskipun dia tidak lagi melihat kepadaku. Hingga akhirnya tubuhku semakin transparan dan pandanganku berhenti buram, tapi hitam. Aku sudah lenyap dari kehidupan Ogiwara-kun selamanya.

Fin

(End of Kuroko POV)

Nozomi: Waah! Akhirnya selesai juga..!

Ogiwara: Tapi dari awal sampe akhir nggak jelas banget.

Nozomi: Tehe.. maklumkan lah.. aku kan masih baru..

Kuroko: Aku menghilang ya..

Nozomi: Nggak kok. Cerita ini belun sepenuhnya selesai. Masih ada Omake di bawah. Silakan dibaca.. sebelum itu..

RnR please..

Omake

"Jadi, bagaimana cara kita bermain?" Tanya Ogiwara kepada dua temannya.

"Kita akan bermain two on two." Jawab Himuro singkat. Ogiwara terlihat bingung dengan jawaban Himuro karena hanya ada mereka bertiga di sana. Lalu bagaimana caranya melakukan two on two dengan tiga orang?

Melihat kebingungan Ogiwara Kagami berinisiatif menjelaskan. "Ah, aku lupa bilang. Ada seorang lagi yang biasanya bermain di sini. Tapi mungkin dia agak terlambat hari ini."

"Tunggu saja, sebentar lagi dia juga datang." Sambung Himuro.

"Maaf, aku terlambat." Tiba-tiba terdengar suara dari luar lapangan.

"Ah, itu dia sudah datang." Himuro berucap seraya melayangkan pandangannya ke sumber suara diikuti Kagami dan Ogiwara.

Ogiwara terkejut ketika melihat seorang anak bersurai baby blue dengan wajah datar memasuki lapangan. Tubuh anak itu lebih pendek dari Ogiwara dan dua yang lain, dan ia memiliki warna mata senada dengan rambutnya. Dia seperti seseorang yang hanya Ogiwara yang tahu.

Ketika sudah berada di dekat mereka, anak itu terus menandang Ogiwara dengan tatapan datarnya. Kemudian dia membuka suara. "Halo."

"Kau kemana saja? Kita dapat teman baru nih! Kenalkan. Dia Ogiwara Shigehiro, baru pindah kemarin. Dia main basket juga lhoo..!" Kagami dengan antusias memperkenalkan Ogiwara dengan anak itu sambil merangkulnya.

"Ogiwara, kenalkan. Dia yang kusebut tadi." Himuro melanjutkan.

Sadar dari lamunannya Ogiwara memperkenalkan diri. "Ah, aku Ogiwara Shigehiro."

"Halo Ogiwara-kun. Aku Kuroko Tetsuya. Salam kenal." Kata anak bernama Kuroko itu sambil menyunggingkan senyum kecil.

*END*