Tittle : Still loving you ( PART 2 )

Author : Park Shita a.k.a Lee Shita

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Xi Luhan, Oh Sehun and EXO

Terima kasih chigu untuk semua review di chapter sebelumnya. Semua review kalian sangat membangun kok, ini aku kasih chapter 2 sesuai janjiku dan untuk update kilat aku minta maaf bgt gak bisa ngabulin. Semoga kalian suka dan seperti biasa. Tetep review ya..

Happy reading

.

.

.

...

...

Baekhyun melempar tasnya ke ranjang lalu ia terduduk di lantai dan bersender di ranjangnya. Ia menjambak rambut coklatnya, dan memejamkan matanya. Ia tak pernah menyangka pernikahannya akan seperti ini, ia tak pernah berharap semuanya hancur berantakan seperti ini.

"Seandainya saat itu aku tak keras kepala, apakah semuanya akan tetap sama seperti ini Yeollie?" ucap Baekhyun sedikit terisak.

...

...

Chanyeol duduk di depan meja makan, matanya seolah mengeluarkan bara api dan siap membakar makhluk mungil nan cantik di depannya yang sedari tadi melempar wajahnya ke arah samping.

"Apa kau sudah memikirkannya baik-baik?" tanya Chanyeol.

"Tentu saja Yeollie."

"Tapi 4 tahun bukan waktu yang singkat Baekkie?" ucap Chanyeol lagi, Baekhyun menoleh.

"Aku tahu. Tapi aku benar-benar ingin menjadi seorang koki Yeollie."

"Dengan diam disini, dan memasak untukku kau juga seorang koki Baekkie. Kau tak perlu pergi sejauh itu dariku. Aku tak bisa hidup tanpamu."

"Ne arraseo. Aku juga tak bisa Yeollie."

"Jika begitu diamlah. Aku mohon, tetaplah disini."

"Kau egois. Kau saja boleh kuliah, tapi kenapa aku tidak?"

"Aku tak melarangmu jika itu masih di Seoul sayang. Tapi kau akan pergi ke Paris. Apa kau sudah mengatakan ini pada eomma dan appa?"

"Ne."

"Lalu apa kata mereka?"

"Mereka memperbolehkanku, asalkan mendapat izin darimu." Ucap Baekhyun.

"Tapi aku tak mengizinkanmu." Ucap Chanyeol lalu segera bangkit.

"Kau benar-benar egois. Seandainya saja saat itu aku tak menyetujui untuk menikah denganmu." Ucap Baekhyun ketus, langkah Chanyeol terhenti.

"Jadi maksudmu, kau menyesali pernikahan ini?"

"Ne.. aku menyesal. Seharusnya setelah lulus, aku pergi ke Paris untuk kuliah, bukan malah menikah dengan namja keras kepala, egois dan berantakan sepertimu." Bentak Baekhyun.

"..."

"Kau menikahiku hanya untuk menjadi pembantumu bukan? Membersihkan barang-barangmu, merapikan rumah, mencuci bajumu, merapikan sepatumu yang kau letakan sembarangan. Iya kan?"

"Aku sama sekali tak pernah memintamu melakukan itu. Itu sudah kodrat sebagai seorang istri."

"Siapa yang mengklaim aku sebagai istri. Kita ini sama-sama namja, jadi bisa saja kan aku ini sebagai suaminya." Ucap Baekhyun dengan tangan di lipat di depan dada.

"Kenapa kau membahas ini?"

"Kau yang memaksaku Chanyeol."

"Baiklah, terserah padamu. Aku tak akan melarangmu lagi. Terserah kau mau apa. Kalau kau ingin pergi, pergi saja."

"Dengan senang hati Park Chanyeol." Ucap Baekhyun.

"Tapi jangan berharap setelah ini aku akan bersikap biasa padamu." Ucap Chanyeol lagi lalu beranjak dari duduknya.

...

...

Baekhyun membuka matanya yang seolah merekat erat, ia melihat sekelilingnya dan baru menyadari jika sedari tadi ia ketiduran di lantai setelah menangis. Baekhyun seolah merasa tak enak dengan kejadian tadi, jadi ia memutuskan untuk melakukan suatu hal sebagai permintaan maaf untuk Chanyeol dan yang terlintas difikirannya adalah memasakan Chanyeol. Ia mengganti pakaiannya dan berjalan ke dapur. Ia mulai berkutat di dapur, dan terkadang sebuah senyuman mengembang di bibirnya saat masakan yang ia buat sesuai dengan lidahnya. Tak lama kemudian makanan itu selesai, semangkuk macaroni yang disiram dengan saos tiram ditambah dengan parutan keju. Melihatnya saja Baekhyun sudah tak sabar ingin memakannya, namun berhubung itu ia buat khusus untuk Chanyeol jadi ia mengurungkan niatnya. Saat akan mengangkat mangkuk,ia menoleh saat mendengar suara langkah kaki.

"Ada yang_"

"Oh Annyeonghaseyo Baekhyun sshi." ucap Luhan dan membungkukkan sedikit tubuhnya. Raut wajah Baekhyun berubah, apalagi saat melihat keadaan Luhan. Dengan kemeja putih kebesaran yang ia yakini milik Chanyeol –suaminya-, rambut berantakan , dan beberapa tanda dilehernya, Baekhyun tahu apa yang baru saja mereka lakukan. Sepolos apapun Baekhyun, ia bukanlah namja bodoh yang tak tahu arti sex. Baekhyun merasa sedikit sesak dihatinya, namun ia tak boleh marah, tentu! Karena ialah yang memulai hal ini.

Suatu malam Chanyeol pernah memergoki Baekhyun yang mengajak seorang namja tampan berkulit Tan yang merupakan bos Baekhyun terdahulu masuk ke dalam kamar Baekhyun. Namun saat ditanya Baekhyun malah mengeluarkan kata-kata yang mungkin tak akan di lupakan Chanyeol. Tapi tak sepenuhnya Baekhyun bersalah, karena saat itu ia dalam keadaan mabuk, dan lagipula ia dan bosnya tak melakukan apapun karena sesampainya di kamar Baekhyun langsung tertidur. Lalu keesokannya Baekhyun mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.

Luhan mengambil air dari dalam kulkas dan meminumnya. Baekhyun memperhatikan wajah namja cantik di hadapannya. Dan ia tersadar satu hal, Luhan jauh lebih cantik darinya dan mungkin itu yang menyebabkan Chanyeol bertahan hampir dua tahun dengan namja bernama Luhan itu, tapi ia kembali menampik fikiran itu masa bodoh dengan Chanyeol dan simpanannya. Yah begitulah Baekhyun memanggil Luhan di dalam hatinya.

"Anda masak apa Baekhyun sshi?"

"Hah? bukan sesuatu yang spesial."

"Benarkah tapi itu terlihat enak." Ucap Luhan sambil tersenyum.

"Ck! Kau berlebihan. Aku hanya mengambil asal makanan yang ada di kulkas. Apa kau lapar?"

"Hm. Aktifitas barusan membuatku sedikit lapar."

"Kalau begitu makanlah! Lagipula aku mendadak kenyang."

"Jinja? Apa boleh? Tapi bagaimana dengan anda?" Tanya Luhan sedikit tak enak hati.

"Gwencahana, lagipula aku lupa kalau aku tak boleh terlalu banyak makan malam."

"Apa kau menjaga berat tubuhmu? Kau sudah terlihat sangat kurus."

"Ani. Aku hanya tak ingin terlalu kenyang. Ayo makanlah Luhan sshi!"

"Ne. Gomawo." Ucap Luhan sambil mengambil posisi duduk di depan Baekhyun.

Baekhyun memperhatikan Luhan yang asyik memakan masakannya. Mereka juga sempat berbincang-bincang. Satu hal lagi yang membuat Baekhyun iri, ternyata Luhan orang yang sopan, ramah, humoris, dan mudah tersenyum.

"Dan bagaimana kabar kekasih anda?" tanya Luhan tiba-tiba yang membuat Baekhyun sedikit tercengang.

"Kekasih? Siapa yang kau maksud?"

"Hm. Chanyeol mengatakan padaku, ia adalah bos anda."

"Apa si tiang listrik itu bilang begitu?"

"Ne."

"Dia hanya bosku, aku tak memiliki hubungan apapun dengannya. Kau jangan terlalu percaya dengan ucapannya!" ucap Baekhyun dengan wajah datarnya.

"Tapi Chanyeol adalah tipe orang yang dapat dipercaya dan menepati janjinya."

"Jika memang benar seperti itu, mungkin hubunganku dengannya tak seperti ini dan mungkin kau juga tak akan ada disini." Ucap Baekhyun lagi dan DOOR! Itu seperti tembakan tepat sasaran yang mengenai jantung Luhan.

"Mianhae." Ucap Luhan.

"Jangan minta maaf padaku, sebaiknya kau ucapkan itu pada suamimu. Apa kau tak kasihan padanya?" tanya Baekhyun. Luhan menghentikan acara makannya, wajahnya tertunduk.

"Anda tahu Baekhyun sshi, ia adalah tipe orang tercuek yang pernah aku kenal. Entah mengapa aku bisa menikah dengannya. Bahkan ia sama sekali tak mengingat tanggal pernikahan kami, dan saat aku dengan susah payah membuatkan pesta peringatan pernikahan seorang diri, ia malah meninggalkanku seorang diri tanpa bicara sepatah kata dan memilih untuk tidur. Aku menyesal menikah dengannya."

"Bukankah penyesalan selalu datang terlambat? Tapi ada hal yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya, yang dinamakan kesempatan."

" Jika kau sepandai itu bicara, lalu kenapa kau tak melakukannya lebih dulu?" tiba-tiba suara berat itu menginterupsi kedua namja mungil ini.

"Chanyeol?" ucap Luhan. Baekhyun memandang datar ke arah Chanyeol, dan Chanyeol bersandar di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat. Baekhyun melempar pandangannya malas, lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan melewati Chanyeol. Namun saat akan berlalu, Chanyeol menahan lengan Baekhyun dengan tangan kirinya.

" Kenapa pergi? Apa aku salah bertanya?" bisik Chanyeol, Baekhyun menatap Chanyeol tajam lalu menampik tangan Chanyeol. Chanyeol tersenyum, seolah yang baru saja ia lakukan memang sengaja untuk menggoda Baekhyun. Luhan yang melihat pemandangan itu hanya menatap kedua orang itu dengan wajah yang sulit diartikan.

….

….

….

Baekhyun mematung, ia seolah tak memperdulikan pisau yang berada di tangannya. Pikirannya masih berkutat dengan pembicaraan ia dan ibu mertuanya tadi pagi. Mereka meminta Baekhyun dan Chanyeol untuk berkunjung kesana, hal itu membuat Baekhyun khawatir. Ia takut kalau apa yang terjadi pada rumah tangganya dan Chanyeol terbongkar.

" Sebaiknya kau beristirahat!" sebuah suara menginterupsi Baekhyun, ia melirik sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Apa yang anda lakukan di dapurku?" tanya Baekhyun ketus.

"Aku sedang menilai kinerja pegawaiku." Sahut Kris singkat sambil tetap menatap Baekhyun.

"Apa kau ada masalah?"

"Ada atau tidaknya, itu bukan urusan anda." Ucap Baekhyun lagi dan meninggalkan Kris.

.

.

Chanyeol terduduk di kursi kerjanya, ia terus mengetuk-ngetukkan ponselnya di atas meja, dengan wajah berpikirnya. Baru saja ia selesai berbicara dengan appanya yang memintanya untuk berkunjung ke rumah mereka. Hal itu tidaklah berat bagi Chanyeol, hanya saja ia tak tahu bagaimana harus memberitahu Baekhyun, dan bersikap normal di depan orang tuanya. Chanyeol sudah mengatakan pada appanya jika ia sangat sibuk, namun hal itu tak membuat appanya berhenti untuk meminta Chanyeol pulang, dan yang paling tak bisa Chanyeol hindari adalah ketika eommanya memohon padanya untuk membawa menantunya pulang. Chanyeol benar-benar stres dibuatnya.

Ceklek...

Pintu terbuka, dan masuklah namja mungil nan cantik yang kini berjalan mendekat ke arah Chanyeol sambil tersenyum.

" Ada apa chagi?" tanya Luhan manja sambil duduk diatas pangkuan Chanyeol. Chanyeol menatap Luhan, namun bibirnya sama sekali tak mau tergerak untuk menjawab pertanyaan Luhan .

"Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" tanya Luhan lagi sambil mengaitkan kedua tangannya di leher Chanyeol.

"Ani. Aku sedang bingung. Eomma menyuruh kami berkunjung ke rumah." Ucap Chanyeol.

"Lalu apa yang menjadi masalahmu, kau tinggal datang saja kan? lalu setelah berbincang-bincang kau bisa pulang."

"Tak semudah itu. Eomma dan appaku adalah tipe orang yang heboh, mereka pasti akan menyiapkan berbagai macam kejutan, dan aku takut jika nanti hubunganku dan Baekhyun akan ketahuan." Ucap Chanyeol lagi dengan wajah serius. Luhan terdiam, sebelum akhirnya ia membuka suara.

"Jika sampai ketahuan, kau tinggal bicara yang jujur. Bukankah, kau memang ingin mengakhiri pernikahanmu bukan?" tanya Luhan lagi. Chanyeol terdiam, ucapan Luhan ada benarnya juga. Lalu Chanyeol mengangguk, dan Luhan mengecup dahi Chanyeol kilat.

"Chanyeol, ayo kita makan siang di luar." Ajak Luhan dan Chanyeol mengangguk sambil tersenyum.

.

.

"Baekhyun sshi, ada yang ingin bertemu dengan anda." Ucap seorang pelayan. Baekhyun yang kini sedang memperhatikan anak buahnya, menoleh dengan wajah datar.

"Siapa?"

"Seorang pengunjung, ia ingin memuji masakanmu."

"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap Baekhyun dan berjalan mengikuti pelayan pria itu. Baekhyun memperbaiki pakaiannya, dan berjalan mengikuti arah yang ditunjuk oleh si pelayan. Mata Baekhyun tertuju pada seorang namja tinggi, yang kini sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya, dan disamping namja tinggi itu, duduklah dua orang namja yang amat sangat familiar di mata Baekhyun.

"Baekhyun sshi?" seru Luhan antara kaget dan senang.

"Ini dia chef kami." Ucap Kris yang dari tadi berdiri disamping Chanyeol dan Luhan. Mata Chanyeol bertemu dengan Baekhyun, namun mereka berusaha bersikap tenang.

" Huwaa.. aku tak mengira jika Baekhyun sshi bekerja disini." Ucap Luhan.

"Ne." Sahut Baekhyun dengan sebuah senyum pahit dan seolah bersikap normal. Chanyeol mengeluarkan ponselnya, dan mengetik beberapa pesan, tanpa memperdulikan ketiga namja lain yang tengah asyik berbincang. Setelah selesai, Baekhyun memutuskan untuk kembali. Namun ia menghentikan langkahnya saat ponselnya bergetar. 'Temui aku di toilet. Penting!' bunyi pesan itu. Baekhyun memasukan kembali ponselnya.

"Hhm.. Luhannie, aku mau ke toilet sebentar."

"Ne." Sahut Luhan singkat dan tetap memakan hidangannya. Chanyeol bangkit dan berjalan pelan ke arah Baekhyun, dan sedikit menabrak pundaknya lalu mendahului Baekhyun. Baekhyun menghela nafas, saat dirasa Chanyeol sudah berjalan cukup jauh barulah ia mulai melangkah malas. Tapi diantara sekian banyak tamu dan pegawai, hanya ada satu orang yang menatap mereka curiga, Kris. Ia tak melepaskan matanya dari kedua namja yang kini menghilang di balik dinding.

Chanyeol mencuci tangannya di westafle dan menatap ke arah cermin saat dirasa ada yang masuk.

"Apa?" tanya Baekhyun.

"Tadi appa menelpon, mereka meminta_"

"Aku sudah tahu." ucap Baekhyun dan hendak keluar, tapi Chanyeol menarik tangannya.

"Aku mohon padamu, bisakah kau berpura-pura hubungan kita baik-baik saja. Aku tak ingin terjadi apa-apa pada eomma, kau tahu kan penyakit jantungnya."

"Arraseo. Aku ini masih punya hati Yeollie." Ucap Baekhyun.

"Gomawo." Ucap Chanyeol sambil menatap Baekhyun yang hanya menunduk.

" Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, sebaiknya aku keluar." Ucap Baekhyun lalu menampik tangan Chanyeol yang berusaha mengangkat dagunya. Chanyeol menatap Baekhyun iba, lalu menghembuskan nafasnya.

Kini mereka berada dalam mobil, untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun terakhir ini mereka kembali dalam satu mobil. Tak ada yang memulai pembicaraan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Chanyeol melirik Baekhyun melalui ekor matanya, tak ada reaksi dari Baekhyun ia hanya menyandarkan kepalanya pada kaca mobil sambil memandang ke arah luar.

"Aku harap kau tak bersikap seperti ini nanti, mereka bisa curiga." Ucap Chanyeol. Baekhyun tersadar dari lamunannya dan melirik Chanyeol sekilas.

"Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Ucap Baekhyun.

.

.

Setelah menempuh 4 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah vila yang cukup mewah milik keluarga Chanyeol. Awalnya memang mereka diminta untuk pulang ke rumah, namun saat sampai di rumahnya, orangtua Chanyeol mengatakan kalau mereka sudah di vila dan meminta Chanyeol dan Baekhyun menuju kesana. Pintu gerbang terbuka, setelah Chanyeol memencet beberapa password di dinding gerbang. Mobil mewah Chanyeol masuk ke dalam pekarangan vilanya yang cukup luas, dan terparkir di depan pintu masuk vilanya. Saat Chanyeol turun ia disambut hangat oleh beberapa maid yang segera mengambil koper-koper Chanyeol dan sepasang suami istri berdiri sambil tersenyum bahagia.

"Aigoo. Anak dan menantuku akhirnya datang. Sudah lama aku tak melihat kalian.." ucap seorang yoeja paruh bawa, yang terlihat masih cantik dan bertubuh tinggi langsing, yang sekali lihat semua tahu kalau itu adalah eomma Chanyeol. Dan disamping yeoja itu berdiri seorang namja paruh baya, yang memiliki wajah mirip Chanyeol atau sebagai cermin Chanyeol masa depan, dengan sebuah senyum yang menyejukkan.

"Eomma, appa." Ucap Chanyeol menghampiri kedua orang tuanya dan memeluknya hangat.

"Baekhyun-ah?" Ucapan eommanya tadi, membuat raut wajah Chanyeol berubah cemas. Ia takut jika Baekhyun akan bersikap dingin, sama seperti yang dilakukannya pada Chanyeol. Chanyeol memutar tubuhnya, dan menatap Baekhyun takut-takut. Baekhyun turun dari mobil, dengan wajah datarnya dan menatap ketiga orang yang berdiri di depannya.

"Baekhyun-ah, apa kau tak rindu pada eomma?" ucap eomma Chanyeol sambil merentangkan kedua tangannya. Baekhyun masih menatap datar, Chanyeol menatap cemas. Namun sedetik kemudian ada sebuah senyuman di wajah Baekhyun.

"Eomma~ bogoshippoyeo." Ucap Baekhyun manja sambil merangkul eomma Chanyeol.

"Aigoo, kau terlihat lebih kurus."

"Jinja? Padahal aku makan sangat banyak eomma." Ucap Baekhyun seperti anak kecil yang mengadu pada eommanya. Melihat itu Chanyeol bernafas lega.

"Ayo masuk kita bicara di dalam."

..

..

Mereka baru saja selesai makan malam, Chanyeol berbaring di ranjangnya sambil bersandar pada kepala kasur dan sebuah laptop yang bertengger di atas pahanya. Tak lama kemudian matanya beralih ke arah pintu yang terbuka, menampakan sesosok namja mungil dengan wajah yang nampak kelelahan. Ada rasa canggung yang mengitari mereka, sudah lama tak ada moment-moment dimana saat masuk ada Chanyeol yang berbaring diatas ranjang, ataupun saat melihat kearah pintu ada Baekhyun yang masuk dengan wajah kelelahan. Moment-moment itu telah lama terhapus dalam ingatan mereka. Baekhyun berjalan ke arah lemari dan mengambil beberapa potong baju dan sehelai handuk.

"Kau darimana?" tanya Chanyeol.

"Seperti biasa, eommamu menyanderaku untuk menemaninya memasak." Ucap Baekhyun tanpa melihat ke arah Chanyeol.

"Aku harap kau menikmatinya."

"Hm.." Baekhyun lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Tak lama kemudian, Baekhyun keluar dan diikuti dengan aroma buah segar yang memenuhi ruangan kamar itu. Chanyeol melirik sebentar, saat melihat Baekhyun yang keluar dengan rambut basahnya dan handuk yang ia gunakan untuk mengelapnya. Baekhyun naik ke atas ranjang, menyelimuti tubuhnya dan tidur membelakangi Chanyeol.

.

.

.

Paginya, Chanyeol tak mendapati Baekhyun berada diranjangnya. Ia berjalan keluar, dan bertanya pada maid yang kini menyiapkan sarapannya.

"Dimana eomma dan yang lainnya?" tanya Chanyeol.

"Nyonya besar, Tuan besar, dan istri anda sedang berjalan-jalan ke kebun apel di belakang vila."

Chanyeol hanya mengangguk, lalu meminum kopi hangat yang dihidangkan.

"Pagi sayang." Ucap sebuah suara, ternyata itu eommanya yang mengenakan topi berkebun, dan dibelakangnya ada Baekhyun yang membawa sebuah keranjang dan appanya yang membawa keranjang lain berisi apel.

"Lihat hasil panen kami." Ucap eommanya, dan Chanyeol tersenyum.

"Baekkie, biarkan dia mencicipinya." Ucap appa Chanyeol dan Baekhyun meletakan keranjang apel itu di hadapan Chanyeol. Eomma dan appa Chanyeol mengerutkan alisnya, Baekhyun menatap mereka bingung.

"Bukan seperti itu sayang, seharusnya kau kupaskan satu untuknya." Ucap eomma. Baekhyun menghembuskan nafasnya pelan, lalu segera menurunkan keranjang itu yang otomatis membuat mata mereka bertemu.

"Manis." Ucap Chanyeol sambil mengunyah apel yang Baekhyun berikan.

"Tentu saja, itu adalah apel dengan kualitas terbaik." Ucap appa.

.

.

.

Hari-hari mereka berlalu dengan menyenangkan, sudah hampir lima hari mereka berada disana, dan mereka harus tetap berakting mesra di depan kedua orangtuanya. Tinggal sehari lagi mereka disana, dan orangtua mereka mengadakan sebuah pesta taman kecil-kecilan disana. Baekhyun nampak bahagia saat bercerita dengan eomma Chanyeol. Chanyeol yang kini sedang duduk dengan appanya sambil memanggang BBQ hanya dapat mencuri-curi pandang. Sudah lama ia tak melihat senyum merekah Baekhyun yang sangat ia rindukan, mungkin.

Kini mereka berempat duduk melingkar pada sebuah meja bundar berwarna putih.

"Apa kalian tak berniat memiliki anak?" tanya appa tiba-tiba, membuat Chanyeol tersedak.

" Maksud appa? Bukankah appa tahu kalau aku_"

"Oh mian..mian... Baekhyun-ah. Bukan begitu maksud appa, maksud appa adalah mengadopsi anak." Ucap appa memperbaiki ucapannya.

"Oh.." Baekhyun membulatkan mulutnya sambil mengangguk-ngangguk pelan.

"Aku belum siap." Ucap Chanyeol tiba-tiba.

"Ck! Bagaimana bisa belum siap, usia pernikahan kalian kan sudah menginjak 8 tahun. Appa rasa Baekhyun sudah ingin iya kan Baekhyun-ah?" tanya appa.

"Hah? a..aku.." Baekhyun nampak gugup.

"Tak usah malu Baekhyun, bukankah dulu kau pernah bercerita pada eomma jika kau sangat ingin memiliki anak yang manis dan baik." Kini giliran eomma yang ikut bicara.

"Ne.. tapi.."

"Wae? Apa Chanyeol yang melarangmu?" tanya appa kini sambil melirik Chanyeol. Baekhyun menundukan kepalanya, ia memang sangat menginginkan seorang anak dalam rumah tangga mereka, tapi bila mengingat keretakan yang mereka alami Baekhyun selalu membuang angan-angan itu.

" Ani. Aku sangat sibuk sekarang eomma, jadi aku fikir tak mungkin bila memiliki anak." Ucap Baekhyun.

"Eomma juga dulu sempat berfikir begitu. Kau tahu kan kalau eomma ini dulu model, dan eomma sangat tidak mau jika harus membuat lekuk tubuh eomma membesar. Sama halnya denganmu, karirmu sekarang sangat bersinar, karena kau sudah memimpikannya sejak dulu. Tapi begitu kau merasakan ada sebuah kehidupan baru di dalam perutmu, maka kau akan mempertaruhkan nyawa deminya dan memilih untuk meninggalkan semua demi calon bayimu." Tutur eomma lagi. Baekhyun terdiam, begitu juga Chanyeol.

"Tapi eomma tahu kan kalau itu mustahil. Aku ini seorang namja eomma, jadi mana mungkin aku bisa hamil."

"Kau harus tahu Baekhyun-ah, di dunia ini tak ada yang mustahil. Tuhan akan melakukan segala cara untuk membuat kemustahilan itu menjadi mungkin. Dan zaman sekarang teknologi sudah canggih, jadi tak ada masalah dengan itu."

"Ne.." sahut Baekhyun pasrah.

"Lalu bagaimana? Apa kau mau sekarang?" tanya appa.

"Mau apa?"

"Tentu saja memiliki anak."

"Hm.. sebaiknya aku fikirkan dulu." Ucap Baekhyun.

"Dan kau Chanyeol?" tanya eomma.

"Keputusan ada di tangan Baekhyun eomma. Aku tak bisa melakukan apa-apa." Ucapan Chanyeol barusan seolah mengingatkan Baekhyun tentang pertengkaran mereka dulu saat Baekhyun ingin kuliah ke luar negri.

" Tapi kau juga ambil alih disini sayang." Sahut eomma Chanyeol.

..

..

Kini Chanyeol dan Baekhyun sedang terbaring di atas kasur, dengan mata yang masih terbuka. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Baekhyun segera beranjak dari posisinya.

"Selamat malam Tuan muda. Ini minuman yang diberikan Nyonya besar untuk anda."

"Untuk ku?"

"Ne. Beliau berharap anda meminumnya."

"Memangnya ini apa? Kenapa selama berada disini aku selalu diberi minuman ini?"

"Ini minuman untuk menambah kesehatan anda, Nyonya sangat mengkhawatirkan kesehatan anda."

"Huuh! Baiklah." Baekhyun mengambil minuman berwarna kuning cerah itu, dan hendak menutup pintu.

"Maaf." Ucap pelayan itu sambil menahan pintu Baekhyun.

"Ada apa lagi?"

"Nyonya menyuruh saya memastikan kalau anda meminumnya." Ucap pelayan itu dengan wajah tertunduk. Baekhyun memutar bola matanya malas, lalu ia dengan cepat menghabiskan minuman itu dan meletakan kembali gelasnya, lalu menutup pintu.

Baekhyun berjalan menuju ranjang dan ia dapati Chanyeol tengah berkutat kembali dengan laptopnya. Baekhyun memilih untuk tidur lebih dulu, daripada merasa canggung. Jam terus berlalu, dan kini menunjukan pukul 01.00, Chanyeol baru saja tidur 1 jam yang lalu, dan Baekhyun sudah masuk ke dalam mimpinya. Tiba-tiba Baekhyun menggerakan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, ia merasa terusik entah karena apa. Chanyeol yang merasa terganggu, segera melihat ke arah pemanas ruangan yang masih stabil, ia tahu jika Baekhyun tak suka dingin. Tapi Baekhyun terus bergerak gelisah.

"Akh, panas." Ucap Baekhyun sambil membuka kancing bajunya, Chanyeol membalik tubuhnya dan terkejut saat melihat Baekhyun yang mulai menanggalkan pakaiannya. Chanyeol memilih mematikan pemanas ruangan, dan menyalakan AC ruangan tersebut. Tapi Baekhyun tetap merasa kepanasan, Chanyeol segera menyalakan lampu di meja nakasnya.

" sepanas ini?" kembali lagi Baekhyun bersuara serak. Chanyeol memilih untuk duduk, dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Baekhyun memerah dengan keringat yang mulai menuruni keningnya.

"Baekhyun, kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol takut-takut.

"Panas, Yeollie. Panas." Ucap Baekhyun manja suaranya lebih terdengar seperti desahan. Chanyeol hendak bangkit.

"Biar aku minta pelayan untuk memperbaiki AC di ruangan ini." Ucap Chanyeol, walaupun ia sendiri merasa kalau ruangan ini amat sangat saja bisa mati kedinginan.

"Jangan!" ucap Baekhyun sambil menahan tangan Chanyeol.

"Jangan tinggalkan aku Yeollie. Hiks..hikss.." Baekhyun mulai merengek seperti anak kecil, Chanyeol benar-benar merasa bingung, tapi ia juga merasa jantungnya berdegup kencang.

"Yeollie. Aku merindukanmu, aku merindukan sentuhanmu, aku merindukan ciumanmu, dan aku merindukanmu yang merasukiku." Ucap Baekhyun. Chanyeol seolah terkena sengatan listrik, ia terdiam dengan wajah yang memerah. Apa ia tak salah dengar barusan, kenapa Baekhyunnya yang polos bisa bicara seperti itu? Walaupun saat hubungan mereka masih baik dulu, Baekhyun sama sekali tak pernah bicara seperti itu. Baekhyun segera bangkit dan duduk diatas pangkuan Chanyeol, ia mengalungkan tangannya di leher Chanyeol, dan melumat bibir Chanyeol.

Chanyeol merasa terkejut, matanya membulat sempurna, tapi di detik berikutnya ia membalas ciuman itu, ciuman yang paling tak bisa ia lupakan, ciuman yang paling ia rindukan. Lidah itu bertarung dengan dashyat, tautan benang-benang saliva, suara decakan lidah, dan hisapan-hisapan yang sedikit kasar memenuhi ruangan itu, sampai akhirnya Baekhyun melepaskan pangutan mereka. Baekhyun menyeringai pada Chanyeol, Chanyeol benar-benar shock di buatnya.

Ini memang bukan kali pertama mereka berhubungan intim, namun tetap saja Baekhyun merasa sakit saat Chanyeol merasukinya. Selain itu ia sudah lama tak disentuh oleh Chanyeol. Sejak hubungannya memburuk dengan Chanyeol, Baekhyun sama sekali tak pernah berhubungan intim dengan siapapun, berbeda dengan Chanyeol yang sudah berulang kali melakukannya bersama "simpanannya" Luhan.

TBC

Ayo-ayo mana reviewnya..

Karena di chapter depan akan semakin greget..

Kekekekeeke…

Gomawo udah mau baca..

Dan oh aku minta maaf karena gak bisa update kilat. Sebenernya ff ini mw aku publish 3 hri yang lalu. Tapi selalu ajah server not found, aku fikir laptopku yang rusak krn signal wiefie di kamarku full, eh baru aku buka youtube malah kenceng tnpa buffering, dan anehnya cuma untuk ffn ini yg gak kebuka, bahkan melalui google, MFx, dan IE pun gak mau. Aku sempet frustasi chingu,dan Akhirnya setelah kesabranku habis, tmenku nyaranin buat pake modem, eh ternyata mau. Gimana aku ggak kesel, tapi Tuhan ternyata mendengarkan doa-doaku, kekekeke.. Mian curcol ya, habisnya aku bener2 merasa bersalah am chingu. Oh iya reviewnya diluar dugaan, kekekeke...

Chapter ini ttp review ya..