Tittle : Still loving you ( PART 3 )
Author : Lee Shita a.k.a Park Shita
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Xi Luhan, Oh Sehun and other
Terima kasih chigu untuk semua review di chapter sebelumnya. Semua review kalian sangat membangun kok, ini aku kasih chapter 3. Tetep review ya..
Mian juga lama ya, dan mian gak bisa bales satu-satu, kekeke. Tapi tenang aku udah baca semua kok.
Happy reading
.
.
.
Tirai-tirai itu bergerak senada dengan hembusan angin, menyebabkan cahaya matahari berhasil lolos masuk melalui celahnya dan membuat mata sipit yang masih setia tertutup itu terusik. Baekhyun menggeliat tak nyaman, tangannya mulai menyentuh sesuatu yang menempel pada tubuhnya. Ternyata yang ia pegang adalah paha Chanyeol, lalu ia mendorong tubuh itu pelan. Baekhyun membulatkan matanya, nafasnya mulai kacau, ia melirik kembali ke arah Chanyeol. Ia kembali melirik tubuhnya, ia menyibak selimut dan melihat selangkangannya, ada bercak cairan putih yang mengering, ia menarik nafas dalam, panjang, dan...
"KYAAAA... APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU HAH?"
Buagh..
Sebuah tendangan mendarat di perut Chanyeol, sehingga membuat namja tampan itu terjatuh dari ranjangnya dengan tubuh telanjang bulat.
..
...
Baekhyun hanya menundukan kepalanya, dan Chanyeol merasa bingung harus berbuat apa. Barang-barang dan mobil sudah siap, hanya tinggal menunggu kedua namja itu untuk masuk. Baekhyun membungkukkan kepalanya memberi hormat.
"Hati-hati ya sayang. Jaga kesehatanmu, jangan terlalu lelah bekerja. Makan dengan baik, dan juga banyak makan buah." Tutur eomma pada Baekhyun, yang entah mengapa membuatnya merasa itu sangat berlebihan. Akhirnya setelah berpamitan mereka segera melesat pergi.
"Akhirnya aku bisa menimang cucu." Ucap eomma Chanyeol pada suaminya.
"Ne. Aku harap hubungan mereka bertambah baik."
"Ne. Dan aku harap namja dengan wajah sok ramah itu, berhenti mengganggu Chanyeol." Ucap eomma Chanyeol lagi.
Selama perjalanan tak ada yang bicara, Baekhyun masih kesal dengan kejadian tadi pagi.
"Kau tak bisa sepenuhnya menyalahkanku. Kau yang mulai duluan." Ucap Chanyeol.
"Heuh, kau ingin mengelak hah? mana mungkin aku yang meminta duluan. Aku yakin kau mencampurkan sesuatu di minumanku hingga aku tak ingat apapun."
"Kau fikir aku serendah itu."
"Tak usah berpura-pura!"
"Aku tak berpura-pura."
"Siapa yang tahu." ucap Baekhyun lagi mengakhiri percakapan pedas mereka.
Sudah dua bulan berlalu semenjak kejadian itu, dan hubungan mereka sama sekali tak membaik. Baekhyun yang baru saja sembuh dari penyakitnya, harus kembali bekerja. Entah penyakit apa,pihak medis tak bisa mendiagnosanya. Yang jelas seminggu setelah sekembalinya mereka dari vila, perut Baekhyun terasa sakit seperti seseorang menarik ususnya keluar, ia bahkan tak kuat untuk bangkit dari ranjang. Dan selama seminggu itu Baekhyun harus di rawat oleh seorang suster yang Chanyeol sewa untuk Baekhyun.
Kini Baekhyun sedang mencicipi makanan yang akan disajikan, keadaan dapur sangat ramai tapi hal itu tak menganggu konsentrasi Baekhyun untuk menilai cita rasa masakan yang dibuat bawahannya.
"Hm, sepertinya sedikit merica akan lebih baik." Ucap Baekhyun dan segera bawahannya menambahkan merica. Baekhyun kembali berkeliling memantau anak didiknya, dan saat matanya bertemu dengan Kris ia berhenti.
"Bagaimana kesehatanmu?"
"Kau bisa lihat sendiri aku baik-baik saja."
"Hm, baguslah."
..
...
Baekhyun masuk ke dalam rumahnya, dan saat akan melewati ruang tamu tak sengaja ia melihat Chanyeol dan Luhan sedang berpelukan sambil menonton tv. Entah mengapa hal itu membuat Baekhyun merasa seperti dihujam ribuan pisau. Padahal ia sudah melihat yang lebih dari ini, tapi bukan berarti ia tak sakit hati, hanya saja rasanya tak sesakit sekarang.
"Baekhyun sshi. Kau sudah pulang? Mau bergabung bersama kami?" tanya Luhan ramah. Baekhyun menggeleng sambil tersenyum pahit lalu berjalan ke dalam kamarnya.
"Yeol-ah, apa kau tak merasa jika Baekhyun sshi sedikit berubah."
"Apanya?"
"Ia terlihat lebih gemuk."
"Benarkah?" Chanyeol memutar kepalanya melihat Baekhyun yang melangkah menaiki anak tangga dengan wajah yang lesu. Dan jantung Chanyeol seolah berhenti berdetak saat melihat Baekhyun mempoutkan bibirnya, entah mengapa itu membuat Baekhyun terlihat lebih cantik.
"Mungkin nafsu makannya meningkat." Sahut Chanyeol cuek, sambil kembali memeluk pinggang Luhan dan kembali menonton.
…
…
…
Tiga minggu berlalu sejak malam dimana Baekhyun merasa hatinya sangat sakit. Hari-harinya terasa lebih buruk kini. Bahkan ia tak konsentrasi dalam pekerjaannya dan beberapa kali mendapat komplain dari pelanggan, entah itu karena masakannya yang terasa sangat asin, atau terlalu pedas, atau bahkan tak terasa apapun. Baekhyun merasa kehebatan lidahnya menghilang, ia juga tak tahu apa sebabnya yang jelas, saat kakinya melangkah ke dalam dapur ia akan merasa tak enak badan, pusing dan juga mual. Dan kini Baekhyun terbaring di atas ranjangnya, tubuhnya benar-benar lemas, bahkan ia belum makan sejak siang tadi. Dan saat akan menutup matanya, suara cekikikan dari ruang tengah mengganggu pendengarannya. Ia mulai kesal,namun berusaha sabar dan menutup telinganya. Ia jarang berada di rumah dibawah jam 7 malam, jadi ia juga jarang mendengar keributan yang dibuat Chanyeol dan Luhan.
"Hahaahaha.. Lucu sekali beruang itu."
CUKUP!
Kesabaran Baekhyun telah habis, ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar.
"Yaak! kalian! Bisakan kalian tak berisik hah? Aku sedang mencoba untuk tidur."
"Ada apa denganmu?"
"Ada apa? Kau tanya ada apa? Aku sakit sejak pagi tadi, dan aku bahkan tak bisa makan karena aku merasa mual, dan sekarang aku mencoba untuk tidur, tapi suara berisik kalian menggangguku. Tidak bisakah kalian diam. Aku membiarkan kalian bercinta dan melakukan hal nista lainnya di rumah ini, bukan berarti kalian bebas melakukan apapun. Kau Luhan sshi, sekali-kali pikirkanlah keadaan suamimu, kau kan sudah punya rumah seharusnya kau pulang kesana bukan malah merusak rumah tangga orang lain, dan kau namja IDIOT! Berhenti membuatku semakin membencimu!" ucapan Baekhyun barusan membuat kedua namja di hadapannnya terdiam. Baekhyun segera berjalan ke kamarnya dengan tertatih-tatih.
Saat Baekhyun menangis dan menyembunyikan wajahnya di dalam bantal, Chanyeol masuk ke dalam kamarnya.
"Baekhyun aku ingin bicara!"
"Mwo?" tanya Baekhyun ketus dengan suara yang Chanyeol tahu jika Baekhyun sedang menangis.
" Kenapa kau bicara seperti itu tadi? Kau tahu Luhan menangis mendengar ucapanmu."
"Peduli sekali kau padanya, apa kau tak tahu jika aku juga sering menangis karenamu?" bentak Baekhyun sambil menatap Chanyeol.
"Kau tahu seberapa sering aku menangis karenamu? Kau fikir aku tak sakit hati melihatmu bermesraan dengan namja lain?"
"Kau yang memulainya."
"Ne, memang aku yang memulainya dengan membawa namja kemari. Tapi asal kau tahu kami tak ada hubungan apa-apa, dan dia hanya mengantarkanku yang kebetulan mabuk. Kau juga harus tahu, aku tak pernah tidur dengan namja lain selain dirimu, dan malam itu aku sama sekali tak melakukan apapun denga Kai. Lalu keesokan paginya aku mengundurkan diri dari restourant itu, restourant yang selalu aku impikan, karena aku memikirkan perasaanmu. Tapi kau dengan sesuka hatimu mengajak namja lain kesini, dan bahkan kalian bercinta di rumah ini, tanpa mempedulikan perasaanku." Chanyeol terdiam, dia merasa seolah orang yang paling salah.
"Kenapa kau tak pernah bilang?"
"Bagaimana bisa aku berterus terang padamu, jika saat aku kembali ke Korea kau sudah kau tak menanyakan keadaanku, apakah aku baik-baik saja disana, apakah aku makan dengan baik, atau kah aku tidur dengan nyenyak. Sama sekali tak pernah Chanyeol, bahkan selama aku di Paris kau tak pernah memberiku kabar. Aku tahu aku yang salah, aku tahu semua ini karena aku yang ingin menjadi chef. Tapi tidakkah kau bisa menerimanya, menerima cita-citaku? Aku saja bisa menerima semua keputusanmu. Tapi kau_" air mata Baekhyun mengalir turun,ia masih menatap Chanyeol yang diam terpaku.
" Aku rasa ini sudah cukup Chanyeol, aku tak bisa bertahan lagi. Aku akan berterus terang dengan eomma dan appa. Dan aku akan bicara sehalus mungkin sehingga penyakit eommamu tak akan kambuh. Bagaimana pun juga aku sudah menganggapnya sebagai eommaku."
"Baekhyun.."
"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi Chanyeol, Aku..aku.. Huueeekkk..hueeekk.." Baekhyun menutup kedua mulutnya, dan segera berlari ke kamar mandi. Chanyeol segera menyusul Baekhyun, dan memijat punggung Baekhyun. Baekhyun terus memuntahkan cairan bening yang kental,dan juga sedikit makanan, Chanyeol menjadi cemas, dan kecemasannya meningkat saat mendapati tubuh Baekhyun terkulai lemas di tangannya.
"Baekhyunnn!"
..
...
Baekhyun membuka matanya, dan mulai menyadari jika ia bukan di dalam kamarnya. Ia hendak bangkit tapi tangannya terasa sakit karena sebuah jarum infus menancap disana.
"Akhirnya kau bangun."
"Ada apa denganku Chanyeol?"
"Kau pingsan tadi."
"Lalu apa kata dokter?" tanya Baekhyun lagi.
"Tak terjadi apa-apa denganmu. Kalian baik-baik saja." Ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk, lalu sedetik kemudian terdiam.
"Apa maksudmu dengan kalian?"
"Hmm.. Aku bingung harus mulai darimana. Ini sangat aneh, bahkan medis pun tak bisa menjelaskan."
"Jangan berputar-putar! Bicara yang jelas!"
"Hm.. kau sedang hamil."
"MWOOO? Bagaimana bisa?"
"Aku juga tak tahu. Tapi.. selamat. Usia kandunganmu menginjak dua bulan." Ucap Chanyeol sambil tersenyum senang. Berbeda dengan Baekhyun yang masih berusaha mencerna yang terjadi.
Tiga hari dirawat dirumah sakit membuat Baekhyun rindu dengan rumahnya. Dan kini dokter telah memperbolehkan Baekhyun pulang. Chanyeol juga meminta pada pihak rumah sakit agar merasahasiakan hal ini, ia tak ingin Baekhyun diganggu oleh banyak media.
"Chanyeol, aku ingin makan es krim." Ucap Baekhyun saat sampai di apartemennya.
"Baiklah tunggu disini, aku akan membelikannnya untukmu." Ucap Chanyeol dan segera pergi. Baekhyun tersenyum senang.
"Sayang. Aku sepertinya mulai menyukai kau berada di dalam. Sikapnya berubah terhadapku." Ucap Baekhyun sambil mengelus perutnya.
Belum ada yang mengetahui perihal kehamilan Baekhyun. Ia sama sekali tak ingin hal itu tersebar kemana-mana yang pada akhirnya akan mempersulitnya. Dan untuk itu Baekhyun harus kembali beraktifitas normal, dan disini ia sekarang, di dapur restourant, tapi semenjak tadi Baekhyun sudah mual saat mencium aroma masakan dan aroma daging-daging mentah, serta aroma amis dari ikan-ikan, kerang, udang, lobster, atau apapun yang membuatnya ingin muntah. Kris yang berdiri di luar dapur yang kebetulan lewat 'mungkin' memperhatikan gerak-gerik Baekhyun yang aneh.
"Baekhyun sshi, aku ingin bicara." Ucap Kris. Baekhyun menoleh, lalu ia mengangguk dan mengikuti langkah Kris.
" Silahkan duduk!" Kris mempersilahkan Baekhyun saat mereka sampai di ruang kerja Kris.
"Ne. Gomawo. Ada apa Kris?"
"Begini. Akhir-akhir ini, aku perhatikan kau kurang konsentrasi dalam bekerja. Apa kesehatanmu masih terganggu?" tanya Kris.
"Uhm.. Ani. Aku baik-baik saja."
"Jangan berbohong. Aku tahu jelas, kau sedang tak dalam kondisi yang bisa dikatakan baik-baik saja. Jujurlah padaku! Kau tak usah menutupi apapun!"
"..."
"Aku juga sudah tahu perihal kau dan suamimu. Namja yang datang waktu itu adalah suamimu kan? namja tinggi dengan kekasihnya, Xi Luhan sshi. Rekan kerja suamimu dulu, dan kini menjadi bawahan suamimu dan juga kekasihnya?" ucap Kris. Mendadak wajah Baekhyun pucat.
"Apa yang kau bicarakan sangatlah tidak masuk akal."
"Benarkah? Hm. Tapi itu tak penting. Aku tak peduli apa yang suamimu lakukan, tapi yang terpenting adalah perasaanmu."
"Tahu apa kau tentang perasaanku?"
"Aku ingin kau menjadi kekasihku Byun Baekhyun."
"Mwo? apa kau gila?"
"Ani. Aku benar-benar tergila-gila padamu sejak kita pertama kali bertemu."
"Pembicaraan ini sudah kelewatan Kris sshi. Maaf aku harus pergi." Ucap Baekhyun, namun Kris dengan cepat menarik tangan Baekhyun dan menciumnya ganas. Baekhyun berusaha menolak, namun kekuatan Kris sangat besar. Sampai akhirnya entah dapat kekuatan darimana, Baekhyun berhasil mendorong Kris, namun ia terpental ke pintu.
" Kau benar-benar sudah kelewatan Kris sshi." ucap Baekhyun dengan nafas terengah dan satu tangan mengelap bibirnya. Mata Baekhyun memerah dan sedikit berair karena menahan amarah. Dan tiba-tiba ia meringis kesakitan, ia memegang perutnya dan berteriak kesakitan. Rasanya seperti dicabik, dan di remas. Baekhyun terduduk melemas kelantai dengan tangan masih memegang perutnya.
"Sakit..sa...kit.. Yeollie. Sakit..akkhh.." dan semuanya menjadi gelap setelah teriakan Baekhyun.
Baekhyun dapat mendengar suara beberapa orang di sekitarnya, dan suara bass yang terdengar panik membuatnya membuka mata. Perlahan, pelan, dan berat, Baekhyun mulai mengerjapkan matanya. Dan saat mata itu terbuka, sosok yang pertama kali ia lihat adalah suaminya, orang yang paling ia cintai di dunia, sedang memandang ke arahnya panik.
"Baekhyun-ah?" tanya suara itu lembut.
"Yeollie. Ada apa denganku?" tanya Baekhyun.
"Kau pingsan di tempat kerja tadi."
"Benarkah? Lalu bagaimana keadaan bayi kita?" Baekhyun segera bangkit dan memegang perutnya.
"Dia baik-baik saja. Mungkin kau terlalu lelah Baek." Ucap Chanyeol sambil memegang punggung tangan Baekhyun dan mengelusnya pelan. Baekhyun terdiam, ia mulai teringat dengan kejadian sebelum dia pingsan tadi, ia merasa bersalah pada suaminya karena membiarkan pria lain menciumnya.
"Ada apa? Kenapa kau seperti gelisah? Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Chanyeol lagi.
"Hah? ani. Aku hanya mencemaskan kandunganku. Tak mudah bagi seorang pria untuk memiliki kandungan." Ucap Baekhyun.
"Hehehhe.. tapi kau harus bertahan demi bayi kita." Ucap Chanyeol lembut sambil membelai pipi Baekhyun lembut, membuat Baekhyun seolah terbang merasakan belaian Chanyeol yang sudah lama ia rindukan.
"Chanyeol?"
"Ne?"
"Uhm.. Maafkan aku."
"Untuk apa?"
"Karena dulu aku begitu egois dan tak mau mendengar ucapanmu." Ucap Baekhyun sambil tertunduk dan nampaknya sedikit terisak.
"Aku sudah memaafkanmu sayang."
"Maukah kau memulai hidup yang baru bersamaku lagi? Ah ani.. kau, aku dan aegya kita?" ucap Baekhyun. Chanyeol terdiam dan memandang Baekhyun dalam. Baekhyun menundukan kepalanya, ia tahu pertanyaannya sangat salah, tapi entah mengapa ia ingin mengucapkannya.
"Ne."
"Jinja? Apa kau bersungguh-sungguh? Hanya kita bertiga. Tak ada orang lain? Apa kau sanggup?" tanya Baekhyun lagi.
"Ne." Sahut Chanyeol sambil mengangguk.
"Dan itu berarti tidak ada.. eerr.. Luhan." Ucap Baekhyun. Chanyeol terdiam, ia melempar arah pandangnya ke bawah. Dan saat itu Baekhyun rasanya ingin memukul dirinya yang kurang ajar karena telah mengharapkan lebih.
"Ne" Namun apa yang dibayangkan Baekhyun berbeda dengan realita. Chanyeol menyanggupinya dan betapa dia senang akan hal itu.
"Tapi kau masih boleh menemuinya, aku tidak melarangmu untuk berkomunikasi dengannya. Tapi aku harap kau jangan membawanya_"
"Ne..ne.. arraseo chagi. Bukankah aku bilang iya tadi?" ucap Chanyeol sambil meletakan jari telunjuknya di bibir Baekhyun, lalu tersenyum manis ke arah istrinya.
" Oh iya aku hampir lupa. Aku harus bersiap." Ucap Chanyeol dan bangkit dari duduknya bersama dengan dokter pribadi dan juga asistennya.
" Memangnya kau mau kemana?"
"Eomma dan appa sebentar lagi datang Baekhyun-ah." Ucap Chanyeol lalu meninggalkan kamar Baekhyun.
..
..
Baekhyun nampak tersenyum bahagia saat mertuanya membelai lembut kepalanya.
"Kau harus jaga kesehatanmu!" ucap Nyonya Park.
"Ne arraseo eomma. Tapi ini benar-benar aneh, bagaimana mungkin seorang namja sepertiku bisa hamil." Ucap Baekhyun. Eomma Chanyeol melirik ke arah suaminya.
"Itulah yang dinamakan keajaiban sayang." Ucap Appa Chanyeol kini. Baekhyun benar-benar merasa jadi orang paling beruntung kini, karena begitu banyak yang sosok orangtua kandungnya sudah tak bersamanya lagi, karena kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu sebelum kepulangan Baekhyun ke Korea, dan.. ah sudahlah jangan mengingat masa-masa sedih itu lagi di saat Baekhyun kita sedang tertawa bahagia.
" Kau juga harus mengontrol emosimu. Jangan sampai kau marah, sedih, ataupun perasaan buruk lainnya karena itu akan mempengaruhi janinmu."
"Jinja?" tanya Chanyeol dan Baekhyun bersamaan.
"Eomma pernah merasakannya sayang. Dan kejadian tadi pasti disebabkan karena emosi Baekhyun yang tak terkendali. Benarkan?" tanya eomma lagi. Baekhyun mengangguk pelan dan bayangan tentang Kris yang mencium paksanya kembali terlintas.
"Oh iya, mulai besok kau tak perlu bekerja lagi. Bukankah penghasilan Chanyeol lebih dari cukup?"tanya appa.
"Tapi appa_"
"Tak ada tapi-tapian, kau harus mementingkan keadaan janinmu. Ingat kau harus menjaga hadiah istimewa ini." Ucap appanya lagi.
"Ne appa." Sahut Baekhyun dan Chanyeol hanya menatap istrinya itu penuh arti.
…
…
…
Luhan nampak duduk di sebuah cafe yang biasa ia datangi bersama Chanyeol, dan tak lama kekasih hati yang ia tunggu itu muncul juga. Luhan tersenyum, begitu pula Chanyeol namun Luhan tahu senyuman Chanyeol berarti lain.
"Ada apa? Apa ada masalah dengan Baekhyun sshi?"tanya Luhan. Chanyeol yang awalnya menunduk kini menatap Luhan, seolah mencari sebuah alasan dari sorot mata teduh Luhan.
"Ne. Kemarin dia pingsan di tempat kerja."
"Jinja? Lalu bagaimana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Luhan mengangguk
"Ne, dia baik-baik saja, hanya terlalu lelah."
"Ah syukurlah. Aku fikir terjadi sesuatu padanya. Kau harus rajin-rajin memperhatikan kesehatannya, walaupun hubungan kalian ..uhm.. yah begitulah.. tapi dia tetap istrimu."
"Dan selamanya akan menjadi istriku." Lanjut Chanyeol cepat.
"Ah? N..ne?" tanya Luhan terkejut
"Ne Luhannie. Selamanya Baekhyun akan menjadi istriku. Dan..uhm.. sebenarnya kedatanganku kesini karena... karena aku ingin mengatakan padamu. Bagaimana kalau hubungan ini berakhir?" ucap Chanyeol takut-takut tak berani menatap iris mata Luhan yang membesar.
"M..mwo? apa kau bercanda?"ucap Luhan diselingi tawa getirnya.
"Ani, aku serius. Baekhyun hamil, karena itu_"
"Mwo? kau sedang bercanda kan Yeollie? Hahaha.. kau sedang mempermainkanku kan? sekarang hari apa? Apa sekarang hari penting? Apa kau ingin memberikanku kejutan?" ucap Luhan panik sambil mengeluarkan ponselnya untuk mencari tanggal penting di kalendernya, Chanyeol menahan tangan Luhan. Luhan terdiam dengan wajah sedih dan sebuah senyuman getir, air matanya lolos. Chanyeol tak tega melihat sorot wajah Luhan segera bangkit dan memeluknya. Walau bagaimana pun Luhan adalah namja yang selalu mengisi hari-harinya, selalu membuatnya tersenyum dikala ia stres dengan pekerjaannya, menjadi tempat curhatnya dikala Chanyeol bermasalah dengan Baekhyun, dan menjadi alarm pengingatnya untuk segala kegiatan yang selalu Chanyeol lupakan. Chanyeol merasa menjadi orang paling jahat sedunia, ia baru saja menyakiti hati seorang yang begitu baik padanya.
"Mianhae.."
"Hajiman wae? Wae? Apa salahku Chanyeol ." isak Luhan dalam pelukan Chanyeol. Chanyeol menutup matanya, tak mampu mendengar suara isakan itu lagi.
"Mianhae. Aku tak bisa meninggalkan Baekhyun sayang. Apalagi dia sedang mengandung anakku, buah cinta kami berdua." Ucap Chanyeol.
"Tapi.. ... aku mencintaimu."
"Aku juga..aku juga Luhan. Tapi kau harus tahu selamanya kita tak akan bisa bersatu, kita memang ditakdirkan sampai disini. Kembalilah pada suamimu, dia pasti masih mencintaimu." Ucap Chanyeol. Luhan melepas pelukannya dan menatap Chanyeol mencari sebuah kebohongan disana,namun sayang yang Chanyeol katakan adalah sebuah kenyataan, kenyataan bahwa mereka berakhir sampai disini. Chanyeol menghapus air mata Luhan dengan ibu jarinya, lalu perlahan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir yang akan ia rindukan itu, dan perlahan melumatnya menyalurkan semua perasaan yanng ia rasakan sekarang.
"Chanyeol."
"Ne."
"Seandainya aku ada masalah, apa boleh aku menemuimu?" tanya Luhan. Chanyeol tersenyum lalu mengeratkan kedua tangannya yang ia tempelkan di pipi Luhan.
"Tentu saja sayang. Aku akan selalu ada untukmu." Ucap Chanyeol kemudian kembali memeluk Luhan.
Chanyeol membuka pintu apartemennya dan meletakan kunci mobilnya di meja. Wajahnya masih tertunduk, ia masih memikirkan Luhan, namun sedetik kemudian pikirannya teralih ke Baekhyun. Ia mencari-cari istrinya itu, dan betapa leganya ia saat menemukan Baekhyun sedang tertidur di ranjang, tapi ia merasakan ada kejanggalan di kamar Baekhyun, lemarinya terbuka dan ada dua koper yang sudah penuh terisi pakaian, apa Baekhyun berencana pindah? Pikir Chanyeol. Ia mendekat ke arah Baekhyun dan duduk di atas ranjang, ia mengelus surai Baekhyun lembut dan pelan dan tiba-tiba mata itu terbuka menatapnya terkejut.
"Kau sudah pulang?"
"Ne baru saja. Oh iya apa yang kau lakukan dengan pakaianmu? Apa kau berencana pindah?" tanya Chanyeol. Baekhyun melihat sekelilingnya dengan memasang wajah sedih lalu ia beralih ke Chanyeol.
"Ne aku akan pindah." Ucap Baekhyun.
TBC
Ayo-ayo…
Mana suaranya Chanbaek shipper? ..
Mian untuk Chanlu shipper, harus patah hati. Karena dari awal ini memang ff chanbaek. Oh iya, ini happy ending ya..
Jadi jangan takut buat baca..
Mohon review nya..
