Tittle : Still loving you ( PART 4 )

Author : Lee Shita a.k.a Park Shita

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Xi Luhan, Oh Sehun and other

Terima kasih sebanyak-banyaknya yang udah review, follow atau mem favorite kan ff ini. Aku udah baca review kalian satu-satu, tapi maaf kalo ada yang gak ke reply. Aku seneng banget sama respon kalian. Di chapter Ini jangan lupa review ya..

Happy reading

.

.

.

Chanyeol membuka pintu apartemennya dan meletakan kunci mobilnya di meja. Wajahnya masih tertunduk, ia masih memikirkan Luhan, namun sedetik kemudian pikirannya teralih ke Baekhyun. Ia mencari-cari istirnya itu, dan betapa leganya ia saat menemukan Baekhyun sedang tertidur di ranjang, tapi ia merasakan ada kejanggalan di kamar Baekhyun, lemarinya terbuka dan ada dua koper yang sudah penuh terisi pakaian, apa Baekhyun berencana pindah? Pikir Chanyeol. Ia mendekat ke arah Baekhyun dan duduk di atas ranjang, ia mengelus surai Baekhyun lembut dan pelan dan tiba-tiba mata itu terbuka menatapnya terkejut.

"Kau sudah pulang?"

"Ne baru saja. Oh iya apa yang kau lakukan dengan pakaianmu? Apa kau berencana pindah?" tanya Chanyeol. Baekhyun melihat sekelilingnya dengan memasang wajah sedih lalu ia beralih ke Chanyeol.

"Ne aku akan pindah." Ucap Baekhyun.

" Mwo?"

"Aku akan pindah ke kamarmu. Hehehehe.." Baekhyun memperlihatkan barisan giginya yang rapi.

"Kau membuatku terkejut saja."

"Tapi, barang-barang ini terlalu banyak. Tadi aku kelelahan makanya aku ketiduran. Apa kau lelah?" tanya Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun lalu menyeringai.

"Aaah~ aku lelah sekali." Ucap Chanyeol lalu meregangkan otot tangannya dan berbaring terlentang.

"Yak! Kau pasti berbohong. Ayolah Park Chanyeol."

"Aahh~ ani aku lelaaaahhh.." ucap Chanyeol berpura-pura.

"Ck! Dasar tiang listrik. Kalau begitu biar aku sendiri saja. Dia fikir aku lemah." Decih Baekhyun lalu segera bangkit dan mengerekan kopernya lalu berusaha mengangkatnya, namun apa daya koper itu begitu besar dan tenaganya sangatlah tersenyum lalu membalik tubuhnya menjadi posisi tengkurap dengan kedua tangan menyangga dagunya.

"Aigoo! Katanya kau namja kuat, tapi kenapa mengangkat koper saja tak sanggup? Ckckck! Apalagi bobotmu sekarang kan menjadi dua orang." Ledek Chanyeol. Baekhyun memberikan death glare andalannya, dan bila itu bukan Chanyeol maka dipastikan orang tersebut sudah mati di tempat.

"Siapa bilang aku tak kuat?" Ucap Baekhyun lagi lalu berusaha mengangkat koper itu namun hanya terangkat beberapa cm dari lantai. Tiba-tiba dahi Baekhyun mengernyit, lalu tangannya melepas koper itu dan beralih memegang perutnya.

"Akh! Sakit! Sakit sekali." Ucapnya. Chanyeol melompat dari ranjangnya dan memegang tubuh Baekhyun.

"Baekkie! Kenapa? Kenapa?" tanya Chanyeol panik.

"Perutku..akh! perutku yeol."

"Kenapa dengan perutmu? Apa sakit lagi?"

"Perutku..perutku...Perutku baik-baik saja, hanya sedikit lapar. Jangan berlebihan begitu Park Chanyeol." Ucap Baekhyun dan berdiri seperti biasa lagi. Ia terkekeh pelan melihat ekspresi suaminya.

"Awas kau Baek! Kau berani-beraninya mengerjaiku.."

"Aku tak mengerjaimu, perutku memang lapar. Sebaiknya kau masakan sesuatu untuku Yeol." Ucap Baekhyun acuh lalu berjalan keluar kamar sambil mengelus perutnya yang masih datar. Chanyeol menatap istrinya itu lalu tersenyum sendiri.

..

..

.

"Huwaaa.. selamat makan." Seru Baekhyun sambil membuka sumpit di tangannya. Ia segera mengambil beberapa daging pangang dan menyantapnya bersamaan dengan nasi.
"Enak sekali Yeol." Ucap Baekhyun.

"Tentu ini lebih enak dari masakanmu."

"Ck! Aku hanya mengatakan ini enak bukan lezat jadi tak perlu besar kepala. Semua juga tahu kalau masakanku jauh lebih enak."

"Benarkah? Kalau begitu kenapa tak masak sendiri?"

"Uri Aegya ingin dimasakan olehmu."

TOK..

Chanyeol memukul kepala Baekhyun dengan sendok.

"Ck! Jangan membuat alasan. Aku tahu itu hanya akal-akalanmu saja."

"Ani. Inilah yang dinamakan ngidam Yeol. Aigoo! Masak kau tak tahu?"

"Tentu saja aku tak tahu, aku kan namja."

"Lalu kau fikir aku apa?"

"Kau namja, tapi sebentar lagi akan menjadi seorang ibu."

"Ck! Tapi aku tetap namja."

"Ne..ne... namja yang manis. Oh iya kau tahu hal-hal seperti itu darimana?" tanya Chanyeol.

"Apa?"

"Hal-hal berhubungan dengan kehamilan?"

"Tentu saja dari buku dan internet"

"Hhm.. sepertinya kau sudah siap menjadi seorang ibu." Ledek Chanyeol.

"Siap tak siap aku harus siap. Kau juga sebaiknya mempersiapkan diri menjadi seorang ayah"

"Hahaha. Itu tak sulit, aku hanya perlu mencari uang yang banyak."

"Kenapa kau begitu yakin? Apa kau tak tahu menjadi seorang calon ayah sangatlah sulit apalagi dimasa-masa mengidam."

"Benarkah? Uuuhh. Aku begitu takut." Ucap Chanyeol sambil menggosok-gosok lengannya dengan gaya meledek.

"Lihat saja nanti! Seberapa sering aegya kita membuatmu kesulitan."

"Heuh, palingan hanya ingin buah kan? lihat! Kulkas kita sudah penuh berisi buah." Ucap Chanyeol. Baekhyun menaikkan satu alisnya dan menyeringai.

..

..

.

" Yeol, aku ingin makan pisang, tapi yang sudah di potong." Ucap Baekhyun. Chanyeol bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke dapur lalu datang dengan sebuah piring. Kemudian ia kembali berkutat dengan laptopnya.

..

.

Pukul 23.00 WKS

"Yeol. Aku ingin minum jus apel yang dicampur dengan mangga" ucap Baekhyun lagi. Chanyeol yang belum tertidur dan masih berkutat dengan laptopnya melirik Baekhyun sebentar lalu menatapnya curiga takut-takut kalau Baekhyun mengerjainya.

"Ini keinginan bayi kita."ucap Baekhyun. Chanyeol menghela nafas lalu bangkit.

..

.

Pukul 02.00

"Yeol..yeol.."

"Hm.."

"Irreona!"

"Wae?"

"Hm, aku ingin es krim stroberi."

"Mwo? malam-malam begini?" suara Chanyeol meninggi. Baekhyun menyipitkan pupilnya dengan bibir melengkung ke bawah dan keluarlah suara tangisannya.

"Huwee.. ini keinginan aegya kita, bukan keinginanku. Huwee.. kenapa malah membentakku?"

"Ulljima! Ulljima! Aku tak membentakmu. Ne..ne.. aku belikan sekarang." Ucap Chanyeol sambil mengelus rambut Baekhyun.

"Mianhae.. mianhae karena merepotkanmu huwee.."

"Cup..cup.. ulljima. Aku tak merasa direpotkan, sekarang juga aku akan pergi ke mini market dan membelikanmu es krim stroberi." Ucap Chanyeol lalu segera turun dari ranjangnya.

Chanyeol merasa benar-benar merasa kelelahan beberapa hari belakangan ini selalu terjaga hanya untuk memenuhi semua keinginan Baekhyun, lingkar hitam mulai terlihat di bawah matanya, wajahnya pun sangat kacau. Ia berjalan sambil menenteng tas kerja coklatnya dan berjalan menuju lift. Namun saat pintu itu akan tertutup, masuklah seseorang dan mereka sempat saling pandang. Chanyeol menarik tangan orang itu saat orang itu hendak pergi. Dan mereka berdua sempat canggung satu sama lain.

"Uhm.. hai!" sapa Chanyeol dan orang itu menoleh menatap Chanyeol lalu tersenyum.

"Yak! Kenapa kau canggung begitu?" tanya namja itu – Xi Luhan –

"Mwo? siapa yang canggung? Lagipula siapa yang ingin menghindar?" sindir Chanyeol.

"Siapa bilang aku... aigoo! Kenapa dengan wajahmu?" tanya Luhan yang baru menyadari wajah Chanyeol yang kusut.

"Ini..ini akibat Baekhyun yang ngidam. Aku benar-benar tak bisa tidur beberapa hari belakangan ini dan aku harus memenuhi semua keinginannya."

"Hahahaha... itu wajar Yeol. Jika menginjak usia 2 sampai 4 bulan memang dalam masa ngidam, dan itu harus kau penuhi."

"Ne. Kau tahu saja yang seperti itu Luhan-ah."

"Ne tentu aku tahu. Aku sempat berharap bisa mengalami seperti Baekhyun sshi."

"Jinja? Pasti jika itu menjadi nyata anak kalian akan sangat manis." Ucap Chanyeol.

"Hahaha... sebenarnya aku mengharapkan ayahnya adalah kau Yeol." Ucap Luhan dan membuat Chanyeol tertegun.

"Hahahaha... aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali?" goda Luhan sambil mencubit pipi Chanyeol dan tak lama lift terbuka.

" Aku pergi dulu Yeol." Ucap Luhan lalu menghilang di balik lift yang kembali tertutup. Luhan bersender di salah satu dinding di persimpangan koridor, ia terus menekan dadanya yang terasa sakit. Air matanya yang awalnya hanya sebuah bendungan, kita meleleh turun melewati pipinya yang putih.

"Selamat untuk kebahagianmu Yeol." Gumam Luhan sambil menengadah ke atas dengan mata tertutup. Luhan membuka matanya saat sesuatu menyapu pipinya.

"Chanyeol?" gumam Luhan pelan. Dan sosok itu tersenyum.

"Kau adalah makhluk tercantik yang diciptakan Tuhan lengkap dengan senyumanmu yang meneduhkan. Aku harap kau tidak merusak pemberian Tuhan itu dengan menangis seperti ini. Aku merasa seperti namja paling jahat di dunia yang membuat malaikat Tuhan sepertimu menangis." Ucap Chanyeol. Luhan menatap Chanyeol dengan wajah sendunya, mencari kehangatan dalam manik hitam Chanyeol.

"Mianhae.. aku sudah berusaha untuk tak bersedih dan mengikhlaskanmu tapi semua terasa makin sakit saat melihatmu. Mungkin_" Luhan menggantung ucapannya lalu melempar arah pandangnya.

"Mungkin apa?"

"Mungkin sebaiknya aku mengundurkan diri dari perusahaan ini."

"Mwo? kau gila? Lalu bagaimana dengan kelangsungan hidupmu?"

"Mungkin aku bisa mencari pekerjaan di tempat lain."

"Ani. Itu tak semudah yang kau fikirkan Hannie. Kau tahu kan diusia kita yang sekarang sulit mencari pekerjaan, apalagi pekerjaanmu sekarang sangat bagus."

"Gwencahana Yeol. Setidaknya aku tak merasakan sakit_" Chanyeol segera memeluk Luhan erat, Luhan menangis sejadi-jadinya, untung suasana di koridor sedang sepi. Luhan mendorong tubuh Chanyeol pelan.

" Sekali lagi kau mengatakan tentang pengunduran dirimu,atau jika sampai surat pengunduran dirimu ada diatas mejaku aku tak akan pernah memaafkanmu Han." Ucap Chanyeol sedikit mengancam.

"Tapi_"

"Tak ada tapi-tapian Han."

..

..

.

Baekhyun duduk disofa dengan bibir di poutkan imut. Ia benar-benar merasa bosan, jika ia masih bekerja pasti sekarang ia sedang memasak untuk para-para pelanggan, tapi sekarang ia benar-benar hampir mati kebosanan. Sejak bangun tadi, lalu mandi dan sarapan tak ada hal lain yang ia kerjakan selain menonton acara tv yang juga membosankan baginya. Oh iya jangan tanyakan mengapa Baekhyun tak bersih-bersih, Chanyeol sudah menyewa seorang maid yang akan datang pagi-pagi sekali dan akan pergi begitu tugasnya selesai. Baekhyun sudah melarang Chanyeol melakukannya, tapi alasan Chanyeol tak bisa Baekhyun pungkiri karena itu demi kebaikan Baekhyun hanya tak ingin Baekhyun merasa kelelahan. Baekhyun segera berlari ke kamarnya lalu mengambil sebuah box sedang yang ia letakan di dalam lemari. Ia ingat eomma Chanyeol pernah memberikannya kotak itu saat menjenguk Baekhyun dulu. Ia mengeluarkannya lalu meletakannya di atas tempat tidur. Ia membuka kotak itu penasaran, dan sedikit mengernyit saat yang ia lihat hanya sebuah tumpukan baju. Ia mengambil salah satu baju dan ternyata itu adalah sebuah baju ibu hamil. Baekhyun membulatkan bibirnya.

"Pantas eomma mengatakan kalau sebaiknya aku membukanya 5 bulan lagi. Ternyata ini baju hamil, aigoo! Lagipula siapa yang mau mengenakan ini?" gumamnya kesal lalu melempar baju itu sembarang ke dalam kotak dan hendak berjalan keluar. Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat pantulan dirinya di cermin, ia menghadap kesamping dan melihat perutnya yang sedikit membuncit. Ia mengangkat sedikit bajunya dan mengelus perutnya yang sudah membuncit.

"Apa ini benar-benar kenyataan? Aegya? Apa kau benar-benar ada di dalam?" ucap Baekhyun lagi walau ia tahu tak akan ada jawaban. Baekhyun melirik baju hamil itu lagi, lalu ia tersenyum jahil. Ia mengganti bajunya dengan baju hamil itu dan tertawa melihat penampilannya yang nampak konyol di cermin, ia melihat perutnya kecewa, lalu mengambil sebuah bantal dan memasukannya ke dalam, ia tersenyum melihat perutnya yang membuncit sama seperti orang hamil tua. Lalu ia manatap wajahnya dan rambutnya yang pendek,ia semakin terlihat menggelikan. Lalu ia berjalan ke arah lemarinya, mengeluarkan sebuah kotak dan mengambil sebuah wig yang dulu pernah ia gunakan untuk menghadiri sebuah pesta kostum sahabatnya. Ia mengenakannya, lalu sebuah kotak make-up yang entah untuk apa ia menyimpannnya. Ia mulai berias dan tak lama kemudian ia kembali bercermin.

"Aigoo! Apa ini benar-benar aku? Apa aku seperti ini jika menjadi seorang yoeja. Yeoppeunda." Ucapnya. Ia terus tersenyum-senyum, dan kadang tertawa konyol melihat dirinya di cermin. Dan sebuah pikiran terlintas di benaknya. Ia segera mengambil sebuah tas, memasukan ponselnya beserta dompetnya dan berjalan keluar.

..

..

..

"Huwaaa... segarnya. Seharusnya aku memikirkan hal ini sejak dulu." Ucap Baekhyun yang kini sedang berjalan-jalan di sebuah taman.

"Eomma, eonnie itu sangat cantik." Gumam seorang anak kecil dan Baekhyun senang mendengar itu. Beberapa orang terkadang melirik Baekhyun, dan tak jarang yang ingin memiliki Baekhyun jika saja ia tak sedang hamil. Baekhyun terus berjalan sampai matanya tertuju pada seorang namja yang tengah duduk di kursi taman dengan sebuah kuas di tangannya dan sebuah kanvas di hadapannya.

"Permisi." Ucap Baekhyun, dan orang itu mengernyit dan menatapnya, dengan segera Baekhyun berdehem dan merubah suaranya menjadi lebih lembut.

"Permisi boleh aku duduk disini?" tanya Baekhyun dan namja itu mengangguk.

"Gamsahamnida." Ucap Baekhyun. Ia kembali melirik namja itu dan melihat apa yang sedang di gambar orang itu. Ternyata ia sedang menggambar seseorang yang sedang duduk di bawah pohon dengan wajah tertunduk dan Baekhyun tersenyum saat menyadari jika orang itu sama dengannya sama-sama menyukai namja.

"Apa dia kekasihmu?" tanya Baekhyun, dan namja itu menoleh tak suka ke arah Baekhyun.

"Apa orang yang kau gambar itu kekasihmu?" ulang Baekhyun lagi.

"Ani." Ucap namja itu dingin.

"Oh aku tahu. Apa dia orang yang diam-diam kau sukai?" tanya Baekhyun lagi, orang itu hanya kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Aigoo! Aku benar? Ckckckck! Tak apa-apa, yang perlu kau lakukan hanya mengejarnya sampai ia jatuh ketanganmu." Ucap Baekhyun dan menepuk pundak namja itu sok akrab.

"Hal itu sudah aku lakukan beberapa tahun lalu, dan sekarang ia sudah menjadi istriku." Ucap namja itu.

"Jinja? Huwaaa... usahamu cukup keras juga. Aku yakin kau begitu mencintainya, aigoo! Betapa beruntungnya dia." Ucap Baekhyun sambil berangan-angan.

" Heuh..beruntung. Aku harap ia merasa begitu juga."

"Maksudmu?" tanya Baekhyun tak mengerti.

"Jika dia merasa menjadi orang yang beruntung karena cintaku, seharusnya ia tak berselingkuh di belakangku." Ucap namja itu lagi. Baekhyun mengerutkan dahinya, ia tak terlalu mau ikut urus campur urusan orang setidaknya itu amanat yang selalu Chanyeol ucapkan padanya.

" Oh mungkin dia tidak berselingkuh, kau harus menyelidikinya dulu."

"Percuma. Aku sudah tahu semua kebusukannya. Aku menyesal menikah dengannya." Ucap namja itu lagi.

"Kau tahu. Aku pernah mengatakan kata-kata itu pada suamiku, tapi setelahnya aku benar-benar menyesal. Tak ada yang namanya penyesalan dalam sebuah pernikahan, karena kita masih memiliki kesempatan, selama benda ini masih melingkar disini."ucap Baekhyun sambil menunjuk cincin yang melingkar di jari namja itu. Namja itu nampak melihat dengan dahi berkerut ke arah cincinnya, kemudian ia memandang Baekhyun datar.

" Oh iya sepertinya aku sudah harus pergi." Ucap Baekhyun sambil melihat jam tangannya.

"..."

"Uhm senang berkenalan denganmu..ehm.."

"Oh Sehun."

"Hah, Oh Se_ tunggu! Sepertinya aku tak asing dengan namamu." Ucap Baekhyun lagi sambil berfikir.

"Ada jutaan bahkan ribuan orang di luar sana yang memiliki nama seperti namaku." Sahut Sehun datar.

"Oh kau benar. Dan_ kalau aku boleh tahu. Kenapa kau menggambar istrimu dari sudut pandang yang jauh? Kenapa tidak fokus pada wajahnya?" tanya Baekhyun.

"Karena aku tahu selamanya aku hanya akan bisa mencintainya dari kejauhan." Ucap Sehun lagi. Baekhyun membulatkan mulutnya dengan kepala mengangguk-ngangguk seolah mengerti, padahal sesungguhnya ia masih bingung dengan ucapan Sehun.

~4 bulan kemudian~

Usia kandungan Baekhyun sudah menginjak hampir 7 bulan, dan dengan keadaan perutnya yang semakin membesar Baekhyun lebih sering untuk keluar dengan pakaian wanita. Ia hanya tak mau orang-orang menjadikannya bahan pembicaraan jika ia keluar dengan tubuh aslinya. Akhir-akhir ini Baekhyun berjalan cukup lambat, perutnya yang membesar membuatnya susah untuk melangkah, apalagi tubuhnya sedikit membesar. Terkadang ia kesal dengan keadaan ini dan selalu protes kepada Tuhan kenapa ia bisa mengalami hal aneh ini, tapi jika ia ingat yang ada di kandungannya sekarang adalah buah cintanya dengan Chanyeol maka ia akan menerimanya dengan senang hati dan menganggap itu adalah sebuah anugrah. Baekhyun menjilati es krimnya, walau tubuhnya sedikit membesar namun ia masih terlihat imut saat lidahnya dengan lihat menjilat es krim yang mulai mencair itu. Tak bisa dipungkiri diusianya yang menginjak kepala dua ini ia masih sangat memfavoritkan es krim stroberi sebagai makanan kesukaannya, dan setiap ia keluar rumah ia pasti akan membeli es krim itu untuk memenuhi keinginannya yang terpendam karena Chanyeol melarangnya makan es krim terlalu banyak.

Baekhyun mengelap bibirnya dengan tisu lalu berjalan lagi menuju trotoar, ia ingin makan sesuatu dari salah satu restourant favoritnya. Dengan wajah tersenyumnya ia mulai berjalan pelan, namun saat akan menyebrang ia menghentikan langkahnya. Ia menangkap dua buah sosok yang tak asing di matanya, Luhan dan tentu saja suaminya. Yang membuatnya kecewa adalah kedua sosok itu keluar bersamaan dari sebuah restourant dengan berdampingan dan Luhan yang tersenyum ke arah Chanyeol yang juga tersenyum.

Baekhyun membatu di tempat, hati dan matanya memberikan respon yang sama yaitu rasa yang amat panas, bahkan bulir-bulir air menggenang di kelopak matanya. Ia fikir Chanyeol benar-benar sudah mengakhiri hubungannya dengan Luhan, ia menyesal percaya pada namja jangkung itu, ia mengutuk dirinya sendiri yang dengan mudahnya mempercayai Chanyeol. Mereka berdua masuk ke dalam mobil Chanyeol dan segera melaju. Baekhyun mengeluarkan ponselnya dari dalam kantungnya lalu membaca pesan yang baru saja masuk.

From : Nae sarang Park Chanyeol pabbo

Message : Mianhae aku baru bisa membalas pesanmu Baekkie. Aku baru saja selesai meeting dengan klien. Apa kau sudah makan? Jangan lupa minum vitaminmu chagi. Saranghae.

Baekhyun menggenggam erat ponsel itu, dan tiba-tiba saja ia merasakan perutnya bergejolak keras membuatnya meringis kesakitan. Ia memegangi perutnya yang terasa sakit, mulutnya mengerang mengeluarkan sebuah rintihan kesakitan. Ia terduduk ke tanah dan saat beberapa orang mulai menghampirinya, ia memejamkan matanya dan setelahnya ia tak ingat apa-apa lagi.

TBC

Ayo-ayo mana reviewnya..

Aku harap kalian semakin penasaran dengan kelanjutan kisahnya, dan oh sekali lagi aku kasi tahu ini ff happy ending, jadi jangan khawatir ya..

Mian kalo aku updatenya lama, aku minta maaf bgt. Habisnya aku bener-bener sibuk akhir-akhir ini. Dan untuk beberapa readers yang nanya, kenapa aku selalu buat Baekhyun tersiksa disetiap fanfiction karena menurut aku kalo marriage life itu lebih bagus kalo ada salah satu yang tersakiti. Tapi tenang aku bakal buat ini happy ending.. jadi jangan lupa review ya...