Makasih review-nya, lanjut saja
.
.
.
Crown Imperial
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Main Pairing : AkaKuro/KuroAka
Genre : Romance, Action, & Supernatural
Warning : BL, malexmale, Shounen ai, Slash, AU, OC, OOC, Typo nyelip, dll.
.
.
.
Chapter One
.
.
.
Malam semakin larut. Kesunyian mulai menyelimuti tiap daerah Kyoto meski ada beberapa yang terbilang ramai. Salah satunya gedung berlantai 40 yang bertempat di pusat kota. Di halaman depan, berjajar 7 orang berpakaian tuxedo hitam, seorang dari mereka adalah butler yang berbaju sama tanpa jas. Para pria tersebut sedang menunggu sosok penting yang merupakan majikan utama mereka. Yaitu Kepala keluarga konglomerat kaya Akashi.
Tak lama kemudian, 4 mobil hitam mengkilap muncul dari gerbang utama gedung itu. Mobil-mobil mahal yang dikenal mercedes benz buatan Jerman ini, memasuki pekarangan gedung yang berhias hamparan salju. Begitu kendaraan-kendaraan itu berhenti di depan mereka, dari satu mobilnya keluarlah dua pria bodyguard dari kursi depan. Dua orang berbaju hitamitu beralih membuka pintu penumpang belakang untuk jalan keluar sang Tuan Besar. Diikuti para bodyguard lain yang juga turun dari mobil berbeda.
Seorang pria jangkung berbadan kekar, berumur sekitar 40 tahunan muncul dari dalamnya. Memiliki rambut merah dan sepasang mata heterokromatik, Deep Scarlet dan Glod. Wajah sangarnya bergurat keriput halus, namun tidak mengurangi ketampanan dan kegagahannya. Pria berbalut mantel kulit serta celana hitam tersebut membenahi syal putih yang melingkari lehernya. Akashi Yoshinori.
"Selamat datang, Yoshinori-sama," salam ketujuh pria yang serentak membungkukkan dadanya.
"Hn, langsung saja, bagaimana anak itu?" balas Yoshino to the point. Matanya menatap anak buahnya datar.
Para lelaki di hadapannya berkeringat dingin. Mereka menegakkan badan bersamaan dengan ekspresi wajah yang gelisah. Yoshinori menaikkan sebelah alisnya heran.
"Ka—kami telah menjalankan perintah Yoshinori-sama. Sesuai keinginan Tuan, yaitu membunuh Seijuurou dengan menjatuhkannya dari lantai teratas gedung ini," gagap salah seorang di antara mereka. Jujur dia sangat ketakutan sekarang. "Namun, selanjutnya yang terjadi sangat di luar perkiraan kami."
Yoshinori mengerutkan dahi samar. "Apa maksudmu?"
"Ka—kami tidak menemukan jasad Seijuurou sama sekali di—lantai bawah dimana dia harusnya jatuh mati."
Hening merambati sekeliling mereka sejenak setelah pengakuan tadi terucap. Membuat suasana menjadi tegang.
"Jadi kalian gagal begitu?" suara berat Akashi senior itu mengalun rendah. Sorot mata tajamnya menggelap murka.
"MOHON MAAFKAN KAMI!" 7 orang itu lantas berjusud minta ampun.
Mereka tahu bagaimana para Akashi bila naik pitam. Darah yang mengalir di keluarga berderajat tinggi itu, memiliki sifat kejam, sadis, dan brutal. Tidak segan-segan untuk membunuh atau mencincang habis orang-orang yang membangkang perintahnya. Tidak peduli berasal dari kerabat atau teman dekatnya sendiri. Selama tujuan para Akashi tercapai, mereka akan melakukan apapun. Mereka tidak membutuhkan orang tak berguna.
"Seijuurou memang terjun ke bawah tempat kolam renang berada setelah kami menjatuhkannya. Tapi—ada sesuatu yang aneh terjadi saat itu. Air kolam tiba-tiba bergelombang hebat. Lalu, menjadi pilar air dan hancur begitu Sejuurou terjebur ke dalamnya," terang pria tadi panjang lebar. "Setengah jam kemudian kami turun memeriksa, tapi kami tidak mendapatkan mayat Seijuurou di sana!"
Yoshinori berdecih pelan mendengarkan penjelasan barusan. Matanya menyipit. Ada yang ganjil dari laporan mereka. Kalau dugaannya benar berarti, ada orang asing yang menyelamatkan anak terkutuk itu.
"Mohon ampuni kami Yoshinori-sama," pinta 7 pria yang masih setia bersujud di atas tanah.
"Kalian tahu aku tidak akan pernah menoleransi kegagalan," tutur rendah sang kepala keluarga Akashi. "kegagalan adalah buah dari hasil orang tak berguna," kedua iris beda warnanya menyala angkuh. Aura gelap penuh amarah menguar dari tubuhnya. "Hukuman apa yang cocok untuk kalian, hmm?"
Para lelaki di depan Yoshinori merinding. Badan mereka bergetar ngeri. Bodyguard-bodyguard yang berdiri di belakang pria merah itu, mulai mengeluarkan pistol dari balik jas mereka. Mengarahkan moncongnya ke masing-masing kepala tujuh orang tersebut.
Yoshinori menarik seringaian bengis di bibirnya. "Hukuman mati."
DDOOORRR!
Suara tembakan beruntun menggema dalam lingkungan gedung. Mewarnai keheningan di sekitarnya malam itu. Darah dari para korban penembakan membanjiri permukaan paving berlapis salju. Tubuh-tubuh mereka tergeletak mati tak terhormat.
Yoshinori mendengus. Dia berbalik, melangkah menuju mobilnya kembali. "Ayo kembali, aku muak melihat mayat tikus-tikus got itu. Hubungi seseorang untuk membersihkan mereka."
"Baik," Bodyguard-bodyguard-nya menyusulnya dari belakang.
"Aa, dan juga—" tambah Yoshinori menoleh sedikit untuk melihat empat belas anak buah setianya. "Cari tahu dimana anak setan itu berada, lalu buru dan habisi dia."
"Siap, laksanakan," jawab para bodyguard sambil merendahkan badan bersamaan.
.
.
.
.
.
Salju mulai turun memperelok tanah Kyoto tengah malam ini. Butiran putih dari langit kelabu itu, menghujani salah satu daerahnya dimana telah sepi tanpa satu mahkluk pun yang lewat. Sebuah komplek perumahan modern elit di pinggiran kota.
Di jalan utama, terlihat pemuda bersurai bluenette lari tergesa. Pakaiannya basah kuyub, begitu pula sekujur tubuhnya. Nafasnya tersegal tapi dia tidak kelelahan. Hawa dingin yang berhembus sama sekali tidak mempengaruhi dirinya yang terus berpacu. Kedua tangannya menggendong seorang anak yang sama keadaannya sepertinya. Bedanya anak lelaki berambut crimson itu tidak sadarkan diri. Karena kondisi inilah, remaja bernama Tetsuya ini bergegas menuju rumah sahabatnya.
Melewati belokan gang terakhir di ujung jalan perumahan, mata Aqumarine Tetsuya menangkap rumah mungil berlantai dua yang berdiri menyendiri di sana. Rumah minimalis bercat putih dengan polesan hitam di beberapa sudutnya. Dikelilingi tanaman hijau berupa semak tertata rapi dan sebatang pohon besar tiap sisinya. Salju nampak menghiasi spot-nya. Pagarnya terbuat dari besi hitam bersulur tumbuhan rambat. Tempat tinggal kawannya itu nampak nyaman dan terawat.
Namun, bukan saatnya sekarang mengagumi keindahannya. Lelaki berkepala biru langit itu membuka pagarnya kasar, langsung meraih tombol bel di pintu masuk bangunan tersebut dan membunyikannya kurang sabar.
"Kagami-kun! Himuro-kun!" panggil Tetsuya pada pemilik rumah sekeras mungkin. Setiap harinya dia selalu memakai suara kecil, jadi berteriak bukan kebiasaannya. "Buka pintunya!"
Beberapa pekikkan setelahnya, barulah daun pintu dibukakan oleh seorang pemuda berambut raven dengan poni panjang yang menyamping di sisi wajahnya. Remaja bertubuh tinggi itu mengejapkan manik Onyx kelamnya terkejut, begitu mendapati kawannya berbasah-basahan. "Kuroko!"
Tanpa menyahuti penggilannya, Tetsuya menyelonong masuk ke dalam.
"Hei!" lelaki itu kaget dengan tindakan Tetsuya. Dia melihat sahabatnya terburu melepas sepatu kets putihnya, kemudian bergerak melintasi lorong menuju kamar mandi yang telah diketahui letaknya. Tetsuya selalu berkunjung serta menginap di rumah milik dua sahabatnya ini. Makanya tempat ini seperti rumah kedua baginya.
"Kuroko!" lelaki berambut gradasi merah hitam jabrik, beralis cabang, serta berbadan kekar yang baru turun dari tangga sisi lorong, kaget melihat Tetsuya melewatinya. Mata Ruby-nya mengekori ramaja bluenette dan anak merah itu pergi. "Ada apa? Apa yang terjadi Tatsuya?" tanyanya heran saat pemuda yang dimaksud.
Himuro mendekat setelah menutup pintu depan. Dia mengedikan bahu tidak tahu. "Entah."
"Lalu, siapa anak kecil yang dibawa Kuroko?" lanjut pemuda merah jabrik alias Kagami seraya menautkan kedua alis uniknya tajam. Dia merasa asing pada sosok mungil tadi.
"Lebih baik sekarang kita bantu dia dulu," kata si raven yang ber-sweater putih selengan siku dan celana coklat gelap. Dia mulai berjalan menjauhinya.
"Sebenarnya ada apa sih?" gumam Kagami menggaruk belakang kepalanya kesal. Kakinya melangkah mengekori kakak angkatnya. "Tidak seperti Kuroko biasanya."
"Hei, Kuroko!" Himuro membuka pintu kamar mandi dan masuk untuk memeriksa keadaan kawannya.
"Himuro-kun, segera siapkan handuk kering dan baju ganti," perintah halus Tetsuya bernada tenang tanpa menoleh pada Himuro. Dia berdiri di sisi bathtub yang terisi air panas. Tangannya sibuk bekerja memandikan tubuh telanjang Seijuurou yang telah terendam sepenuhnya di dalamnya. Pakaian anak itu sudah teronggok di keranjang rotan luar ruangan.
Lelaki pemilik tahi lalat di bawah mata kanannya itu mengerutkan dahi. "Siapa anak manusia itu?"
"Nanti kujelaskan, sekarang bantu aku dulu," tegas Tetsuya menatap Himuro tajam. Walau raut mukanya tetap datar seperti biasanya.
Mendesah, Himuro tidak punya pilihan selain menurutinya. Dia berbalik keluar menuju kamar yang kerap dipakai Tetsuya menginap dan mengambil benda yang dibutuhkan. Sementara Kagami yang baru sampai, juga masuk ke dalam melihat temannya.
"Manusia?" Kagami mengerjap menyadari siapa yang dibawa Tetsuya. "Kuroko, kenapa kau basah kuyub? Lalu kenapa kau membawa bocah manusia itu kemari?" dia berjalan mendekati bathtub, meneliti anak berusia 10 tahunan itu seksama.
"Nanti kujelaskan Kagami-kun, sekarang yang terpenting mengurus anak ini. Dia demam," sanggah sang pemilik marga Kuroko ketika merasakan panas mulai menjalar di tubuh mungil Seijuurou. Dia bergegas menyudahi acarannya dan mengangkat anak pingsan itu dari bathtub.
"Eeh? Tapi aku tidak tahu cara mengurus manusia," kejut Kagami.
"Aku yang akan mengurusnya, kau hanya perlu menyiapkan apa yang aku perlukan," tekan pemuda bermanik nila itu.
Lelaki besar berkaus oranye dan jeans ¾ hitam itu menghela nafas. "Baiklah. Besok pagi kita panggil Riko-san agar anak itu diperiksa lebih lanjut," katanya mengambil alih Seijuurou dari gendongan Tetsuya. "Kau juga mandilah, setelah itu jelaskan semuanya pada kami," ujarnya sebelum keluar dari ruang itu.
Tetsuya hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Setibanya di kamar tempat Tetsuya menginap, Kagami membaringkan Seijuurou dalam ranjang berukuran Queen size. Himuro yang sudah menyiapkan handuk, mulai mengeringkan rambut dan kulit anak itu.
"Badannya panas, dia demam tinggi," ucap Himuro ketika mengusap lembut kening Seijuurou. Wajahnya pucat memerah. Kedua alisnya menaut kesakitan disertai nafas yang menderu keras. Badannya bergetar pelan.
"Ck, apa yang harus kita lakukan?" Kagami mendecak. Selama hidup, dia tidak pernah berinteraksi sedekat ini pada manusia. Apalagi merawatnya.
"Siapkan baskom berisi air dingin dan es batu, juga handuk kecil untuk mengompres."
Kagami dan Himuro menoleh ke arah pintu. Tetsuya baru saja selesai membersihkan diri. Bajunya sudah berganti kaus biru dan celana pendek putih. Kain handuk menggantung di leher melewati kedua bahunya.
"Biar aku yang melanjutkan sisanya," lanjut pemuda bersurai langit itu.
Kagami mengangguk enggan. Dia berjalan keluar melaksanakan perintahnya.
Himuro usai memakaikan piyama milik Tetsuya yang kedodoran pada Seijuurou. Dia menyelimuti anak itu sebatas dada. "Kuroko, dari mana saja kau sampai selarut ini?" tanyanya.
Tetsuya duduk di tepian ranjang. Memperhatikan lelaki kecil yang ditolongnya. "Berburu," jawabnya singkat.
"Kau lapar? Kapan terakhir kali kau makan?" interogasi si remaja raven.
"Seminggu lalu."
"Selama itu?" Himuro mendelik. "Kau ini, kenapa tidak segera mengisi perutmu, huh? Walau kita Swart Elfs, kita bisa mati kelaparan," desaknya.
Tetsuya memalingkan wajah memandangnya. "Aku tahu. Tapi kau juga tahu bagaimana seleraku. Jika aku tidak mendapatkan makanan yang bisa membuatku puas dan nikmat, aku tidak akan pernah kenyang," ujarnya datar.
"Tapi jika terlalu lama, tubuhmu akan melemah," timpal Himuro.
"Kau terlalu khawatir Himuro-kun," iris Tetsuya menatapnya tajam. "Apa kau lupa siapa aku?"
Lelaki jangkung itu mengatupkan bibirnya rapat. Kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Bagus. Sekarang jangan membahas itu lagi," remaja bluenette itu menambahi. "Aku bisa mengatasi rasa laparku sendiri, lagipula aku sudah menemukan mangsa yang sesuai cita rasaku," kembali berpindah menatap Seijuurou. Jemari rampingnya menyentuh pipi halus Akashi cilik yang merona.
Himuro tertegun melihat kelakuannya. "Jangan-jangan—"
"Ya," bibir Tetsuya menyinggungkan seringai kecil. "Aroma energi milik anak ini sangat menggoda nafsu makanku."
.
.
.
.
.
Swart Elfs adalah mahluk yang lahir dari kegelapan. Para Swart Elfs semula merupakan manusia. Namun karena perbuatan dosa besar yang mereka lakukan di masa kehidupannya dulu, mereka dihukum oleh sang Kuasa. Mereka menjadi mahkluk terkutuk. Tidak menua dan tidak bisa merasakan sakit. Umur mereka bisa mencapai ratusan tahun. Dianugerahi kekuatan supernatural untuk mengendalikan elemen alam. Dengan makanan mereka yaitu energi manusia.
Mereka mengisap energi dari tubuh manusia untuk memenuhi rasa laparnya. Setiap tegukannya, dapat membuat ketahanan tubuh mereka berlipat ganda. Inilah yang menjadikan para Swart Elfs rakus memangsa manusia. Karena mereka sangat haus akan kekuasaan energi dan kekuatan alam.
Populasi Swart Elfs tidak lebih dari 100 orang, dan mereka tinggal berpencar ke berbagai belahan bumi. Di Jepang juga hanya tinggal beberapa. Mereka melanjutkan keturunannya dengan merubah manusia yang juga melakukan dosa besar sepertinya.
.
Tetsuya mengingat memory kehidupannya di masa lalu sekilas. Saat dirinya masih seorang manusia sampai berubah menjadi mahkluk kegelapan bernama Swart Elfs. Sejauh ini, hanya kekosongan yang menemani hidupnya. Selain memuaskan nafsu laparnya—yang agak berbeda dari kaum sebangsanya— dia tidak punya keinginan tertentu. Baginya semua abu-abu.
Tapi sekarang, di usianya yang ke-123 tahun, Tetsuya menemukan suatu hal menarik. Seorang manusia cilik yang mampu mengikatnya dalam sekali pandang. Mata merah delima yang mempesona, aura yang berbeda, aroma energi tubuh yang harum dan lezat, bersatu dalam sosok mungil lelaki bersurai crimson. Membuat pemuda bermanik nila itu tidak sanggup terlepas dari kepukauannya.
Penyandang marga Kuroko mengusap lembut helaian merah api milik Seijuurou. Kondisi anak 10 tahunan itu sudah lumayan membaik. Kulit wajahnya tidak semerah waktu awal tadi. Nafasnya juga berhembus teratur. Ekspresi tidurnya pun tenang dan damai. Tetsuya tersenyum kecil menatap bangga pada hasil kerjanya merawat manusia mungil itu.
"Apa perlu kuganti airnya?" tanya Kagami yang duduk di lantai, samping ranjang tempat Tetsuya dan Seijuurou berada.
"Tidak usah, biarkan saja untuk saat ini," elak Tetsuya.
"Jadi, dari ceritamu tadi, kau tertarik pada anak ini?" simpul Himuro yang duduk disebelah Kagami setelah mereka mendengar penjelasan insiden Tetsuya-Seijuurou beberapa menit lalu.
Lelaki bermuka datar yang dimaksud, menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Haah, ini tidak seperti kau yang biasanya, Kuroko," dengus pemuda merah jabrik. "Kau yang kukenal pasti tidak akan peduli dengan nasib manusia manapun."
"Kau menganggap aku berubah ya, Kagami-kun?" Tetsuya tersenyum.
Mata Kagami memancar galak. "Terserah, Aku tidak tahu apa yang kau lihat dari bocah cilik ini. Tapi keputusanmu yang mau bersamanya sementara waktu, aku tidak akan melarang."
"Langian umur manusia tidaklah panjang, dan dia bisa menghilang kapan saja," tambahnya mengganti sorot mata redup.
Tatapan Himuro menyendu. Dia mengelus hangat lengan kiri adik angkatnya berupaya menenangkan. Kenangan pahit masa lalu mereka tidak akan pernah terhapus oleh waktu. Sepanjang apapun itu akan selalu teringat.
"Aku mengerti, Kagami-kun," lirih Tetsuya memfokuskan diri kembali pada Seijuurou. "Tapi, aku juga ingin sekali lagi merasakan bagaimana kehidupan manusia kembali," iris Aqumarine-nya melayu.
"—Dengan memiliki seseorang yang ingin kulindungi."
.
.
.
.
.
Fajar telah menyingsing. Tapi matahari belum menampakkan bentuknya. Langit kelabu berhias gurat ungu muncul menggantikan malam. Salju pun sudah berhenti turun.
Sebuah mansion megah yang berlokasi di pinggiran barat kota Tokyo tersiram oleh cahaya kecilnya. Pekarangan bangunan bergaya semi-eropa itu, tertutup oleh salju. Tapi tidak mengurai kecantikan taman yang berhiaskan tumbuhan-tumbuhan hijau bermacam jenis. Tertata rapi hingga tampak asri. Paviliun kecil ikut mengisi di tepiannya. Mengimbuhkan keelokan tersendiri.
Di depan pintu masuk utama yang terbuka lebar, berdiri dua anak berumur 11 tahunan. Salah seorang darinya berambut navy blue dan beriris mata Deep Shappire. Kulit tan gelapnya terbalut kemeja hitam semi formal dan celana kain senada. Sebelah tangannya menggandeng jemari sahabatnya yang berfisik sedikit kecil darinya. Dia berambut pirang lurus, bermata Topaz, dan berkulit putih. Mimik wajah mereka berdua, sama-sama menunjukkan rasa cemas dan khawatir.
"Aominecchi," panggil si pirang yang memakai kaus kerah putih, dilapisi rompi coklat, dan celana sewarna. Kise Ryouta."Mengapa Akashicchi belum pulang-ssu?" tanyanya menatap anak di sampingnya resah.
"Aku tidak tahu, Kise," balas Aomine Daiki. "Dia tidak pernah pergi tanpa kabar selama ini," matanya yang agak memerah, menyipit kesal. Tanda jika tidak tidur semalaman.
"Aku khawatir-ssu, semoga saja tidak terjadi apa-apa," Kise mengeratkan genggamannya di tangan kiri Aomine.
"Dia hanya bertemu Tuan Besar, jadi pasti baik-baik saja," yakin Aomine meski hatinya ragu. "Ayo, kita masuk. Kita tunggu di dalam," ajaknya mulai melangkah masuk mansion.
Kise mengangguk menuruti.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Lanjutannya ini moga-moga tidak mengecewakan kalian...
Penggambaran Yoshinori itu kayak Asami Ryuichi, karakter ciptaan Yamano Ayano di manga Finder. Tapi mukanya agak tua dikit. Hehe...
REVIEEEWWW! ×υ×
