Makasih review-nya, lanjut saja
.
.
.
Crown Imperial
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Main Pairing : AkaKuro/KuroAka
Genre : Romance, Action, & Supernatural
Warning : BL, malexmale, Shounen ai, Slash, AU, OC, OOC, Typo nyelip, dll.
.
.
.
Chapter Two
.
.
.
.
.
Matahari terbit dari ufuk timur. Langit kelabu mulai diterangi cahaya kuning tipis disertai awan-awan yang berarak menemaninya. Udara dingin di awal bulan Desember ini serasa beku. Namun ada setitik kehangatan yang hadir dari cuaca pagi ini. Salju pun nampaknya tidak akan turun dalam waktu dekat. Maka, tidak perlu terburu-buru melakukan aktivitas pagi.
Sebuah rumah yang berdiri di ujung daerah perumahan elit pinggiran kota Kyoto, terlihat cantik disinari mentari. Rumah minimalis berlantai dua yang mempunyai taman hijau asri itu, ditinggali tiga orang yang sejatinya bukan manusia. Tapi kali ini, ketambahan satu orang lagi. Sesosok manusia cilik yang berusia 10 tahunan.
Anak bersurai merah api bernama Akashi Seijuurou itu, tertidur di salah satu ruangnya yang merupakan kamar Tetsuya. Terbaring di atas ranjang dengan balutan selimut hangat. Demam yang menyerangnya semalam agaknya telah turun. Terbukti dari mimik muka imutnya yang kembali bersemu normal.
Seijuurou menggeliat kala berkas matahari yang masuk dari jendela kamar menimpa wajahnya. Kelopak putihnya terbuka lamat-lamat, menampilkan sepasang iris Deep Scarlet yang menyala indah. Begitu tersadar sepenuhnya, manik merah delimanya membulat seketika. Di sebelahnya terlelap pemuda bluenette. Wajah manis tapi dewasa milik remaja itu hanya berjarak beberapa centi dari mukanya. Nafasnya terhembus pelan. Sebelah lengannya memeluk pinggangnya rapat. Membuat Seijuurou kembali mengerjap keheranan dengan posisi mereka.
Tetapi, anak berambut crimson ini tidak sanggup memungkiri. Kehangatan dan wangi vanilla yang menguar lembut dari tubuh lelaki itu, membuatnya nyaman dan terbuai. Rasa yang hampir mirip seperti mediang sang ibu ketika memeluknya dulu, rasa yang dia rindukan.
Aah, ya Seijuurou ingat, orang ini adalah sosok yang ditemuinya ketika terjatuh dari lantai atas gedung akibat didorong para pengawal brengsek itu. Pemuda aneh yang dengan tenangnya duduk di pagar beranda lantai tengah bangunan. Juga ikut terjun serta menyelamatkannya yang hampir tenggelam. Rupanya dia berhasil. Sungguh salah besar Seijuurou meremehkannya waktu itu. Walau dirinya enggan mengakuinya.
Merona tipis, mata Seijuurou beralih memutar pandangannya ke sekeliling ruangan. Asing. Dia tidak kenal tempatnya berada sekarang ini.
"…Dimana ini?" lirihnya.
"Kau berada di rumah sahabatku."
Suara jawaban itu, menyentakkan Seijuurou hingga dia menoleh kembali pada remaja yang ternyata sudah membuka matanya. Lebih tepatnya lelaki itu tidak tidur, tapi terjaga semalaman. Manik biru Aquamarine Tetsuya, menatapnya intens di atas topeng datar yang terpasang otomatis di wajahnya.
"Kau sudah bangun, bagaimana keadaanmu?" tanya Tetsuya seraya meraba kening anak yang masih direngkuhnya untuk memeriksa suhunya.
"Hng?" Seijuurou menaikkan segaris alisnya tidak mengerti.
"Kau demam semalam," jelas Tetsuya.
"...Aku merasa baik," balas si Akashi cilik.
"Sepertinya begitu," Tetsuya melepas pelukan mereka dan menyikap selimutnya untuk bangun. "Tapi kau masih harus istirahat, tubuhmu itu rentan."
Seijuurou meringsut duduk menatapnya tajam. "Aku tidak selemah yang kau pikirkan," sahutnya tidak terima. "—lagipula tidak baik kau mengejek orang yang tidak kau kenal, mahkluk asing."
Gerakan pemuda bersurai langit terhenti saat telinganya menangkap apa yang diucapkan anak itu. Dia sangat yakin, dua kata tersebut ditujukan padanya.
Tetsuya yang semula berniat turun dari ranjang, menengokkan kepalanya ke arah Seijuurou. Mereka sama-sama bermuka datar tanpa ekspresi. Dua pasang mata berbeda warnanya saling menatap dalam, menyelami satu sama lain.
"Kau tahu jati diriku, eh?" Tetsuya mengulas senyum jenaka.
"Kau bukan manusia, 'kan?" ungkap Seijuurou selidik. "Manusia tidak akan mungkin selamat saat jatuh dari ketinggian gedung itu. Kecuali dia adalah mahkluk asing yang memiliki kekuatan aneh," lanjutnya.
Keheningan merambati mereka berdua. Seijuurou masih setia mengamati Tetsuya lekat. Matanya mampu mengetahui identitas lelaki itu yang sebenarnya. Ingat, dia diberi anugrah untuk bisa melihat segalanya, termasuk kebohongan, kebenaran, masa lalu, dan masa depan. Inilah yang membuatnya disebut sebagai anak terkutuk. Karena Seijuurou dilahirkan dengan memiliki kemampuan lebih dari manusia biasa.
"Kau anak aneh."
Anak cilik itu mendelik bingung.
"Kalau kau tahu siapa aku, kenapa kau tidak takut padaku?" tambah Tetsuya dengan sorot mata dingin. Pertanyaan itu wajar diajukan, karena manusia manapun pasti akan ketakutan jika bertemu mahkluk mencurigakan yang bukan sebangsanya. Apalagi bila dia berada tepat di depan matamu. Tetsuya penasaran, bagaimana anak ini bisa tahu siapa dirinya?
"…Karena kau sudah menolongku," jawab Seijuurou bernada polos khas anak kecil. "Dan lagi wajahmu tidak menakutkan sama sekali bagiku," tangan mungilnya menyentuh pipi pucat Tetsuya lembut.
Tetsuya membulatkan bola matanya tercengang. Ingin sekali dia tertawa mendapat jawaban innocent barusan. Tapi urung karena kelihatannya bocah itu serius.
Sesaat, Tetsuya bisa merasakan kehangatan mengalir dari telapak halus Seijuurou ke kulit mukanya. Rasanya menenangkan. Juga aroma energi anak itu. Harumnya sangat mengusik indra penciumannya. Sungguh, dia lapar sekali.
Menahan nafsunya yang mau menerjang Seijuurou detik itu juga, Tetsuya lantas berdiri dan berjalan cepat menuju pintu kamar. Seijuurou terkejut kecil pada tingkahnya tiba-tiba. "Aku akan siapkan sarapan untukmu," katanya sebelum pergi keluar ruangan.
Akashi cilik terdiam melihat daun kayu –tempat Tetsuya menghilang tadi— yang telah tertutup rapat. Mendesah pelan, Seijuurou beralih menilik jendela kamar. Dia beranjak dari kasur, mulai menjejakkan kakinya di lantai yang dingin. Seijuurou melangkah hati-hati agar tidak terserimpet celana piyama yang kebesaran dipakainya. Tangannya menggeser bingkai kaca, membiarkan udara sejuk pagi memasuki ruangan.
Sejenak, sang Tuan Muda menarik nafas lega. Nampaknya dia masih diberi kesempatan hidup. Seijuurou menerawang berpikir. Kenapa Yoshinori membenci keberadaannya? Mengapa Otou-sama-nya menginginkannya mati? Apa salahnya? Apakah dosa bila dia terlahir mempunyai indra keenam?
'Apakah Seiji-nii hanya dianggap anak satu-satunya bagi Otou-sama? Dan aku hanyalah penganggu untuknya?'
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di benak Seijuurou. Namun dia tidak bisa menemukan jawaban yang pasti. Sesak, perih, dan amarah menjalar memenuhi dadanya. Memaksanya harus mengambil sebuah keputusan. Tak ada cara selain dia melawan sang ayah. Selama masih hidup, orang tua itu pasti memburunya untuk membunuhnya. Maka, dia akan mengikuti permainan yang pria itu rancang dengan taruhan nyawa lalu memenangkannya.
Mata Seijuurou berkilat membara. Tangannya mengepal erat. Apapun akan dia lakukan untuk mengetahui kebenarannya.
.
.
.
.
.
Pemuda bersurai biru cerah itu melintasi lorong menuju ruang keluarga. Sesampainya di sana, Tetsuya menjumpai lelaki kekar berambut gradasi merah hitam jabrik. Remaja berkaus hitam dan celana loreng model tentara ini sedang terlentang di atas sofa panjang depan televisi. Kagami membaca majalah olahraga sambil tiduran santai berbantal lengan kursi.
"Kebiasaan burukmu saat membaca tidak berubah ya Kagami-kun, kau bisa sakit mata nanti," ledek Tetsuya seraya berjalan mendekatinya.
Kagami terlonjak kaget. Langsung bangkit dan berbalik menatap Tetsuya tajam. "HUWAA, KUROKO! Bisakah kau tidak muncul mendadak begitu?! Kaget tahu!" pekiknya menatap kawannya nyalang.
"Kau masih belum terbiasa dengan misdirection-ku, Kagami-kun?" tanya penyandang marga Kuroko serambi berkacak sebelah pinggang. Sejak awal dirinya memang mempunyai hawa keberadaannya yang tipis.
"Haah, mana mungkin terbiasa kalau kau suka datang dan pergi begitu saja," runtuk Kagami menyisir rambutnya ke belakang kasar.
"Para Swart Elfs memiliki ketajaman indra tiga kali lebih kuat dari manusia biasa. Kenapa kau masih belum mahir menyadariku? Kita sudah bersama lebih dari 20 tahun."
"Indraku hanya tidak berguna menghadapi hawa tipismu itu, Kuroko."
"Hahh, berarti kau bodoh, Bakagami."
Kerutan jengkel muncul indah di pelipis Kagami. "Apa kau bilang?!"
Tetsuya hanya balas memandangnya datar. Membuat si pemilik alis unik itu menghela nafas. Kagami membenarkan posisi duduknya. "Jadi, manusia cilik itu sudah sadar, huh?"
"Hn, baru saja," angguk Tetsuya. "Sekarang aku mau keluar beli makanan untuknya."
"Tidak usah, titip Riko-san saja untuk membelikannya saat perjalanan kemari, aku akan menelponnya sekarang," pemuda bermuka sangar itu mengeluarkan handphone miliknya dari saku celana.
"Dimana Himuro-kun?" Tetsuya celingukan keluar ruangan.
"Tatsuya pergi bekerja hari ini, mungkin akan pulang sore," jawab Kagami yang menekan tombol telepon.
Tetsuya bergumam. Himuro Tatsuya memang berprofesi sebagai pattisier di sebuah bakery pusat kota. Dia melakukannya agar bisa berbaur dengan manusia, juga menghindarkan para tetangga dari kecurigaaan tentang identitas mereka bertiga yang merupakan Swart Elfs. Lagipula mereka butuh uang untuk membeli segala kebutuhannya.
"Ohayou Riko-san, ini Kagami," salam Kagami membuka percakapan setelah hubungan teleponnya tersambung.
"Ohayou, Kagami-kun. Ada apa kau menelponku?" sapa balik suara wanita dari seberang sana ramah.
"Yah, aku memerlukan bantuanmu, bisa kau kemari sekarang?"
"Bantuan? Masalah apa lagi yang kalian perbuat, huh?" nada sang penerima yang dipanggil Riko, langsung berubah judes.
"Kau berkata seolah kami selalu bikin masalah," dengus Kagami.
"Ck, memang benar 'kan?" Riko mendecak. "Buat apa kau menghubungiku jika tidak untuk membantu menyelesaikan masalah kalian?"
Tetsuya tersenyum tipis, geli mendengar isi pembicaraan mereka.
"Baiklah-baiklah, tapi kali ini Kuroko yang buat masalah," sungut Kagami melototi Tetsuya galak. Sementara remaja bluenette hanya merespon hambar.
Riko mengerjap. "Kuroko-kun? Tumben, biasanya dia tenang-tenang saja?"
Kembali pelipis Kagami mengkerut kesal. Secara tidak langsung, Riko berkata kalau dirinya atau Himuro yang suka bermasalah. "Kuroko membawa anak manusia ke rumah kami. Bocah itu sedang sakit. Kami butuh bantuanmu untuk memeriksanya."
"Hah?!" Riko terkejut. "Tu-tunggu! Apa maksud—"
"Nanti kami jelaskan setelah kau datang kemari," potong lelaki bernama kecil Taiga. "Tolong belikan makanan untuk sarapan anak itu juga."
"Hhh, baiklah, aku akan sampai 15 menit lagi."
"Hn, Arigato Riko-san," kata Kagami mengakhiri obrolan. Dia menutup hubungan begitu Riko memutus sambungannya.
"Jadi…" Tetsuya meminta keterangan.
"Dia akan datang 15 menit lagi," jelas Kagami meletakkan handphone-nya di atas meja hadapannya.
Lelaki yang lebih pendek dari Kagami mengangguk paham. Namun, gerakan kepala Tetsuya berhenti saat cuping hidungnya membaui sesuatu. Aroma anyir samar yang khas. Darah. Sontak, Tetsuya melesat cepat keluar ruangan. Pergi ke tempat dimana bau itu bersumber.
"Ooi! Kurokoo!" Kagami terkejut, dia segera bertindak mengikuti sahabatnya yang bersikap aneh. "Ada apa?!" teriaknya melihat Tetsuya berlari kencang ke kamarnya.
Tetsuya mengabaikan pertanyaannya. Dia terus melaju tanpa menoleh hingga tiba di depan pintu kamarnya. Tidak membuang waktu, langsung saja pintu didrobrak masuk. Menemukan Seijuurou yang melebarkan mata tercengang. Tetsuya melangkah mendekatinya dan menarik pergelangan tangan kanan bocah itu. Kepalan jemari Seijuurou terbuka berlahan, memperlihatkan darah yang mengalir dari kulit yang terluka. Bekas akibat tancapan kuku-kukunya sendiri.
"Kau melukai telapak tanganmu," gumam Tetsuya menatap anak merah itu tajam.
Seijuurou mengedip tanya. "Bagaimana kau tahu?"
"Bau darahmu tercium jelas," Tetsuya menggiring Seijuurou duduk di tepian ranjang. "Tunggu di sini," titahnya sebelum berbalik keluar.
Kagami muncul setelahnya. "Bau darah?" dia melirik Seijuuro dari luar kamar. "Ooi Kuroko, kenapa dia?" tengoknya pada Tetsuya.
"Dia terluka kecil," kata Tetsuya membawa handuk kecil yang sudah dibasahi air dari kamar mandi.
"Ck, merepotkan saja," decih Kagami singkat.
Tetsuya kembali ke hadapan Seijuurou. Ikut duduk di sebelah Akashi cilik itu dan membersihkan lukanya. Sementara Kagami hanya bersandar di ambang pintu memandang keduanya. Seijuurou memperhatikan tangan Tetsuya yang mengusap lukanya telaten. Tidak terasa perih.
"Namamu?"
Tetsuya mendongak sedikit. Menatapnya datar dengan binar tanya dalam iris Aqumarine-nya.
"Aku Akashi Seijuurou," mata delima Seijuurou balas menaut dalam. "Siapa namamu?"
Tetsuya terdiam sejenak. "…Kuroko Tetsuya."
Seijuurou tersenyum tipis. "Nama yang bagus. Terima kasih sudah menyelamatkanku, Tetsuya."
"Tidak sopan memanggil nama kecil orang yang lebih tua darimu, Akashi-kun," tegur pemuda bluenette.
"Tapi aku suka memanggilmu begitu," sanggah Seijuurou memiringkan kepalanya sedikit.
"Tetap tidak boleh," Tetsuya selesai melakukan pekerjaannya.
Seijuurou menyeringai kecil. "Kupikir, mahkluk seperti kalian tidak punya etika. Rupanya aku salah."
"Kalau tidak punya, bagaimana kami bisa hidup diantara manusia?" cibir Tetsuya.
"Mengabaikan keberadaan mereka, mungkin?"
"Kami memang acuh pada hidup manusia, tapi tidak mengabaikan keberadaan mereka."
Kagami mengerutkan alis bingung. Sejak kapan Tetsuya bisa seakrab ini pada manusia? Terlebih anak kecil. Apa karena ketertarikannya pada energi bocah itu? Segitu enakkah aromanya? Tapi, kenapa dia dan Himuro tidak merasakan baunya? Dan lagi, dari isi percakapan mereka, ia bisa mengerti maksudnya.
Kagami mendekati Tetsuya. "Kuroko, bocah ini tahu jati diri kita?" tanyanya ragu.
Seijuurou menatapnya sengit. "Aku bukan bocah, namaku Akashi Seijuurou, paman."
"AP-PAMAAN?!"
"Sebutan itu cocok untukku, Kagami-kun," kata Tetsuya innocent.
"KAU JANGAN IKUT-IKUTAN, KUROKO!" sembur Kagami tidak terima.
Remaja yang duduk di samping Akashi cilik mendesah ringan. "Akashi-kun. Ini Kagami Taiga, teman sekaumku. Dan ya, Kagami-kun. Akashi-kun tahu identitas kita," ucapnya pada keduanya bergantian.
"Ba-bagaimana bisa?" Kagami menatap Seijuurou tidak percaya.
"Aku berbeda dari manusia biasa. Aku terlahir dengan indra keenam. Memiliki mata yang dapat melihat kebohongan, kebenaran, masa lalu, dan masa depan seseorang juga dunia," jelas Seijuurou mengatakan kebenaran tentang dirinya.
"Apostle? Manusia khusus yang dipilih sang Kuasa sebagai pembawa pesan surga?" tebak Kagami tercekat.
"Dalam istilah Kristiani, bisa dibilang begitu."
"Hampir sama seperti kami, tapi berbeda. Kami disebut Swart Elfs. Jika manusia khusus dipilih menjadi makluk surga, maka kami dipilih sebagai mahkluk pendosa. Manusia yang dikutuk untuk hidup panjang, tanpa menua dan merasakan sakit sebagai hukuman mereka yang tidak diterima di langit ketika mati," ujar Tetsuya panjang lebar.
Seijuurou membelalakkan kelopak matanya terkejut. Ini pertama kalinya, dia mendengar ada mahkluk seperti itu. Dan kedua lelaki ini adalah salah satunya.
Tetsuya menatap Seijuurou selidik. Jadi begitu cara anak ini tahu jati diri mereka. "Nah, bisa kau ceritakan pada kami, bagaimana kau bisa jatuh dari atas gedung di pusat kota tadi malam? Kau tidak mungkin melakukannya dengan sengaja 'kan?"
Manik Deep Scarlet Seijuurou bergulir padanya. Sorotnya meredup tipis. "...para pengawalku berniat membunuhku, mereka mendorongku dari jendela lantai teratas gedung itu," terangnya.
"Para pengawal? Kau anak orang kaya?" timbrung Kagami yang berpindah duduk di lantai depan mereka.
"Aku putra kedua dari keluarga Akashi, konglomerat kaya kota Kyoto."
"Aah, aku tahu. Kalau tidak salah, keluarga yang berhasil membangun kerajaan bisnis di dunia depan dan underground secara bersamaan," Tetsuya mengingat.
Seijuurou menyerngitkan dahi. "Underground?"
Tetsuya menoleh. "Kau tidak tahu? Bukannya kau keturunan Akashi?"
"Aku tinggal di Tokyo sejak dua tahun lalu setelah ibuku meninggal. Jadi aku tidak tahu-menahu detail bisnis ayahku," ungkap bocah merah itu.
"Anak emas, eh?" simpul Kagami dengan mata bosan.
"Sebaliknya," Seijuurou menunduk sedikit. Irisnya memancarkan kilat ganjil. "Aku anak terkutuk bagi keluargaku..."
Hening. Membuat Kagami menggaruk tengkuknya salah tingkah ketika mendengarnya.
"Karena itu para pengawalmu melakukan hal itu?" tanya Tetsuya yang dibalas anggukan kecil dari lelaki mungil.
Pemuda bermanik nila menatap Seijuurou yang masih tertunduk menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik helaian poni panjangnya. Tangannya beralih mengusap lembut kepala merah itu dalam bungkam. Seijuurou membiarkan sentuhan hangat itu menyelimutinya.
"Arara, rupanya kalian ada di sini."
Ketiga orang bergender sama tersebut, serentak memalingkan wajahnya ke arah pintu. Nampak sesosok wanita cantik bertubuh ramping dengan balutan dress hijau muda selutut dan cardigan coklat gelap. Perempuan berambut coklat sebahu itu masuk sambil menenteng tas hitam di tangannya.
"Riko-san, seperti biasa, langsung saja nyelonong masuk ke rumah orang," sungut Kagami.
"Heh, untuk rumah kalian, aku tidak perlu berlaku sopan santun," balas Riko menatapnya rendah.
Kagami berdecak. Sejak pagi dirinya lelah dibuat kesal terus.
"Ooh, jadi dia anak manusia yang kau ceritakan Kagami-kun?" Riko berpaling melihat Seijuurou yang duduk di dekat Tetsuya.
"Namanya Akashi Seijuurou, Riko-san," tegur Tetsuya.
Riko berjalan –melewati Kagami yang bergeser mundur memberi jalan— ke hadapan Seijuurou, lalu merendahkan badannya. Manik Hazel-nya meneliti anak itu dari ujung kepala hingga bawah kaki. Kemudian fokus ke wajah manis putih susunya. Bola mata madunya berbinar. Segera dia memeluk Seijuurou erat sampai si bocah terperanjat kaget.
"Imut sekaliii!" teriak wanita dewasa itu kegirangan.
"Ukh, lepaskan aku!" Seijuurou merona padam merasakan bukit kembar yang menghimpit wajahnya rapat.
Kedua orang yang tersisa, sweat drop bersamaan. perempuan ini—benar-benar tidak berubah. Suka sekali pada semua hal yang dianggapnya imut.
"Ahaha, maaf, maaf," Riko tertawa seraya melepas rengkuhannya tidak rela. "Perkenalkan, aku Aida Riko, pengasuh para lelaki di belakang situ."
"WWOOIII! SEJAK KAPAN KAU JADI PENGASUH KAMI?!" teriak Kagami marah bukan main. Namun, berakhir dengan tubuh besarnya yang ditendang Riko sampai terlempar menabrak keras tembok kamar.
"Diam Bakagami," muka manis Riko menampilkan senyum iblis. Nyali Kagami ciut seketika. Sedang Seijuurou dan Tetsuya hanya diam melihat tingkah mereka.
Riko berbalik pada Seijuurou. "Aku datang untuk memeriksa keadaanmu, katanya kau sakit semalaman gara-gara ulah Kuroko-kun ya," irisnya melirik Tetsuya sekilas.
"Bukan, aku jatuh tenggelam di kolam renang dan demam. Tetsuya yang menolongku," jelas Seijuurou singkat.
"Pantas, air di luar dinginnya minta ampun bagi manusia," Riko meraba kening dan leher anak crimson itu. Meniti suhu serta tekanan detak jantungnya. "Demammu sudah turun, tapi panasnya masih terasa. Kalau tidak segera diobati total kau bisa sakit lagi," ungkapnya. "Sekarang kau sarapan dulu, lalu minum obat yang kubawakan," lanjutnya mengeluarkan sekotak bento kemasan dan botol obat dari tas. Kemudian memberikannya pada Seijuurou.
Seijuurou bergumam terima kasih.
"Baiklah, ayo kita keluar. Biarkan Akashi-kun istirahat seharian ini. Kalian hutang penjelasan padaku," perintah Riko pada Kagami dan Tetsuya.
Mereka beranjak berdiri dari tempatnya masing-masing. Mengekori wanita langsing itu keluar ruangan. Tapi, belum sempat kaki Tetsuya bergerak, tangan kirinya ditahan oleh Seijuurou. Membuat si pemilik tubuh mengerjap heran.
"Tetsuya, aku ingin bicara denganmu nanti," kata Seijuurou menyatakan maksudnya.
"Baiklah," angguk pemuda bluenette menyetujui. "Tapi setelah kau sembuh total," lanjutnya kalem sambil menyisir helai merah darah milik Seijuurou lembut.
Tetsuya merendahkan wajah untuk mencium dahi Akashi cilik. Menempelkan belah bibirnya ringan di sana. Seijuurou yang mendapat perlakuan itu tercengang sesaat. Hanya sekilas sebelum menutup mata meresapinya.
Beberapa detik berlalu. Namun, Tetsuya belum melepas sentuhannya. Seijuurou mengedipkan matanya yang mulai berkabut tipis. Merasakan kantuk menyerangnya tiba-tiba. Tubuhnya berlahan melemas seolah tenaganya hilang entah kemana. Lengan Tetsuya berpindah menopang badan anak itu agar tidak ambruk. Setelah menyadari Seijuurou tertidur, barulah dia melepaskan ciumannya. Tetsuya merebahkan tubuh mungil itu di atas ranjang. Membenarkan posisinya dan menyelimutinya dengan kain tebal.
"Maaf, Akashi-kun," ucap Tetsuya lirih. Dipandanginya muka damai Seijuurou yang terlelap. "Karena aku lapar, aku terpaksa menghisap energimu."
"—Aroma energimu terlalu sulit kuabaikan. Terima kasih atas makanan lezat dan nikmat ini."
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Chapter dua update...
Berikan kritikan, saran, atau beritahu letak kesalahan fic ini please...
Arigatou mina-san, Review!
