Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya
Pairing: Always NaruSasu
Rated: M for Mature and Sexual Content
(Don't Like Don't Read)
My Guardian Dog
.
By: CrowCakes
~Enjoy~
.
.
Sasuke Uchiha merupakan pemuda biasa yang selalu di-bully di sekolah. Entah disiram dengan air kotor, dihajar, ataupun diejek secara verbal. Semua hal itu sudah seperti makanan sehari-hari baginya, tetapi baru kali ini ia mendengar cara pem-bully-an baru dengan menyatakan cinta padanya.
Seperti sekarang ini, tepatnya di perpustakan, Sasuke hanya bisa terpaku diam saat mendengar pernyataan cinta yang keluar dari mulut Juugo—salah satu dari kawanan hyena yang dipimpin oleh Suigetsu.
"Kau bilang apa?" Akhirnya Sasuke berhasil membuka suara setelah 15 menit dalam keheningan.
Juugo mendesah pelan saat melihat raut wajah sang Uchiha yang masih tidak mengerti pernyataan cintanya itu. "Aku bilang kalau aku menyukaimu."
"Tunggu dulu—" Sasuke melepas pegangan pemuda itu ditangannya, kemudian bergerak untuk memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut sakit. "—Apa maksudmu dengan suka? Kalau ini termasuk trik murahan kalian, maka aku tidak akan tertipu." Jelasnya.
Juugo mengerang kesal. "Ini tidak ada sangkut pautnya dengan trik murahan untuk mem-bully mu, Sasuke. Aku mengatakan yang sebenarnya."
Sang Uchiha masih tidak percaya. Matanya memandang tajam ke arah pemuda dihadapannya itu. "Kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan omonganmu?—Menggelikan."
"Kalau begitu, akan ku buat kau percaya." Sela Juugo cepat.
"Bagaimana?" Sasuke melipat kedua tangannya angkuh.
"Aku akan melindungimu dan menjagamu bahkan dari Suigetsu sekalipun." Jelasnya lagi dengan intonasi suara yang tegas. Tidak ada keraguan sama sekali.
Tepat ketika Sasuke ingin membuka mulutnya, suara seseorang dari arah samping langsung membuyarkan atmosfir tegang di antara mereka. Sang Uchiha menoleh sejenak dan mendapati sosok Naruto yang terlihat memandang tajam ke arah Juugo serta Sasuke dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Pose angkuh dan siap untuk diajak berkelahi.
"Sedang apa kalian disini?" Suara Naruto terkesan mendesis, tidak suka.
Sasuke mendesah antara kelegaan karena berhasil menghindar dari situasi rumitnya dan rasa panik kalau-kalau Naruto mulai bersikap agresif dengan menghajar Juugo. "Hanya berbincang biasa. Persoalan mata pelajaran." Elak Sasuke dengan nada stoic.
Naruto mendengus. "Di perpustakaan? Di pojokan ruangan? Dengan suara yang sengaja berbisik?—Kau pikir aku akan langsung percaya begitu saja?"
"Ini perpustakaaan, Dobe. Wajar saja kalau kami berbicara berbisik." Potong sang Uchiha lagi. "—Sudahlah, ayo kita pergi."
"Tunggu—" Juugo kembali menahan kepergian Sasuke dengan mencengkram lengan pemuda itu. "—Aku harap kau memikirkan kata-kataku. Aku sungguh-sungguh menyu—"
"Lepas." Sasuke mendelik galak.
"Sasuke, aku—"
"Cukup Juugo! Lepaskan aku!" Sasuke mulai membentak keras, membuat beberapa pasang mata di perpustakaan memandang mereka dengan heran. Sedangkan Naruto langsung menggeram melihat kemarahan 'sang majikan'.
"Kau—" Naruto menyela dengan suara berat dan mengancam ke arah Juugo. "—Berani sekali menyentuh, Sasuke."
"Dobe, hentikan." Sasuke memotong ucapan sang Uzumaki dengan satu tangannya, tanda agar pemuda pirang itu menghentikan ancang-ancang untuk menyerang. "—Sebaiknya kita pergi dari sini." Tukasnya lagi sembari menepis pegangan Juugo dari lengannya.
Naruto mendecih dan langsung mengekor Sasuke yang mulai beranjak pergi keluar dari perpustakaan. Meninggalkan Juugo yang hanya bisa terpaku di tempatnya.
Pemuda berambut jingga itu mengepalkan tangan. Matanya berkilat tajam saat melihat punggung Naruto yang mulai menjauh di balik pintu perpustakaan.
"Aku bersumpah akan merebut Sasuke darimu, Naruto." Desisnya dengan bisikan penuh kemurkaan.
.
"Aku tidak suka dia." Naruto menggerutu. Berjalan lambat dibelakang Sasuke. "—Aku membencinya." Dia menambahkan kalimatnya lagi.
Sasuke mendesah dan berhenti berjalan. Tubuh rampingnya berbalik untuk memandang sang Uzumaki dengan tatapan malas. "Bisakah kau berhenti mengeluh? Sejak beberapa menit yang lalu kau selalu mengulang hal yang sama."
"Aku tidak suka dia." Naruto lagi-lagi berbicara dengan kalimat yang sama namun dengan intonasi yang berbeda. Keras dan sedikit geraman.
"Kita akan mulai belajar, jadi kita harus segera kembali ke kelas." Sasuke mengalihkan pembicaraan. Berusaha tidak mempedulikan rengekan pemuda pirang itu. Namun Naruto masih keras kepala dan tetap diam di tempatnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada, sikap kesal dan menuntut.
Sasuke memutar bola matanya jengkel. "Aku tahu kau masih penasaran kenapa aku berbicara secara misterius dengan Juugo." Ujarnya akhirnya. "—Tetapi aku akan menjelaskan hal itu saat kau memberitahuku kemana kau pergi tadi. Kemana kau membolos selama 25 menit terakhir ini?" Tanyanya dengan tatapan tajam menyelidik.
Naruto terdiam. Berkedip tidak paham. "Apanya yang kemana?" Elaknya.
"Jangan berpura-pura bodoh, Idiot. Kau kemana saja saat kau bilang ingin membolos?" Paksa Sasuke lagi.
"Uhm—tidak kemana-mana. Hanya jalan-jalan." Sahut Naruto dengan cengiran gugup.
"Kau menyembunyikan sesuatu, Dobe."
"Huh? Aku? Menyembunyikan sesuatu?—Tidak. Aku tidak menyembunyikan apapun." Ucapnya lagi dengan gerakan mengibas tangan. "Oh liat, kita hampir terlambat, sebaiknya kita segera menuju kelas." Usulnya sembari menatap jam tangan dengan sikap yang sangat hiperbola.
Sasuke hanya mendengus sebal saat Naruto memilih menghindari pembicaraan dibandingkan jujur. Well, urusan Naruto bisa dipikirkannya nanti, yang terpenting sekarang adalah kembali ke dalam kelas sebelum Kakashi-sensei datang.
.
.
_Kediaman Uchiha, pukul 16.00 sore_
.
Sasuke pulang ke rumahnya yang sederhana dengan Naruto yang terus mengekor di belakang. Mereka sepakat untuk mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama—tentu saja setelah dipaksa oleh Naruto dengan rengekannya.
Dan kini, Sasuke tengah berada di kamarnya sambil bergelung sejenak di atas kasur, sedangkan Naruto duduk di lantai seraya merenggangkan ototnya yang kaku.
"Sasuke, dimana Itachi-nii?" Sang Uzumaki membuka pembicaraan setelah sadar kalau pemuda sulung itu sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya.
Sasuke bergumam sebentar. "Masih kerja sampingan. Dia pulang agak malam."
Naruto menoleh terkejut dan kagum di saat bersamaan. "Kerja sampingan? Kerja sebagai apa?" Tanyanya antusias.
Sang Uchiha berpikir sejenak sebelum bangkit dan duduk di tepi ranjang. "Sebagai shinshoku." Jawabnya singkat.
"Shinshoku? Maksudmu orang yang bekerja di kuil dan bertanggung jawab atas upacara religius yang diadakan di sana, begitu?"
"Kurang lebih seperti itu." Sahut Sasuke lagi, agak malas. "Itachi-nii bahkan pernah mengatakan dia bisa melihat arwah dan roh orang mati. Tsk!—Bukankah itu menggelikan?"
Naruto sekali lagi mengerjap takjub. "Oh wow! Itu keren sekali, Sasuke!"
"Tidak ada yang keren, Dobe. Apa bagusnya bekerja di kuil menemani pendeta shinto untuk melakukan upacara religius?" Sungut Sasuke.
"Well, setidaknya Itachi-nii bisa terhibur dengan gadis-gadis miko disana." Sahutnya dengan cengiran lebar.
"Tsk!—Dasar mesum." Tukas sang Uchiha lagi, malas menanggapi ucapan si bodoh itu. Ia menggapai biskuit renyah diatas meja dan mengunyahnya dengan pelan.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan? Aku lebih suka bermain game." Ucap Naruto seraya menguap lebar.
Sasuke mendelik galak. "Bukannya kau bilang ingin belajar bersama? Jadi kita akan belajar, oke?" Tegasnya lagi.
Naruto berdecak kesal dan hanya bisa pasrah saat pemuda raven itu mulai menarik beberapa buku pelajaran dari dalam tasnya.
"Kau ingin belajar apa? Fisika atau matematika?" Tanya Sasuke.
Naruto mengerang dan memilih berbaring di lantai. "Aku malas."
"Kalau kau tidak ingin belajar, sebaiknya kau pulang saja." Ketus Sasuke sedikit sinis.
"Kau mengusirku?" Naruto bertanya dengan nada sedih dan pandangan yang memohon untuk tidak dibuang.
Sang Uchiha mendesah. "Baiklah, hentikan tatapan sedihmu itu. Bagaimana kalau kita mengobrol saja?" Usulnya.
Naruto bangkit untuk duduk dan mengangguk antusias. "Yeah! Ide bagus!"
"Jadi—" Sasuke mulai membuka pembicaraan seraya duduk saling berhadapan dengan pemuda pirang itu. "—Apa yang kau lakukan saat membolos tadi?" Tanyanya setengah memaksa dan penasaran.
Sang Uzumaki mengerang jengkel. "Kau masih bertanya tentang itu? Sudah kubilang hanya jalan-jalan saja." Ucapnya. "—Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau bicarakan dengan Juugo?" Lanjutnya dengan pertanyaan yang juga bernada memaksa.
Sasuke mendengus pelan. "Kau juga masih mempermasalahkan hal itu? Aku sudah bilang kalau hanya masalah pelajaran." Balasnya.
Mereka saling diam. Berpandangan dengan tatapan menusuk dan tidak percaya. Atmosfir berubah tegang dengan hawa yang cukup berat. Tidak ada yang mengalah, keduanya berusaha mempertahankan keegoisan dan keras kepala. Hingga akhirnya Sasuke memilih menyerah dengan dengusan malas.
"Baiklah, Juugo menyatakan cinta padaku di perpustakaan. Kau puas?!" Sungutnya galak.
Naruto mengerjap satu-dua kali. "Menyatakan cinta?" Ulangnya.
"Yeah—dia menggenggam tanganku, menatapku intens dan mengatakan cintanya." Jelasnya agak malas dengan putaran bola mata. "—Sekarang kau yang berbicara, apa yang kau lakukan saat bolos?" Desaknya tidak sabaran.
"Huh?—Kenapa aku harus bicara? Kita tidak membuat perjanjian apapun." Elaknya dengan ekspresi santai. Sanggup membuat kemarahan Sasuke meledak.
"Kau curang, Dobe! Aku sudah mengatakannya dan seharusnya kau juga mengatakan yang sejujurnya!" Paksanya, setengah berteriak.
"Tetapi kita tidak membuat perjanjian apapun, Sasuke." Tegas Naruto. Membuat sang Uchiha melempar bantal terdekat ke wajah pemuda pirang itu. Kesal.
"Kau harus memberitahuku, Dobe!" Paksa Sasuke sembari menerjang sang Uzumaki dan mengacak rambut pirang itu.
Naruto berusaha keras menjauhkan tangan Sasuke untuk berhenti menjambak rambutnya. "Stop, Teme! Sakit!"
"Beritahu aku!"
"Tidak!—Ouch!" Naruto mencoba menghindar secepat mungkin setelah berhasil melepaskan diri dari jambakan Sasuke. Pemuda pirang itu berlari berkeliling kamar dengan panik. "—Teme berhenti! Jangan coba-coba mengambil gunting! Aku tidak mau menjadi botak!" Serunya.
"Kalau begitu cepat katakan sejujurnya!" Balas Sasuke kesal.
"Soal apa?—Aku tidak mengerti." Elak Naruto masih mencoba menampilkan tampang bodohnya.
Sasuke kembali jengkel dan mulai menerjang sang Uzumaki. Sayangnya, tangannya langsung ditahan dan tubuhnya dibanting ke atas kasur oleh Naruto dengan gerakan yang cepat.
Pemuda raven itu terhempas ke atas ranjang dengan tubuh Naruto yang mengunci seluruh pergerakannya.
"Dobe! Lepaskan aku!" Sasuke berontak, membuat ranjang berderit keras.
"Tidak sampai kau berjanji untuk tidak menjambakku lagi." Jelas Naruto tegas.
Sasuke mendengus kesal. "Tidak mau!"
"Kalau begitu, aku akan menggelitikimu." Tukasnya seraya memasukkan kedua tangan ke baju sang Uchiha dan mulai menggelitiki pinggang pemuda raven itu.
Sasuke tertawa keras dengan tubuh meronta. "Stop! Hahaha—Naruto, hentikan! Hahaha!"
"Tidak mau!" Senyum Naruto jahil. Tangan tan-nya terus bergerak menggelitiki pinggang sang Uchiha hingga jemarinya tanpa sengaja menyentuh dada pemuda raven itu.
Sasuke dan Naruto berhenti bergerak. Tawa mereka juga ikut terhenti. Sekarang yang mereka lakukan hanyalah saling pandang dengan tatapan canggung.
Sasuke terbatuk sebentar dengan suara kaku. "Menyingkir. Sudah cukup bermain-mainnya. Sebaiknya kita—" Kalimatnya terhenti saat Naruto sama sekali tidak bergerak dari atas tubuhnya. Mata biru pemuda itu menatapnya tajam, Naruto ingin membuka mulut untuk bersuara namun langsung dikatupkan dengan cepat.
"Naruto, menyingkir dari atasku." Pinta Sasuke lagi.
Bukannya menurut, Naruto malah menggerakkan tangannya untuk meraba dada pemuda raven itu. Membuat Sasuke panik dan mencoba mendorong sang Uzumaki menjauh.
"Apa yang kau lakukan, Dobe?! Menyingkir!" Seru sang Uchiha mulai emosi. Ia bahkan bisa merasakan putingnya dielus dengan lembut oleh jari pemuda pirang itu. Menghantarkan sensasi geli sekaligus nikmat.
Ekspresi Naruto berubah, iris sapphire-nya menatap pemuda raven itu dengan intens. Sedangkan napasnya mulai memburu tidak beraturan, bergairah.
"Sasuke—" Ia memanggil pelan dengan suara bariton berat dan rendah. Mengeluarkan suara yang menggoda.
Sang Uchiha meneguk air liurnya, gugup. Ia mencoba mundur dengan panik, namun gerakkannya terhenti saat punggungnya menyentuh kepala ranjang. "Naruto, apapun yang ada dipikiranmu, hentikan sekarang juga!"
"Kenapa? Apa kau takut?" Naruto mencoba memprovokasi. Ujung jarinya kembali membelai dua puting milik Sasuke. Lagi-lagi menghantarkan sengatan geli yang memabukkan.
Pemuda raven itu menggeram dengan wajah memerah, entah karena marah atau malu akibat perlakuan sang Uzumaki. "Takut padamu?—Cih! Jangan bercanda!" Ia mencoba mendorong tangan Naruto dari dadanya, namun hasilnya nihil sama sekali. Kekuatan otot pemuda pirang itu tidak bisa dilawan.
"Bukan takut padaku, melainkan tindakanku." Sahut Naruto lagi. Mata birunya memandang lekat ke arah sang onyx, sedangkan tangannya mulai meremas dada sang Uchiha dengan lembut.
"Cukup bercan—"
"Aku tidak bercanda." Naruto menyela. Ia mendekat dan mendengus pertemuan leher pemuda itu. Aroma wangi yang sangat memikat, mengeluarkan feromon yang membuat Naruto mulai mabuk kepayang. Tangannya terus bergerak untuk memijat dan menyentuh dada Sasuke.
"Dobe, Hentikan! Ini tidak lucu!"
"Aku hanya menyentuhmu sedikit." Jawab Naruto membela diri. "—Tidak masalahkan kalau aku berbuat lebih jauh lagi?"
"Lebih ja—?" Belum sempat Sasuke bertanya apa maksud perkataan sang Uzumaki, pemuda pirang itu sudah mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka.
Tekanan daging yang lembut di bibirnya membuat mata onx Sasuke terbelalak lebar. Ciuman tanpa tuntutan dan hanya sentuhan kecil, namun sanggup membuat sang Uchiha kalang kabut.
"Stop!—Hmphh!—Naruto, sadar!—Hmphh!" Sasuke mencoba berbicara, tetapi begitu ia membuka mulut untuk berbicara, lidah pemuda pirang itu mulai masuk ke dalam mulutnya. Mencari kesempatan dalam kesempitan.
Dalam keheningan kamar, hanya ada suara dengungan air conditioner yang rendah serta decakan air liur dan bibir yang saling berbenturan dengan lembut. Sesekali bunyi lenguhan terdengar dari mulut Sasuke, menambah panas ruangan yang tadinya dingin itu.
Sasuke yakin otaknya sudah membeku, sebab ia sama sekali tidak dapat melawan keinginan Naruto, dan bahkan seperti menuruti permintaan pemuda pirang itu saat sang Uzumaki memaksa untuk bercumbu lebih dalam.
French kiss? Deep kiss? Sasuke sama sekali tidak mengerti istilah-istilah dalam ciuman. Jujur saja, ini pertama kalinya ia bercumbu bibir dengan seseorang, laki-laki pula. Dan rasanya—sanggup melelehkan organ dalam sang Uchiha hingga lumer tidak beraturan.
Sasuke yang awalnya mencoba menghindar mulai menikmati permainan lidah mereka. Ia mendongakkan wajah dan membuka mulutnya, bersiap untuk dijilat Naruto lebih dalam. Sang Uzumaki menyambut hal itu dengan senang hati, tangan tan-nya menyentuh leher Sasuke, menarik mendekat. Memperdalam kecupan mereka.
Lidah berpagutan liar. Sasuke sedikit sulit mengimbangi gerakan benda lunak pemuda pirang itu, namun ia mencoba bergerak seirama dan enggan untuk melawan. Air liur berdecak nyaring dan hisapan lembut membuat dua tubuh itu mulai menyatu secara perlahan. Tangan Naruto kembali bergeriliya memasuki kemeja dan mencubit serta memilin dua puting yang ada di dalam sana.
"Nghmp—" Sasuke melenguh. Wajahnya memerah hampir kehabisan napas. "—Naru—hhh—stop—" Ia memohon untuk berhenti sejenak.
Naruto menuruti permintaan pemuda Uchiha itu. Ia melepaskan ciumannay dan menatap lekat wajah putih Sasuke. Semburat merah di pipi, saliva yang menetes disela dagu, dan mata onyx yang menatap sayu, semua itu sangat menggoda. Terlalu seduktif untuk dibiarkan begitu saja.
Sang Uzumaki kembali bergerak untuk merunduk dan memasukkan kepalanya ke dalam kemeja Sasuke. Membuat pemuda raven itu bingung dan panik.
"A—Apa yang kau lakukan, Dobe?!—Nghh!" Belum sempat Sasuke menyelesaikan suaranya, kalimatnya sudah terhenti karena aksi Naruto yang menghisap dua putingnya. Tonjolan pink yang mengeras itu dijilat dan digigit dengan lembut, tidak terlalu keras tapi sanggup membawa aura dominan. Keinginan untuk menjajah dan memiliki.
Tubuh Sasuke menggeliat pelan saat Naruto terus menggoda putingnya. Menghisap kuat dan memainkannya dengan lidah. "Nghh—stop!" Ia mencoba berbicara disela desahannya. Namun Naruto malah bergerak semakin liar dengan memeluk pinggang sang Uchiha dan menghisap dada pemuda itu layaknya sosok bayi yang kelaparan. Setelah puas, sang Uzumaki menghentikan tindakannya dan keluar dari balik baju kemeja Sasuke, meninggalkan jejak liur di tubuh itu.
Sasuke bernapas pendek-pendek, tersengal. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang meletup-letup gugup melihat tatapan intens yang diberikan oleh Naruto. Dan entah kenapa hal itu malah membuat benda yang berada dibalik celana mulai menegak perlahan.
"Sasuke—" Naruto memanggil dengan suara berat dan serak, menggelitik sensor pendengaran sang Uchiha. Tangannya bergerak menyentuh celana pemuda raven itu, membelai ujung benda yang mulai menegak tadi. Tetes precum membasahi ujung jarinya. "—Kau basah dan tegang." Bisiknya pelan, masih dengan suara bariton rendah.
Sasuke mendelik galak, mencoba menyatukan kembali akal sehatnya. "Hentikan! Cuk—"
"Aku juga." Naruto menyela dengan cepat, membuat kalimat Sasuke terhenti. Terlebih lagi saat pemuda pirang itu mulai menyentuh celananya sendiri dan membuka retsletingnya. Mengeluarkan benda yang sudah menegak gagah dari dalam sana.
Sasuke tersentak kaget. Mencoba mengeluarkan sumpah-serapah nya, tetapi kalimatnya tercekat ditenggorokan saat Naruto kembali bergerak mendekat.
"Kau juga tegang." Sang Uzumaki berbisik pelan, kali ini ia mulai melepaskan retsleting Sasuke dan membuat kejantanan sang Uchiha terekspos sempurna.
"H—Hey! Apa yang—"
"Lihat, kita berciuman." Naruto tidak mempedulikan protesan Sasuke dan malah menempelkan ujung kejantanannya ke ujung penis pemuda raven itu. Menggesekkan lubang urinal mereka yang berbalut tetes precum. "—Ciuman langsung." Bisiknya lagi.
"Ghhk!—" Sasuke menggigit bibir bawahnya untuk menghentikan desahan yang mulai meluncur. Mata onyx nya menatap tajam. "—Kau gila! Lepas!" Ia mencoba menepis tangan Naruto dari penisnya. Jujur saja, disentuh seperti itu membuat selangkangannya geli dan nikmat disaat bersamaan.
Bukannya menurut, Naruto malah semakin gencar menggesekkan ujung miliknya ke ujung penis Sasuke, menghantarkan sensasi yang menakjubkan. Benang precum saling menjalin, mirip jembatan tipis yang menghubungkan dua penis tersebut, pemandangan yang cukup menggoda.
.
"Apa yang kalian lakukan?" Suara Itachi membuat kedua pemuda yang berada di dalam kamar langsung tersentak kaget. Mereka menoleh dan mendapati sosok Itachi sedang bersandar di ambang pintu sambil melipat kedua tangan. Pemuda itu mencoba menengok untuk melihat apa yang dilakukan Naruto dan Sasuke, tetapi pandangannya tertutupi oleh punggung lebar sang Uzumaki.
"Apa yang kalian lakukan?" Itachi mengulang pertanyaannya dengan nada yang sangat penasaran.
Sasuke yang panik langsung mendorong tubuh Naruto dari ranjang, membuat pemuda pirang itu terjerembab ke lantai dengan suara -Bruk!- keras. Sedangkan dirinya sendiri langsung menggapai selimut dan menutupi bagian bawahnya.
"T—Tidak ada apa-apa. Hanya berdiskusi." Ucap Sasuke cepat dengan nada gugup.
Itachi mengangkat satu alisnya, curiga. "Berdiskusi, huh?—Di atas ranjang? Saling berbisik?"
Naruto bangkit sembari merapikan retsletingnya dengan panik. "Uhm—err—kami hanya berdiskusi tentang fisika." Sahutnya cepat seraya mengambil sebuah buku ajar fisika dari atas meja dan tertawa kaku.
"Hmm—" Itachi masih menatap curiga. "—Fisika, huh?" Matanya memandang tajam ke arah celana Naruto yang agak—membesar.
Sadar kalau Itachi sedang menatapnya intens, Naruto dengan gerakan cepat langsung menutupi selangkangannya dengan buku ajar tadi, kemudian tertawa canggung. "Jadi—Sasuke memberitahuku kalau kau bekerja di kuil. Bagaimana disana? Apakah banyak miko?" Tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Itachi mengangkat bahunya, malas. "Yeah, hanya membersihkan kuil dan membantu persiapan untuk upacara. Aku tidak bisa menggoda para miko disana, itu tidak diperbolehkan." Sahutnya. "—Ngomong-ngomong, aku membawa cemilan yang cukup banyak. Ayo kita makan bersama." Lanjutnya lagi sembari tersenyum riang dan berbalik untuk menuju ruang makan. Meninggalkan kamar tadi dengan atmosfir yang kembali canggung.
Naruto menggaruk rambut spiky pirangnya, kebingungan. Sedangkan Sasuke turun dari kasur sembari merapikan retsleting celana dan kemejanya. Kelihatan sekali kalau raut wajah sang Uchiha mengeras, perasaan marah dan kesal tercampur disana. Semakin membuat Naruto salah tingkah.
"Uhm—soal yang tadi—"
"Hentikan. Jangan bicara apapun." Sasuke menyela cepat, tidak lupa delikan death glare-nya.
Naruto terdiam kaku dengan air muka gugup, takut kalau sang Uchiha kehilangan kendali dan mulai menghajarnya tanpa ampun. "S—Sasuke, apa kau marah?"
"Diam. Dan jangan bicara padaku." Desis Sasuke sinis. Naruto kembali meneguk air ludahnya gugup.
"Aku hanya—uh—terbawa suasana. Jadi, aku minta maaf, oke?" Pemuda pirang itu mencoba membela diri.
"Minta maaf?! Setelah menyentuhku seperti itu?!—Hmph!" Bentak sang Uchiha, kesal.
"Hey, jangan menyalahkanku! Kau juga tidak menolak, jadi aku pikir kalau kau—" Kalimatnya terhenti dan suaranya tercekat di tenggorokan saat Sasuke mendeliknya galak, menghentikan ucapan pemuda pirang itu. "—Sorry." Lanjut Naruto singkat. Enggan berbicara lagi.
"Sudahlah, lupakan soal yang tadi, anggap saja tidak pernah terjadi. Sekarang, aku ingin makan cemilan." Ketus Sasuke seraya beranjak keluar kamar menuju ruang makan, diikuti oleh Naruto yang mengekor dibelakangnya tanpa banyak bicara.
.
.
.
_Konoha Gakuen, pukul 08.00 pagi_
.
Suigetsu dan Karin terlihat bersender di sisi tembok depan kelas dengan santai. Mata mereka mengawasi beberapa siswa dan siswi yang berjalan di depan mereka, sesekali memberikan ancaman kalau ada yang berani berbisik dihadapan mereka. Seluruh siswa Konoha Gakuen takut dengan Suigetsu, sang pemimpin kawanan hyena. Sikapnya yang kasar, berandalan dan suka berkelahi membuat siswa lain menjauhinya, enggan mencari masalah. Sedangkan Suigetsu sendiri lebih suka mem-bully Sasuke dibandingkan siswa lain. Pemuda Uchiha itu sulit sekali untuk ditaklukkan, membuat Suigetsu merasa tertantang untuk menjadikannya sebagai budak.
Heh!—Tidak buruk juga kalau Sasuke menjadi budak. Batin Suigetsu dalam hati seraya menyeringai tipis. Karin yang berada disebelahnya hanya mengernyit jijik melihat seringai pemuda itu.
"Eww—Suigetsu, berhenti tersenyum. Bibirmu itu jelek sekali." Ejek Karin seraya mengibaskan tangan dengan berlebihan, seakan-akan Suigetsu adalah bakteri yang melayang di udara.
Sang pimpinan mendelik galak namun tidak bisa melakukan apapun. Hanya Karin saja yang bisa membuatnya bungkam seperti itu, tidak berkutik. Dulu ia pernah berkelahi dengan gadis itu dan harus dirawat selama satu bulan di rumah sakit, jadi dia jera untuk mencari masalah dengan Karin. Tetapi kalau bicara soal kekuatan, tentu saja Juugo yang paling hebat. Pemuda berambut jingga itu bisa mengalahkan mereka berdua hanya dengan satu tangan. Well, Juugo merupakan pemegang juara sabuk hitam nasional, tidak ada yang bisa menandinginya selama ini. Tetapi walaupun begitu, dia yang paling tenang dan enggan mencari masalah.
Hmm—tipikal orang baik yang salah pergaulan.
Suigetsu mendesah pelan. "Akhir-akhir ini aku tidak bisa mendekati Sasuke." Ia membuka pembicaraan.
"Gara-gara Naruto?" Karin melirik tenang, seakan bisa membaca raut wajah frustasi sahabatnya itu.
"Yup! Anjing brengsek itu selalu mengekor Sasuke kemana pun." Celotehnya lagi. "—Aku tidak mempunyai kesempatan untuk menjahili Sasuke."
"Kalau begitu hajar saja Naruto. Kau kan selalu menghajar orang sepertinya." Sahut Karin tidak peduli.
"Aku pernah mencobanya—" Suigetsu kembali membuka suara. "—Tetapi gagal." Lanjutnya dengan lirih. Lebih mirip bisikan, malu karena kalah.
Karin mengerjap satu-dua kali. "Kau—apa? Gagal?" Ulangnya lagi dengan tawa mengejek. "—Suigetsu si hebat harus kalah dengan 'anjing'? Pfftt—memalukan."
"Shut up!" Suigetsu berdecak jengkel. "Saat itu aku hanya tidak siap. Maksudku, kekuatannya seperti Juugo." Jelasnya lagi.
"Kalau begitu suruh saja Juugo untuk menghajar Naruto. Dan—voila—masalah selesai." Sela Karin cepat dengan nada antusias.
"Hmm—ngomong-ngomong soal Juugo, dari kemarin aku tidak melihatnya. Dia kemana?" Tanya Suigetsu heran. Karin menanggapinya dengan mengangkat kedua bahu, tidak tahu.
"Entahlah, mungkin sibuk melatih diri di gunung tertinggi untuk pertandingan musim depan. kau tahu, seperti di komik-komik." Jawab gadis itu asal.
Suigetsu hanya memutar bola matanya malas mendengar jawaban Karin. Sungguh bukan hal yang tepat meminta komentar dari seorang gadis bodoh yang hanya tahu menghisap lolipop. Membuat darah tinggi saja!
Baru beberapa menit mereka berbincang—atau istilah lainnya berdebat—sosok Sasuke terlihat berjalan menuju ke arah kelas, melewati mereka. Melihat kesempatan itu, terlebih lagi tanpa adanya Naruto, membuat Suigetsu menyeringai lebar. Ini saatnya untuk mem-bully si anak sok pintar, Uchiha Sasuke. Sedangkan Karin tetap bersender di tembok menatap pertunjukkan menarik yang akan dimulai sebentar lagi.
"Hey, princess." Suigetsu memanggil dengan suara seraknya.
Sasuke mendesah keras menyadari bahwa ia akan di-bully lagi. Shit!
"Apa maumu?" Sinis Sasuke, malas dan kesal.
Suigetsu terkekeh sejenak sebelum mendorong tubuh ramping itu untuk menghimpit tembok. Memerangkap sang Uchiha di antara kedua lengannya. "Bagaimana aku harus mengatakan ini ya?" Ucapnya berpura-pura berpikir. "—Aku sangat merindukanmu, honey." Lanjutnya lagi. Tentu saja dengan tampang yang dibuat sedih seraya memegangi dadanya, hiperbola.
Sasuke memutar kedua bola matanya, malas dan jengkel. Trik murahan lagi, batinnya dalam hati.
"Kalau kau tidak keberatan, aku perlu masuk ke dalam kelas sekarang." Sahut pemuda raven itu sembari menepis tangan Suigetsu.
"Woo—woo—mau kemana, princess? Kita belum selesai bicara." Suigetsu menahan Sasuke dan kembali mendorong tubuh itu untuk menghimpit tembok. "—Mungkin kalau kau memberikanku kecupan, aku akan membebaskanmu." Jelasnya lagi dengan seringai licik. Dibelakang Suigetsu, Karin hanya terkikik geli sembari memakan lolipop-nya.
Sasuke mendelik gusar. "Lepaskan aku, idiot!" Kesalnya. Berusaha mendorong wajah Suigetsu yang mencoba menciumnya. "—Ini tidak lucu!" Serunya lagi.
Sang Uchiha bersiap mengepalkan tinjunya untuk menghajar wajah menjijikan Suigetsu. Namun aksinya tersebut sudah didahului oleh orang lain. Mata onyx nya bisa melihat tubuh Suigetsu tersungkur dilantai setelah dihajar di pipi kanan dengan suara -DUAGH!- nyaring.
Sasuke menoleh dan mendapati sosok Juugo dengan napas tersengal dan tangan terkepal sedang menatap sang pimpinan hyena dengan garang. "Sekali lagi kau menyentuh Sasuke, aku akan mematahkan lehermu, Suigetsu." Desisnya sinis.
Suigetsu yang terduduk di lantai hanya bisa terkejut dan mengerjap tidak percaya. "Dude, apa yang kau lakukan?! Kenapa kau mengahajarku?!" Protesnya keras. Ia bangkit seraya menunjuk Sasuke dengan kasar. "—Seharusnya kau menghajarnya, bukan aku!" Tegasnya marah.
Juugo tidak menjawab. Ia tetap mempertahankan pandangan tajamnya ke arah Suigetsu. "Aku akan terus menghajarmu kalau kau mem-bully Sasuke lagi." Ancamnya.
Suigetsu terdiam sejenak, kemudian memandang pemuda berambut jingga itu dengan mata berkilat marah. "Jadi sekarang kau lebih membelanya, begitu?! Apa kau juga termasuk 'anjing penjaga' si kutu buku ini?!" Bentaknya emosi.
"Kau—" Juugo kembali mendesis kesal. Ia mulai mengepalkan tinjunya, bersiap untuk menghajar sang pimpinan, namun tindakannya langsung dicegah oleh Karin.
"Guys! Ada apa dengan kalian?! Stop this!" Ucapnya menengahi. Matanya menatap ke arah Juugo dengan galak. "—Dan ada apa denganmu?! Sikapmu itu aneh!" Lanjutnya lagi.
Juugo hanya mendengus pelan dan menarik lengan Sasuke untuk menjauh, meninggalkan Suigetsu dan Karin yang menatapnya bingung serta jengkel. Sejujurnya, ia tidak peduli tanggapan teman-temannya itu dengan kelakuannya. Apapun yang terjadi, ia bersumpah akan melindungi Sasuke. Dia akan melakukan apapun untuk pemuda raven itu, bahkan kalau perlu, ia akan berkelahi dengan Naruto untuk memperebutkan Sasuke.
.
"Ada apa ini?" Suara Naruto membuat langkah Juugo dan Sasuke terhenti. Mereka bisa melihat kilatan tajam di iris biru pemuda pirang itu. Tatapan yang sangat tidak bersahabat. Terlebih lagi saat melihat tangan Juugo yang menggandeng Sasuke dengan mesra.
"Naruto, ini cuma—" Sasuke mencoba melepaskan genggaman Juugo dari tangannya. Namun pemuda itu malah mencengkram tangan sang Uchiha semakin erat, tidak membiarkannya untuk pergi.
"Kami pacaran." Juugo menyela dengan cepat. Membuat Naruto membelalakkan matanya tidak percaya, sedangkan Sasuke menoleh ke arah pemuda berambut jingga itu dengan tatapan kaget.
"A—Apa?" Suara Sasuke tercekat. Ia menoleh ke arah Naruto dan menggelengkan kepalanya dengan panik, berusaha mengatakan bahwa semua perkataan Juugo adalah kebohongan semata.
"Kau bilang apa?" Naruto mendesis pelan. Ia terlihat marah, bahkan tidak mempedulikan gelengan kepala pemuda raven itu . Kakinya mulai melangkah mendekat dengan tatapan mengancam.
Juugo membalas dengan pandangan dingin. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada Sasuke. "Aku bilang, kami paca—"
BUAAGH!—Sebuah bogem mentah sukses melayang di wajah Juugo, membuat pemuda bertubuh besar itu terlempar ke lantai. Tersungkur dengan bibir yang mengeluarkan darah.
Sasuke terhenyak kaget untuk sesaat, namun segera menguasai tubuhnya dan mulai menghalangi Naruto yang bersiap melayangkan tinjunya lagi pada Juugo. "Stop, idiot! Apa yang kau lakukan?!" Serunya panik. Matanya menatap sekitar dan menyadari bahwa aksi mereka dilihat oleh beberapa siswa yang berada disana. Terlihat ada sebagian yang berbisik ketakutan sedangkan yang lainnya pergi untuk melapor pada guru.
"Aku akan menghajar bajingan ini." Desis Naruto, masih dikuasai amarah.
Sasuke berusaha keras menahan bahu pemuda itu untuk tidak melanjutkan perkelahian. "Hentikan, Naruto! Kau membuat kita dalam masalah!"
"Dia yang mencari masalah denganku, Teme! Si manusia brengsek ini!" Geram Naruto.
Juugo menyeka darah di bibirnya dan meludah di lantai. "Kenapa?—" Ia membuka suara, masih dengan nada tenang dan dinginnya. "—Apa kau iri karena aku pacaran dengan Sasuke, Anjing penjaga?" Ejeknya.
"Kau—" Sang Uzumaki menggertakkan giginya penuh murka. Sedangkan Sasuke masih menahan tubuh pemuda pirang itu sembari mendelik ke arah Juugo dengan galak.
"Cukup, Juugo! Berhenti bicara omong kosong!"
"Aku tidak berbicara omong kosong!" Juugo meninggikan intonasi suaranya. Ia bangkit dari lantai dan menatap ke arah sang Uchiha dengan serius. "—Aku mencintaimu, Sasu—"
BUAAGH!—Tinju kembali melayang ke wajah pemuda berambut jingga itu. Dan sekali lagi membuatnya tersungkur di lantai.
"SEKALI LAGI KAU BERANI BICARA SEPERTI ITU, AKU BERSUMPAH AKAN MEMATAHKAN LEHERMU!" Raung Naruto kalap. Emosinya sudah diambang batas, bersiap melayangkan beberapa pukulannya lagi ke arah Juugo.
"Cukup, Dobe!" Sasuke berusaha menahan tubuh sang Uzumaki sekuat tenaga. "—Sebaiknya kita cepat pergi dari sini sebelum para guru datang!" Ucapnya lagi setengah memaksa.
"Tapi—"
"AKU BILANG CUKUP!" Pemuda raven itu membentak kesal. Jengkel dengan tingkah Naruto. Sebelum ia melangkah pergi, kepalanya menoleh sejenak untuk menatap Juugo. "Terima kasih untuk yang tadi, Juugo. Dan maaf soal Naruto." Ujarnya melembut, berusaha berbicara sesopan mungkin pada pemuda yang menolongnya itu.
Naruto mendelik galak. "Hey Sasuke! Kau tidak perlu berbicara dengan orang sepertinya!"
"SHUT UP, IDIOT!" Sang Uchiha membentak lagi. Kali ini ia menjewer telinga Naruto tanpa ampun dan menyeretnya menjauh. Meninggalkan Juugo yang hanya bisa terdiam sambil sesekali menyeka darah dari sela bibirnya.
.
.
Bruk!—Naruto didorong ke kursi kelas hingga pinggangnya menabrak sisi meja, membuatnya meringis sakit. "Apa yang kau lakukan, Teme?! Jangan mendorongku seperti itu!" Kesalnya sembari mengusap pinggang.
"Kau memang pantas diperlakukan seperti itu! Kalau perlu, aku sendiri yang akan menghajarmu!" Bentak Sasuke, emosi.
"Memangnya apa salahku? Aku sudah membantumu untuk menjauh dari Juugo." Naruto menjawab santai sambil duduk di kursi dengan kedua kaki diangkat ke atas meja.
"Kau salah orang, Bodoh! Juugo membantuku!" Erang Sasuke lagi seraya memukul kaki Naruto dari atas meja, menyuruh untuk menurunkannya. "—Tapi kau malah datang dan berlagak sok pahlawan." Lanjutnya lagi sembari menyenderkan pinggang ke meja dan melipat kedua tangan.
"Hey, aku memang pahlaw—Ouch!" Kalimatnya terhenti saat Sasuke menggeplak kepala pirang itu dengan cukup keras.
"Kau itu bodoh, idiot dan tidak punya otak!" Kesal sang Uchiha sambil terus memukul kepala Naruto setiap dia mengeluarkan sumpah serapah.
"Stop!—Ouch!—Aku minta maaf! Ouch!" Naruto melindungi kepalanya dari pukulan Sasuke.
Setelah cukup puas, pemuda raven itu menghentikan pukulannya di kepala pirang tadi dan mulai mendesah pelan. "Bagaimana ini? Pasti para guru mendengar pertengkaran itu." Ucapnya pelan.
Naruto yang sibuk mengusap kepalanya hanya menoleh sekilas. "Kalau begitu hajar saja mereka."
"Apa di otakmu itu hanya ada hajar dan pukul?!" Geram Sasuke seraya menunjuk kepala sang Uzumaki dengan jengkel.
"Tidak juga—" Naruto menyahut. "—Tendang dan banting?" Sahutnya santai.
Sasuke menatap sang Uzumaki galak, ia benar-benar ingin menampar wajah idiot itu dengan tangannya sendiri. Tetapi harga dirinya menyuruhnya untuk tetap tenang dan berpikiran dingin. "Dengar—" Sasuke kembali membuka suara. "—Bagaimanapun juga, aku ingin kau meminta maaf pada Juugo, mengerti?"
"Aku? Meminta maaf padanya?" Naruto menunjuk dirinya sendiri dengan kaget. "—No way!" Serunya kesal.
"Harus!" Paksa Sasuke. "—Tidak ada alasan! Kau harus meminta maaf pada Juugo!"
Naruto menekuk wajahnya, jengkel. Kemudian bangkit berdiri dan mulai melangkah keluar dari kelas.
Sasuke menatap pemuda itu tajam. "Kau mau kemana? Ingin lari dari tanggung jawab?"
Pemuda pirang itu memutar bola matanya, kesal. "Aku tidak lari. Aku hanya pergi sebentar untuk mengurus urusanku."
"Dari kemarin kau selalu mengatakan ada urusan. Sebenarnya kau kemana?" Tanya Sasuke lagi, penasaran.
Naruto mendengus pelan. "Pemakaman." Sahutnya singkat.
Sang Uchiha mengangkat kedua alisnya, heran. "Pemakaman?"
"Ya, pemakaman kedua orangtuaku." Sahut pemuda pirang itu lagi. "—Jadi, aku harus pergi sekarang. Bye." Sambungnya sembari bergerak menjauh.
Sedangkan Sasuke hanya mendengus pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Raut wajahnya menampilkan ekpresi kesal sekaligus penasaran.
Pemakaman, huh? Sebaiknya aku mengikutinya untuk mengetahui si idiot itu jujur atau berbohong. Batinnya dalam hati.
Setuju dengan pemikiran cerdasnya itu, Sasuke mulai berjalan keluar kelas untuk membuntuti Naruto.
.
.
.
_Pemakaman umum Konoha, pukul 10.00 pagi_
.
Sasuke terlihat sedang bersembunyi di balik pohon yang cukup besar dan rindang. Beberapa meter dihadapannya, terlihat sosok Naruto yang berdiri tepat didepan sebuah makam batu yang sederhana, namun sangat rapi dan bersih.
Pemuda pirang itu berjongkok dan meletakkan setangkai bunga kecil berwarna putih di depan pusara tadi. "Hei, aku kembali." Ia mulai angkat bicara. Tangan tan-nya mengelus makam batu tadi dengan lembut. "—Aku berjanji akan ke tempatmu setelah urusanku disini selesai, oke? Untuk sekarang, aku perlu menjaga Sasuke." Lanjut pemuda itu dengan senyum simpul.
Sasuke yang berada di belakang pohon masih mengintip dengan hati-hati. Ia mencoba menajamkan telinganya untuk mendengar setiap perkataan Naruto, namun pembicaraan itu hanya terdengar samar-samar, tentang menjaga dirinya dan semacamnya.
Sebenarnya makam siapa yang dikunjungi si idiot itu? Tanya Sasuke dalam hati. Sedikit penasaran.
Naruto masih berdiri di depan pusara itu sekitar lima menit. Hanya menatap dalam diam tanpa mengatakan apapun, sesekali mengelus ujung makam batu tadi dengan lembut. Kemudian setelah cukup puas berdiri disana, pemuda pirang itu mulai melangkah pergi keluar dari pemakaman.
Sasuke yang melihat kepergian Naruto langsung keluar dari persembunyiannya dan bergerak menuju ke arah pusara yang sempat didatangi oleh sang Uzumaki. Rasa penasarannya membuat Sasuke menatap nama yang diukir di atas batu makam tadi.
Matanya berusaha menyipit untuk melihat goresan huruf yang ada disana. Hingga akhirnya ia terbelalak lebar membaca nama yang tertera di makam itu.
Nama yang sangat familiar.
.
Uzumaki Naruto
.
A—Ada apa ini sebenarnya?
Sasuke mundur dengan panik dan ketakutan. Ia menoleh ke belakang untuk melihat pemuda pirang itu, namun sosoknya sudah menghilang dan tidak terlihat dimana pun.
S—Siapa sebenarnya Uzumaki Naruto? Kenapa ada makam yang bertuliskan namanya?
Ini tidak masuk akal!
.
.
TBC
.
.
Akhirnya chap 2 selesai juga... Huehehe...
Lemonnya di potong karena ada Itachi #plak *author di hajar massa* XD Tapi di chap depan pasti ada lemonnya kok, jadi tenang aja... Huehehe
Yup! Rahasia hampir terkuak...Siapakah Naruto? Dan makam siapa itu? Jawabannya ada di chap 3 #Geplaked *author dihajar massa*
.
RnR please!
