Makasih review-nya, lanjut saja
.
.
.
Crown Imperial
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Main Pairing : AkaKuro/KuroAka
Genre : Romance, Action, & Supernatural
Warning : BL, malexmale, Shounen ai, Slash, AU, OC, OOC, Typo nyelip, dll.
.
.
.
Chapter Three
.
.
.
.
Siang yang berangin sejuk ini menurunkan butiran putih berlahan dari langit kelabu. Matahari pun nampak bersinar tipis melewati celah-celah kecil awan. Para penduduk Tokyo telah memadati tiap tempat. Jalanan kota ramai dipenuhi deru kendaraan bermotor. Mereka menjalankan aktivitas harian seperti biasanya. Tapi, sepertinya tidak bagi penghuni mansion megah yang terletak di pinggiran barat kota Tokyo ini.
Mansion bergaya semi-eropa yang berlokasi menyendiri dari pemukiman ini tampak sunyi. Tidak seorang pun terlihat keluar dari bangunan berumur itu. Lingkungan hijau yang tertutup salju sepi melompong. Seolah tidak pernah dijejaki. Ini dikarenakan para penghuninya berkumpul di dalam satu ruangan yang ada di rumah tersebut.
Mereka berada di ruang keluarga. Ruang berukuran luas bercat krem dengan hiasan pigura dinding berimage macam bentuk. Di tengahnya terdapat 4 unit sofa panjang berwarna merah marun, melingkari meja yang terbuat dari kayu mahoni berukir rumit. Empat orang berusia 11 tahunan duduk diam di masing-masing tempatnya. Mereka menyatukan perhatiannya pada benda kotak yang terdapat di sisi ruangan. Sebuah televisi layar datar di atas rak kayu kecil, menampilkan gambar seorang repoter wanita yang membacakan berita pagi.
"Berita utama, pagi ini ditemukan tujuh sosok mayat lelaki tanpa identitas di daerah sebelah timur kota Kyoto. Mereka tergeletak di tepi hutan kecil yang jauh dari pemukiman sekitar. Para korban berpakaian serba hitam dan tertembak di tempat yang sama, yakni kepala. Diperkirakan ketujuh orang ini adalah korban pembunuhan. Penemuan mayat-mayat ini dilaporkan oleh seorang penebang pohon yang memasuki hutan tersebut. Menurut kepolisian, tidak ada bukti dan saksi mata yang mampu menjelaskan perihal kejadian ini. Kemungkinan mereka dibunuh di saat tengah malam sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya. Kesamaan korban lainnya, yaitu mereka memiliki tato yang tertera di tubuhnya. Tidak diketahui tato apa itu, karena kulitnya telah disayat sampai tidak menampakkan gambar apapun lagi. Namun, pihak berwenang akan tetap mengusut kasus ini lebih lanjut nantinya."
Layar berwarna itu memunculkan gambar-gambar yang berkaitan dengan berita barusan. Terlihat beberapa orang berseragam kepolisian memeriksa tempat kejadian perkara dan seorang saksi. Lalu para penduduk yang memenuhi pinggir hutan untuk melihat kejelasannya. Dari berita itu, keempat anak dalam ruang keluarga yang mengamatinya membentuk guratan wajah serius. Seolah laporan ini sangat penting. Tiba-tiba daun pintu ruangan tersebut terbuka, mereka serentak berdiri melihat orang kelima.
"Bagaimana? Apa ada kabar tentang Akashi?" runtut seorang anak lelaki berambut navy blue, berkulit tan gelap, dan bermata Deep Shappire. Aomine Daiki menatap tajam pria paruh baya berkumis tipis di hadapan mereka berempat.
Tanaka, pria berambut hitam disisir ke belakang itu menggeleng. "Tidak ada, Aomine-san. Saya sudah menghubungi mansion utama di Kyoto, tapi tidak ada yang mengangkat," jawabnya kalem.
Anak berambut blonde di sebelah Aomine merosot duduk. "...Hhh, sebenarnya ada apa dengan Akashicchi?" desah Kise Ryouta. Manik Topaz-nya bergetir cemas. "Apa mungkin terjadi sesuatu?"
"Kau terlalu khawatir-nanodayo," ujar anak lelaki berambut hijau yang duduk di sofa depan mereka berdua. Midorima Shintarou menaikkan bingkai kacamata yang menutupi iris Emerland-nya dengan ujung jari tengahnya. "Akashi hanya pergi menemui Yoshinori-sama, harusnya dia baik-baik saja. Bukankah kau tahu sendiri betapa kuatnya keamanan para pengawal Akashi. Tidak seorang pun yang bisa menembus penjagaan mereka."
"Tapi aku merasakan firasat buruk, Mido-chin. Meski aku juga sependapat denganmu," gumam anak lelaki berambut ungu yang badannya lebih tinggi dari mereka bertiga. Mata Ametrish malas milik Murasakibara Atsushi memandang Midorima lekat. Dia duduk di kursi ujung kiri.
Anak berkacamata itu mendengus. Sebenarnya hati kecilnya juga tidak berhenti memikirkan keberadaan Seijuurou yang menghilang entah kemana sekarang. Namun dia menolak mengakuinya. Tipikal tsundere.
"Dia juga tidak membawa handphone-nya, bukankah tidak biasanya dia ceroboh-ssu?" Kise melirik benda elektronik persegi merah yang tergeletak di meja hadapannya.
"Ck, menyebalkan sekali," decak Aomine kesal serambi mendaratkan pantatnya di sofa. "Yang bisa kita lakukan sekarang cuma menunggunya kembali."
"Kalau begitu, saya akan siapkan makan siang dulu," pamit Tanaka selaku butler mansion ini. Dia pergi menghilang di balik pintu. Meninggalkan empat anak yang duduk bungkam dengan pikirannya sendiri.
Sejenak suara televisi mengiringi keheningan di antara mereka. Tapi Kise melirik benda berkabel itu sebentar, sebelum membuka mulut memecah perhatian tiga orang lainnya.
"Aah ya, aku dapat telepon dari Momoicchi dua jam lalu," katanya.
"Satsuki?" Aomine menaikkan sebelah alis tebalnya.
Si kepala kuning mengangguk. "Dia juga ada di Kyoto sekarang, baru saja berangkat dini hari tadi untuk mengunjungi makam neneknya."
"Apa yang diberitahukan anak pink padamu?" tanya Midorima yang berkemeja hijau garis hitam horizontal dan celana hitam pudar. Murasakibara ikut menyimak.
"Momoicchi bilang, keadaan kota aneh-ssu," jawab Kise ambigu. Anak yang berkaus kerah putih, rompi coklat, dan celana senada ini menunjukkan raut wajah berbeda.
"Aneh bagaimana, Kise-chin?" Murasakibara menyipitkan matanya. Aomine menegakkan badan menatap sahabatnya.
"Waktu Momoicchi menyusuri jalanan Kyoto jam 6 pagi, dia melihat ada para pria aneh berkumpul di beberapa tempat gelap pusat kota-ssu. Jika dilihat dari pakaiannya, awalnya Momoicchi mengira kalau mereka pegawai kantoran biasa. Tapi, kemudian mereka bertingkah mencurigakan," jelas Kise panjang lebar.
Anak berkulit tan yang berkemeja hitam semi formal dan celana kain sewarna mengerjap. "Mencurigakan?"
Kise mengangguk yakin. "Kata Momoicchi, mereka seolah melakukan sebuah transaksi, seperti saling menukar koper yang isinya entah apa."
"Maksudmu seperti penyelundupan atau drug-dealing?" duga Midorima sambil menyerngitkan dahi.
"Yakuza?" tebak Murasakibara.
"Hn, kayaknya sih," angguk Kise. "Berita tadi itu, aku tidak tahu ada hubungannya atau tidak. Tapi, aku khawatir kalau-kalau Akashicchi terlibat hal begituan."
"Tidak mungkin Kise-chin, Aka-chin tidak akan terlibat masalah kecuali kalau dia dilibatkan," elak Murasakibara yang berkaus ungu, blazer abu-abu, dan celana hitam.
"Benar. Kekhawatiranmu terlalu jauh Kise," dukung Aomine.
"Lagipula, kerajaan bisnis keluarga Akashi tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan kotor seperti itu." tambah si surai hijau.
"Tentu saja aku tetap khawatir-ssu," Kise ngotot sambil menatap mereka tajam. Membuat ketiganya memandangnya heran. "Momoicchi—entah benar atau tidak, dia melihat tato di salah satu leher para pria itu."
"—Tato burung Phoenix merah, lambang keluarga Akashi."
Seketika ketiga anak lelaki lainnya membelalakkan mata kaget bukan main.
.
.
.
.
.
Sementara di tempat berbeda, tepatnya di kediaman para Swart Elfs yang berlokasi di daerah pinggiran Kyoto, Tetsuya berjalan pean melntasi lorong rumah bertigkat dua ke ruang keluarga.
"Akashi-kun sudah mulai makan?"
Wanita berambut coklat sebahu bertanya pada Tetsuyayang baru masuk ke dalam ruangan dimana mereka berada sekarang. Riko duduk berhadapan dengan Kagami di sofa empuk yang terletak di tengah ruang keluarga. Dia dan lelaki berambut merah jabrik itu menunggu pemuda blunette yang datang belakangan sehabis dari kamarnya yang ditempati Seijuurou.
Tetsuya menggeleng kecil. "…Dia tidur."
Kagami menaikkan alis uniknya heran. "Tidur lagi?"
Remaja berkulit pucat itu mendaratkan diri di sofa single lainnya. "Aku memakan energinya."
"APAA?!" Riko serta Kagami terkejut bersamaan.
"Kuroko-kun, kau tahu kondisi Akashi-kun masih lemah bukan?! Kenapa kau memakan energinya?!" sergah Riko menuntut penjelasan. Dia menegakkan badannya menatap Tetsuya tajam.
Tetsuya menyandarkan punggungnya di badan sofa. Dia menatap datar perempuan cantik di depannya. "Aku lapar Riko-san, sudah seminggu aku tidak makan," terangnya.
"Tapi, dia bisa koma, bagaimana pun manusia akan rentan bila tenaganya habis," sahut Riko.
"Sekuat itukah aroma energi bocah itu hingga sanggup mengundangmu, Kuroko?" Kagami mengerutkan keningnya.
"Aku sudah mengatakannya, Kagami-kun," Tetsuya memangku dagu di atas telapak tangan kanannya. "Akashi-kun sangat cocok dengan selera makanku."
Riko mendesah lelah. Dia sudah tahu kalau Tetsuya memiliki selera makan yang berbeda dari mereka. Swart Elfs satu ini sangat pilih-pilih mangsa. Kalau tidak cocok, Tetsuya akan berburu lagi hingga perutnya kenyang. Namun, tidak biasanya pemuda itu mempedulikan mangsanya. Selama ini Tetsuya selalu tak acuh pada manusia yang hidup atau mati karena energinya dimakan olehnya.
"Mendengar dari penjelasan Kagami-kun barusan, kau tertarik pada anak itu," Riko melipat tangannya memandang Tetsuya penuh atensi. "Kenapa?"
Tetsuya terdiam sejenak. "Selain aroma energinya yang sangat menggiurkan, dia juga menarik minatku."
"—Akashi-kun mempunyai mata yang dapat mengetahui segalanya, kekuatan yang hanya dimiliki seorang Apostle."
"Apostle, manusia yang terlahir sebagai pembawa pesan Tuhan. Keberadaannya bisa jadi musibah atau anugrah bagi kehidupan manusia," wanita bermanik madu itu meneruskan. "Tapi apa pedulimu?"
"Apakah bertemu orang yang terjun dari ketinggian lebih dari 100 meter tanpa menjerit ketakutan itu tidak menarik? Ditambah dia tidak takut bertemu mahkluk pendosa seperti kita?" tanya Tetsuya sarkas serambi tersenyum misteri.
Riko menghela nafas membenarkan.
"Anak itu keturunan Akashi, konglomerat kaya juga pebisnis Underworid yang ditakuti," Kagami menimpali. "Jujur saja, aku sebenarnya tidak tertarik pada anak itu karena aku tidak bisa membaui aroma energinya. Tapi Kuroko sudah memutuskan keinginannya untuk bersama bocah itu sementara waktu."
"Kau yakin?" Riko menoleh pada Tetsuya yang dibalas anggukan kecil. "Hhh, terserahlah. Bagiku selama kalian tidak melibatkanku dalam masalah serius, tidak apa. Tapi jangan buat anak itu menyesal nantinya."
"Kurasa Akashi-kun tidak akan menyesal."
Riko dan Kagami kembali menatap Tetsuya ganjil.
"Dia mungkin akan meminta bantuan kita untuk menyelesaikan masalahnya," bibir Tetsuya memainkan senyum penuh makna.
.
.
.
.
.
Gurat jingga yang menyatu dengan awan kelabu, menandakan bila sore telah menjelang. Salju masih turun berlahan. Memenuhi tiap tempat di Kyoto dengan warna putihnya.
Seijuurou mulai membuka kelopak matanya. Mengerjap membiasakan diri dengan cahaya lampu yang menyala terang. Dipijit pelipisnya pelan ketika merasakan pusing saat berusaha membangunkan diri. Namun niatnya batal karena sebuah tangan menahan pergerakannya.
"Jangan bangun dulu, berbaringlah lagi," perintah halus Tetsuya yang duduk di tepian ranjang sebelah kirinya.
Akashi cilik menuruti. Badannya memang serasa lemas tidak bertenaga. Menghela nafas panjang, dia membetulkan posisinya. Sejenak ia memutar pandangannya ke ruangan tempatnya berada. Masih di kamar yang sama. Tapi begitu melihat langit yang menggelap dari balik jendela, bibirnya mengeluarkan desahan kecil.
"Aku tidur seharian ya?" tanyanya serak khas bangun tidur.
"Ya," jawab pemuda Kuroko. "Sudah merasa baikkan?"
"Lemaas..." lirih anak lelaki itu mengucek matanya yang berkabut tipis.
Tetsuya menundukkan kepalanya sedikit. "...Maafkan aku Akashi-kun," ucapnya tiba-tiba, mata Aquamarine-nya menyorot dalam. "Sebelum kau jatuh tertidur tadi pagi, aku menghisap energimu saat aku mencium dahimu," jujurnya.
Iris merah delima Seijuurou bergulir padanya. "Kau—menghisap energiku, Tetsuya?"
Menghiraukan anak itu memanggil nama kecilnya secara kasual, remaja bersurai biru langit mengangguk pelan. "Ya, makanan kami para Swart Elfs adalah menghisap energi dari tubuh manusia. Selain itu, kami tidak bisa memakan makanan yang biasa manusia makan. Lidah dan perut kami tidak akan bisa menerimanya," jelas Tetsuya. "...Aku kelaparan, sudah seminggu belum makan dan aroma energimu terlalu sulit kuabaikan," tambahnya.
Seijuurou terdiam mencerna keterangan Tetsuya. Dia meniti tiap jengkal raut wajah datar pemuda di hadapannya, lalu memfokuskan diri menatap tepat manik nila itu. Sepasang iris Deep Scarlet-nyamemunculkankilatan aneh. Benaknya memburam, mulai memperlihatkan kejadian beberapa jam lalu. Dia melihat kala Tetsuya mengecup dahinya lama sampai dirinya jatuh mengantuk. Mahkluk itu menghisap energinya ketika bibirnya menyentuh kulit Seijuurou. Begitu tertidur, Tetsuya terus berada di dekatnya, menjaganya sampai terbangun seperti sekarang.
"...Aku sudah mengetahuinya," gumam Seijuurou menutup mata sebentar. Dia menghentikan aliran energi kasat mata dari kekuatannya agar tidak menyebar lebih jauh. Karena kekuatannya belum bisa dia kendalikan sepenuhnya dan mampu menguras tenaga.
Tetsuya memiringkan kepala sedikit, sempat menyadari kilat asing melintas di manik merah anak lelaki itu barusan. "Kau—membaca pikiranku?"
"Aku melihat kejadian tadi pagi melalui matamu," Seijuurou berbalik memandang intens. "…Kau bilang, aroma energiku sulit kau abaikan, Tetsuya?"
"...Ya," aku Tetsuya bernada monoton.
"Apa aroma energiku menggodamu, Tetsuya?" bibir Seijuurou membentuk seringaian kecil.
"…Sangat," iris Tetsuya melukis binar kenafsuan. "Harum energimu sangat menggiurkan bagiku, Akashi-kun," lanjutnya menarik sebelah tangan Seijuurou lembut, merasakan tekstur halus kulit putih yang hangat. "Aku memiliki selera makan yang berbeda dari teman-temanku. Kalau aku tidak mendapatkan makanan yang bisa membuatku puas dan nikmat, perutku tidak akan pernah kenyang,"
"Kalau begitu, rasa energiku cocok dengan lidahmu, eeh?" Seijuurou tersenyum jenaka.
Lelaki Swart Elfs itu tidak membalas. Hanya menyorot mata dalam seakan membetulkan perkataannya. Akashi cilik mendengus pelan. Mungkin dia bisa membicarakan niatnya sekarang.
"Kalau begitu, aku akan memberimu lebih, kau bisa memakan energiku sebanyak yang kau mau," ucap anak berambut api itu. Mengejutkan Tetsuya yang tidak pernah menduganya akan berkata demikian.
"Tapi dengan satu syarat," Seijuurou mengajukan keinginannya.
Tetsuya yang tergoda akan tawarannya, menyahut. "Apa itu?" kalau dia bisa mendapatkan makanan yang sesuai cita rasanya sekarang hingga seterusnya, mengapa dia harus menolak?
Manik delima Seijuurou menyiratkan kesungguhan. "Jadilah kaki tanganku," perintahnya bernada mutlak. Seakan mengandung keabsolutan sejati.
Remaja Kuroko tercengang sesaat. "...Alasannya?" tanyanya meminta penjelasan.
"Aku—ingin melawan Otou-san," kedua alis Seijuurou bertautan seakan menahan sesuatu. "Seperti yang kau tahu, aku tidak tahu tentang apapun yang terjadi dalam keluargaku. Bisnis, hubungan, kebersamaan, komunikasi, semua hal yang kulihat di mataku selama ini rupanya hanya kebohongan saja, aku tertipu karena tidak pernah menyelidikinya."
"—kau menyadarinya akibat kejadian malam itu?"
Seijuurou bungkam. Kembali menatap Tetsuya lekat. "Otou-san menginginkan kematianku. Dia terganggu dengan keberadaanku yang dianggap terkutuk karena aku memiliki kemampuan mata ini. Selama masih hidup, aku akan terus diburunya agar aku tidak menganggunya mencapai tujuannya."
"Aku ingin tahu kebenarannya tentang apa yang selama ini dia sembunyikan dariku. Makanya, aku akan mengikuti permainan yang dirancang olehnya dengan taruhan nyawa," putra kedua Akashi menyuarakan keputusannya. Yakin dengan ketetapan batin yang diambilnya. "Karena itu—" tangan mungilnya menggenggam tangan Tetsuya erat. "Aku membutuhkan bantuanmu, Tetsuya," ungkapnya tulus.
Tetsuya menangkap perhatiannya. Iris langitnya sanggup melihat maksud di balik tatapan Seijuurou. Anak itu menyiratkan kalimat bahwa dirinya menginginkan sesuatu yang lebih. Tetsuya benar, bahwa Sijuurou pasti membutuhkan bantuannya. Namun, dia juga tidak memungkiri bila hatinya sedikit menghangat mendengar ucapan tadi. Kata-kata jika dia dibutuhkan. Sudah lama dia hidup sebagai Swart Elfs tanpa pernah memiliki orang yang menginginkannya. Sepertinya hidupnya yang hambar akan berwarna jika dia mengikuti anak ini.
"…Baiklah, aku akan mengikat perjanjian denganmu," ucap Tetsuya menyetujui.
Mata Seijuurou berbinar. "Arigatou ne, Tetsuya," senangnya seraya tersenyum tipis.
Tetsuya membulatkan mata terkejut kecil. Untuk pertama kalinya dia melihat senyum yang terlukis manis di bibir lelaki mungil itu. "Douita, Akashi-kun," balasnya tersenyum kalem.
Seijuurou menghela nafas panjang. Rasanya badannya makin lemah, apalagi dia mulai merasa lapar dan panas. Tetsuya menyadari butiran keringat yang menggantung di pelipis wajahnya. Jemari remaja itu terulur menyekanya berlahan.
"Suhu badanmu meningkat lagi," kata pemuda Kuroko kala telapak tangannya menyentuh kening Seijuurou. "…Akan kuambilkan makanan, setelah itu kau minum obat dan istirahat," lanjutnya.
"Hng…" gumam Akashi sambil memejamkan mata.
Tetsuya bergegas keluar kamar menuju ruang keluarga. Dia menemui Kagami, Himuro—sudah pulang kerja—, dan Riko yang duduk berbincang di sofa. Segera dia menghampiri kantung plastik hitam yang ditaruh di meja hadapan ketiganya.
"Kuroko-kun?" Riko mengerjap waktu Tetsuya terburu mengambil bungkus plastik tersebut. Berisi bento dan sebotol air mineral yang baru dibelikan Himuro waktu pulang kerja, khusus untuk Seijuurou.
"Akashi-kun sudah bangun, aku akan bawakan ini untuknya," kata Tetsuya memandang ketiganya bergantian.
"Dia sudah baikkan?" tanya pemuda bersurai raven.
"Tubuhnya masih lemah..."
"Apa aku perlu memeriksanya lagi?" Riko bergerak untuk bangkit.
"Mungkin nanti, Riko-san. Dia perlu makan dan minum obat dulu," tolak Tetsuya halus.
"Baiklah, kalau begitu kami akan menjenguk nanti," ujar Riko tersenyum mengerti.
"Kuroko, kalau bisa, tanyai anak itu tentang nomor telepon orang yang dipercayainya. Kita perlu memberitahu keadaannya saat ini," kata Kagami.
Tetsuya ber-hm ria mengiyakan. Dia melangkah kembali ke kamarnya dengan kantung plastik beserta obat di tangan. Ketika memasuki ruangan, lelaki berkulit pucat itu langsung menuju Seijuurou yang terbaring menunggunya.
"Akashi-kun," panggilnya menepuk ringan pipi anak mungil itu.
Seijuurou membuka kelopak matanya yang dirasa memberat, ia menghembuskan nafas panjang. "—Hn?"
"Ayo makan dulu," suruh Tetsuya begitu mendudukan diri di sampingnya. Dia meletakkan kantung plastik bento, botol air, dan obat di meja kecil sisi ranjang, kemudian membantu Seijuurou bangun serta bersandar di papan nakas. Tangannya berpindah menyodorkan kotak bento dan sumpit.
Seijuurou menerimanya. Mulai menyumpit sedikit salad sayur yang bersandingan dengan nasi putih, tempura, skalop dalam satu kotak bento berukuran sedang. Dia memakannya hati-hati, tanpa mengindahkan rasa pahit yang menjalar di indra perasanya karena pengaruh tubuh lemahnya.
Memperhatikan anak cilik itu sebentar, Tetsuya lalu beranjak menuju lemarinya untuk mengambil pakaian baru. Seijuurou butuh mengganti piyama yang dikenakannya sekarang karena telah basah oleh keringat. Kemudian, dia keluar mengambil sebaskom besar air hangat dan handuk untuk membasuh badan anak itu.
"Sudah selesai?" Tetsuya mengerutkan kening samar begitu kembali dan melihat Seijuurou meletakkan bento yang tinggal separuh di meja.
Seijuurou mengangguk pelan. Rasa mual membuat perutnya menolak makan lebih. Tidak mengkomplain, Tetsuya berpindah menaruh baskom di lantai bawah samping ranjang seraya mendudukan diri di sisi Seijuurou lagi. Anak berambut merah mengerti gesturnya. Dia menyibak kain selimut dan melepas baju piyama atasannya. Tetsuya membasahi handuk dengan air di baskom tadi, kemudian mengusapkannya ke badan dan punggung yang berkeringat milik Seijuurou. Membasuhnya hingga bersih.
"Nee, Tetsuya…"
Pemuda Kuroko tidak menjawab, masih fokus pada tangannya yang bekerja membersihkan tubuh anak itu. Tapi Seijuurou tahu, dia mendengarkan.
"Maukah kau tinggal bersamaku?"
Gerakan Tetsuya berheti sesaat sebelum melanjutkan. "…Mengapa kau harus bertanya, Akashi-kun?"
Manik delima Seijuurou menatap Tetsuya dalam.
"Aku sudah membuat perjanjian denganmu, jadi aku harus berada di sisimu mulai sekarang," ungkap Tetsuya menyambut tatapannya. "Aku adalah 'kaki dan tanganmu', aku tidak akan pernah meninggalkan sisimu sampai keinginanmu terkabulkan," tambahnya menampakkan sorot mata dan senyuman teduh. Sikap yang tidak pernah Tetsuya tunjukkan pada siapapun selama ini. Bahkan pada para sahabatnya.
Seijuurou mengerjap, sebelum membalas tersenyum senang. "Aku mempercayaimu, Tetsuya…"
.
.
.
.
.
≈ᴗ≈To Be Continued≈ᴗ≈
.
.
.
Gomenee… lama update karena aku tumbang gara-gara demam…ToT
Chapter ini semoga tidak mengecewakan karena tiba-tiba scene yang harusnya kutulis hilang gitu aja di benakku…
Arigatou review n kritikkannya… ah kumohon mina-san mau mengoreksi kesalahan yang kubikin di chapter ini…
See you!
