Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya

Pairing: Always NaruSasu

Rated: M for Mature and Sexual Content

(Don't Like Don't Read)

Lemon Smoothie With Topping Naruto White Cream and Bottom Sasuke Moaning (#plak Author gaje XD)


My Guardian Dog

.

By: CrowCakes

~Enjoy~


.

.

_Kediaman Uchiha, pukul 16.00 sore_

.

Setelah pulang dari sekolah, Sasuke langsung menuju kamar dengan panik. Mengunci pintunya dan segera masuk ke dalam selimut dengan tubuh gemetar. Seharian ini ia menolak berbicara dan berdekatan dengan Naruto. Tentu saja karena kejadian di pemakaman tadi pagi.

Sasuke melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau pusara itu bertuliskan nama Uzumaki Naruto. Tidak mungkin ada dua orang yang memiliki nama dan marga yang sama. Ia yakin kalau Naruto 'si anjing penjaga' itu merupakan hantu.

Kaget dengan pemikirannya sendiri, Sasuke mencoba menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bagaimana bisa ia menyimpulkan kalau Naruto itu hantu? Ini jaman modern, bukan jamannya percaya takhayul. Pasti ada penjelasan secara fisika ataupun kimia bahkan matematika di setiap kejadian ini, Sasuke yakin itu!

Mungkin saja, Naruto itu berasal dari sebuah percobaan laboratorium pemerintah yang menangani peng-kloning-an manusia dengan beberapa zat, enzim serta molekul kimia untuk membuat DNA yang mirip dengan kode nama serupa, kemudian dengan perhitungan matematika yang cermat dia akhirnya bisa hidup di dunia. Selanjutnya dengan hukum fisika kuantum, para ilmuwan mencoba membelokkan waktu sehingga Naruto bisa dikirim keseluruh jaman dari masa lalu hingga masa depan untuk mengubah revolusi dunia.

Sasuke berhenti menyimpulkan spekulasinya sampai disitu. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengerang keras. "For god's sake! Ini bukan film science fiction! Apa yang aku pikirkan sih?! Kenapa otakku bisa kacau begini?!" Kesalnya seraya menenggelamkan kepala di bantal.

"Apa yang harus aku lakukan?" Sasuke kembali bergumam pelan, frustasi dan depresi. "—Aku yakin kalau Naruto itu manusia normal. Dia bisa aku sentuh, jadi tidak mungkin dia adalah hantu." Lanjutnya lagi.

"Kalaupun dia hantu, seharusnya Itachi-nii—" Kalimatnya terputus secara tiba-tiba saat kesadaran menampar otaknya dengan kuat. Sasuke membelalak dengan bibir yang tersenyum lebar. "—Benar sekali! Kalau Naruto adalah hantu, maka Itachi-nii bisa membuktikannya! Aku harus berbicara dengan Itachi-nii segera!" Ucapnya antusias.

Pemuda raven itu turun dari ranjang dan segera berlari ke lantai bawah melewati anak tangga. "Itachi-nii!" Ia berteriak memanggil. Mencari pemuda Uchiha sulung itu di setiap ruangan. Dapur, kamar, bahkan toilet, tetapi sang kakak tidak ditemukan sama sekali.

Setelah cukup lelah, Sasuke memilih menghempaskan tubuhnya di sofa. "Benar juga, aku lupa kalau hari ini Itachi-nii bekerja di kuil." Gumamnya pelan dengan desahan pelan.

Mungkin akan kuberitahu setelah Itachi-nii pulang, katanya dalam hati.

.

.

.

_Kuil Konoha, pukul 16.30 sore_

.

Tempat itu merupakan bangunan sederhana yang cukup rapi dengan gerbang yang berada di depannya, sebagai pintu masuk menuju kuil. Berbentuk dua palang dengan garis vertikal diatasnya serta berwarna merah terang. Khas kuil shinto.

Itachi terlihat duduk di sisi samping kuil sembari menghirup udara yang segar. Ia merenggangkan ototnya sejenak setelah bekerja untuk membersihkan bagian dalam kuil. Mata hitamnya melirik sekilas pada beberapa gadis miko yang membersihkan halaman depan kuil. Gadis-gadis itu berpakaian kimono dengan atasan putih dan bawahan berwarna merah terang.

Cukup cantik, batin Itachi singkat. Kemudian kembali bersantai sambil melihat pepohonan hijau yang ditanam di sekitar kuil. Sejenak ia menikmati pemandangan bernuansa alam itu, tetapi bunyi gemerisik semak disebelahnya langsung menyita seluruh perhatian pemuda itu.

Itachi menoleh dan mendapati sesosok anjing ras Shiba Inu sedang menatapnya dalam diam. Tubuh hewan itu cukup besar dengan bulu berwarna cokelat di bagian punggung dan berwarna putih pada bagian dada hingga perut. Sosok anjing itu sangat bersih dan cukup menggemaskan dengan bulu lebat serta tubuh gempalnya, membuat siapa saja ingin memeluknya dan bermain dengannya.

Anjing itu menatap Itachi dengan pandangan cerah bersahabat yang dibalas oleh sang Uchiha dengan senyum tipis.

"Ah!—Naruto-kun rupanya." Itachi menyapa ramah. Pemuda itu melambai kecil, menyuruh anjing tadi untuk mendekat.

Sang anjing melangkah pelan. Setiap langkah yang diambilnya, membuat tubuhnya sedikit demi sedikit berubah menjadi sosok manusia hingga akhirnya menampilkan wujud seorang pemuda berambut spiky pirang dan bermata biru cerah. Uzumaki Naruto.

Sang Uzumaki berdiri telanjang di depan Itachi tanpa pakaian apapun, untung saja para gadis miko tadi sudah pergi dari beberapa menit yang lalu, jadi Naruto tidak perlu khawatir harus telanjang bulat di tempat umum. Ia menggaruk rambutnya dengan canggung. "Well, aku kesini untuk berdoa." Ucapnya.

Itachi mendengus geli dan menyuruh Naruto untuk duduk disampingnya. "Kau selalu berdoa setiap hari kesini. Dan doamu selalu sama, yaitu untuk kesehatan dan perlindungan bagi Sasuke. Apa kau tidak bosan?" Tanyanya santai.

Naruto tertawa. "Bagaimana aku bisa bosan? Sasuke selalu melindungiku dan menjagaku saat aku masih hidup."

"Yeah, tapi dia tidak bisa menyelamatkanmu dari kematian." Sela Itachi lagi. Pemuda itu mengambil rokok dan menyelipkannya di sela bibir. "—Kau darimana? Kenapa telanjang seperti itu?"

"Aku dari pemakaman. Mengunjungi makamku sendiri. Dan soal telanjang ini, aku memilih berubah menjadi anjing biar cepat sampai di kuil. Soal pakaian, bisa aku ambil nanti." Jelasnya panjang lebar.

Itachi tidak mengatakan apapun dan memilih menyulut rokoknya kemudian menghisapnya dalam. "Bagaimana kau mati?" Ia membuka pembicaraan. "—Aku cukup penasaran dengan cara kematianmu pada saat pertama kali melihatmu di depan rumahku. Seekor roh anjing yang menyamar menjadi manusia. Bukankah itu menggelikan?" Lanjutnya lagi seraya menoleh menatap Naruto.

Sang Uzumaki terkekeh kecil. "Kematian anjing biasa. Aku ditabrak mobil gara-gara mengejar tulang."

"Tulang, huh? Kau pikir aku percaya cerita murahan seperti itu?" Sela Itachi lagi. "—Aku ingat, dua bulan yang lalu, Sasuke mengalami luka gores karena hampir mati tertabrak truk besar. Ia mengatakan kalau seekor anjing mati karena melindunginya." Pemuda itu menghentikan ocehannya dan melirik Naruto.

"—Apakah itu kau, Naruto?" Tanya Itachi lagi, penuh penegasan dan rasa penasaran.

Naruto tidak membalas. Ia hanya menunduk seraya memutar memori otaknya ke waktu dua bulan yang lalu. Tepatnya saat bertemu pertama kali dengan seorang Uchiha Sasuke.

.

.

_FlashBack_

.

Naruto, seekor anjing jenis Shiba Inu terlihat mengais sampah di samping trotoar. Selama ini ia hidup dengan seorang nenek-nenek tua renta baik hati yang selalu memberinya makan, bahkan wanita tua itu memberikan kalung anjing yang bertuliskan namanya. Uzumaki Naruto.

Tetapi setelah nenek itu meninggal, kehidupan Naruto berubah menjadi sulit. Ia terus mengais sampah untuk bertahan hidup. Bahkan terpaksa mencuri roti daging dari toko makanan.

Dan sekarang, Naruto si anjing terlihat dipukuli oleh beberapa siswa tepat disamping Gakuen Konoha. Hal ini hanya karena permasalahan sepele, yaitu Naruto tidak sengaja menjatuhkan tong sampah hingga mengenai sepatu para gerombolan yang sedang menongkrong di sampingnya. Naruto berusaha mengonggong dan menggeram galak, tetapi tindakannya malah membuat segerombolan siswa berandalan itu semakin marah dan memukulnya dengan brutal.

Naruto hanya bisa pasrah saat tubuhnya mulai terluka dan kepalanya berdarah. Ia bersiap mati, namun seruan seseorang membuat gerombolan itu menoleh. Anjing tersebut pun ikut menoleh dan mendapati sosok Sasuke yang berdiri beberapa meter di hadapannya sedang menggenggam ponselnya kuat-kuat.

"Aku akan menelepon polisi kalau kalian masih menghajar anjing itu." Desisnya tajam penuh ancaman.

Gerombolan tadi bersungut kesal serta mendecih marah, kemudian memutuskan pergi sebelum Sasuke menelepon para satuan polisi.

Sang Uchiha terlihat lega menyadari bahwa gertakannya berhasil. Ia mendekat dan membelai kepala anjing tadi dengan lembut.

"Kau pasti ketakutan ya? Tenang saja, mereka sudah pergi." Ucap Sasuke seraya tersenyum simpul.

Naruto menjilat wajah Sasuke penuh rasa terima kasih kemudian menggonggong senang. Sasuke membalasnya dengan belaian sayang. Mata onyx nya bisa melihat bahwa tubuh anjing itu sangat kurus dan kotor.

"Apa kau lapar? Aku punya makanan, kau mau?" Tawarnya sembari menyodorkan bekal makanannya ke arah moncong anjing tadi. "—Makanlah. Aku yakin kau suka." Perintahnya lagi dengan lembut.

Naruto menggonggong satu kali, mengucapkan terima kasih. Kemudian memakan habis bekal Sasuke tanpa sisa. Sang Uchiha hanya menatap anjing itu dengan senyum kecil sembari menepuk kepala hewan itu dengan lembut.

"Bagaimana? Enak 'kan? Itachi-nii yang membuatnya. Kau harus berterima kasih padanya nanti, oke?" Ujar Sasuke lagi. Ia kemudian beralih untuk melirik jam tangannya sekilas. "Oh well, aku hampir terlambat, aku harus pergi dulu. Sampai jumpa nanti, doggy." Ucapnya riang dan bergegas menjauh seraya berlari menuju gerang sekolah.

Sejak saat itu, Naruto selalu berada di depan gerbang Gakuen Konoha untuk bertemu dengan Sasuke. Mereka sering berjalan di taman dan bersenang-senang bersama. Tapi tak ada satu pun keinginan Sasuke untuk melihat kalung nama Naruto.

Pernah suatu kali saat mereka bersantai di taman. Sasuke hanya duduk diam di bangku sambil sesekali menepuk kepala anjing itu dengan pelan.

"Kau tahu, doggy? Mengetahui nama orang lain akan membuat kita semakin dekat dengan orang tersebut, namun juga bisa membuat sedih saat berpisah nanti. Jadi lebih baik tidak saling mengenal agar kita tidak sedih, oke?" Ujarnya dengan gumaman lirih.

Naruto si anjing hanya menggonggong satu kali. Entah mengerti atau hanya sekedar bersuara menjawab ucapan pemuda raven itu. Yang pasti, Naruto bersumpah, apapun yang terjadi, ia akan melindungi Sasuke.

.

_End Of Flashback_

.

.

"Jadi begitulah, aku dan Sasuke terus bersama hingga kecelakaan itu pun terjadi.—" Naruto mengakhiri ceritanya. "—Untung saja saat aku mati, ada seorang kakek-kakek yang berbaik hati mau memakamkanku di pemakaman umum dengan mengukir namaku disana." Lanjutnya lagi.

Itachi menghisap rokoknya yang kedua. Ekspresinya tetap tenang. "Jadi, kau mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan Sasuke, begitu?" Pemuda itu lebih tertarik membicarakan kematian sang Uzumaki dibandingkan mendengarkan cerita tentang kakek yang baik hati.

"Tepat sekali." Naruto melempar cengirannya. "—Seharusnya saat itu aku sudah berada surga. Tetapi aku memohon pada Tuhan agar memperbolehkanku menjadi manusia untuk sementara waktu." Jelasnya panjang lebar.

"Memohon pada Tuhan?" Tanya Itachi seraya mengerutkan alisnya, tidak mengerti.

"Ya. Aku meminta waktu sembilan hari di dunia manusia untuk menjaga Sasuke, setelah itu aku rela diseret menuju surga." Ucap Naruto.

"Hmph—menarik." Itachi menjawab. "—Kenapa kau tidak meminta satu tahun atau sepuluh tahun?"

Sang Uzumaki tertawa sebentar. "Inginnya sih begitu, tetapi itu sudah keputusan dari Tuhan, aku tidak bisa merengek meminta lebih."

Pemuda sulung Uchiha itu melepaskan rokok dari bibirnya dan membuangnya jauh-jauh. "Jadi waktumu sekarang sisa berapa hari?" Tanyanya lagi, masih penasaran.

Naruto terdiam sebentar sebelum menghitung jari tangannya. "Mungkin sekitar tujuh atau enam hari lagi. Entahlah, aku lupa." Sahutnya.

Itachi mengangguk paham. "Kalau begitu, sebaiknya kau meluangkan waktumu bersama dengan Sasuke lebih banyak lagi."

Naruto menoleh bingung. "Bagaimana caranya?"

"Well, malam ini menginaplah di rumahku. Lagipula kedua orangtuaku sibuk berjalan-jalan di luar negeri, dan tidak akan pulang dalam waktu dekat." Sahut Itachi lagi.

"Bolehkah?" Tanya pemuda pirang itu dengan mata berbinar cerah.

"Tentu saja boleh." Itachi membalasnya dengan tepukan lembut di kepala Naruto. "—Aku yang akan menjelaskan semuanya pada Sasuke nanti. Termasuk soal dirimu yang ternyata roh anjing itu." Sambungnya. Yang disambut anggukan antusias sang Uzumaki.

.

.

.

Ternyata memberi penjelasan pada Sasuke sama sulitnya dengan memberi pelajaran kimia pada anak sekolah dasar. Pemuda raven itu masih ketakutan dan enggan berdekatan dengan Naruto, hingga Itachi berusaha selembut mungkin memberi pengertian pada adiknya itu.

Itachi bahkan memberi bukti pada Sasuke dengan menyuruh Naruto untuk berubah menjadi anjing untuk sesaat. Setelah itu, barulah Sasuke percaya dan mulai menerima Naruto kembali.

"Jadi, kau anjing yang waktu itu, huh?" Tanya Sasuke sembari menatap sang Uzumaki—yang saat itu telanjang—dengan lekat.

"Yup!" Naruto kembali berpakaian.

"Dan kau juga yang menyelamatkanku dari kecelakaan?"

"Ya, benar sekali." Jawab Naruto dengan senyum ceria.

"Kalau kau benar roh anjing, kenapa kau bisa disentuh dan dilihat oleh manusia? Itu sangat tidak masuk akal." Sela Sasuke lagi.

Naruto mengangkat kedua bahunya, tidak tahu. "Well, itu keputusan Tuhan. Jangan tanya padaku."

Sasuke mendesah pelan, mencoba mempercayai semua perkataan pemuda pirang itu. Kemudian menunduk dengan bibir saling mengigit, getir. "Jadi benar, kalau kau adalah anjing yang waktu itu? Dan kematianmu adalah karena kecerobohanku? Aku minta ma—"

"Tidak perlu dipikirkan, Sasuke. Sudah kewajibanku melindungimu." Sela sang Uzumaki cepat. Membuat pemuda raven itu sedikit lega dari perasaan bersalah. Ia menepuk kepala Naruto dengan lembut.

Itachi hanya tersenyum melihat kedekatan Sasuke dan Naruto lagi. Ia menepuk punggung sang adik dengan pelan. "Sebaiknya kau ajak Naruto ke kamarmu. Sudah waktunya untuk berisitirahat." Perintahnya.

Sasuke mengangguk dan segera berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua, tentu saja diikuti oleh Naruto yang mengekor di belakang. Sang Uchiha menghempaskan tubuhnya di atas kasur sedangkan Naruto memilih duduk di lantai dengan sopan.

"Kalau kau lapar, ada beberapa cemilan di atas meja belajarku." Ucap sang Uchiha sambil menunjuk malas ke tumpukan snack ringan dan kaleng soda yang ada di mejanya.

Naruto hanya mengangguk paham namun tidak bergerak sama sekali dari alas duduknya. Ia hanya menatap Sasuke yang mulai memejamkan matanya di atas kasur, kelelahan.

"Sasuke—" Naruto memanggil. "—Aku tidur dimana?" Tanyanya lagi.

Sasuke yang tadinya hampir tertidur langsung membuka kelopak matanya. Benar juga, aku belum menentukan dimana Naruto akan tidur, batinnya dalam hati.

"Uhm, kau tidur di—" Sasuke masih berpikir, menatap berkeliling kamarnya. Tidak ada futon maupun karpet, hanya lantai dingin saja. Tidak mungkin ia tega menyuruh 'anjingnya' tidur di lantai kamar. Itu keterlaluan.

Sedikit terpaksa, Sasuke akhirnya menepuk sebelah ranjangnya. "Tidurlah bersamaku. Agak sempit, tetapi cukup hangat. Kemari." Ajaknya lagi sembari menjulurkan tangan.

Naruto menampilkan cengiran lima jarinya, kemudian menerima juluran tangan tersebut. Ia menidurkan dirinya di samping sang Uchiha. "Kasur dan bantalmu sangat wangi, Sasuke. Kau memakai parfum apa?" Tanya pemuda pirang itu, polos.

Sasuke mendelik galak. "Kalau kau berkomentar tidak jelas lagi, aku akan menendangmu dari ranjangku." Sinisnya.

Sang Uzumaki meneguk air liurnya ketakutan. "Maaf." Ujarnya.

Pemuda raven itu mendengus geli dan menepuk kepala Naruto dengan lembut. "Aku hanya bercanda, doggy." Sahutnya lagi. "—Aku tidak mungkin menendangmu dari kasur. Kau sudah menyelamatkanku dari kecelakaan, Dobe."

Naruto tersenyum lebar, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke. "Itu tugasku sebagai anjing, Sasuke." Bisiknya seraya menjilat pipi sang Uchiha, membuat pemuda raven itu mendorong wajah Naruto menjauh.

"Eww—air liurmu, idiot! Hentikan! Kau bukan anjing sekarang." Tukasnya cepat, berusaha menjauhkan lidah sang Uzumaki dari wajahnya.

Naruto tidak peduli. Ia terus menjilat pipi, hidung, mata, bahkan leher sang Uchiha. Entah sebagai bentuk terima kasih seekor anjing atau ia hanya terlalu senang berdekatan dengan Sasuke. Namun Naruto sadar, bahwa menjilat pemuda raven itu membuat libidonya terpompa. Tipikal manusia.

Sasuke mengerang tidak suka. "Hentikan, Dobe! Wajahku basah!" Sinisnya.

"Aku anjing. Sudah tugasku untuk menjilat." Sela Naruto sambil menahan kedua tangan Sasuke untuk terus berada di kasur, membuatnya untuk tidak berontak.

"Kau sekarang manusia! Henti—Hmphh!" Belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, lidah Naruto sudah bergeriliya masuk ke dalam mulutnya. Bergerak liar dan memainkan air liurnya di dalam sana.

Sasuke membelalakkan matanya terkejut, tidak menyangka aksi Naruto akan se-ekstrim ini. Tangannya berontak, berusaha mendorong tubuh pemuda itu sekuat tenaga. Namun segala usahanya nihil, kekuatan Naruto seperti sebuah tembok yang tidak bisa digerakkan.

Sang Uzumaki mulai melepaskan ciumannya saat paru-parunya berontak meminta udara. Ia bernapas sejenak seraya menatap Sasuke yang tengah mendeliknya dengan galak.

"Apa yang—hhh—kau lakukan, Dobe?! Kau ingin membunuhku, hah?!" Kesal Sasuke. Ia mencoba menyingkirkan tubuh tan itu dari atas badannya. "—Menyingkir dariku. Aku mau tid—"

"Lagi." Naruto memotong cepat.

Sasuke mendongak heran. "A—Apa? Apanya yang lagi?"

Naruto tidak membalas dan hanya menatap tubuh Sasuke yang berbalut kemeja tidur dengan intens. Sang Uchiha merasakan hawa dingin mulai merayap ke tengkuk lehernya. Firasat buruk. "Tidak, Naruto! Jangan pernah memikirkan hal kotor. Jangan!" Tegasnya.

Namun perintah pemuda raven itu hanya sebuah angin lalu di telinga Naruto. Sang Uzumaki lebih memilih mengikuti libidonya dibandingkan 'majikannya'. Ia kembali mencondingkan tubuhnya dan menangkap bibir Sasuke kembali. Kali ini lidah Naruto bergerak agresif, ia menjilat dan menghisap bibir ranum itu dengan rakus. Tidak memberikan satu kesempatan pun bagi sang Uchiha untuk meronta.

Sasuke kembali berontak, ia berusaha mempertahankan harga dirinya sekuat tenaga. Namun sayangnya, mempertahankan harga diri tidak semudah mempertahankan tubuhnya dari jamahan Naruto. Terlebih lagi ia mulai mendesah saat pemuda pirang itu menyentuh titik sensitif rongga mulutnya, tepat di atas langit-langit mulutnya.

Naruto yang mendengar erangan kecil dari sang Uchiha hanya bisa tersenyum senang sembari tetap mempertahankan cumbuannya di bibir mungil itu. Ia bermain dengan decakan air liur dan lidah Sasuke, berdansa dengan iringan lenguhan serta desahan yang memompa libido.

Sasuke mulai berhenti meronta saat ia sadar kalau percuma saja melawan keinginan Naruto yang memiliki tenaga anjing seperti ini. Ia hanya bisa pasrah saat pemuda pirang itu mulai bergeriliya masuk ke dalam kemeja tidurnya, mencubit dua tonjolan pink yang berada di balik sana.

"Nghh!—Stop—" Sekuat tenaga Sasuke mempertahankan sisa kewarasannya. Tetapi tubuhnya sama sekali tidak mau bekerja sama. Tonjolan putingnya mulai mengeras saat Naruto memilinnya dengan lembut, sesekali menariknya dengan gemas.

Pemuda pirang itu mendengus keras layaknya anjing di masa birahi. Ia melepaskan cumbuannya di bibir Sasuke dan memasukkan kepalanya ke dalam kemeja pemuda raven itu. Meraup puting sang Uchiha dan menghisapnya kuat-kuat.

"Ghkk!" Sasuke tersedak saat Naruto memainkan tonjolan pink-nya dengan liar. Hisapan, kuluman dan gigitan merupakan aksi sang Uzumaki untuk menggoda nafsu pemuda Uchiha itu.

Sasuke menyentakkan kepalanya kebelakang dengan menggigit bibirnya kuat-kuat. Kemudian membusungkan dada untuk memberikan akses bagi Naruto untuk mendominasi kedua putingnya.

Melihat kepasrahan yang ditunjukkan oleh Sasuke, mau tidak mau membuat Naruto menampilkan senyum kemenangan. Tangannya mulai bergerak untuk melepaskan kemeja yang dipakai oleh Sasuke dengan hati-hati. Setelahnya, ia melepaskan bajunya sendiri, menampilkan enam otot yang terlatih di bagian perut, serta kulit tan eksotis yang berbalut keringat. Membuatnya terlihat gagah dan menakjubkan.

Aroma maskulin menguar dari tubuh sang Uzumaki. Menawarkan feromon yang memikat gairah Sasuke.

Pemuda raven itu yakin kalau feromon hanya bisa memikat lawan jenis dan bukan sesamanya. Mungkin saja, feromon Naruto lebih kuat dibandingkan manusia biasa hingga bisa memikat siapa saja yang mengendus aroma maskulinnya. Benar-benar mengerikan!—Sasuke harus hati-hati!

Sang Uchiha mundur ketakutan. Ia tidak ingin terjebak oleh pesona Naruto. "Tu—Tunggu, Dobe! Aku memerintahkanmu untuk berhenti sekarang! Aku majikanmu dan kau anj—Hmphh!" Kalimat protesnya terhenti saat Naruto menutup mulut pemuda itu dengan tangannya.

"Berhenti bicara—hhh—seekor anjing tidak bisa menahan libidonya, Teme. Kau harus tahu itu." Ucapnya dengan nada rendah dan berat, menggetarkan saraf pendengaran sang Uchiha.

Sasuke mencoba menggeleng ngeri saat tangan Naruto kembali bergeriliya ke selangkangannya. Mencoba melepaskan celana tidurnya. "Hmmph!—Nghmpp!"

"Shhh—Diamlah, Teme. Suaramu bisa terdengar oleh Itachi." Jelas Naruto seraya melemparkan celana pemuda raven itu ke lantai, tidak peduli. Membiarkan sang Uchiha telanjang tanpa kain sehelai pun di tubuh putih polosnya itu. Memperlihatkan kejantanan yang setengah menegak dengan ujung yang licin.

Sangat menggoda. Benar-benar menggoda.

Naruto menjilat bibirnya hingga basah. Kilatan nafsu tercetak jelas di iris biru pemuda itu, siap menerkam siapa saja yang ada dihadapannya. Dan kali ini, Sasuke lah yang harus menjadi korbannya.

Pemuda pirang itu mendekat, mempersempit jarak mereka sehingga Sasuke bisa merasakan bunyi detak jantung milik Naruto. Berdegup sangat cepat dan keras. Terkesan menggebu-gebu tidak sabaran.

Sedikit panik, Sasuke menjauhkan tangan Naruto dari mulutnya. "Dobe, cukup bercandanya! Hentikan! Dasar anjing nakal!" Bentaknya keras.

Sayangnya, gertakan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh Naruto. Ia malah semakin mendekat dan kembali meraup bibir Sasuke—lagi.

Cumbuan diberikan, jilatan dimainkan dan hisapan dilakukan, semua hal itu membuat Sasuke mengerang kecil. Rona merah dengan cepat merayap ke pipi pucatnya dan air liur menetes secara perlahan melalui sela dagunya. Ia bahkan bernapas tersengal-sengal saat harus melakukan pagutan yang lebih intim.

Naruto menjilat lidah Sasuke, turun ke leher dan berakhir di dada. Dua puting dilahap dengan rakus oleh sang Uzumaki. Memberikan sensasi menggelitik yang menyenangkan.

Sasuke mendesah sekali lagi, kenikmatan itu melemparkan akal sehatnya dan menarik nafsu birahi. Membuat kejantanannya menegak dengan tetes precum di ujungnya.

Naruto yang melihat itu langsung menggapai penis Sasuke dan memainkan lubang urin sang Uchiha. Menggeseknya pelan dan sesekali menepuknya dengan gemas. Benang precum saling terhubung antara ujung jari Naruto dan kejantanan pemuda raven itu. Menampilkan pemandangan yang sangat erotis.

"Kau—hhh—basah—" Akhirnya Naruto bersuara. Napasnya semakin berat karena menahan libido.

"Henti—Khh!—Hentikan, Dobe! Cukup!" Sasuke mendelik gusar. Tangannya mencoba menjauhkan jari Naruto yang menggesek ujung penisnya. Namun segala usahanya tidak berhasil. Pemuda pirang itu cukup kuat mempertahankan diri, ia bahkan mulai mengocok organ vital Sasuke dengan cepat. Membuat sang Uchiha tersedak kaget.

"Ahhk!—Naruto, Stop! Ghhk!" Tubuh Sasuke bergetar hebat. Kocokan itu membuat sengatan hebat ke seluruh persendiannya hingga ujung kejantanannya. Memompa cairan sperma dari bola testikelnya.

Tangan tan Naruto yang bebas berusaha menarik leher Sasuke dan membawanya untuk bercumbu lagi. Kembali hisapan dan jilatan dilakukan, meredam desahan pemuda raven itu.

"Aku—hmphh!—ingin mendominasimu." Kalimat singkat Naruto membuat Sasuke terbelalak disela ciuman mereka.

"Kau—apa?"

"Mendominasi." Ulang Naruto tegas.

Sasuke menggeleng panik. Sebelum sempat ia bergerak menjauh, Naruto sudah lebih dulu mendorong tubuh ramping itu untuk berbaring dan kemudian menahannya dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya mencengkram batang kejantanan sang Uchiha dengan kuat. Seakan-akan ia menegaskan posisinya di atas ranjang ini. Mutlak dan tidak bisa dibantah.

"Ghkk!—Sakit!—" Sasuke mengerang keras saat remasan di penisnya semakin menguat. Membuat tangannya menggapai bahu Naruto dengan panik dan mencoba mendorong pemuda itu sekuat tenaga. Menjauhkan sang dominan dari atas tubuhnya.

Naruto masih bertahan di posisinya, tidak bergeser satu inchi pun. Ia terus mempertahankan kocokannya di organ vital pemuda raven itu, memperdengarkan gesekan antara cairan precum dengan kulit penis. Suara becek yang sangat menggairahkan.

Sasuke terhenyak, membenamkan wajahnya diantara lengan. Sedangkan bibirnya mencoba digigit untuk menghentikan suara desahannya. "Stop—Ahhk!—Naruto—Nghhh!" Ia mencoba melawan kenikmatan yang mulai menjalari selangkangannya. Bertahan dengan akal sehatnya.

Naruto mencondongkan wajahnya dan berusaha untuk kembali mencumbu bibir ranum itu, namun sang Uchiha menghalanginya dengan kedua lengan. Menolak. "Aku bilang—ahhk!—stop, Dobe!" Tegas pemuda raven itu dengan delikan tajam dan ganas. Seakan-akan bisa mencongkel mata Naruto hanya dengan deathglare-nya saja.

Naruto berdecak kesal. "Jangan melawan—" Tangannya mencengkram batang kejantanan Sasuke lebih kuat. "—Atau aku akan menghancurkan penismu." Ancamnya lagi, yang tentu saja tidak sungguh-sungguh dilakukan. Ia hanya ingin pemuda raven itu berhenti berontak dan menikmati permainan panas mereka.

Sayangnya, Sasuke sama sekali tidak peduli dengan gertakan yang dilakukan Naruto. Sang Uchiha membalas dengan desisan keras. "Berani kau melakukannya, jangan harap besok kau masih hidup."

Oke!—Mengancam seorang Uchiha Sasuke sama saja dengan menyatakan perang dunia ketiga. Tidak akan berhasil dan tidak akan menang. Jadi Naruto memutuskan merubah taktiknya sedikit.

Pemuda pirang itu berpura-pura sedih. "Apa kau sangat membenciku, Sasuke?" Ia memulai aktingnya. "—Padahal aku sudah mengorbankan hidupku untuk menyelamatkanmu." Lanjutnya lagi. Sanggup membuat Sasuke terdiam sejenak.

"Kau mencoba mengancamku dengan cara itu, Dobe?"

"Tidak. Tentu saja tidak." Naruto memotong cepat. "—Aku hanya ingin kau menyayangiku." Ucapnya lagi.

Sasuke berdecak kesal dan mulai melonggarkan pertahanannya. Membiarkan tubuhnya berbaring di atas kasur tanpa melakukan perlawanan sedikitpun. "Terserah kau saja lah, Dobe." Ucapnya. Membuat pemuda pirang itu menampilkan cengiran yang lebar.

Naruto bergerak mendekat dan memberikan kecupan singkat di bibir pucat itu. Sasuke tidak menyambut antusias, tapi cukup membalasnya dengan hisapan kecil. Mereka saling bercumbu dengan intim. Bergulat lidah dan sesekali menghisap air ludah, memeriahkan suasana kamar yang tadinya hening menjadi suara erangan dan decakan.

Naruto menghentikan aksinya saat selangkangannya yang menegak mulai terasa sakit karena terjepit diantara celana. Ia menurunkan retsleting dan mengeluarkan kejantanannya. Memperlihat daging gemuk yang berotot dengan ujung yang basah dengan cairan precum.

Sang Uzumaki menarik kepala Sasuke dan mendekatkan ke penisnya. "Hhh—Jilat—" Ia memerintahkan dengan lembut. Menggesekkan ujungnya yang licin ke pipi serta bibir pemuda raven itu.

Sang Uchiha mendelik galak, namun akhirnya menyerah saat ia mengingat bahwa Naruto pernah menyelamatkan hidupnya. Lagipula hanya menjilat penis saja kan? Tidak mungkin menjadi mengerikan 'kan?

Sayangnya, semua pemikiran Sasuke salah besar. Kejantanan Naruto cukup besar untuk dikulum seluruhnya. Ia bahkan hampir tersedak saat benda itu mendorong masuk hingga ke tenggorokannya, menyumbat seluruh mulutnya.

Selangkangan Naruto bergetar. Ia mencengkram kepala raven itu dengan lembut, sedangkan bibirnya mencoba untuk digigit menahan desahan. "Ghk!—Sasuke—hhh—nikmat—" Lenguhnya.

Pinggul Naruto mundur perlahan dan menyentak maju dengan keras, menghajar kerongkongan sang Uchiha lebih dalam. Merasakan denyutan lidah pemuda raven itu dan air liur yang menyatu dengan precum nya. Begitu nikmat dan geli disaat bersamaan.

Sasuke mengerang kecil saat genjotan penis itu menyodok mulutnya. Menggagahi setiap sudut rongga mulutnya dengan brutal. "Hmphh!—Naru—Ghkkk! Nghhmp!"

Sang dominan tidak memberikan satu kesempatan pun bagi pasangannya untuk bernapas. Ia terlalu tenggelam dalam hasrat birahinya. Ia menahan kepala Sasuke diantara bantal dan selangkangannya, kemudian terus menyodoknya tanpa ampun. Ranjang berdecit keras, erangan terdengar dan suara becek dari gesekan kulit penis dan mulut pemuda raven itu menambah suasana kamar itu menjadi panas dengan nafsu.

"Ghhk!—Hmphh!—Ghok!" Sasuke tersedak keras, namun hentakan pinggul sang dominan tidak berhenti maupun berkurang. Masih menyiksanya dengan penis yang terus berdenyut tidak terkendali.

Liur mengalir dari sela mulutnya, matanya terbalik dengan cairan airmata dan tangannya mencoba meronta sekuat tenaga. Namun segala usahanya tidak berhasil untuk melepaskan alat kelamin Naruto dari mulutnya. Ia bahkan bsia merasakan getirnya cairan itu yang mengalir masuk ke kerongkongannya. Precum dan saliva terus bercampur. Memperdengarkan bunyi becek yang sangat keras.

Naruto mengerang penuh kenikmatan. "Ahhh—Sasuke—mulutmu hangat—hhh—" Desahnya dengan geraman berat dan rendah.

Kejantanan besar milik sang dominan terus menggagahi mulutnya semakin dalam. Menenggelamkan seluruh penisnya ke dalam gua hangat itu. Pinggul diangkat sedikit dan dihentak dengan keras, Naruto melakukannya dengan cepat dan terkesan liar. Libidonya sudah tidak dibendung, terlebih lagi saat cairan putih itu ingin segera menyembur keluar dari ujung kejantanannya.

Sang Uzumaki menggeram. Terlihat tetes peluh di sisi keningnya. "Sasuke—Ahhk!—aku ingin keluar—" Ucapnya, memperingati.

Sasuke mencoba menggeleng panik. Matanya membelalak ketakutan. Namun mulutnya tidak diijinkan untuk mengeluarkan suara protes. Lubang basah itu terus dijajah tanpa ampun oleh Naruto. Keluar-masuk dengan tempo cepat. "Hmph!—Ghkk!—Naru—Nghmpp!"

Sasuke merasakan ujung penis sang dominan menghajar tonsilnya. Memasukkan benda itu lebih dalam ke kerongkongan. Rasa mual menggelegak dari perutnya, membuatnya ingin muntah. Namun yang bisa dikeluarkannya hanyalah erangan dan jumlah air liur yang cukup banyak. "Hmph!—Mhhhmm!—Hhhk!"

"Ghhk!—Sasuke—hhh—aku tidak tahan—" Erang Naruto lagi seraya mempercepat genjotannya di mulut Sasuke. Mata birunya bisa menatap wajah erotis sang Uchiha. Pipi yang memerah, mulut yang meneteskan air liur, serta mata yang terbalik, membuat wajah putih itu sangat menggoda untuk digagahi.

Sasuke mencoba meronta sekuat tenaga. Namun semakin ia berontak, semakin kuat Naruto menenggelamkan penisnya ke dalam mulut pemuda raven itu. Selangkangan sang dominan bergetar, bersiap menumpahkan seluruh benihnya di mulut Sasuke.

"Ghhk!—Sasuke, aku keluar!—Ghhk!" Naruto mengerang keras ketika cairan putih itu menyembur ke dalam kerongkongan sang Uchiha. Memenuhi lambung pemuda raven itu dengan spermanya.

Naruto terengah-engah untuk sesaat. Ia melepaskan penisnya dengan suara -Plop!- kecil. Menyisakaan tetes sperma diujungnya. "Sasuke—hhh—kau hebat—" Pujinya seraya mengelus bibir pemuda itu.

Sasuke tidak bisa bicara apapun, ia hanya tersengal-sengal kelelahan dengan mulut yang penuh cairan putih dan air liur. Lidahnya terjulur yang menambah keerotisan dirinya, ditambah wajah yang memerah dan peluh yang membanjiri kening.

Benar-benar menakjubkan.

Naruto sangat bergairah melihat sensualitas sang Uchiha. Kejantanannya kembali tegang walaupun baru saja ejakulasi. Ia menjilat bibirnya kemudian membuka paha pemuda raven itu dengan lebar. Menatap benda yang menegak disana serta lubang anus yang berkedut liar. Seakan-akan menggoda libido sang dominan kembali.

"Aku—hhh—ingin masuk." Naruto mengeluarkan ucapannya, terkesan tidak sabaran dan penuh dengan nada perintah. Membuat Sasuke menggeleng pelan, masih kelelahan.

"Hentikan—hhh—Naruto." Pemuda Uchiha itu memohon, berusaha menjauh dari ranjang. Tetapi gerakannya terhenti saat Naruto menahan tubuhnya dan melemparnya untuk tetap berbaring di atas kasur. "—Dobe, lepaskan aku!" Sasuke mulai kesal. Matanya mendelik galak.

"Aku ingin memasukimu." Sekali lagi kalimat frontal sang Uzumaki terlempar. Kilatan serius terpantul di iris birunya. Penuh tuntutan dan penegasan.

Sasuke meneguk ludah, panik dan ketakutan. Ia mencoba sekuat tenaga untuk menampilkan tatapan yang paling mematikan, mengancam agar Naruto menjauh sebelum ia sendiri yang membunuhnya. "Jangan coba-coba, Dobe. Aku bersumpah akan mematahkan lehermu kalau—Hmphh!" Kalimatnya terpotong saat Naruto langsung membungkam mulutnya dengan bibir. Menghentikan ancamannya.

Naruto melumat bibir itu dengan penuh nafsu. Sedangkan tangannya bergeriliya untuk mengelus paha dan selangkangan sang Uchiha, hingga akhirnya berhenti tepat di lubang yang ada di bawah sana.

Sasuke menggeleng panik. "Dobe—hmpph!—Stop!—Nghmpp!" Tetapi perintahnya sama sekali tidak didengar oleh sang Uzumaki.

Pemuda pirang itu melepaskan ciumannya dan fokus pada jari yang sudah dibasahi oleh ludahnya. "Rileks kan tubuhmu, Sasuke. Ini agak sakit kalau kau berontak." Ucapnya sembari mengelus lembut anus sang Uchiha dan membelainya dengan gerakan memutar.

"Dobe, cukup!—Ahhk!" Sasuke masih protes, kali ini mengeluarkan gerakan yang lebih agresif. Pertahanan yang lebih kuat dengan berusaha menendang sang dominan.

Naruto yang terlihat kewalahan langsung mencengkram paha Sasuke dan melebarkannya cukup luas. "Hentikan! Berhenti menendang!" Perintahnya kesal.

Sasuke melotot ganas. "Tidak akan, Idiot!" Balasnya.

Sedikit kesal, Naruto langsung menusukkan dua jarinya sekaligus ke lubang anal Sasuke tanpa aba-aba. Membuat pemuda raven itu melemparkan kepalanya ke belakang, terhenyak kaget dengan mata membelalak dan mulut yang terbuka lebar berusaha bernapas. Untuk sesaat, rasa sakit itu menghantam seluruh persendiannya dari ujung kaki hingga kepala. Bahkan membuat jantungnya terhenti selama sepersekian detik.

"Ghhk!—Ahhhk!" Tubuh Sasuke bergetar hebat. Pahanya membuka lebar dengan kejantanan yang masih berdiri. Otot rektumnya bisa merasakan dua jari itu menari kesenangan di dalam tubuhnya. Mengelus serta menekan dinding anusnya, sesekali melakukan gerakan gunting yang membuka dan menutup.

Naruto menjilat bibirnya dengan senyuman puas saat melihat wajah kesakitan sang Uchiha. Memompa gairahnya hingga ke tingkat maksimum. Sangat menggoda.

"Sasuke, kau benar-benar—hhh—membuatku terangsang." Bisiknya dengan suara parau karena nafsu. "—Buat aku lebih terangsang lagi." Sambung Naruto seraya menggapai penis sang Uchiha dan mengocoknya dengan cepat.

Tindakan sang dominan membuat Sasuke kembali melemparkan kepalanya ke belakang, tersentak kaget sekaligus nikmat disaat bersamaan. Terlebih lagi rangsangan Naruto yang mengocok organ vitalnya dan gesekan lembut di anusnya, membuatnya mendesah tidak terkendali.

"Ahhkk!—Nghhh!" Pemuda raven itu menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan, mencoba mengusir rasa sakit yang menyerang analnya. Perih dan nyeri.

"Sasuke, kau sempit sekali—hhh—jariku dijepit." Ucap Naruto sembari terus menggerakkan jarinya untuk keluar-masuk dengan tempo lambat namun konstan.

Sang Uchiha mencengkram bahu Naruto dengan kuat, mencoba mempertahankan getar tubuhnya. "Naruto—Ahhk!—Ghhkk!"

Pemuda pirang itu mengelus dada Sasuke dengan lembut, berusaha menenangkan tubuh pemuda itu. Sedangkan tangan lainnya terus melakukan gerakan di lubang anal Sasuke. Memutar dua jarinya di dalam sana dan menyentuh dinding rektumnya. Kocokan di anusnya dipercepat, membuat tubuh putih itu tersentak keras.

"Ahhh!—Ahhhk!—ghhk!" Sasuke terus mendesah. Sesekali mencoba menggigit bibir bawahnya untuk meredam erangan.

Naruto cukup terangsang sekarang. Ia mengeluarkan dua jarinya dari sana dengan suara -Plop!- kecil, kemudian menggantikannya dengan kejantanannya yang sudah menegak gagah. Menggesekkan ujung penisnya yang basah ke lingkaran cincin anus sang Uchiha.

"Aku akan masuk." Bisiknya lembut seraya mendorong pinggulnya maju.

Sasuke menggeleng panik. Kakinya meronta keras hingga akhirnya tanpa sengaja menendang perut Naruto dengan suara -Duagh!- yang cukup keras.

Naruto tersungkur dengan bahu yang membentur lantai. "Hey! Apa yang kau laku—!" Belum sempat ia membentak marah, Sasuke sudah lebih dulu berlari ke arah pintu ketakutan. "Shit!" Pemuda pirang itu mengumpat keras kemudian bangkit untuk mengejar mangsanya.

Sasuke menyambar kenop pintu dengan cepat, ia mencoba memutarnya dan—

BRAK!—Naruto sudah lebih dulu menghalangi pintu untuk membuka. Bidang kayu itu kembali menutup dengan suara yang cukup keras. Menjebak sang Uchiha diantara dua lengannya dan daun pintu.

"Jangan lari." Naruto berbisik di telinga Sasuke. Membuat bulu kuduk pemuda raven itu meremang seketika. "—Atau aku akan melakukannya dengan cara kasar, Teme." Lanjutnya lagi.

Sasuke berbalik untuk mentap sang dominan. Punggungnya menempel di pintu dengan gemetaran, tetapi matanya masih menampilkan tatapan tajam. "Aku akan berteriak." Ancamnya.

"Kalau begitu cobalah." Tantang Naruto lagi.

Sasuke menggeram kesal kemudian berbalik lagi untuk menghadap pintu dan menggedornya dengan suara -DAK!DAK!- yang sangat keras. "ITACHI-NII!—ITA—!" Teriakan sang Uchiha terhenti saat Naruto menyambar pinggulnya dan tanpa aba-aba menghantamkan seluruh batang kejantanannya ke dalam anus Sasuke. Membuat pemuda raven itu tersentak kaget dengan mata membelalak dan mulut yang terbuka terkejut. Tangan putihnya terkepal di pintu dengan bergetar.

"AAHHHKKK!—SAKIT!—Hmpphh!" Teriakan Sasuke dibungkan oleh tangan Naruto dengan cepat.

"Sudah kukatakan, kalau kau tidak menurut seperti ini, maka aku akan melakukan kekerasan." Bisik Naruto dengan suara rendah dan sedikit desisan.

Sasuke mencoba mengerang keras sambil menggedor pintu kamar dengan brutal, berharap sang kakak datang untuk menolongnya dari anjing brengsek ini. Namun tenaganya mulai melemah seiring rasa sakit sodokan pemuda pirang itu di analnya.

"Nghmph!—Hmphh!—" Sasuke tersentak maju-mundur dengan cepat ketika Naruto menghantam lubangnya tidak terkendali. Ia bisa merasakan benda berotot itu memenuhi dinding rektumnya dan menggeseknya tanpa ampun.

Sodokan demi sodokan diterima. Hentakan dan sentakan dilakukan dengan liar. Hingga akhirnya, kaki Sasuke tidak bisa menyangga tubuhnya sendiri dan terpaksa berpegangan pada sisi pintu.

Melihat mangsanya mulai menyerah, Naruto melepaskan bekapan tangannya di mulut Sasuke dan beralih untuk mengocok kejantanan pemuda raven itu. Sedangkan tangannya yang lain mencengkram pinggang Sasuke agar tidak limbung.

"Ahh—hhh—nikmat—fuck!" Naruto menggeram dengan dengus napas memburu. Sesekali mengecup lembut leher sang Uchiha dan menjatuhkan kissmark untuk menandai kekuasaannya.

Sasuke mengerang dan mendesah dengan hebat. Jari-jarinya berusaha kuat mencakar daun pintu, mencoba mempertahankan kewarasan dan akal sehatnya. Namun sodokan di liang anusnya memberikan sengatan kenikmatan yang sama sekali tidak bisa dilawan. Memikirkan bahwa dia sekarang sedang digagahi oleh Naruto, membuat otaknya hampir meledak dengan rangsangan nafsu yang cukup tinggi.

Sasuke mendongak, mulutnya terbuka dengan air liur yang terus menetes. Lenguhan terus keluar meluncur dari bibir mungilnya. "Ahhhk!—Naruto—Ahhh!"

Mendengar namanya dipanggil, membuat gairah Naruto langsung meningkat. Ia memperdalam tusukannya dan menggenjot lebih brutal. Menghajar liang anal sang Uchiha tanpa ampun.

Sang dominan menggeram penuh kepuasan. Menikmati batang kejantanannya yang diremas dan dipijat oleh dinding otot rektum Sasuke. Memberikan kenikmatan yang memabukkan. Naruto memundurkan pinggulnya sejenak kemudian menghantamnya lagi dengan keras, membuat Sasuke menjerit sunyi dengan mata terbelalak karena rasa sakit.

"Ahhhk!—Sakit!—Ahhh—Naru—" Pemuda raven itu terus mendesah. Merasakan lubang anusnya yang digenjot tanpa henti. Penis sang dominan membuat gerakan memutar di liangnya dan dilanjutkan dengan sodokan yang agak kasar dan terkesan tidak sabaran.

Akal rasional Sasuke mulai menipis, mengikis kesadarannya dengan hawa nafsu. Matanya terbalik penuh kenikmatan dan mulutnya terbuka dengan lidah terjulur yang meneteskan saliva. Membuat wajah putih itu terlihat erotis dan menggairahkan. "Itachi-nii—ahhk!—tolong aku—Itachi-nii—" Ia mendesah disela kalimatnya. Membuat Naruto menggeram tidak suka karena mendengar nama lain yang diucapkan oleh pemuda raven itu.

Naruto menarik Sasuke dari sisi pintu. Ia membaringkan tubuhnya sendiri di lantai dan tubuh Sasuke di atasnya. Kemudian menggenjotnya lagi tanpa henti. "Apa kau—hhh—ingin sekali Itachi datang menolong, huh?" Tanya pemuda pirang itu sembari menggapai ponsel Sasuke di lantai dan menekan nomor Itachi. "—Kalau begitu, biarkan dia datang dan—hhh—melihat adiknya disetubuhi olehku." Lanjutnya lagi. Terlihat seringai nakal di bibirnya.

.

Drrrrt!Drrrt!—Ponsel milik Itachi bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Pemuda sulung itu bergerak mematikan televisi yang ditontonnya di ruang depan dan menggapai handphone-nya.

Nama Uchiha Sasuke tertera di layar ponselnya, membuat Itachi mengerutkan kening heran. "Kenapa Sasuke meneleponku? Kenapa tidak langsung turun ke lantai bawah?" Gumamnya bingung.

Sedikit malas dan menganggap bahwa sang adik sedang bercanda. Pemuda itu akhirnya menerima panggilan Sasuke. "Ada apa?" Tanyanya langsung tanpa basa-basi. "—Kalau ingin minuman atau cemilan, kau bisa mengambilnya sendiri. Aku tidak mau mengantarkannya ke lantai atas." Lanjutnya lagi.

"Itachi, ini aku, Naruto" Sela sang Uzumaki cepat. Matanya melirik Sasuke yang berada diatas tubuhnya, pemuda raven itu mencoba menutupi desahannya saat lubangnya terus disodok tanpa henti. Kepanikan terlihat di mata onyxnya. "Ada sedikit masalah disini. Bisakah kau membantu kami?" Bohong pemuda pirang itu.

Itachi menggaruk pipinya, masih bingung. "Oke. Aku akan kesana." Jawabnya cepat sembari mematikan telepon dan mulai bergerak ke arah tangga.

.

Naruto menutup sambungannya kemudian tersenyum kecil, lebih mirip seringai jahil. "Well, Sasuke—Kalau tidak cepat-cepat, kita bisa ketahuan oleh kakakmu." Godanya sembari mencengkram pinggul Sasuke dan menyodoknya kembali.

Ada kilatan marah di mata sang Uchiha. "Kau brengsek—Ahhhk!—Anjing idiot!" Sumpahnya kesal.

Naruto tidak mempedulikannya. Ia terlalu menikmati sempitnya liang anal pemuda raven itu. Kedua tangannya bergerak untuk membaringkan punggung Sasuke di atas dadanya, kemudian membuka paha sang Uchiha dengan lebar, memposisikan selangkangan mereka tepat di hadapan pintu. Sehingga saat Itachi masuk nanti, pemuda sulung Uchiha itu bisa melihat jelas anus sang adik sedang digagahi oleh penis Naruto.

"Ahhk!—Naruto, apa yang kau lakukan?!—Ahhhk!" Sasuke panik, mencoba menutupi alat kelaminnya yang menegak dengan tetes precum.

"Bukankah ini maumu, Sasuke? Dilihat oleh kakakmu saat kau disodok olehku, hm?" Bisik Naruto di sisi telinga pemuda raven itu.

Sasuke mencoba menggeleng keras. Namun desahan dan erangannya semakin nyaring. Ia benar-benar terangsang saat memikirkan bahwa kakaknya akan membuka pintu kamar dan melihatnya telanjang sambil disetubuhi oleh Naruto.

"Tidak—ahhk!—Itachi-nii jangan masuk—Ahhhk!" Sasuke memohon. Tanpa sadar kedua tangannya mengocok penisnya sendiri dengan cepat.

Naruto menjilat telinga sang Uchiha. "Kau terangsang, Teme?—hhh—kakakmu akan melihat lubang anus adiknya digenjot oleh penisku. Ghhk!—kau nakal."

Tubuh Sasuke bergetar mendengar kalimat 'dirty' dari sang dominan. Matanya terbalik penuh kepuasan dan lidahnya terjulur dengan air liur. Membayangkan dirinya yang sedang bersenggama dihadapan sang kakak membuat libidonya terus meningkat.

"Itachi-nii—Ahhhk!—Lubangku disodok—hhh—ditusuk oleh penis." Sang Uchiha meracau tidak terkendali. Rangsangan itu hampir membuat kejantanannya meledak dengan cairan sperma.

Tiba-tiba telinga Sasuke mendengar langkah sang kakak mendekat. "Itachi-nii—Ahhh—aku disetubuhi—Ghhk!—lubangku diperkosa." Erangnya dengan suara kecil. Membiarkan tubuhnya terhentak ke atas dan ke bawah oleh genjotan sang dominan.

Naruto mempercepat hantamannya di prostat pemuda raven itu, menusuk apa saja yang ada di dalam sana. "Sebentar lagi Itachi akan masuk—" Bisiknya sembari terus menggerakkan pinggulnya untuk memanja lubang anus itu. "—Dia akan melihat wajahmu yang erotis ini, Sasuke." Sambungnya lagi dengan dengusan napas yang cepat.

Sasuke mempercepat kocokannya di organ vitalnya. Terengah-engah dengan rangsangan yang sangat menakjubkan. "Naruto—Ahhh—aku hampir keluar—Ahhhk!"

Sang dominan menyeringai dan membuka paha Sasuke lebih lebar seraya mengangkat pinggulnya. "Keluarkan, Sasuke. Biarkan Itachi melihat spermamu."

Sasuke mencoba menggeleng dengan desahan keras. Matanya yang sayu menatap pintu kamarnya yang hampir terbuka dengan bunyi -cklek!- kecil. Ia juga bisa mendengar suara Itachi dari luar. "Sasuke, aku masuk ya." Ucap pemuda sulung itu.

"Itachi-nii—hhh—jangan masuk—Ahhhk!" Ia mengocok penisnya dengan kedua tangan.
"—Ahhhk!—Aku sedang disetubuhi oleh Naruto—Ahhh!"

"Ahh—Sasuke—nikmat—" Otot perut Naruto mulai mengejang. "—penisku keluar-masuk di lubangmu—hhh—"

"Naru—Ahhh!—Naruto!" Sasuke mendesah. Alat kelaminnya bergetar hebat saat pintu hampir setengah membuka. "—Aku keluar! Argghh!" Pinggul pemuda raven itu terangkat, menyemburkan seluruh cairan putihnya keluar dengan ganas. Tubuhnya mengejang hebat dengan mata terbalik saat rasa nikmat itu menyelimuti kejantanannya.

Naruto juga menggeram dan mulai mecengkram pinggul sang Uchiha dengan kuat. "Aku—Ghhk!—Keluar! Arrghhh!" Ia membenamkan seluruh batang penisnya ke dalam lubang hangat itu. Memaksa anus Sasuke untuk menelan seluruh benih spermanya yang tersemprot ke dinding rektum. Membasahi liang itu dengan cairan putih kentalnya.

.

Kriiing!Kriing!—Dering telepon rumah membuat Itachi langsung menghentikan gerakan kepalanya yang hampir terjulur untuk melihat ke dalam kamar. Ia memilih berbalik menatap lantai bawah.

"Siapa yang menelepon sih?" Gumamnya pelan. Ia memilih menjauh dari kamar dan turun untuk mengangkat sambungan telepon rumah. Lagipula, Sasuke bisa menunggu sedikit lebih lama 'kan?

Langkah kaki sang kakak yang menjauh membuat Sasuke bisa sedikit bernapas lega. Ia melirik ke arah Naruto yang tersenyum lebar dengan menggenggam ponsel di tangannya. Pemuda pirang itu menelepon ke sambungan telepon rumah disaat yang tepat. Mengalihkan perhatian Itachi untuk menuju lantai bawah. Cukup memberikan waktu bagi mereka untuk membersihkan diri.

Sasuke mendengus kecil. Ia bangkit dari atas tubuh Naruto dengan perlahan, membiarkan sperma sang Uzumaki menetes keluar dan mengalir ke paha putihnya. "Kau keterlaluan, Idiot." Sinisnya kesal. "—Aku hampir mati saat Itachi-nii akan masuk ke dalam kamar."

"Tapi dia tidak jadi masuk 'kan? Aku sudah membuatnya menjauh." Jelas pemuda pirang itu sembari mengambil tissu dan menjulurkannya ke arah sang Uchiha.

Sasuke menyambar benda itu dengan ganas. "Kau anjing bodoh! Aku sudah mengatakan kalau aku tidak ingin melakukan hal ini!" Rutuknya sembari menyeka sperma di lubang analnya.

"Tapi nikmat 'kan?" Sela Naruto dengan senyuman lebar. Membuat kotak tissu itu melayang dan melandas dengan mulus di wajah sang Uzumaki.

Sasuke meringis perih saat ia berusaha berdiri dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur untuk beristirahat. "Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah berbuat hal mesum dengan seekor anjing." Gumamnya pelan seraya menenggelamkan kepalanya di antara bantal.

"Tapi sekarang aku manusia, Teme." Naruto menyela. Sedikit tersinggung.

"Tetap saja kalau kau itu anjing!" Sasuke membalas dengan bentakan marah. Membuat Naruto mundur terkejut.

Sadar kalau ucapannya keterlaluan, Sasuke hanya bisa mendesah lelah sembari menjulurkan tangan untuk membelai pipi tan itu. "Maaf, aku seharusnya tidak memarahimu. Ini hanya hal biasa dibandingkan pengorbananmu untuk menyelamatkanku." Ujarnya lembut.

Naruto kembali melempar cengirannya. "Aku menyukaimu, Sasuke." Ia bergerak maju untuk menjilat mata pemuda raven itu, tanda berterima kasih seekor anjing.

Sasuke mendengus geli kemudian menangkap pipi sang Uzumaki dengan kedua tangannya. "Kalau ingin berterima kasih, seharusnya seperti ini, Dobe." Tegasnya seraya menarik wajah itu untuk saling membenturkan bibir. Kecupan singkat penuh sayang tanpa nafsu. "—Aku juga menyukaimu." Lanjutnya lagi disela ciuman mereka.

Well, mungkin aku harus mencoba pacaran dengan Naruto. Lagipula tidak akan ada kejadian yang buruk kalau aku pacaran dengan arwah seekor anjing kan?

Iya 'kan?

.

.

.

_Apartemen Juugo, pukul 20.00 Malam_

.

Pemuda berambut jingga itu terlihat berbaring malas-malasan di atas kasurnya. Ia sama sekali belum tertidur, matanya sibuk menerawang langit-langit kamar. Sedangkan pikirannya sendiri melayang entah kemana, membayangkan wajah dan sosok seorang Uchiha Sasuke.

"Shit!—" Juugo mengumpat. Ia bangkit dari kasur dan duduk di tepi ranjang. Ia mengetuk-ngetuk lantai kamar dengan kakinya yang bergerak gelisah. "—Kalau saja aku bisa memiliki Sasuke, maka Naruto tidak akan berani mendekat." Gumamnya pelan.

.

"Kau masih belum tidur?" Suara Suigetsu di ambang pintu membuat pemuda berambut jingga itu mendongak kaget.

"Darimana kau masuk?"

"Pintu depan tidak terkunci jadi aku langsung masuk saja." Jelas Suigetsu malas. Ia meletakkan sekantong cemilan di lantai. "—Apa yang kau pikirkan? Dari kemarin kau selalu terlihat serius." Tanyanya sembari mengambil satu buah snack dan memakannya.

Juugo mendesah. "Tidak ada." Sahutnya singkat sembari membaringkan tubuhnya lagi di kasur. "—Dimana Karin?"

Suigetsu mengedikkan bahu, tidak tahu. "Entahlah, mungkin pacaran dengan beberapa cowok di love hotel." Jawabnya sembarang. Ia kembali menatap sahabatnya itu dengan lekat. "—Kau masih memikirkan Sasuke?"

Juugo mendengus dan membalikkan badannya, memunggungi Suigetsu. "Tidak."

"Jangan bohong. Aku mendengar sendiri kalau kau menyatakan cinta pada Sasuke di koridor." Sela pemuda berambut putih itu dengan cepat. "—Kenapa kau menyukainya? Dia hanya pemuda lemah dan sok—"

"Kenapa kau membenci Sasuke?" Juugo memotong kalimat Suigetsu dengan cepat. Ia berbalik untuk menatap tajam ke arah pemuda itu. "—Kenapa kau terus mem-bully nya? Masih banyak siswa lain yang harus di-bully. Tetapi kenapa kau memilihnya?"

"A—Apa? Apa maksudmu?" Suigetsu mengerjap tidak mengerti. "—Aku mem-bully nya karena aku suka mem-bully nya!" Tegasnya lagi.

"Aku juga." Lagi-lagi Juugo memotong dengan cepat. "—Aku menyukainya karena aku benar-benar jatuh cinta padanya. Tidak ada alasan lain."

Suigetsu meremas kantong snack di tangannya dengan murka dan melemparkannya ke wajah Juugo dengan kesal. "Kau selalu bicara tentang Sasuke, Sasuke, dan Sasuke! Aku muak!—Berhenti memikirkan pecundang itu, Juugo!" Bentaknya kesal.

"Aku tidak bisa." Juugo berbicara lirih. "Aku benar-benar menyu—"

"CUKUP!" Suigetsu meraung keras. Ia bangkit dari lantai dan berjalan keluar. "—Kalau kau masih menyukai Sasuke, maka persahabatan kita berakhir"

"Apa maksudmu?"

Suigetsu berbalik dengan mata yang berkilat tajam. "Kau harus memilih antara Sasuke atau aku dan Karin." Desisnya.

Juugo mengusap wajahnya dengan lelah. "Dengar Suigetsu, ini—"

"KAU YANG HARUS DENGAR, BRENGSEK! AKU SUDAH MUAK DENGAN RENGEKANMU TENTANG SASUKE!—JADI SEKARANG KAU HARUS MEMUTUSKAN PILIHANMU!" Teriaknya lagi.

Juugo terdiam. Ia memalingkan wajahnya dengan dingin. "Keluar."

"A—Apa?" Suigetsu mengerjap.

"KELUAR SEKARANG JUGA!" Juugo membalas dengan bentakan keras. Perintah mutlak yang tidak bisa dirubah.

Suigetsu tersentak sejenak melihat kemurkaan pemuda berambut jingga itu. Sebelumnya, ia tidak pernah satu kalipun mendengar Juugo berteriak keras seperti tadi. Pemuda itu selalu kalem dan pendiam, serta tidak suka terlibat masalah. Tetapi sekarang sifat dan sikapnya berubah menjadi 180 derajat hanya karena menyangkut soal Sasuke. Dan itu membuat Suigetsu benar-benar kesal.

"Jadi itu pilihanmu—" Suigetsu membuka suara. Tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. "—Kalau begitu, mulai saat ini, jangan pernah berani mendekatiku ataupun Karin. Aku sudah menghapusmu dari persahabatan kita." Jelasnya dengan tegas, berbicara bukan sebagai teman atau sahabat, melainkan sebagai pimpinan dari genk mereka. Dan itu merupakan perintah mutlak.

Suigetsu bergerak keluar dari kamar Juugo. Meninggalkan pemuda berambut jingga itu yang hanya bisa mengerang lelah.

"Shit!" Juugo sekali lagi mengumpat. Menyesali perkataannya.

.

.

TBC

.

.

Yuuhuuu konflik cinta NaruSasu dan JuugoSasu...Maaf updatenya agak lama :)

Bagaimana dengan Suigetsu? Entahlah, nasib pimpinan kawanan hyena masih dirahasiakan #taboked XD Hahahaha...

Btw, terima kasih banyak untuk redear, silent-reader dan reviewer... kalian sangat luar biasa *bungkuk hormat* :)

Semoga tidak bosan dengan fic-fic aku ya?

.

RnR please!