Makasih review-nya, aku tidak bisa balas review mina-san karena modem internetku sering ngadat, sampai baca fanfic pun gak bisa, akhirnya baca dari hp tapi gak bisa kasih review ToT...

Baiklah kita lanjut aja...

.

.

.

Crown Imperial

Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Main Pairing : AkaKuro/KuroAka

Genre : Romance, Action, & Supernatural

Warning : BL, malexmale, Shounen ai, Slash, AU, OC, OOC, Typo nyelip, dll.

.

.

.

Chapter Four

.

.

.

.

"Uugghh! Menyebalkan-ssu!"

"Kecilkan suaramu Baka Kise!"

Mata Emerland Midorima menatap jengkel pada pemilik surai pirangyang sejak tadi sore terus mengerang kesal. Kegiatannya yang ingin membaca novel dengan tenang, jadi terganggu karena keberisikan yang dibuat sahabatnya—yang sebenarnya enggan diakuinya— ini.

Kise berdecak, dia memandang sebal kawannya yang duduk di sofa ruang santai bersamanya. "Ckk, kau sendiri-ssu, jangan enak-enakan di saat begini dong!" sengaknya.

"Enak-enakan?" lelaki berambut sewarna hijau lumut itu menaikkan sebelah alis hitamnya tanya.

"Akashicchi belum kembali juga-ssu. Tidak ada kabar atau pesan apapun, sebenarnya apa yang dilakukannya sih?!" Kise frustasi sambil mengacak kasar rambutnya yang semula rapi.

Midorima mendengus. "Memikirkannya terus tanpa kepastian hanya membuat kepala pusing-nanodayo. Kita tidak perlu mengkhawatirkan Akashi sampai segitunya, karena itu pasti tidak berguna," entengnya sambil mengangkat bingkai tengah kacamatanya dengan satu jari.

Kise mendelik galak. "Kejam sekali kata-katamu, Midorimacchi."

"Memang benar 'kan? Lagipula sekarang Akashi pasti berada dalam perlindungan para pengawal keluarga utamanya. Tidak mungkin dia terlibat dengan kejadian seperti yang kau katakan tadi pagi-nanodayo."

"Tapi apa kau tidak curiga? Kalau Akashicchi memang sudah sampai di rumah utama, harusnya dia menelpon kita karena handphone miliknya tertinggal-ssu."

'Memang benar,' batin anak bernama kecil Shintarou dalam hati. "Sudahlah, nanti dia akan menelpon sendiri kalau butuh."

"Tsundere sekali."

Midorima dan Kise menengokkan kepala ketika mendengar suara baru yang menyahut. Mereka berdua melihat anak lelaki berkulit tan gelap yang berjalan masuk ke dalam ruangan. Aomine menggaruk belakang kepala berambut navy blue-nya malas.

"Akui saja kalau kau juga mencemaskannya Midorima," kata Aomine bermata bosan seraya mendekati mereka.

Anak berkepala hijau yang berkemeja biru muda dan celana hitam kain itu mendesah kesal tidak menyangkal.

"Kau sudah menghubungi Momoicchi?" tanya Kise yang memakai kaus kerah putih dan celana ¾ coklat penuh saku pada Aomine.

Yang ditanya menggeleng. "Handphone-nya nggak aktif."

"Padahal dia satu-satunya sumber kita untuk tahu kabar Akashicchi," binar Topaz Kise menyurut khawatir.

Aomine mengamati kawan pirangnya. Kise memang memiliki firasat yang lebih kuat dari manusia kebanyakan. Sebagai Apostle pembawa kekuatan 'perasa', Kise dapat merasakan hal-hal yang baik dan buruk di sekitarnya. Misalnya, dapat merasakan dan membedakan aura seseorang, juga menilik hati orang yang berniat baik atau jahat. Akibat kemampuannya ini, perasaan Kise jadi cenderung sensitif.

"Kita tunggu saja sebentar lagi. Kalau sampai jam 7 malam nggak ada kabar, kita akan menghubungi rumah keluarga utama Akashi," anak tan berkaus hitam-putih loreng dan celana abu-abu pudar selutut itu membelai rambut sahabatnya sarat menenangkan. Kise balas mengangguk paham.

Mata Midorima menggerling ke jendela yang bergorden merah marun dalam ruangan tersebut. Jendela berbingkai kaca dua bilah itu menunjukan suasana alam menjelang petang. Dimana warna jingga bergurat kebiruan, terlukis di canvas langit berawan pekat. Halaman mansion yang bertumbuh tanaman hijau berselimut salju, mulai dipadangi dengan lampu-lampu taman di beberapa titik.

'Dengan ini, sudah sehari Akashi menghilang,' inner-nya.

Aomine tiba-tiba memalingkan wajahnya, memandang ke arah pintu tanpa daun kayu di ruangan itu. "—Bunyi dering telepon rumah," ucapnya.

Serentak, Midorima dan Kise mendongak menatap Aomine terkejut.

"Telepon rumah berbunyi-ssu?" tanya Kise memastikan karena dia dan Midorima tidak mendengar suara apapun. Letak ruangan ini lumayan jauh dari tempat telepon rumah yang ada di dekat pintu masuk. Apalagi terpisah di lantai berbeda.

"Ya, Ayo turun, mungkin itu dari Akashi," Aomine melangkah ke pintu. Disusul kedua anak lainnya yang sudah bangkit dari duduknya.

Mereka bertiga berjalan cepat menyusuri lorong panjang mansion dan menuruni tangga menuju lantai satu. Di akhir anak tangga, mereka mendapati Tanaka dan Murasakibara yang berdiri di meja tempat telepon rumah berada. Pria paruh baya selaku butler mansion ini telah mengangkat panggilannya. Dia berbicara dengan entah siapa di seberang sana. Sementara anak bersurai violet di sebelahnya diam memperhatikan.

Midorima, Aomine, dan Kise langsung bergerak mendekati keduanya.

"Dari siapa?" Midorima menepuk lengan Murasakibara.

"Aka-chin," jawab lelaki ungu bertubuh tinggi itu yang seketika membuat ketiganya terperanggah kaget bukan main.

"Akashicchi?! Bagaimana keadannya-ssu?!" Kise segera menoleh pada Tanaka untuk menuntut penjelasan, namun tindakannya ditahan Aomine.

"Biar Tanaka-san yang bicara, aku akan ikut mendengarkan," kata remaja bermata Deep Shappire itu.

Aomine mendekat ke samping Tanaka. Dia mengangguk saat pria itu menyadari kedatangannya, isyarat untuk melanjutkan. Tanaka kembali menyahuti si penelpon.

Aomine mulai memfokuskan kemampuan pendengarannya, bermaksud mencuri dengar isi percakapan mereka. Dirinya Apostle pembawa kekuatan 'dengar'. Telinganya dapat mendengar suara apapun hingga jarak puluhan meter, lebih kuat dari manusia biasa. Inderanya bereaksi dengan jelas, kala menangkap suara penelpon yang sangat dikenalnya. Suara anak-anak yang dalam khas Akashi Seijuurou.

"Aku baik-baik saja, Tanaka," kata Seijuurou di ujung yang berlawanan.

"Tapi anda berada di mana? Nomor telepon yang anda gunakan ini bukan milik rumah utama," Tanaka melirik sederet angka yang muncul di layar kecil telepon rumah.

"Aku memang tidak berada di rumah utama."

"Eh?" Tanaka mengerutkan alis.

"Ada sesuatu yang terjadi. Makanya aku tidak bisa pulang ke rumah utama," Seijuurou merilekskan punggungnya di sofa ruang keluarga. Dia meminjam telepon pada si pemilik rumah –Kagami- untuk mengabari penghuni mansion di Tokyo. Tempat dia dan kawan-kawannya tinggal selama ini.

Sementara Tetsuya berdiri di belakang sofa single yang diduduki anak crimson itu. Sebenarnya pemuda Kuroko sudah melarang Seijuurou untuk tidak turun dari ranjang dan banyak bergerak. Badannya baru pulih dari sakit. Tapi, karena anak itu memaksa, akhirnya dia membiarkannya. Kagami, Himuro, dan Riko duduk di hadapan mereka berdua, memperhatikannya seksama.

"Sesuatu? Apa yang terjadi sampai anda tidak bisa pulang, Seijuurou-sama?"

Akashi cilik menilik lelaki berambut biru langit sekilas. "Akan kuceritakan setelah aku kembali ke mansion nanti. Katakan pada yang lain kalau aku tidak apa-apa. Aku akan pulang besok pagi."

"—Baik," ragu Tanaka menyanggupi.

"Dan juga, jangan katakan apapun tentangku pada orang-orang dari rumah utama bila mereka menelpon kalian. Sampai jumpa."

"...Baik, itterasai."

Tanaka menghela nafas seraya menaruh gagang telepon di tempatnya begitu Seijuurou memutus panggilannya. Dia memalingkan muka menghadap empat anak yang menatapnya lekat.

"Seijuurou-sama mengatakan—"

"—Dia baik-baik saja, ada sesuatu yang terjadi hingga membuatnya tidak bisa pulang ke rumah utama, dan dia akan kembali kemari besok pagi," potong Aomine menjelaskan. Tanaka mengangguk membetulkan.

"Sesuatu yang terjadi?" Midorima menaikkan segaris alisnya.

"Tuan muda tidak menerangkan detailnya. Dia akan menceritakannya ketika kembali nanti," lanjut si butler.

"Berarti, Akashicchi dari awal tidak berada di rumah utama?" duga Kise.

"Sepertinya begitu," sahut Aomine.

"Jangan-jangan—Aka-chin diserang seseorang saat dalam perjalanan pulang ke rumah utama?" tebak Murasakibara. Mata Ametrish-nya yang biasanya malas, menyorot berpikir.

"Mungkin juga-nanaodayo, bisa jadi ada beberapa penjahat yang mencoba mencuri kesempatan untuk menculik Akashi," Midorima mengangkat gagang tengah kacamatanya.

"Kalau memang itu terjadi, penjahat kecil sekelas teri pasti sudah mati duluan, Midorima," Aomine mengernyitkan kening sangkal, mengingat Seijuurou adalah anak yang berkelakuan sadis dengan gunting kesayangan yang selalu dibawanya kemana-mana. Anak merah itu tidak akan ragu melukai siapapun yang berani macam-macam dengannya.

"Tapi benar firasatku 'kan-ssu? Akashi pasti kenapa-napa," panik Kise.

"Tenang, Kise," Aomine menepuk bahu kiri anak kuning itu. "Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menghubungi Satsuki. Kita minta bantuannya untuk mencari dan menemukan dimana Akashi berada sekarang," usulnya.

"Ya, saat ini Momoi-chin yang paling dekat di sana," dukung Murasakibara yang berkemeja ungu pucat dan celana hitam.

"Kalau begitu, saya akan menelpon Momoi-san," Tanaka mengajukan diri.

"Tidak perlu, aku yang akan menelponnya," tolak Midorima halus. Mulai mengeluarkan handphone miliknya dari saku celananya. "Semoga saja dia bisa dihubungi sekarang-nanodayo."

Midorima memainkan layar handphone touchscreen-nya untuk mencari nomor kontak Momoi Satsuki. Gadis berambut pink sewarna bunga Sakura yang saat ini juga berada di Kyoto. Dia menekan tombol dial, memanggil anak perempuan itu.

"Tut—tut—"

"Tersambung—" ujar Midorima yang disambut senyuman lega oleh Aomine dan Kise.

"Klek—Moshi-moshi, Momoi-desu," ucap suara di seberang sana yang menerima panggilan.

"Momoi, ini Midorima."

"Midorin? Ada apa? Tidak biasanya kau menelponku," Momoi yang sekarang duduk di dalam mobil yang disupiri pengawal Seijuurou –bukan salah satu pengawal rumah utama keluarga Akashi—, mengerjapkan manik Preal-nya heran.

"Apa kau masih di Kyoto?"

"Ya, aku baru kembali dari makam oba-san. Mau balik ke Tokyo sebentar lagi."

"Tunda dulu kepulanganmu-nanodayo. Aku ingin kau mencari keberadaan Akashi," ucap Midorima cepat.

Momoi menautkan alis tipisnya. "Akashi-kun? Memang dia kenapa?"

"Akashi menghilang sejak kemarin—"

"Tu—tunggu, bukannya dia pulang ke rumah utama?" sanggah gadis cilik itu cepat.

"Tadi Akashi baru menelpon, dia tidak bisa kembali ke rumah utama karena terjadi sesuatu. Karena dia tidak menjelaskan detailnya, aku mau kau mencarinya dan bicara dengannya. Sekalian balik bersama ke Tokyo," terang si anak berkacamata.

Momoi terdiam berpikir sejenak. "...Baiklah, akan kucoba."

"Oke, kami tunggu kabarmu," Midorima memutus hubungannya setelah perbincangan berakhir. "Katanya Momoi akan mencoba mencarinya," ujarnya pada keempat orang di depannya.

"Syukurlah-ssu, dengan ini sedikit lega rasanya," Kise mendesah pelan serambi mengusap dadanya.

"Kalau begitu, mari kita tunggu sambil makan malam," ajak Tanaka tersenyum kalem yang segera disetujui keempat anak lelaki itu.

.

.

.

.

.

Anak mungil bersurai merah darah mengembalikan handphone yang barusan dipakainya kepada Kagami.

"Jadi, kau akan kembali ke rumahmu yang ada di Tokyo?" lelaki berbadan kekar berambut gradasi merah hitam itu bertanya pada satu-satunya manusia di dalam rumah ini.

Seijuurou mengangguk kecil. "Ya, para pengawal Akashi pasti sudah diperintahkan untuk mencari keberadaanku di setiap sudut kota sekarang, jadi aku harus keluar dari Kyoto sebelum mereka menemukanku."

"Bukannya nanti mereka malah mengejarmu ke Tokyo kalau ketahuan kau melarikan diri ke sana?" tanya Riko.

"Mereka memang tahu aku tinggal di sana, tapi tidak tahu dimana lokasinya. Mansion-ku berada di tempat yang sulit dijangkau jika tidak tahu rute tepatnya."

"Apa tubuhmu sudah kuat?" Riko memperhatikan keseluruhan fisik Akashi cilik.

Bocah itu mengangguk yakin. "Sepertinya besok sudah sembuh."

"Jangan memaksakan diri, tubuh manusia tidak sekuat kami para Swart Elfs," Himuro tersenyum kalem pada Seijuurou yang baru dikenalnya beberapa saat lalu.

"Kalau begitu kau akan ikut dengannya ke Tokyo, Kuroko?" Ruby Kagami melirik tajam ke arah pemuda bluenette yang berkaus putih lengan panjang dan celana jean biru.

"Aku harus mengikuti 'Tuan'-ku kemana pun dia pergi, 'kan?" bibir Tetsuya tersenyum datar.

Wanita berambut coklat sebahu menjengit. "Rasanya aneh saat kau mengucapkan kata 'Tuan' untuk seseorang, Kuroko-kun."

"Tentu saja, Riko-san. Selama ini dia tidak pernah sekalipun mau mengikuti orang lain," pemuda bersurai raven terkekeh geli.

"Bagaimana dengan kalian?" anak berumur 10 tahun itu memandang ketiganya bergantian.

"Kami ikut, tapi kami bukan mengikutimu," tekan pemuda beralis unik yang berbaju merah dan celana pendek tentara. "Aku hanya menjaga Kuroko agar dia tidak berbuat gila."

"Gila? Seperti kau tidak pernah berbuat gila saja, Kagami-kun," kata Tetsuya monoton tapi terkesan sinis.

"O-oi, aku memang sering bikin masalah, tapi tidak pernah berbuat gila," sangkal Kagami merengut jengkel.

"Hoo, berarti kau mengakuinya ya, Kagami-kun," Riko yang ber-dress hijau muda tersenyum manis. Aura gelapnya menguar berlahan.

Kagami yang baru sadar dengan apa yang dikatakannya, menelan ludah gugup. "He-he, gomen Riko-san," tawanya nervous.

"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan Himuro-san di sini?" Seijuurou meralih pada Himuro.

"Aku bisa keluar dan membangun toko kue sederhana di Tokyo," kata Himuro yang berkaus nila dan celana hitam bellel. Dia teringat dana yang ditabungnya selama ini cukup untuk modal usaha. "Aku harus menjaga adik angkatku biar tidak bikin banyak masalah," sindirnya pada Kagami khususnya. Membuat lelaki jabrik itu melototi kakaknya kesal.

"Kalau begitu, biar aku yang menyediakan tempat usaha dan peralatannya. Himuro-san tinggal menjalankannya. Ini bentuk balas budiku," tawar anak bermata merah delima itu.

Onyx malam Himuro terbeliak sesaat, sebelum dia tersenyum dan mengangguk mengerti.

"Maaf, tapi aku tidak ikut. Masih ada yang harus aku urus di kota ini bersama temanku yang lain," tolak halus sang wanita bermanik Hazel. Seijuurou menggumam paham.

"Jadi kapan kita mengambil jadwal keberangkatan kereta?" tanya Himuro.

"Kalau bisa pagi sekali."

"Alright, kami akan mengepak barang-barang, berharap saja rumahmu punya kamar lebih untuk kami," Kagami berdiri dari duduknya.

Seijuurou menyinggungkan senyum tipis. "Tenang saja Kagami-san."

Kagami dan Himuro keluar dari ruangan untuk pergi ke kamar mereka masing-masing. Mereka perlu menyiapkan kebutuhan yang akan dibawa ke Tokyo. Riko pamit sebentar meminjam kamar mandi di rumah ini.

"Jadi Tetsuya..." sepasang iris Deep Scarlet Seijuurou berbalik memandang Tetsuya.

"Hn?"

"Kau tidak mengemasi barangmu?"

"Barangku hanya ada beberapa di sini. Aku tidak punya tempat tinggal karena sering pergi berkelana," ucap lelaki bermata Aquamarine itu tersenyum tipis.

"Berkelana? Kau pergi berkeliling dunia?" Seijuurou mengerjap.

"Ya, aku sudah mengunjungi tiap tempat di belahan bumi beberapa kali," jujur Tetsuya.

"Berapa umurmu sampai kau bisa mendatangi semua tempat di dunia ini?"

"123 tahun."

Kelopak mata bocah crimson melebar singkat. "Kau hidup abadi?"

"Tidak, hanya dapat hidup hingga ratusan tahun."

Akashi cilik mendengus, bibirnya mengerucut sedikit. "Pantas. Enak sekali."

Tetsuya melayangkan kekehan samar melihat ekspresi khas anak-anak Seijuurou. "Berumur panjang itu tidak seenak seperti yang kau duga, Akashi-kun. Ada saatnya kau merasakan kehampaan yang mungkin tidak dapat terobati," lirihnya dengan mata redup meski raut wajahnya tetap datar.

Lelaki mungil itu mengamati pemuda blunette lekat. Sedikit banyak, Seijuurou tahu maksudnya. Karena dia juga pernah mengalaminya sendiri. Dia membalikkan badan menghadap Tetsuya, mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh lembut pipi sang pemilik marga Kuroko. Berniat memberi tahu bila dirinya tidak sendirian lagi.

Tetsuya tersenyum tipis menyadari arti tindakannya. Digenggamnya ringan tangan kecil yang hangat itu. "Lain kali aku akan mengajakmu pergi ke tempat yang kau mau," ajaknya yang telah menghilangkan kilat redup dari irisnya.

"Benarkah?" Seijuurou mengedipkan manik delimanya.

"Aku tidak berbohong," angguk Tetsuya.

"Aku bisa saja pergi sendiri ke tempat yang kumau, tapi kalau bersamamu mungkin akan menyenangkan juga," Seijuurou mengetukkan telunjuknya ke dagu berpikir. Sebagai anak konglomerat, hal seperti itu tidaklah sulit dikabulkan. Dia mendapatkan warisan besar dari mediang kakek neneknya.

"Kalau begitu," kemudian Seijuurou mengangkat tangan kanannya di depan muka pemuda teal. Mengepalkan empat jemarinya yang hanya menyisakan jari kelingking. "Yubikiri," ucapnya sambil melengkungkan bibir tersenyum.

"—Berjanjilah kau akan membawaku ke tempat yang kuinginkan setelah semua ini berakhir."

Tetsuya membulatkan maniknya tercengang. Janji kelingking. Sudah berapa lama dia melupakannya. Janji yang pernah dilakukannya bersama seseorang. Tanpa sadar mengingatkannya pada masa lalu.

Remaja berkulit pucat itu tersenyum hangat menyambut gerakan Seijuurou. Tetsuya mengaitkan kelingking kanannya pada jari kecil di hadapannya. "...Janji."

Seijuurou menyipitkan mata, melebarkan senyumnya senang.

.

.

.

.

.

"Nee, Tetsuya..."

"Hmm?"

Tetsuya bergumam seraya menyisir lembut helaian merah darah milik Seijuurou. Kini, mereka berdua berada di atas kasur kamar Kuroko. Dengan remaja bluenette yang duduk bersandarkan bantal di nakas, dan si cilik yang membaringkan kepalanya dalam pangkuan Tetsuya. Ruangan remang yang hanya diterangi lampu tidur itu membuat suasana malam jadi nyaman.

Seijuurou memejamkan mata menikmati usapan hangat tersebut. "...Tou-sama dan Nii-sama sekarang sedang apa ya?"

Gerakan tangan Tetsuya berhenti. Dia mengerutkan keningnya samar, memandang mimik muka Seijuurou yang terebah ke samping. Tidak ada yang berubah. Wajah putih imut itu tetap datar tanpa emosi.

"...Apa mereka sedang bersama?" bibir mungil itu mengucapkan suara lirih. "Makan malam bersama, tertawa bersama..."

Seijuurou mencengkram kain selimut erat.

"—Apa mereka sudah melupakan keberadaanku?"

Tetsuya diam tidak menjawab. Manik biru mudanya menyorot teduh, jemarinya kembali membelai rambut Seijuurou. Dirinya tidak tahu harus berkata apa. Karena ia belum sepenuhnya tahu bagaimana kehidupan yang dijalani bocah mungil itu.

Beberapa menit setelahnya, dengkuran halus terdengar dari arah Seijuurou. Rupanya dia tertidur. Tetsuya tersenyum tipis memperhatikan ekspresi damainya. Dia menunduk, hendak mengecup pelan kening akashi bungsu.

"Oyasuminasai, Akashi-kun."

.

.

.

.

.

+)+)+)+)+)To Be Continued(+(+(+(+(+

.

.

.

Aku harus mampir ke warnet buat upload nih chapter, modemku mati total, jadi harus nabung biar bisa beli yang baru...

Malangnya nasibku ToT *)PLAAK! Lebay!

Oke deh, silahkan direview, apapun itu aku menerimanya, asal jangan flame...

: makasih reviewnya, yah syukurlah aku dah sembuh sekarang, aku dah update nih.

Yuna Seijuurou : Iya nih, Yuna-san, gara-gara kecape'an. Tapi 'dah sembuh kok. Kamu juga jaga kesehatan ya, aku terus menunggu fic-fic lajutanmu yang keren banget itu ^^. Hubungan Sei dengan GOM udah sedikit terungkap, kenyataan Apostle juga. Sebisanya, aku akan update kalo udah beli modem baru, hehe... makasih reviewnya.

Bona Nano : Wee, tapi dah sembuh 'kan? Semoga cepat baikan, iya aku ngambil konsep Kuroshitsuji tapi dikit doang. Aku tetep bikin Sei jadi seme, setelah dia berumur 17 dan lebih tinggi dari Tetsu. Yak aku 'dah update... makasih reviewnya.

Shizuka Miyuki : memang di beberap chapter awal aku bikin KuroAka, tap nanti jadi AkaKuro kok, tenang aja. Nanti juga terungkap tunggu aja. Aah, makasih kritikannya.

MuroSaKu Seijuro : makasih, chapter ini abang Tetsu, nanti jadi abang Sei=.=

rufa ethna : makasih rufa-san, nih dah update...

Yak arigato yang telah mem-favorites and followers!