Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya

Pairing: Always NaruSasu

Rated: M for Mature and Sexual Content

Don't Like Don't Read


My Guardian Dog

.

By: CrowCakes

~Enjoy~

.

(Lemon in this chap)


.

.

_Konoha Gakuen, pukul 08.00 pagi_

.

Rumor tentang keluarnya Juugo dari kawanan hyena merupakan gosip terhangat di lingkungan sekolah. Beberapa siswa sibuk berspekulasi mengenai alasan dikeluarkannya Juugo. Banyak yang mengatakan karena perselisihan semata, perebutan kekuasaan dalam kelompok, sampai gosip berkelahi untuk memperebutkan cinta Karin. Yang terakhir itu sukses membuat Karin terkikik senang, sayangnya langsung dibantah oleh Suigetsu dengan keras sembari mengatakan bahwa dia lebih baik berpacaran dengan anjing daripada dengan gadis berkacamata itu. Tentu saja ucapan Suigetsu membuat Karin menghajarnya tanpa ampun. Walaupun begitu, berita itu cukup menghebohkan. Bahkan Sasuke pun sangat penasaran kenapa kelompok hyena itu bisa terpecah belah. Tapi sejujurnya, ia berharap bahwa gerombolan itu cepat musnah saja, jadi dia bisa hidup tenang tanpa harus takut di-bully.

"Sasuke, kau tidak ke kantin?" Suara Naruto menyadarkan sang Uchiha dari lamunannya. Mata onyx nya mengerjap sebentar kemudian memandang Naruto yang duduk disamping bangkunya sembari membawa cemilan roti serta jus kotak.

"Kau membeli itu dari uang apa?" Sasuke langsung bertanya tanpa basa-basi. Menunjuk snack ringan yang dibawa Naruto. "—Kau tidak mencuri 'kan?" Tanyanya lagi, hati-hati.

"Hey! Aku tidak mencuri makanan." Potong Naruto cepat, sedikit tersinggung.

"Lalu kenapa kau bisa membeli roti dan jus kotak ini?" Tegas Sasuke lagi, penasaran.

"Aku mengambil uang dari kotak kuil."

"Kau—apa?" Sasuke menaikkan kedua alisnya terkejut.

"Aku hanya arwah seekor anjing, oke? Aku tidak bisa bekerja, jadi selama ini aku tinggal di kuil terdekat dan hidup dari mencuri uang dari kotak sembah." Jelasnya sembari menyuruput jus jeruk. "—Aku bisa berubah menjadi anjing, jadi tidak akan ada yang curiga kalau seekor anjing liar tinggal dan tidur di kuil." Sambungnya lagi.

Sasuke mendesah pelan. "Bagaimana dengan mandi dan buang air?"

"Well, aku anjing. Aku bisa mandi dan buang air dimana saja." Jawabnya tidak peduli.

"Ewww—" Sasuke bergidik. "—Kau jorok." Ucapnya seraya menyingkir perlahan, menjauh dari Naruto.

"H—hey! Aku tidak sekotor itu. Aku bersih." Sahut Naruto membela diri. Mencoba menarik lengan Sasuke agar tetap duduk disampingnya.

Sang Uchiha menanggapinya dengan putaran bola mata malas. "Yeah, right." Balasnya sarkastik.

Naruto menggeram kesal. Ia menarik tubuh Sasuke untuk duduk dipangkuannya dan menggelitikinya dengan brutal. Membuat pemuda Uchiha itu tergelak dengan tawa keras. Untung saja, seluruh siswa di kelas sedang pergi ke kantin sehingga mereka tidak melihat sikap Sasuke yang sangat jauh berbeda dari kesehariannya itu.

"Cepat menyerah. Kalau tidak, aku akan menggelitikimu terus." Ucap Naruto dengan seringai jahil.

Sasuke meronta saat rasa geli itu menyerang pinggangnya. "Hahaha—Hentikan, Dobe!—Hahaha!"

Mereka tergelak bersama untuk beberapa saat. Kemudian detik selanjutnya, tawa mereka terhenti saat tangan Naruto berhenti menggelitiki Sasuke. Sang Uzumaki menangkap wajah putih itu untuk saling berhadapan dengannya. Iris biru dan hitamnya onyx saling berpandangan dengan tatapan lekat dan intens.

Naruto memajukan wajahnya dengan gerakan pelan. "Aku mencintaimu, Sasuke. Aku benar-benar mencintaimu." Bisiknya lembut dengan suara bariton rendah yang menggoda.

Sasuke mendengus kecil dengan senyuman tipis. "Aku juga mencintaimu, anjing bodoh." Balasnya seraya menyatukan bibir mereka dengan lembut. Menekan dan menghisap pelan. Tanpa adanya tuntutan dan nafsu. Hanya kecupan ringan tanda sayang.

.

"Sasuke." Panggilan seseorang diambang pintu sukses membuat dua pasangan itu terkejut dan memisahkan diri dengan panik.

Sasuke menoleh ke pintu kelas dengan gerakan canggung, mendapati sosok Juugo yang menatapnya dengan tajam. "Oh, Juugo—ada apa?" Tanya sang Uchiha basa-basi. Terkesan enggan dan malas berurusan dengan pemuda itu.

Juugo tidak langsung membalas. Ia menatap Sasuke dan Naruto secara bergantian. "Kalian sedang apa?" Tanyanya dengan desisan keras, campuran emosi marah dan juga cemburu.

Naruto menanggapinya dengan decihan jengkel. Pemuda pirang itu berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana kemudian menatap Juugo dengan pandangan meremehkan. "Apa yang kami lakukan tidak ada hubungannya denganmu, Brengsek." Sahutnya, memancing pertengkaran.

Juugo menggeram. "Berani sekali kau bicara denganku seperti itu." Ia bergerak menuju sang Uzumaki dengan kesal. "—Kau pikir kau itu siapa, huh?!" Tangannya menyambar kerah Naruto.

Sang Uzumaki terkekeh dengan nada mencemooh. "Aku Naruto, anjing setia Sasuke. Lalu kau siapa?" Balasnya sengit. "—Ah iya, aku lupa kalau kau hanyalah pecundang yang dikeluarkan dari gerombolan hyena."

DUAGH!—Sebuah bogem mentah tanpa aba-aba langsung bersarang di wajah Naruto, membuat pemuda pirang itu terhuyung mundur dengan rasa pening. Sasuke yang kaget langsung menengahi keduanya.

"Apa yang kalian lakukan?!" Sang Uchiha mendelik marah pada keduanya. "—Kalian itu punya otak tidak sih?! Bagaimana kalau perkelahian kalian diketahui oleh guru?!" Bentaknya lagi.

Naruto menggeleng sebentar untuk mengusir rasa sakitnya, kemudian menatap Juugo dengan geraman berat. Mirip seekor anjing yang bertemu ancaman. Well, dia memang anjing dan Juugo memang ancaman.

Sasuke mulai ketakutan saat beberapa siswa memilih berhenti didepan kelas mereka untuk melihat perkelahian itu. "Kalian berdua, sudah cukup! Henti—" Belum sempat kalimatnya selesai. Naruto sudah lebih dulu menerjang Juugo dengan brutal kemudian menghantamkan tinjunya ke tubuh pemuda berambut jingga itu.

Perkelahian tidak bisa dihentikan. Adu tinju dan saling tendang dilakukan oleh Naruto dan Juugo dengan sekuat tenaga. Tatapan tajam yang penuh kebencian dan geraman saling dikeluarkan, mengancam musuh masing-masing. Kemudian pukulan kembali berbalas, hantaman tak terelakkan, dan ruang kelas menjadi ajang adu kekuatan bagi dua pemuda itu.

Naruto dengan sikap agresifnya sedangkan Juugo dengan sikap bertahan. Keduanya memiliki cara bertarung sendiri. Sang Uzumaki yang terus melakukan tinju dan pukulan secara membabi buta, sedangkan Juugo berusaha tetap tenang dengan melindungi kepalanya dari pukulan Naruto.

Sasuke menyingkir, merapat ke tembok. Berusaha tidak masuk dalam pergulatan liar itu. Namun matanya selalu waspada melihat setiap gerakan dua pemuda dihadapannya. Ia bisa melihat siapa yang akan menang dan yang akan kalah. Baginya ini pertarungan yang tidak adil, terlebih lagi Naruto adalah arwah anjing yang tentu saja akan lebih kuat dua kali lipat dibandingkan manusia biasa seperti Juugo.

Ini tidak akan bagus. Batinnya dalam hati.

Dengan sedikit keberanian, Sasuke berusaha keras menarik tangan Naruto untuk menghentikan pukulan pemuda itu di wajah Juugo. "Cukup Naruto! Hentikan!" Ia berteriak memohon. Apalagi setelah melihat Juugo yang tersungkur di lantai sambil terus mempertahankan wajahnya dari bogem mentah sang Uzumaki.

Namun Naruto masih terus menghajar pemuda itu tanpa ampun. Kilatan benci terpantul di iris birunya dengan geraman berat layaknya seekor anjing yang bersiap mencabik musuhnya tanpa belas kasihan.

Kemarahan Sasuke sudah mencapai ubun-ubun. Ia menarik lengan sang 'anjing' dengan sekali hentakan. "AKU BILANG CUKUP, NARUTO!" Teriakannya membahana. Menghentikan gerak tangan Naruto di udara yang hampir saja melayangkan tinjunya lagi ke wajah Juugo yang sudah terlihat babak belur.

Naruto mendecih. Ia menyentakkan tangannya di kerah pemuda berambut jingga itu, kemudian merapikan kerah jas seragamnya lagi. "Aku membencinya—" Ia membuka suara seraya menatap Sasuke dengan nyalang. Tatapan anjing yang masih waspada. "—Aku membenci Juugo, Sasuke." Ucapnya lagi.

Sasuke membalas dengan tatapan ganas. Kemudian bergerak menuju Juugo dan memapah pemuda itu untuk membantunya keluar dari kelas. "Aku akan mengantar Juugo ke ruang kesehatan." Ujarnya tanpa menoleh ke arah Naruto. "—Tunggulah disini."

"Tapi Sasuke—"

"AKU BILANG, TUNGGU DISINI!" Sang Uchiha kembali membentak ke arah pemuda pirang itu. Menghentikan kalimat protes yang dikeluarkan oleh Naruto.

Sedikit mendengus jengkel, Sasuke bergerak keluar seraya membantu Juugo yang berjalan tertatih-tatih menuju ke ruang kesehatan. Meninggalkan Naruto yang mengepalkan tangan penuh kebencian.

Pemuda pirang itu berbalik dan menendang meja dengan suara -BRUAKK!- yang cukup nyaring. Melampiaskan kekesalannya.

.

.

_Ruang kesehatan, pukul 10.00 pagi_

.

Sasuke terlihat mengobrak-abrik lemari peralatan obat dan kesehatan. Walaupun wajahnya menampilkan ekspresi stoic khas Uchiha, namun tidak menutupi kalau ia juga cukup panik dan cemas. Tangannya mengambil beberapa perban dan alkohol dari dalam sana kemudian bergerak menuju sisi ranjang tempat Juugo mendudukkan diri.

Wajah pemuda itu terlihat berantakan dengan darah yang mengucur dari sisi kening, hidung dan sela bibir. Belum lagi matanya yang membengkak akibat dihajar dengan brutal oleh Naruto.

"Sebaiknya kau berbaring. Lukamu cukup parah." Jelas Sasuke lagi sembari menuangkan alkohol di kapas.

Juugo menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil." Balasnya sambil tetap mempertahankan kantong es di bagian kening, mengompres bagian yang bengkak.

Sasuke tidak menyahut lagi, ia paham betul kalau Juugo sebenarnya hanya berpura-pura terlihat kuat. Melindungi harga dirinya sebagai seorang laki-laki untuk tidak bersikap lemah. "Hadap ke arah sini." Sasuke menarik pelan wajah itu untuk menatapnya, agar bisa mengobati luka Juugo dengan nyaman. "—Seharusnya kau tidak berkelahi dengan Naruto. Dia bisa sangat liar kalau sudah marah." Tangan putih itu mulai membersihkan wajah Juugo dengan kapas yang diberi alkohol.

Pemuda berambut jingga itu hanya meringis pelan saat kapas menyentuh lukanya. "Aku terbawa emosi."

Sasuke mendengus pelan. "Yeah—alasan yang standar." Balasnya sarkastik.

Juugo tidak membalas. Ia hanya menatap gerakan Sasuke yang terus mengobati lukanya dengan telaten dan hati-hati. "Apakah aku tidak ada kesempatan lagi?" Tanyanya secara tiba-tiba dan sangat jauh dari topik yang sedang mereka bicarakan.

Sasuke menghentikan gerakannya untuk memperban kening pemuda itu. "Apa?"

"Kesempatan untuk bersamamu." Potong Juugo cepat. Berusaha mengingatkan Sasuke mengenai pernyataan cintanya.

Sang Uchiha tidak membalas. Ia menyelesaikan memperban kepala Juugo sebelum duduk di hadapan pemuda itu. "Aku tidak tahu apa maksudmu mengenai pernyataan cinta konyol itu, tetapi—jujur saja—aku tidak bisa menerimamu."

"Apa ini karena Naruto?" Lagi-lagi Juugo memotong dengan cepat. "—Aku melihat kalian berciuman." Lanjutnya lagi.

Sasuke terdiam sejenak, gerak tubuhnya terlihat gelisah selama beberapa detik namun bisa dikendalikannya dengan ekpresi datar serta dingin. "Ya, kami berciuman. Dan benar, aku tidak bisa menerimamu karena Naruto. Aku menyayanginya." Jawaban itu membuat Juugo mengeratkan kepalan tangannya.

"Apakah kau tidak bisa mencintaiku juga?" Pemuda berambut jingga itu masih bersikeras.

Sasuke mendesah. "Dengar Juugo—" Ia menggigit bibirnya sebelum memulai bicara. "—Aku menghargai bahwa kau mencintaiku tetapi—"

"Aku keluar dari kelompokku karena dirimu." Juugo sekali lagi memotong kalimat Sasuke dengan lancang. Entah karena sifatnya yang suka memotong perkataan orang lain dengan seenaknya ataukah ia hanya terlihat frustasi karena cintanya bertepuk sebelah tangan? Entahlah, Sasuke tidak peduli. Pemuda raven itu hanya menunggu ucapan yang akan dilontarkan oleh Juugo.

"—Aku ingin bersamamu, karena itu aku memutuskan persahabatanku dengan Suigetsu." Tegas Juugo lagi seraya mencengkram bahu sang Uchiha dengan kuat.

"Maaf. Apapun alasanmu, aku tetap tidak bisa mencintaimu." Sahut Sasuke dengan suara tegas namun juga lembut, berusaha agar tidak menyakiti perasaan pemuda itu.

Juugo terdiam. Bibirnya mengatup rapat, sedangkan cengkraman tangannya di pundak pemuda raven itu mulai melonggar secara perlahan. "Sasuke, bisakah aku menciummu?" Ia tidak memaksa, hanya memohon dengan suara lirih dan putus asa.

Untuk sesaat, Sasuke hanya bisa membelalakkan matanya terkejut. "Apa?"

Iris jingga kemerahan itu menatap sang onyx dengan lekat. "Biarkan aku menciummu satu kali saja." Ulangnya lagi.

Sasuke mencoba menggeleng menolak. Namun tangan Juugo langsung membelai pipi putih itu dengan lembut. "Hanya satu kali—" Ia kembali berucap sembari menarik pinggang ramping itu mendekat. "—Tidak akan lebih dari sekedar ciuman." Sambungnya lagi.

Sasuke terlihat ragu. Ia mencoba bergerak menjauh, namun tatapan jingga itu seakan-akan menghipnotisnya dan membuat tubuhnya memiliki pemikiran sendiri. Hingga tanpa sadar, ia sudah berada dipangkuan Juugo dengan bibir saling membentur satu sama lain.

Juugo memeluk pinggang sang Uchiha dan mengusap punggung ramping itu dengan lembut. Sedangkan mulutnya terus menghisap dan menjilat bibir Sasuke dengan penuh gairah.

Lumatan dan benturan ringan dilakukan. Sesekali bergulat dengan lidah yang saling bergesekan. Bahkan saliva pun turut andil dalam adegan cumbuan panas itu.

"Hmphh—nghmp—" Sasuke mendesah kecil sembari menjambak lembut rambut jingga itu. Membuat libido Juugo menggelegak tidak terkendali.

"Sasuke—hmphh!—aku mencintaimu—nghmpp!" Juugo terus mengatakan kalimat itu diantara ciuman mereka. Menggerakkan lidahnya untuk memonopoli rongga mulut sang Uchiha, menyatakan dominasinya.

.

BRAAKK!—Suara benturan keras membuat dua tubuh yang saling berpagutan itu langsung melepaskan diri dengan sikap terkejut dan panik.

Sasuke menjauh dengan cepat dari atas pangkuan Juugo. Mata onyx nya menoleh ke arah pintu dan menemukan sosok Naruto yang menggeram marah padanya. Tangan sang Uzumki terkepal di sisi bidang kayu malang itu, meninggalkan retak akibat bekas hantamannya disana.

"Jadi ini yang kalian lakukan di ruang kesehatan, huh?" Naruto mendesis sinis. "—Bercinta?" Tanyanya lagi.

Wajah putih Sasuke semakin memucat. Raut panik terlihat jelas di matanya. "Kau salah." Ia mencoba membela diri. "Kami hanya... Hanya—" Lidahnya kelu seketika ketika rentetan kalimat diotaknya tidak juga membuat sebuah alasan.

Naruto menunggu dengan wajah mengeras. Rahang kokohnya bergetar dengan kemurkaan. "Hanya apa?" Ia mendesis. "—Hanya berciuman begitu?" Lanjutnya dengan nada sarkastik.

Sasuke membuka mulutnya mencoba mengeluarkan bantahan, namun langsung dikatupkan kembali saat ia sadar bahwa otaknya masih tidak bisa menemukan alasan yang tepat.

"Ya, kami berciuman." Kalimat tegas itu keluar dari mulut Juugo. Tangannya sedikit merapikan kerah seragamnya. "—Ada masalah tentang itu, Naruto?" Tantangnya lagi dengan ekpresi dingin, tidak sadar bahwa wajahnya masih babak belur akibat bogem mentah yang dilayangkan Naruto.

Sang Uzumaki menggeram. Tangannya mengepal kuat. Sedangkan matanya berkilat nyalang.

Sasuke yang sadar hal itu langsung bergerak di depan Juugo, melindungi pemuda itu kalau-kalau Naruto kembali melakukan pemukulan. Namun alih-alih memukul, Naruto malah berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tidak peduli. Meninggalkan Sasuke yang kalut.

"Naruto!—" Sang Uchiha memanggil, bergerak mengikuti pemuda pirang itu. "—Naruto, berhenti!" Serunya lagi.

Juugo hanya menatap kejadian itu dalam diam. Ekspresinya masih tidak berubah, tetap dingin dan stoic. Pantulan bayangan punggung Sasuke yang mengejar Naruto mulai menjauh dari jarak pandanganya, membuatnya memilih pergi dari ruang kesehatan.

Tepat ketika ia baru satu langkah menjauh, sosok Suigetsu terlihat bersender di sisi tembok koridor, tepat di samping pintu UKS. Matanya menatap Juugo dalam diam. Sedangkan kedua tangannya terlipat di depan dada.

Juugo menghentikan langkahnya. "Apakah kau yang memberitahu Naruto tentang aku dan Sasuke?" Tanyanya.

Sang pimpinan kawanan hyena tersebut mendengus pelan. "Yeah, aku mengatakan kalau kalian akan 'bercinta' di ruang kesehatan." Sahut Suigetsu dengan kekehan kecil. "—Dan si bodoh itu benar-benar percaya. Lucu sekali."

"Kami memang akan 'bercinta'." Juugo menyahut cepat. "—Tapi untunglah Naruto melihat kami berciuman, jadi dia bisa cepat menyadari kalau hubungannya dengan Sasuke harus berakhir." Jelasnya lagi, terkesan malas.

Suigetsu mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan wajah mengeras. Ia bergerak cepat untuk menyambar kerah baju Juugo. "Aku sudah muak dengan tingkahmu itu, Juugo! Berhenti berharap lebih pada Sasuke! Dia tidak pernah menganggapmu ada!" Bentaknya kesal.

"Tapi aku mencinta—"

"BERHENTI BICARA OMONG KOSONG TENTANG CINTA, BRENGSEK!" Suigetsu meraung keras. Ia menarik kerah Juugo semakin kuat dan erat. Ia mendongak untuk memandang ke iris jingga itu, tatapan yang tidak bisa dideskripsikan. "—Berhenti menatap Sasuke." Ucapnya lirih.

Juugo membalas dengan pandangan tanpa ekspresi. "Kenapa aku harus berhenti menatap Sasuke? Kenapa aku harus berhenti menarik perhatiannya?" Tanyanya lagi.

Suigetsu terdiam. Menggigit bibir bawahnya dengan gelisah, sedangkan tangannya mencengkram kerah pemuda itu dengan gemetar. "Karena ak—"

.

"Guys, kalian sedang apa?" Suara Karin menginterupsi pembicaraan itu. Membuat kedua pemuda itu menoleh cepat.

"Tidak ada apa-apa." Suigetsu menjawab cepat sembari melepaskan cengkramannya dari kerah Juugo.

"Kalian yakin?" Karin kembali menimpali. "—Jujur saja, melihat kalian berdua berkelahi hanya karena si anjing bodoh dan majikannya itu membuatku hampir frustasi." Tukasnya sembari menekuk wajah cemberut.

"Hey! Ini bukan salahku, ini salah Juugo!" Sela Suigetsu cepat sembari menunjuk ke arah pemuda berambut jingga itu.

Karin berkacak pinggang sambil mendelik ke arah Juugo. "Dan untukmu Juugo, berhenti mengejar cinta Sasuke. Hanya karena pemuda itu kau keluar dari kelompok. Itu tidak masuk akal!" Gerutu sang gadis lagi.

Juugo mendengus pelan, kemudian berjalan pergi. "Urusi urusan kalian sendiri. Jangan mengurusi masalahku." Tegasnya dengan desisan rendah.

Suigetsu merentangkan kedua tangannya dengan kesal. "See?Do you see that fucking horny faggot?" Geramnya seraya berbicara pada Karin dengan kalimat menggebu-gebu. "That fucker really makes me want to tear his fucking head off!" Ucapnya kasar.

Karin hanya bisa mendesah lelah. "Oke, cukup Suigetsu. Biarkan Juugo sendiri. Sebaiknya kita pulang dan menyiapkan tas ransel untuk camping besok."

Suigetsu mengangkat kedua alisnya bingung. "Camping? What camping?"

Gadis berkacamata itu memutar kedua bola matanya, jengkel. "Kau tidak memperhatikan perkataan Kakashi-sensei kemarin, huh? Sensei mengatakan kalau kita akan berkemah besok. Sebagai acara untuk bersenang-senang." Jelasnya lagi.

Suigetsu mengerang sebal. "Gah! Merepotkan!"

.

.

.

Di tempat lain. Naruto terlihat berjalan dengan langkah berdebam marah di sepanjang trotoar jalan. Ia bahkan tidak mempedulikan panggilan Sasuke yang tengah berlari mengejarnya. Otaknya dipenuhi dengan kecemburuan yang meluap-luap. Bayangkan saja jika orang yang kau cintai sedang berciuman dengan orang lain. Di depan mata kepalamu sendiri. GOD!—Itu mengerikan!

"Naruto! Berhenti!" Sasuke berhasil menggapi lengan pemuda pirang itu dan menyentaknya kasar. "—Kenapa kau menghindar?! Tingkahmu itu seperti cewek saja!" Tukasnya dengan kesal.

Naruto mendengus seraya menatap sang Uchiha tajam. "Tingkahmu itu yang seperti cewek murahan! Berciuman dengan orang lain dihadapanku. Kau itu milikku!" Tegasnya.

Sasuke mendesah, mencoba memaklumi kemarahan pemuda pirang itu. "Dengar, doggy—Aku memang berciuman dengan Juugo, tapi itu hanya kecupan bersahabat."

"Kecupan bersahabat kau bilang?! Maksudmu dengan saling menjilat dan berbagi air liur?!—Yeah, right!" Balasnya sinis.

Sasuke terdiam sejenak, kemudian menggapai lengan sang Uzumaki dengan pelan. "Maafkan aku." Bisiknya lirih. "—Kelakuanku tadi sudah membuatmu marah, Naruto." Sambungnya lagi.

Naruto mendecih kesal, namun tidak menepis pegangan sang Uchiha dari lengannya. Bagaimanapun juga ia mencintai pemuda itu. Ia tidak mungkin membencinya hanya gara-gara ciuman yang terjadi di UKS. Well, memang membuat kesal, tetapi—ah sudahlah—nanti ia sendiri yang akan menghajar Juugo.

Tangan tan itu menyentuh punggung Sasuke, menariknya pelan dan memeluknya dengan lembut. "Aku sudah memafkanmu, Teme. Tetapi jika aku melihat kau bercumbu lagi dengan lelaki lain, akan kupastikan lehermu patah." Ancamnya, yang tentu saja gertakan palsu.

Sasuke mendengus pelan dengan senyuman di bibirnya. "Aku bersumpah, Dobe. Kalau aku bercumbu dengan orang lain lagi, maka kau bisa mematahkan leherku sesukamu." Sahutnya lagi. "—Jadi sekarang, bagaimana kalau kita membolos saja? Aku sudah tidak berniat sekolah. Setuju?" Usulnya yang disambut oleh anggukan Naruto.

.

.

.

_Kediaman Uchiha, pukul 12.00 Siang_

.

Sasuke membuka pintu depan rumah dengan Naruto yang mengekor di belakangnya. Mereka baru saja dari pemakaman setelah memberikan karangan bunga di batu nisan Naruto. Well, agak aneh memang harus memberikan bunga di makam itu padahal arwahnya ada disampingmu. Tetapi Sasuke tidak peduli, ia senang berkunjung ke makam sang anjing dan memberinya rangkaian bunga cantik.

"Naruto—kau tunggu di kamar mandi, oke?" Perintah Sasuke sembari beranjak menaiki anak tangga. Membuat Naruto memandang pemuda itu dengan bingung.

"Untuk apa?"

"Tentu saja memandikanmu, Dobe." Sahut sang Uchiha lagi dengan putaran bola mata malas. "—Dan jangan kabur atau aku akan marah." Ancamnya yang membuat Naruto langsung berdecak jengkel.

"Oh come on! Aku tidak ingin mandi!" Rengek pemuda pirang itu seraya menghentakkan kakinya ke lantai. Kesal.

"Tidak ada alasan, Anjing bau."

"Hey!—Jangan memanggilku begitu! Aku tidak bau!" Protes sang Uzumaki lagi.

"Kalau begitu turuti perintahku—" Sasuke berbalik seraya melipat kedu tangannya di depan dada. "—Masuk ke kamar mandi dan tunggu aku disana, mengerti?" Ucapnya lagi dengan penegasan pada setiap katanya.

Naruto mengerang keras dan berjalan menuju ke kamar mandi dengan langkah gontai. Sedangkan Sasuke tersenyum penuh kemenangan, kemudian naik ke lantai atas untuk berganti pakaian.

Sedikit pasrah, pemuda pirang itu akhirnya masuk ke kamar mandi setelah melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya dan menaruhnya ke dalam keranjang cucian. Ia menggerutu pelan sambil mengisi bak mandi dengan air hangat.

"Ugh—bersentuhan dengan air saja membuatku alergi." Gerutu Naruto. "—Aku benar-benar benci mandi." Sambungnya lagi.

"Berhenti bergumam sendiri, Idiot." Suara Sasuke terdengar dari arah belakang. Pemuda raven itu sudah berganti pakaian rumahan dengan baju kaos biru dan celana putih pendek. "—Cepat masuk ke dalam bak mandi." Perintahnya lagi.

Masih bersungut-sungut, Naruto terpaksa memasukkan dirinya ke dalam bak dan membiarkan sang Uchiha menggosok punggungnya. "Aku benci mandi." Pemuda pirang itu masih tidak sudi dimandikan seperti ini.

"Diamlah. Kau itu berisik!" Rutuk Sasuke sembari memukul kepala sang Uzumaki dengan sikat badan. "—Sebentar lagi kau akan bersih. Jadi bersabarlah." Sambungnya.

Naruto mendesah pasrah. Ia memilih diam sambil memainkan bebek karet di dalam bak mandi. "Oi Sasuke, kau jujur 'kan saat mengatakan kalau kau tidak ada hubungannya dengan Juugo?" Tanyanya, membuka pembicaraan.

Sasuke menghentikan kegiatan menggosoknya. "Kenapa kau mengungkit hal itu? Sudah kukatakan bahwa aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Juugo." Erangnya agak kesal. "—Ciuman saat itu hanyalah kesalahan, oke?!"

Sang Uzumaki terdiam sejenak. Ia berbalik untuk berhadapan dengan pemuda raven itu.

"Apa?" Ucap Sasuke yang agak risih ditatap dengan pandangan lekat dan intens.

"Kau sudah menjadi milikku." Naruto menggapai tangan sang onyx dan mengecupnya pelan. "—Jadi jangan harap kau akan bebas menyentuh laki-laki lain."

Sasuke mendengus kecil. "Aku tidak murahan seperti itu, Idiot." Potongnya tajam. "—Harga diriku tinggi, dan lagi, tubuhku berkualitas. Jangan bandingkan aku dengan para pelacur yang berkeliaran diluar sana." Sombongnya lagi dengan seringai tipis khas seorang Uchiha.

Ah!—Betapa Naruto menyukai keangkuhan pemuda raven itu. Membuatnya benar-benar terlihat menggoda sekaligus menakjubkan.

Sang Uzumaki bergerak maju, mendekatkan tubuhnya pada pemuda raven itu. Kemudian menghirup aroma tubuh Sasuke dalam-dalam. "Aku suka baumu, Sasuke. Perpaduan mint dan blueberry. Sangat manis."

Sasuke mengernyit heran, kemudian mengendus bau tubuhnya sendiri. "Aku tidak mencium bau apapun." Ujarnya lagi.

Naruto terkekeh sebentar. "Aku anjing. Jadi aku bisa membedakan setiap bau makhluk hidup."

"Oh yeah? Kalau begitu bagaimana dengan bau Itachi-nii?"

Pemuda pirang itu berpikir sebentar. "Hmm—perpaduan bau dupa dan wangi bunga di musim semi. Agak eksentrik, namun cukup menggairahkan."

"Dupa? Mungkin karena Itachi-nii selalu bekerja di kuil." Sela Sasuke lagi.

"Lupakan soal Itachi—" Naruto memotong cepat. "—Bukankah kau harus memandikanku, Sasuke?" Godanya lagi seraya mengecup pipi putih sang Uchiha.

Sasuke mendengus geli. "Baiklah, baiklah, aku akan memandikanmu. Jadi berbalik dan biarkan aku menggosok punggungmu."

"Tidak." Naruto menolak tegas. "—Bukan di punggung melainkan disini." Lanjutnya lagi sembari menunjuk selangkangannya.

"WWhat?"

"Bersihkan di bagian ini." Perintah pemuda pirang itu lagi seraya duduk di sisi bathtub, membuka lebar selangkangannya dan menunjukkan benda yang setengah menegak di balik sana.

Sasuke mendelik galak. "Kau anjingku, Dobe. Berhenti memerintahku atau aku akan melemparkanmu keluar." Desisnya sinis.

Naruto menekuk wajahnya, cemberut. "Ayolah, Teme. Bukankah kau sendiri yang ingin membersihkanku? Jadi bersihkan seluruh inchi tubuhku." Ucapnya lagi.

Sang Uchiha lagi-lagi hanya mendengus kesal. "Fine, idiot!Stupid horny doggy." Sungutnya sembari bergerak ke arah selangkangan Naruto, menangkap benda yang setengah menegak itu dan mengocoknya dengan sabun cair. Membuat paha Naruto bergetar geli.

"Sasuke—hhh—jilat penisku." Pinta Naruto dengan napas terengah-engah penuh nafsu.

Sang Uchiha mendelik sinis. "Kenapa aku harus menur—"

"Please, penisku sakit kalau tetap tegak begini." Mohon sang Uzumaki lagi. Membuat Sasuke tidak punya pilihan lain selain mengikuti permainan nakal pemuda pirang itu.

Sedikit pasrah, Sasuke mencondokan kepalanya untuk meraup daging berotot yang berdenyut itu. Menjilat ujungnya pelan lalu mengulumnya dengan hati-hati. Sanggup membuat selangkangan sang dominan bergetar tidak terkendali.

"Ghhk!—hhh—" Naruto mendesah pelan. Jarinya mengelus lembut rambut raven sang Uchiha, kemudian menarik kepala itu untuk memakan habis alat kelaminnya.

"Hmphh!—ngmphh!" Sasuke mengerang kecil saat kepalanya dipaksa maju-mundur untuk mengulum penis sang Uzumaki. Mulutnya bisa merasakan benda itu semakin membesar dan menggesek lidah serta langit-langit mulutnya.

Naruto meringis pelan saat kulit penisnya tergesek gigi sang Uchiha. Ia menggapai mulut pemuda raven itu dan membukanya pelan. "Sakit—hhh—jangan sampai terkena gigimu." Ucapnya lagi.

Sasuke mengangguk pelan dan kembali memberikan hisapan dan lumatan yang membuat paha sang dominan bergetar hebat. Decakan air liur dan geraman berat Naruto membuat nafsu Sasuke mulai terpompa pelan. Ia mempercepat ritme kulumannya di benda yang menegak itu, membuat sang Uzumaki bergerak panik dengan desahan keras.

"Sasu—hhh—stop—aku hampir keluar." Pinta Naruto seraya menghentikan hisapan Sasuke dengan melepas kejantanannya dari mulut mungil itu dengan cepat. "—Apa yang kau lakukan?! Kau ingin aku ejakulasi dini, hah?!" Sungut pemuda pirang itu setengah kesal.

Sasuke menyeka cairan air liur dan precum dari sela bibir. "Kau saja yang terlalu sensitif. Dasar amatiran." Ejeknya.

"A—Amatiran?!" Suara Naruto meninggi. "—Enak saja mengatakan aku amatiran! Memangnya kau pernah melakukan hal ini sebelumnya?! Kau juga pemula, Teme!"

Sang Uchiha tidak membalas dan hanya mendengus pelan. Ia bangkit berdiri, kemudian mulai menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakannya. "Kalau begitu, ayo kita bertarung. Siapa yang paling lama bertahan dalam urusan 'gulat panas' ini, dia pemenangnya." Tantangnya dengan seringai tipis.

Naruto terkekeh pelan. Ia menarik tangan sang Uchiha dan membawa tubuh itu untuk duduk diatas pangkuannya. "Tentu. Siapa takut." Jawabnya sembari membawa bibirnya untuk mengecup mulut Sasuke.

Mereka kembali melakukan benturan bibir yang lembut namun cukup agresif. Sasuke membuka celah bibirnya dan membiarkan lidah Naruto bergerak masuk, menginvasi rongga basah itu.

Lidah saling bergesekan dengan intim, decakan terdengar dan air liur menetes perlahan dari sela dagu, membuat kedua pemuda itu larut dengan pergulatan bibir mereka. Saat oksigen di paru-paru mulai menipis, mereka sepakat untuk melepaskan cumbuan untuk sesaat.

"Kemari—" Naruto memandu tubuh Sasuke untuk bergerak masuk ke dalam bathtub. Sang Uzumaki membiarkan dirinya setengah berbaring di dalam sana, sedangkan Sasuke memilih duduk di atas perut pemuda pirang itu.

Sang Uchiha mendengus sebentar. "Kenapa aku juga harus masuk ke dalam bak mandi? Terlalu sempit untuk kita berdua, Dobe. Lagipula airnya meluap keluar." Sungutnya sembari mengambil bebek karet dan meletakkannya di permukaan air.

Naruto memutar bola matanya malas. "Bukannya kau menginginkan gulat panas ini?" Tukasnya lagi sembari melempar bebek karet itu ke lantai kamar mandi, benda kuning kecil tadi mengganggu aktifitas mereka saja.

"Tapi aku tidak bilang harus di kamar mandi juga." Sela Sasuke lagi.

"Oh ayolah, dimanapun tidak akan menjadi masalah 'kan?" Sahut Naruto seraya melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ramping itu. Membawa tubuh sang Uchiha untuk mendekat. "—Ayo kita lakukan." Lanjutnya lagi sembari melumat habis bibir mungil Sasuke, tidak sabaran.

Sang Uchiha mendengus geli dan membiarkan pemuda pirang itu mendominasi mulut dan tubuhnya. Kedua tangannya merangkul leher sang Uzumaki dan menariknya semakin dekat, menekan lebih dalam percumbuan mereka.

"Hmmph!—Nghhmp!" Sasuke mendesah pelan. Lidahnya bergerak untuk menjilat bibir pemuda pirang itu. Kemudian menghisapnya dengan lembut.

Naruto menikmati kecupan sang Uchiha. Kedua tangan tan-nya membelai punggung pemuda bertubuh ramping itu, mengalirkan sensasi yang menggelitik bagi kulit Sasuke. Cumbuan berhenti saat kebutuhan udara lagi-lagi mengganggu aktifitas mereka.

"Kau mengagumkan, Sasuke."

"Berhenti memujiku, Dobe." Sela Sasuke cepat. Rona merah merayap di pipi putihnya. "—Kau hanya seekor anjing. Dan anjing tidak memuji manusi—Ahhn!" Kalimatnya terhenti saat tangan Naruto menggenggam kejantanannya dengan cepat. Membuat paha putih itu bergetar nikmat.

"Tetapi sepertinya, bagian tubuhmu yang ini suka dipuji." Sahut sang Uzumaki dengan seringai jahil. Jarinya bergerak merayap menggelitik kulit penis pemuda raven itu.

Sasuke mencengkram bahu sang dominan dengan kuat. Sedangkan pahanya bergetar ketika sengatan listrik statis itu menyentuh organ vitalnya. "Ahhh—Naru—nghhh!" Ia mendesah. Matanya bisa melihat jari telunjuk Naruto bermain dengan ujung kejantanannya. Menepuk-nepuk cairan precum di lubang urinalnya.

"Kau suka, Sasuke?" Goda sang Uzumaki lagi dengan suara rendah dan berat.

Sasuke tidak tahu harus menjawab apa. Kepalanya mengangguk pelan dengan lengan yang menutupi wajah, mencoba menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Ahhh!—Ghhk!—geli—nghhh—" Erangnya.

Naruto tersenyum senang. Ia melepaskan genggamannya di kejantanan Sasuke dan mengangkat tubuh ramping itu untuk duduk di sisi bathtub. "Buka pahamu lebar-lebar." Perintahnya lembut namun juga tegas. Sasuke menuruti permintaan itu tanpa protes sama sekali.

Kejantanan sang Uchiha terekspos sempurna dengan penis yang menegak mengeluarkan tetes precum di ujungnya. Naruto menyeringai senang dan mulai membuka mulutnya untuk melahap benda keras tersebut dengan rakus.

"Ghhk!—Ahhh—" Sasuke mendesah saat merasakan hangatnya lidah sang dominan yang menjilat alat kelaminnya. Membuat libido pemuda raven itu terbakar dengan hawa nafsu. Punggungnya disenderkan ke sisi tembok, sedangkan kepalanya mendongak dengan mulut terbuka lebar. Berusaha menangkap oksigen sebanyak-banyaknya untuk asupan paru-parunya.

Naruto menggerakkan kepalanya maju-mundur dan sesekali melakukan hisapan kuat yang membuat Sasuke mabuk kepayang. Sedangkan jari tan itu mulai bergeriliya mencari lubang tepat dibawah dua bola testikel sang Uchiha.

"Ahhh!—Ahhk!—" Sasuke mencengkram bahu sang Uzumaki dengan erat saat ia merasakan lubangnya dipaksa melebar oleh dua jari yang ingin masuk ke dalam sana. Sodokan pelan dan putaran di lubang analnya membuat otak Sasuke tidak bisa berpikir jernih. Akal sehatnya tersapu dan tergantikan dengan nafsu birahi.

Jari Naruto terus bergerak membuka dan menutup seperti gerakan gunting. Kemudian menggesek dinding rektum sang Uchiha dengan cepat, menyampaikan ketidaksabarannya untuk segera menggagahi pemuda raven itu.

"Ahhk!—Naru—" Sasuke melenguh keras, menikmati sentuhan sang dominan di liang analnya. Sedangkan kejantanannya masih dikulum dengan rakus oleh Naruto.

Puas mengulum penis Sasuke, Naruto melepaskan mulutnya dari benda tegak itu dan juga menghentikan sodokan jarinya di lubang anus Sasuke. Ia mulai berdiri dihadapan sang Uchiha seraya menunjukkan kejantanannya yang sudah menegak sempurna.

"Jilat." Perintah pemuda pirang itu lagi dengan dengus napas yang tidak sabaran.

Sasuke mematuhi tanpa protesan apapun. Ia membuka celah bibirnya dan membiarkan benda berotot sang dominan untuk masuk ke rongga mulutnya. Menyodok tonsil dan menggesek lidahnya dengan liar. Rasa getir precum membuat Sasuke harus mengernyit sejenak namun sama sekali tidak melepaskan daging keras dan lembut itu dari mulutnya. Bagaimanapun juga ia menyukai aroma khas maskulin sang Uzumaki dan rasa cairan itu di lidahnya, membuat nafsunya terus terpompa maksimal.

"Nghmmp!—Hmphh—" Sasuke mendesah pelan. Ia menggerakkan kepalanya maju-mundur dengan tempo yang konstan. Sesekali menghisap kuat-kuat ujung lubang urinal Naruto, membuat paha pemuda pirang itu bergetar nikmat.

"Ahhh—Sasuke—Ghhk!" Sang Uzumaki mendesah nikmat. Jari-jarinya menyisir surai hitam itu dengan lembut, memaksa kepala raven itu untuk terus memperdalam kulumannya.

Sasuke pasrah saat Naruto mencengkram kedua sisi kepalanya dan menyodok mulutnya tanpa ampun. Genjotan dan sentakkan pinggul sang dominan membuat pemuda raven itu bisa merasakan denyut penis tersebut di rongga kerongkongannya. Menghantam tonsil serta dinding mulutnya. Membuat sang Uchiha hampir tersedak dengan rasa mual di lambungnya.

"Ngmphh!—Mpph!" Sasuke berusaha keras menahan pinggul pemuda itu untuk berhenti menyiksa tenggorokannya. Namun Naruto seakan-akan tidak peduli dan terus menggenjot mulut sang Uchiha sampai pemuda raven itu tersedak keras. "—Ghok!—Hmmph!—ohhok!" Suara batuk Sasuke menghentikan sang dominan untuk menggerakkan pinggulnya.

Naruto melepaskan kejantanannya dari lubang basah itu dengan suara -Plop!- kecil, lalu mengelus bibir sang Uchiha dengan lembut. "Apakah aku menyiksa mulutmu?" Tanyanya dengan suara bariton yang menggoda.

Sasuke menyeka air liur dari sela bibirnya kemudian menggeleng pelan. "Jangan khawatir, Naruto. Aku tidak apa-apa." Jawabnya, yang disambut senyuman pemuda pirang itu.

"Bagus. Kalau begitu kita akan lanjutkan kegiatan kita." Ucap Naruto seraya mencengkram pinggang sang Uchiha dan membalikkan tubuh ramping itu untuk menungging ke arahnya.

Kedua tangan Sasuke mencengkram sisi bathtub, sedangkan setengah tubuhnya dibiarkan tenggelam di bak mandi itu. Ia menunggingkan pantatnya sedikit untuk menghadap sang dominan. Membiarkan Naruto mengeksplorasi bagian bawah tubuhnya itu.

Sang Uzumaki mendekat. Mengelus punggung yang tanpa pertahanan itu dengan lembut, sesekali membasahinya dengan air lalu dikecup dengan pelan dan hati-hati, seakan-akan kulit itu akan tergores kalau Naruto memperlakukannya dengan kasar.

Punggung Sasuke bergetar saat ia merasakan hangatnya bibir sang dominan menyentuh kulitnya. Menciumi bagian belakang tubuhnya dan menghisapnya kecil, memberikan tanda kissmark berwarna merah.

Paha Sasuke kembali bergetar saat Naruto beralih untuk mengecup pantatnya, membuat riak kecil air di bathtub tersebut. "Nghh—Ahhh—hhh—" Pemuda raven itu mendesah pelan ketika sang dominan membuka celah pantatnya dan mulai menjilat lingkaran cincin anusnya. Memberikan sensasi geli dan nikmat disaat bersamaan.

Naruto melepaskan kecupan dan jilatan di lubang yang berkedut itu dan mulai mendekatkan ujung kejantanannya yang basah oleh precum serta air ke anal sang Uchiha. "Aku akan masuk." Ucapnya, meminta ijin dengan kalimat tegas.

Sasuke mengangguk pelan. Ia bisa merasakan cengkraman kuat di pinggangnya, memaksa pantatnya untuk berdekatan dengan kejantanan Naruto yang sudah menegang. Kemudian secara perlahan, lubangnya membuka saat ujung penis itu mulai menusuk bagian bawah tubuhnya. Membuat tubuhnya gemetaran menahan sakit dan perih, namun juga nikmat disaat bersamaan.

"Ahh—Sasuke—hhh—" Naruto menggeram dengan suara berat. Dengus napasnya terdengar menggebu-gebu tidak sabaran. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak langsung menghajar lubang itu dengan brutal. Pinggulnya berusaha bergerak pelan keluar-masuk, menikmati remasan dinding rektum itu di penisnya. Memanja alat kelaminnya.

Sang Uchiha mencengkram pinggir bathtub dengan kuat. Kepalanya mendongak dengan mulut yang terbuka saat sang dominan memulai genjotannya. Tubuhnya tersentak di dalam bak mandi tersebut, membuat air yang tenang tadi mulai beriak dengan cipratan kecil. "Ahhhk—Naruto—Nghh—ahhh—" Mulutnya tanpa henti mengeluarkan desahan yang sensual, berusaha memancing gairah pemuda pirang itu.

Naruto benar-benar terangsang saat ini. Ia mulai menyodok lubang anus itu semakin cepat dan dalam. Sesekali meremas pantat Sasuke karena gemas. "Ahh—Sasuke—fuck!—hhh—" Pemuda itu mendesah keras, menyampaikan hasrat dan gairahnya yang sudah tidak terbendung lagi.

Air dalam bathtub mulai tumpah keluar dengan cipratan kecil saat pinggul Naruto terus menghajar lubang anus sang Uchiha tanpa ampun. Membuat air di bak mandi yang tenang tadi bergelombang penuh amukan. Seakan-akan memeriahkan kegiatan 'panas' mereka.

Tubuh Sasuke terhentak maju-mundur semakin cepat. Ia bisa merasakan organ vital Naruto mengobrak-abrik liang analnya dengan brutal, menyodok prostat dan menggesek dinding rektumnya. Memberikan sensasi yang membuat kewarasan sang Uchiha menghilang dalam sekejap.

Sasuke melenguh nikmat saat genjotan di lubangnya semakin kasar dan dalam, membuat setengah air di dalam bathtub tumpah ke lantai kamar mandi. Well, pemuda raven itu sudah tidak peduli dengan kegiatan mandi mereka, kegiatan yang sekarang sepuluh kali lipat lebih menyenangkan.

"Naruto—Ahhhk!—Nikmat!—Ahhhk!—" Kepala Sasuke menoleh untuk menatap sang dominan. Memperlihatkan wajah erotis yang benar-benar menggoda. Hal itu membuat Naruto benar-benar terangsang dan langsung meraup bibir ranum tadi dengan rasa lapar.

Mereka berciuman disela persenggamaan mereka. Sasuke membiarkan mulutnya dicumbu dengan liar dan lubangnya disodok dengan brutal. Memperdengarkan suara decakan air liur dan suara cipratan air dari pantat kenyalnya yang dihentak oleh pinggul pemuda pirang itu.

"Hhh—Sasuke—Ganti posisi—" Pinta Naruto seraya membalikkan tubuh ramping itu untuk berhadapannya dengannya. Kemudian menyuruh sang Uchiha untuk duduk di atas selangkangannya. "—Kau yang bergerak, Sasuke—hhh—buat penisku nikmat—" Perintah pemuda pirang itu seraya setengah berbaring di bathtub.

Sasuke menurut. Kedua tangannya diletakkan di atas dada bidang sang dominan, sedangkan pantatnya digerakkan ke atas dan ke bawah dengan cepat, memberikan kocokan nikmat di alat kelamin Naruto.

"Ahh!—Naruto—Nghh!" Pemuda raven itu mendesah. Kepalanya mendongak dengan tetes air liur di sela dagunya. Ia menggerakkan pinggulnya tanpa henti, sesekali dinding rektumnya menjepit benda keras berotot itu dengan kuat, membuat Naruto mengerang nyaring penuh kenikmatan.

"Ahhhk!—Fuck! Sasuke!—Ahhh!—penisku sakit, jangan dijepit!—Fuck! Ghhk!"

Sasuke menikmati erangan sang dominan. Ia menjilat bibirnya dengan seringai tipis. "Kau suka, Naruto?—Hhhh—Suka saat lubang pantatku meremas penismu?" Ucapnya dengan kalimat yang sensual.

Tenggorokan Naruto tercekat sejenak saat ia mengangguk. "Yeah—aahh!—yess! Nikmat!" Sahutnya seraya mencengkram pinggang ramping itu untuk terus bergerak naik-turun. Sesekali menampar pantat kenyal sang Uchiha dengan gemas, meninggalkan tanda merah di sana.

Sasuke kembali mengerang penuh kepuasan saat kejantanan Naruto terus menghantam prostatnya tanpa henti. Ia menggerakkan pantatnya dengan cepat dan liar, sesekali melakukan gerakan memutar yang membuat akal sehat Naruto hilang seketika. Tergantikan nafsu birahi yang terpompa tanpa henti.

"Ahhk!—Naruto—Nghh!" Sasuke melenguh. Tangannya bergerak untuk mengocok penisnya sendiri dan tangannya yang lain memainkan putingnya yang mengeras. Sedangkan sang dominan sibuk menggenjot lubang anus itu dengan kuat dan dalam.

Hentakan dan sentakan merupakan kegiatan utama persetubuhan itu selain erangan dan desahan. Kamar mandi yang tadinya tenang berubah menjadi ajang pergulatan panas yang melibatkan air liur serta precum. Bahkan air pun itu ikut meramaikan dengan riak dan cipratannya.

Tubuh sang Uchiha bergetar saat puncak kenikmatan itu hampir dicapainya. Ia mengocok alat kelaminnya semakin cepat, berusaha memompa spermanya untuk keluar dari ujung kejantanannya. "Ahhhk!—Naruto! Aku hampir keluar!—Ahhhk!—Ahhkk!" Erangnya dengan suara tercekat.

Naruto yang paham gerak tubuh pemuda raven itu mulai mempercepat sodokan dan genjotannya. "Ghhk!—Aku juga, Sasuke!—Ahhk!—Keluar!" Desahnya keras. Otot perutnya mengejang dan sebentar lagi cairan putih kental itu akan memenuhi dinding rektum sang Uchiha.

Selangkangan Sasuke bergetar hebat dan pahanya membuka lebar. "Naruto!—Ahkk!—Keluar!—Arrghh!" Tepat ketika teriakannya itu, sperma miliknya tersembur dengan ganas dari ujung penisnya. Mengotori air bathtub dengan cairan putihnya yang mengambang di sana.

"Ahhk!—Sasuke!—Ghhk!—Aku keluar!—Arggh!" Naruto menghentakkan pinggulnya terakhir kali sebelum menenggelamkan seluruh batang kejantanannya ke dalam lubang anus itu. Memenuhi setiap rongga dinding rektum sang Uchiha dengan cairan spermanya yang tersembur keluar. Menyemprot dari lubang urinalnya dan membasahi lubang anal itu dengan benihnya.

Naruto dan Sasuke terengah-engah sejenak sebelum akhirnya memisahkan diri dengan perlahan. Sang Uchiha bersender sejenak di sisi bathtub seraya menormalkan napasnya lagi. Mata onyx nya bisa melihat Naruto yang juga tersengal-sengal kelelahan di sisi yang lain dengan wajah memerah.

"Naruto, kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke agak khawatir melihat keadaan pemuda pirang itu. Agak limbung dan hampir kehilangan kesadaran.

Naruto melirik Sasuke dengan pandangan sayu serta wajah merah sempurna. "Aku—hhh—kepanasan. Rasanya mau pingsan." Ucapnya lagi.

Sedikit panik, pemuda Uchiha itu bangkit dari bathtub dan langsung memapah Naruto untuk membantunya berjalan keluar. "Kenapa kau bisa terkena hipertemia* seperti ini sih? Kau tidak kuat berendam air panas ya?"

Naruto mencoba terkekeh pelan. "Anjing memang tidak kuat berendam air panas terlalu lama, Teme."

"Kalau tahu begitu, seharusnya kita 'bergulat' di kamar tidur saja." Gerutu Sasuke lagi, setengah emosi dan kesal. Naruto hanya membalasnya dengan tawa kaku.

Pemuda pirang itu terlalu lelah membalas gerutuan sang Uchiha. Yang dibutuhkannya sekarang adalah istirahat di dalam selimut yang nyaman—tentu saja berdua dengan Sasuke.

Ahh—Memikirkan hal itu membuat bagian bawah tubuh Naruto kembali menegak lagi.

Well, anjing memang selalu memiliki libido yang tinggi.

.

.

.

_Apartemen Juugo, pukul 20.00 malam_

.

Pemuda berambut jingga itu terlihat berjalan menuju ke apartemennya dengan sekantong belanjaan di tangan, berisi beberapa cemilan ringan, cup ramen dan minuman bersoda untuk makan malamnya. Langkah kakinya bergerak menaiki tangga samping gedung untuk sampai ke kamar apartemennya yang berada di lantai dua paling pojok bangunan.

Juugo baru saja selesai kerja sampingan menjadi kasir di salah satu toko 24 jam, memang bukan pekerjaan yang bisa dibanggakan namun setidaknya gaji disana cukup untuk membiayai hidupnya sehari-hari walaupun tidak terlalu banyak. Setidaknya Juugo senang dengan pekerjaan sampingannya sekarang ini.

Saat ia hampir sampai di depan pintu kamarnya, sosok Suigetsu terlihat sedang bersender dan berjongkok di depan pintunya, membuat Juugo menghentikan langkah dan menatap pemuda itu dengan pandangan heran serta penasaran. Tubuh putih Suigetsu yang gemetaran, tangan yang saling menggesek untuk menghangatkan, dan gigi yang bergemeletuk kedinginan. Juugo yakin sekali kalau Suigetsu sudah menunggu kepulangannya di depan pintu hampir satu jam lamanya.

"Mau apa kau kesini?" Pertanyaan Juugo terlontar secara tiba-tiba. Membuat Suigetsu menoleh dan bangkit dengan cepat.

Sang pimpinan hyena itu terlihat bergerak canggung seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Ada yang perlu aku bicarakan padamu." Ucapnya.

Juugo mengangguk. Ia bergerak untuk memasukkan kunci dan membuka pintu. "Masuklah dulu." Sahutnya pelan.

Si tuan rumah menuntun tamunya menuju ruang depan. Meletakkan kantong belanjaannya di atas meja kecil dan duduk di sana, diikuti oleh Suigetsu yang juga duduk dihadapannya.

"Mau bir?" Tawar Juugo seraya menyodorkan satu kaleng bir ke arah temannya itu, yang tentu saja disambut dengan antusias.

"Thanks." Jawab Suigetsu dan langsung menegak minuman itu dengan cepat.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Pemuda berambut jingga itu memulai pembicaraan. Tangannya mengambil snack ringan, membukannya dan memakannya dengan lahap.

Suigetsu meletakkan kaleng minumannya di atas meja sebelum mulai bicara. "Aku mohon padamu untuk berhenti mengejar Sasuke dan kembali ke kelompok." Ucapnya tegas.

Juugo mendengus. "Apa Karin yang memintamu untuk mengatakan hal itu padaku?"

"Tidak." Suigetsu menyahut cepat. "—Perkataan itu memang datang dari pikiranku sendiri."

Pemuda berambut jingga itu terdiam sejenak. Matanya menatap sang pimpinan dengan lekat. "Kenapa kau melakukan hal ini? Seharusnya kau biarkan saja aku—"

Suigetsu menggebrak meja dan bangkit dengan murka. "Kau pikir aku akan membiarkanmu menggonggong di sekitar Sasuke hanya untuk menarik perhatiannya?!—kau itu bukan anjingnya, Juugo! Kau itu bagian kelompok kita!" Bentaknya keras.

Juugo lagi-lagi mendengus malas, terkesan tidak peduli. "Aku mencinta—"

"FOR GOD'S SAKE! BERHENTI MENGATAKAN KALAU KAU MENCINTAI SASUKE! ITU MEMBUATKU MUAK!" Raung Suigetsu seraya menyambar kerah baju pemuda dihadapannya.

"Sui—"

"Please—" Suigetsu memotong cepat. Nada suaranya melemah, lebih berbisik pelan, sedangkan matanya menatap iris jingga dihadapannya itu dengan getir. "—Berhenti mengatakan kalau Sasuke adalah segalanya untukmu. Tidakkah kau bisa melihat apa yang ada dihadapanmu sekarang?" Sambungnya lagi.

Juugo terdiam. Mata jingganya tidak bisa lepas dari iris ungu yang menatapnya semakin lekat—dan juga sedih. Sedikit demi sedikit punggungnya terdorong menyentuh lantai hingga akhirnya Suigetsu duduk di atas perutnya sambil tetap mempertahankan cengkraman tangannya di kerah pemuda itu.

"Cukup Suigetsu—" Juugo berusaha menyingkirkan tangan pemuda itu dari kerahnya. Namun gerakan Suigetsu selanjutnya membuat tubuh Juugo langsung membeku terpaku.

Pemuda berambut putih itu mendekatkan wajahnya dan membungkam bibir Juugo dengan mulutnya. Kecupan yang sanggup membuat manik jingga dihadapannya itu terbelalak lebar.

Bibir saling berbenturan dengan lembut, tekanan dan hisapan dilakukan. Sebuah ciuman yang sanggup membuat jantung Suigetsu berontak dengan brutal. Kemudian saling melepas saat paru-paru tidak sanggup lagi memompa oksigen.

Suigetsu terengah-engah sejenak. Matanya memandang manik Juugo yang masih terbelalak tidak percaya. "—Tolong lihat aku walau hanya sekali saja." Ucap pemuda berambut putih itu seraya menjauhkan dirinya dari atas tubuh Juugo.

Suigetsu bangkit berbalik dan melangkah pergi menjauh setelah melakukan hal yang tidak terduga tersebut. Berlari dengan cepat keluar dari apartemen Juugo. Meninggalkan pemuda berambut jingga itu dengan keadaan shock tidak percaya.

"A—Apa yang barusan itu?" Gumam Juugo sembari mengerjap satu-dua kali, mencoba menyadarkan pikirannya.

Sedangkan di luar pintu apartemen, punggung Suigetsu terlihat bersender dengan kedua tangan yang mencengkram dada. Tubuhnya merosot pelan hingga ia berjongkok dengan kepala yang disembunyikan di balik lutut.

"Shit!Shit!—kenapa aku melakukan itu. Kenapa aku harus menciumnya." Umpatnya dengan suara pelan. Semburat merah terpasang di wajah putihnya, membuatnya berdecak tidak nyaman.

"Aku memang bodoh. Benar-benar bodoh." Gumamnya lagi seraya menggigit bibirnya, gelisah. "—Apa yang akan kukatakan padanya besok? Aku harap Juugo melupakan segalanya." Sambungnya lagi sembari bangkit berdiri dan mulai melangkah menjauh dari apartemen pemuda berambut jingga itu.

.

Aku tidak yakin, raut wajah apa yang harus kuperlihatkan pada Juugo saat camping nanti. Semoga saja besok berjalan lancar, doa Suigetsu dalam hati.

.

.

TBC

.

.

*Hipertemia: Peningkatan suhu tubuh, bisa disebabkan karena terlalu lama berendam air hangat.

Yuhhuuuu Chap 4 selesai! Suigetsu suka dengan Juugo, saudara-saudara! #TeriakPakeToa

Hahaha aku pengen sekali buat pair JuugoSui (Pairing langka banget)

Maaf kalau lemonnya agak hancur... hiks... *bungkuk badan* bikin lemonnya pas aku lagi bad mood, jadinya jelek banget... maaf ya teman...

Guys, kalau ada uneg-uneg, silahkan tinggalkan kritik dan saran di kotak review, semua itu akan membantuku belajar untuk meningkatkan tulisanku :) Aku sangat menghargainya, guys/girls!... I love you all!

Yosh! Cerita cinta ala sinetron alay indonesia masih berlanjut... Semoga kalian masih suka dengan fic aku ini ya!

.

RnR Please!