Makasih review-nya o.o, Akhirnya dapet modem baru... KYAAHAHAHA!^3^

.

.

.

Crown Imperial

Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Main Pairing : AkaKuro/KuroAka

Genre : Romance, Action, & Supernatural

Warning : BL, malexmale, Shounen ai, Slash, AU, OC, OOC, Typo nyelip, dll.

.

.

.

Chapter Five

.

.

.

.

.

Hawa musim dingin pagi ini terasa lebih sejuk dari biasanya. Sinar matahari tidak begitu menampakkan diri. Butiran putih kembali berjatuhan dari langit berawan kelabu, membuat sebagian besar wilayah kota Kyoto terselimut salju.

Seorang pemuda berusia 18 tahunan, melangkah santai menyusuri jalan setapak yang terletak di bukit pinggiran kota. Bukit kecil itu ditumbuhi pepohonan lebat yang terlapis salju. Alang-alang berdaun kekuningan, bergemerisik tersapu angin sepoi. Menghantarkan bunyi alam yang khas. Pemandangan kota Kyoto dari kejauhan terlihat tersaji indah di sana. Inilah mengapa, lelaki itu sering datang kesini untuk menikmati suasana esok. Tidak peduli dengan jauhnya tempat ini dari kediaman pribadinya, dia hanya ingin mendapatkan sebuah ketenangan.

Remaja tampan berambut merah panjang yang terikat rapi di tengkuknya ini, menghentikan laju kakinya untuk berdiri di tepi tebing. Sepasang iris dwi warnanya –Deep Scarlet dan Amber— memandang teduh panorama di depannya. Dia teringat sang adik yang kadang ikut menemaninya kala berkunjung kemari. Batinnya merindukan saudara kecilnya, yang entah bagaimana kabarnya sekarang setelah lama tidak bertemu. Adik yang sangat disayanginya melebihi siapapun.

–Bahkan dirinya sendiri.

"Seiji-sama..."

Pemuda yang diketahui bernama Akashi Seiji, melirik si pemanggil melalui sudut matanya. Mendapati pengawal pribadinya yang berdiri sejauh 1 meter dari tempatnya berada. Mendengus pelan, dia menoleh sambil melayangkan tatapan datar.

"Ada apa, Chihiro?" tanya Seiji dingin. Dia paling tidak suka jika ketenangannya diganggu oleh orang lain. Apalagi saat dirinya sedang mengenang adik tercintanya.

Pria jangkung bersurai monochrome dengan manik mata senada itu membungkukkan dada. Memberi salam pada sang tuan muda. "Ada pesan dari kediaman utama," jawab Mayuzumi Chihiro.

"Pesan apa?"

Menegakkan tubuhnya, Mayuzumi menatap lurus Seiji. "—Seijuurou-sama menghilang."

Sesaat, kelopak mata pucat milik putra sulung Akashi terbuka lebar. Hanya sekilas namun sempat tertangkap oleh Mayuzumi.

"Bagaimana bisa?" nada rendah dilantunkan pemuda merah yang memakai kaus krem, blazer, dan celana coklat gelap.

Mayuzumi meneruskan. "Mereka mengatakan, sehari lalu Yoshinori-sama memanggil Seijuurou-sama dari Tokyo untuk bertemu. Tapi, sepertinya dalam perjalanan kemari, Seijuurou-sama diserang oleh seseorang sehingga menghilang tanpa jejak," terangnya.

Seiji mengangkat segaris alisnya. "Tou-sama mengundang Seijuurou pulang? Kenapa aku tidak diberitahu?"

"Saya tidak diberitahu jawabannya ketika saya menanyakan hal yang sama."

"—Lalu?"

"Tuan besar sudah memerintahkan para pengawal untuk melakukan pencarian. Beliau juga mengatakan agar anda segera kembali ke rumah utama," sahut si pengawal yang berpakaian serba hitam.

Seiji mengernyitkan kening samar di atas wajah putih tanpa ekspresinya. Sorotan mata heterochrome-nya menajam berpikir. Adiknya menghilang tanpa jejak, jelas ada sesuatu yang salah. Dan kenapa ayahnya baru memberitahu kabar ini padanya setelah sehari kejadian berlangsung? Bukankah berita semacam ini selalu cepat sampai ke telinga kepala keluarga Akashi?

Ooh, jangan pernah remehkan bagaimana Klan Akashi mendapatkan sumber data. Karena mereka telah menempatkan orang-orang kepercayaannya di semua daerah kekuasaannya untuk memantau kondisi bisnisnya. Keakuratan informasinya saja mampu membuat para pesaing ketakutan sampai tidak berani menusuk dari belakang.

Tapi sekarang siapa orang yang nekat menyulut api masalah pada keluarga Akashi?

Bibir Seiji memunculkan seringaian bengis. Matanya berkilat nyalang seakan menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. "Rupanya ada cecunguk yang mau membuat masalah denganku. Kita perlu memberi salam pembuka karena mereka telah berani menyentuh adikku."

"Bagaimana laporan pencarian sementara?" Seiji kembali memandang Mayuzumi.

"Sampai sekarang belum ada."

"Ck, lambat," decih Seiji kesal. "Hubungi Reo, Hayama, dan Nebuya untuk ikut melakukan pencarian. Telusuri tempat-tempat yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Juga, hubungi mansion di Tokyo untuk mengorek informasi lebih lanjut," titahnya. "Kalian harus kembali dengan kabar tentang keberadaan Seijuurou sekecil apapun itu. Aku tidak mau mendengarkan laporan kosong," tukasnya bersuara berat mengintimidasi. Aura kelam menguar dari tubuhnya berlahan.

Mayuzumi yang telah terbiasa tidak merasa takut sedikitpun. Dia merendahkan badannya lagi, menyanggupi perintah tuannya. "Baik."

"Sei…" sang putra sulung menerawang ke langit kelabu berhujan salju. Binar mistis melintasi kedua irisnya.

"—Aku ingin bertemu."

.

.

.

.

.

Pemuda bluenette melipat sehelai bajunya sebelum dimasukkan ke dalam ransel hitam. Barang-barang Tetsuya tidak banyak. Hanya beberapa potong pakaian dan perlengkapan pribadi. Selain itu ada dua benda kenangan yang didapatnya dari masa lalu. Pemberian sahabat karibnya saat dirinya masih seorang manusia.

"Sudah semua?"

Penyandang marga Kuroko memutar kepalanya untuk melihat anak berambut merah darah yang berdiri di ambang pintu kamar. "Hn, sudah," jawab Tetsuya sambil menutup tasnya yang akan dibawanya ke Tokyo. "Bagaimana kondisimu?"

"Sudah baikan," Seijuurou yang sudah memakai pakaian miliknya sendiri –kemeja dan celana dark blue— mengangguk. "Tinggal menunggu Kagami-san dan Himuro-san selesai beres-beres. Ayo kita ke ruang tamu saja," ajak lelaki cilik bermanik Deep Scarlet.

Serambi membawa ranselnya, Tetsuya menyusul Seijuurou keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu.

"Kau sudah sarapan Akashi-kun?" tanya remaja nila yang berkaus biru muda, coat merah marun, dan jeans hitam. Mata Aquamarine-nya melirik anak kecil di sebelahnya.

"Sudah, Himuro-san memasakkan sandwich untukku," jawab Seijuurou. "Aku heran, bagaimana dia bisa membuat makanan seenak itu? Padahal kalian tidak bisa merasakan makanan manusia."

"Himuro-kun menekuni patissier sejak 35 tahun lalu. Katanya selain cara untuk mendapatkan uang, dia juga bisa berbaur dengan manusia," jelas Tetsuya. Mereka kemudian mendudukkan diri di kursi yang sama begitu tiba di ruang tamu. "Selama itu juga, dia sering berpindah tempat kerja agar tidak dicurigai kenapa penampilannya tidak menua," lanjutnya.

"Hmm, berapa tahun dia bekerja di satu tempat?"

"Mungkin sekitar 5-6 tahunan," Tetsuya mengira-ira.

"Kuroko itu lebih tua dari kami."

Tetsuya dan Seijuurou mendapati dua pemuda yang dikenalnya masuk dalam ruang yang sama. Mereka membawa ransel yang berisi kebutuhan masing-masing.

Remaja berambut raven dengan poni panjang menyamping, tersenyum tipis. "Kami bertemu dengannya 82 tahun yang lalu. Waktu itu dia yang memungut kami ketika kami berubah," kata Himuro.

"Berubah?" Seijuurou mengerjap.

"Berubah dari manusia menjadi Swart Elfs," tambah Kagami sambil mendaratkan pantatnya di sofa tunggal. tangannya meletakkan ranselnya di dekat kakinya.

"Seperti kata Tetsuya dulu, kalian berubah karena telah melakukan dosa besar?" tanya Seijuurou hati-hati. Matanya menatap Kagami dan Himuro selidik.

"Kau sudah tahu jawabannya," pemuda kekar berambut gradasi merah hitam jabrik, mendengus kecil.

Akashi menilik Tetsuya dalam, bermaksud meminta penerangan lengkap. Namun, lelaki itu hanya balas tersenyum seolah mengutarakan sekarang belum saatnya bercerita.

"Akashi-kun."

Seijuurou mendongak melihat Himuro yang sudah berdiri di hadapannya. Pemuda bermanik Opal itu mengulurkan kain orange yang ternyata jaket ber-hoodie padanya. "Pakailah, Riko-san membawanya untukmu waktu dia datang kesini pagi-pagi sekali. Dia bilang, kalau dia tidak mau kau sakit lagi karena kedinginan."

Anak mungil tersebut menerimanya dan segera memakainya. Rupanya ukurannya sama dengan besar badannya. Bahan serat halus yang tebal membuat tubuhnya nyaman. Paras manisnya melukiskan senyuman tipis. "Arigato..."

"Kalau begitu," Kagami bangkit seraya merapikan jaket hijau tuanya. "Ayo kita berangkat, kereta pagi datang 15 menit lagi."

"Apa kita bisa sampai tepat waktu?" kejut Seijuurou ketika melihat jam dinding di ruang itu. Dia menduga jarak rumah ini pasti berkilo meter jauhnya dari tempat stasiun.

"Tenang saja," pemuda raven bercoat coklat gelap dan celana senada melebarkan senyum. Tangannya bersiap membawa barangnya.

Belah bibir lelaki bermata Ruby menyeringai.

Tetsuya ikut bangun dari duduknya. "Ayo kita pergi, Akashi-kun," ucapnya kalem.

Perkataan mereka menyebabkan anak ini cilik semakin bingung. Bagaimana caranya bisa sampai ke stasiun dalam waktu singkat?

.

"Itu mencengangkan sekali..."

Seijuurou menyandarkan tubuhnya lunglai di atas kursi panjang dalam stasiun kereta listrik.

Bayangkan saja. Siapa orang yang tidak kaget –meski Seijuurou sudah menduga—, bila dibawa melompat tinggi yang memacu adrenalin tanpa perlengkapan keselamatan? Itulah yang dialami anak bersurai merah api menyala ini. Ketiga sosok yang merupakan mahkluk Swart Elfs itu, mengajaknya memijaki atap-atap tinggi tiap gedung dan rumah yang dilewatinya dengan kecepatan di luar nalar. Melintasi bangunan-bangunan kota dari atas udara. Tanpa takut akan tergelincir atau jatuh sedikitpun.

Bagi Seijuurou yang seorang manusia, semua itu mampu membuat tubuh kecilnya gemetaran. Jantungnya diharuskan berdetak lebih kencang sampai menggedor-gedor dadanya seakan ingin keluar. Wajar karena ini adalah pengalaman pertamanya.

Tetsuya terkekeh sambil tersenyum samar. Dia teringat reaksi Seijuurou waktu digendong Kagami saat melompat tinggi tadi. "Hihi, mulai sekarang kau harus terbiasa, Akashi-kun."

"Heh, itulah cara kami mengatasi kesempitan waktu," Kagami menyeringai sombong.

"Kalau begini caranya, perjalanan Kyoto-Tokyo tidak perlu pakai kereta bisa 'kan?" tanya Seijuuro memandang tiga orang yang berdiri di depannya.

"Walau bisa kami tidak dapat melakukannya. Para manusia bisa jadi tidak sengaja melihat kami melompat, selain itu kami akan cepat kehabisan tenaga," jawab Tetsuya.

"Beruntung kau tidak mabuk ya," Himuro meyipitkan mata tersenyum, secara tidak langsung meremehkan Seijuurou. Yang merasa disindir, langsung melemparkan death glare meski tak mempan pada pelakunya.

Akashi cilik menghela nafas sambil membenarkan posisi duduknya. Mata delimanya mengarah ke jam bulat yang dipasang di dinding stasiun. Kurang 5 menit lagi kereta yang mereka tunggu akan tiba. Kemudian mereka akan masuk dan berangkat menuju Tokyo. Seijuurou mengedarkan penglihatannya ke sekeliling, dimana tempat ini cukup dipadati orang dewasa hingga anak-anak. Namun begitu sampai ke satu titik, kelopak matanya melebar tidak percaya. Membuatnya bangkit dari duduknya seketika.

"Akashi-kun?" Tetsuya mengerjap saat mendapati gestur ganjilnya. "Ada apa?"

Seijuurou beralih mendekat dan menarik lengan baju Kuroko. Tatapannya menggusar. "Tetsuya... mereka datang."

Himuro heran. Kagami mengangkat satu alisnya tidak paham. "Ha?"

Tanpa kata, Seijuurou segera menunjuk suatu arah. Ketiga pasang mata pemuda tersebut mengikutinya.

Di tempat yang dituding Seijuurou, berkumpul para pria dengan wajah sangar dan berbadan kekar. Jumlahnya sekitar sepuluh orang. Penampilan mereka seperti pegawai kantoran biasa, tapi tingkah lakunya mencurigakan. Kepala mereka celingukan kesana-kemari seakan mencari sesuatu. Serta yang paling mencolok, tertera tato burung phoenix merah di masing-masing punggung tangan kirinya.

"Siapa mereka? Premankah?" Kagami menautkan alis selidik.

"Bukan..." bisik Seijuurou lirih. Dia menyembunyikan diri di balik punggung Tetsuya. "Mereka pengawal yang dikirim ayahku untuk memburuku, aku yakin itu."

Kontan Tetsuya, Kagami, dan Himuro terperanggah kaget.

"Bagaimana kau tahu?" Himuro memalingkan wajah pada Seijuurou.

"Tato phoenix merah di punggung tangan mereka, adalah tanda kalau mereka pengawal Akashi.".

"Ck, sial, cepat sekali mereka bertindak," decak Kagami.

"Kita bisa menyingkirkannya kalau mau," ucap Himuro datar.

"Jangan, Himuro-kun. Kalau kita menggunakan kekuatan, para manusia di sini bakal ketakutan," larangTetsuya menatapnya awas.

"Kalau begitu, kita harus menyembunyikan Akashi sekarang," intruksi Kagami.

Tetsuya melihat orang-orang berbaju hitam itu mulai berpencar. Sebagian bergerak ke arah mereka berempat berada. "Tiga orang menuju ke sini," ucapnya.

Tiga pengawal Akashi yang dikatakan Tetsuya, nampak memeriksa tiap anak yang dilewatinya. Mereka mendekati anak-anak yang berumur kisaran Seijuurou. Meniti fisiknya untuk mencocokkan kriteria Akashi bungsu.

Mata hitam Himuro menggulir ke sekitar. Mencari spot yang kira-kira dapat dijadikan persembunyian. Lalu, dia menemukan minimarket yang bertempat di pojok stasiun. Lumayan ramai didatangi para pembeli.

"Tutup kepalamu, Akashi-kun," titah Himuro halus. "Kita akan ke minimarket, berjalanlah seperti biasa agar tidak menarik perhatian mereka," komandonya pada yang lain.

Seijuurou menurut, dia memakai hoodie jaketnya untuk menutupi rambut merahnya. Selanjutnya dirinya, Tetsuya, dan Kagami mengekori Himuro. Mereka melangkah ke arah berlawanan, menjauhi tiga pengawal Akashi yang ada di belakangnya. Begitu tiba di minimarket, mereka langsung masuk dan mencari daerah yang cukup tersembunyi. Berdiri di antara pembeli dan jejeran counter barang penjualan untuk menghindari pandangan para pemburu.

Kagami mengintip dari celah-celah snack di atas rak counter makanan, tempat mereka sembunyi saat ini. Ruby-nya menangkap tiga pria tadi yang ternyata telah berdiri di depan minimarket. "Mereka sudah di pintu masuk."

Tetsuya menarik Seijuurou merapat padanya. Melingkarkan satu lengannya di pundak anak tersebut. Seijuurou mencengkram coat Tetsuya kuat. Bola matanya bergetir meski wajahnya tetap datar.

Benak Seijuurou masih terbayang kejadian di malam tempo hari. Waktu tubuhnya dijatuhkan dari gedung berlantai 40 oleh para pengawalnya. Tempat yang harusnya menjadi pertemuannya dengan sang ayah. Akibatnya, rasa takut sedikit menghinggapi batinnya.

Himuro melirik jam tangannya. Telinganya mendengar bunyi khas kereta listrik dari kejauhan. "Keretanya datang."

"Oke. Aku akan mengecoh mereka, kalian segeralah masuk dalam kereta begitu datang," usul Kagami.

"Baiklah, jangan sampai kau tertinggal," ujar Tetsuya yang dibalas anggukan si remaja merah jabrik.

Tepat ketika kereta tujuan Tokyo tiba, Kagami berjalan keluar dari persembunyiannya. Dia pergi menuju tiga pengawal Akashi yang sudah berdiri di tengah ruang minimarket. Sementara Tetsuya membawa Seijuurou dan Himuro ke arah berbeda. Mereka melangkah melintasi kerumunan pembeli yang mengantri untuk sampai ke pintu keluar.

Dari sudut matanya, Kagami melihat kawannya mulai bergerak. Dan ketika dia tiba di depan salah satu pengawal, Kagami sengaja menyenggol bahunya ke badan orang itu kasar.

"Hey," pria paruh baya yang jadi korban Kagami tadi menoleh kesal. "Kau menabrakku," katanya bernada berat.

Kagami menundukkan kepala. "Maafkan aku, aku tidak melihatmu."

"Hah? Tidak tahu? Kau buta apa, Aku ada di depan matamu," sengit pria pengawal itu jengkel.

"Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu," ucap Kagami merendah meski batinnya menggerutu.

"Sudahlah, tidak usah mengurusinya," timpal pengejar yang lain. "Ayo pergi, kita diburu waktu."

"Ck, beruntung kau," lelaki tersebut berdecih sinis. Dia pergi menyusul dua temannya yang telah berjalan dahulu. Meninggalkan Kagami sendiri.

"Haah, tak disangka mudah banget," Kagami menegakkan kepalanya serambi menarik nafas pelan. Lega karena tidak perlu ada pertikaian jika ketahuan. Setelah memastikan tiga pemburu tersebut pergi menjelajahi minimarket lebih dalam, dia berbalik menuju kereta listrik. Dimana sahabatnya menunggunya kembali.

"Kereta tujuan Tokyo akan segera berangkat. Perhatikan langkah anda saat memasuki kereta dan harap duduk tenang di tempat masing-masing. Mohon jangan berdesak-desakan."

Kagami masuk tepat sebelum pintu otomatis kereta listrik tertutup. Benda metal itu bergerak berlahan dan kemudian menjadi cepat. Di gerbong ini ramai orang yang duduk menikmati perjalanan. Kagami mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia mencari kelompoknya yang terpisah dengannya sesaat lalu.

"Taiga, kami ada di gerbong 3."

Suara kecil Himuro menggaung ke telinganya. Tentu saja hanya dia yang dapat mendengarnya. Sedangkan para manusia di dekatnya tidak ada yang tahu. Ingat, Swart Elfs mempunyai ketajaman indra 3 kali lipat dari manusia.

Kagami berjalan ke depan menuju gerbong yang dimaksud. Sesampainya di sana, dia melihat kakak angkatnya berdiri di ambang pintu gerbong yang sepi.

"Di ruang berapa?" tanya Kagami pada lelaki raven di depannya.

"Ruang 15, ikut aku," kata Himuro.

Mereka melangkah menyusuri lorong kecil, melewati deretan pintu yang berjajar di samping kiri. Sementara di kanan adalah jendela kaca panjang yang menghadap langsung ke pemandangan di luar. Keduanya masuk ke pintu bernomor 15.

Dalam ruang kecil yang terdapat di salah satu gerbong kelas utama ini, telah terisi Seijuurou dan Tetsuya. Kereta ini memang memiliki gerbong khusus yang diperuntukkan bagi kalangan menengah-atas. Dimana banyak dipergunakan para pejabat, pengusaha sukses, dan petinggi negara. Tampilan dalamnya nampak elegan. Termasuk tata ruang yang ditempati Seijuurou dkk. Dinding metalnya ber-Wallpaper bunga sulur dan dua kursi yang saling berhadapan dibuat dari bahan empuk. Bagasi penyimpanan barang, berada di bawah kursi yang mereka tempati.

"Okaeri Kagami-kun. Bagaimana?" tanya Tetsuya yang duduk bersebelahan dengan Seijuurou.

"Terlalu gampang sampai mereka dapat dikelabui," enteng Kagami. Mendaratkan pantatnya di samping Himuro.

"Mereka tidak ikut menumpang kereta 'kan?" Seijuurou menimpali.

"Tidak, aku sudah memastikannya."

"Baguslah, semoga tidak ada serangga yang lewat lagi," Himuro merilekskan punggungnya di sandaran kursi.

Seijuurou agak sensi mendengar kata 'serangga' yang digunakan sebagai sebutan para pengawal Akashi tadi. Rasanya tidak cocok disuarakan dari mulut pemuda yang berwajah kalem itu. Berpindah pandangan ke jendela, Akashi cilik menerawang pemandang yang tersaji di luar sana. "Sudah lama aku tidak menaiki kereta listrik begini."

"Sudah lama?" Tetsuya yang duduk di sebelahnya menelengkan kepala sedikit.

"Aku selalu berpergian dengan mobil pribadi. Aku tidak ingat kapan terakhir pergi menggunakan benda ini," jelas Seijuurou.

"Yah, wajar saja untuk anak orang konglomerat sepertimu," timpal Kagami.

"Nee, Akashi-kun, bisa kau ceritakan hal lain tentang dirimu?" Himuro mengalihkan topik.

Seijuurou menghadap mereka yang balas menatapnya lekat. Benaknya berpendapat, mungkin ceritanya cocok untuk mengisi kekosongan waktu perjalanan. Sekaligus agar ketiga Swart Elfs ini tahu bagaimana dia sebenarnya.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya," Seijuurou memulai. "Aku anak kedua dari keluarga Akashi. Tou-sama-ku, Yoshinori adalah kepala keluarga sekaligus pemimpin utama kerajaan bisnis Akashi. Perusahaan keluargaku bergerak di bidang informatika dan telekomunikasi. Koleganya adalah para pemilik perusahaan elektronik, barang, dan jasa di seluruh jepang."

Tiga orang dewasa yang satu ruangan dengannya, mendengarkan seksama.

"Kaa-san-ku, Megumi telah meninggal dua tahun yang lalu. Sementara Nii-san-ku, Seiji yang lebih tua 8 tahun dariku, sekarang menjadi pemimpin cabang perusahaan Kyoto. Posisiku sebagai anak bungsu adalah menjadi bayangan kakakku. Artinya aku akan jadi pewaris kedua bila Seiji-nii meninggal. Tapi, kini tugasku adalah mengambil bisnis mediang kakek-nenekku di Tokyo," lanjut Seijuurou.

"Tuntutan keluarga, eeh? Jadi karena itu kau tinggal di Tokyo?" Kagami menyela.

lelaki cilik menggeleng. "Bukan, aku memang ingin mengambil alih bisnis kakek nenekku yang semula dipegang sepupuku. Sekalian memisahkan diri dari Tou-sama dan Nii-sama begitu Kaa-san meninggal."

"Tou-sama selalu mengunggulkan Seiji-nii, dia selalu membandingkanku dengannya di depan para kolega. Seakan kemampuanku lebih rendah dari Nii-san. Dia tidak benar-benar menatapku, bahkan berbicara dan melakukan kegiatan selayaknya ayah dan anak denganku pun hampir tidak pernah. Dia lebih menomor-satukan Nii-san."

Tetsuya diam memandangnya sendu.

"Tapi, Seiji-nii berbeda. Walau dia dekat dengan Tou-sama, dia sangat memperhatikanku. Dia selalu meluangkan waktu untuk bermain bersamaku, mengajariku banyak hal yang tidak pernah dilakukan Tou-sama, dan memberikan apapun yang kusukai," Seijuurou berujar pelan. "Meski begitu, semuanya tetap sama saja, Tou-sama tak akan pernah mau memandangku. Dia hanya mengakui Nii-san dan sekarang, dia menginginkan kematianku."

"—sebenarnya apa salahku?"

Kagami dan Himuro menatap Seijuurou iba. Tidak habis pikir ada seorang ayah yang mempelakukan anaknya sedemikian rupa. Tetsuya mengangkat tangannya untuk mengusap lembut surai merah anak mungil itu. Memberikan simpati dan bermaksud menenangkannya.

"Nee, Akashi-kun..."

Seijuurou memalingkan wajahnya pada pemuda nila.

"Ayo, kita tunjukan siapa dirimu sebenarnya pada ayahmu," ucap Tetsuya yang balas memandangnya dalam, mengandung makna tertentu.

.

.

.

.

.

O~O~O~O~O~To Be Continued~O~O~O~O~O

.

.

.

Gomen mina-saan... XoX...Lama update gara-gara nunggu modem baru...

Semoga chapter ini tidak mengecewakan ^.^

REVIIEEW!