Pilihan Yang Salah
Disclaimer : J.K Rowling
Warning : DLDR, pelampiasan dunia nyata, fiksi yang aneh bin abal, kesamaan cerita bukan unsur yang disengaja, typo(s), jelek, dan sangat tidak mengesankan.
Happy Reading
Aku harap kemunafikanku tak akan banyak diketahui orang-orang termasuk teman dekatku sendiri. Aku hanya menginginkan kemunafikan ini hilang seutuhnya dalam hidupku, tapi apa boleh buat, semua telah terlanjur dan telah larut kedalam sebuah jalan yang namanya kehidupan. Ketika aku akan mencoha mengubahnya ada rasa gengsi yang selalu menjadi momok dalam jalan yang kupilih ini. Gelap, bahkan buta.
Aku memang sangat mengharapkannya. Maksudku anak laki-laki dengan mata ke-abuan itu, dia sangat kuinginkan. Tapi aku juga masih mengharpkan Ron. Aku menunggunya, tapi tak ada respon positifnya padaku. Jika aku menolak ajakan Draco, aku akan menyesal seumur hidup karena kau tahu dia idola. Jika aku menerimanya apa kata hatiku, apa kata Luna dan apa kata orang-orang nanti.
Baiklah. Berani menerima alasan yang sangat tidak dapat dikela lagi membuatku menyatakan bahwa.. ya! Aku menerimanya. Bagaimana aku akan mengatakan padanya. Pertanyaan-petanyaan bodoh itu tetap terngiang dalam otakku yang bahkan akan bertanya padaku. Kenapa kau membuatku bekerja hanya karena kalimat-kalimat bodoh itu?
Hari berikutnya aku pergi kesekolah seperti biasa. Aku akan menceritakannya pada Luna dan tak terpikir olehku sekalipun akan pergi keistanaku. Seperti yang kuduga Luna bersama Ron. Aku ingin sekali bertanya pada Ron dengan siapa ia akan pergi. Mungkin Luna tahu jadi..
"Hai.." sapaku pada mereka dengan senyum sedikit terlukis diwajahku.
"Hei.." balasnya bersamaan. Sedikit komentar mereka sangat bersemangat.
"Jadi" mulai Luna "apa yang membuatmu jadi tersenyum hari ini, meskipun itu hanya tergores tipis diwajahmu itu adalah mukjizat" Sambil tertawa bersama Ron yang duduk bersebelahan dengannya. Itu membuatku tersenyum lagi.
Aku diam sambil duduk dikursi yang bertepatan didepan mereka. Aku berdehem sambil menunduk "Anu..." bagaimana memulainya, aduh. "begini.."
"Owh... aku tahu" Ron kembali menampakkan senyumnya. "jadi begini toh.. baiklah aku akan pergi, aku tak boleh tahu urusan anak perempuan." Dia berdiri dan pergi, lalu sekitar lima meter dia menoleh sambil menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya keatas dan kebawah kearah kami.
"Memangnya ada apa, yang membuatmu bahagia berkepanjangan" kata Luna sambil mencari ponselnya ditas.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu" suaraku lebih mengecil.
"Apa.. apa.. beritahu aku.. jadi KEPO deh..."
Aku menarik nafasku perlahan. Lalu menghembuskannya. Akan kukatakan saat ini juga tapi..
"Kau tahu tidak Ron mengajak siapa?"
"Hanya itu... owh.. ayolah.. kupikir kau-"
Ya benar ini sangat tidak sopan. Aku memotong pembicaraannya. "Baiklah seseorang mengajakku tapi bukan harapanku.."
"Owh.. jadi kau masih mengharapkan Ron?" Luna mencoba menghiburku dengan wajah penyesalan dan mata yang berkaca-kaca. "Siapa?"
"Aku tidak yakin tapi Draco menawariku pada saat aku diperpustakaan." Jawabku.
"Oh..." dia terdiam sebentar, dan bumm.. "apaaa? Dia..dia.. maksudku aku tak salah dengar.. mungkin telingku bermasalah, maksudku mungkin yang kau katakan adalah Nico atau kau.. memang Draco?". Luna sedikit berlebihan, aku tahu kegilaan apa saja yang ia buat ketika tak ada aku disisinya. Luna gadis yang sangat hiperaktif dan kadang salah pemusatan terhadap orang lain.
"Hm" aku hanya berdehem dan mengangguk.
"Kau, kau.. Jenius.. wow.. betapa beruntungnya kau. Maksudku si- tuan blonde hair yang ketampanannya aduhai dan sangat mengesankan, aku sangat tahu bahwa banyak gadis termasuk aku mengidam-idamkan moment itu..oh.. Tuhan bagaimana bisa.." dia memandang langit sambil mengatakan kata-kata puitis itu dengan senyum yang sangat lebar. Tiba-tiba. "Tunggu dulu, kau.. kau menerimanya?"
"Aku belum mengatakan padanya 'Ya' tapi dia-"
"Oh.. Tuhan, satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh. Itu berita bagus kapan kau akan bertemu dengannya, dan mengatakan dengan pasti?" kata-kata itu terucap dengan sangat tidak jelas karena kecepatannya melebihi pesawat jet.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau berhitung? Dan apa maksudmu aku bertemu dengannya? Mengapa kau menjadi sangat bahagia berkepanjangan, padahal kau yang mengatakan pertama pertanyaan konyol itu?". Kena kau.
"MMhhh.. begini, jika kau sudah punya pasangan itu akan menjadi berita bagus untukku, maksudku tidak ada lagi yang mengeluh didepanku tentang masalah ini".
Bagus. Sekarang tiba-tiba ia berdiri didepanku yang membuat aku juga berdiri tegak dihadapanya. Luna memelukku dan hal yang aneh ia bisikan tepat ditelingaku adalah 'selamat, dan kenapa mesti dia yang mengajakmu'.
"Aku tidak tahu". Jawabku setelah melepaskan pelukannya.
"Oh tidak..." Luna membelalakkan matanya melihatku, bukan melihatku tapi dibelakangku. "persiapkan dirimu, tersenyum, jangan membuat ini semua menjadi kacau, katakan 'Ya' padanya, dan ini saatnya, akan kutemui kau di kantin" Luna pergi sambil melambaikan tangannya.
Aku menengok kebelakang. Deg.. serangan jantung. Dia didepanku.
"Hai." Katanya sambil tersenyum. Dia menghampiriku. Lebih dekat. Lebih dekat. Dan ya.. sekarang kami berhadapan, muka ke muka, mata ke mata.
"H-hhai.. haii..maksudku Hai, senang bertemu denganmu lagi." Senyum. Itu pesan Luna. Apa yang kulakukan, biasanya tak seperti ini, aku tak pernah segugup ini, dia hanya Draco yang biasa kutemui kan?
"Mh.. bisa kita duduk?"
"I-iya tentu.."
"Jadi, setidaknya kau menyetujui permintanku kan"
"Aku- ak-u.. " dia menoleh. Aaaahh..aku ingin sekali menjerit menggigit tanganku dan memandangnya, tapi tidak mungkin kulakukan. "YA.. ya.. aku setuju"
"Bagus manis" dia memandangku lagi yang membuatku salah tingkah. " Kau berbeda"
Kata- kata itu salah kuartikan mungkin, karena berbeda berarti tidak normal, benar kan? Membuatku membelalakkan mataku dan mengatakan. "Maksudmu? Karena mereka mawar dan aku hanya dandelion?"
Yang membuatku kembali tersenyum manis. "Bukan. Kau cantik hari ini". Terima kasih.. oh.. terima kasih, tapi aku tak berani menjawabnya.
"Jadi aku akan mengajakmu kekota, nonton film, atau sejenisnya.."
"Mmh.. Ya.. kapan?"
"Minggu malam,"
"Malam minggu,?"
"Minggu malam.. artinya besok adalah dimana kita akan pergi kepesta dansa"
"Ah.. iya.. maaf," aku salah tafsiran, aku kelihatan bodoh, dan aneh.
"Maaf untuk apa?" aku hanya diam sambil ya kau tahu berdehem dan-.."Lupakan, akan kutepati janjiku" Draco mengambil tangan kananku, lalu mengecup bagian punggung tangan bak Jack yang bertemu Rose dalam film. Lalu meninggalkanku sambil tersenyum.
Ya.. ampun. Itu adalah peristiwa dimana aku tak akan pernah melupakannya. Dimana aku akan selalu mengingat dan menyimpan dalam sebuah benda yang kusebut memori. Dimana aku akan kekantin sekarang dan mengatakan pada Luna tentang semua ini.
Aku berderap. Berjalan secepat yang aku bisa menuju kemana tujuan anak-anak yang sedang kelaparan, atau hanya ingin camilan, atau sejenisnya. Kata apa yang pertama harus kukatakan pada Luna. Demi lautan sempit, atau demi jerawatku yang menghilang tiba-tiba atau, aku harus tertawa didepannya terlebih dahulu.
Itu dia. Anak dengan tas punggung yang selalu menempel dibadannya. Tengah duduk menatap layar ponselnya dengan sangat fokus. Bahkan akan lupa dengan makanan yang ada didepannya. Aku duduk didepan Luna. Menghembuskan nafasku perlahan. Dan ya.. kuminum limun yang ada didepanku.
"Wah... kau sudah datang, cepat sekali, apa yang kau katakan padanya? apa yang ia katakan padamu? Apa yang kalian lakukan" tanyanya tergesa-gesa. Kupikir ia akan Lupa semuanya.
"Kau tahu.. aku menerimanya seperti apa yang telah kau sarankan padaku. Dan kau tahu apa lagi? Dia mengajakku jalan." Kataku bahagia, aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya.
Luna menjerit dan mulai berhitung." Ahh... satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh, itu benar-benar menakjubkan, setidaknya aku bahagia ketika temanku berkencan dengannya, meskipun itu bukan aku."
"Kau senang.."
"Tentunya, kau kan temanku." Itu yang membuatku bangga pada Luna. Kupikir mungkin dia akan menjadi benci padaku.
"Kapan kalian kencan?" tanyanya sambil mengerlingkan matanya padaku.
"Minggu malam,"
"Hari libur, tentu, aku akan menjadikanmu bunga tulip yang merekah"
"Tapi ku bilang padanya, aku hanya dandelion."
"Dandelion yang berubah jadi mawar"
"Kau bilang tadi tulip"
"Ya... itu maksudku."
Kami memang tidak waras. Semua orang memandangi kami. Dan yang kami lakukan adalah. Pura-pura menganggap mereka hanyalah jerawat yang menjijikan, mengganggu, dan sangat tidak diinginkan. Sekarang saatnya aku, maksudku kami mempersiapkan semuanya. Jika saatnya aku harus menutupi semua kebosananku, mencoba menghilangkan semua kemunafikanku, mencoba hal yang baru, dan menjadi dandelion sendiri, inilah saatnya. Aku tak akan menjadi hal yang sangat bingung lagi. Waktunya aku keluar dari hal yang telah kususun sedemikian rupa menjadikan hari ini adalah hari dimana aku tak akan menjadi dandelion yang terbang teterpa angin. Kali ini aku akan menggapai semua maksud tersembunyi yang kusimpan dalam sesuatu. Dan sekarang persiapan apa yang harus kami lakukan.
Tak terasa ini adalah hari sabtu malam minggu. Dan yang tak bisa membuatku tertidur adalah hal apa yang aku lakukan didepannya nanti. Dan lambat laun aku tetidur pulas dengan gaya tidurku yang sangat luar biasa.
Kuharap kau tahu. Suara peluit yang sedang berjalar didinding-dinding kamarku, yang merambat, entah siapa yang membuat suara itu. Aku masih dalam alam bawah sadarku. Dan deruman yang membuatku semakin tak nyaman dalam tidur pulasku.
"Waktunya bangun, putri tidur!" teriak seseorang yang aku sangat tahu siapa orang itu.
"Ini.. hari minggu." Jawabku sambil menelungkup dan menutupi bandanku dengan selimut.
"Kau harus bangun tukang tidur.. ini adalah harimu yang menyenangkan."
Aku bangun dengan menitihkan sikuku untuk mendongak mencari jam. Dan aku sangat benar-benar terganggu. "Ini masih jam enam pagi, kau gila, sudah kubilang ini hari minggu, pulanglah, kembali kekamarmu, dan jadi gadis baik." Teriakku pada Luna.
"Oh.. Hermione sudah berapa kali kukatakan padamu, oh memang belum sama sekali, dengar, aku sudah meminta izin Mr. Dan Mrs. Granger untuk membangunkanmu hari ini. Dan aku sudah bercerita banyak tentang kau dan pangeran berambut platina itu pada ibumu. Kau tahu dia hanya tersenyum.."
Luna benar-benar sudah gila. Aku bahkan belum menceritakan tentang ini pada ibu. Sekarang aku sangat kesal padanya. Sangat. Dan yang membuatku tambah kesal. Dia membangunkanku dengan menyeret kedua kakiku. Jika aku tiba-tiba bisa terbang dan mungkin yang pertama aku lakukan adalah mendekati Luna, lalu mencekiknya. Tapi itu tak mungkin.
"Kita mulai sekarang," dia menepuk kedua pipiku dengan keras yang membuatku tergelegap merasakannya. "aku akan membuatmu secantik tulip hari ini."
"Kau tahu Luna? Ini masih pagi dan janjinya menemuiku jam tujuh malam," Sangat berat untuk membuka mataku agar tetap dalam keadaan terbuka.
"Yang kulakukan hari ini adalah tepat, aku akan memilihkan baju yang tepat untuk kau kenakan nanti." Seperti biasa, gayanya seperti orang berpengalaman, tetapi kenyataannya dia seorang amatir dalam melakukan suatu hal.
"Kau tahu apa yang membuatku terlihat cantik?"
"Ya?"
"Tidur!"
Sesuatu yang kulakukan ini memang sangat menjijikan. Karena bangun adalah hal yang menyenangkan, aku benci hal-hal yang menyenangkan. Sahabatku yang satu ini menjadikan duniaku tidak garing, dan semakin berwarna. Jika halnya dengan kebiasaannya yang sangat baik itu –menghitung– membuatnya bahagia, aku akan bahagia juga mendengarnya.
Kalau-kalau hari ini adalah hari yang spesial untukku, aku akan mengatakan bahwa itu adalah benar adanya. Kehadiran Luna pagi ini memang membuatku sedikit menjadi benci padanya, tapi percayalah kebencianku berlaku padanya hanya lima menit. Dengan cipratan yang ia buat untukku demi membangunkanku dari yang namanya indahnya tidur, deru yang mengelilingi kepalaku dan air liur yang keluar dari mulutku membuatnya berhenti seketika. Saat ini yang terpikir olehku –setelah bangun– adalah membuat diriku tak terlalu memalukan didepan Draco nanti.
"Oh Tuhan.. sepuluh ribu lima ratus dua puluh dua, sepuluh ribu lima ratu dua puluh tiga..Kau bau!" Celetuk Luna.
"Siapa suruh kau membangunkanku saat aku merasakan cantiknya tidur.." Balasku padanya.
Setelah kata yang menyakitkan itu keluar dari mulut Luna, aku mengambil handuk mandiku lalu pergi kekamar mandi.
Seorang perempuan sudah biasa dengan mandinya yang luar biasa lama. Itu sudah lumrah. Luna hampir tertidur lagi hanya karena menungguku mandi. Sebenarnya yang dilakukan hanyalah, tiga puluh persen mandi, dua puluh persen tertawa sendiri, dan sisanya bernyanyi. Tempat dimana kau bisa mendapatkan duniamu sendiri seutuhnya adalah kamar mandi.
"Kau mandi atau konser sih,"
"Konser" Jawaban yang baik untuk lelucon yang sangat tidak lucu sama sekali.
Hiruk piruk yang kulakukan selama ini masih terlalu baik untuk kebajikan yang canggung telah kulakuakan. Hari dimana aku akan menjadikan duniaku semakin bertumbuh subur dengan sedikit pupuk-pupuk cinta yang diberikan tuan platina untukku. Senang. Ya.. tentunya aku bahagia. Karena dia adalah laki-laki pertama yang mengajakku berjalan. Meskipun dia adalah laki-laki pertama yang kubenci disekolah. Aku tahu aku terkena karma.
Mulai dari baju, celana, mini dress, sepatu, syal, atau sejenisnya sudah Luna pasangkan dibadanku ini. Dan sudah jam tiga sore. Apa! Berapa lama kami hanya mempersiapkan penampilan –karena kebanyakan jadwal kami sangat terbalik dengan yang sudah kami susun, makan itu lebih mengasyikan– dan itu benar-benar banyak menguras waktu.
Belum sapaan yang tepat, belum bagaiman menjadi gadis manis didepannya, belum seperti apa nanti aku akan berkelakuan.
Dan tibalah saatnya dimana aku harus berdua dengannya. Aku benar-benar sangat gugup. Ya... inilah aku. Dandelion yang merekah saat musim semi. Memakai setelan baju berwarna abu-abu gelap, jaket yang serasi, sepatu ber-heels pendek, dan syal yang melengkapi. Tidak ada Luna. Dan sekarang dia sudah ada tepat didepan rumahku..
"Hei... " Dia tersenyum dengan menaiki sebuah motor yang termodifikasi sedikit yang membuatnya terlihat lebih keren.
"Hei" Sapaku balik padanya. Sangat kebetulan bagaimana aku tak segugup yang biasa terjadi padaku jika aku bertemu dengannya.
"Naiklah.." Katanya padaku. Aku takut menaiki motor itu bersamanya. Dan sekarang malah menjadikanku lebih memilih berjalan kaki bersamanya.
"Maukah kau berjalan kaki saja, bioskop hanya berjarak sekitar tujuh ratus meter dari sini atau taman kota hanya lima ratus meter." Aku mencoba menawarnya sambil menampakkan senyumku.
"Baiklah, apapun untukmu," Ha.. manisnya.
Draco memarkirkan motornya tepat didepan klinik ibu. Dan sekarang kami berjalan beriringan. Tak banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya, hanya topik-topik kecil yang membuatku maju untuk menanyakan suatu hal yang mungkin sangat tidak penting sama sekali. Seperti halnya, 'kita ke taman kota saja, itu lebih mengasyikan, bertiduran dirumput yang tersebar dan melihat indahnya bintang-bintang.' Itu referensi yang kutanyakan padanya. Dan jawabannya adalah senyuman dan anggukan.
Aku hanya tersenyum kecil untuk memastikan bahwa aku senang pergi dengannya. Dentuman keras terdengar oleh kami berdua. Yang membuatku menoleh untuk menatapnya. Kembang api. Saranku yang tepat. Aku tidak tahu kenapa ada kembang api malam ini.
Kami duduk bersamaan diatas sebuah gundukan tanah membentuk bukit kecil yang terselimuti dengan baik oleh hamparan rumput hijau yang terlihat jelas karena lampu-lampu kota yang merekah terang. Kesan yang ia berikan kali ini adalah mengatakan bahwa 'dandelion disampingku lebih indah dari kembang api yang sedang betebaran di angkasa'.Itu membuatku menjadi semakin bahagia.
"Kau tahu Hermione? Tak pernah terpikir olehku akan mengajak seseorang seistimewa dirimu," Kata Draco sambil tiduran di rerumputan dengan menindihkan kedua tangannya dibawah kepala sambil melihat kembang apa yang sedang menyala dengan apik.
Aku hanya duduk dan memeluk kedua lututku sambil tersenyum melihat indahnya langit.
"Aku juga tak pernah berpikir bahwa.. bahwa" mungkinkah aku akan menyanjungnya juga.
"Ya?"
"Bahwa pernah jalan denganmu" Kataku.
"Kukira kau gadis yang dingin, dan hanya mementingkan pengetahuan saja, ternyata presepsiku salah tentang itu semua. Dandelion yang peduli akan hal-hal sedetil apapun,"
Aku hanya tertawa kecil sambil menatapnya. " Kenapa kau hanya memilih dandelion, padahal banyak bunga lily atau mawar atau tulip yang mengejar-ngejarmu?"
"Sudah kukatakan padamu diawal, dandelion lebih menawan."
Aku tak pernah menganggap semua ini adalah kenyataan. Karena memang semua ini adalah kenyataan. Aku menganggap semua ini tetaplah hayalan. Beberapa kepingan tentang memori yang dulu aku ingat betul tentang siapa sesorang yang sedang berbaring disampingku sembari menatap indahnya bintang dilangit ini, membuatku malu yang sudah kulakukan padanya dulu. Dia laki-laki yang lembut. Aku baru kali merasakan bagaiman kepingan yang dulu kuperbuat untuknya menjadi berbalik arah seratus delapan puluh derajat. Dia sangat menakjubkan.
Apa yang sekarang ini aku lakukan? Aku tidak tahu. Aku diam memandangi langit sambil mendengarkan cerita panjang lebarnya tentang bintang. Semuanya, jenis-jenisnya, kilaunya, keindahannya, Draco tahu semuanya. Dia tampan, pintar, itu sangat hebat.
Sepercik senyum hampir selalu kupancarkan padanya. Aku bahkan tak bisa tidak terus senyum padanya setelah melihat ketampanannya. Itu benar-benar sangat luar biasa.
"Kau tidak merasakan dingin yang menjalar," tanyaku padanya.
"Oh.." Draco bangun sambil mengambil sesuatu yang ada disaku jaketnya. "ini.. untukmu"
Sesuatu itu adalah sebuah penutup kepala berwarna putih dengan galur melengkung kecil berwarna abu-abu, disertai dengan hiasan renda disetiap ujungnya. Ia memberikannya untukku. Memakaikannya padaku dengan perlahan. Dan ya.. aku hanya tersenyum dan mengatakan padanya terimakasih.
"Nah.. itu lebih baik sekarang, memang dingin itu kadang menusuk lebih dalam, lebih dalam, lebih dalam, dan lebih dalam sampai kau akan merasakan betapa jahatnya rasa dingin." Dia diam sejenak lalu mengambil posisi dibelakangku. Yang membuatku kaget setengah mati, bukan setengah lagi tapi mati, Draco tiba-tiba menelusupkan tangannya kepinggangku dan yang kulakukan hanya melihat tangannya yang bergerak. Draco memelukku.
Aku menoleh perlahan padanya. Dan menjadikan posisiku yang tadinya akan bertuliskan 'tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu' menjadi duduk bersila hanya karena tangan Draco yang sekarang melingkari perutku. Dan sekarang dia menaruh dagunya dipundakku. Dia tersenyum melirikku. Apa yang harusnya aku lakukaan? Hanya membalas senyumannya.
Aku benar-benar mati kutu. Tidak ada sepatah katapun yang mau aku bicarkan padanya. Lalu,
"Kau tahu bintang itu," dia melepaskan salah satu tangannya lalu menunjuk ke benda langit yang berkilau diantara teman-temannya yang lain.
"Itu?" tanyaku sambil menunjuknya.
"Berjalanlah mengikuti bintang-bintang redup diantaranya,"
Aku mengikuti intruksinya. Telunjukku berjalan mengikuti arah yang ditujukan. Dia juga menunjuk bintang yang berkilau diseberang. Perlahan aku mengikuti jalan bintang redup itu. Tiba-tiba aku menyenggol tangannya yang sedang menunjuk bintang. Dan baru kusadari bintang-bintang redup itu menunjukkan jalan untuk sampai ke bintang yang berkilau yang lain. Rasi berbentuk hati.
"Menakjubkan," kataku.
"Iya.. itu kau" tangannya berjalan "dan yang itu adalah aku."
Degup jantungku semakin keras lalu tawa kecilku terdengar olehnya. Dan yag tak pernah ia lakukan sekarang ia lakukan. Dia memelukku lebih kencang, sambil memejamkan matanya. "Semakin hangat bukan?" tanyanya.
Aku hanya berdehem, sambil mengatakan pada diriku sendiri 'aku harus rileks'. Menghembuskan nafasku lalu mencoba menikmati sentuhan yang Draco berikan. Tapi percayalah aku tak bisa. Tetap saja aku tak bisa.
Tidak tertalalu berbahaya mungkin jika aku mencoba terlihat mengesankan sekarang aku terlalu takut untuk berbuat mengesankan dihadapannya. Sedikit gerakan saja mungkin. Aku mencoba memegang tangannya yang masih melingkar dengan baik diperutku. Dan bersandar ditubuh Draco yang berada dibelakangku. Responnya sangat baik. Memegang kedua tanganku sambil bertahan pada posisi sebelumnya. Yang membuatku kemudian tertawa kecil.
"Cobalah untuk memejamkan matamu, dan pikirkan hal terindah yang ingin kau lakukan," Draco membuatku tetap tersenyum meskipun mataku dalam keadaan tertutup. Kami bergerak kecil kekanan dan kekiri. Draco mencoba bersenandung.
Hal yang membuatku bahagia adalah kedatangan seseorang dalam hidupku. Kukira Draco hanyalah laki-laki yang menganggapku kutu dan tidak diinginkan, laki-laki yang menganggapku hanyalah sesuatu yang tidak penting, laki-laki yang menyebutku dengan kata yang tidak terhormat, dan segalanya. Tapi aku salah. Dia kuanggap seperti Luna, sangat berharga dalam hidupku, dia kuanggap seperti ibu, yang selalu menyayangiku, dia kuanggap seperti Ron, Ron? Tidak. Tidak. Dia tak peduli lagi padaku. Dia bahkan tak pernah membuatku menyukai hal-hal yang ia lakukan lagi sesudah semua ini. Dia bahkan tak pernah membuatku tersenyum lagi seperti dulu,dia bukan lagi sesorang yang memberiku semangat atas segala hal yang aku akan lakukan, dia berubah ketika konflik pesta dansa ini dimulai, dia tidak mencintaiku, dia tidak pernah mencintaiku. Tak pernah sekalipun.
Aku menganggap Ron seorang yang spesial sampai hari ini. Masih, meskipun Draco telah menerjunkanku pada kelembutan dan keindahan yang ia berikan padaku saat ini. Ron tak pernah seperti Draco, tapi mengapa aku masih menganggap Ron adalah getaranku? Mengapa aku tak bisa menganggap Draco sebagai getaranku? Mengapa aku hanya menyukainya hanya karena aku nge-fans berat pada Draco? Mengapa?
Karena...
Bersambung
balasan review
Jelena: benarkah? wih disamain sama bukunya jacquelin wilson, jadi semangat saya nulisnya, review lagi ya...
AbraxasM: mungkin mendekati aneh, bukan lucu wkwk.. ini udah lanjut, makasih, review lagi ya...
A/N: Terimakasih sudah membaca fict ini. Semoga baik-baik saja sesudah membaca fict yang tidak menarik ini. Dan juga semoga mendapat pahala yang besar jika menyempatkan diri untuk me-review fict saya ini. So.. Review please...
