Pilihan Yang Salah
Disclaimer : J.K Rowling
Warning : DLDR, pelampiasan dunia nyata, fiksi yang aneh bin abal, kesamaan cerita bukan unsur yang disengaja, typo(s), jelek, dan sangat tidak mengesankan.
Happy Reading
Karena suatu hal yang membuatku tak akan pernah melupakan hal yang sangat rumit. Tentang Draco tentunya. Setiap detik yang menyelimuti pikiran negatif-ku padanya. Aku ingin sekali menghapus semua itu. Aku ingat betul mengapa aku menyukai Draco. Semua hal tentang dirinya tak akan pernah terlepas dan tak akan bisa diucapkan dengan kata-kata. Baik dengan kelakuanpun itu tak cukup.
Suara berdecit yang selalu mengitari kepalaku ketika ada hal yang janggal yang tak kusadari, kini terdengar jelas. Suara-suara yang mengatakan bahwa aku merasakan sebuah getaran pada seseorang yang ada denganku kali ini. Tapi mengapa otakku masih menafsirkan bahwa Draco hanyalah referensi kecil yang sekarang singgah hanya sekitar sepuluh menit dihatiku. Pelan dan menarik. Membuka mata yang sekarang telah tertutup oleh kabut kasmaran. Itu sulit.
Membuka sebuah buku dengan keajaiban dapat menyelesaikan semua masalahku adalah hal yang benar-benar ajaib untuk diinginkan. Bahkan dikabulkan. Karena segala hal yang telah membuatku lebih mengerti tentang jalinan kasih yang tak pernah ia katakan padaku sebelumnya. Yakin sekali. Dan pertanyaan yang berdecit itu adalah, apakah Draco benar-benar mencintaiku?
Detik per detik yang sangat berharga malam ini tak akan kulupakan. Aku telah lama terjun dalam pelukan Draco. Lama. Sangat lama. Lalu tiba-tiba terlintas dibenakku.
"Draco?"
"Ya?" Ujarnya, benar-benar lembut.
"Jam berapa ini?" aku beranjak dari pelukannya. Lalu memperhatikan apa yang ia lakukan. Seperti mencari sesuatu, pikirku. Tapi, tidak. Dia mengangkat tangan kirinya, dan kulihat dengan jelas. Dia memandang jam tangannya dengan amat sangat teliti.
"Sembilan. Tepat sembilan"
Aku mendadak membelalakkan mataku. Aku teringat kata ibu. 'Kau harus sekolah. Kau tak boleh terlambat. Dan kuharap ini malam-mu yang menyenangkan.' Itu dia, tak pernah terpikir olehku sebelumnya. Sebelumnya tak pernah. Sampai saat ini. Karena api yang sekarang telah mencuat karena luncuran kata yang aku pikirkan itu. Saat terakhir aku memandang Draco dengan penuh paksaan dan menampilkan wajah bingungku aku mendengar ucapan 'Apa yang akan terjadi' meluncur dari mulutnya. Aku hampir tak bisa menjawabnya karena aku benar-benar tak enak jika malamnya –malamku juga sih..– ini terganggu hanya karena pesan ibuku. Aku terdiam sesaat. Tiba-tiba Draco berdiri tanpa alasan yang tak kuketahui. Lalu dia mengulurkan tangannya bak seorang pelayan istana.
"Aku tahu kau harus pulang sekarang. Mungkin ibumu sudah mencemaskanmu" Ujarnya.
Apa lagi yang kutunggu. Aku mengambil uluran tangannya untukku. Berdiri dengan menumpuhkan tubuhku padanya. Dan aku menyadari bahwa kami telah bergandengan. Jelas terlihat bahwa keinginanku persisi seperti apa yang Draco katakan padaku. Tidak ada kata benci hari ini. Yang selalu tampak jelas dalam wajahku setiap hari. Semuanya berubah ketika Draco datang dalam kehidupanku. Berjalan menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Kendatipun helaan nafas yang kulakukan terdengar dengan jelas dan keras sekarang. Dalam perjalanan ini kami hanya mengayukan tangan bersamaan, tersenyum, dan menampilkan gigi-gigi yang berjajaran dengan rapi. Sesekali aku menggigit bagian dalam pipiku. Karena itu adalah kebiasaan yang tak akan hilang sampai kapan pun.
Jalanan yang sepi. Angin kecil yang berdesir. Daun-daun yang bergesekan dengan jalan aspal terdengar nyaring ditelinga. Suaranya bagaikan orkesta megah dengan deruman hantu yang akan datang. Benar-benar hening. Aku ingin mengatakan padanya bahwa, kuharap Draco tak akan malu pergi ,
"Kau." Sudah kuperkirakan tadinya. Kami seperti orang yang dilanda gugup seharian. Mengatakan kata pendek itu saja bebarengan. Apa yang mau aku katakan. Apa yang mau Draco katakan. Entahlah. Yang pasti tidak ada diantara kami yang tahu tentang pertanyaan itu sebelumnya.
"Baiklah kau duluan," Kataku.
"Kau duluan saja" Draco menolak.
"Tidak-tidak kau duluan"
"Kau yang duluan"
"Kau saja yang duluan"
"Kau, kau yang duluan"
Berapa lama entah apa saja kalimat yang kami ajukan satu sama lain yang pasti intinya 'kau duluan' yang berakhir tertawa satu sama lain. Dan,
"Baiklah aku duluan" Akhirnya Draco memulai. "Berdandanlah dengan cantik untukku besok, aku ingin semua orang akan mengagumimu, dan berbaliklah, kita sudah sampai"
Aku tak sadar bahwa aku telah benar-benar tepat didepan rumah, maksudku klinik ibukku. Klinik tutup jam delapan malam. Dan rumahku benar-benar sepi. Mungkin ibu dan ayah sudah tidur. Pikirku.
Perlahan tapi pasti, Draco mengambil motornya. Aku masih berdiri disamping kotak surat depan rumah, dan melihat Draco mengahampiriku dengan motornya. Lalu memarkirkannya dipinggir jalan beraspal. Aku hanya bisa mendorong juntaian rambutku kebelakang telinga. Terlihat malu-malu untuk melihat mata abu-nya yang berkilau. Senyum yang terlihat pada wajahnya yang menawan tak bisa kulihat dengan baik. Aku bisa mendengar adu sepatuku berkeletak-keletuk pada deru aspal dengannya. Hanya terdengar suara seperti 'hem... dan eh..' ragu-ragu. Lalu aku mendongak untuk melihat wajahnya. Dan hanya senyuman yang tersungging terpancar dari wajahku dan juga wajah Draco. Ketika Draco meluruskan tubuhnya yang semampai dan mengerang, aku bisa mendengar kharismanya berbicara padaku. Tapi aku tak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan.
"Emh... Hermione ada sesuatu dikelopak matamu." Draco memecahkan keheningn.
Ada sesuatu? Kotoran? Oh tidak itu akan merusak suasana. Dan apa yang akan kulakukan nanti. Aku hanya bersuara 'hah?' sambil berjungkit dan menggosok bagian kelopak mataku.
"Tidak-tidak, biarkan aku yang mengambilnya," Draco menawarkan dan aku meng-iyakannya. "Tutup matamu," katanya perlahan. Lalu dapat kurasak kedua tangannya menyentuh kedua kelopak mataku. Lalu mulai turun dan menelungkupkannya dipipiku.
Kelembutan yang dapat kurasakan saat tangannya menyentuh pipiku benar-benar menelusup dalam tubuhku. Dan saat itu juga aku bisa merasakan hembusan hangat mengenai wajahku. Dan tak dapat kupungkiri aku merasakan kelembutan menyentuh bibirku. Sepuluh detik kemudian, aku membuka perlahan mataku. Aku benar-benar tercekat. Ketika aku masih melihat tangan Draco dipipiku. Dan aku membulatkan mataku dengan kedipan cepat.
Dia menciumku.
Tangannya yang kekar mulai menelusup keleherku. Dan membisikkan suatu kata yang tak akan pernah kulupakan.
"Aku yakin kau akan melakukannya dengan baik ketika kau sadar, mungkin kau menginginkannya lagi dariku," Draco menyeringai. Aku bisa lihat seringaiannya tak seperti seringai yang ia pancarkan padaku setiap saat. Yang ini lebih manis.
Oh Tuhan. Oh Dewa. Oh Aphrodite. Dia benar-benar melakukannya padaku. Bibirku mulai berkedut dan aku menggigitnya. Diam terpaku sambil membasahi bibirku secara bergantian. Draco mulai menyertarter motornya dan pergi meninggalkanku.
Apa yang kulakukan selanjutnya? Aku berlari masuk kerumah dan menuju kamarku. Aku bisa mendengar suara ibu. "Hati-hati sayang" .Menutup pintu dengan rapat, menutup jendela dan menarik selambunya. Aku berteriak sekencang-kencangnya bak seorang fangirling, berjingkat-jingkat yang membuat ibuku kembali berteriak. "Apa yang sedang terjadi, sayang". Dan jawabanku hanya. " tidak ada bu!"
Aku berlonjak-lonjak diatas kasur sambil bersenandung tapi mengatupkan mulutku rapat-rapat sambil mencoba mengatakan liriknya. 'dia menciumku, dia menciumku, dia menciumku' . lalu aku mulai lelah dan berbaring terlentang sambil mencopot penutup kepala yang ia berikan padaku. Aku menghirup dalam-dalam penutup kepala itu, sambil berteriak lagi. Aku benar-benar bahagia. Ini benar-benar luar biasa. Kau akan melakukan ini jika kau ada dalam keadaanku kali ini. Apalagi dia seorang Draco. Kau tahu kan dia seorang Draco?
Aku mencopot penutup kepala beludru sersulam yang Draco berikan untukku. Tak henti-hentinya aku untuk menghirup wangi tangannya yang masih melekat dengan baik di penutup kepala itu. Sejenak aku merasa kebahagiaan ini hanyalah semenit, tapi aku tak percaya apa yang sedang aku pikirkan ini. Aku masih telungkup dengan sepatu masih terpasang dikakiku. Dengan senyum yang tak ada yang bisa melihatnya kecuali foto Luna dan aku dimeja samping kasurku. Perasaan ini mungkin aneh, karena aku memang munafik. Munafik dari segala hal. Banyak sekali cerita yang sampai saat ini aku tak pernah menyadarinya bahwa aku menyukai jalan itu. Layaknya aku memang benar-benar nge-fans berat dengan Draco, menyukai cara berjalannya, menyukai bagaiman sikap angkuhnya yang memikat. Tapi aku hanya menampilkan tampak yang sangat muram. Gemuruh dihatiku mengatakan bahwa tak sebaiknya aku menyukai laki-laki dengan pengaruh besar terhadapku nantinya. Dan aku yakin kau juga pernah merasakan kemunafikan itu.
Jentikan-jentikan yang ia berikan padaku hari ini benar-benar sangat menyenangkan. Aku terlalu bahagia dengan semua ini. Terlalu cepat. Mungkin. Hamparan kesedihan tentang kesendirian atau bullying tak lagi membuatku selalu terpuruk dalam keraguan dan kesengsaraan. Tak lagi. Berubah hanya karena dia?
Jiwaku terisi lagi. Hermione Granger, aku, ya..aku menyukainya. Gesekan yang berharga –menurutku– itu tak selebihnya rumit. Bagaiman aku bisa mengataka bahwa aku menyukai laki-laki yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Aku tak bisa memilih keduanya. Aku masih memendam rasa sukaku pada Ron. Masih kusimpan dengan baik. Tapi Draco juga oke. Aku memang salah.
Aku melepas sepatu dan jaketku lalu mencopot baju dan berganti dengan piyama. Aku ngantuk berat. Kusiapkan bantal dan pacarku dikasur maksudku siapa yang tak merindukan benda panjang yang selalu kupeluk untuk menggantikan seorang yang kusayang. Aku selalu memasang foto Ron diujung guling itu. Sampai saat ini. Aku selalu mengharapkan pelukan Ron saat aku tertidur. Tapi kali ini sedikit berbeda. Aku tertidur sambil membayangkan hal-hal yang menyenangkan tadi. Dan bayanganku sekarang adalah. Masih memegang tangan Draco dengan kuat dan tak akan melepaskannya. Karena Ron tak pernah melakukannya padaku, aku tak pernah merasakan dan membayangkan bagaimana keindahan disetiap waktu itu. Jadi meskipun itu adalah foto Ron yang aku bayangkan tetaplah Draco –karena aku tak punya satupun foto Draco–, aku benar-benar sudah GILA.
Mimpi yang kuinginkan tadi telah kususun dengan baik dan benar. Mimpi tentang segalanya bersama si mata abu yang menciumku tadi. Itu adalah romansa yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tak pernah. Sekalipun.
Pada gerakan pertama aku merasakan heningnya sebuah keadaan dalam kegelapan. Kesendirian yang sunyi akibat kelakuan yang aku telah banyak lakukan. Tabir kejadian yang kini kualami sangat mengerikan. Aku hanya berdiri tegak diantara kerumunan orang banyak yang sedang ribut entah tentang masalah apa yang tak kuketahui. Tak ada yang menganggapku berdiri disini. Berkali-kali aku berteriak dan menanyakan 'apa yang telah terjadi' tapi hasilnya benar-benar kosong. Ada seseorang yang menarik helaian rambutku, tapi aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Banyak orang menggunakan penutup kepala berwarna hitam sampai menutupi hampir seluruh mukanya, gadis-gadis yang melewatiku bermotif aneh. Rambut mereka menutupi semua wajahnya. Tapi aku bisa merasakan mereka melihatku dengan tatapan yang hina. Aku takut.
Penglihatanku mulai agak miring. Aku tak bisa merasakan adanya ketenangan. Kepalaku mulai berkedut dan aku memukulnya. Hal-hal yang aku tak pernah duga terjadi. Semua tak menganggapku ada. Mereka seperti mengira bahwa aku hanyalah hantu yang berkeliaran layaknya Casper. Hanyalah hantu. Pikiranku mulai kacau. Dan semua ini benar-benar idiot. Seberkas cahaya dapat kutangkap dengan mataku. Jiwa-jiwa kuat yang menghantuiku kini luluh dengan adanya kedatangan seseorang yang kukenal betul. Mulutku tercekat. Bibirku tak dapat bergerak. Aku ingin berteriak memanggilnya. Ron mendekatiku sambil tersenyum. Lalu dia menarik kedua tanganku dan mengatakan- "Bangun, sekarang. Apalagi yang kau tunggu, bangun"
Mimpi.
Hanya mimpi. Kupikir semuanya nyata. Tapi apalah, tak ada gunanya memikirkan sebuah kejadian yang khayal. Beberapa rasa gemrincing layaknya kunci-kunci yang berdentang bertubrukan mengakibatkan diriku terbangun, masih duduk cantik dikasur dan mengucek kedua mataku dengan punggung tangan. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Dan seberkas cahaya matahari mulai bertamu dikamarku melalui celah-celah kecil diatas jendela. Aku menenggelamkan wajahku didalam tangan lembutku. Menunduk.
Mengambil jam beker dimeja samping kasurku dan aku melihat jarum pendek tepat diangka tujuh. Aku hampir lupa semua yang terjadi malam itu. Malam dimana kami berkencan. Dimana semua terasa bahagia. Dimana kemunculan kebahagiananku mulai muncul tiba-tiba. Dimana kemunafikan yang dulu kutujukkan telah luluh dan terpendam sangat dalam. Berkas-berkas yang kusebut memori itu bahkan terlupakan, dimana aku menyebutnya kata-kata yang tak sepantasnya. Karena kukira dulunya adalah karma. Ketakutan oleh cinta yang selalu kurasakan sirna begitu saja. Hal terindahnya mulai bermunculan. Sulur-sulur yang memanjang oleh waktu telah membuatku menjadi nyaman.
Aku turun dari kasurku. Lalu duduk dengan manis dikursi meja belajarku. Mengambil buku dari barisan-barisan yang tertata rapi diatas rak meja belajarku. Aku tak berharap banyak tentang hari ini. Aku hanya menginginkan kesunyian hari ini. Mungkin tidak ada Luna. Mungkin. Jadi aku membuka helai per helai lembar dari buku yang menurutku jug tidak terlalu menarik seperti yang selalu aku rasakan. Jadi kuharap tak ada sama sekali yang salah dalam hidupku –yang abnormal– hari ini.
Aku memfokuskan pada kata-kata yang tersusun dengan jelas dan dibentuk seperti mutiara itu dengan baik. Memahaminya dan menafsirkan maksudnya. Tapi aku tak benar-benar menafsirkannya atau memahaminya atau yang lainnya. Aku masih berpikir bagaimana gayaku nanti dipesta dansa. Bagaiman nanti sikapku dipesta dansa. Aku hanya ingin kesopanan. Dan aku mau Draco tak akan malu karena harus dansa denganku. Atau berhenti menjadi seorang fangirling. Itu akan jadi masalah bersar nantinya.
Ketika aku mencoba menghilangkan apa yang membuatku benar-benar tidak fokus, aku mengatakan kata-kata itu dengan keras. Dan-
"Hermione, bisa kau turun sayang," itu suara ibu "ibu butuh bantuanmu" seruannya begitu keras.
"Oke, bu" balasku berteriak. Aku mengganti baju piyamaku dan menggunakan sepatu yang biasa kugunakan sebagai alas kakiku sehari-hari.
Aku menyeret kedua kakiku untuk turun menuruni tangga kayu berpelitur itu. Aku menghentakkan kaki dengan keras agar ibu tahu betul aku turun untuk menghampirinya. Setiap kali aku menghentakkan kaki, ada sura seperti pukulan-pukulan ringan antara besi dengan kayu, tepatnya kayu dan palu. Dan ketika aku menghampiri ibu, aku sedikit memiringkan kepalaku.
"Apa yang ibu lakukan"
"Pelanggan menyukainya, pot buatan ibu, dari kayu sisa digudang, itu akan cukup untuk membelikanmu camilan-camilan yang sangat kau cintai itu." Ibu benar-benar tahu apa favoritku.
"Lalu, aku harus ngapain" Tanyaku pada sosok wanita berwajah keibuan itu.
"Kau harus memasukkan bunga-bunga itu," dia menunjuk ke bunga berwarna putih yang biasa dikenal dengan nama Lily . "kedalam pot yang telah ibu buat."
Aku bisa melihat keringat ibu bercucuran dari balik kaos yang ia kenakan. Basah karena cairan asam itu. Hanya berpikir entah bagaimana ibu akan membagi jadwalnya hari ini. Aku benar-benar salut. Aku mengambil sarung tangan berwarna kuning disamping meja kecil yang ibu buat untuk menaruh bibit bunga baru, lalu mengenakan sarung tangan itu dan mulai mengerjakan apa yang dikatakan ibu padaku tadi. Sementara ibu masih memalu kayu sana sini dengan sedikit terpeleset dan mengenai tangannya yang halus itu, aku mencoba memasukkan beberapa tanah basah ke pot dan itu tidaklah sulit. Banyak hal yang kupelajari tentang tanaman hari ini.
Hari ini? Pesta dansa. Aku tahu betul itu. Walaupun aku sangat menginginkan momen-momen itu segera datang, aku hanya bisa menunggu kapankah waktu itu akan datang. Teringat olehku saat-saat terakhir bersamanya. Bagaimana aku berperilakuan dan apa yang banyak ia lakukan padaku. belakangan ini aku sering kali tersenyum dan ibuku tak terbiasa dengan hal baru itu. Dia berkali-kali menanyaiku tentang alasan aku hampir setiap hari menampakkan seulas senyuman pada siapapun. Aku juga bisa menafsirkan bahwa tatapan ibu padaku saat aku tersenyum mengartikan bahwa aku sudah sangat gila. Dan aku tak dapat mengelak dari alasan yang ibu kejutkan itu padaku.
Kusekop tanah basah itu dan aku dapat merasakan kelembapannya sampai kebagian kulit tanganku. Wewangian yang dipancarkan beberapa bunga yang wanginya menyengak ini dapat menusuk hidungku sampai kedalam. Aku tak akan melepaskan wangi ini.
"Ibu, kau pernah pergi kepesta dansa sebelumnya? Maksudku ketika ibu remaja?" tanyaku sedikit penasaran bagaimana ibu berpenampilan saat pesta. Ibu cantik. Aku tahu ibu akan benar-benar modis untuk mengenakan sebuah gaun atau mini-dress yang biasa dikenakan saat pesta.
Ibu terdiam sejenak dan berdehem cukup lama sampai aku menghembuskan nafas dengan keras agar ibu dapat peka sedikit. "tak pernah, ibu selalu menolak. Ibu selalu yakin bahwa pesta akan merusak kesukaan ibu."
Kau bisa menebak bagaimana ekspresiku. Aku tersentak karena ucapan ibu yang tak pernah kukira sebelumnya. Aku menyembunyikan kilatan tawaku saat itu juga. Mungkin aku juga tak terlalu menyukai pesta. Tapi hal yang berbeda terjadi padaku tentang hubungan yang terjalin antara batinku dan ibu. Terlalu banyak cerita kemunafikan yang kujabarkan diriku padamu. Itu sangat memalukan. Aku tahu itu dari dulu.
"Hanya ini?" Pertanyaanku mungkin sangat aneh karena kayu digudang memang sedikit, dan ibu hanya menghasilkan tujuh buah pot kayu yang telah kuisi dengan baik dengan bunga-bunga yang cantik. Aku menghirup sedapnya wangi bunga melati. Teringatlah aku pada secangkir teh yang amat kusukai. Dan aku menawari ibu untuk minum teh bersama. Pertama, ibu menolah karena ini terlalu pagi untuk nge-teh. Tapi aku memaksanya dan mengajak ayah juga yang bahkan tak mengatak ya atau tidak tentang ini.
Kami banyak berbicara hari ini. Tak pernah kulakukan sebelumnya. Dan sesaat pikiran negatif-ku pada mereka sirna begitu saja. Ayah bercerita tentang bagaimana proyek barunya pada kami, yang bahkan aku tak mendengarkanya. Aku hanya mengangguk-angguk sesekali lalu berdehem panjang meyakinkan ayah bahwa aku benar-benar paham maksud dan tujuannya. Ibu memberikan peluang juga, tapi sudah kukatakan padamu aku juga tak menghiraukan perkataan ibu. Pikiranku masih melayang-layang tentang mimpiku semalam. Masih bingung tentang arti mimpi yang datang padaku tadi malam. Aku mulai capek duduk. Serasa tulang ekorku terbelah jadi dua. Dan baru kusadari juga bahwa telah dua jam keluarga Granger duduk santai dengan tak nyaman disini.
Aku meminta izin pada orangtuaku untuk pergi dulu. Kekamar. Entah apa yang kualakukan nanti disana tapi aku terlalu bosan untuk bertahan dengan tubuhku seperti ini. Aku berjalan sambil menggebrokkan sepatuku dilantai kayu berpelitur yang membuatnya sedikit berkilau terkena cahaya dari luar. Suara gedubrak yang kubuat, tak begitu menganggu bagi ibu dan ayah yang sedang asyik berbicara entah apa topik mereka.
Aku melemparkan tubuhku pada kasur empuk kamarku. Dan mencari ponsel yang ada dibalik bantal. Lalu aku menelfon Luna untuk datang kerumah. Itu tujuan yang tiba-tiba terlintas dikepalaku. Mungkin dia bisa memilihkan baju yang tepat ketika aku gunakan nati. Jadi aku mencari nama Luna dikontak ponsel. Lalu baru sadar aku menamainya Loony dikontak. Karena dia gila. Sedikit.
"Halo?"
"Hai! Bagaimana kabarmu?" Entah mengapa suaranya menjadi lebih serak dan lemah. Tapi aku yakin dia memaksa terdengar gembira.
"Baik. Kenapa suaramu?" tanyaku untuk memperjelas keadaan.
"Aku tidak tahu persis. Mungkin karena tadi malam aku konser." Tawanya sedikit menggelegar.
"Sialan kau!" aku tak bisa tak tertawa juga. "Bisa datang tidak? Aku membutuhkanmu"
"Kurasa ada yang tidak beres. Aku ingin sekali datang, tapi suatu hal mencoba mencegahku, maafkan aku,"
"Oke, tak apa." Jawabku sambil mengangguk dan menggigit kuku jariku.
"Maafkan aku, benar aku hanya-" Suaranya menghilang begitu saja, dan aku mendengar suara batuk dari sana. "hanya tak bisa"
"Tak apa, kau baik-baik saja kan?" tanyaku memastikan.
"Sumpah, aku baik." Jawabnya. Dan aku bisa melihat, senyuman yang terlukis diwajahnya dalam angan-anganku.
"Baiklah, sampai jumpa dipesta dansa." Aku menutup telfon, saat di telah selesai mengatakan padaku 'Bye'. Dan percakapan kami terputus.
Jam enam kurang sepuluh menit lagi. aku sudah siap dalam balutan kain sutra berwarna putih berpadu dengan warna merah hati dibagian rok pendeknya. Hanya mini-dress. Tapi aku tak bisa mengenali diriku sendiri didepan cermin. Sepatu heels. Tas kecil yang berselempang dibagian bahu kiriku. Lengakap dengan isiya. Beberapa uang, ponsel, tissue, dan tak lupa kumasukkan penutup kepala yang Draco berikan padaku. Aku melihat diriku sendiri dikaca kamarku, dan aku hanya takjub melihat betapa berbedanya diriku. Bibirku membulat sambil melihat bagian samping dan belakangku lalu berputar. Tak henti-hentinya aku berdiri dikaca. Aku menggigit bagian dalam pipiku, lalu tersenyum sendiri. Kau bilang aku gila ya?
Dia tak menjemputku. Aku harus datang ke-gendung sekolah sekarang. Karena tadi pagi aku merayu ayah jadi dia mau mengantarku sekarang. Sangat kurang ajar. Mau mendekat jika ada maunya. Aku turun menuruni tangga. Aku cukup mahir menggunakan sepatu ini. Sebelum adanya ini pesta, mungkin aku tak akan mau yang namanya belajar berjalan menggunakan heels ini. Satu persatu kujejakkan kakiku menuruni anak tangga dari kayu yang terpelitur dengan baik melukiskan warna coklat mengkilat yang menawan. Suara ketukan sepatuku membangunkan ibuku dari mewahnya menonton TV sambil makan popcron.
"Hey... aku tak pernah melihatmu dengan setelan itu". Aku hanya tertawa sambil menyibakkan rambutku yang terurai kebelakang. "Tunggu dulu. Ada yang harus diperbaiki, duduklah dulu, renggangkan otot tanganmu kau terlihat kaku." Ibu berdiri lalu mengambil sebuah jepitan rambut disamping fotoku yang tersenyum lebar. Ibu mulai mengambil beberapa pucuk jari rambutku yang ada dibagian yang selalu kusibakkan disamping telinga. Mengambilnya dan mengarahkannya kebelakang lalu menjepitnya dengan jepitan rambut. Satu hal yang membuatku kagum lagi pada ibu. Meskipun dia seorang dokter gigi, yang hanya begitu begitu saja dia selalu punya style yang tinggi bahkan pada mode sekarang ini. Dia selalu terlihat modern dengan gayanya yang unik serta tak berlebihan. Jadi ingat Luna.
"Nah, begitu lebih menarik bukan, tak kusangka kau cantik"
"Jadi ibu bilang bahwa aku jelek begitu?" Aku mulai cemberut.
"Ya, emh tidak maksud ibu, kau tidak modis.." dia terdiam sebentar ketika aku memukulnya "Bahkan sekarang baumu seperti mawar merekah, kau cantik sekali"
"Terimakasih" aku tersenyum.
"Oh.. ayahmu menunggu didepan."
Aku berjalan kedepan mengahampiri ayah yang mungkin sudah sedari tadi menungguku. Dan aku tak sabar untuk bertemu dengannya.
Bersambung
A/N : well.. haha (Tertawa gaya Hagrid) terimakasih banyak menyempatkan baca kisah sinetron saya. Karena haha (Tertawa gaya Hagrid lagi) saya adalah author yang PHP. *updatenya lama*. Maaf sekali lagi soalnya saya Senin besok UN jadi nggak ada kesempatan banyak buat nulis. Asyik belajar belajar terus. Oke doa-in saya UN –nya lancar, dan tak lupa saya berikan doa pada reader-reader ca'em yang mau ng-review fict saya ini, agar dapat pahala yang melimpah dan dosanya diampuni. *banyak bacot, author digablok*. Tinggalkan jejak kalian ya.. Saya cinta reader terang. Saya pijitin reader gelap. Review ok?
