Pilihan Yang Salah

Disclaimer : J.K. Rowling

Warning : DLDR, pelampiasan dunia nyata, fiksi yang aneh bin abal, kesamaan cerita bukan unsur yang disengaja, typo(s), jelek, dan sangat tidak mengesankan.

Happy Reading

Hari yang melelahkan akan terjadi mungkin. Tapi sepertinya akan menyenangkan. Karena telah lama aku menunggu momen-momen seperti ini. Setidaknya ayah tak banyak bicara mengenai penampilanku atau dengan siapa nanti aku berdansa. Bagaimana nanti aku berkelakuan, percayalah saat ini aku benar-benar ingin sekali mengetahui hal itu. Indahnya waktu yang diluangkan ayah untuk menerima keinginanku kali ini. Karena ini pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir ini ia terlihat peduli sekali padaku. Mata-mata yang selalu mengintainya kemanapun ia pergi, maksudku teman-teman botaknya yang benar-benar membuatku terkejut selalu mengikuti ayahku. Aku hanya memandang keluar dibalik jendela hitam mobil ayah. Tak pernah sekalipun terpikir olehku untuk menoleh padanya atau bahkan berbicara banyak padanya, dan hal baiknya adalah dia jika tak mengajakku bicara. Aku hanya mendengar deheman yang mengerang dari suara ayah yang tak pernah kudengar sebelumnya. Geli juga mendengar semua itu. Hanya hembusan nafas yang akan terdengar dengan jelas dari mulutku untuk merespon perilaku ayah.

"Kau seperti ibumu, saat muda, saat dia masih dibangku sekolah menengah, dia cantik, dan percayalah aku tak pernah berani untuk mendekatinya."

Apa? Aku tak salah dengar? Dan apa yang tak pernah terpikir olehku akhirnya kulakukan. Aku menoleh padanya dan tersenyum. "Itu pertama kali ayah menyukai ibu?"

"Eh.. ya, aku tak pernah tahu apa itu cinta, tapi aku percaya yang namanya cinta pertama"

"Ibu cinta pertama ayah?"

"Iya,"

Aku tak pernah percaya bahwa ayah orang yang setia, bukan pada pekerjaannya yang pasti. Itu hal yang menarik. "Kapan, pertama kali ayah menyatakannya pada ibu?" Ayah tertawa sambil memutar stir mobilnya.

"Pada saat kami kuliah, ibumu tak peka sama sekali, apa yang banyak aku lakukan untuknya, apa yang sudah aku lakukan padanya, apa yang sangat bermakna telah kulakukan untuknya, dia tak pernah membicarakannya. Aku memberikannya sebuah buku, aku tahu dia sangat suka membaca, semua buku ia baca. Mulai dari novel sampai buku-buku penelitian. Jadi aku menghadiahkan buku pengetahuan padanya. Saat aku mulai mencoba memancingnya untuk menyatakan atau mengatakan beberapa patah kata yang tak pernah kuketahui, dia malah melenceng, dan malah menjelaskan padaku hukum Ohm, dan itu tak akan kulupakan."

Bagaimana bisa? Itu lucu sekali. Dan kau tahu apa bayanganku? Aku duduk diantara ayah muda dan ibu muda saat mereka berbincang bincang dan aku mengatakan 'aku anakmu dimasa depan, percayalah itu lucu sekali. Aku tak pernah tertawa bersama dengan ayah belakangan ini. Kadang aku juga sangat merindukan ayahku yang selalu tertawa padaku.

"Lalu ayah balas apa?"

"Ayah hanya tak habis pikir dan ayah malah meneruskan perbincangannya tentang Ohm dan semuanya terlupakan, dan menghilang begitu saja."

"Hahah.. itu sangat menawan"

"Iya benar-benar jenius," kami tertawa bersama lalu, "Oh.. disini"

Kami sudah datang. Saatnya aku turun dan saatnya ayah untuk memutar balik mobilnya untuk menuju cinta pertamanya. Maksudku pulang untuk menemui ibu. Aku membuka perlahan pintu mobil lalu tiba-tiba terlintas diotakku.

"Ayah, selamat jalan, aku mencintaimu"

"Selamat jalan sayang, aku juga mencintaimu"

Aku tak percaya aku mengatakannya atau bahkan ayah mengatakannya juga padaku. ia membalasnya dan itu benar-benar luar biasa. Aku tersenyum lalu menutup pintunya. Dan mulai menyusuri jalan rerumputan taman gedung. Mungkin hanya peresmiannya didalam, tapi dansa akan dilakukan diluar. Karena lampu-lampu, minuman, kue, atau bahkan musik ada dibagian luar. Pesta diluar.

Gedungnya benar-benar indah dan aku juga sangat mengaguminya. Gedung disabelah kanan, lampu mencolok, meja terisi penuh makanan. Dan ada aura kebahagian kurasakan. Dan gedung disebelah kiri. Aku tak yakin itu digunakan. Gedungnya berlampu, tapi tak mencolok seperti yang disebelah kanan. Bercat warna kuning sebagian cahayanya temaram. Dan sinar bulan masih bisa masuk dalam celah-celahnya. Aku yakin gedung itu tak terpakai jadi aku memutuskan untuk menjelajahi seluk beluk gedung itu.

Aku berdiri tegak diantara dua bilah pintu besar yang terbuka lebar. Menelusuri satu persatu celah dan goresannya. Dan aku juga melihat bagian pojok pintu kayu tersebut catnya terkelupas. Aku bahkan tak menyadari jika hembusan anginnya menarikku juga untuk masuk lebih dalam. Tasku yang bergelantung mulai kuangkat naik dengan sebelah tangan. Lalu aku menelan ludahku sendiri sambil menggigit bibir bawahku. Gemeletuk sepatuku mulai beradu. Terdengar benar-benar keras karena sangat sunyi. Aku melihat tangga memutar berbentuk spiral menuju keatas. Dan aku menaikinya. Satu persatu aku melangah dan angin yang menarikku tadi mulai terasa lebih kuat. Setelah aku benar-benar dipuncak ada sebuah pintu yang telah terbuka. Pintu kecil yang dilapisi sebuah peringatan yang bertuliskan "Proyek belum selesai, hanya harus menambah satu lantai"

Kemungkinan besar, bagian atasnya hanyalah lantai tanpa atap, dan tembok yang mengitari hanyalah berukkuran sepinggulku. Aku menengok kebawah, cantik juga. Melihat jalanan ramai dengan lampu-lampu gemerlap dan bincang-bincang teman-teman sepermainanku. Aku menaruh kedua sikuku ke pembatas tembok setengah itu dan menunduk sambil tersenyum melihat kebawah. Tak ada yang kupikirkan, yang kutahu bulan menemaniku. Tapi ternyata bukan hanya bulan.

Dia menemaniku. Tapi tak kuketahui sebelumnya. Aku hanya menaruh wajahku kebawah dan tak sekalipun memperhatikan siapa yang ada disampingku atau dibelakangku ataupun malah dia sedang mencoba berdiri menjajariku. Tubuhku tak merasakan adanya kehangatan atau rasa dingin yang biasa keluar akibat apapun yang ada disisiku. Jadi aku tak terlalu memperdulikan itu. Sampai aku mendengar sebuah suara yang memecahkan konsentrasiku terhadap jalanan ramai yang aku telah tenggelam dalam keramaian itu.

"Menunggu seseorang?" Suaranya dingin. Tapi kedinginan itu membuat semuanya hangat. Hanya kadang membuat kau akan menutup matamu dan mengizinkan suara itu kembali menghampiri telingamu. Itu suatu kejadian yang langka. Menurutku.

"Em," Aku menoleh dan membalikkan tubuhku cepat. Gugup. Seperti biasa yang kulakukan. Kegugupan yang melandaku selalu datang dalam keadaan yang tidak tepat. "Aku, hanya ingin... ya, menunggu.. dan ehm... dan hanya ini." Dia mulai mendekatiku dan menirukan gayaku sebelumnya. Menunduk. Dan mencari sesuatu disakunya. Itu sebuah mp3 player yang aku tahu. Karena aku melihat kabel yang biasanya menyumbat telinga Luna dimiliki Draco yang sekarang dipegangnya. Aku hanya melihat apa yang ia lakukan sekarang. Dan menyumbatkan salah satunya ditelingaku dan satunya lagi ditelinganya. Sekarang aku bisa mendengar petikan gitar dan lantunan piano yang beriringan dan menarik menurutku. Musik slow. Menghanyutkan.

Angin semilir yang menerpa wajahku melengkapi semuanya. Sampai dia mengingatkanku tentang semua yang terjadi kemarin malam. Malam yang sangat lama bagiku. Dan sekarang dia menelungkupkan tangan kekarnya ketanganku, yang membuatku agak terkejut setelah aku mencoba memejamkan mataku untuk bisa merasakan hal ini dengan baik. Aku menoleh padanya. Dan sekarang ia menarikku untuk menuju kepintu. Mungkin ia bermaksud untuk mengajakku keluar dan 'Hei, bisa kita keluar, ini akan jadi tempat menjijikan jika kita berduaan ditempat ini, lagi pula pesta akan dimulai.' Mungkin itu maksudnya. Jadi..

Perlahan tapi pasti dia menarikku. Lalu aku melepas kabel yang menyumbat telingaku dan telinganya yang membelit telinga kami kurang lebih tiga puluh menit lalu. Lama juga? Dia menggandengku menuruni satu persatu tangga sampai dibagian lampu temaram agak jauh dengan pintu besar.

"Kau sudah pernah berdansa sebelumnya?" tanyanya. Tapi aku hanya menggeleng. Mengartikan semua peertanyaannya belum pernah kulakukan. "Aku akan menunjukkannya padamu" senyuman yang sangat diinginkan. Dan dia menaruh salah satu tangannya dipinggulku. Tapi sebelumnya dia menaruhkan kedua tanganku dipundaknya untuk mengepit. "Kau tak boleh menunduk, tatap aku" Oh.. Tuhan, aku benar-benar ingin sekali menjerit. Dia melenggok kekanan dan kekiri secara bergantian dan kecil, dan aku mengikuti gerakkannya. Tanpa sadar aku membelai pipinya dan tak ada yang kupikirkan saat ini dan sekarang ia menaruh tangannya yang lain bibirku lalu pipiku. Membutirkan helaian kecil disana. Itu yang biasa ayahku lakukan pada ibu. mungkin mereka kira aku tak pernah melihat semuanya. Dan aku tak tahu dari mana Draco belajar semua ini. Lalu senyap, kata-kata yang mengambang diudara tadi menghilang. Semuanya. Aku sedikit terlonjak ketika dia membiarkanku dan menenggelamkan tubuhku didadanya yang bidang. Aku memeluknya. Bukan, dia yang menyuruhku untuk memeluknya. Kembali kemunafik, oke?

Tarian kecil yang kami lakukan. Lampu temaram. Angin yang senyap. Dan apapun yang telah banyak melengkapi kami membuatku mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Dan bangun dari tenggelamnya kehangatan tubuh Draco. Tak ada yang membuatnya tahu bahwa kejadian semacam ini akan terjadi padaku atau padanya. Dan bagaimana dia belajar melalui sesuatu yang tak pernah ia kira atau duga sebelumnya terjadi. Seperti saat ini. Dia mendekatkan wajahnya. Semakin dekat. Semakin dekat. Dekat. Dan aku hanya menutup mataku. Lagi.

Dia menciumkku. Lama. Tapi aku tak berani untuk membalasnya. Aku hanya takut. Aku bahkan tak bisa melakukan hal ini. Jika dia yang tak memulai. Setelah semua terjadi, aku membuka mataku.

"Kenapa kau tak membalasnya?"

"Kupikir aku tak cukup pintar untuk melakukan ini" Hanya itu jawaban yang pantas untuk kukatakan padanya.

"Kenapa kau menutup matamu?"

"Aku tak pandai dalam hal ini"

"Percaya padaku kau gadis pandai, pandai dalam hal apapun" Draco mulai mendekat kembali, lebih mendekapku dalam kehangatannya. Aku bahkan tak sanggup untuk mendapatkan hal itu lagi. bagiku itu tadi cukup. Cukup untuk memberitahuku bahwa ciuman itu terjadi nyata. Aku menunduk. Menghindar dari apa yang ia lakukan lagi padaku.

"Aku hanya tak bisa" Aku menunduk lebih dalam. Draco menarik daguku keatas. Mencoba menenangkanku dalam dekapannya.

"Aku percaya padamu, jadi kau harus percaya padaku, mau bercerita?"

Itu benar-benar melegakan. Aku terlalu takut jika itu terjadi kembali. Bahkan meskipun aku telah larut dalam novel-novel teenlit yang banyak kubaca tentang remaja, aku tak pernah mempraktikkan hal itu. Menurutku itu hanyalah yah... sesuatu yang manis. Jadi apa yang akan kuceritakan?

"Apapun"

Aku mulai agak bingung dengan kata apapun yang Draco katakan. Jadi aku menceritakan tentang... Luna tentunya. Tak ada lagi topik yang cocok untuk kami kecuali gadis tengil itu. Aku menceritakanya tentang bagaimana kami kenal. Bagaimana kita selalu bersama. Bagaimana ia selalu ada setiap aku membutuhkannya. Bagaimana aku sangat menyayanginya seperti saudara kembarku sendiri. Dan itu sangat panjang. Benar-benar panjang. Bahkan Draco hanya tersenyum dan tertawa kecil setiap aku mengatakan hal lucu tentang Luna. Posisi kami tetap sama seperti kurang lebih dua puluh menit lalu, melakukan tarian kecil kekanan dan kekiri.

"..itu hal yang membuatku sangat menyayanginya. Dia gadis atraktif yang pernah aku kenal. Luna teman yang benar-benar.."

"Kau tahu? Mulutmu berbusa jika kau terus berbicara tentangnya tanpa jeda, seperti mesin lokomotif..." Draco tertawa kecil, yang membutaku tak bisa hanya terdiam saja.

"Apakah rasa sayangmu tehadap sahabatmu itu tak lebih besar dari kau menyayangiku?" tanyanya. Itu pertanyaan bodoh yang tak bisa kujawab bukan? Bukan hanya itu saja. Itu akan membuatku mendapatkan tekanan ketika menjawab.

"Mmmh.. ada sesuatu yang membuatku menganggap ini nyata tentang perasaan yang tak seharusnya.."

"Jangan mempersulitku dengan bahasamu"

"Bukan mempersulit, itu hanya,-" Aku mulai gugup "baiklah,terserah kau"

"Apa maksudmu terserah?"

Aku berharap aku mati sekarang. Aku saja tak tahu maksud dari terserah itu. Asal kau tahu, ini sedikit membuatku tertekan. Tapi aku benar-benar merasa sangat terbawah. Sesuatu yang membuatku mendapat yang namanya 'Hai mau bangun dari waktu yang panjang ini, atau bermain dengan gumpalan salju'. Yah.. tidak jauh seperti itu. Aku tahu kau tahu maksudku. Aku membeku.

Tangannya yang memegang pinggulku menariknya lebih dekat lagi. Mau sedekat apa sih? Kami benar-benar sudah dekat tahu! Tubuh kami sudah menyatu. Aku tak berani menatapnya terlalu dalam. Aku hanya mencari cercahan kecil dibalik semua yang sedang ada didepanku. Maksudku ya Draco. Siapa lagi.

"Kau paham 'kan? Semuanya?" Pertanyaannya membuatku bingung kau tahu. Semuanya bercampur aduk. Aku ingin sekali tak memperdulikannya tapi itu hal yang sulit asal kau tahu.

"Dengar Draco, dengar... dengarkan ini... kau harus dengar"

"Iya aku mendengarnya"

Aku bodoh.

"Aku... a-aku.. dengar-" Aku melepaskan tanganku yang tadinya masih melingkar dibagian leher Draco dan melepaskannya perlahan. "kita hanya berdua disini. Sendirian. Hanya lampu pijar temaram ini yang menemani kita, kau tahu ini sulit bagiku, bukannya kau yang kupersulit tapi kau mempersulitku karena kau orang pertama yang.. yang kau tahu maksudku, jadi..." Aku menahan nafasku dan melepaskannya perlahan "Aku bodoh dalam melakukan itu, ini bukan ujian kau tahu"

Aku memalingkan badanku darinya. Dan mengintipnya dari celah samping bahuku. Dan baru kurasakan adanya dingin yang menjalar. Aku mengusap kedua lenganku yang terbuka dengan tangan. Sayangnya itu tak terlalu membantu. Selain dingin yang aku sadari kurasakan, aku juga mulai cemas mengapa laki-laki dibelakangku tidak menjawab atau bersuara. Lalu aku memaksakan diriku untuk menengoknya. Dia hanya menunduk dan memasukkan kedua tangannya disaku celana. Tatapannya dalam dan kebawah. Tapi aku tak bisa memastikan dan menebak tatapannya yang kebawah. Ataupun yang dipikirkannya, atau mungkin menyusun kata yang tepat, atau apalah. Jadi tak ada yang kupikirkan juga dan semuanya terlihat kosong. Benar-benar kosong, jadi..

Aku berbalik, berjalan cepat kearahnya dan saat dia merespon karena mendengar gemeletuk sepatuku dengan lantai, Draco mengangkat wajahnya lagi dan, Aku memegang rahangnya dengan kedua tanganku dan mendekatkan wajahku lalu, menciumnya.

Tak ada yang kupikirkan kau tahu. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukannya. Lama dan aku bisa merasakan bibirnya yang menyentuh bibirku. Lembut. Dan ada sedikit –kau tak perlu tahu seharusnya– rasa yang menyatukannya kembali dan serasa tak dapat dilepaskan. Aku tahu jika dia menginginkannya juga. Kukira ini adalah sesuatu yang hampir yang tak pernah dikatakan tidak pernah diinginkan remaja dalam hal yang menjijikan. Tapi sekarang aku tahu maksudnya. Tangan Draco mulai menelusup kebagian belakang leherku dan menambah tekanannya –wajahku dan wajahnya tentunya–.

Sampai akhirnya kami kehilangan semua napas kami. Selanjutnya napas kami berdua memburu. Tertawa kecil. Itu yang kami lakukan.

"Tidak terlalu buruk, " Kata itu membuat tawaku makin keras. "kau bisa melakukannya, itu benar-benar luar biasa"

"Masa' ?"

Draco memelukku. Lalu aku tenggelam dalam pelukanya. Dia mengecup rambutku, maksudku kepalaku. Dan mengatakan hal yang membuatku mulai mengeratkan pelukanya.

"Hermione?"

"Ya?"

"Maukah kau menjadi milikku seutuhnya, menjadi sesuatu yang kecil tapi berharga"

Aku menutup mataku dan tersenyum sembari dia mengelus rambutku. Tak ada yang bisa kulakukan selain ini bukan. Kuharap ada alunan piano.

Aku membuka mataku dan masih pada posisiku dengan pelukan hangatnya. Aku teringat sesuatu dan melepaskannya perlahan. Ini sebuah pesta. Bukan waktunya untuk kasmaran diwaktu acara sekolah. Mungkin ini tidak dilarang. Kami sudah dewasa –ini salah besar– dan tidak ada yang melarang tentang ini, kecuali kami sendiri yang memerintah atau menjalankannya. Aku juga yakin bahwa dia juga akan mengatakan hal yang sudah kutebak ini dan 'apa yang terjadi' seperti itu. Tapi sama halnya dengan sebuah kanvas tanpa goresan itu akan kosong dan mengira semua ini hanya mimpi indah dalam balutan awan. Jadi aku memulainya dengan sedikit basa-basi mengerikan yang tak sebaik Luna jika membuat sebuah kata pertama.

"Lega bukan?" tanyaku yang basa-basinya memang benar-benar mengerikan.

"Ya, semuanya" Senyumanya tak boleh ketinggalan. Kau harus melihatnya. "Aku tahu ini pesta sebaiknya kita keluar dan melihat acara ini akan berlangsung" Draco diam sejenak. "Pegang tanganku"

"Tidak, kau boleh duluan, aku ingin berteriak, maksudku" Heh.. bodoh "Aku ingin disini dulu" Aku memamerkan senyumku.

"He? Baiklah. Kau tak mau aku temani?"

"Tidak. Aku hanya ingin jalan-jalan dulu."

"Baiklah." Sembari aku menyibakkan rambutku kebelakang dia mendekatiku dan mengecup pipiku. "Temui aku oke?"

Ada goncangan dalam pikiranku. Sesuatu yang benar-benar menggocang tubuhku. Dan aku mengangguk sembari dia berjalan mundur menjauhiku. Hal-hal menarik terjadi hari ini. Sesuatu yang baru dalam hidupku. Pelukan hangat yang kuinginkan, ciuman, dan tarian kecil yang kami lakukan dengan kegembiraan. Aku benar-benar ingin berteriak. Pada Luna tentunya. Aku membayangkan wajah Luna yang biasanya tertawa bahkan ia tak tahu apa yang ia tertawakan bersamaku.

Asal kau tahu. Pada suatu saat ketika aku mendapat buku baru yang sangat kuinginkan dan itu bertepatan dengan Luna yang sedang berdiri dengan cantik dipintu kamarku. Aku membuka bungkus buku itu dan memberikannya padanya lalu aku menuju ketempat tidurku dan berdiri berteriak sambil melompat-lompat tak terkendali. Lalu Luna menaruh bukuku dimeja belajar dan ikut naik ditempat tidur sambil menirukan gayaku. Berteriak dan memegang kedua tanganku dan melompat secara bersamaan. Kukira Luna juga senang atas apa yang kudapat hari ini tapi aku salah. Dia tidak tahu sebabnya mengapa aku atau dia sendiri berjingkat-jingkat keras dikasur sambil memukul bantal satu sama lain. Ketika aku mengatakan "Aku benar-benar senang kau tahu?" dia malah menjawab "Memangnya kita ngapain sih?"

Ngapain?

Luna membuatku tertarik padanya karena hal itu. Benar-benar gila. Tapi itu kata orang. Tapi aku melihatnya itu jenius. Tak ada yang lebih jenius dari pada apa saja hal yang dilakukan Luna. Menjadi fangirlings itu benar-benar menyenangkan.

Dan sekarang aku ingin dia berteriak bersamaku. Saat Draco benar-benar sudah pergi. Aku mulai beraksi. Aku berlari sambil berterik dan melompat-lompat bak seseorang yang kena stres. Jadi apa pendapatmu? Tentunya tentang hal-hal yang menakjubkan ini. Tasku yang sedari tadi masih terpasang dengan baik nan cantik kuputar diatas kepalaku. Bibirnya, bibirku, oh.. Tuhan.

Sepertinya hanya aku yang tahu kali ini. Setelah kegilaan yang aku lakukan aku merapikan semuanya. Mulai dari baju, rambut, tas, dan sepatu yang kucopot tadi. Dan aku kembali seperti semula. Dan mulai berjalan anggun menuju kepintu dan aku keluar dari gedung itu. Langkah demi langkah kudengar menggema disekujur gedung itu. Gemeletuk yang kubuat cukup untuk membuat tikus bangun. Tak kusangka aku, maksudku kami telah melakukannya. Jadi sampai kapan aku mengulang-ulang kata yang membahagiakan itu? Tak ada yang tahu. Itu yang kusuka dan kau tak boleh protes, oke? Akhirnya aku melihat lampu-lampu gemerlap menerangi segala penjuru kegelapan yang timbul disemua bagian. Semuanya telah berubah jadi berwarna. Dan itu menyenangkan. Aku mulai mendengar pembawa acara memulai acara ini. Aku bisa menebak apa yang akan terjadi kali ini. Pembukaan acara, pemegang tertinggi –kuharap aku–, peresmian, dan mulailah dansanya.

Hanya sedikit kata dari seorang kepala sekolah. Aku tahu kepala sekolah tak akan banyak cacap karena dia sudah cukup tua untuk menceritakan atau berpidato panjang lebar mengenai suatu hal. Dan sekarang waktunya pemegang tertinggi dan pembawa acara mempersilahkan wakil kepala sekolah untuk memanggil anak yang akan menyandang gelar pemegang tinggi dan ini saatnya.

Hanya tiga anak yang akan dipanggil dimuali dari nomor terakhir. Nomor tiga dipegang oleh Draco Malfoy. Tak kusangka dia mendapatkannya. Aku tahu dia pandai, tampan dan segalanya.

"Ayo kemarilah nak." Kata wakil kepala sekolah yang membawa beberapa rangkai bunga dan mahkota kecil dari perunggu dengan polesan kecil dan berlian biru ditengahnya. Dan meskipun itu hanya dari perunggu, itu terlihat benar-benar mengesankan dan menakjubkan. Aku tak bisa mengira bahwa tahun ini sedikit berbeda. Dulu hanya seikat bunga dan sebuah tropi kecil yang akan diberikan untuk pemenang pemegang tertinggi. Belum kujelaskan maksud pemegang tertinggi, tapi aku yakin kau sudah tahu maksud pemegang tertinggi. Hanya membuatku gugup semua ini benar saja ini membuatku benaar-benar menggigil. Draco mengambil bunga yang wakil kepala sekolah berikan dan tersenyum dihadapan semuanya. Lalu turun setelah ia berjabat tangan dengan wakil kepala sekolah.

Dan posisi kedua dipegang oleh Hanah Abbot anak pendiam yang sama sekali aku tak tahu kapan terakhir kali dia berbicara padaku. dia salah satu anak yang masuk dalam kelas dua tahun itu, hampir tak bicara sama sekali padaku. Hanah anak pendiam tapi menghanyutkan. Kukira karena semua beranggapan jika dia hanyalah gadis dengan kepribadian ganda yang tak akan melupakan yang namanya pelajaran disekolah dan lan-lain. Tapi aku juga merasa kasihan pada Hanah karena tak ada satupun anak yang mau berteman denganya atau berdekatan dengannya. Karena mereka pikir Hanah adalah 'cewek gila berkepribadian ganda yang aneh dan hidup'dan yang kupikirkan adalah mengapa orang tuanya tak menyekolahkannya pada sekolah khusus, karena biasanya selama satu mingguan Hanah akan beraksi dengan kepribadiannya yang tak mengenal semua anak, bisa dikatakan sedikit sensitif, dan benar-benar menganggu. Tapi mengapa sekolahku membiarkan anak seperti Hanah masuk? Hanah Turun sambil melambaikan tangannya. Dan memberikan bunga itu pada Neville, anak yang mengajak Hanah untuk pergi kepesta dansa tentu. Apa yang sudah Neville lakukan kira-kira? Sampai Hanah mau dengannya, maksudku Neville apa saja yang telah kau lakukan untuk mengubah anak itu?

Dan posisi pertama adalah aku. Iya benar aku. Kau tak percaya.

"Hermione Granger" Kata wakil kepala sekolah dengan lantang. Dan aku mulai maju kedepan untuk menerima ikatan bunga itu dan membiarkan kepala sekolah memasangkan mahkota perunggu itu dikepalaku.

"Terimakasih," Kataku sambil menunduk sedikit.

"Selamat atas pencapaianmu "

"Terimakasih lagi untuk sanjungannya yang hangat pak"

Aku berjabat tangan dengannya dan beberapa anak –yang pasti wartawan sekolah– memotetku dengan senangnya sambil berlenggok mencari posisi yang tepat untuk pengambilan gambar. Dan setelah itu mahkota kecil itu dilepas dari kepalaku dan dikembalikan pada kotak biru yang tadi menyelimutinya. Aku turun sambil menggenggam erat ikatan bunga itu. Sambil mencari-cari dimana Luna berada, tapi aku tak melihat batang hidungnya. Dimana gadis itu?

balasan review :

nong :iya ini udah lanjut, makasih reviewnya..

Farah Zhafirah : kan udah review chap 2, makasih reviewnya, masih ada typo, saya mohon maaf ya...

BlackPearl : nggak papa kok, nambahin biar keliatan reviwnya banyak, wkwkw... review lagi oke..

Guest : makasih, review lagi...

dramione lover : keren ya? haha.. nggak juga.. hehe.. makasih reviwnya..

A/N :wah... I'm Come back. Serasa setahun nggak balik ke ff ini. Saya benar-benar minta maaf atas PHP nya Author aduhai yang kurang ajar ini XD. Percaya? Saya benar-benar kelilipan waktu nulis ff ini, nggak sempet edit, karena takut readernya pada ilang dan ninggalin nih story, jadi maaf jika masih ada typo,.. beri saya masukan atau semangat (se-enggaknya) biar bisa nyelesaiin ff ini. So.. Review please,,, (doa yang positif-positif selalu terpancar jika anda Review, percaya deh sama saya...)