Pilihan Yang Salah
Disclaimer : J.K Rowling
Warning : DLDR, pelampiasan dunia nyata, fiksi yang aneh bin abal, kesamaan cerita bukan unsur yang disengaja, typo(s), jelek, dan sangat tidak mengesankan.
Happy Reading
Gadis dengan rambut keriting pirang yang membuatku menjadi kangen setelah mencium bau rambutnya yang khas dengan bau alpukat. Aku bahkan tak mengerti mengapa kulitnya juga licin seperti kulit apel impor. Bau kulitnya juga seperti sesuatu yang manis tapi tak akan membuatmu eneg. Tepatnya jeruk mandarin. Jika dibandingkan dengan-ku kau akan kaget. Kulitku seperti kulit apel yang sudah sangat lama disimpan dikulkas. Tapi setelah Luna membuatku terlihat lebih baik dengan coklat diseluruh tubuhku, dan itu tak kalah bagus dengan kulit Luna sekarang. Dibalik semua kepeduliannya padaku yang benar-benar membuatku salut, dia sungguh-sungguh teman yang sangat mepesona. Dia bahkan merelakan segalanya, maksudku, dia menyukai Draco –juga– tapi dia membiarkanku dekat dengannya. Dia tak merasa cemburu atau apa padaku. Aku yakin dia juga senang. Kelihatannya kok.
Dibawah pohon kecil yang rindang dengan lampu kerlap-kerlip, aku bisa melihat semuanya. Bangku yang kududuki ini benar-benar nyaman. Aku tak mengerti mengapa aku merasakan ini. tapi duduk dibangku kayu berpelitur dengan ukiran kecil dipojokan ujungnya ini membuatku layaknya duduk disofa ternyaman didunia. Aku melihat semuanya, anak-anak yang mulai menyantap beberapa kue kecil berhiaskan kupu-kupu terbuat dari krim yang ada diatas kue itu. Ada juga yang mulai berdansa kecil dengan iringan musik yang melo. Terbuat dari susunan alat musik harpa, gitar dan piano. Benar-benar sangat romantis. Dan aku mulai teringat pada dewi Aphrodite. Sang dewi cinta. Dan yang kulakukan hanya itu. Mengamati mereka dan tersenyum sendiri.
Aku teringat tiba-tiba. Melihat mereka sedang berdansa aku teringat sirambut platina yang mengajakku dan memberikan beberapa praktek cara berdansa dengan benar, dan aku tak mengerti mengapa dia tak terlalu penting dalam diriku saat ini. Itu kata hatiku. Dan aku mengerti bahwa dia mengatakan begitu. Tapi kenapa?
Tak begitu penting. Maksudnya tak begitu penting itu adalah dia tak terlalu membebani diriku untuk selalu memikirkannya. Rasanya tak seperti ketika aku melihat aktor tampan yang kugilai saat aku masih menginjak kelas enam SD. Tentu saja saat itu. Tapi itu hanyalah kegilaan. Bukan rasa suka yang biasa dikatakan hatiku. Aku menunduk melihat bagaimana cara dia memandangku. Bukan melihat maksudku, mengingatnya kembali. Dia sepertinya melihat dengan caraku melihatnya. Tak terlalu penting. Tapi apa yang sudah kami lakukan terlalu banyak. Dan tak ada yang salah pikirku. Itu hal yang biasa. Tapi itu tidak biasa dalam hidupku. Mabuk membakar wajahku. Dan sekarang aku berjalan entah kemana sampai aku benar-benar menemukan jawabannya. Mungkin aku akan menemui Draco. Dan mencoba menanyakannya seperti 'bagaimana kita dansa' ya... tidak lebih seperti itu. Ide itu tak cukup buruk.
Sesutu menghentikanku. Ada suara yang entah dari mana datang menjalur ditelingaku. Aku mendengarnya dengan baik. Karena telingaku masih benar-benar normal. Aku menoleh kebelakang dan ternyata itu Ron.
"Hei... selamat," Ron terlihat ingin mengulurkan tangannya. Dan entah kenapa dia menariknya kembali dan mencoba menggosok kepala bagian belakangnya.
"Untuk?" bahkan aku tak mengerti kenapa ia berujar begitu.
"Kau menang, kau terpandai, kau... sempur-r-r-na." Ron tersenyum sambil mengatakan itu.
Sempur-r-r-na?
"Oh.. terimakasih banyak Ron." Aku mengembalikan senyumnya. Dan entah mengapa aku mulai bergetar.
"Mau duduk dulu, kuambilkan minuman" dia menawarkan. Dan aku meng-iyakannya.
Aku duduk disamping kanan Dapnhee Greengrass. Gadis yang tatapannya menyeramkan dan mendekati menyedihkan. Dengan kebiasaan memasukkan beberapa ujung rambut kecil disamping telinganya –karena rambutnya pendek– kedalam mulutnya sehingga setiap ujung rambut telinganya basah. Dan itu menjijikan. Sebenarnya dia cantik. Percaya deh. Tapi kebiasaannya itu membuatnya tak lagi cantik. Asal kau tahu dia tak hanya membasahinya tapi memotongnya dengan giginya sendiri. Terkadang. Dan kau juga bisa melihat bagian rambut yang ia makan –ehem– sedikit lebih pendek lagi. Pendek panjang gitu. Baiklah janganlah kau nyengir sendiri. Itu tak baik. Aku akan berhenti membicarakannya.
Setelah dia menatapku dengan sinis, aku tak melihat caranya berperilaku lagi. aku fokus pada Ron yang berjalan kearahku membawa dua cangkir minuman. Aku baru ingat bahwa ia komplotan Draco. Bersama gadis Parkinson yang sok-nya aduh banget. Dapnhee pernah mem-bully-ku dikelas. Dan itu menyedihkan.
"Oh.. maaf Dapnhee, aku hanya membawa dua, mungkin kau bisa mengambilnya sendiri" Ron duduk disebelah kiriku, kiri yang lain maksudku. Dan menawarkannya pada gadis disebelahku. Dan Dapnhee hanya menggigit kembali rambutnya dan mengatakan pada Ron 'Terimakasih banyak, tak perlu, itu membuat kerongkonganku tercekat' lalu pergi dengan mengibaskan kelepai rambutnya. Kuakui dia cukup sopan dibanding Pansy.
"Dia sedikit..." Ron diam sejenak dan mengangkat kedua alisnya "kau tahu maksudku" lalu memberikan minumannya padaku. Aku mengerti apa maksudnya. Aku tahu Dapnhee tak lebih aneh dari Luna. Tapi dia lebih gila dari Luna dan lebih menjijikan. Bayangkan mengaduk es-krimnya dengan sambal ikan. Dan aku berani sumpah. Dia menghabiskannya.
"Yah.. ehem, kurang.. maksudku aku mengerti maksudmu" jawabku terbata-bata. Aku tak mengerti mengapa aku jadi gugup begini.
".. mau bercerita?" aku juga tak tahu bagaimana pertanyaannya sama dengan yang Draco utarakan padaku.
Draco?
Tidak. Dia tak akan keberatan aku bersama Ron. Milikku. Milikku yang berharga. Kukira Ron begitu.
Entah bagaimana dia membuatku merasa bahwa dia yang menceritakan semuanya. Cerita panjang lebarnya yang menarik. Tapi nyatanya dia tak melakukan apapun kecuali memutar-mutar gelasnya. Setidaknya aku pernah berbicara panjang lebar dengannya. Hening yang melanda kami berdua terpecah ketika beberapa anak mulai menari dan berdansa bersama pasangannya. Kaidah tentang pasangan, sebenarnya tak terlalu penting. Hanya berdansa, itu tidaklah wajib siapa yang mengajakmu pertama untuk pergi bersama. Tapi jika kalian perempuan sepertiku kau akan merasa malu dan tik baik jika meninggalkan seorang yang baik hati mau mengajakmu.
Didalam keheningan yang kami rasakan ini, aku hanya menunduk sambil meneguk minumanku perlahan-lahan. Dan kupikir tak ada topik yang menarik untuk kubicarakan dengan Ron. Meskipun aku masih menginginkan ia bersamaku disini. Disampingku. Karena suara kecilku memecahkan keheningna kami berdua..
"Aku harus pergi dulu Ron, mungkin sesorang sedang menungguku." Kataku. Lalu aku menyesal telah mengatakannya.
"Oh.. tentu, aku juga akan pergi kurasa." Dia senyum saat ini.
Lalu aku berdiri. Tersenyum padanya dan meninggalkannya. Aku berjalan menyusuri jalan yang entah memambawaku untuk menggerakkan kedua kakiku untuk menemui Draco. Tapi aku tak tahu kemana kakiku membawaku. Setidaknya aku berjalan dengan santai. Jika aku bisa kembali kesana. Aku masih bisa melihatnya dari kejauhan duduk sendiri sambil meneguk cairan terakhir yang ada didalam gelasnya. Dan menaruhnya dimana aku duduk tadi. Aku mengelus rambutku. Dari ujung sampai pangkal menggunakan jari-jariku untuk menyisirnya. Dan menyelipkan beberapa juntaian kecilnya terselip oleh tanganku dibelakang telinga.
Aku masih berjalan. Berjalan menyusuri jalan yang berumput bak makanan roti lembut seperti puding yang disukai Luna. Sepertinya rumput ini sangat lembut untuk disentuh. Seperti karpet.
Aku menemukan dia. Duduk bersama dengan geng-nya yang sangat tak kuinginkan. Aku mulai mendekatinya. Disana ada Greengrass bersaudara, Bulstrode, dua makhluk yang selalu menguntitinya, Nott, Harry –yang entah mengapa dia ada disana– bersama dengan Ginny sedang berdansa, dan beberapa teman sekelasku yang tak perlu kusebutkan namanya. Aku menghampiri Draco sedang berbincang dengan Milicent yang entah mengapa terlihat tidak peduli padaku, atau mungkin dia tak tahu ini aku. Milicent, gadis berwajah menakutkan bagiku, tapi disisi lain dia nampak cantik dengan tubuh semampoi bak seorang model. Tinggi dan besar. Hal yang membuatnya nampak menakutkan lagi adalah buah dadanya yang kian hari mulai membesar kali ini menolak untuk ditempatnya, bajunya yang kurasa tak cukup muat atau memang dia sendiri yang sengaja menampakkannya.
"Hai..." sapaku pada Draco.
"Hey... datang untuk melihat pertunjukan?" Jawabnya yang membuatku tidak tahu apa maksudnya 'pertunjukan'. Dia berdiri menghampiriku, semua orang terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, dan tidak memperdulikan kami lagi.
"Hah?" Aku melongo tidak mengerti. "maksudmu?"
"Bukan apa-apa malaikatku" Dia tersenyum. Malikatku? Itu terdengar geli sekali. "well... emh- ada ide?"
Aku hanya menggeleng untuk mengartikan bahwa sebenarnya aku tidak mengerti. Lalu Draco mulai lebih dekat dengaku. Dia menyibakkan rambutku yang kedepan untuk menyelipkannya kebelakang telingku dan sepertinya mau menciumku. Tapi aku mengelak. Dalam benakku hanya ada 'dasar babi mesum! Ini wilayah terbuka, buka otakmu!'
"Mungkin tidak disini," Kataku. Dan itu tidak berfungsi untuknya. Dia memegang pinggulku dengan kedua tanganya dan menempelkan dahinya kedahiku. Mulai deh.
"Mmh... kau tahu ada-" aku belum menyelesaikan kata-kataku.
"Tidak. Aku tidak akan tahu."
"Tapi aku belum menyelesaikan kalimatku. Baiklah jika kau tidak mau tahu."
"Aku tidak mau tahu apa yang kau bicarakan. Aku hanya ingin kau tidak merusak momen ini"
Aku terdiam sambil melingkarkan kedua tanganku kelehernya. Kurasa aku tahu betul bahwa dia babi mesum. Semenit kemudian aku mencoba lebih jauh darinya. Lebih merunduk dan tak menampakkan wajahku padanya. Mungkin ini bukan waktu yang baik untuk mengatakan padanya bahwa aku bosan dengan segala hal yang sekarang kami lakukan sementara dia sekarang sedang asyik memelukku dan menjaga kehangatan yang kami berikan satu sama lain. Entah apa yang ia pikirkan aku tidak tahu, tapi aku tak berani taruhan bahwa dia sedang bosan juga. Lucu juga mengingat apa yang kami lakukan beberapa jam lalu. Aku melepaskan kedua tanganku dari lehernya. Benar sekali, aku tak bisa menahan rasa gerah dan mood yang tiba-tiba turun ini. Aku merengkuh dan mengerang selagi aku menarik tanganku kembali.
"Sepertinya, ada yang salah?" Tanyanya lembut padaku. Matanya berbinar memancarkan cahaya abu-abunya yang terkena silauan cahaya lampu kelap-kelip.
"Tidak, mungkin seharusnya aku-"
"Pergi"
Aku tidak tahu maksud dengan kata pergi-nya. Tapi itu benar-benar menyayat hatiku. Percayalah bahwa aku benar-benar mengembalikan rasa benci yang telah kupendam sekian lama. Dan aku berjanji tak akan membukannya kembali. Tapi sekarang terjadi.
"Maaf?" Kataku semakin mengkilat-kilatkan mataku.
"Ya.. sebaiknya kau pergi." Katanya sinis.
Aku terdiam sambil memperlihatkan wajahku yang bingung. Pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah muncul sebelumnaya terpikir olehku. Kukira ini hanyalah angan-anganku saja. Tapi aku salah.
Draco membalikkan badanya menuju sebuah kursi panjang yang didudukinya dengan Milicent Bulstrode tadi, lalu duduk dengan menumpukkan kaki kirinya dipaha kaki kanannya. Melentangkan kedua tangannya dan meletakkannya diujung atas kursi sambil tersenyum padaku. Tapi senyumnya tak seperti yang ia berikan padaku hari-hari terakhir ini. Senyum seringaian yang dulunya sering ia berikan kembali.
"Maaf? Pergi? Maksudmu? Aku belum menyelesaikan kalimatku?" kataku dengan mata berkaca-kaca.
"Pergi. Hilang. Enyah. Tamat. Jadi debu. Paham?"
"Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu" Aku hampir menangis.
"Aku yakin kau mengerti."
"Tapi aku benar-benar tidak mengerti!"
Draco menghembuskan nafasnya yang berat. Dia berdiri menghampiriku sekarang. Menjajariku yang sebenarnya dia tahu bahwa aku mulai menangis. Tapi aku cepat-cepat menghapusnya lalu menahannya untuk yidak keluar. Dia lebih merendah dan menjajarkan mulutnya ketelingaku. Mungkin sekitar lima centi saja. Dan suara bisikan mulai kudengar.
"Pergi"
"Tidak. Kau tidak bisa meninggalkanku!" teriakku. "Kau tidak bisa melakukannya. Kau tak bisa mengatakan itu padaku!" Aku berteriak kembali. Bersungut-sungut sambil menunjuk-nunjuk kemukannya.
"Ya, aku bisa. Dan aku sudah melakukannya" jawabnya sambil mendekatkan wajahnya padaku, seperti yang ia lakukan pada saat kami pertama bertemu. Dia berbalik menuju kekursi panjang. "kau pikir aku mau berdansa denganmu? Kau tak ingat apa yang telah kau lakukan padaku? Yang telah kau katakan?" Draco terdiam sejenak. Memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. " Brengsek tak tahu diri, benarkan?" Draco mulai mengatakannya dengan caraku dulu mengatakan ini padanya. "Ya... itu aku, sekarang semua telah impas, kau suka diperlakukan seperti itu? Sekarang kau boleh... pergi." Kata 'pergi' yang terucap dari mulutnya lebih lirih. Tapi aku yakin semua orang dapat mendengarkannya. Aku masih bisa menahan emosiku agar tak meluapkan semuanya. Dan tiba-tiba ada sebuah suara yang masuk dalam percakapan kami.
"Apa yang telah terjadi. Kau tidak seharusnya melakukan itu." Suara Harry mendekatiku.
"Jadi, kau mau apa Potter. Bukan urusanmu."
"Tapi kau tak boleh melkukannya. Hermione seorang gadis" Kata Harry lantang.
Lalu suara seorang gadis terdengar. "Potter, jauhi pacarku. Menjauhlah atauayahku ayahku akan mengeluarkanmu dari sekolah." Itu suara Pansy Parkinson. Gadis ini membuatku jijik melihatnya. Bagaimana Draco lebih memilihnya diabnding aku? "dan apa yang kau lakukan disini Granger?" Tanyanya sinis padaku. dari tampilannya saja aku sudah merasa jijik. Ia memakai mini dress berwarna hitam dengan hiasan mutiara dilehernya. Rambutnya yang seperti Dora the Exploler licin dan hitam juga. Aku bisa melihat bahwa pakaian yang ia kenakan tidak nyaman sama sekali. Dari mulai atas sampai bawah. Dan juga keringat berlebihan yang ia produksi yang menyebabkan beberapa rambutnya melekat pada bagian lehernya. Tapi cukup cantik. Hanya cukup.
"Hah? Kau tanya padaku kenapa aku ada disini?" semburku padanya. "tanya saja sendiri pada cowokmu"
"Draco? Ada apa, apa maksudku cewek jalang ini?" Aku tak bisa menahannya lagi. Setelah dia mengataiku 'jalang', aku tak akan mengatakannya dia cantik. Lalu aku menendang bagian betisnya yang mulus dengan alas kakiku dan aku yakin tiu akan merah tak lama lagi. Pansy mengaduh. Lalu mendorongku kebelakang.
"Hanya main-main sayang, jangan dengarkan dia. Meskipun dia cantik, dia bodoh" kata Draco sambil mengulurkan tangannya pada Pansy. Harry mencoba mengalihkan acuanku. Memeluk kedua bahuku dan mencoab membawaku kebelakan. Tapi aku mengelak.
"Cantik, iya. Bodoh, Tidak." Kataku mulai berteriak kembali. Menghentakkan kaki-kakiku.
Semua orang memandangku. Dan aku bisa merasakan semua masalah telah mengalir dalam jiwaku. Suara gadis lain mulai terdengar. "Oh.. Draco, begitukah kau memperlakukannya, itu kurang memuaskan, dan Pansy cekik saja gadis itu" kata Daphnee sambil menggigit ujung-ujung rambutnya. "Dan kau Hermione Jane Jahe, gorok saja leher Draco... atau potong nadi gadis yang disampingnya itu.. perang yang menarik," Daphnee mulai tertawa dan Nott –pasangan dansanya– mulai nyengir sendiri.
"Kau mendukung siapa Greengrass!" Pansy menjerit. Tapi Daphnee hanya tertawa terbahak-bahak menarik Nott untuk menjauhi perang kami. Kedua pasangan yang gila. Mereka mulai mencium satu sama lain sambil berjalan. Iyuh..
"Lanjutkan perang kalian sampai sekarat. Dan kuucapkan selamat untuk kalian." Teriak Daphnee dari kejauhan. Orang-orang mulai pergi meninggalkanku dengan geng Draco. Mungkin seharusnya aku menerima tawaran Harry tadi.
Aku memandangi Draco bersama Pansy yang sedang bergandengan tangan. Itu membuatku semakin marah. Apa yang harus aku katakan? Haruskah..
"Dia bohong padamu Pansy" kataku padanya.
"Apa? Bohong apa?" tanyanya mulai gugup.
"Selain mengajakmu kepesta, dia mengajak gadis lain"
"Tidak dia berbohong!" Draco meyakinkan Pansy.
Aku memutar bola mataku. "Dia mengajakku."
"Draco tidak mungkin mau dengan gadis sepertimu" Keringatnya mulai berproduksi lagi.
"Draco telah merusak puncak Everest-ku dua kali!" kataku padanya.
"Puncak apa? Draco.. " dia berbalik memandang Draco. "kau tak pernah melakukannya padaku, sekalipun"
Aku tahu dia cukup mengerti apa yang aku maksud tapi, "Dia bohong, cewek itu bohong kau satu-satunya yang kumiliki" Draco mendekatkan Pansy untuk memeluknya.
"Kau dengar itu cewek jalang!?" kata Pansy sambil memeluk Draco.
"Hah, kau bukan hanya jelek dan menjijikan tapi kau juga bodoh." Kataku padanya dan menekankan suku kata 'bodoh' padanya. "Dia MENCIUMKU! Yang pertama, saat kami berdua kencan, dan yang kedua beberapa jam yang lalu.. kau dengar dia yang membohongimu"
"Draco? Kau kencan dengan si-Jahe? Teganya kau, tak kusangka akan seperti ini." Pansy mulai terisak. Melepaskan pelukanya dengan Draco. "Kau menciumnya, dua kali.. dua kali" ia mulai menangis tersendu-sendu.. dan Draco hanya mengatakan 'Tidak, jangan, bohong, dia bohong, kembali padaku sayang, jangan, bohong' dan Pansy akhirnya meninggalkan kami berhadapan sekitar lima meter jauhnya. "Dua kali...dua kali... cium si-Jahe dua kali, aku tak pernah, dua kali.. si-Jahe.." sambil berlari menuju entah kemana, aku tak tahu.
Sekarang apa? Tidak ada yang membantuku untuk ini. Dan Draco sekarang bersungut-sungut bagaimana cara membunuhku dengan benar. Aku yakin dari tatapannya saja bahwa dia sudah marah besar, tapi aku tidak takut padanya. Semuanya, dia yang merusaknya. Mungkin kau akan melakukan hal yang sama sepertiku jika kau tahu laki-laki yang selama ini peduli padamu ternyata hanyalah akting belaka. Dia ingin balas dendam. Aku tidak cukup pintar untuk mengetahui rencana awal si-babi mesum ini. tapi sekrang aku tahu maksud dari balas dendamnya. Draco membuatku agar aku jatuh hati padanya dan tak akan melepaskannya lalu dia akan meninggalkanku dan meninggalkan luka dalam yang tak akan sembuh selamanya. Karena dia pikir aku akan menyimpan baik-baik cintanya. Palsu. Semuanya palsu.
"Kau puas?" gelegarnya. Teman-teman Draco hanya duduk memandangiku, mata mereka tepat mengarah padaku. Aku hanya bisa diam ditempatku sambil kembali membuka mataku lebar-lebar. "Pansy meninggalkanku, dia marah padaku, dan semua itu karena kau!"
"Hah... kau pikir ini semua salahku?" kataku sambil mengangkat ujung alis kiriku. "Kau yang memulainya, aku tak akan begitu jika bukan kau yang memulai."
"Kau yang memulainya Ganger! Semuanya kau yang memulai"
"Bisa-bisanya kau menyalahkanku"
Kami beradu mulut entah apa yang kupikirkan, kata-katanya lebih menyayat kurasa. Aku melontarkan kata-kata yang pastinya ilmiah untuk dipikirkan kembali, tapi semuanya membuatku ingin menangis, meskipun aku masih bisa menahannya.
"Kau bodoh, kau tidak berguna, kau merusak semuanya, pergi kau, aku tak membutuhkanmu lagi." Draco mengatakannya seolah tak ada halangan sama sekali, suaranya terdengar lembut saat ku dengar. Tapi kau akan tahu bagaimana menyakitkannya kata-kata yang keluar dari mulutnya meskipun itu lirih.
"Aku benar-benar tak habis pikir olehmu, bisa-bisanya kau berbuat seperti ini padaku, apa sih maksudmu?" mataku mulai berkaca-kaca tapi aku masih bisa menahannya dengan baik. Aku kolaps.
Tidak ada waktu untuk mengulur semuanya. Sudah tidak ada harapan lagi. Pilihanku memang salah. Tidak akan adan yang benar-benar membuatku bahagia. 'Cowok' didepanku yang sekarang mencoba mengusirku dan melampiaskan semua amarahnya yang terdahulu sekarang ia lampiaskan ternyanya membuatku cukup menaikan beberapa mili amarah emosiku yang membara. Seharusnya aku tahu bahwa dia ini adalah orang yang licik. Aku berharap bisa menarik semua kata-kataku yang dulu kuanggap dia punya segalanya. Dan yang membuatku kaget setenagh mati adalah, dia memandang lekat aku dan..
"Kejutan.."
Bersambung
A/N : saya kembali, maaf update lama sekali. Saya harap reader-nya enggak ngamuk soalnya ada urusan yang gak bisa ditinggalin di duta. Tapi sekali lagi saya ingatkan, minta kritik dan sarannya melalui kotak review dibawah ya.. jangan sungkan-sungkan mereview saya sangat senang direiew kok.. So review please...
