Pilihan Yang Salah
Disclaimer : J.K Rowling
Warning : DLDR, pelampiasan dunia nyata, fiksi yang aneh bin abal, kesamaan cerita bukan unsur yang disengaja, typo(s), jelek, dan sangat tidak mengesankan.
Happy Reading
"Kejutan!"
Aku semakin tak mengerti apa maksud 'cowok' ini. mungkin aku sudah menaggapnya gila. Tak berarti bahwa aku masih menganggapnya menaruh hati padanya. Cintaku padanya sudah kelam. Dan tak ada yang bisa tahu tentang itu. Termasuk dirimu.
"Maaf?" Kataku tak mengerti.
"Kejutan untukmu, agar kau tahu bahwa kejutan yang ku berikan padamu lebih berarti untukmu," Draco membuatku semakin tak mengerti.
"Apa?" Aku kolaps.
"Karena bungkusan kado yang menyakitkan kau berikan padaku lebih dulu, dan sekarang waktunya aku yang memberikannya padamu, gadis konyol tak berguna!"
Entah mengapa aku menjadi tak dapat mengartikan maksud dari emosi dalam diriku. Aku hanya bisa membuatnya kelihatan tidak nyata lagi. Tapi mengertilah bahwa ini benar-benar nyata. "Oh..jadi setelah yang kau perbuat selama ini, inikah balasanmu, aku tahu aku memang bodoh mempercayai orang sepertimu"
"Sekarang apa maumu, kau tidak akan bisa berpaling dariku, benar, dan sekarang, kita buktikan siapa yang lebih tersakiti"
Aku tahu maksud Draco sebenarnya. Dia membuatku jatuh dalam pelukannya dan sekrang waktunya dia untuk melepaskanku. Tapi aku tak akan bisa lepas darinya. Inilah rencana yang ia buat selama ini. Agar aku tak akan pernah melupakannya karena aku masih mencintainya, tapi dialah orang yang sebenarnya menyakitiku. Luka dan memar yang tak tampak tak mungkin akan sembuh dengan sendirinya tanpa bantuan apapun. Jadi kuputuskan untuk menghentikan emosi yang mengalir dalam diriku.
"Baiklah jika ini maumu, sekrang kau puas! Hah.. terimakasih atas segalanya, dan semua kisah kasmaranmu padaku!" Aku berteriak dihadapannya. "Dan percayalah kau punya kencan dengan ludahku."
Aku mengambil penutup kepala dari tasku lalu memberikannya pada Draco dan kejutannya adalah aku meludahi tangan Draco terlebih dahulu. Itu membaik untuk perasaanku.
"Ffjjuh" Lalu meninggalkannya sambil berlari. Aku masih mendengar teriakannya dengan baik. "Dasar gadis jalang!" Teriaknya padaku.
"Kau yang brengsek, dasar brengsek!" Sambil berlari aku berteriak, tak ada kata yang pantas terucap dari mulutku selain itu. Aku tahu tak baik meludahi seseorang, kata ibuku, itu perbuatan jijik yang keji dan tak bisa dimaafkan. Tapi aku hanya meludahi tangannya, yang sebenarnya aku ingin sekali meludah di 'wajahnya'
"Terus terang kukatakan padamu, gadis konyol murahan, kau tak bisa hanya memalingkan dirimu sendiri dan berbohong, aku tahu kau akan kembali, dan itu semua hanya ada dalam mimpimu belaka, yang bahkan tak akan bisa kau gapai, kau harus tahu itu!" Hatiku mencelos saat dia berkata seperti itu dengan nada yang amat menyakitkan. Dan au tidak tahu tiba-tiba diriku yang lain merespon dan mengatakan.
"Terus terang juga, ku katakan padamu kau bangsat. Kau tidak bisa membuat aku terkesan paham" Aku berteriak didepannya. "aku tidak akan kembali pada cowok gila sepertimu, kau bukan siapa-siapa, kau yang barang tidak berguna, kau tak pernah ada, aku membencimu, dan aku berharap kau Mati! Mati! Mati!, kau dengar? MATI!" teriakku. Sebenarnya dalam diriku aku tak sanggup mengatakan hal itu padanya, karena dia yang membuatku binbang pertama kali. aku tak tahu apa yang kurasakan padanya, tapi banyak orang mengatakan, tak ada pilihan. Aku diantara suka dan tidak suka.
Aku berjalan dengan derapan yang sangat cepat, aku menagis dan tak dapat kutahan lebih lama lagi. Sekarang aku tidak tahu mau kemana. Yang jelas aku pergi menuju ke alun-alun kota. Tidak banyak yang kuketahui tentang rencana jahat Draco. Meski aku beranggapan masih membuatnya marah, dan pastinya sekarang dia sedang marah. Tak ada lagi yang dapat mendengar semua ocehanku. Diaman Luna? Aku tak melihat dia sama sekali.
Aku mengusap air mataku yang keluar, mataku jadi merah, kurasa. Dan lagi pipiku jadi panas ketika aku mengusap beberapa kali untuk itu semua. Tak ada lagi hasrat yang dapat kupungkiri untuk menjadi seorang kekasih Malfoy. Aku terisak untuk beberapa kalinya. Dan aku tak bisa menahannya. Aku mencopot sepatuku dan menentengnya, aku bertelanjang kaki dan rasa dingin rumput taman kota terasa dikakiku. Aku duduk dibangku yang telah tersedia. Dengan lampu bohlam besar berwarna kuning disampingku. Sepertinya tak ada yang bisa kulakukan lagi, aku hanya akan menelfon ayah untuk menjemputku dan menangis terisak. Setidaknya tak akan ada yang peduli disini. Aku akan mennda dulu untuk menelfon ayah. Aku ingin mengahbiskan waktuku disini terlebih dahulu.
Aku menenggelamkan wajahku dikedua tanganku. Sambil menunduk menahan keras air ini keluar. Aku hanya bisa berbicara pada diriku sendiri. Kelemahan tentang diriku. Kenapa aku mempercayainnya? Kenapa aku mencintainya? Kenapa aku memilih pilihan yang salah? Aku mencoba mengalihkan perhatian hatiku. Dan dalam hatiku masih tertulis dengan baik bahwa kau mencintai seorang 'Ron'. Ya.. aku mencintai Ron. Dialah orangnya. Lalu semuanya berlalu terlalu cepat.
"Hei.. kau baik saja..?" suaranya terdengar sangat peduli.
"Ron!" Aku berdiri dan memeluknya rapat-rapat. Tak ada yang kupikirkan. Yang ada dalam otakku untuk lima menit lalu hanyalah laki-laki ini. Dan sekarang ia berada dihadapanku. Kuharap ini buakanlah mimpi belaka. Aku benar.
"Kau nyata?" Tanyaku pada Ron, sambil memegang kedua pipinya.
"Hei, yang benar saja, duduklah dulu, aku tahu kau terguncang" Katanya perlahan.
Aku duduk dan tak ada yang kulakuakan. Aku tak sadar aku memeluk Ron saat ini. tapi aku sudah duduk dibangku. Sekarang tak ada yang tahu kami berdua disini. Tak ada satupun yang tahu keberadaan kami. Bagaimana aku bisa seyakin itu? Entahlah aku hanya tahu.
Beberapa detik kemudian, Ron memberiku seulas senyum dan menawariku 'Mau cokelat panas' dan aku hanya mengangguk setuju.
"Oke, aku akan membelinya diujung sana, tunggu disini"
Aku menganguk malu padanya. Dia berjalan berderap kearah ujung jalan, berhenti didepan kedai toko coklat kecil yang ada disebrang jalan. Lalu aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Karena jelas-jelas dia sudah masuh kedalam kedai itu. Parahnya aku tak bisa menahan tangisku lagi tentang cowok brengsek yang menyayat hatiku tadi. Hambatan dan ketakutan yang selama ini membuatku benar-benar takut keluar. Sampai pada akhirnya aku hanya duduk sendiri dengan sepatu yang telah terlepas dari kakiku. Terasa dingin juga. Pikiranku hanya terpadu dalam relungan dua laki-laki yang ada dikepalaku. Draco dan Ron.
Ketika aku melihatnya aku membandingkan dua sisi mereka berdua. Bagaimana dulu Draco sangat peduli padaku, dan Ron tidak. Betapa Draco menganggapku ada dan Ron tidak. Bagaimana Draco menghabiskan waktunya bersamaku waktu itu dan Ron tidak. tapi sekarang kenyataanya berbeda. Siapa yang seharusnya kupilih? Apa yang harus kukatakan? Apakah aku bisa melanjutkan ini semua? Siapa yang harus kusalahkan? Apa yang sebenarnya terjadi dalam kehendak yang kumau? Pertanyaan yang tak akan terjawab.
Ketika Ron datang membawakan dua buah gelas berisi cokelat panas menurutku, karena kepulan asap-nya masih terlihat remang-remang diantara lampu jalan kuning yang menghiasi pinggiran taman. Duduk dikursi ini membuatku dingin, apalagi aku dalam keadaan telanjang kaki. Ditambah dengan embun baru dari rumput taman yang hijau. Ron datang mendekatiku, memberikan salah satu gelas berisi cokalt panas tadi padaku. Aku meneguknya dan kurasakan gemelegar panas dalam tenggorokanku karena panasnya minuman ini. Aku berpaling kesamping untuk melihatnya menuguk minuman ini juga. Dan aku tahu aku suka pada pesona yang diberikan laki-laki ini, apapun itu. Dia memberiku senyuman balik dan mulai berbicara, dan sayangnya aku tak memperhatikannya bicara.
"Maaf?" kataku canggung.
"Aku tahu kejadian yang tak kau inginkan itu, dengannya, maaf mengingatkanmu tentang itu, tapi aku benar-benar minta maaf soal itu" kata-kata Ron membuatku ingin menangis lagi, tapi lalu aku mencoba menahannya lagi. Mengingat aku tak begitu mengharapkan sibrengsek itu lagi.
"Tak apa, kau tak perlu minta maaf. Sepertinya memang aku yang salah" Aku sangat menyesal telah menyalahkan diriku sendiri. Jelas-jelas Drao yang salah.
"Mmh" Ron berdehem dan mengangguk." Tak sepantasnya seorang laki-laki melakukan itu pada seorang gadis, kau tahu, itu tidak ilmiah"
"Aku tahu" kataku."Sepertinya aku memang bodoh"
"Tidak" katanya cepat. Lalu aku menoleh padanya. Dia juga menoleh padaku.
Lalu tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut kami. Diam sementara dingin dan angin bebarengan bersautan melengkapi malam ini. Dan kemuadian kudengar gemuruh kecil dilangit. Kami berdua mendongak. Sementara langit malam semakin gelap gulita karena selimut awan hitam aku mendengar sepatah kata keluar dari mulutnya.
"Hujan?"
"Mungkin hanya gerimis" kataku menjawab.
"Cokelatmu"
Lalu aku meminumnya untuk kedua kali. Aku tahu tak baik larut dalam kesedihan, jadi aku mencoba bangun lagi dan melupakan segalanya.
"Aku suka bau hujan," kataku. "dan suaranya"
"Tepatnya bau panasnya tanah terkena air, benarkan?"
"Em.." Aku mengangguk.
"Aku pergi dengan Luna, ngomong-ngomong." Kata Ron, memuatku tercengang.
"Luna? Bagaimana bisa.. kau.."
"Tapi dia tak bisa datang"
Tak terpikir juga olehku mengapa Luna tak nampak sejak pesta mulai. Dan sekarang kata Ron dia tak datang.
"Luna? Dimana dia?" tanyaku
"Dia memberiku pesan singkat, katanya dia tak bisa datang karena sakit. Dan apa boleh buat, aku sendiri" Jelasnya. "Dia juga memberimu kabar bukan?"
Aku membuka tasku dan mengeluarkan ponselku. Layarnya terang dan tertuliskan dua pesan tak terbaca dan tiga panggilan tak terjawab. Dan nama telah memberiku pesan dan panggilannya adalah 'Loony' . Aku sadar aku hanya peduli pada diriku sendiri. Aku tak peduli pada sahabatku sendiri. Sekrang pasti dia hanya bisa berbaring dikamarnya dan dipaksa makan makanan yang tak ia suka dan meminum obatnya. Aku benar-benar menyesal.
Aku membuak pesan yang ia kirimkan padaku. Kemudian aku membacanya.
Hermione, kuharap aku bisa disampingmu sekarang, tapi nyatanya tidak. Aku sedang berbaring dikamarku sendirian. Aku tak bisa datang kepesta, kuharap kau mengerti.
7.23 pm
Pesan singat pertama mebuatku merasa tambah bersalah. Lalu aku membaca yang kedua.
Jauhi Draco, dia pengecut, Dhapnee yang memberitahuku. Dan sekarang aku beci padanya. Mendengar cerita-cerita dari Dhapnee saja membuatku jijik. Dia brengsek, bagaimana dia banyak mengahancurkan hati para gadis. Semoga kau tak kena jebakannya. Dan jangan sampai. Beralihlah pada pilihan pertamamu. Ron milikmu. Dekati dia.
Luna yang cantik.
7.29 pm
Bagaiman dia bisa membuatku membuka mulutku untuk tersenyum hanya dengan tulisan? Itulah Loony.
Saat aku tahu bahwa aku adalah sahabat yang buruk untuknya, aku hanya memikirkan diriku sendiri, mendengarkan kata hatiku yang sebenarnya jelas-jelas salah. Tak ada henti-hentinya aku memikirkannya, tapi itu dulu. Sekrang semuanya berubah, aku semakin tak sanggup untuk memikirkannya apalagi bertatapan muka dengannya. Setiap detik aku tahu dia adalah 'cowok' brengsek tak tahu diri. Aku sekarang membencinya. Memikirkannya membuatku gila dan depresi. Tapi coklat panas disampingku membuatku sedikit tenang, dan seseorang disampingku juga.
"Mendung"
Lalu aku medongak untuk memastikan dan ternyata aku dapat mendengar suara gemuruh kecil dikejauhan sana. Aku berdehem dan meng-iyakannya. "Hm"
"Hey, Mione"
"Apa?"
"Kau tahu tidak.." Ron terdiam cukup lama "Mhh.. aku lupa"
"Ha - ha.." Aku tertawa dengan kubuat buat, melihatnya membuatku bahagia.
"Ha-ha-ha.." Dia mengikuti cara tertawaku.
"Ha-ha-ha-ha-ha.."
Tak sadar kami malah tertawa bersama.
"Hey, mh.. sudah lama ingin kukatakan padamu tentang ini."
Aku mencoba mendengarkannya dengan teliti.
"Satu hal yang membuatku tahu bahwa,.. Owh sangat sulit mengatakannya." Dia menggosok kepalanya."Begini kata orang, semua orang akan terpacu dengan adanya waktu, dan semuanya bekerja dengan bayaran waktu, tak peduli itu susah. Tapi semua orang tak bisa mengembalikan waktu, hanya ada penyesalan setelah semuanya berlalu jadi ak ingin mengatakan sekrang sebelum semuanya berlalu dan larut dalam penyesalan."
"Jadi intinya?" tanyaku.
"Kau tidak tahu, bahwa aku suka padamu"
"Tunggu, Apa?"
"Aku.. bukan apa-apa" Ron menunduk dan meneguk coklatnya kembali.
Aku sudah menunggu waktu ini lama sekali. Memikirkan Draco membuatku ingin memutilasinya, memikirkan Ron membuatku sakit. Tapi sekrang yang mengobati rasa sakitku hanya Ron.
"Aku juga berpikir, bahwa semua orang akan kehilangan waktunya, dan berakhir pada penyesalan. Kau juga tidak tahu bahwa aku juga suka padamu" Kataku cepat.
"Tunggu, jadi, apa?"
"Aku bukan apa-apa padamu"
"Maksudmu?" Ron tampak bingung.
"Kau bilang jika kau menyukaiku dalah bukan apa-apa, jadi kujawab aku bukan apa-apa padamu" Aku mencoba tak memperlihatkan ekspresiku. Dia tersenyum dan aku membalas senyumannya.
"Jadi kau juga, bagaimana dengan Dra-.."
"Dia bohong, seharusnya aku yang pertama menanyaimu 'maukah kau pergi kepesta bersamaku' dan tak perlu menunggumu menanyaiku, tapi, tunggu.. jika kau suka padaku kenapa kau tak megajakku?"
"Aku menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya padamu, tapi tak ada yang tepat, saat aku mempunyai waktu yang tepat, kau kelihatan sudah punya pasangan, dan ternyata si Malfoy. Ya.. tak ada pilihan aku mengajak Luna."
"Oh..maafkan aku, aku tidak bermaksud."
"Tak apa, jadi sekarang?"
"Sekarang apa?"
"Kita sekarang."
"Sekarang, sekarangnya sekarang ini?"
"Sekarang"
"Emh.. pikir saja sendiri, kau pasti sudah tahu,"
Pemulihan kembali. Membenci Draco membuatku kehabisan energi, jadi aku pikir saja dia mati. Dan sekrang kau sudah ada dalam pelukan Ron. Bersamanya membuatku lebuh berarti. Kali ini pilihanku benar. Sangat benar. Aku mencintainya.
SELESAI.
A/N : Ah.. akhirnya selesai juga, saya memang sering kali PHP in para reader yak.. (Author minta di tinju) saya minta maaf atas keterlambatannya solanya kan saya lagi ada urusan penting di dunia nyata, dan persiapan buat masuk SMA aka Mos.. sekli lagi saya minta maaf, jangan lupa Review ya...
