Disclaimer : J.K Rowling

Pairing : Hermione Granger – Draco Malfoy – Cedric Diggory

Warning : Gaje, aneh, typo's dll

Rated : T++

Happy Reading


Mawar Merah

By tikamalfrey

Chapter 4 : 'Di ujung koridor kelas'

Cedric POV

Aku baru saja selesai menempatkan mobil ku di parkiran belakang Hogwarts. Dan sekarang aku menaiki lift untuk mencapai kelas ku, XII-4 dilantai 5.

Butuh waktu beberapa menit, dan akhirnya aku sampai.

Ya, benar saja sudah setengah murid datang.

Aku belum melihat kedalam nya, namun suara mereka terdengar diluar.

Aku menghampiri mereka, Wood, Krum, Cho dan Angelina. Mereka berbincang di bangku panjang depan kelas.

"Jadi dia suka mawar merah juga, Cho?." Krum sedang berbicara pada Cho.

"Ya, aku berbincang dengannya sedikit kemarin." Kata Cho

Tunggu, siapa yang mereka bicarakan?

Wood yang menyadari kedatangan ku pun menyapa.

"Hei Ced."

Aku dan Wood menyatukan tangan. Bisa dikatakan inilah yang dilakukan anak lelaki saat bertemu karibnya. Semacam tos tangan. Aku juga melakukan itu kepada Krum.

Lalu aku duduk disamping Cho.

"Apa yang tadi kalian bicarakan?." Tanyaku.

"Krum ingin mendekati gadis baru." Kata Angelina Johnson.

"Oh ya? Siapa Krum? Ceritalah kepada ku.-eh tapi tunggu, kenapa kau mencari gadis lain? Pdkt kau dengan Sarah Fawcett gagal,eh?." Kataku menggoda.

Krum hanya mengangkat bahu.

"Tak apalah Ced. Biarkan dia memilih yang pas." Kata Wood

(Ya, Cedric, Krum dan Wood telah bersahabat sejak memasuki kelas X. Kalian semua telah tahu bahwa Cedric dan Cho telah pacaran selama satu tahun. Dan, sekarang ku beri tahu bahwa Oliver Wood tengah menjalin hubungan dengan Angelina Johnson beberapa bulan terakhir ini. Karena itu.. Krum jadi jomblo sendiri. Dan- Ah ya, mereka semua sepakat sedari dulu kalau memanggil Viktor Krum dan Olivier Wood dengan nama belakang saja, karena... memang lebih enak memanggilnya begitu kan? Krum dan Wood. Daripada Viktor dan Olivier.-Bahkan, ini permintaan dari Krum dan Wood sendiri.)

"Oh kalau begitu, siapa gadis itu Krum?." Tanya ku

"Dia murid baru Ced, namanya Hermione Granger." Kata Krum antusias.

DEG.

Apa?

Murid baru?

Hermione Granger?

Ya Tuhan, kenapa harus dia?

Ha?

Beratus siswi yang bersekolah di Hogwarts, mengapa Krum memilih dia?

Dari awal aku sudah tidak suka dia bersekolah disini. Untungnya aku telah terdaftar sebagai murid disini dengan nama hanya Cedric Diggory, dan tidak menggunakan nama Granger dibelakang. Jika tidak, seluruh isi sekolah akan tahu aku kakak nya. Dan untung itu tidak terjadi.

Dari awal aku sudah memiliki firasat tentangnya dan sekolah ini. Dan ternyata firasat ku benar, akhirnya ayah memasukan nya disekolah ini juga.

Apasih istimewa nya dia itu? Sampai ayah selalu membedakan aku dengannya. Alasan lama ayah jika berkata 'dia itu perempuan Ced, harus lebih diutamakan' toh aku juga anak nya. Sampai ibu rela mengorbankan nyawa nya untuk memilih dia hidup di dunia ini. Sampai sekarang Krum akan mendekatinya? Ini buruk.

"Aku lebih suka kau melanjutkan pdkt mu dengan Sarah Fawcett, Krum." Kataku sinis.

"Apa Ced? Tunggu. Kenapa kau bilang begitu? Apa kau tidak setuju aku akan mendekatinya?." Tanya Krum berlanjut.

"Tidak." Jawabku singkat, lalu aku bangun dari tempat duduk ku, menggendong tas dan lekas melangkah memasuki kelas.

Sementara Krum, Wood, dan Angelina bertatapan. Aku merasakan Cho menarik lenganku. Tapi aku menghiraukannya.

"Sorry Krum. Mungkin Cedric masih kesal dengan Hermione masalah insiden dikantin beberapa hari lalu." Kata Cho.

"Apa? Insiden dikantin?." Angelina bingung.

"Kau belum menceritakannya Cho." Kata Wood.

"Nanti kita bicarakan." Balas Cho singkat.

"Walau begitu, tapi aku akan tetap mencoba mendekatinya Cho." Kata Krum.

Cho hanya berpandangan oke-baiklah-nanti-saja. Lalu Cho pun lantas pergi ke kelas menyusulku.

POV End


Hermione POV

Aku tiba di parkiran Hogwarts dengan supir pribadiku. Aku pun keluar mobil.

"Hei Herm!." Kata seseorang dibalik mobil.

Itu Ginny.

Dia baru saja tiba dengan Ron dan Harry, mereka se mobil. Dan Ron yang menyetir.

"Hei Gin." Ucap ku sambil menghampiri mereka

"Eh kemana mobil mu Har?. Dan tumben kalian datang pagi." Kataku.

"Di bengkel Herm, kukira ada sedikit yang harus diperbaiki. Dan-" Jawab Harry.

Aku mengangguk.

"Herm, apakah kau sudah mengerjakan tugas fisika prof. Lupin?" Tanya Ron

"Sudah." Jawabku singkat.

"Boleh aku pinjam?." Ron memandangku dengan muka memelas.

Karena aku kasihan, aku merogoh tas ku lalu mengambil buku ku dan memberikan nya pada Ron.

"Terimakasih Hermione!." Kata Ron dan Harry serempak.

Lalu Harry dan Ron pergi meninggalkanku dan Ginny di parkiran. Mereka berlalu dengan berlari. Entah mereka kenapa. Sampai mereka menabrak seseorang yang kelihatannya guru. Aku melihat mereka meminta maaf sambil berjongkok lalu berlutut.

"Eh?." Kataku heran.

"Itu prof. Snape, dia guru kimia kelas XII. Dia sangat galak Herm sungguh. Harry dan Ron pernah mendapat hukuman akibat menabraknya jalan. Dan sepertinya hal itu terulang." Kata Ginny. Dia tertawa kecil.

"Kau terlalu baik Herm meminjamkan mereka pr. Aku saja menolak mentah-mentah akan meminjamkannya. Kau tahu mereka mau kemana? Mereka pasti akan ke kantin, menyalin pr mu sambil menikmati kopi dan sejuknya udara. Mereka tidak pernah berubah." Tambah Ginny.

Oh sekarang aku tahu alasan mereka datang pagi.

"Dasar. Untuk kali ini saja aku memberikannya hadiah." Kataku.

Lalu aku dan Ginny melangkah menuju lift untuk sampai ke kelas kami.


*Dikelas*

Aku menaruh tas lalu duduk. Begitu juga Ginny.

Kelas masih seperti biasanya. Belum separuh murid datang.

Aku merogoh isi kolong mejaku. Biasanya ada buku atau pulpen atau catatan ku yang tak sengaja tertinggal. Aku memang biasa menaruh barang dikolong mejaku.

Seperti ada plastik.

Dan-apa ini?

Aku menarik keluar nya.

Sekuntum mawar merah lengkap berbungkus plastik bening indah, ada di kolong mejaku.

Aku terpana. Lalu menghirup harumnya mawar itu.

Harum, aku menyukainya.

Pertanyaannya: siapa yang menaruhnya? Lebih tepatnya siapa yang memberikan bunga ini untuk ku?

Ya, disini ditulis to: Hermione Granger.

"Ya ampun Herm, siapa yang memberi mu mawar?." Tanya Ginny mengagetkan ku.

"Jujur Gin, aku menanyakan hal yang sama." Jawabku.

"Disini tertulis from: Secret Admirer." Sambungku.

"Oh tidak. Kau murid baru dan baru bersekolah 4 hari sudah mempunyai secret admirer?." Kata Ginny.

"So Sweet." Sambung nya.

"Siapa ya yang memberikannya? Kenapa dia tahu aku sangat menyukai mawar merah?." Tanyaku heran. Sementara Ginny, dia tampak berpikir keras.

"Coba kau ingat, siapa yang tahu kalau kau suka mawar merah? Jujur Herm, kau belum memberitahuku." Kata Ginny. Aku berpikir sejenak. "Ah ya..Kemarin aku mengatakannya pada Cho-Chang. Ya dia. Aku bertemunya dihalaman belakang kemarin dan berbincang sebentar. Lalu sampai dia dipanggil Wood dan Krum pembicaraan kita terhenti." Kataku sambil mengingat-ingat.

"Apa Wood dan Krum-?." Tanyanya.

"Iya Gin, aku tahu namanya karena aku sempat berkenalan dengannya. Apa kau tahu dia eh maksudku mereka?."

"Tentu saja. Wood, dan Krum sahabat Cedric sejak kelas X. Aku mendengarnya dari gosip anak perempuan. Eh tunggu, apa yang membuatmu,eh?." Ginny menyeringai.

Menurut ku dia sama seperti Draco Malfoy disaat seperti ini.

"Ehm eh itu ah hanya saja aku eh maksudku Krum selalu melihat ke arahku. Tatapannya seperti-ah entahlah. Dan aku merasakan dia terus memperhatikanku saat aku dikantin kemarin, bahkan di perpus-lalu…"

"Jelas sekali. Dia Hermione. Dia…" Ginny memotong perkataanku. Aku mendengus sebal.

"Apa ada pesan didalam mawar itu?." Tanya Ginny kemudian.

"Sepertinya ada." Aku membuka secarik kertas kecil didalam mawar itu.

"Temui aku di ujung koridor lantai 4 di samping ruang uks selepas sekolah"

Begitu bunyi pesannya.

"Temui dia Herm." Kata Ginny

"Temui siapa?" tanyaku.

"Dia Viktor Krum. Jelas sekali Herm dia yang memberikan mawar itu padamu. Pasti dia tahu kau menyukai mawar dari Cho Chang. Mereka dekat Herm. Cho itu kekasih Cedric. Dan- ah pokoknya aku yakin kalau itu Krum. Karena juga tidak mungkin Wood kan? dia sudah memiliki kekasih soalnya Hermi." Jelas Ginny.

Aku masih tidak percaya. Apa mungkin Krum yang memberikan ini?

Aku bingung. Tapi setelah aku pikir-pikir sepertinya itu sangat mungkin.

"Ah Krum romantis sekali sih. Di ujung koridor lantai 4 samping uks kan sepi sekali. Ahhh kau sangat beruntung Herm. Banyak sekali gadis-gadis yang terpesona dengan Krum. Dia itu kapten tim basket Hogwarts Herm Ohhhhh." Kata Ginny. Dia sekarang memandang ku seperti gadis yang melihat lelaki tampan sedang berjalan di depan nya.

'Krum? Apa dia?.' Tanya hatiku.


*Ketika pelajaran hari ini usai*

"Dah Hermione, semoga menyenangkan. Oh pastinya iya." Kata Ginny di akhir sekolah hari ini.

"Apanya?." Tanya Ron penasaran.

"Ini urusan wanita." Jawab Ginny. Kami saling tersenyum. Sementara Harry dan Ron saling berpandangan.

Ya itulah perpisahan kita dihari ini. Mereka segera turun. Murid-murid yang lain juga sudah turun semua. Tersisa aku sendiri dikelas.

Lalu aku menuju koridor ujung di lantai kelasku, lantai 4. Aku menemukan uks sudah dikunci rapat oleh petugas. 'apa Krum?' aku masih bingung. Entahlah. Aku harap dia segera muncul sekarang, agar aku bisa cepat sampai rumah dan mengerjakan pr ku.

Aku sekarang menunggu nya. Sambil membawa sekuntum mawar merah yang diberikannya. Sesekali aku mencium aroma mawar itu. Sungguh menenangkan.

Aku masih berdiri menunggu.

Dalam beberapa menit, akhirnya -

DEG

Namun tiba-tiba, aku merasakan ada yang memegang pinggangku. Sekarang aku merasakan ada yang memelukku dari belakang. Aku merasakan juga ada hembusan napas di leherku.

Tubuhku terpaku.

Dan sekarang aku merasakan sebuah bibir mendarat dileherku. Sekarang dan sekarang aku mencoba berteriak, namun aku merasakan lagi ada sentuhan jari di bibirku, sentuhan yang lembut. Aku tak bisa berteriak. Mulutku ditutup oleh tangan, aku merasakannya. Mataku melotot. Aku mencoba bergerak, tapi aku merasakan tubuhku tak bisa mengelak. Tubuhku tak bisa bergerak. Aku merasakan ada seseorang yang mendekapku erat. Dari belakang tubuhku.

Aku tidak tahu siapa dia. Aku baru merasakan tubuhku tak berdaya.

Secepat kilat, aku terdorong disebuah dinding uks.

Sekarang aku bisa melihatnya. Aku melotot. Tidak berkedip.

Dia menaruh kedua tangannya di dinding sebagai sanggaan badannya.

Aku mencium aroma nya. Aroma mint yang menyejukkan.

Aku melihat matanya. Kelabu menenangkan.

. Draco Malfoy?

Kenapa dia yang disini? Dimana Viktor Krum?

Aku masih memegang mawar merah nya.

Aku terdiam.

Mataku melotot saat Draco mendekatkan wajahnya kearah wajahku. Wajah kami sangat dekat. Aku ingin berteriak tapi mulutku terkatup. Sungguh, dia memang tampan. Aku melihatnya lebih dekat dari kemarin. Rasanya, aku telah terhipnotis sekarang.

Hidung kami sudah bersentuhan. Dan—ya Tuhan aku bisa merasakan napas Draco Malfoy. Hembusan nya sangat tenang. Seperti wajahnya. Tapi, ekspresinya sulit ditebak. Aku tidak bisa membacanya.

Dia menciumku.

Bibir nya mendarat mulus dibibirku. Dia memejamkan matanya. Aku merasakan dia sangat tenang dalam melakukannya. Begitu lembut.

Dia terus melakukannya. Mencari celah agar aku dapat membalas ciumannya. Namun aku masih terdiam.

Disaat dia mulai memperdalam ciumannya. Entah, bibirku bergerak tanpa perintah.

Aku membalas ciuman Draco Malfoy.

Sekarang dia mencari celah agar dapat menjelajah dalam mulutku. Aku tetap tidak membuka mulutku. Namun tampaknya dia tidak menyerah. Dia semakin memperdalam ciuman nya. Semakin dalam. 'aahh akhirnya mulut ku terbuka dengan sendirinya.

Dia memainkan lidahnya. Aku semakin tak berdaya. Tubuhku melemah. Ciuman ini mengambil banyak oksigen, hingga aku mulai kehabisan napas. Dan aku juga melihat napas Draco sudah tak karuan, dia masih meneruskannya.

Aku tidak kuat. Sesak. Tubuhku semakin melemah. Draco masih meneruskannya.

Aku mencoba mendorongnya sekuat tenaga. Menjambak rambut nya. Menarik dasi sekolah yang masih dia gunakan. Namun semua gagal. Dia masih meneruskannya.

Sial. Batinku.

Dia belum melepaskannya.

Lama..

Hingga akhirnya dia melepaskan bibirnya. Aku bersender di dinding dengan lemas. Aku juga melihat Draco sedang mengatur napasnya dengan susah payah.

Mawar itu terjatuh.

Dan Draco mengambilnya.

"Akulah-secret ad-mirer itu. A-ku yang mem-berikan mu-ini. Da-n- aku—juga mendengar ucapan mu dengan—Cho-Chang." Katanya sambil mengatur napas.

Dugaanku dengan Ginny meleset total.

Aku tak menyangkanya. 180 derajat berbeda diatas kertas.

Aku masih bersandar di dinding. Masih berusaha mengatur napasku.

"Terima kasih Hermione. Aku suka bibir mu." Kata Draco, dia menyeringai.

"Ohiya, kau pasti kekurangan anggota kelompok biologi kan? Aku, Theo, dan Blaise bersedia dengan senang hati masuk ke kelompokmu. Dan ini-bunga mawar dariku untukmu. Sampai jumpa. Ku harap di lain waktu kita bisa lebih serius dari yang tadi." Kata nya lalu pergi begitu saja.

Draco Malfoy.

Kau kurang ajar.

Menciumku tanpa meminta izin.

Dan kau, sialan.

Kau membuatku lemas sekarang.

Kau menyebalkan.

Tapi... aku mengambilnya.

Aku mengambil bunga mawar pemberiannya.

Aku tak begitu paham apa maksud perkataan nya barusan.

Pikiran ku telah melayang ke angkasa.

Sialan.

Sekarang dia melangkah pergi.

Andai saja aku tidak lemas sekarang, aku akan menonjok mu kuat-kuat hingga rahang mu patah.


TO BE COUNTINUED

Special dramione nya kurang greget ya? Maaf banget ya. Nanti di chapter-chapter lain ada lagi kok hehehe.

Mengenai chapter 3 yang kurang greget, maaf. Soalnya chapter kemarin khusus pengenalan tokoh yang lain yaa hehehe.

Sekali lagi terima kasih banyak yang udah mau membaca:)

Maaf banget kalo ada typo ya.

Masalah kritik mengenai sudut pandang Hermione POV, sudah sedikit demi sedikit aku perbaiki. Terima kasih banyak yang udah kritik.

Dan terima kasih yang amat banyak untuk yang me review cerita ini. Aku sebagai author baru seneng banget, ff pertama ada yang mau review hiks hiks *terharu* hehehe

Kalau ada yang mau lanjut, seperti biasa review:)

Chapter ini aku updated cepat karena permintaan para review:).

Next chapter mengenai re-solution Hermione-Cedric.

Terima kasih:)

Salam