Disclaimer : J.K Rowling
Pairing : Hermione Granger – Draco Malfoy – Cedric Diggory
Warning : Gaje, aneh, typo's dll
Rated : T
Happy Reading
Hermione-Cedric Re-Solution
Mawar Merah
By tikamalfrey
Chapter 5: 'Kak Cedric…'
Draco POV
Hermione Jane Granger.
Sial.
Daritadi aku terus memikirkannya.
Semalam aku tidak bisa tidur karena mengingatnya.
Aku mengingat kejadian di kamar mandi saat dia menangis di dadaku.
Aku mengingat dia saat menatapku di kamar mandi beberapa hari yang lalu-kemudian menangis dengan keras.
Aku mengingat saat dia dapat menjawab pertanyaan prof. Minerva seperti yang aku dapat lakukan.
Aku mengingat ciuman kemarin dikoridor sekolah.
Aku mengingat dia membalas ciumanku.
Aku terus mengingatnya hingga aku terlarut sendiri pada akhirnya.
Kenapa aku ini? Aku sering sekali mencium gadis-gadis hampir setiap hari. Bahkan aku juga beberapa kali melakukannya, melakukan apa itu yang aku inginkan.
Dan kenapa aku seperti ini? Bagai seorang pangeran yang selalu menginginkan princess nya datang. Aku tidak tahu kenapa aku ini. Aku menginginkan Hermione Granger lagi. Setelah aku menciumnya, aku menginginkannya lagi. Bahkan kemarin saat aku ingin menjauh pergi darinya, sejujurnya aku menarik paksa langkah ku pergi. Aku sebenarnya tak ingin menjauh darinya.
Kenapa aku ini?
Aku tidak pernah begini. Jika seperti bersama gadis-gadis yang lain, aku tidak pernah begini.
Aku menyukai matanya, bibirnya, rambutnya.
Ah apa apaan kau ini Draco?!
Apa kau sudah gila?!
Kau menyukai seorang gadis? Apa itu benar? Aku menyukai
Hermione Granger?
Entahlah.
POV End.
Hermione POV
Ginny telah 100 kali mengirim pesan kepadaku menanyakan bagaimana Krum menembakmu.
Sial.
Aku tidak mau membalasnya. Kejadiannya 180 derajat meleset jauh.
Apa yang aku lakukan kemarin?
Oh tidaaak. Aku tidak mau mengingat nya.
Cukup. Aku tidak mau berpikiran tentangnya lagi.
Namun, aku sulit memungkiri.
Aku menyukai tatapannya.
Oh tidaak. Apa apaan aku ini?
Herm dia itu Draco Malfoy, yang kata Ginny kau harus berhati-hati dengannya.
Aku memang telah merasakan ada yang berbeda saat aku memandangnya. Aku merasakan sesuatu yang bergejolak dan aku merasakan ada yang berkata 'dia itu sangat tampan', aku tahu itu pasti kata mataku.
Lalu aku juga tidak mau berpaling saat aku memandangnya. Dia seperti-ah sudahlah. Dia seperti mawar merah, oke setiap aku memandangnya saja aku merasakan-.
Aku tak bisa menjelaskannya.
Dari beberapa buku yang aku baca mengenai perasaan, sepertinya aku menyukainya.
Benarkah?
Entahlah.
POV End
Cedric POV
Sudah sejak kemarin pulang sekolah hingga detik ini aku berdiam di kamar.
Aku tidak keluar kamar. Aku tidak makan dan minum selama dua hari.
Mereka sudah membujukku. Ya siapa lagi kalau bukan pelayan rumahku. Tapi aku tetap saja menghiraukannya.
Aku merasakan tubuhku melemas. Aku tidak masuk sekolah hari ini.
Aku terus mengingat kejadian kemarin yang mebuatku seperti ini.
Flashback on
*Di taman belakang sekolah
"Ced, kau tidak boleh seperti ini terus. Kau selalu saja mengacuhkan Krum. Kalian sudah bersahabat sejak kelas X. Hanya karena masalah gadis kalian seperti ini. Lagipula apa salahnya Hermione Granger sampai kau sangat tidak meyukainya?." Itu kata Cho sepanjang hari kemarin.
"Tentu dia salah. Aku tidak pernah menyukai gadis itu dari dulu." Kataku singkat.
"Apa Ced? Kau tidak pernah menyukainya dari dulu? Jadi kau sudah kenal dengannya lama? Ced ceritakan."
DEG
Sial. Aku kelepasan mengatakannya.
Aku terdiam. Aku bingung harus bilang apa. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya.
"Ced jawab aku." Kata Cho mendesak.
"Ehm. Ayah kami pebisnis. Aku sudah mengenal nya beberapa tahun ini. Aku tidak menyukainya. Sepertinya dia gadis yang sombong dan menyebalkan. Dia sering ke rumahku. Dia juga selalu ingin mengobrol denganku, tapi aku tidak pernah menganggapnya. Aku selalu mengabaikannya. Kasihan sekali." Kataku meyeringai. Tunggu, aku tidak sepenuhnya berbohong kan?
"Ced, astaga. Jadi kau selalu mengabaikannya? Kau ini jahat sekali Ced. Kau tahu betapa sakitnya di abaikan? Aku pernah mengalaminya Ced." Kata Cho.
"Memangnya kenapa? Aku tidak peduli siapa dia. Lagipula aku juga sudah tidak meyukainya sejak dia lahir." Kataku ketus.
DEG
Aku kelepasan perkataan lagi.
"Ced kau itu melebih-lebihkan masalah. Aku tidak suka kau mengabaikan perempuan. Itu sama saja kau mengabaikan ku Ced. Aku ini perempuan." Untung saja Cho tidak mengerti apa perkataan ku tadi.
"Kau dengan dia itu beda." Kataku lagi.
"Kita sama-sama perempuan Ced. Kita sama-sama terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Aku tidak tahu apa alasan jelas mengapa kau sangat tidak menyukainya-"
"Aku membencinya Cho." Kataku memotong perkataan Cho.
Cho melotot dan marah. Aku hanya bisa memandang nya dengan tatapan datar tanpa merasa bersalah.
"Jangan memotong perkataan ku Ced! Kau ini aneh sekali akhir-akhir ini. Kenapa kau jadi begini? Kau jarang menelpon ku, kau tidak membalas pesanku. Kau jarang merespon jika aku sedang berbicara. Kau tidak mengizinkan ku ke rumah mu. Dan sekarang kau memotong perkataan ku Ced. Kau selalu mengalah dalam berbicara, kau selalu menghargai perkataan orang lain. Dan kenapa sekarang kau jadi begini Ced? Kata-kata yang kau ucapkan akhir-akhir ini juga tidak masuk akal. Mulai dari menyuruh Krum mendekati Fawcett lagi. Sampai kau bilang kau membenci Hermione Grang-."
"CUKUP." Kataku keras setengah berteriak.
'Aku bukannya tidak membolehkan mu kerumahku Cho, untuk yang lalu sebelum Hermione bersekolah di Hogwarts aku mengizinkanmu kerumahku karena dia tidak pernah keluar kamar. Paling hanya pergi ke halaman belakang. Sekarang keadaan berbalik Cho, jika kau kerumahku kau akan tahu yang sebenarnya.' Batinku
"Kau ini Ced, kau sekarang membentakku! Kau—"
Kesabaranku habis. Sekarang aku berdiri. Aku menatapnya, menatap Cho dengan pandangan kesal. Ya, aku bisa dibilang marah sekarang. Kenapa Cho tidak mengerti juga jika aku bilang tidak suka. Kenapa kali ini dia begitu menentangku.
Cho pun kemudian berdiri. Sekarang kita saling tatap menatap. Mata kami memancarkan sinar merah. Kami sama-sama sedang kesal.
"Apa kau sudah bosan denganku, oh atau kau mempunyai gadis lain? Apa itu benar Ced? Kau memilikinya? Kau menyukai gadis lain? Ced, jawab aku!."
Brukkk.
Awwww
Tanpa kusadari aku mendorong Cho saking kesalnya. Aku benar-benar diluar kendali. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Dia merintih kesakitan. Siku nya berdarah terkena tajamnya batu yang berada dibelakangnya.
Aku diam bak patung di museum bersejarah.
"Cho, kau berdarah. Siapa yang melakukan ini?." Kata lelaki itu. Dia berambut merah. Dia menghadapkan pandangannya ke arahku. Dia berusaha menolong Cho.
BUUUKK.
Hantaman keras terasa di pipi ku. Hidungku mengalir darah. Tapi aku masih terdiam.
"Kau pengecut Ced. Sialan, kau pengecut, cuih." Lelaki itu menonjok perutku.
Aku masih diam. Aku masih tidak menyadari apa yang terjadi. Semua aku merasa diluar kendaliku.
"Cukup. Sudah cukup." Kata Cho melerai. Dia meneteskan butiran-butiran air mata.
Cho menangis? Karenaku?
Sekarang aku melihat dia berlinang air mata. Hatiku ikut merasakan rasa sakit yang Cho rasakan. Aku benar-benar pengecut! Ced, ini bukan dirimu.
Lalu setelah itu aku meruntuk diriku karena telat menghampirinya. Lelaki itu telah memeluk Cho di depanku. Dia memeluk Cho dengan erat dan menghapus air mata nya.
Hatiku semakin tersayat.
Lelaki yang memeluk Cho itu, Percy Weasley. Sepupu dari Ron dan Ginny Weasley.
Dia mantan Cho ketika SMP.
Flashback off
Hingga saat ini aku tidak berhubungan dengan Cho. Mungkin dia sudah mengirimi ku 1000 pesan yang intinya ingin memutus hubungan kami. Mungkin dia sudah menghubungi ku 100 kali. Namun, aku tidak siap dengan semua itu. Aku mematikan handphone ku semenjak kejadian itu.
Aku sekarang merasa tubuhku melemas. Aku memaksakan diri untuk keluar kamar. Mungkin bisa ke halaman belakang untuk menyegarkan pikiran.
Aku berjalan dengan susah payah. Entah, kepalaku pening. Benar-benar pusing yang ku rasa. Sampai-sampai aku tidak menyadari didepan ku terdapat beberapa anak tangga turun kebawah. Akhirnya aku terjatuh dari atas tangga. Aku merasakan tubuhku terguling di tangga dengan cepat. Ketika sampai di dasar tangga aku sempat memegang dahi ku yang berdarah. Pandanganku lama-lama redup. Mataku sangat ingin menutup.
Aku tak tahan lagi. Hingga akhirnya semuanya redup dan aku merasakan keheningan hidup. Tapi sebelumnya aku mendengar ada sebuah suara. Suara gadis berteriak.
"Kak Cedric…"
Itu yang aku dengar.
POV End
Hermione POV
'Aku tidak melihat dia dimanapun Cho'
Aku mendengar suara itu. Itu suara Wood dikantin saat jam pelajaran sekolah usai. Aku merasa aneh karena Cho, Wood, dan Krum tidak bersama kak Cedric saat itu. Mereka terlihat panik dan mereka tampak tergesa-gesa.
Apa yang mereka cari itu kak Cedric?
Entahlah.
Aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
Aku tidak tahu apakah hari ini menyenangkan. Ginny mengusulkan untuk mengerjakan tugas biologi lusa. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada geng Malfoy.
Yang lebih parah, apa kau tahu semenjak kejadian diujung koridor sekolah?
Setiap kali Malfoy melihatku dia menyeringai.
Sial. Aku jadi salah tingkah.
Sudah Herm, hilangkan pikiran tentang Draco Malfoy itu.
*dirumah
Pikiranku masih terfokus pada Malfoy. Sial aku tidak bisa memungkiri nya. Sampai aku tidak sadar telah sampai di rumah.
Aku memasuki pintu rumah. Saat aku ingin menaiki tangga, mataku terpaku pada seseorang.
Kak Cedric jatuh terguling di tangga.
'Kak Cedric….' Aku berteriak sekuat tenaga.
Sekarang aku melihat darah mengalir dari kepala nya.
Aku terpaku.
Pelayan rumah ku segera menggotong nya memasuki mobil.
Kami membawa nya ke rumah sakit.
*Di rumah sakit*
Aku panik bukan main. Selama lima jam kak Cedric tak kunjung sadar.
"Keadaannya semakin membaik, kita tinggal menunggunya sadar." Kata perawat itu.
"Boleh aku melihat?." Tanyaku.
"Silahkan." Kata perawat itu ramah.
Aku ragu untuk memasuki kamar kak Cedric.
Aku takut saat dia terbangun dan melihatku, dia-
Sudah sudah. Aku ini adik nya aku harus masuk.
Lalu aku memasuki kamar itu. Aku melihatnya. Dia pucat. Wajahnya lesuh.
Aku mengambil bangku disampingnya. Aku duduk memandangi wajahnya. Kak Cedric tampan, tak ada yang meragukannya.
Aku memegang tangannya. Tangannya dingin, tapi membuatku hangat. Sejujurnya aku ragu untuk menyentuh tangannya. Entah, seperti ada kilat menyambar tanganku, aku menggenggam erat tangannya.
"Sadarlah kak…" Pinta ku.
Sekarang jam 6 sore.
Aku merasa capek dan pegal. Aku belum mengganti pakaian sekolah. Aku tidak tidur siang. Aku juga belum makan siang. Sekarang, aku merasa lelah, lapar dan mengantuk.
Tanpa kusadari, aku tertidur pulas di samping kasur kak Cedric sambil menggenggam tangannya.
POV End.
Cedric POV
Aku menatap langit-langit dinding itu.
Gelap.
Disini dingin, tapi aku merasa hangat.
Perlahan aku membuka mata ku. Masih berat, namun aku sudah membukanya.
Aku merasakan pening yang amat sangat.
Aku merasa kepala ku sedang di balut perban.
Dan aku merasakan genggaman tangan yang menggenggam erat tanganku.
Aku merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku menoleh ke samping.
Ternyata dia, dia Hermione Granger sedang tidur di samping kasur ku posisi duduk.
Entah, aku tidak pernah merasakan se-nyaman ini sebelumnya. Tubuhku seolah tak bisa bergerak. Ya, aku membiarkan dia terus menggenggam tanganku. Sesekali aku menoleh ke arah nya. Dia tidur pulas, dia tampak sangat lelah, da masih menggenakan seragam sekolah.
Aku menatap dinding kamar. Aku menangkap bayangan jam disana. Sudah pukul 9 malam, dan dia belum mengganti pakaian sekolah nya?
Terkadang aku berpikir, dia itu adalah adikku.
Terkadang aku berpikir, selama ayah dan mama tidak ada, dia lah tanggung jawabku.
Terkadang aku berpikir, tidak kah aku ini jahat? Seorang kakak seharusnya melindungi adiknya. Seorang laki-laki harus nya melindungi perempuan. Apakah aku selama ini sudah terlalu jauh?
Sekarang aku berpikir matang. Usiaku sudah 17 tahun. Apa aku harus menjauhinya terus menerus dengan alasan yang tidak masuk akal untuk seseorang berusia 17 tahun? 'Bodoh kau Cedric' gerutuku. Kenapa kau tak menyadari hal ini sejak dulu. Dia itu adikku. Ketika mama memilih dia untuk hidup, berarti itu adalah titipan. Mama menitipkannya di dunia. Salahkah aku selama ini mengabaikannya? 'Salah Ced' batinku. Kau sama saja mengabaikan nya selama ini, mengabaikan mama kau sendiri.
'Ced, astaga. Jadi kau selalu mengabaikannya? Kau ini jahat sekali Ced. Kau tahu betapa sakitnya di abaikan? Aku pernah mengalaminya Ced.'
'Ced kau itu melebih-lebihkan masalah. Aku tidak suka kau mengabaikan perempuan. Itu sama saja kau mengabaikan ku Ced. Aku ini perempuan.'
Aku kembali mengingat kata-kata Cho.
Diabaikan? Aku diabaikan oleh Cho selama bebera menit saja aku merasa asing dan menyesakan. Dan, sakit.
Apa yang dirasakan Hermione selama ini?
Dia itu perempuan. Dia perempuan yang sangat tegar. Sangat.
'Kita sama-sama perempuan Ced. Kita sama-sama terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Aku tidak tahu apa alasan jelas mengapa kau sangat tidak menyukainya-'
Kata-kata Cho kembali terngiang di kepala ku.
Apa yang harus ku lakukan?
Aku lelaki berusia 17 tahun yang sangat bodoh.
Aku akan berusaha mencari cara untuk menyelesaikannya.
POV End.
Hermione POV
Aku membuka mataku perlahan.
Tidak. Aku baru sadar kalau aku ketiduran.
Aku segera bangun, genggaman ku terlepas.
"Pulanglah ke rumah. Ganti pakaian mu dan istirahat lah." Kata nya.
Oh. Kak Cedric berbicara langsung padaku.
Kini dia berbicara padaku setelah sekian lama aku menginginkannya.
Aku menatap nya sekarang. Dia memandang dinding dengan tatapan kosong. Wajah nya sudah tidak pucat. Tapi aku melihat keadaannya masih lemas.
Aku memandang tak percaya. Terdiam.
"Apa kau tak mendengarku?." Katanya lagi.
"Oh,ya. Tentu-saja-ya. Eh iya tentu saja aku dengar." Kataku terbata-bata.
Oh tidak, kak Cedric sekarang melihat ke arah ku. Sekarang kami bertatapan. Setelah sekian lama aku menginginkan hal ini. Jika aku memegang kamera sudah ku abadikan momen penting ini.
"Baiklah aku akan pulang." Kata ku.
Aku berjalan menuju pintu.
"Dan Herm….."
Aku mendengar suara itu. Suara kak Cedric. Tubuhku terpaku, lalu sontak aku menoleh ke arah nya. Dia memanggilku 'Herm' oh Tuhan inilah keajaiban Mu? Aku tak bisa membayangkan nya sebelumnya.
"Terima kasih." Katanya singkat.
Aku tidak merasakan aku bernapas sekarang.
Dia? Kak Cedric, berterimakasih padaku?
Aku menatapnya, dia juga menatapku. Hangat. Inilah yang ku rasakan.
"Ya sama-sama, semoga kak Cedric cepat sembuh." Kataku tersenyum.
Dia mengangguk.
Setelah itu aku membuka pintu dan menutupnya.
Ya Tuhan, terima kasih. Dalam momen seperti ini saja sudah membuatku bahagia.
Aku sangat bahagia.
TO BE CONTINUED
Terima kasih buat semua yang sudah membaca hingga sampai saat ini.
Aku sangat berterima kasih untuk semua yang sudah menyempatkan waktu untuk me-review ff ini.
Segala masukan sudah aku terima, sedikit demi sedikit aku udah mencoba mengaplikasikannya yaa hehe semoga berhasil
Next chapter Hermione-Cedric Solution.
Dan kalau mau lanjut, kritik, saran apapun review ya:)
Terimakasihhhh:)
Salam
