Disclaimer : J.K Rowling

Pairing : Hermione Granger – Draco Malfoy – Cedric Diggory

Warning : Gaje, aneh, typo's dll

Rated : T

Happy Reading


Mawar Merah

By tikamalfrey

Chapter 6: 'Aku menyukaimu, Hermione'

Hermione POV

*Godric Recidence*

Hari ini hari Minggu, aku memutuskan untuk kerumah Ginny.

Karena salah satu faktor yaitu Ronald Weasley.

Ya, Mrs. Weasley marah besar karena nilai tugas rumah Ron yang selalu dapat nilai 0. Untuk itu, Mrs. Weasley memintaku untuk membantu pekerjaan rumah nya. Kami semua telah setuju berkumpul di rumah Ginny. Tadi pukul 8, Harry menjemputku di Gryffindor Estate. Dia menungguku di depan komplek karena dia belum tahu rumahku.


Sekarang kami tengah berada diruang belajar Ginny. Aku menyukai rumahnya, nyaman. Kami hanya berempat karena ayah dan ibu Ginny bekerja.

Sesekali Ginny menanyakan hal mengenai Viktor Krum dengan berbisik.

Tapi aku berpandangan 'nanti-saja-oke'

Dan akhirnya dia mengangguk.

"Kau salah Ron, hasilnya itu 157 bukan 148. Kau ini bagaimana sih? Sudah pakai bantuan kalkulator, masih saja salah." Kata Ginny.

Ya, selalu ada keributan kecil mengenai mereka. Aku sudah tidak kaget. Malah aku kaget jika tidak ada keributan diantara keduanya.

Ron mendengus.

"Iya oke, ku akui aku salah hitung. Tuh, sudah aku perbaiki, puas?." Kata Ron kesal.

Harry dan aku saling menggelengkan kepala.

Selama 4 jam telah berlalu. Kami telah selesai mengerjakan pr kami. Ya walau ada perselisihan terus menerus diantara Ron dan Ginny. Seharusnya kami sudah selesai mengerjakan pada 1 jam yang lalu.

"Hei kalian apa mau ikut denganku ke Shierlacking Mark?." Tawar Harry.

"Tentu saja aku ikut." Kata Ron antusias.

"Ya sekarang pergilah saja kalian berdua sana." Kata Ginny ketus.

"Hei Gin, kita tidak ikut?." Tanyaku bingung.

Harry dan Ron tertawa.

"Herm, kau tahu Shierlacking Mark itu tempat markas anak laki-laki. Seperti klub malam. Tapi beda nya tempat itu buka 24 jam. Disana kebanyakan anak laki-laki." Kata Ginny.

"Baiklah kalau kalian tidak mau ikut, kami pergi. Herm, kau tunggu disini saja oke. Aku tidak akan lama, nanti aku antar kau pulang. Dahhh." Kata Harry melambaikan tangan.

Dan Ron juga melambaikan tangan.

Aku tersenyum.

Sekarang tersisalah aku dan Ginny.


Ginny mengajakku ke kamar nya. Sekarang kami bersantai. Kami duduk di tepi tempat tidur Ginny. Kasur nya empuk.

"Sekarang kau bisa menceritakannya Herm." Katanya

"Eh..ehm Gin. Aku tidak tahu." Kataku bingung. Mana mungkin aku menceritakan kejadian di koridor mengenai aku dan Draco.

"Oh kau tidak mau memberitahu ya? Okay maafkan aku Herm, aku baru sadar itu privasi." Kata Ginny yang sukses melegakanku.

"Kau tahu Herm, Draco Malfoy selalu menghabiskan hari libur sekolah nya disana, di Shierlacking Mark." Kata Ginny tersenyum. Perkataan Ginny membuatku melotot. Kenapa dia langsung mengganti topik ke arah Draco Malfoy?

"Ha? Eh maksudku yasudah. Terus apa hubungannya denganku?."

"Herm, ya Tuhan. Kau itu belum mengerti ya? Aku tahu Herm, aku juga seorang perempuan. Kau menyukainya. Kau menyukai Draco Malfoy. Aku melihatnya dari cara kau menatapnya. Berbeda sekali dibandingkan jika kau menatap Ron, Harry, bahkan Krum sekalipun." Kata Ginny. Dia tersenyum lagi.

DEG

"Apa mungkin Gin aku menyukainya? Aku masih bingung dengan perasaanku. Aku tidak pernah begini sebelumnya Gin." Kataku.

"Herm, dengarkan aku. Walau kami baru kenal beberapa minggu, aku sudah menganggapmu sahabat Herm. Aku merasakan kenyaman-an saat berada didekatmu. Jika ada masalah, ceritalah kepadaku. Aku pasti akan mendengarkan. Dan—ya aku rasa kau menyukainya."

Aku tersenyum.

"Herm…" katanya lagi.

"Ya?"

"Aku tidak tahu harus bilang kepada siapa, tapi aku akan menceritakannya padamu."

Sekarang Ginny menatapku.

"Ceritakan Gin." Kataku.

"Aku menyukai Harry, Herm. Aku menyukainya sejak kecil." Kata nya.

"Kalau begitu aku mendukungmu Gin." Kataku antusias.

"Tapi, Herm.. kemarin Harry membicarakan Luna Lovegood dengan Ron, mereka dekat Herm. Harry dan Luna dekat beberapa hari yang lalu. Jujur, aku cemburu saat kemarin mereka bercerita." Ginny murung.

"Luna Lovegood? Siapa dia Gin?." Tanyaku.

"Dia Luna kelas XI-1 Herm. Besok saat bersekolah biar aku tunjukkan." Katanya.

"Gin, kita belum tahu pasti. Aku akan mencari tahu mengapa Harry dan Luna dekat jika begitu. Kau jangan berburuk sangka dahulu. Kita belum tahu yang sebenarnya." Aku mencoba menenangkannya.

Ginny memelukku.

"Ah Herm, ucapanmu membuatku tersentuh. Kau benar-benar sahabatku." Kata Ginny.

Aku membalas pelukkannya.

"Dan kau benar-benar sahabatku."

Kami pun melepaskan pelukan. Dan sekarang kami merebahkan diri ke kasur.

"Gin, aku juga ingin menceritakan banyak hal padamu." Kataku.

Ginny memandangku. Tatapannya seolah berkata 'ayo-ceritakan-herm.'

"Aku tidak pernah bercerita pada orang lain kau tahu? Aku hanya biasa bercerita pada mawar merah." Aku tertawa.

Ginny juga ikut tertawa. "Sekarang kau punya aku untuk bercerita Herm. Ceritakanlah."

Akhirnya aku bercerita dari mulai aku tidak pernah bersekolah ditempat umum, aku bercerita tentang kematian ibuku, aku bercerita tentang ayahku yang jarang sekali bertemu denganku, aku menceritakan bahwa Cedric adalah kakakku yang selalu mengabaikanku, aku bercerita kak Cedric masuk rumah sakit, aku menceritakan kejadian kemarin saat paling bahagia dimana aku berbicara dengan kak Cedric. Aku juga menceritakan kejadian dimana aku menangis di dada Draco Malfoy dikamar mandi. Dan aku juga menceritakan aku telah berciuman dengan Draco

Aku tidak tahu apa yang aku bicarakan. Sejujurnya telah lama aku ingin memiliki sahabat yang bisa menerima keluh kesah ku. Jadi sekarang aku menceritakan segalanya pada Ginny.

Ginny menatapku dengan pandangan menyeramkan. Lalu dia langsung berdiri dari kasurnya dan duduk dengan langkah sergap. Dia melotot.

Dia belum berkata. Tapi aku mengerti maksud tatapannya.

"Aku serius Gin, dan aku menginginkanmu untuk menjaga rahasia ini oke. Aku belum siap semua tahu." Kataku.

"Herm, ini top secret! Oh Tuhan, aku berjanji tidak akan menceritakan pada siapapun Herm termasuk Harry orang yang kucintai bahkan sepupu ku sendiri Ron."

"Terima kasih Gin."

Aku mentapnya, dia masih melotot. Aku tersenyum. Lucu juga Ginny kalau melotot seperti itu. Wajah nya yang mungil serasa menjadi horror.

Kringgg

Ponsel ku berdering.

"Handphone mu Herm. Angkatlah." Kata Ginny

[Hallo]

[Apa ini Hermione]

[Ya, ini aku. Ini siapa?]

[Apa kau masih mengingatku? Aku Viktor Krum]

[Oh ya aku ingat. Ada apa?]

[Aku dengar kau suka membaca buku. Bisa kau temui aku di toko buku media pukul 4? Aku ingin kau membantuku mencari buku pengetahuan yang bagus]

[Baiklah, tapi aku tidak janji. Jika aku bisa nanti aku sms]

[Baiklah Herm, aku tunggu]

Tuuut tutt. Aku mematikan ponselnya.

"Siapa Herm?." Tanya Ginny

"Viktor Krum, Gin. Dia memintaku menemaninya ke toko buku."

"Ah ya. Terimalah Herm, kau tahu Krum itu sangat tampan."

Sekarang wajah Ginny berubah menjadi ceria. Huhh untunglah dia sudah berhenti melotot lagi.

Tapi setelah ku pikir-pikir, aku juga butuh buku tentang macam-macam tumbuhan untuk bahan referensi tugas karya ilmiah ku. Sepertinya aku akan menerima ajakannya.

To: Viktor Krum

Baiklah aku bisa. Kita bertemu di toko buku media pukul 4.

From: Hermione Granger

Sent

To: Hermione Granger

Baiklah, aku senang mendengarnya.

From: Viktor Krum

Akhirnya itulah keputusan Hermione.


*Pukul 4 di toko buku media*

"Maaf menunggu lama."

"Ah. Tidak apa." Kata Krum

Krum, dia sangat tampan. Dengan celana jeans dan kaos berwana hitam nya, dia sangat indah. Wajah nya yang rupawan. bentuk tubuhnya pun terlihat. Badannya kekar. Aku sampai memandangnya berkali-kali. Memang benar kata Ginny, dia sangat tampan. Pantas jika banyak yang tergila-gila.

Sedangkan aku juga hanya memakai celana jeans dengan kaos berwarna putih. Ya ampun kenapa style pakaian yang kita pakai sama. Aku serasa cocok bila berdampingan dengannya. Dia juga tidak membosankan. Dia selalu membicarakan hal yang seru dan tidak monoton. Ternyata, ini dia Viktor Krum.

Kami menyusuri tiap bilik toko. Aku sudah menemukan buku yang aku cari. Sedangkan Krum, masih bingung mau membeli yang mana.

"Herm menurutmu, mana buku yang lebih bagus?." Tanya nya sambil memegang dua buku.

"Yang ini sepertinya lebih lengkap."

Akhirnya pukul 5 kami telah membayarnya ke kasir.

"Herm, kau mau meminum sesuatu di café cappuccino itu?."

Aku memandang keluar toko. Ada kedai kopi, café cappucinno, dan ada shierlacking mark. Ha shierlacking mark? Ternyata lokasinya didepan toko buku media, aku tidak pernah menyadarinya. Wajar sih aku baru dua kali kesini.

"Herm, kau melamun." Katanya

"Oh ya maaf. Baiklah tidak ada salahnya kita kesana."

Kami akhirnya sampai. Hanya butuh beberapa langkah untuk mencapai café ini. Aku dan Krum duduk di kursi pojok khusus dua orang dilantai 2. Kami telah memesan 2 cappucinno.

Aku menghadapkan pandanganku kedepan. Tepat didepanku Shierlacking Mark.

Aku memperjelas pandanganku. Ada apa sih didalamnya? Sampai Ginny bilang kalau kebanyakan anak laki-laki yang ada disitu. Oh mungkin aku harus bertanya pada Krum.

"Krum? Apa kau tahu-."

"Ya?."

Perkataanku terputus. Aku melotot. Ku harap ada yang salah dengan mataku.

Itu kan?

Ya Tuhan itu Draco Malfoy sedang duduk bersama tiga orang gadis seksi di Shierlacking Mark, lantai 2. Ya Tuhan, kenapa begitu jelas dari sini.

Sungguh, aku melihat dengan sangat jelas dari café ini. Ya memang sih café dan Shierlacking Mark hanya berseberangan, tapi…

Ah aku merasakan hatiku tersayat saat aku melihat…. Draco Malfoy mencium salah satu gadis seksi itu tepat dibagian bibir. Sial. Apa yang terjadi padaku? Aku merasakan hatiku terkoyak. Lalu Draco dengan sergap menutup korden jendela. Sekarang mereka tak terlihat lagi olehku.

Apa-apaan kau ini Hermione. Berjuta lelaki yang ada didunia ini bahkan lebih, dan kau menyukai seorang bad boy?

"Kau melamun lagi." Katanya sukses membuyarkan lamunanku.

"Maaf. Pikiranku sedang kacau."

Kringggg. Tiba-tiba handphone ku berbunyi.

[Hallo] sontak aku mengangkatnya.

[Kau Hermione Granger adik Cedric? Cepatlah ke rumah sakit. Cedric hilang dari kamarnya]

[APA? Baiklah aku akan kesana. Aku mohon pihak rumah sakit untuk membantuku mencari kak Cedric. Kumohon]

Tuuut tutt. Aku mematikannya.

"Maaf Krum, sungguh aku minta maaf. Aku harus pergi."

Tanpa babibu aku langsung berlari mencari taxi menuju rumah sakit.

'Kemana kau kak?'


Apa?

'Kak Cedric?'

'Apa maksud Hermione? Siapa yang dia maksud?' batin Viktor Krum terus berbicara.

Setelah dia berlalu, Viktor Krum mengikuti arah perginya.

Viktor Krum mengikuti taxi yang ditumpangi Hermione dengan mobilnya.


*Di rumah sakit*

"Bagaimana bisa kabur suster?." Tanyaku kepada perawat kak Cedric

Napasku tak beraturan. Aku berlarian menuju kamar kak Cedric.

"Tenang Hermione, kakakmu Cedric sudah ditemukan beberapa menit lalu, dia masih berada di wilayah rumah sakit. Tapi memang benar, awalnya dia berniat untuk kabur, karena dia bilang sih ingin bertemu dengan sahabatnya Viktor Krum."

"Apa? Dia ingin bertemu denganku? Cedric Diggory bukan? Dan apa hubungan nya denganmu Herm?." Kata seseorang dari belakang.

Ya Tuhan, Viktor Krum kenapa dia disini. Aku melotot tak percaya, dia mengikutiku.

"Maafkan aku Hermione, aku mengikutimu. Aku penasaran kenapa tadi kau menyebut kak Cedric dalam telepon." Katanya.

"Apa benar kau yang bernama Viktor Krum? Jika benar, mari saya antar ke kamar Tuan Cedric. Dia ingin berbicara padamu sepertinya." Kata perawat itu.

Aku masih diam seribu bahasa.

Aku membiarkan Viktor Krum lewat menemui kak Cedric. Dan sekarang aku menunggu dia keluar dari ruangannya.

Sedikit penasaran, aku mengintip melalui celah jendela. Namun, sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius. Aku tak melihat wajah tawa dari mereka berdua. Pastilah sangat serius jika begitu.

Huh. Aku menghela napas. Aku terduduk dibangku depan kamar kak Cedric.

Setelah sekian lama aku menunggu mereka….

"Hermione, Cedric memanggilmu." Suara dari pintu kamar kak Cedric mengagetkanku. Viktor Krum yang berbicara padaku.

Aku berdiri lalu melangkah memasuki kamarnya. Aku sekarang berada ditepi kasurnya, Viktor Krum berada disampingku. Aku menatap kak Cedric. Sekarang wajahnya berubah menjadi ceria saat aku datang. Ya Tuhan inilah kebesaranMu? Sungguh aku tak pernah melihat kak Cedric menatapku dengan tatapan bahagia dan dia tersenyum. Ingin sekali aku membanting benda disekitarku saking senangnya. Ya Tuhan, dia sungguh tampan.

Dia duduk dikasurnya.

"Maafkan aku selama ini Hermione." Katanya.

"Kemarilah." Sambungnya.

Aku pun mendekat ke arah nya. Dia langsung memelukku. Kak Cedric memelukku! Aku pun memeluknya dengan erat. Tanpa kusadari aku berlinang air mata.

"Maafkan aku selama ini Hermione."

Aku terisak.

"Aku berjanji akan menjagamu, akan melindungimu, aku akan menceritakan kebenaran kepada semuanya bahwa kau adalah adikku. Aku sudah menceritakan segala kebenaran ke Viktor tadi."

Isak ku semakin keras. Ya Tuhan, aku tak kuasa. Ini sungguh kebesaranMu yang sangat aku nantikan. Kak Cedric mengelus pelan rambutku. Aku masih terisak.

Setelah sekian lama kami berpelukan, satu diantara kami tidak ada yang mau melepasnya.

Sampai akhirnya dia melepaskan pelukannya juga. Sekarang aku bertatapan dengannya.

"Jangan menangis Hermione, aku sedih melihat perempuan menangis." Katanya sambil mengusap air mata ku yang telah jatuh membasahi pipiku.

"Dan sekarang Viktor Krum akan membicarakan sesuatu. Aku tahu itu privasi jadi sebaiknya kalian keluar dari kamarku." Kata kak Cedric tersenyum

"Tidak Ced, aku akan mengatakannya disini. Dihadapanmu." Kata Krum.

Krum menatapku lekat-lekat. Dia mengambil kedua tanganku dan meletakkannya di dada nya.

Sungguh ini suasana paling romantis yang aku rasakan selama ini. Krum mencium tanganku. Aku menatapnya. Dia memang tampan. Aku melihat matanya jauh lebih dalam. Aku merasakan sesuatu yang serius akan terucap darinya.

"Aku meyukaimu Hermione." Katanya tiba-tiba

Ya Tuhan.

"Maukah kau menjadi kekasihku?."

DEG

Krum mengambil sesuatu dari balik kantong jaketnya.

Sekuntum mawar merah.

Ya Tuhan. Apa yang harus aku katakan. Apa aku harus menerimanya? Aku tidak menyukainya, aku hanya kagum dengannya. Selama ini aku menyukai Draco Malfoy. Hah? Apa-apaan kau Hermione? Kau ini bodoh atau apa? Kau baru saja melihat dia bersama gadis lain. Apa yang bisa kau harapkan dari dia? Dia memiliki banyak gadis. Bodohnya diriku jika aku lebih memilihnya dibandingkan dengan Viktor Krum. Krum lelaki yang baik aku yakin itu. Dia sahabat kak Cedric selama ini. Dan kurasa dengan sikap dewasanya dan wajahnya yang sangat tampan, lama-lama aku akan menyukainya. Jadi…

"Ya, aku mau." Kataku tersenyum.

Krum memelukku. Dan memberikan sekuntum mawar merah itu.

Kau pernah membayangkan ini hal paling romantis didunia, dimana seorang laki-laki mengucapkan kata itu didepan kakakmu yang sangat berarti untukmu? Dan laki-laki itu memberikan suatu benda yang paling berharga menurutmu?

Kak Cedric menjadi saksi antaraku dengan Viktor Krum saat ini.

"Kau tahu Herm, aku baru saja akan mengatakannya di café tadi." Dia tersenyum.

Aku pun tersenyum. Lalu aku tertawa mengingat kejadian tadi. Viktor mengajakku ke café untuk berbicara serius kepadaku, dan tiba-tiba ada yang menelpon, sontak aku berlari lalu Viktor mengikutiku sampai ke rumah sakit. Dan akhirnya ini terjadi.

Viktor pun tertawa. Aku melihat kak Cedric juga ikut tertawa menyaksikan kami.

"Tapi awas kau Viktor Krum, jika kau menyakiti hatinya sedikit saja, aku tidak segan menonjokmu hingga babak belur. Walaupun kau sahabatku, aku tidak peduli." Kata kak Cedric.

Ya Tuhan, baru aku sadari bahwa mempunyai kakak laki-laki membuat hatiku tenang.

Aku tersenyum kepada kak Cedric.

Hal ini membuatku terbang ke langit. Aku merasakan rasa haru yang sangat mendalam sejak tadi. Aku berpendapat, semoga hidupku yang cerah akan dimulai.

"Aku tidak akan menyakiti hatinya, Ced. Tidak sedikitpun." Kata Viktor Krum.


TO BE CONTINUED

Terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah mau membaca dan me-review cerita ini:) Hua aku terharu jadinyaaa.

Thanks to:

Callagloxinia, AnastasiaR, fprisil, riskaka, Nisa Malfoy, Ahel, Zapprose, kakiku, zanzee yang sudah mereview ff ini.

novyfajriati, Luluk Minam Cullen, mydraco : Untuk Draco/Dramione nya diusahakan chapter lain ya, soalnya ini lagi fokus ke konflik dulu hehehe

selvinakusuma1, galuhtikatiwi, Secretly D. Ar : Sudah updated yaaa

afadh : Hehehe iyaa terimakasih kritik an nyaa

ika : Maaf banget kalo chapter yang aku buat terlalu pendek ya. Aku baru belajar nulis juga, jadi kalo satu chapter konflik belum kelar, rada bingung mau nulis ke chapter selanjutnya hehe

Victory Agatha : Terimakasih banget pujiannya. Aku semangat buat nulis chapter berikutnya jadinya hehe

Adellia Malfoy : Iyaaaa. Aku usahain. Sudah updated yaaaa

Kritik/saran/komentar silahkan review:)

Salam