Disclaimer : J.K Rowling
Pairing : Hermione Granger – Draco Malfoy – Cedric Diggory
Warning : Gaje, aneh, typo's dll
Rated : T
Mawar Merah
By tikamalfrey
Chapter 8: 'It will rain'
Special Dramione menggunakan lagu Bruno Mars - It will rain.
Jadi nanti jika ada tulisan *Now playing* biar lebih meresap bacanya sambil mendengarkan lagu It will rain nya Bruno Mars hehe. Aku sendiri nulisnya sambil dengerin lagu ituuu:)
Happy Reading:)
Hermione POV
Sungguh membosankan Ginny tidak masuk sekolah hari ini.
Aku duduk sendirian. Tapi aku tidak bisa menahan tawa jika Harry dan Ron kadang-kadang berebut pindah tempat ke tempat duduk Ginny, disampingku. Katanya agar aku tak kesepian. Haha ada ada saja. Tapi aku cukup terhibur dengan itu.
"Herm, kau yakin habis pulang sekolah kau mengerjakan tugas bersama seorang Draco Malfoy? Apa Krum tidak marah?." Kata Ron sambil mengaduk sup nya.
Kali ini sedang istirahat.
Sejuk.
Inilah yang ku rasakan. Sedaritadi hujan tak kunjung reda. Lumayan deras, tapi tidak ada kilat menyambar. Aku suka suasana seperti ini.
Aku, Ron dan Harry memesan sup dan segelas coklat panas. Sangat nikmat jika dalam kondisi seperti ini. Sungguh, nikmat sekali.
Ah aku hampir lupa. Aku kan nanti akan mengerjakan tugas bersama Malfoy berdua. Ah bodohnya kau Hermione dengan cepatnya kau mengambil kesimpulan kemarin untuk membagi-bagi tugas. Dan sungguh bodohnya kau berkesimpulan akan mengerjakannya berdua dengan Malfoy hari ini juga. Bagaimana jika nanti dia menciumku lagi? Ah sial. Tidak tidak. Jika dia berani dekat-dekat denganku hanya dengan jarak setengah meter, aku akan langsung menonjoknya. Awas saja.
"Tidak Ron, aku yakin dia mengerti. Dia dewasa Ron." Kataku.
"Ya aku juga yakin dia tidak akan marah. Herm, tapi kau harus berhati-hati dengan Malfoy." Kata Harry
"Aku bisa menjaga diri Har."
"Kalau dia sampai macam-macam denganmu-."
"Dia akan berurusan dengan Krum." Kataku memotong perkataan Harry.
Harry mengangguk
"Hei ngomong-ngomong aku ke toilet dulu ya, daah." Kata Ron yang langsung melesat pergi.
"Dasar. Aku kira cuaca saat ini mempengaruhinya." Kataku.
Aku dan Harry tertawa.
Sekarang tinggalah aku berdua dengan Harry.
"Eh Herm, kau tidak bersama Krum sekarang?." Tanya Harry kemudian.
"Tidak Har. Krum tadi mengirimiku pesan, katanya dia akan mengerjakan tugas yang merepotkan bersama kak Cedric sekarang. Masalah kelas XII." Kataku.
Harry mengangguk. Dia meneguk coklat panas nya.
"Eh itu dia Luna. Yah, sayang Ron sedang ke toilet." Kata Harry tiba-tiba ditengah suara hujan.
Luna? Apa dia yang dibicarakan Ginny kemarin?
"Luna? Siapa?." Tanyaku
"Itu dia Luna Lovegood kelas XI-1." Kata Harry sambil menunjuk gadis berambut pirang yang sedang duduk sendirian itu.
Ya ternyata benar.
"Oh apa kau menyukainya Harry?." Tanyaku lagi.
"Tidak. Tentu saja tidak. Bukan aku yang menyukainya Herm. Tapi Ron." Kata Harry
Huuuh. Aku menghela napas.
Ternyata dugaan Ginny selama ini salah. Ron yang menyukai Luna, bukan Harry. Seandainya Ginny ada disini, mendengar perkataan Harry saat ini, dia pasti senang bukan main.
Tapi aku tersenyum mendengar jawaban Harry.
'kau masih punya kesempatan Gin' batinku.
"Jadi sebenarnya kau menyukai siapa Harry? Aku sungguh penasaran." Kataku meledek.
"Ah kau Herm. Aku menyukai seseorang yang hebat. Kau pasti tahu nantinya." Kata Harry tersenyum.
"Hei, aku tidak tahu dia sudah kembali." Kata Ron tiba-tiba.
Nyaris Harry menumpahkan coklat panas nya saking kagetnya. Aku juga sekarang melotot kaget gara-gara Ron yang muncul tiba-tiba dan langsung berkata.
"Sorry sorry. Eh Har kau lihat itu? Itu Fleur Delacour, dia sudah kembali lagi?." Kata Ron sambil memandang sesuatu.
Aku dan Harry mengikuti arah pandangnya.
"Ron kau mengagetkan. Sayang Luna sudah pergi, kau terlalu lama." Kata Harry
"Apa? Tadi ada Luna? Yah." Kata Ron putus asa.
Harry mengangguk.
"Eh siapa Fleur Delacour?." Tanyaku bingung.
"Dia itu gadis keren Hermione. Dia cantik sekali juga sangat pintar. Dia kelas XII-8. Dan sekarang sepertinya dia baru kembali bersekolah di Hogwarts lagi. Beberapa bulan yang lalu, dia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar." Kata Harry.
"Oh jadi dia yang kau suka Harry?." Tanyaku sambil menyendok sup.
"Bukan. Bukan dia gadis yang aku suka. Dia terlalu sempurna untukku." Kata Harry.
Kami tertawa.
"Eh memangnya dia mengikuti pertukaran pelajar di sekolah mana?." Tanyaku.
"Di Akademi Chemistry. Aku tahu itu dari Fred dan George, sepupuku yang kembar. Dia bersekolah disana. Kau tahu Hermione? Mereka bertiga sahabat sejak SMP." Kata Ron.
"Wow kenapa mereka pisah sekolah kalau bersahabat?." Tanyaku lagi.
Sepertinya aku mulai tertarik pada topik gadis itu. Sungguh dia cantik bukan main. Tubuhnya juga sangat bagus. Aku berani bertaruh jika banyak lelaki yang mengincarnya. Apalagi tadi Harry bilang dia pintar. Wah perfect! Coba aku seperti dia hahaha aku terlalu berharap.
"Tapi tunggu. Apa kalian tidak tertarik dengannya? Kenapa kalian tak mencoba mendekatinya saja?."
Pertanyaanku sebelumnya belum dijawab oleh mereka, namun aku mengajukan pertanyaan lagi.
"Bloody Hell Hermione, hampir semua murid laki-laki di sekolah ini mengincarnya. Hampir semua sudah pernah menembaknya. Tapi semua ditolak." Kata Ron.
"Oh ya? Apa kalian sudah pernah mencoba?."
"Sudah Herm, kami iseng dan mencoba menulis surat cinta untuknya. Tapi tidak diterima." Kata Harry.
"Bahkan Draco Malfoy saja di tolaknya. Meski Fleur pernah mengizinkan si badboy itu menyiumnya." Kata Ron datar.
Ya Tuhan. Lagi-lagi Draco Malfoy. Ternyata benar. Aku menyukai orang yang salah. Sialan kau Draco. Sekarang aku yakin kau telah mencium hampir semua gadis di Hogwarts. Ya walau aku tak dapat memungkiri kalau ciuman lelaki itu memang memabukkan dan menghipnotis. "Ah sialan." Umpatku ketika mengingat aku tengah mencium nya beberapa hari lalu.
Enyahlah kau dari pikiranku Draco Malfoy!
"Oh kenapa dia menolak mereka kalau begitu?."
Lebih baik aku kembali bersuara dan membicarakan gadis cantik itu, daripada harus bergeliyat pada pikiranku yang selalu dan selalu saja meimikirkan badboy itu.
"Fred dan George bercerita padaku, kalau Fleur sangat mencintai satu lelaki. Dan hanya satu lelaki itu yang dicintai Fleur sejak kelas 1 SMP hingga saat ini. Dia cinta pertama Fleur." Kata Ron.
"Wow beruntung sekali orang itu. Siapa kira-kira ya?."
"Kakak mu Hermione. Kakakmu orangnya. Cedric. Fleur sangat mencintainya." Kata Ron.
Harry hampir tersedak coklat panas nya lagi.
Aku menatap Ron.
"Fred dan George juga berkata kalau Fleur menangis semalaman saat Cedric dan Cho berpacaran. Nah kenapa Fleur berpisah sekolah dengan Fred dan George saat SMA? Karena Fleur ingin satu sekolah dengan Cedric. Kata Fleur walau Cedric tidak pernah meliriknya sampai saat ini, tapi dia sudah sangat senang bisa melihat Cedric setidaknya walau diam-diam." Jelas Ron.
Aku dan Harry sama sama melongo.
.
.
*Di akhir pelajaran sekolah*
Masih hujan. Setidak nya sekarang hanya rerintikan air yang jatuh dari langit.
Aku menuju lab biologi.
Ketika aku membuka pintu… Draco Malfoy sudah ada disana. Bagaimana bisa?
"Kau terlambat dua menit Granger." Katanya.
Aku mendengus.
"Hei kemarin kau telat 10 menit saja aku tidak berkomentar." Kataku kesal
"Terserahlah. Sekarang darimana kita harus memulai?." Tanyanya to the point.
"Dari halaman belakang sekolah."
Dengan malas, Draco mengikutiku ke halaman belakang sekolah. Aku tak peduli dia malas atau tidak. Tugas adalah tugas. Dan rupanya tak sepenuhnya dia malas, buktinya dia datang lebih dulu daripada aku.
.
Kami menemukan sekelompok mawar merah yang segar disana. Rupanya hujan tadi memberikan kesan tersendiri untuknya. Beberapa tetes embun tergenang dan mengalir dikelopaknya.
Ah aku tidak boleh mengabaikan pemandangan indah ini.
Cekrekkk
Aku memfotonya menggunakan kamera ponselku.
Aku memutar mutar pandanganku. Oh Tuhan ini sungguh kebesaranMu yang paling indah. Aku memfotonya secara menyeluruh. Dari atas, kelopak, daun, hingga batang nya.
Cekrekkkk
Aku menengok ke asal suara.
Draco Malfoy sedang memfotoku menggunakan kamera ponsel nya.
"Apa yang kau lakukan Malfoy?."
"Apa kau tidak mau berfoto dengan mawar-mawar yang indah ini?." Tanyanya dingin.
Tentu saja aku mau. Jadi aku membiarkannya.
"Kalau begitu, fotolah aku menggunakan ponselku." Kataku. Aku menyerahkan ponselku kepadanya.
Dia mengambilnya.
Aku berpose dengan tersenyum.
"Ambil gambarku dengan mawar-mawar nya." kataku.
"Bawel." timpalnya kesal
Namun di tengah aku berpose, tiba-tiba dia berlari ke arah ku. Draco berdiri disampingku. Dia menggunakan kamera depan ponselku. Akhirnya terciptalah foto-foto antara aku dengannya. Dia memencet tombol nya setiap detik. Hingga banyak sekali bagian yang terfoto.
"Sudah cukup Malf—"
Cekrekkk.
Dia memfoto lagi. Sekarang aku terfoto dengan mulut membuka dan mata menutup.
Sial. Dia tertawa keras.
"Lihat Granger. Kau jelek sekali." Katanya, lalu tertawa lagi.
Aku merebut ponselku dari tangan nya.
Ya ampun tercipta 60 foto hanya dalam waktu tidak ada dua menit. Bagus Draco kau menyebalkan.
Aku melihat hasil foto-fotonya. Lumayan juga. Aku berfoto dengan Draco Malfoy dengan wajah ceria, tapi tunggu ada juga dengan wajah yang aneh, karena aku sangat suka berpose tentu saja, jadi semua dalam foto itu absurd. Terlihat juga difoto ini semua, Draco mengikuti gayaku. Saat aku hormat, dia mengikutinya. Saat aku menaikan alis, dia juga mengikutinya. Dasar. Tapi wow dibelakang dan disamping kami masing-masing, mawar merah mengelilingi kami. Sungguh background yang sangat indah. Dan di foto yang terakhir, aku sangat jelek. Draco memang menyebalkan. Tapi tak apalah, aku tidak jadi menghapusnya.
"Jangan memandang wajahku terus Granger. Nanti kau bisa sesak napas."
"Ha? Kau itu sangat percaya diri!." Kataku kesal.
"Sekarang kau ukur dan catat berapa tinggi mawar ini. Dan aku akan mengamati bagian daun dan yang lainnya, lalu akan aku catat." Kataku memerintah.
Aku melihat Draco walau dengan dengusan dan langkah kaki yang malas, tapi dia mengerjakan apa yang aku perintahkan.
'Apa yang membuat dia berubah seperti itu? Kata yang lain dia itu merepotkan jika urusan tugas, tapi tadi nyatanya dia datang lebih dulu daripadaku.' Batinku terus menerka
'Merepotkan memang, tapi yasudahlah. Untuk kali ini aku biarkan dulu mengikuti kata-kata Theo tadi.' Batin Draco
POV End
Draco POV
'Jika kau sungguh penasaran dengan gadis itu? Cobalah dekati dia. Nanti kau akan mengerjakan tugas biologi berdua saja kan? Datanglah. Dan cari tahu tentang gadis itu.' Kata-kata Theo masih terngiang dikepalaku.
Aku ini memang bodoh atau bagaimana? Tapi toh aku mengikuti perkataannya juga.
Memang sih dari awal aku kan memang penasaran dengannya.
Setidaknya aku akan menunggu kemana perasaan ini terarah. Aku juga masih belum merasakannya dengan jelas. Jika aku terus memikirkan nya dan terus memikirkannya hingga beberapa bulan kedepan, aku berjanji akan berubah. Aku berjanji akan merubah sikapku. Entahlah ini pikiran ku yang dapat dari mana.
Tapi setelah aku berpikir-pikir, aku ingin beranjak dewasa. Apa aku masih mau mempermainkan gadis-gadis? Umurku ingin menginjak 17 tahun. Kenapa menurutku aku yang lebih kanak-kanak dibanding Theo dan Blaise? Padahal usia kami sama. Apakah setiap orang yang ingin menginjak umur 17 tahun akan berpikiran yang sama? Lebih matang dan memandang masa depan? Aku belum memutuskan kebenarannya. Tapi aku akui Theo merubah pikiranku sekarang. Aku jadi tambah sering melamun.
POV End.
Hermione POV
Aku tengah mencatat dan mengamati mawar-mawar, begitu juga Draco Malfoy. Sesekali aku terduduk dibangku yang ada disana. Dan saat ini aku duduk dibangku sambil mencatat, Draco duduk disebelahku. Ah memang anak ini sangat tidak kreatif, selalu mengikutiku. Tapi sejujurnya aku sangat tidak keberatan. Duduk bersamanya membuatku…nyaman. Ha?
Kau ini kenapa Hermione?
Aku mengabaikan pikiranku pada akhirnya.
Setitik air jatuh membasahi kertas yang sedang aku tulis berbagai kata. Dan lama-lama titik-titik itu semakin banyak dikertasku.
"Hujan Granger! Apa kau bodoh? Cepat ke lab!."
Draco Malfoy berlari melindungi diri dari hujan. Aku mengikutinya berlari.
*Now Playing Bruno Mars - It Will Rain*
Setelah kami sampai ke lab, suara hujan semakin deras. Sangat deras dibanding tadi pagi. Aku duduk dengan lega pada akhirnya, Draco duduk disampingku.
"Ini catatanku Granger."
Draco menyerahkan catatannya, aku menerimanya.
Jarak kami semakin dekat, saat aku mulai menulis sesuatu dikertas Draco.
Draco mendekatkan jarak denganku.
"Jangan mendekat!." Kataku
"Galak. Aku hanya penasaran dengan apa yang kau tulis." Katanya
"Aku hanya menyalin catatanku ke catatanmu. Aku akan menggabungkannya." Kataku.
Bukannya malah menjauh, Draco malah semakin mendekatiku.
'Aku akan mencari tahu tentangmu Hermione.' Batin Draco
"Apa kau tidak menginginkannya lagi Hermione? Apa kau tidak menginginkan bibirku?." Draco berbisik menggoda ke telingaku dengan lembut.
PLAAKK
Aku memukul tepat kepalanya dengan buku.
"Menjauh dariku sekarang!" Perintahku.
"Sakit sialan." Katanya. Dia menjauh sedikit.
'Ternyata dia benar-benar galak.' Batin Draco lagi.
Aku kembali menulis. Aku merasakan dia memandangku terus. Agak risih sebenarnya.
Diluar masih hujan, semakin deras.
Aku merasakan tubuhku mulai kedinginan. Tangan kananku memegang tangan kiriku. Dingin. Semuanya dingin. Oh tidak. Aku lupa membawa jaket. Aku menghentikan kegiatan menulisku. Aku memeluk diriku sendiri sekarang.
Sial. Dingin.
"Aku tahu kau kedinginan." Katanya.
Oh Tuhan. Sekarang secepat kilat, Draco memelukku. Tidak, aku tidak mengelak. Aku merasa sedikit hangat. Draco mempererat pelukannya. Sial sekarang benar-benar hangat. Dia melepaskan jaket hitamnya dan memakaikannya ditubuhku. Dia memelukku lagi. Dia menyandarkan kepalaku di pundaknya.
Kenapa sih kau Draco? Kenapa kau selalu membuatku terhipnotis? Kenapa kau selalu melakukan hal yang penuh kejutan?
Aku tak berkutik sekarang.
"Kau tahu Granger? Aku menyukaimu." Katanya singkat dan jelas.
Aku diam seribu bahasa. Aku melepaskan pelukannya secara tiba-tiba. Aku menatap matanya. Aku berusaha mencari kebohongan disana, tapi tidak kutemukan. Matanya menampakkan keseriusan. Raut wajahnya juga mengekspresikan hal yang sama.
"Aku serius Granger. Semua yang kulakukan padamu, awalnya aku melakukannya semata-mata hanya tindakan biasa seperti yang ku lakukan bersama gadis lainnya. Tapi sejujurnya kau itu menggangguku."
"Aku tak bisa memungkiri bahwa setiap malam aku memikirkanmu. Entah aku tak tahu apa yang kurasakan. Tapi… inilah yang kurasakan. Kau sangat menggangguku. Kau selalu muncul dipikiranku. Dan sekarang, aku baru menyadari bahwa kau berbeda dari gadis lain. Sikap, sifat dan aura kau, mirip ibuku. Walau agak berbeda karena kau sedikit galak, tapi aku simpulkan kau itu 8 dari 10 dengan ibuku. Beberapa hari ini aku memperhatikan dan mencari tahu tentangmu diam-diam. Maaf."
Kata-kata Draco membuatku sesak napas.
"Aku tahu kau merasakan hal yang sama denganku." Katanya lagi.
Kali ini aku sama sekali tidak bisa bernapas. Kami bertatapan sangat dalam.
"A-aku sudah mempunyai-Krum." Kataku memecah kecanggungan yang terjadi.
"Dan aku masih belum yakin denganmu, maksudku kau-."
Perkataanku berhenti. Dia memegang kedua tanganku. Tangan kami dingin. Tapi aku merasakan kehangatan disekelilingku.
"Aku akan berubah. Aku berjanji. Hanya untukmu Hermione. Aku tidak peduli kau sudah memiliki Krum, tapi aku masih punya kesempatan. Dan kau masih memiliki pilihan untuk memilih siapa yang lebih pantas." Kata Draco
Aku melepaskan tangannya dengan paksa.
Apa apaan ini?
Apa ini benar dia?
Apa dia benar seorang Draco Malfoy si badboy?
Kenapa dia menjadi begini secara mendadak? Kepalaku sakit sekarang. Tidak. Aku yakin dia tidak berbohong mengenai apa yang dia katakan barusan. Karena… aku melihat mata kelabunya tak memancarkan sinar kebohongan.
"Ja-jangan mem-buatku bingung. Jangan-"
"Tidak tidak aku tidak akan membuatmu bingung Hermione."
Dia mendekati wajahnya ke arahku. Dia ingin menciumku lagi. Aku secepat mungkin menghindar. Aku berdiri. Dia juga berdiri.
"Stop jangan mendekat Draco!"
Dia menggenggam tanganku. Dia menatapku.
Sejujurnya aku bingung pada situasi seperti ini. Draco, tidak kah kau bisa mengerti? Aku bingung. Disisi saat ini, aku tak sanggup melihat mata kelabumu yang terus memohon untukku. Dan disisi lain, aku sudah memiliki Viktor Krum. Jadi kumohon Draco jangan paksa aku.
"Percayalah padaku Herm." Katanya lagi
PLAAAK
Aku menamparnya.
Aku melihat wajahnya. Sayu. Oh Draco sesungguhnya aku sangat tidak tega. Maafkan aku.
"Kalau kau ingin berubah, buktikanlah kepadaku! Aku tidak suka lelaki yang banyak mulut!."
Aku tak sadar, tapi suara hujan diluar terngiang ditelingaku. Aku mengikutinya. Mataku mengikuti awan yang mengeluarkan butiran air. Air itu sama-sama jatuh ke tanah. Aku menangis. Entah. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan dan aku tidak tahu apa yang aku pikirkan.
"Tolong Hermione jangan menangis…"
I'll pick up these broken pieces till I'm bleeding if that'll make you mine
Kata-kata Draco semakin membuat air mata ku deras.
Aku tak kuasa melihatnya. Aku tak sanggup melihat matanya. Dia memelukku lagi, tapi kali ini aku melepaskannya dan aku berlari dari lab membawa buku dan kertas ku. Berlari yang cepat dan kuharap aku tidak bertemu dengannya lagi saat ini.
Sementara Draco, dia merasa bingung. Kepalanya pening. Dia tak tahu apa yang dia lakukan, pikirkan, dan katakan. Semua serasa diluar kendali. Draco terduduk dilantai sambil memegang kepalanya dan menjambak-jambak rambutnya sendiri karena frustasi.
Cause there'll be no sunlight if I lose you, baby
There'll be no clear skies if I lose you, baby
Just like the clouds, my eyes will do the same
If you walk away everyday it will rain, rain, rain.
.
Aku tak peduli seberapa deras hujan. Yang kulakukan, aku menuju parkiran sekarang. Kuharap supir pribadiku telah menjemputku. Sebelumnya, aku telah memasukkan buku dan kertas-kertas ku ke dalam plastik agar tak sedikit pun yang basah terkena air hujan.
Aku basah kuyup sekarang. Aku berlari di tengah derasnya hujan. Aku masih menangis, mataku seperti awan itu yang menurunkan air hujan dengan deras.
Entah apa yang membuatku berhenti melangkah, tapi kurasa aku sudah sampai di depan parkiran.
Tidak kah Draco Malfoy mengerti?
Dia menyukaiku?
Apa aku juga menyukainya?
Apa aku mempercayai perkataannya tadi?
Aku sudah memiliki Viktor Krum.
Kau tahu perasaanku sekarang?
Ini rumit. Aku tak bisa menjelaskannya.
Aku terdiam menangis ditengah hujan yang deras ini. Aku tak tahu apa yang aku lakukan. Tidakkah ini baik menangis ditengah hujan lebat yang disertai beberapa kilat menyambar? Tentu saja tidak. Namun sekarang aku tidak memperdulikannya.
Tapi saat ini aku merasa ada hal yang janggal. Aku tidak merasakan butiran air hujan jatuh ke tubuhku lagi. Akhirnya aku mendongak ke atas. Sebuah payung.
"Kau kenapa Hermione? Kau sangat basah? Dan kau menangis?." Kata seseorang itu.
Kak Cedric.
Aku tidak menjawab. Aku menghapus air mataku yang turun lagi.
Kak Cedric memelukku.
"Siapa yang melakukan ini padamu?! Katakan padaku Herm!."
Aku merasakan kemarahan kak Cedric dari perkataannya. Tapi aku tetap diam saja. Air mataku semakin jatuh.
"Ayo kita pulang, kau basah kuyup." Kata kak Cedric.
Kak Cedric menuntunku ke mobil, aku mengikutinya.
"Hermione tunggu!."
Aku mendengar seseorang memanggilku. Pasti kak Cedric juga mendengarnya. Kami menoleh.
Draco Malfoy menerobos hujan. Tubuhnya basah seperti aku. Dia menghampiriku.
"Maafkan aku Herm." Kata Draco.
"Oh jadi ini semua gara-gara kau?."
BUUUKK
BUKKKK
PLAAAK
"Sudah kak cu-cukup!." Kataku berteriak. Aku tak kuasa melihatnya terkapar di tanah. Aku terisak kencang.
Aku melihat Draco tak berdaya lagi. Kak Cedric membuat wajahnya membiru dan mulutnya mengeluarkan darah.
"Apa yang kau lakukan pada adikku sialan! Jawab!"
Draco tak bisa menjawab pertanyaan kak Cedric. Untuk berdiri saja dia tidak sanggup. Aku membantu Draco berdiri.
"Untuk apa kau membantunya?!."
Kak Cedric menepis tanganku, dan menggandengnya.
"Ayo kita pulang."
Aku dipaksa memasuki mobil.
Sungguh aku tak kuasa melihatmu seperti itu Draco.
Maafkan aku.
.
Aku dan kak Cedric meninggalkannya di parkiran.
Meninggalkannya dengan kondisi luka.
Aku menangis sepanjang perjalanan.
Saat ini masih hujan. hujan. hujan.
Everyday it will rain, rain, rain.
TO BE CONTINUED.
Huaaaaa maaf kalau dramione nya kurang memuaskan-_-
Btw chapter 8 ini aku updated cepat karna kuota aku sudah mau habis-_-*plaak*hehe ada hubungannya sedikit yaa, soalnya kalau nanti kuota nya habis updated nya lama. Para readers kecewa deh-_- Hua tapi-emang ada yang peduli sama FF ini?*garuk-garuk tembok*
Sampai jumpa di chapter selanjutnyaaa:)
Tapi sebelumnya, thanks to:
rinakartika980, selvinakusuma1, fprisil, riskaka, novyfajriati, callagloxinia, Luluk Minam Cullen, Bella Elizabeth, mydraco, jessi, nana, MsMalfoy , AnastasiaR, Gkswj, Adellia Malfoy, Nisa Malfoy, aprilliadpratiwi5, 009001 yang sudah me-review cerita ini di chapter sebelumnya:)
Saran, kritik, dan komentar silahkan review yaaa:) aku lagi butuh suntikan semangat dari para review buat melanjutkan ke chapter selanjutnyaa:)
So, terimakasihhhhh:)
Salam.
