Disclaimer : J.K Rowling

Pairing : Hermione Granger – Draco Malfoy – Cedric Diaggory

Warning : Gaje, aneh, typo's dll

Rated : T

Happy Reading:)


Mawar Merah

By tikamalfrey

Chapter 9: 'Fleur Delacour'

Hermione POV

Yang kulakukan sekarang adalah berdiam diri dikamar. Pikiranku melaut luas. Setelah kejadian tadi, aku telah mengganti pakaianku yang basah dan aku juga sudah mandi. Aku mencoba memfreshkan pikiranku dari segalanya.

Sekarang pukul 6 sore.

Tokk tooook tookkk

"Hermione, kau belum makan sedaritadi. Aku tahu itu. Sekarang makanlah, ada sup hangat yang bisa menenangkan pikiranmu." Itu kata kak Cedric.

Aku hitung sudah 10 kali dia mengetuk pintu kamarku. Dan sudah 4 kali dia membujukku untuk makan dengan perkataan yang sama.

"Hermione, aku mohon. Tolong biarkan aku masuk untuk tahu keadaanmu. Kau tahu aku sangat khawatir." Katanya. "Hermione, tolonglah buka kan pintunya."

Aku sebenarnya tidak tega akan kak Cedric yang terus mendesakku untuk membuka kan pintu. Jadi, aku membuka nya dan membiarkan dia masuk.

"Hermione? Kau sangat buruk. Wajahmu sembab dan-."

"Kak, lebih baik kau duduk dulu." Kataku pelan sekali. Aku mengadahkan pandanganku ke arah kasur di ranjangku.

Dengan anggukan, kak Cedric mengikuti perintahku. Dia duduk di tepi ranjangku. Aku duduk disampingnya. "Kau membuatku lebih khawatir sekarang." Katanya. Aku menatapnya dengan pandangan kosong.

"Hermione, dengar ya. Aku ini kakakmu. Kau bisa saja menceritakan apapun masalahmu kepadaku. Aku dengan senang hati akan mendengarkannya." Katanya yang membuatku tersenyum tipis.

"Aku ingin bertanya satu hal kak."

"Apa yang ingin kau tanyakan?." Dia menatapku dengan raut wajah serius. *Kebayang kan muka Cedric serius gimana? Plaak*

"Apa kau pernah menyukai seseorang?." Tanyaku datar.

Kak Cedric tertawa sekarang. Oh bodoh nya aku sekarang. Bagaimana bisa aku bertanya se-polos itu. Bahkan dia kan sudah pernah berpacaran-_-

"Pertanyaanmu sangat tidak masuk akal Herm. Ya tentu saja aku pernah menyukai seseorang. Bahkan mencintai seseorang aku juga pernah." Katanya sambil terkekeh.

"Ehm—oke jangan tertawa seperti itu kak." Aku mendengus. "Apa kau mencintai Cho Chang?."

"Ya aku pernah mencintainya. Tapi—sekarang sepertinya tidak lagi karena dia sudah memiliki Percy Weasley. Jadi…untuk apa mencintai seseorang yang tidak mencintainya, ya kan?."

"Tapi tunggu. Kau ini mau curhat kepadaku atau mau meng-introgasi aku sih Herm?." Katanya datar. Aku yang terkekeh kali ini. Iya juga-_- aku kan ingin menceritakan masalahku, kenapa jadi menanyainya hal ini-_-

"Sudah jawab saja kak. Nah, sekarang apa kau sudah menemukan pengganti Cho?."

"Tidak semudah itu Herm. Tapi pacarmu itu dan juga Wood tentu saja mereka sudah menyarankan seorang gadis. Tapi- sebelumnya bukannya aku terlalu percaya diri atau bagaimana, agak risih sebenarnya semenjak aku putus dengan Cho, banyak gadis yang selalu memperhatikanku. Terutama murid se-angkatanmu." Katanya sambil merebahkan diri di kasurku.

"Oh kalau masalah itu, aku tidak kaget. Karena aku juga telah sadar kalau aku memiliki seorang kakak yang tampan."

Aku dan kak Cedric tertawa. "Ehm.. apa Viktor dan Wood menyarankan kau mendekati Fleur Delacour?." Kataku menggoda. Kak Cedric bangun dari posisinya. "Bagaimana kau bisa tahu? Apa Viktor mengatakannya padamu?." Dia menatap ku serius.

"Tidak kak. Aku hanya menebaknya. Oh jadi aku benar ya?-Ehmmm... boleh juga kau kak mendekati Fleur itu. Dia cantik, tubuhnya bagus, cerdas dan-."

"Stop. Sudah cukup Herm. Aku tahu memang perkataan orang-orang juga seperti itu. Sebenarnya aku rada bosan mendengar nya." Katanya. Aku mendengus mendengar perkataannya.

"Ah kalau nanti kau sampai tertarik tentang nya bagaimana?." Kataku menggoda. Dia melemparkan bantal ke arah ku. "Hei. Kenapa kau jadi balik menggodaiku Hermione?." Aku membalas lemparan bantalnya.

Ternyata lucu juga memiliki kakak seperti dia. Ah kak Cedric, aku rasa kau adalah kakak idaman semua gadis.

"Jadi cukup basa-basi nya oke-aku ingin tahu masalahmu sekarang." Katanya sambil menekankan satu per satu kata. Aku terdiam. Hening sebenarnya saat ini. Aku tahu kak Cedric menungguku untuk bicara.

"Ba—baiklah. Aku ingin bertanya lagi kak." Aku menghela napas panjang. "Apa kau pernah menyukai seseorang yang salah?."

Sekarang dia menatapku dengan sangat dalam.

"Kenapa kau bertanya hal itu kepada ku Hermione. Apa kau-menyukai-Draco Malfoy?."

SKAK MAT. Terkaan yang sangat bagus kak Cedric. Dia dengan tepat mengetahuinya sekarang.

"Ah—ak—aku—aku-."

"Jadi kau benar menyukainya Herm?."

Aku terisak. Aku berpikir sejenak lalu menceritakan awal kejadian ku bertemu dengan Draco Malfoy di lift kepada kak Cedric. Aku juga menceritakan kalau aku pernah menangis di dada nya di sebuah kamar mandi Hogwarts yang sepi, aku juga menceritakan kalau aku pernah-membalas ciumannya.

Air mata ku semakin banyak yang tumpah saat aku menceritakan itu.

"A-aku tahu-me-nyukainya itu salah. Untuk itu a-aku menerima Viktor untuk-bisa melupakannya kak." Aku terisak lagi.

"Hermione dengar aku, aku tidak suka kau mempermainkan perasaan sahabatku. Kau sudah memiliki Viktor. Dan—sekarang kau menyukai laki-laki tidak jelas seperti dia? Hermione dengar, dia itu lelaki yang tidak baik. Ya Tuhan. Kenapa sampai kau kepicut sih?!." Aku mendengar lafal perkataan kak Cedric yang naik turun.

Aku diam seribu bahasa sekarang walau masih terisak. "Kak Cedric a—aku tidak tahu. A—aku akan segera melupakannya kak. Aku tahu aku menyukai orang yang salah. Dan—maafkan aku kak. Aku akan mencoba mencintai Viktor.."

Dia memelukku. "Aku sangat tidak setuju kalau kau masih berharap pada badboy itu. Jangan harap meminta izinku untuk itu Herm. Dan-Ya Hermione, aku mengerti. Aku juga percaya kau dapat memilih yang terbaik."

"Sekarang aku mohon berhentilah menangis. Maafkan aku juga Herm. Aku begini karena untuk kebaikanmu." Sambungnya.

Aku melepaskan pelukannya. Pelukkan kak Cedric membuat aku merasa lebih tenang. "Sekarang, bisakah kak Cedric tinggalkan aku disini? Aku ingin sendiri kak." Kataku lirih.

"Ta—tapi. Kau belum makan Her-."

"Kak tinggalkan aku sendiri. Aku mohon."

Dengan anggukan kak Cedric bangun lalu meninggalkan aku sendiri larut dalam pikiranku saat ini.


.

Draco POV

"Ya ampun mate. Kenapa muka mu biru begitu?." Tanya nya

"Ini gara-gara kau Theo. Aku mengikuti perkataanmu."

Aku menceritakan setiap inchi dan secara rinci kejadian tadi. Sejak tadi aku tak sanggup berdiri di parkiran, untunglah penjaga sekolah Hogwarts Mr. Filch sedang baik padaku. Dia membantuku memasuki mobil, lalu memberiku sedikit obat merah. Untungnya juga dia sedang berbaik hati menyetirkan mobilku. Dia yang bertanya rumahku, langsung saja aku jawab tepat alamat rumah Theo. Ya walau rumah kami memang bersebrangan.

Aku di rumah Theo sekarang. Setelah dibantu lagi oleh Mr. Filch dan pembantu Theo, aku memasuki rumahnya. Aku duduk di ruang tengah, dan Theo langsung datang.

Sebelumnya aku berkata terimakasih pada Mr. Filch dan menawarkan bantuan pulang, tapi dia hanya berkata 'Tidak apa. Aku bisa naik taksi ke Hogwarts' ya jadi aku membiarkannya pergi.

"Kau sangat tidak beruntung ada Cedric itu." Katanya.

Aku memukul lengannya kencang karena setengah emosi.


.

Cedric POV

Kalau begini caranya dia bisa sakit. Ah apa yang harus aku lakukan? Aku berpikir sejenak. Ya sepertinya ada satu cara, jadi aku mengambil ponselku.

[Hallo]

[Percy, ini aku Cedric]

[Oh ada apa?]

[Bisa aku meminta nomor telepon Ginny?]

[Ah kau ingin mendekati sepupuku rupanya]

[Tidak Per, ini penting. Sungguh]

[Kau ini masih saja pengecut. Karena aku sekarang sedang berbaik hati, baiklah nanti aku sms]

Tutt tut

Aku mematikan ponselku. Sial. Masih saja dia mengataiku. Tapi kali ini aku menghiraukannya. Jika bukan untuk Hermione, aku tidak akan sudi menelpon dia. Ah tapi sudahlah. Untung si Percy itu masih baik telah membantuku. Dia telah mengirimiku pesan, ini nomor Ginny.

Aku menelponnya.

[Hallo Ginny]

[Ya?]

[Ini aku Cedric]

[Ah kak Cedric. Ada apa?]

[Apa kau dirumah?]

[Tentu saja]

[Aku ingin meminta bantuanmu Ginny, maukah kau membantuku?]

[Bantuan seperti apa kak?]

[Hermione mengurung diri dikamar, dia tidak mau makan sedaritadi. Aku sudah membujuknya berkali-kali tapi gagal. Aku khawatir dia sakit]

[Apa? Kenapa dia bisa seperti itu kak?]

[Nanti aku ceritakan. Dimana rumahmu? Aku akan menjemputmu sekarang Gin]

[Rumahku di Godric Residence kak]

[Baiklah tunggu aku disana]

Tuuutt.. aku menutup telpon nya. Sekarang aku bergegas mengendarai mobilku menuju Godric Residence.

.

*Godric Residence*

Setelah aku menjemput Ginny, sepanjang perjalanan menuju rumahku aku bercerita tentang kejadian saat Hermione menangis ditengah hujan. Dan Draco Malfoy penyebabnya.

Sepertinya Ginny mulai kesal dengan Malfoy, hingga saat aku ingin menceritakan kejelekan Malfoy lagi dia memotong perkataanku.


.

Hermione POV

Aku sedang melihat-lihat ponselku karena bingung, apa yang harus aku lakukan saat ini.

Tidak. Tidak. Aku melihat foto ku dengan Draco tadi di tengah hamparan bunga mawar merah yang sangat indah.

Dan—ah tidak tidak. Aku membanting ponselku ke kasur pada akhirnya.

Tookk tokk tokk

"Hermione, ada sahabatmu datang. Apa kau tidak mau membukakan pintu?."

Aku mendengar suara kak Cedric, lagi. Kemudian aku menghela napas

"Hermione ini aku Ginny."

Sekarang aku mendengar suara Ginny. Apa? Ginny?

"Herm, aku sungguh khawatir denganmu. Bolehkah aku masuk."

Aku bangun dari tempat tidurku. Lalu aku membuka pintu. Ya benar, ada Ginny di depan pintu bersama kak Cedric. Ginny memelukku. "Kau kenapa?." Tanyanya

"Oke aku mempersilahkan kalian." Kata kak Cedric, dia pergi dari kami berdua.

"Ceritakan padaku Herm." Kata Ginny

Aku menariknya masuk ke dalam kamarku.

Aku menceritakan sejak awal kejadian kerja kelompokku dengan Draco hingga akhirnya aku tiba dirumah. Aku menjelaskan perasaanku yang tak tahu kemana padanya.

"Herm, aku rasa kau sangat tidak baik memikirkan itu semua."

"Kau tidak usah membebankan Draco. Oke sekarang begini, jika dia berjanji akan berubah, mari kita saksikan beberapa hari bahkan bulan kedepan. Kau tidak perlu memikirkannya dalam, kau hanya tinggal menunggu menyaksikan saja. Kau sudah memiliki Viktor oke? Kau harus menjaga perasaannya. Jika kau benar menyukai Draco Malfoy? Kau harus lihat kedepannya dulu Herm. Sekarang makanlah. Aku mencemaskanmu. Terlebih kak Cedric."

Aku mengangguk menuruti kata-kata Ginny. 'Kak Cedric memang benar-benar kakak idaman. Dia sampai mendatangkan sahabatku untuk hal ini.' batinku. Aku tersenyum saat ini.

Tanpa mereka sadari, Cedric menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar.

.

Aku akhirnya menuju meja makan bersama Ginny, kak Cedric sudah berada disana. Kami makan bersama. "Syukur aku melihat kau menjadi sangat lebih baik Hermione." Kata kak Cedric.

Aku tersenyum. Kami memulai makannya.

"Oh iya Herm, apa kau ingin benar-benar melepaskan bebanmu? Sekarang baru pukul 7, bagaimana jika kita pergi ke dunia perempuan? Kau mau shoping Herm?." Ajak Ginny

"Apa shoping? Sekarang?." Tanyaku.

"Iyalah. Ayolah kak Cedric pasti mengizinkan. Iya kan kak?."

"Ehm bagaimana ya? Setelah ku pikir-pikir itu baik untuk memfreshkan otakmu. Baiklah tapi jangan pulang sampai lebih dari jam 10 malam. Karena besok kalian sekolah." Kata kak Cedric.

"Tuhkan aduh, kak Cedric memang sangat tampan." Kata Ginny memuji.

Kami tertawa.

Setelah selesai makan, aku mengganti pakaian. Pukul 7 lewat 15 menit aku dan Ginny memasuki mobil yang dikendarai supir pribadiku.

"Ingat kata-kataku." Kata kak Cedric mengingatkan.

"Baiklah kak Cedric yang tampan, kami akan mengingatnya kita pulang sebelum jam 10." Kata Ginny

"Aku akan selalu mengingatnya kakakku sayang." Kataku.

Kami tertawa lagi.

"Baiklah silahkan menikmati dunia kalian nona-nona manis." Kata kak Cedric

Aku dan Ginny melambaikan tangan kepada kak Cedric.


.

*Di Mall*

Aku dan Ginny menyusuri sudut demi sudut mall. Sudah banyak belanjaan yang kami bawa. Oh tidak aku sangat memasuki dunia wanita sekarang. Ginny membeli banyak pakaian. Dia juga membeli tas, ikat rambut, sepatu dan ah banyak. Sedangkan aku membeli rok, sepatu, dan pakaian.

Rupanya Ginny memang ingin membeli mall ini. Asal ada barang yang menarik sedikit saja dia langsung membelinya. Aku tertawa geli saat Ginny berkata 'Oh ini lucu, eh tapi yang ini juga bagus, apa yang ini ya? Eh ini jauh lebih oke'-_-

.

Rasanya pegal sekarang. Tak terasa sudah 2 jam kami memutari mal ini.

"Masih setengah 10 Herm, kita ke ruang singgah yuk. Pegal nih." Kata Ginny

Ya pegal, sungguh. Apalagi Ginny membawa seluruh belanjaan di kedua tangannya. Yang kulihat tangannya sangat penuh. Jadi aku memutuskan untuk bersinggah dulu. Rumah singgah itu berada di lantai dasar, kami menuruni lantai melalui lift. Setelah sampai Ginny langsung merebahkan tubuhnya.

"Oh disini nyaman. Aku rasanya ingin tidur."

Aku tertawa geli melihat tingkah laku Ginny. Bayangkan saja, dia melempar semua belanjaan yang berada pada kedua tangannya ke sofa. Berantakan. Jelas berantakan.

Ginny merebahkan tubuhnya ke sofa. "Gin, kau tahu? Aku sudah tahu si Luna itu." Kataku. Ginny yang mendengar perkataanku langsung bangun dari sofa. Dia menatapku.

"Dia Luna Lovegood kelas XI-1 kan?."

"Hermione, to the point." Kata Ginny tak sabar.

"Harry tidak meyukainya Ginn, dugaanmu salah." Kataku.

Ginny melotot. Sungguh ini pandangan yang menyeramkan melihat Ginny seperti ini.

"Tapi mengapa Harry mendekati nya? kau bercanda kan H-?

"Ron yang menyukainya Ginn, Harry mendekatinya karena Ron malu mendekatinya."

"Tapi mengapa Ron tidak menyuruhku saja? Kenapa harus Harry?."

"Kurasa cepat atau lambat Ron akan menyuruhmu mendekatinya Gin, aku percaya itu." Kataku tersenyum. Ginny tersenyum lebar. Aku tahu apa yang dipikirkan dia. Dia pasti amat sangat senang dugaannya meleset total.

"Permisi, apa kau melihat mantel disini sebelumnya?."

Aku mendengar perkataan seseorang. Sepertinya dia berkata kepadaku dan Ginny. Sotak kami menoleh. "Eh, kau Hermione Granger benar?." Kata gadis itu. Eh? Dia mengenalku? Oh Tuhan. Dia kannn… Fleur Delacour yang tadi aku Harry dan Ron perbincangkan.

"Ohiya. Darimana kau tahu namaku?." Tanyaku.

"Kau murid baru di Hogwarts kan? Kekasih Krum dan adik Cedric. Beritanya telah sampai ke telingaku." Katanya tersenyum.

"Aku Fleur Delacour." Katanya memperkenalkan diri. Sesungguhnya aku sudah tahu siapa dia.

"Dan eh kau bersama Ginny Weasley? Hai Ginny." Katanya lagi.

"Hai kak Fleur." Sapa Ginny

"Fleur saja untuk kalian berdua." Timpalnya.

Kami tertawa.

"Fleur, ngomong-ngomong soal mantel jujur kami tidak melihatnya saat kami datang."kata Ginny

"Oh yasudahlah, aku benar-benar lupa. Yang kuingat tadi aku terakhir ke tempat ini. Tapi tak apalah." Kata Fleur.

"Apa kau mau bergabung dengan kami?." Tawar ku ramah.

"Oh bolehlah." Katanya

Kami duduk bertiga disofa. Fleur duduk dihadapan aku dan Ginny. Fleur sangat asik. Dia juga ceria. Aku menyukainya, dia selalu memberi topik yang membuatku dan Ginny betah. Tak kusangka kami menjadi akrab hanya dalam hitungan beberapa menit saja.

"Disini kalian rupanya. Ini dia yang aku khawatirkan, kalian benar-benar lupa perkataanku."

Aku mendengar perkataan seseorang itu, suaranya berat dan-ya ampun kak Cedric.

Ya ampun aku dan Ginny benar-benar tak ingat waktu. Fleur membuat kami sangat betah disini.

"Sekarang sudah jam setengah 11, Hermione, Ginny." Katanya lagi.

"Belanjaan kalian sungguh banyak." Sambungnya.

Aku dan Ginny hanya meringis.

.

Fleur POV

Ya Tuhan, aku bisa melihatnya sangat dekat denganku.

Ya Tuhan aku bisa merasakan hembusan napas nya hanya dengan tatapan.

Ya Tuhan dia sangat tampan.

Cedric kau…

"Eh kau Fleur Delacour?." Tanyanya

DEG

DEG

Ya Tuhan aku tak pernah merasakan rasa bahagia seperti sekarang. Dia berbicara denganku. Jantungku berdetak sangat cepat. Bernapaslah Fleur.

"Iya maaf, kami tadi tak sengaja bertemu. Dan maaf Cedric tadi kami sampai lupa waktu." Kataku. Karena aku merasa tidak enak jadi aku meminta maaf padanya.

"Iya yasudah. Sudah larut. Ayo kita pulang Herm, Gin." Katanya.

.

Hermione POV

Aku, Ginny, kak Cedric dan Fleur menuju parkiran.

"Herm, Gin dan Ced aku duluan ya." Kata Fleur.

Aku dan Ginny melambaikan tangan padanya. Sementara kak Cedric tersenyum simpul.

"Kau membawa mobil Fleur?." Tanya kak Cedric.

"Tidak tadi aku kesini bersama temanku, sekarang dia sudah pulang karna ada urusan." Kata Fleur

"Eh jadi kau dijemput supirmu?." Tanya Ginny

"Tidak. Supirku sedang cuti, dia ke kampung halamannya di Skotland." Kata Fleur.

"Eh jadi kau bagaimana bisa pulang?." Tanyaku.

"Aku akan naik bus umum saja, kebetulan rumahku tak terlalu jauh dari sini." Fleur tersenyum.

"Jauh atau tidak ini sudah malam Fleur." Kata kak Cedric.

"Yasudah kak Cedric membawa mobil sendiri kan? Antar Fleur kalau begitu. Nanti aku akan membawa Ginny pulang ke rumahnya." Kataku.

Aku dan Ginny tersenyum lebar

'Eh aku akan diantar Cedric? Ehm ya Tuhan aku tidak tahu harus berkata apa.' Batin Fleur.

Aku mengedipkan mataku kepada kak Cedric. Aku melihat dia sedang menelan ludahnya.

"Yasudah, ayo Fleur."

Kak Cedric menggandeng Fleur. Aku tersenyum. Sepertinya Fleur tidak bisa bernapas. Aku membaca ekspresinya. Aku melihat Ginny juga tersenyum.

.

Akhirnya Fleur dan kak Cedric memasuki mobil. Fleur melambaikan tangan padaku dan Ginny, kami membalasnya.

"Kau tahu Herm, Fleur sangat mencintai Cedric." kata Ginny saat mereka berlalu.

"Aku sudah tahu dari Ron, Gin." Kataku.

"Oh ya? Jadi Ron sudah memberitahumu rupanya. Ehm ah ya Herm, bahkan aku tadi bisa melihat Fleur gugup saat Cedric menggandengnya." Kata Ginny

"Ya. Aku juga melihatnya."

Kami tertawa.


Fleur POV

Saat ini saat paling indah sepanjang masa. Inilah pendapatku sekarang. Tak kusangka Cedric mau mengantarku pulang. Aku duduk disampingnya. Sesekali aku melirik ke arah nya. Sungguh dia tampan bukan main. Apalagi saat dia menyetir mobilnya, aku melihat wajah seriusnya. Dan itu wow tampan. Kau bisa membayangkan wajahnya.

"Dimana rumahmu Fleur?." Tanyanya mengagetkanku.

"Di beauxbatons Ced."

"Hei Fleur itu tidak begitu dekat."

"Maaf Ced, aku tidak memintamu untuk mengantarku. Maaf. Kau bisa menurunkanku disini, aku akan melanjutkannya dengan bus." Kataku gugup. Sungguh aku sangat tidak enak.

"Tidak. Aku akan mengantarmu."

Perkataannya membuatku sulit bernapas sekarang.

Sudah hampir jam 11. Jalan sudah sepi. Aku sudah mulai mengantuk. Perjalanan ini membuatku-tertidur.

.

Cedric POV

"Fleur kita sudah sampai di Beauxbetons, dimana rumahmu sekarang?." Tanyaku.

Aku merasa dia tak merespon pertanyaanku. "Fleur?."

Aku melihat ke arah nya. Dia tertidur pulas. Ya Tuhan bagaimana bisa aku mengetahui rumah nya saat ini? Jika aku membangunkannya, sepertinya jangan. Aku tidak tega, rasanya tidurnya sangat lelap. Aku memustuskan untuk turun dari mobil lalu bertanya pada petugas penjaga komplek.

"Rumah nomor 24 dengan cat biru dan ada pohon cemara didepannya." Aku mengingat perkataan petugas itu.

Aku segera membawanya menuju rumahnya. Setelah beberapa menit aku menemukannya. Rumah ber cat biru, ada pohon cemara didepannya, dan bernomor 24. Ini pasti rumahnya.

Kini mobilku sudah berada didepan pagar rumahnya.

"Fleur, kita sudah sampai." Kataku.

Aku menggoyangkan sedikit badan Fleur.

Hanya desahan tidak jelas yang melantur dari bibirnya. Sepertinya dia sangat lelah.

Jarak ku dengan nya sekarang dekat sekali. Aku baru menyadari perkataan murid lelaki lainnya yang berkata kalau Fleur seperti seorang bidadari. Aku mengatakan hal itu benar sekarang.

Sejujurnya aku tidak pernah beranggapan seperti itu sebelumnya. Aku menganggapnya biasa saja. Namun sekarang sepertinya aku menyadarinya. Dia cantik, sangat cantik. Walau dia hanya memakai baju berwarna putih sederhana dengan rok coklat selutut. Tapi dia ya menurutku menarik.

'Ah Cedric kau ini apa-apaan? Kenapa kau terus memandangnya?.' Batinku selalu berteriak.

Tapi aku masih memandangnya.

Kenapa perasaanku jadi begini? Entah saat aku membelai lembut pipi dan rambutnya, seperti ada kupu-kupu yang ingin bebas dari dalam perutku. Ah ini benar-benar. Tubuhku telah bergerak tanpa perintah.

'Lebih baik aku cepat membangunkannya, daripada aku bertindak dan berpikiran yang semakin tidak-tidak' batinku kembali berteriak.

"Fleur…" kataku lagi

"Fleurr…"

"Fleurr bangun kita telah sampai."

Dan sukses. Dia bangun sekarang. Wajahnya masih mengantuk, aku melihatnya. Matanya juga masih sayu.

"Cedric, terima kasih banyak." Katanya.

Dia berdiri mencapai pintu mobil lalu membukanya, dan keluar. Aku melihat dia hampir jatuh saking mengantuknya mungkin. Akhirnya aku keluar.

"Fleur, kau benar-benar mengantuk."

Jadi aku menggendongnya memasuki rumah.

"Ced, kau menggendongku?."

"Ya, lebih baik daripada nanti kau terjatuh." Kataku.

'Ya Tuhan… aku tidak bernapas sekarang saking sesak nya. Ced, aku mencintaimu.' Batin Fleur.

Apa yang aku lakukan sekarang membuat lidahku kelu. Aku tak mampu berkata apapun. Tanganku juga bahkan gemetar saat ini. Menggendongnya membuat tanganku gemetar. Aku memasuki gerbang yang dibuka kan oleh penjaga rumahnya. Aku melewati taman, dan aku membuka pintu rumah lalu membaringkannya disebuah sofa.

Aku rasa sudah cukup.

"Ced terima kasih banyak." Katanya tersenyum. "Kau baik sekali." Sambungnya.

"Iya Fleur. Sekarang aku akan pulang." Kataku. Aku berbalik dan memegang kenop pintu.

"Ced." Aku menoleh.

"Hati-hati." Kata Fleur

Aku tersenyum mendengar ucapannya.

Kali ini entah agaknya aku kurang waras. Tapi entah aku juga merasa ini semua kemauan dalam dari lubuk hatiku. Apapun itu aku merasa senang. Sekarang.


TO BE CONTINUED

Thanks to:

Secretly D Ar, rinakartika980, Luluk Minam Cullen, Novyfajriati, callagloxinia, Lilyan Florence, Nisa Malfoy, fprisil, DraconisSun, shaula malfoy, Afadh, Adellia Malfoy, mydraco, zen, Immortal girl, Mata48, klassgranger, MsMalf, devinatasy, Victory Agatha yang sudah me-review di chapter sebelumnya::)

After read, don't forget to review:)

Thanks before,

Salam