Disclaimer : J.K Rowling

Pairing : Hermione Granger – Draco Malfoy – Cedric Diggory

Rated : T

Happy Reading:)


Mawar Merah Chapter 11

Hermione POV

Setelah lulus, kak Cedric melanjutkan kuliahnya di Oxford bersama Fleur.

Krum di Bulgaria, Wood di Perancis.

Cho berpacaran dengan Percy yang kudengar akhir-akhir ini. Mereka kuliah di Cambridge.

Sebenarnya ayah telah meminta kak Cedric untuk kuliah di Amerika. Tapi kak Cedric tak ingin meninggalkanku dirumah sendirian. Dan ayah mengerti.

.

Aku telah memasuki kelas XII-9 sekarang.

Saat saat kelas XII memang saatnya serius untuk belajar. Untuk mendapat nilai kelulusan yang maksimal, aku harus giat belajar. Keadaan kelas masih tak begitu berbeda dibanding tahun lalu. Hanya beberapa hal yang berbeda. Seperti lebih tenang, lebih serius. Yang paling luar biasa berbeda adalah Draco Malfoy sudah mau berbaur dengan semua murid sekarang. Kami jadi sering mengobrol. Dia juga menjadi selebritis di Hogwarts terlebih tahun lalu, karena sekarang adik kelas perempuan mengincarnya semua.

Semenjak kelulusan kak Cedric kemarin, sekarang semua terasa abstrak. Aku menilai langkahku selama ini di Hogwarts berjalan mulus, 9 dari 10 itu nilaiku. Tahun kemarin aku berhasil mengalahkan Draco Malfoy dalam prestasi kelas, bahkan bukan hanya kelas tetapi juga se-Hogwarts. Ya walau Draco masih menempati peringkat kedua dibawahku.

Sekarang agar penilaianku di Hogwarts terasa sempurna dan sangat mulus, aku harus merubah nilaiku menjadi 10 dari 10. Aku harus menjadi yang terbaik di angkatanku. Aku harus lulus dengan nilai maksimal. Untuk itu, aku giat belajar sekarang. Karena yang lebih penting, ujian akan dimulai beberapa hari lagi.

"Awas jika nilaimu buruk dalam pelajaran kimia, aku akan memenggal kepalamu."

Itu kata professor Snape kepada Ron-_-

Ya sekarang sedang ada pendalaman materi kimia. Sedaritadi Ron masih belum mengerti mengenai penjelasan prof. Snape. Itu yang sukses membuatnya murka. Wajah Ron berpandangan ngeri saat prof. Snape berkata seperti tadi.

"Bagaimana ini jika nilai kimia ku jelek, aku akan mati." Bisik Ron kepadaku.

"Kau harus serius Ron." Kataku. Ginny menggeleng.

Untuk pelajaran kimia aku akui, aku selalu kalah oleh Draco kalau dalam kelas prof. Snape. Entah, dia sangat menjadi murid kesayangan emas nya. Terkadang walau sebal dia dapat mengalahkanku, terkadang pula aku dapat menerimanya.

"Kurasa bukan hanya kau yang akan mati Ron." Kata Neville.

Aku tertawa pelan. Ron sama Neville kan tidak bisa kimia-_- terlebih yang mengajar prof. Snape yang sangat galak. Saat prof. Snape memasuki kelas saja, wajah mereka sudah pucat. Terlebih pelajarannya sulit, dan mereka ketakutan karena tidak bisa-_-

.

Beberapa hari kemudian saat ujian berlangsung, aku bersyukur karena segalanya berjalan lancar. Aku rasa aku dapat menyelesaikan soal-soal ujianku dengan tenang.

Entah apa yang aku rasakan saat ujian semuanya telah aku lalui. Lega? Pasti.

"Hermione, kau akan pergi ke pesta dansa kelulusan bersama siapa?." Tanya Harry.

Oh. Aku lupa setelah ujian kan, ada pesta dansa beberapa minggu lagi. Dan aku belum membeli gaun. Tunggu, pergi dengan siapa saja aku belum tahu-_-

"Aku belum tahu Har. Belum ada yang mengajakku." Kataku datar.

"Ya Herm. Tapi aku yakin Draco akan mengajakmu." Katanya menggoda

Saat ini aku dan Harry berada di perpustakaan. Aku tak sengaja bertemu Harry. Harry bilang, dia perlu mencari artikel tentang olahraga karena tugasnya yang lalu belum usai. Dasar malas.

"Kita lihat nanti Har. Tapi kau akan pergi bersama siapa? Ginny lagi eh?."

"Kurasa kau tak perlu jawaban Hermione." Katanya. Aku tersenyum.

Ah Ginny sangat beruntung memiliki Harry. Dia itu logis, romantis, dan realistis. Ah kali ini aku yang iri pada Ginny. Harry menganggap Ginny sebagai salah satu bidadarinya. Dan Harry juga pernah bilang padaku bahwa dia sudah memiliki dua bidadari hingga saat ini. Ya aku ingat betul, dia baru mengatakannya kemarin. Tentu saja bidadarinya itu ibunya dan Ginny. Dan yang aku sungguh iri pada Ginny, dia diperlakukan sebagai bidadari pula oleh Harry.

"Hermione, aku sudah dapat artikelnya. Aku ingin menyerahkannya, sampai nanti." Kata Harry.

Aku mengangguk. Dia pun berlalu pergi.

Seperti biasa, aku sering duduk dipojok sudut perpustakaan di balik jendela. Aku sering duduk sambil membaca. Karena disini tenang, aku juga pernah tertidur. Dan—aku akui sekarang pun aku mengantuk.

"Tidak mencoba untuk tidurkan Granger?."

Aku kaget lalu menoleh ke asal suara. Baru saja aku akan berlarut ke alam mimpi, tapi sayang itu gagal. "Kau mengagetkanku Malfoy." Kataku sinis.

Walau dia telah berubah sekarang dan dia menjadi orang yang asik diajak mengobrol. Tapi tetap saja dia menyebalkan menurutku.

"Tak usah kau bilang aku juga tahu kau kaget." Katanya datar.

Dia duduk dibangku sebelahku.

"Tak ku sangka hari berlalu lagi ya Granger, kita sudah mau lulus." Katanya.

"Hei. Aku tak mengizinkan kau duduk disampingku." Kataku. Aku sedikit menekan mataku. Sekarang entah aku sedang ingin marah. Terlebih tidurku diganggu.

"Kau galak sekali, sepertinya kau sedang PMS."

"Ya terus kenapa? Sekarang kau cari saja bangku lain sana."

"Tidak mau."

"Ini wilayahku." Kataku kesal.

"Tak kusangka kau memiliki kerajaan Granger."

"Ya cepat pergi sana dari kerajaanku. Aku tidak suka ada yang memasuki wilayah kerajaanku."

"Tidak. Aku ingin menjadi raja nya."

Ya ampun, perkataan apa yang keluar dari mulutnya itu. Dia sama sekali tidak bisa dibantah.

"Aku juga ingin kau menjadi ratunya." Sambungnya.

Sekarang mataku melotot. Aku mendorongnya agar menjauh, tapi tidak bisa. Dia sangat kuat. Aku rasa dia telah menancapkan paku pada kakinya agar dia tak bisa beranjak.

"Granger."

Aku mendengar dia berbisik memanggilku. Suaranya seksi dan lembut. Dia membelai rambutku.

"Hei kau ini apa-apaan sih? Ini perpustakaan jangan sampai aku meneriakkan kau ke petugas perpustakaan!." Kataku mengancam.

Untung kami berada disudut perputakaan yang paling ujung. Aku rasa tak ada yang mendengar ucapan kami. Terlebih sekarang sepertinya tak ada orang selain aku, Draco dan petugas perpustakaan yang ada di tempatnya menjaga.

Bukannya dia pergi, dia malah mendekatkan diri ke arahku. Sekarang kami sangat dekat. Dan aku rasa Draco menjepitku sekarang. Aku diapit dia dan dinding keras perpus. Sial. Ingin keluar tapi susah.

Draco menghadapkan tubuhku agar sehadap dengannya. Sekarang kami bertatapan. Dia merapikan rambutku yang berada di wajahku. Aku sudah sangat lama tidak melihatnya dari dekat. Aku menatap mata, alis, hidung, dan bibirnya.

Aku tak bisa berpaling dari tatapannya.

Dengan lembut aku memegang pipinya, mengelusnya perlahan. Aku mendekatkan wajahku. Hingga wajah kami sangat dekat, aku merasakan lagi hembusan napasnya yang berat setelah sekian lama. Aku menutup mataku perlahan. Aku mengarahkan bibirku mendarat ke bibirnya. Aku menciumnya. Dan nampaknya Draco juga menyambut bibirku dengan ramah. Kami berciuman dengan lembut. Setelah sekian lama kami tak merasakannya. Ciuman ini semakin lama semakin dalam. Aku menikmatinya. Aku juga merasakan Draco menikmatinya.

Dia memegang pinggangku, aku membelitkan kedua tanganku pada lehernya. Setelah kami mulai kehabisan napas, kami belum melepaskannya.

Dia membelai punggung dan perutku dengan lembut.

Aku menjambak rambut pirangnya pelan. Tak ku sangka aku mendesah tak tertahan. Draco yang mendengarnya kembali memperdalam ciuman ini.

Hingga kami benar-benar kehabisan oksigen, kami berhenti melakukannya.

Hening sejenak.

"Hermione, apa kau ingat kami berbincang tahun lalu saat di pesta dansa kelulusan kakakmu?." Kata Draco sambil mengatur napasnya.

"Tak semuanya Draco."

Kami masih dalam posisi yang sangat dekat. Wajah kami masih sangat dekat. Aku masih melilitkan tanganku ke lehernya. Dia juga masih mengelus pelan punggungku.

"Pasti kau ingat saat aku berkata: tahun ini kakakmu dan Fleur yang menjadi pasangan paling serasi, tahun depan giliran kita. Apa kau ingat yang itu?." Katanya

"Itu satu-satu nya perkataanmu saat itu yang masih aku ingat."

"Aku ingin, kita menjadi pasangan saat pesta dansa kelulusan nanti, Hermione." Katanya sangat lembut. Dia mengelus pelan pipiku. Aku tak bisa menyembunyikan senyum.

"Ya Draco, aku juga menginginkannya."

Setelah itu, aku melepaskan tanganku di lehernya. Dan dia melepaskan tangannya dari punggungku.

Draco berdiri dan mengambil buku, lalu membacanya disampingku. Aku melihat wajah seriusnya saat membaca. Sangat sangat tampan.

Aku juga mengikutinya membaca.

Aku menyenderkan kepalaku ke bahu nya sekarang.

Saat semilir angin datang dari balik jendela, mereka tak sadar bahwa detak jantung mereka sama-sama kencang terdengar


*Saat hari pesta kelulusan tiba*

"Kemana pasanganmu? Kenapa belum menjemput?."

Itu kata kak Cedric. dia sudah beberapa kali menanyakannya. Sungguh dia sangat was-was kepadaku sekarang. Dasar kakak, padahal aku juga belum selesai merias wajahku.

"Belum kak, sekarang masih jam 18.00. Pesta nya mulai jam 20.00. Lagipula aku juga belum selesai merias." Kataku.

"Tapi Herm, jarak rumah kita kan jauh dari sekolah. Lihat saja jika pukul 7 si Draco Malfoy belum datang, aku yang akan mengantarmu." Katanya kesal.

"Kak, sebentar lagi dia datang. Dan kakak pastinya harus ikut juga."

.

Teett. Bunyi klakson mobil.

"Itu dia datang." Kata kak Cedric

"Tuh kan, aku bilang juga apa kak. Ayo kita keluar."

Setelah selesai berhias, aku dan kak Cedric keluar. Tapi sungguh sangat chemistry sekali karena tepat ketika aku selesai berhias, Draco datang.

Kak Cedric keluar lebih dahulu. Aku mengikutinya keluar dari belakang.

POV End


*Now Playing Taylor Swift – Today Was A Fairytale*

Normal POV

'Ya Tuhan, apa ini benar dia? Tak ku sangka dia 10 kali lebih cantik dan anggun dari yang aku bayangkan.' Batin Draco kian berbicara.

Today was a fairytale, you were the prince

Hermione memakai gaun berwarna biru yang sangat pas dengan tubuhnya. Lengkukan-lengkukan gaunnya membuat yang memakai seperti seorang putri dari negri dongeng.

You took me by the hand, and you picked me up at six

Today was a fairytale

Today was a fairytale

Draco tak berkedip melihatnya.

.

Sekarang Draco tengah menggenggam tangannya. Entah rasanya lidahnya seketika sangat kelu untuk berkata.

Today was a fairytale, I wore a dress

You told me I was pretty when I looked like a mess

"Kau sangat cantik Hermione." Katanya sedikit gugup.

Hermione tersenyum lebar mendengarnya. "Terima kasih. Dan... kau sangat tampan Draco."

Draco menggenggam tangannya erat. Hermione kembali tersenyum.

"Hei hei kalian melupakan ada aku disini?." Kata Cedric.

Oh ya tentu saja mereka lupa kalau ada dia disini.

"Sorry Ced." Kata Draco. Kemudian mereka terkekeh.

"Ah baiklah. Kau jaga adikku. Jangan sampai kau tinggal dia, apalagi kau sakiti." Kata Cedric.

"Tentu."

"Ingat Draco, aku datang ke pesta kelulusan kalian. Kalau sampai kau sakiti adikku. Aku akan menonjokmu lagi sampai berdarah."

Draco meringis mendengar ucapannya. Dia mengingat kejadian saat hujan dulu waktu Cedric menonjoknya di parkiran hingga tubuhnya tak berdaya.

"Kak sudah. Draco tak mungkin menyakitiku. Sekarang aku akan berangkat dengan Draco. Kau jemput Fleur sana, jangan sampai dia terlalu lama menunggu." Kata Hermione.

"Baiklah kau ingat Draco!." Katanya lagi.

Draco hanya mengangkat jempol ke arah nya. "Ayo Hermione kita berangkat."

Mereka memasuki mobil dan kemudian berangkat menuju Hogwarts. Draco mengendarai mobil dengan pelan. Sebenarnya mereka sangat menikmati waktu ini. Berdua dengannya, hanya berdua.

"Kenapa pelan sekali Draco?." Tanya Hermione

"Agar kita sampai belakangan dan semua heboh melihat kita." Kata Draco sembari tersenyum.

"Sangat tidak kreatif. Kau mengikuti kak Cedric tahun lalu." Katanya sebal.

"Tapi proses nya berbeda Herm."

It must have been the way

Today was a fairytale

It must have been the way

Today was a fairytale

.

Hermione POV

Setelah sekian lama Draco mengendarai mobil, akhirnya kami sampai. Aku juga menikmati perjalanan tadi. Sepanjang perjalanan kami yang sangat panjang, kami mengobrol dan bergurau bersama.

Draco, kau membuatku- nyaman.

"Kita sudah sampai Hermione." Katanya tersenyum.

You've got a smile that takes me to another planet

Every move you make, everything you say is right

Today was a fairytale

Dia menggenggam tanganku sekarang.

Sentuhan nya seperti biasa, lembut dan hangat.

Kami berada di parkiran sekarang, namun belum keluar dari mobil.

Time slows down whenever you're around

I can feel my heart, it's beating in my cheast

Did you feel it? I can't put this down

Dia menciumku singkat. Aku sangat menikmati sapuan bibirnya.

But can you feel this magic in the air?

It must have been the way you kissed me

Fell in love when I saw you standing there

Today was a fairytale

Dia melepaskan ciumannya, lalu keluar dari mobil. Dia membuka kan pintuku dan menyambut tanganku. Namun…..

.

"Astaga Draco, lihat jam 8! Kita telat!." Kataku kelabakan.

Aku melihat jam dinding di parkiran Hogwarts tengah menunjukkan pukul 8. Mobil disini juga sudah sangat penuh. Astaga. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kami sampai se-telat ini.

"Santai saja Herm."

"Ta—tapi Dracoo.."

Dia mengusap punggungku. Sekarang aku dan Draco berjalan menuju aula Hogwarts.

"-kita akan mengetahui bersama siapa pemilik nilai tertinggi tahun ini."

"Draco, kita telat! Itu suara prof. Dumbledore sudah terdengar. Dia sudah menyampaikan pidatonya. Gawat!." Kataku panik.

Aku dan Draco mempercepat langkah menuju aula.

"Pemilik nilai tertinggi tahun ini adalah Mr. Draco Malfoy dan Miss Hermione Granger!-."

BRAKKK

Perkataan prof Dumbledore terpotong karena pintu aula terbuka lebar.

Aku dan Draco memasuki pintu aula. Semua mata tertuju pada kami. Aku menelan ludah lalu menggenggam erat tangan Draco. Setelah sekian lama kami berada pada situasi seperti ini. Tiba-tiba prof. Dumbledore memberikan tepuk tangan yang nyaring. Sekarang aula bergema. Semua bertepuk tangan. Riuh. Sangat ramai. Situasi semakin mencekam untukku dan juga Draco.

"Selamat untuk kalian berdua, Mr. Malfoy dan Miss. Granger kalian mendapat nilai tertinggi di Hogwarts tahun ini dengan nilai kelulusan sama." Kata prof Dumbledore.

Riuh tepuk tangan semakin ramai.

Blushing? Ya. Mungkin itu yang aku dan Draco rasakan. Aku mendapat nilai tertinggi se-angkatan dengan nilai sama dengan orang yang aku cintai?

Aku dan Draco masih diam tak berkutik.

Banyak murid yang iri akan kedatangan kami berdua karena sepertinya kami—ya best couple pesta kelulusan tahun ini. Bahkan aku sempat mendengar beberapa gumaman dari para murid perempuan lain.

'Ah mereka benar-benar so sweet.'

'OMG. Kenapa my prince di ambil….'

'Ya Tuhan Draco tampan sekali….'

'Eh tapi dia sudah punya pacar.'

'Eh tapi aku rasa mereka cocok.'

'Ya sangat cocok. Kau dengar tadi mereka berdua mendapat nilai kelulusan yang sama.'

'Memang kalau jodoh tak akan kemana.'

'Lagipula mereka berdua memang seperti prince dan princess saja ya. Ah aku iri:(.'

'Iya aku juga iri:( Mereka tampan dan cantik. Ah sangat serasi.'

.

"Sekarang kita mulai pesta dansa nya." Sambung prof Dumbledore kemudian.

Musik dansa telah dilantunkan.

Aku dan Draco menuju arah tengah aula dan berdansa. Kami sangat menikmati setiap detik momen bahagia ini. Sembari berdansa, aku juga melihat Ginny dengan Harry juga Ron dengan Luna.

Tunggu? Ron? Bagaimana dia bisa dekat dengan Luna?

Ginny beberapa kali mengedipkan matanya ke arahku.

.

Gerakan dansa Draco sangatlah memukau. Dia lincah dan lihai. Beberapa kali dia menggodaku, wajahnya seringkali dia tenggelamkan di bahuku yang tak terbalut sedikit benang pun. Itu membuatku mengerang. Karena beberapa kali juga dia mencium leher dan jenjang pundakku dengan bibirnya di sela dansa. Dia juga meniup-niupkan angin dari mulutnya di telinga ku, berbisik lembut. Kemudian dia kembali mencium bagian sensitif dari tengkuk ku. Aaah Inilah yang membuatku mendesah tertahan.

Saat tiga lagu dansa selesai, Draco mengajakku untuk mengambil minum. Kami keluar dari kerumunan sekarang.

"Kalian WOW." Kata seseorang dari belakang.

Itu Ginny.

"Hermione kau sangat sangat cantikkk." Sambungnya.

Dia memelukku.

"Kalian keren. Aku tak menyangka kalian datang bersama dan aku juga tak menyangka nilai kalian sama pula." Kata Harry.

Aku dan Draco tersenyum.

"Hermione! Kau tahu? Aku mendapat nilai 85 untuk kimiaaaa! Aaaah aku sangat sangat senangggg!." Kata Ron menghampiri bersama Luna. Untuk yang ini aku bangga luar biasa padanya. Hingga kami terkekeh bersama.

"Apaaa? Aku tak menyangkanya Ron! Bagaimana bisa kau mendapat nilai itu? Dan-kau belum menceritakan padaku bagaimana kau bisa mendekati Luna?." Kataku meledek.

Dia hanya berpandangan yang-pertanyaan-terakhir-nanti-saja-oke-jangan-disini.

"Aku belajar tiga hari nonstop untuk kimia!." katanya yang membuat kami semua tergelak.

"Hei, maaf mengganggu. Tapi ini hari terakhir masa-masa kita di Hogwarts. Apa kalian ingin menikmati pesta dansa dengan bertukar-tukar pasangan?." Usul Theo yang datang tiba-tiba dari belakang bersama Blaise dan Pansy. Kami semua tampak berpikir sejenak sebelum meng-iyakan ajakan Theo.

"Oh itu ide yang bagus. Ayolah ini hari terakhir kita di Hogwarts." Kata Ron

Aku berpandangan ke arah Draco. Draco juga memandangku. Kami tersenyum.

"Baiklah." Kata kami akhirnya.

Aku berdansa dengan Harry, selanjutnya dengan Ron, sampai ke Neville, lalu Dean, Seamus. Goyle, Theo, Blaise-dan banyaklah. Aku melihat Draco sekarang tengah berdansa dengan Ginny.

Aku juga melihat kak Cedric mengedipkan mata ke arahku. Sekarang dia tengah asik berdansa bersama princess nya. siapa lagi kalau bukan Fleur. Aku pun membalas kedipannya.

Sungguh, aku tak menyangka masa-masa di Hogwarts telah berakhir.

Dengan pernyataan hebat yang dapat kita lalui bersama bahwa lulus 100% menjadi hal yang sangat berharga.

Aku tak tahu bagaimana jalan cerita nanti setelah lepas dari sini.

Tapi yang pasti, aku sedang menikmati saat saat terakhir ini.

.

"Draco, kemana kau akan melanjutkan masa pria mu selanjutnya?." Tanyaku di akhir pesta.

Dia menggenggam tanganku erat. Aku menatap matanya, seperti ada rasa ke-kecewaan disana.

"Maaf Hermione, tapi... aku harus melakukan ini." katanya setengah berbisik.

"A-apa maksudmu Draco? Ka-kau tidak berkuliah di Inggris?."

Dia menggelengkan kepalanya pelan. Melihat hal itu aku shock bukan main. Berbutir air mata turun membasahi pipiku.

"Hari ini aku berjanji padamu. Aku tidak akan meninggalkanmu Hermione. Aku akan kembali pada saat nanti. Biarkan kita lalui masa pria dan wanita kita masing-masing terlebih dahulu." Katanya sambil mengusap air mataku. Tapi apa daya? Air mataku kembali jatuh lagi.

"Kau akan-melanjutkannya dimana Draco?."

"Di Kanada. Dan ku mohon jangan menangis Hermi..."

"Kita akan berpisah Draco?." Kataku diselingi isakan.

"Tidak. Raga kita memang terpisah Hermione, tapi jiwa kita takkan terpisah. Dan- Jangan menangis kumohon. Percayalah, aku akan menepati janjiku."

Kata-kata Draco kembali membuat air mataku jatuh.

Dia memelukku erat lalu melepaskannya dan menatapku lekat.

Dia menciumku dengan lembut. Aku bisa merasakan bibir nya itu menyentuhku dengan rasa cinta. Aku menikmati saat ini. We so Paris, when we kiss.

Draco menekan kepalaku untuk memperdalam ciuman ini. Aku menikmatinya. Kami menikmatinya. Draco menghapus air mata ku yang tak sengaja turun dengan bibirnya. Manis dan sedikit rasa asin menyatu membentuk sebuah rasa kenikmatan.

Aku tak tahu apa yang akan kita lakukan kedepan.

Tapi aku percaya padamu Draco.

"Tolong Draco, tepatilah janjimu." Kataku diakhir perpisahan.


TO BE COUNTINUED

Huh akhirnya chapter besok end juga nih:)

Maaf banget ya kalo ada yang ngerasa ga pernah dapet 'feel' nya dari chapter pertama sampai sekarang. Aku minta maaf. Aku masih harus banyak belajar nih untuk buat FF yang lainnya ke depan. Jadi aku butuh bimbingannya yaa:)

Kalau ada yang mau ngasih kritik/saran/komentar silahkan review:)

Balasan review:

Callagloxinia, RaniaMalfoy, rinakartika980, novyfajriati, NisaMalfoy, zen, nana, thequeengranger, fprisil, mydraco, jessi, MsMalf, kalaibrahim : Terimakasih review nyaa ya, ini sudah dilanjut:)review lagi?

Lillyan Flo, AnastasiaR: Aaah terimakasihh:* ini sudah di lanjut yah. End nya ketika mereka dewasa hehe mungkin chapter selanjutnya sudah the end. review lagi?

Adellia Malfoy: Maaf banget yah masalah feel nya haduh:( ini tapi sudah dilanjut yah. review lagi?

Selvinakusuma1: Terimakasihhh ahhh:* ini sudah dilanjut muhehe, review lagi?

Immortal girl: Hayoloo harmony atau dramione? hehe tapi di cerita aku ini endingnya dramione ya:) masalah Hannah, iya nanti endingnya dia sama Neville kokk, review lagi?

Afadh Fernandez: Nanti aku usahain yah hehe:) review lagi?

FairYuzka: Iyaa tidak sia-sia yah hehe:)review lagi?

Sandra: Terimakasihhh:) Maaf banget yah masalah feel nya haduh:( ini tapi sudah dilanjut yah. review lagi?

Farah Zhafirah: Hehe terimakasih ya review nyaa:) aduh masalah feel maaf ya kalo belum dapet juga:( btw ini sudah updated. Salam kenal jugaa,review lagi?

Terimakasih buat yang udah membaca/memfavorit/memfollow/bahkan mereview cerita ini, terimakasih banget ya:)

Salam.