Now and Forever

.

.

.

Disclaimer:Super Junior punya SM Ent, say. Tapi mereka juga punya keluarga mereka, sahabat mereka, fans mereka, dan tentu saja, Tuhan :)

Pair: Evil Maknae and Cutie Monkey

Genre: Romance... ANGST!

Rate: T

Warning: Maaf jika Anda yang membaca tidak menikmati tulisan ini. Maaf juga kalo ide pasaran. Terinspirasi dari novel BL karangan saya sendiri yang saya buat untuk konsumsi pribadi. Sebelum nyesel, teken tombol close atau back. Please. Please. Please.

Now playing: lagu galau macem Daydream-nya SJ, No-nya Yang Yoseob, All Alone ato Healing for Myself-nya Kim Jaejoong, My Immortal-nya Evanescence, Talking to the Moon-nya bang Bruno, lagu apapun lah yang pokoknya berisi kegalauan en patah hati.

Don't like? I beg you to don't read!

Chapter 9

Tokyo, Jepang.

15 April. Tahun ajaran baru.

Tak ada yang istimewa di Tokyo. Semuanya berjalan seperti biasa. Hyukjae berubah menjadi anak yang introvert, diam bagai patung, hanya berbicara seperlunya, tak pernah tersenyum dan menghindari semua kegiatan ekstrakurikuler. Tak ada lagi menjahili guru atau murid, bercanda dengan teman-teman sekelas saat pelajaran kosong, bahkan Hyukjae tidak mau repot-repot mengakrabkan diri dengan teman-teman barunya. Sekolah bukan untuk menemukan kesenangan atau menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tak penting. Selama ini, pikirannya teralihkan oleh hal-hal sepele. Sekarang tidak lagi. Pikirannya kini bisa fokus untuk belajar.

Tetapi ada yang tidak berubah, yaitu masih saja namja yang berusaha merebut perhatiannya, ditambah yeoja-yeoja juga berusaha membuatnya 'takluk,' banyak surat cinta dan pernyataan cinta. Tak banyak yang mampu menahan pesona seorang Lee Hyukjae. Namun Hyukjae semakin parah ke-antisosial-annya.

Hyukjae melanjutkan SMAnya di SMA tempat kakaknya mengajar sementara. Awalnya dia tidak dapat menyesuaikan diri di SMA Hokuto, apalagi dia pindah di tahun akhir masa SMA-nya seperti itu.

Ulangtahun Hyukjae sudah terlewat, tanggal 4 mendapatkan kiriman hadiah sekaligus balasan atas cokelat Valentine dari teman-teman di Seoul dan dari saudaranya. Diantara hadiah itu, Hyukjae mendapat kiriman buket lily putih yang cukup besar dan boneka teddy bear cokelat. Sekali lihat saja dia tahu siapa pengirimnya.

Kyuhyun.

Kata Sungmin, Kyuhyun berulangkali datang ke rumah setelah dia pindah. Hampir setiap hari malah. Kyuhyun berkali-kali menanyakan alamat Hyukjae di Tokyo, tetapi tidak diberitahu oleh Sungmin karena itu permintaan Hyukjae. Hyukjae ingin total melupakan Kyuhyun, meski dia tahu itu tidak mungkin. Mungkin dengan menghilang dari kehidupan kekasihnya seperti ini dia dapat melupakannya.

Hyukjae memasuki SMA Hokuto dengan mengenakan seragam lengkap (seragam Hokuto terdiri dari kemeja putih, vest atau sweter abu-abu, blazer biru tua, dasi berwarna sesuai angkatan, untuk Hyukjae biru muda, dan celana kotak-kotak biru-hitam). Ini risiko kalau sekolah di Tokyo yang mana peraturannya ketat, harus memakai seragam lengkap. Padahal di Cheong Nam dulu dia selalu melepas blazer seragamnya dan selalu memakai kemejanya saja.

Dia tidak memungkiri jika di Hokuto dia populer. Tetapi dia bukan Lee Hyukjae yang dulu. Dia menjadi cuek dan dingin. Hyukjae sudah berubah.

Siswa-siswi baru Hokuto menatap penasaran namja yang dengan cuek berjalan menyeberangi lapangan, memotong jalan dengan melewati barisan anak kelas satu. Mereka, tak peduli namja atau yeoja, tertarik pada namja berkulit putih tinggi ramping dan berambut merah kecokelatan agak gondrong.

Agak gondrong? Ya, Hyukjae menjadi sangat cuek pada penampilannya. Tetapi itu malah membuatnya terlihat semakin cantik.

Dia sedang melintas di tengah lapangan ketika seorang yeoja cantik berambut bergelombang mencegatnya.

"Hyukjae-kun! Kumohon jadilah pacarku!" tembak yeoja itu.

Hyukjae dan yeoja itu menjadi pusat perhatian kini. Siswa kelas satu, dua, dan tiga memandanginya. Kalau siswa kelas dua dan tiga sudah maklum melihat kejadian itu. Tetapi anak baru melihat penuh rasa ingin tahu. Mereka sudah menjadi siswa Hokuto selama sebulan dan masih penasaran melihat kejadian itu.

Hyukjae mendengus. "Jangan rusak tahun ajaran baruku dengan tembakanmu, Ichihara."

Ichihara Miku, si penembak, mulai menangis. "Kenapa kau selalu menolakku, Hyukjae-kun? Aku sudah menyatakan cinta padamu sebanyak dua puluh tujuh kali!"

Yeoja ini, Ichihara, bertemu Hyukaje saat Hyukaje pindah pertama kali. Apartemen Hyukjae di sebelah apartemen keluarga Ichihara. Dan sejak Ichihara melihat Hyukjae, dia selalu mengungkapkan perasaannya. Hyukjae cuek. Dia malah mengeluarkan ponsel, dan mengarahkannya ke langit, memotret langit bulan April yang cerah.

Langit ketiga puluh satutanpa Kyuhyun, pikir Hyukjae menerawang.

Setelah mendapat foto langit hari ini, Hyukjae hendak melanjutkan perjalannya ke kelasnya.

Sejak pindah, notes dari Kibum bertambah panjang daftarnya, menjadi seratus sembilan puluh tujuh. Padahal dia baru pindah sebulan. Ichihara tadi nomor seratus. Tiba-tiba seorang yeoja berambut bob pendek mencengkeram tangannya.

"Tunggu! Setidaknya kau harus minta maaf pada kakak ini!"

Hyukjae melihat seragam anak itu. Dasinya merah. Anak baru.

"Anak baru jangan ikut-ikutan. Lagipula, aku ini seniormu. Hormati, dong," kata Hyukjae ketus. Dihentakkannya tangan adik kelasnya itu.

"Hei!"

Hyukjae melanjutkan perjalanannya, tidak mempedulikan dua yeoja yang sudah membuat harinya rusak.

Hari-hari selanjutnya berlalu tanpa suatu kenangan yang berarti.

.

.

.

Tahun pertama di Tokyo berlalu.

Sekarang awal Januari, berarti sudah satu Natal tanpa Kyuhyun dan satu Tahun Baru tanpa Kyuhyun. Hyukjae berusaha mengalihkan perhatiannya dengan menyibukkan diri menyiapkan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas.

Hyukjae duduk di atap. Dia tak mempedulikan dinginnya cuaca dan malah mengeluarkan ponsel, memotret langit.

Sejak pindah ke Tokyo, setahun lalu, Hyukjae selalu memotret langit setiap hari. Kemudian mencetaknya dan menempelkannya ke diarynya. Tentu saja Hyukjae menulisi tanggal di sebelah foto itu, dengan sebuah catatan, hari ini tetap sama… tanpa Kyuhyun…

"Langit kedua ratus tujuh puluh lima… tetap tanpa dia…" gumam Hyukjae.

"Kyuhyun…" kata Hyukjae tanpa sadar.

Angin membalas sapaannya. Sejuk.

"Bogoshippo…" katanya pedih. Airmata mengalir di pipinya. Meski sudah lewat hampir setahun, tetapi rasanya pada Kyuhyun belum hilang. Malah semakin menguat.

Hyukjae menggenggam erat cincin yang dulu diberikan Kyuhyun saat pesta perayaan kenaikan kelasnya. Airmatanya semakin deras.

"Saranghaeyo, Kyuhyun… neomu saranghaeyo…"

.

.

.

London, Inggris.

Kalau kau pernah mengenal Cho Kyuhyun saat di Cheong Nam, kau pasti takkan mengenalinya lagi saat namja itu bersekolah di Inggris.

Kyuhyun menjelma menjadi namja yang seratus delapan puluh derajat berbeda.

Bungsu Cho itu menjadi sangat dingin, serius, tidak mempedulikan siapapun. Dia seperti robot. Tubuhnya hanya bergerak berdasarkan perintah otak, hati dan perasaannya lenyap.

Karena apa yang disebut hati dan perasaan milik Kyuhyun sudah dibawa Hyukjae.

Kyuhyun sangat berkonsentrasi pada studinya. Dia tak mempedulikan apapun kecuali belajar, belajar, dan belajar.

Siwon beberapa kali menjenguk adiknya di Inggris, dan dia merasa kasihan melihat kondisi adiknya yang seperti mayat hidup itu. Hanya beberapa kali Siwon melihat perubahan ekspresi pada adiknya. Saat mengirimi Hyukjae buket lily dan teddy bear di hari ulang tahun Hyukjae, saat menerima hadiah Natal dari Hyukjae yang dikirimkan Yunho ke Sungmin kemudian dititipkan ke Siwon, dan saat Kyuhyun melihat foto Hyukjae di diarynya.

Siwon tidak tahan, dia harus melakukan sesuatu untuk adiknya.

.

.

.

Seoul, Korea.

"Appa, aku akan melakukan apapun asalkan kau merestui Kyuhyun dengan Hyukjae," kata Siwon setelah tiba di Jepang.

Ayahnya memandangnya dari balik laporan perusahaan yang sedang dia baca.

"Apa maksudmu?"

"Aku akan melakukan semua perintah Appa asalkan Kyuhyun bisa bersama dengan Lee Hyukjae," ulang Siwon.

Cho Youngwoon diam sejenak. "Baiklah. Semua perintahku, kan?"

Siwon mengangguk.

"Kalau begitu, kau memimpin perusahaan cabang di Inggris yang baru dibangun. Itu yang pertama," kata ayahnya.

Siwon tercengang. Tapi… demi Kyuhyun. "Baiklah."

Appanya tersenyum. Selama ini Siwon selalu menolak untuk mengambil alih perusahaan, meskipun dia sangat berbakat. Sekarang dia mempunyai bidak catur. Kedua anaknya sudah di dalam genggamannya.

Setelah membuat kesepakatan pertama dengan ayahnya, Siwon meninggalkan ruang ayahnya. Dia harus memberitahu seseorang.

Siwon memasuki sebuah toko bunga, Flower's Castle. Dia ingin menemui Sungmin.

Sungmin tersipu melihat siapa yang datang. Dia mengenal Siwon karena setahun ini namja kakak Kyuhyun itu selalu membeli anyelir pink, seperti bunga yang dulu selalu dibeli Kyuhyun. Awalnya Sungmin tidak menyangka jika namja yang tampan dan atletis ini hyung pacar adiknya. Tetapi Siwon yang sudah menyelidiki segala hal tentang Hyukjae, termasuk tentang Sungmin.

"Selamat datang, Siwon-ssi," sapa Sungmin.

"Annyeong, Sungmin-ssi," jawab Siwon. Dia tidak memungkiri jika dia memiliki rasa yang terpendam pada namja aegyo yang ceria ini.

"Bisakah aku bicara berdua denganmu?" kata Siwon agak mendesak.

Sungmin tersipu. "Eh, bi-bisa…"

Mereka berdua menuju sebuah café. Siwon duduk berhadapan dengan Sungmin.

"Aku tidak bisa menemuimu lagi," kata Siwon langsung.

Sungmin tercengang.

Siwon mengangguk. "Mianhae aku memberitahumu mendadak. Banyak hal yang harus kulakukan."

Sungmin masih terpaku. Siwon tersenyum pedih melihat namja di depannya. Mungkin takdirnya dan Kyuhyun sama-sama jatuh cinta pada keluarga Lee dan meninggalkannya.

"Terimakasih kau mau menjadi temanku selama ini, Minnie," kata Siwon memanggil nama akrab Sungmin.

Sungmin tersenyum. Tetapi hatinya menangis pedih. Dia juga mencintai Siwon, tanpa tahu perasaan kakak Kyuhyun itu padanya. Dia menganggap selama ini dia bertepuk sebelah tangan mengingat betapa sempurnanya Siwon, dan mungkin seorang yeoja yang luar biasa menawan sudah mendampinginya.

"Ne. Terimakasih karena kau tidak membenci kami atas hubungan Hyukkie dan Kyuhyun," jawab Sungmin dengan hati hampa. Dia belum memberitahu Siwon tentang perasaannya.

Siwon tersenyum, dia melepaskan genggamannya. "Aku punya satu permintaan, Minnie. Tolong gantikan aku mengirimi bunga lily untuk Hyukkie. Itu permintaan Kyuhyun padaku, tetapi mulai sekarang aku tidak bisa."

Sungmin mengangguk.

"Aku juga minta tolong… bisakah kau setiap sekali seminggu mengirimi ummaku bunga?" kata Siwon.

"Anyelir pink?" tanya Sungmin. Siwon tersenyum mengiyakan.

"Jeongmal gomawo, Minnie. Aku sudah meminta terlalu banyak darimu. Terimakasih," kata Siwon.

"Ne. Tidak apa-apa," jawab Sungmin tulus.

Setelahnya, dua hari kemudian Siwon meninggalkan Korea, bertolak ke Inggris.

Dua hati sekali lagi hancur.

.

.

.

London, Inggris.

"Kata orang itu kau mau melakukan apa saja asalkan dia merestuiku dengan Hyukkie?" tanya Kyuhyun dengan nada datar.

Kakak adik itu menikmati sore hari di café dekat Piccadily Circus.

Siwon paham siapa yang Kyuhyun sebut orang itu. Appa mereka.

"Ne," jawab Siwon.

"Kau tidak perlu melakukan itu, Hyung. Aku sudah bukan anak kecil. Aku sudah delapan belas tahun. Dan aku bisa membuat orang itu menyetujui Hyukkie, dengan caraku sendiri," kata Kyuhyun dengan penekanan pada kata 'Hyung.'

"Mian, Kyu… aku hanya berusaha membantumu."

"Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah menjadi perantaraku dengan Hyukjae, Hyung. Kau juga bisa mengunjungi Umma. Orang itu tidak pernah mengunjungiUmma. Biarkan aku yang mengurus masalah perusahaan dan Hyukjae," kata Kyuhyun.

Siwon terdiam. Kata-kata Kyuhyun benar… jika dia juga meninggalkan rumah, bagaimana dengan umma mereka?

"Arasseo," kata Siwon.

Kemudian Kyuhyun menelepon seseorang.

"Aku akan mulai memimpin perusahaan baru di Inggris. Oleh karena itu, setelah aku berhasil mengembangkan perusahaan baru itu, penuhi keinginanku," kata Kyuhyun datar tanpa salam.

Siwon tahu adiknya menelepon appa mereka.

"Akan kulakukan semua perintahmu. Tetapi sebagai gantinya, izinkan hubunganku dengan Hyukkie, izinkan Siwon Hyung melakukan apa yang dia mau, dan izinkan kami hidup bersama Umma," kata Kyuhyun dingin.

Kyuhyun diam, lalu menyeringai. "Deal."

Siwon terkejut mendengar perkataan Kyuhyun. Adiknya malah melindunginya dan umma mereka.

"Hyung dengar kan? Jadi kembalilah ke Korea dan lindungi Hyukkie sebagai ganti diriku," pinta Kyuhyun tulus.

Siwon akhirnya mengangguk, "Baiklah. Jika itu permintaanmu."

Kyuhyun tersenyum, senyum yang nyaris seperti dirinya dulu.

"Gomawo, Siwon Hyung."

Tunggu aku, Hyukkie. Tunggu beberapa tahun lagi, setelah itu aku akan menjemputmu, pikir Kyuhyun.

Seoul, Korea.

Sungmin terkejut ketika Siwon kembali padanya. Siwon menemui Sungmin di toko dan langsung menyatakan cintanya.

Sungmin sangat bahagia, lalu dia menerima pernyataan Siwon.

Berdua, mereka memutuskan untuk menjaga Hyukjae dari sini.

.

.

.

Balesan review:

OceanBlue030415:karena saya baik hati, saya kasih kamu bocoran. Ya, si Hyukkie ini punya rahim, lalala~ dan... hasil ujian saya bisa diprediksiin ancur TT^TT. Makasih udah review :)

Ranigaem1:silakan baca lanjutannya... mumpung saya baik hati lagi pengen update. Makasih udah review :)

MingKyuMingKyu:Kyu emang gak mutusin... ini dah lanjut. Makasih udah review :)

One:WT-nya... um... eh, gimana, ya? Pokoknya makasih udah review :)

Polarise437:iya, Mpreg. Konfliknya ngebosenin, tuh /tunjukatas/ makasih udah didoain ujian lancar... meski saya gak yakin hasilnya. Makasih udah review :)

Eunfa Lee:iya udah muncul. Kan udah pernah bilang, gak mungki dong ya saya langsung bikin mereka happy ending tanpa menderita dulu karena cinta kekeke. Makasih udah review :)

Lyndaarieez:ke-kerasa? Padahal saya gak yakin angst-nya ngena lho. Makaish udah review :)

Kyunijun:iniiii udah update. Makasih udah eview :)

Youmustknowme:jika saya berhasil ngebuat orang nangis... berarti saya berhasil. Kekeke kamu gak ditanya-tanyain orang kan kenapa kamu nangis? Gak kece dong kalo jawab nangis gara-gara baca ff. Iye, saya emang jahat, kok. Tapi saya juga baik, kan, mau update? Mungkin abis ini mau hiatus buat nerusin ff-ff laen. Anyway, makasih udah review :)

Makasih udah baca hingga titik ini.

May 4,

Rain drops lover,

Raito.