Now and Forever

.

.

.

Disclaimer: Super Junior punya SM Ent, say. Tapi mereka juga punya keluarga mereka, sahabat mereka, fans mereka, dan tentu saja, Tuhan :)

Pair: Evil Maknae and Cutie Monkey. Chapter ini slight Nickhun-Eunhyuk.

Genre: Romance/Angst.

Rate: T

Warning 1: Maaf jika Anda yang membaca tidak menikmati tulisan ini. Maaf juga kalo ide pasaran. Terinspirasi dari novel boys love karangan saya sendiri yang saya buat untuk konsumsi pribadi.

Warning 2: Chapter ini panjang, aneh, gak jelas. Maaf kalo banyak typo. Saya bikinnya dengan mengumpulkan feel yang mulai terkikis. Sebelum nyesel, teken tombol close atau back. Please. Please. Please.

Don't like? Just don't read!

.

.

.

Chapter 10

Sejak pindah ke Tokyo Hyukjae susah tidur. Hampir tiap malam dia tidak tidur, entah memikirkan masa depannya, mengenang masa-masa dengan Kyuhyun, memeluk teddy bear dari Kyuhyun, dan merindukan Kyuhyun hingga dia terlelap. Semua itu terus berlangsung selama ini, sehingga dia semakin kurus dan pucat.

Akhirnya, daripada terserang insomnia yang tidak jelas, Hyukjae memilih melakukan sesuatu. Entah belajar (Hyukjae bahkan sudah membaca habis seluruh materi pelajarannya), membaca buku-entah-apa-yang-dipinjam-dari-perpustakaan, membuat sesuatu (syal, sarung tangan rajutan, bahkan boneka), dan akhirnya… beres-beres kamar.

Yunho mungkin mendengar suara dari kamar Hyukjae yang selalu berisik tiap malam. Tetapi Yunho membiarkannya, karena Yunho tahu Hyukjae kadang belajar hingga dini hari (yang ini membuat Yunho senang, karena peringkat Hyukjae tiga besar seangkatan).

Semalam Hyukjae memilih membereskan lemarinya. Entah kapan terakhir kali dia membongkar lemarinya. Saat pertama pindah ke apartemen ini, mungkin.

Pertama-tama Hyukjae mengeluarkan semua bajunya, setelah itu dia melipatnya lagi. Dia melakukan semuanya dengan senang hati, sampai ketika dia melihat jaket biru.

Jaket Kyuhyun yang dulu pernah dia pinjamkan pada Hyukjae.

Hyukjae tercekat. Dia tidak tahu siapa yang memasukkan jaket ini. Padahal dia sangat yakin saat pindah dia tidak mengepak jaket ini. Air matanya mengalir tanpa dapat dikontrol. Perlahan, Hyukjae memakai jaket itu. Jaket dari bahan yang halus yang dulu agak kebesaran kini pas di tubuhnya. Hyukjae memeluk dirinya sendiri, menghirup dalam-dalam aroma mint khas Kyuhyun yang masih tertinggal pada jaket itu.

Hyukjae akhirnya dapat tertidur dengan memakai jaket Kyuhyun.

Paginya, Hyukjae berjalan-jalan. Dia merasa segar, karena baru kali ini dapat tertidur dengan lelap. Hyukjae sudah menemukan tempat rahasia di dekat apartemennya, yaitu bukit di belakang deretan apartemen, sekolah dasar, dan taman yang di depannya terhampar padang bunga. Berbagai macam bunga tumbuh di sana, dari daffodil, buttercup, cosmos, bunga violet, mawar liar, dan macam-macam lagi. Hyukjae sangat menyukai bunga-bunga liar itu, mengingat sekarang dia tidak bisa membantu Sungmin di toko bunganya.

Setelah sampai di padang bunganya, dia langsung berbaring di antara hamparan bunga itu. Entah kenapa, saat sendirian Hyukjae selalu teringat Kyuhyun. Saat ini pun demikian. Karena rasa rindu yang memuncak, Hyukjae mengeluarkan fotonya dan Kyuhyun.

Tanpa sadar, Hyukjae mengangkat ponsel ke telinganya, menelepon Kyuhyun.

"Yeoboseyo? Kyuhyunnie, aku membencimu. Kau membuatku terus-terusan memikirkanmu! Kenapa sih kau menggangguku tiap saat? Kau bahkan tidak mengatakan kata-kata putus! Ah, kalau itu aku yang salah, aku yang meninggalkanmu. Tapi tetap saja, aku jadi susah cari pacar, tahu!" kata Hyukjae ceria, seperti dulu dia bicara, tak peduli suara operator yang mengatakan bahwa nomor itu tak aktif lagi. Setelah pindah Hyukjae sering menelepon Kyuhyun, meski sejak dia pindah juga nomor Kyuhyun sudah tidak aktif.

Setelah itu Hyukjae menutup ponsel dan kembali berbaring dan memandangi langit. Langit kedua ratus sembilan puluh tanpa Kyuhyun.

Langit selalu ceria… seakan mengejekku saja…

Airmatanya tanpa terasa mengalir, dia mengambil foto Kyuhyun dan mendekapnya. Dia ingin sekarang langsung terbang ke Korea, menemui belahan jiwanya. Tetapi itu tidak mungkin, karena Hyukjae sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk meninggalkan Kyuhyun demi masa depan Kyuhyun.

Beranjak siang, Hyukjae memutuskan untuk pulang. Dia memilih untuk ke pusat kota sekalian belanja. Di jalan dia dipandangi karena dia membawa buket bunga liar.

Setelah mendapatkan bahan-bahan makanan, Hyukjae pulang. Tetapi dia merasa diperhatikan. Dia tengok kanan dan kiri, tak ada siapa-siapa.

Tiba-tiba, di depannya muncul seorang namja yang tampaknya lebih muda dari Hyukjae.

"Hai," sapa seorang namja dengan penampilan unik dengan rambut gelap panjang sebelah dengan sentuhan pink tetapi memiliki wajah yang sangat tampan.

Hyukjae berteriak hingga menjatuhkan kantung belanjaannya. Sangat terkejut, pasti.

Namja itu tertawa melihat reaksi Hyukjae.

"YAH!" seru Hyukjae kesal.

Namja dengan penampilan unik itu berusaha meredam tawanya dan membantu Hyukjae memunguti belanjaannya yang tercecer. "Jwesonghamnida~"

Hyukjae sekilas menatapnya. "Orang Korea?"

Namja itu mengangguk riang. Hyukjae mengambil belanjaannya dari tangan namja itu.

"Nah, kenapa kau melakukan hal seperti tadi? Kau tidak sopan terhadap orang asing," kata Hyukjae sengit.

Namja itu tersenyum. "Mian... sebenarnya aku ingin meminta bantuan Noona," katanya.

Hyukjae mendecakkan lidah. "Kau tidak sopan, salah memanggil orang... benar-benar."

"Eh? Aku kan sudah minta maaf karena mengageti Noona tadi... dan Noona seorang yeoja, kan?"

Perempatan tak kasat mata muncul di dahi Hyukjae. "Yah! Aku namja tahu! N-A-M-J-A!"

Namja itu menggaruk kepalanya canggung. "Ma-maaf, deh. Namaku Kwon Jiyong, fotografer SMA dari Seoul..." jelas Jiyong dengan senyum malu-malu.

"Lalu kau ada urusan apa denganku?" kata Hyukjae cuek.

"Kau judes, ya, Noona?" kata Jiyong.

Hyukjae hanya memutar bola mata. "Jika kau tidak ada perlu, aku pergi. Dasar orang aneh."

Hyukjae berjalan melewati namja bernama Kwon Jiyong itu. Jiyong segera menahan tangannya.

"Tunggu, tunggu!" kata Jiyong buru-buru.

"Chogi, mau jadi model fotoku? Aku akan melakukan pameran, dan begitu melihatmu aku menginginkanmu," kata Jiyong setelah Hyukjae menoleh padanya.

"Bicaramu seperti om-om mesum," komentar Hyukjae.

Jiyong mengajak Hyukjae duduk di sebuah bangku taman dekat jalan tempat mereka berdiri. "Aku serius. Aku sebelumnya tidak pernah begitu menginginkan sesuatu seperti aku menginginkanmu, Noona," ujarnya mengacuhkan komentar Hyukjae.

Hyukjae cuek. Tetapi, dalam hati, dia merasa namja ini… mirip dengan Kyuhyun. Bukan fisik, tetapi auranya. Membuat Hyukjae kembali teringat Kyuhyun dan merindukannya.

"Kau mau menjadi model foto untuk pameranku?" tanya Jiyong lagi.

Hening. Hyukjae malah terbayang-bayang wajah Kyuhyun, senyumnya, tangannya yang selalu mengelus rambutnya, dan bau mint yang menyeruak saat lengan Kyuhyun menariknya ke dalam pelukannya.

Hyukkie, terdengar suara Kyuhyun memanggil lembut.

"Jadi? Mau, ya? Ini akan menarik, lho," ujar Jiyong berusaha membujuk.

"Ya," jawab Hyukjae separuh melamun karena masih teringat Kyuhyun. Kyuhyun di khayalannya tersenyum lembut. Matanya memandang Hyukjae penuh cinta.

"YES! Bagus, Noona!" tanya Jiyong riang.

Hyukjae bingung. Apakah baru saja dia mengiyakan ajakan namja aneh ini?

"Ti-ti-tidak! Aku tidak mengiyakanmu!" kata Hyukjae panik.

"Tapi Noona sudah bilang iya! Ayolah, Noona~ bantu aku~" rengek Jiyong.

Hyukjae panik, lalu akhirnya dia mengangguk pasrah. Dia juga memerlukan pengalih perhatian dari Kyuhyun. Barusan saja dia sampai membayangkannya.

"Oke, baiklah," kata Hyukjae.

Jiyong tertawa. "Terimakasih, Noona."

"Tapi panggil aku Hyung, Bocah, bukan Noona," kata Hyukjae.

"Tidak masalah. Tapi! Kau manis sekali, Noo-eh, Hyung... aku boleh memanggilmu Noona saja?"

Hyukjae men-glare Jiyong.

"Baiklah... Hyung," jawab Jiyong lemas. Hyukjae berdiri.

"Ah, Hyung!" panggil Jiyong.

Hyukjae berbalik. Pandangannya menyiratkan tanya.

"Namamu siapa? Kau belum menyebutkan namamu," kata Jiyong polos.

"Lee Hyukjae, kelas tiga SMA Hokuto," kata Hyukjae.

"Hyung sekolah di dekat SMA-ku! Dan lagi, kita hanya beda setahun," kata Jiyong.

"Jinjja? Nah, itu tidak penting. Jadi... kau mau memfotoku kapan?" tanya Hyukjae.

Jiyong mengacak rambutnya. "Um... pameranku sekitar Oktober... dan aku butuh suasanamusim semi... bagaimana jika besok kita ke Hokkaido?" kata Jiyong ringan.

"HAH?" kata Hyukjae.

"Nee... Noona kelas tiga kan? Sebentar lagi kelulusan dan libur... jadi, beberapa hari lagi, oke?" kata Jiyong lagi. Sepertinya dia sudah melupakan niatan memanggil Hyukjae dengan suffiks Hyung.

Anak ini semaunya saja! Pikir Hyukjae.

"Baiklah. Jika aku tidak lupa, Jiyong-ssi," kata Hyukjae hendak pergi.

"Panggil aku Jiyong-ah, Noona. Dan lagi, kau tidak akan melupakanmu, kok. Aku sudah menyimpan nomor ponselmu," kata Jiyong

"Kapan aku memberi nomor ponselku?" kata Hyukjae heran.

Jiyong hanya menyerahkan ponsel Hyukjae dengan polos. Mata Hyukjae membulat.

"Kau mengambilnya?!" seru Hyukjae.

Jiyong terlihat bersalah. "Neee. Karena Noona kayaknya tidak akan memberi nomor ponsel Noona, jadi aku menyimpannya sendiri, deh."

Hyukjae mengambil ponselnya. "Dasar anak-anak."

"Yah! Aku cuma beda setahun dengan Noona!"

"Panggil aku Hyung, bocah. Ya sudah. Kalau kau sudah menetapkan tanggal akan ke Hokkaido, hubungi aku. Sampai nanti," kata Hyukjae kemudian meninggalkan Jiyong.

"Ah, Noona! Tunggu!"

Kata-kata Jiyong Hyukjae hiraukan. Dia harus segera pulang ke apartemen.

.

.

.

Namja kekanakan bernama Kwon Jiyong itu terus mengganggu Hyukjae. Apalagi Jiyong itu kini sudah tahu sekolah dan alamat apartemen Hyukjae, jadi tanpa mengenal waktu, dia selalu mengajak Hyukjae main.

Ternyata hanya usia yang sama dan auranya saja yang mirip dengan Kyuhyun... anak ini benar-benar seperti bocah, pikir Hyukjae saat ditarik Jiyong main ke dermaga sore hari.

Selama mengenal Jiyong pula, Hyukjae jadi tahu pekerjaan Jiyong yang merupakan fotografer. Jiyong secara tak langsung mengajari Hyukjae bagaimana cara memotret objek. Dan karena pada dasarnya Hyukjae suka memotret, dia dengan segera selalu meminta ajaran Jiyong.

"Uwaah! Noona benar-benar berbakat!" puji Jiyong saat mereka sedang berada di Hokkaido.

Hyukjae sudah lulus SMA dan memutuskan untuk kembali ke Seoul, melanjutkan pendidikan di sana meski tak tahu akan mengambil jurusan apa. Sembari memikirkan masa depannya, tanpa banyak protes Hyukjae mengiyakan ajakan Jiyong untuk ber-backpack di Jepang.

Dan disinilah mereka, setelah hampir sebulan backpacking, di tujuan akhir mereka, Sapporo, pulau Hokkaido.

Mereka sedang memotret langit pagi Sapporo di atas padang ilalang. Jiyong yang semula menjadikan Hyukjae menjadi modelnya terkejut mendapati hasil jepretan Noona—menurut Jiyong—nya itu. Selama ini Jiyong tahu Hyukjae berbakat di bidang fotografi, hanya dia tak menyangka Hyukaje tak sadar akan bakatnya.

Saat memotret jugalah, Hyukjae tiba-tiba teringat sesuatu.

Hari itu tanggal 3 Februari.

Hyukjae menggigit bibir. Hari ini adalah hari ulang tahun Kyuhyun... juga hari dimana mereka resmi menjadi pasangan.

"Selamat ulang tahun, Kyuhyunnie... dan selamat hari jadi kita yang pertama," bisik Hyukjae pada angin dan langit. Langit musim dingin yang cerah seakan tersenyum, dan angin yang mendesau seakan membalas perkataan Hyukjae.

Jiyong memandang heran Hyukjae. "Noona barusan bilang sesuatu?" tanyanya. Heningnya Hyukjae membuat Jiyong bingung.

Hyukjae tak tahan lagi. Dia terduduk dan menangis. Mengapa masih sesakit ini jika sudah setahun berlalu? Apakah hal ini adalah hal yang wajar? Dan, mengapa aku masih memikirkanmu? Pikir Hyukjae.

"NOONA! Kau baik-baik saja?! Mengapa kau tiba-tiba menangis?" panik Jiyong. Apakah perkataanku ada yang salah? Kalut Jiyong dalam hati.

Namja yang setahun lebih muda itu bingung mendapati sikap Hyukjae yang tiba-tiba menangis. Tak tahu harus melakukan apa, Jiyong akhirnya memeluk Hyukjae dan membisikkan kata-kata yang menenangkan.

Hyukjae masih terus menangis dalam dekapan Jiyong. Hingga lama sesudahnya Hyukjae kembali mampu menguatkan hatinya dan mulai berhenti menangis.

"Ma-maaf, Jiyong..." kata Hyukjae dengan suara serak.

"Gwaenchanha, Noona. Aku selalu disini jika Noona membutuhkanku," kata Jiyong mengusap-usap punggung Hyukjae.

Hyukjae melepaskan pelukan Jiyong.

Setelah dipikir-pikir, dia malu juga karena menangis begitu saja di tempat terbuka ini. Meskipun padang itu tak ada orang, tetap saja dia malu.

"Waaah... Noona, kuakui, Noona begitu berbakat. Mengapa Noona tidak menjadi fotografer saja?" tanya Jiyong mengalihkan pikiran Hyukjae yang sedang menghadapi rasa malunya dan berusaha mencairkan suasana yang canggung. Dia sedang melihat-lihat hasil jepretan Hyukjae.

Sepertinya niatan Jiyong untuk menjadikan Hyukjae model menghilang.

Hyukjae melihat ke hasil jepretannya. "Jinjja? Kurasa ini biasa saja..."

"Biasa saja?! Noona, kau ini jenius! Kau benar-benar menyia-nyiakan bakatmu jika kau tak menjadi fotografer!" desak Jiyong.

Hyukjae memikirkan kata-kata namja yang sudah dianggapnya dongsaeng itu. "Menyia-nyiakan, ya..."

Jiyong tak berkomentar apapun lagi. Selama perjalanan pulang mereka ke Tokyo, Hyukjae terus memikirkan perkataan Jiyong.

Apa aku memang sebagus itu, ya? Atau aku mencoba mengikuti kata-kata Jiyong? Pikirnya berulang-ulang.

Setiba di apartemennya, Hyukjae sudah memutuskan apa yang dia maui.

.

.

.

Tiga tahun kemudian.

.

.

.

Lee Hyukjae masih tak percaya akan apa yang dia alami.

Berdiri di sini, di depan galeri yang telah tutup. Galeri yang sama yang dia gunakan untuk mengadakan pameran tunggal sebagai fotografer. Siang hari tadi adalah hari terakhir dia mengadakan pameran.

Bibir Hyukjae melengkung membentuk senyuman bangga. Tak sia-sia dia bekerja keras selama tiga tahun ini. Kuliah sekaligus bekerja, banting tulang agar bisa menjadi fotografer profesional, hingga hampir terpuruk karena berkali-kali ingin berhenti di tengah jalan. Hanya jika dia tidak didukung keluarga dan keluarga keduanya, Jiyong, Hyukjae takkan bisa bertahan.

Pameran tunggalnya ini adalah bukti prestasi atas keberhasilan Hyukjae. Dan Hyukjae bertekad, bahwa ini hanyalah langkah pertama dia menggeluti passion barunya, fotografi.

Sekarang Hyukjae sedang dalam perjalanan ke sebuah bar untuk merayakan kesuksesan pameran pertamanya. Jika dia tidak mengikuti saran Jiyong tiga tahun lalu, mungkin hingga saat ini Hyukjae masih bingung akan masa depannya.

Hyukjae memeluk dirinya sendiri. Hari masih bertahan di bulan September tetapi udara sudah dingin.

"Hyung! Ayo ke Starry! Semua orang sudah menunggumu~!" panggil salah satu asisten Hyukjae.

Hyukjae mengalihkan pandangan dari bangunan megah di depannya.

"Aku segera menyusulmu, Taecyeon-ah!" seru Hyukjae.

"Oke~"

Hyukjae mengeluarkan kamera DSLR-nya dari tas dan memotret gedung di depannya. Saat melihat hasil fotonya, Hyukjae tersenyum sedih.

"Sudah berapa hari sejak aku berpisah denganmu?" bisiknya sendiri.

Meskipun waktu berlalu, Hyukjae tetap tak bisa melupakan sosok itu. Satu-satunya pemilik hatinya, cinta pertamanya sendiri, Cho Kyuhyun.

Hyukjae sudah berusia dua puluh dua tahun. Dia sudah dewasa. Dia sudah meninggalkan orang itu hampir empat tahun.

Tapi hatinya selalu mengingatnya. Hatinya tak pernah mau beranjak. Seolah-olah hatinya sudah beku semenjak hari itu, hari dimana dia meninggalkan love of the life-nya.

Menjadi fotografer fashion membuat Hyukjae menemui ribuan orang. Dia bahkan berharap agar diantara ribuan orang itu, dia akan menemukan orang lain yang bisa menggantikan tempat Kyuhyun di hatinya.

Namun harapan hanyalah harapan.

Bukannya Hyukjae tidak menarik atau bagaimana, banyak model dan selebriti yang mengaku tertarik pada Hyukjae. Namun memang hatinya berkhianat dengan otak Hyukjae. Mungkin Kyuhyun mengutuk dirinya agar Hyukjae selalu mencintainya tanpa bisa terjatuh pada orang lain.

Mengacuhkan pikiran yang menurutnya konyol, Hyukjae meninggalkan galeri itu menuju mobilnya.

Setibanya di bar bernama Starry Hyukjae disambut meriah.

"Chukkae atas keberhasilan pameran pertama~!" seru beberapa orang dengan menabur konfetti.

Hyukjae tertawa kecil sembari membersihkan konfetti dari rambut pirangnya.

"Gomawo~" ujarnya lembut.

"Nah, karena Hyukjae Hyung sudah datang, ayo mulai pestanya!" seru Taecyeon.

Hyukjae tertawa. Beberapa teman yang juga merupakan krunya dia undang untuk merayakan pesta keberhasilannya langsung mengangkat gelas berisi berbagai jenis minuman keras ke langit.

Tangan Hyukjae langsung dijejali gelas berisi cairan kekuningan oleh Taecyeon. "Semoga Lee Hyukjae semakin sukses! Dan semoga dia juga segera mendapatkan pacar!" teriaknya penuh semangat.

Teman-teman Hyukjae mengikuti teriakan Taecyeon dan bersulang. Setelahnya mereka bergantian memeluk Hyukjae.

Hyukjae langsung ditarik untuk duduk setelah semua krunya selesai mengucapkan selamat. Pelakunya adalah Jiyong. Namja itu hanya nyengir sambil mendorong gelas yang berisi soju di depan Hyukjae.

"Chukkaehamnida, Noona," ujar namja itu.

Hyukjae mengucapkan terimakasih. "Tapi kau tahu jika aku tidak minum, Jiyong-ah," kata Hyukjae.

Jiyong cemberut. "Hanya satu gelas saja~" rengeknya.

Hyukjae hanya mengusak rambut namja itu dan memesan segelas cola kepada bartender. Sang bartender menatap Hyukjae aneh, tetapi Hyukjae mengacuhkannya.

Sambil menyesap cola Hyukjae memandang krunya yang sudah dia anggap dongsaeng sendiri yang membantunya saat dia mengadakan pameran.

Namja raksasa dengan rambut diikat ponytail pendek itu bernama Ok Taecyeon. Dia sebenarnya hoobae Hyukjae di bangku kuliah, dan memutuskan menjadi asisten Hyukjae. Dia dan Taecyeon sama-sama kuliah di jurusan fotografi Chung Ang University.

Lalu dua namja dan seorang yeoja yang merupakan anggota krunya. Namja yang jangkung bernama Lee Jonghyun, sedangkan yang lebih pendek Kim Myungsoo. Satu-satunya yeoja di kru Hyukjae bernama Kim Yoojin.

Selain kru Hyukjae, namja manis itu juga mengundang seorang namja kurus yang masih seperti anak-anak. Namanya Yoon Shiyoon. Dia adalah model kenalan Hyukjae. Dia menjadi dekat dengan namja ini karena Shiyoon adalah fans-nya sejak Hyukjae masuk dunia fotografi. Dan sejak akhirnya dia bisa bertemu dan menjadi model Hyukjae, anak ini langsung berusaha mengakrabkan diri.

Dan terakhir, yang membuatnya bisa berdiri dan menjadi Hyukjae yang sekarang, adalah Kwon Jiyong. Namja yang sudah Hyukjae anggap adiknya sendiri ini yang membuatnya sadar akan bakatnya. Jiyong juga berkali-kali membantunya hingga sekarang Hyukjae bisa masuk ke agensi fotografer muda ini.

"Kau sekarang menjadi orang yang hebat, Noona," puji Jiyong tiba-tiba.

Hyukjae tertawa karena melihat Taecyeon memberi Shiyoon head-lock. "N-ne?" katanya pada Jiyong.

"Kau sekarang orang hebat, Noona. Aku saja sekarang berada di bawahmu," ulang Jiyong.

"Aniyo," rendah Hyukjae.

"Jiyong benar, Noona. Teman-teman modelku juga semuanya berambisi agar bisa dipotret olehmu. Kau sekarang menjadi fotografer nomor satu Korea," kata Shiyoon tiba-tiba.

"Tidak. Aku hanya berusaha keras saat bekerja. Aku tidak tahu jika sekarang aku seperti itu," kata Hyukjae sambil menerawang.

"Itulah mengapa kau banyak memiliki fans selebriti, Hyung," kata Jonghyun.

"He?"

Shiyoon, Taecyeon dan Jonghyun kini duduk di samping Hyukjae. Mereka sama-sama memandang Hyukjae dengan tatapan memuja.

"Hen-hentikan. Cara kalian memandangku membuatku malu," kata Hyukjae merasa pipinya terbakar.

"Noona imut sekali~ sulit dipercaya jika Noona adalah yang tertua diantara kita~" pekik Jiyong dan memeluk Hyukjae.

"Y-yah!" serunya sambil berusaha melepaskan pelukan Jiyong.

Taecyeon, Jonghyun dan Shiyoon tertawa. Hyukjae tersenyum melihat keriangan keluarga keduanya.

.

.

.

Bangun pagi, kerja, menikmati hidup dengan bermain dengan teman-temannya adalah bagaimana Hyukjae menjalani hidupnya saat ini.

Dia masih tinggal di rumah keluarganya, meski dia juga telah membeli sebuah rumah hasil dari jerih payahnya sebagai fotografer selama ini. Mengenai keluarganya, semua hyung dan dongsaengnya telah memiliki pekerjaannya sendiri.

Hyung tertuanya, Lee Yunho, tetap bekerja sebagai guru matematika. Tetapi hyung Hyukjae itu telah menikah dengan Jaejoong, mantan guru Kimia Hyukjae saat SMA dan menetap di Tokyo. Saat Hyukjae pulang kembali ke Seoul tiga tahun lalu Yunho tetap menetap di Tokyo, sebagai gantinya Jaejoong yang menyusul ke ibukota Jepang itu dan akhirnya menikah setahun lalu.

Hyung kedua, Lee Sungmin, tetap menjalankan toko bunganya. Bedanya kini juga membuka cafe yang manis di samping toko. Ada yang misterius dengan Sungmin, menurut Hyukjae. Karena hyungnya yang aegyo ini selalu menolak untuk memberi tahu siapa kekasihnya. Hyukjae tahu jika Sungmin sedang menjalin hubungan dengan seseorang, tetapi Sungmin tak mau memperkenalkan Hyukjae dengan kekasihnya.

Lee Jinki, dongsaeng Hyukjae yang kalem ini masih kuliah di jurusan musik. Tetapi dia magang di agensi raksasa Korea Selatan, SM Entertainment, menjadi pelatih vokal disana.

Sedangkan Lee Jongin, adik bungsu Hyukjae yang jahil ini menjadi trainee SM Entertainment semenjak dia masuk SMA. Hingga pada akhirnya setahun lalu Jongin debut dan menjadi main dancer EXO-K, sub grup dari rookie grup EXO.

Sedangkan Minho dan Kibum, sahabatnya semasa SMA, juga beranjak dewasa sepertinya. Minho meneruskan bisnis keluarga, sedang Kibum asyik menempa ilmu di Eropa. Mereka hingga kini sering menghubungi Hyukjae, meski jarang bisa bertemu.

Bersama keluarganya, Hyukjae kembali mendapatkan dirinya yang dulu. Setidaknya dia yang sekarang lebih bisa mengatasi rasa sakitnya atas seseorang.

.

.

.

Pagi ini, Hyukjae mengerutkan dahi kesal.

Tangannya terlipat di dada, kaki kanan berkali-kali mengetuk-ngetuk lantai tak sabar.

Seorang namja dan seorang yeoja depannya membungkukkan badan berkali-kali sambil meminta maaf.

Hyukjae mengertakkan gigi. "Sudah, hentikan. Aku tak akan memotret dia hari ini," ujar Hyukjae marah.

"Kami benar-benar minta maaf, Hyukjae-ssi! Kami sudah berusaha menelepon berkali—"

Hyukjae mengacuhkan permintaan maaf itu dan menghampiri staf majalah dan stylist yang hari itu meminta Hyukjae memotret seorang model untuk cover majalah fashion.

"Lihat. Sekarang jam sebelas empat lima. Di jadwal tertulis jam delapan tepat. Modelnya terlambat hampir empat jam, Sojin-ssi. Aku pergi saja," kata Hyukjae pada staf majalahnya.

Yeoja yang bernama Sojin terlihat panik. "Ta-tapi Hyukjae-ssi! Pemotretan hari ini sangat penting karena—"

"Tapi dia terlambat. Ini hal yang paling kubenci. Kau meminta model yang tidak profesional. Kau tidak lihat semua staf yang bekerja hari ini sudah menyiapkan segalanya? Tinggal modelnya saja yang belum tiba," kata Hyukjae kasar.

Taecyeon yang sedari tadi berada di belakangnya hanya menggaruk kepala. Dia melayangkan pandangan bersalah pada staf majalah yang kena semprotan Hyukjae.

Inilah kepribadian Hyukjae saat bekerja.

Tegas. Disiplin. Perfeksionis. Tak jarang dia berkata kasar. Kepribadiannya yang cenderung ketus membuat Hyukjae terkenal di dunianya. Tetapi itu juga karena pihak yang bekerja sama dengannya yang memulai kesalahan terlebih dulu. Biasanya yang membuat Hyukjae murka adalah para model.

Hyukjae menatap lokasi yang rencananya menjadi lokasi pemotretan. Krunya sudah mempersiapkan segalanya. Kasihan sekali mereka. Padahal mereka sudah mempersiapkan dari pagi-pagi tadi, pikir Hyukjae.

"Taec," panggil Hyukjae.

"Ne, Hyung?"

"Beresi semuanya. Kita masih ada pemotretan jam satu di Apgujeong. Setelah semuanya selesai diberesi, kita akan makan siang dulu," kata Hyukjae sambil melihat ke kertas jadwalnya.

"O-oke, Hyung," jawab Taecyeon lalu meminta kru Hyukjae yang berjumlah empat orang memberesi semuanya.

Hyukjae mengawasi keempat namja yang merupakan kru timnya memberesi peralatan.

"Semua sudah selesai, Myungsoo-yah?" tanya Hyukjae pada krunya.

"Sudah, Hyung!" jawab Myungsoo semangat.

Hyukjae memberinya senyuman. "Gomawo~!"

Myungsoo hanya tersenyum malu-malu.

Taecyeon memandang hyung-nya lalu Myungsoo heran. Tak salah semua fotografer magang di agensi berebutan ingin menjadi tim Hyukjae Hyung. Senyuman dari wajah manisnya itu lebih berharga dari apapun, pikir Taecyeon.

"Taecyeon-ah! Kita akan segera berangkat! Jangan melamun!" panggil Hyukjae.

"Meluncur, Hyung!" jawab Taecyeon.

Sebelum benar-benar pergi, Hyukjae meminta maaf pada staf majalah atas perlakuan kasarnya. Tapi dalam hati dia tak pernah menerima pekerjaan yang mengikutkan Lee Donghae, nama model yang hari itu mangkir.

Nama yang familiar.

.

.

.

"Setelah ini kita ke Apgujeong, kan, Oppa?" tanya Yoojin.

Hyukjae merebut tas besar berisi tripod yang ditenteng Yoojin. "Ne, Yoojin-ah. Biarkan aku yang membawanya."

Yoojin mem-pout-kan bibir. "Yah, Oppa! Oppa ini tingginya sama denganku dan lebih kurus dari aku! Setidaknya biarkan aku yang membawanya!" seru yeoja ini kesal.

"Yah! Aku lebih tinggi darimu dua senti! Dan lagi aku ini namja!"

"Oppa terlalu imut dan manis untuk disebut namja!"

"YAH!" seru Hyukjae murka. Yoojin hanya menjulurkan lidah.

Jonghyun dan Taecyeon yang melihat perdebatan dua makhluk manis itu tersenyum.

Selama perjalanan menuju tempat pemotretan berikutnya, mobil van yang berisi lima manusia itu sangat berisik. Yoojin yang satu-satunya yeoja di mobil itu terus mengganggu sang leader Hyukjae dan maknae mereka, Myungsoo.

"Hyung, di mana-mana ditulis artikel mengenai pameranmu kemarin," kata Jonghyun sambil mengutak-atik ponsel. Hyukjae yang menyetir meliriknya.

"Jinjjayo?"

"Ne! Mereka seperti biasa memuji hasil karyamu... Tapi semua orang begitu penasaran dengan wajahmu, Hyung. Mengapa Hyung tidak mau go public?" komentar Jonghyun.

"Jonghyun benar, Oppa. Banyak tawaran interview dan acara televisi yang Oppa tolak karena Oppa tak mau menunjukkan diri Oppa pada dunia. Wae?" tanya Yoojin.

Hyukjae mem-pout-kan bibir. "Itu terlalu merepotkan."

"Itulah mengapa banyak fans dari kalangan selebriti jatuh cinta pada Hyung ketika sudah bertemu dengan Hyung," gumam Taecyeon.

"Kau bilang sesuatu, Taec?" tanya Hyukjae.

"Ani, Hyung."

"Tapi, tapi! Sehabis ini kita memotret supermodel yang saat ini sedang menjadi beken, kan? Siapa namanya?" kata Yoojin antusias.

"Entahlah," kompak Hyukjae dan Taecyeon, sedang Myungsoo mengobrak-abrik tas mencari kertas jadwal.

"Yoojin Noona, kalau tidak salah namanya—" Myungsoo memberitahu Yoojin.

"Kita sampai," umum Hyukjae. Sepertinya dia tidak dengar perkataan Myungsoo. Mereka berlima keluar dari van sambil mengambil peralatan.

Sambil bercanda keempat namja dan seorang yeoja itu masuk ke studio yang disewa untuk pemotretan. Di dalam studio sudah ramai staf dari majalah fashion. Hyukjae segera meminta krunya untuk menata studio sesuai dengan tema yang diinginkan pihak majalah setelah berdiskusi dengan para staf.

Tak lama setelah studio siap, sesosok namja jangkung berjalan masuk. Kata Yoojin dia adalah model mereka hari ini. Saat melihatnya Hyukjae sangat familiar dengan wajahnya.

Mata Hyukjae membulat mendapati Nickhun Buck Horvejkul di depannya.

"Ni-NICKHUN?!" seru Hyukjae terkejut.

"Hyu-Hyukkie Sunbae...?" kata Nickhun pelan, tak mempercayai pandangan yang dilihat matanya.

.

.

.

Sejak mengenalnya, Nickhun selalu dibayang-bayangi sosok Hyukjae. Bagaimana profilnya yang nyaris sempurna selalu menghantui tiap detik hidup dan mimpinya. Bagaimana profilnya seakan menyamar menjadi orang-orang di sekitarnya dan mengacaukan konsentrasinya. Bagaimana profilnya selalu membuatnya membandingkan dirinya dengan siapapun yang berada di sisinya.

Nickhun diberkahi segalanya di dunia ini. Mulai dari kekayaan, penampilan, bakat, keluarga yang bahagia, teman-teman yang loyal, bahkan popularitas. Hanya satu kekurangan Nickhun: cinta dari manusia yang paling dia inginkan.

Hyukjae bisa menyempurnakan 'kesempurnaan'nya itu. Karena itu Nickhun ingin memiliki Hyukjae sepenuhnya. Dia yang telanjur terjerat oleh pesona Hyukjae dan tak bisa terbebas dari jeratan itu. Satu-satunya yang bisa membuatnya bebas adalah perasaannya yang terbalas.

Yang sayangnya tak pernah menjadi kenyataan.

Patah hati itu menyakitkan... aku lebih memilih dibunuh secara perlahan daripada mengalaminya kembali, pikir Nickhun saat Hyukjae memilih Kyuhyun daripada dirinya.

Berjuang mengumpulkan retakan-retakan hatinya yang ditolak Hyukjae, selama tiga tahun lebih ini Nickhun berusaha melupakan cinta pertamanya. Kepindahan Hyukjae yang mendadak di tahun ketiga SMA-nya sedikit banyak membantu melupakan namja manis itu.

Hingga akhirnya Nickhun sekarang nyaris kembali seperti Nichkun yang dulu sebelum bertemu Hyukjae, Nickhun yang percaya diri dan menawan, sosok Nickhun yang nyaris sempurna, kini dia malah bertemu kembali dengan cinta pertamanya.

Kata orang, cinta lama bisa bersemi kembali...

Dan kata-kata itu terngiang di telinga Nickhun sekarang.

Apalagi dengan sosok Hyukjae kini yang makin dewasa, sesempurna yang selama ini ada di ingatan Nickhun, seakan namja itu keluar begitu saja dari buku dongeng-dongeng peri.

Dia memang menawan seperti peri.

Penampilan baru rambutnya tak membantu... malah membuatnya makin menawan. Tuhan... mengapa kau mempertemukan aku kembali dengan namja perusak hidupku? Pikir Nickhun frustasi.

Padahal dia yang sekarang nyaris bisa melupakan Hyukjae dan sudah memiliki calon penggantinya. Tak main-main, pengganti Hyukjae adalah Stephanie Hwang atau lebih dikenal dengan Tiffany, member girl group super Girls' Generation. Nickhun lebih dari beruntung saat bisa dekat dengan idola dengan jutaan fans itu. Dia memang dikenal sebagai supermodel, tetapi jika bisa bersanding dengan Tiffany lain cerita.

Level yeoja itu jauh diatasnya.

Menggigit bibir, Nickhun tak tahan untuk tidak menyentuh Hyukjae-nya.

Dengan paksa Nickhun menarik tangan Hyukjae dan berjalan menjauh dari keramaian staf pemotretan.

"Ni-Nickhun! Lepaskan tanganku!" seru Hyukjae sambil berusaha membebaskan tangannya.

Nickhun seolah tuli. Dia tak menghiraukan pekikan Hyukjae dan membawa Hyukjae keluar dari studio. Akhirnya dia menghempaskan tubuh kurus namja cinta pertamanya itu ke dinding entah-di-mana dengan kasar.

"Auch! Sakit..." kata Hyukjae.

Nickhun memenjarakan tubuh Hyukjae dengan tubuhnya. Tangannya dia letakkan di sisi wajah Hyukjae dan kakinya menahan gerak kaki Hyukjae. Posisi yang klise memang, tapi membuat namja yang lebih pendek diantara keduanya tak bisa melarikan diri.

Hyukjae mengernyit kesakitan. Dia tak paham mengapa hoobaenya itu bersikap seperti ini.

"Mengapa kau datang kembali?" desis Nickhun dengan nada penuh ancaman.

Mendadak, Hyukjae takut karena melihat ekspresi Nickhun begitu dingin dan nada bicaranya begitu menusuk.

"A-apa maksud—"

"Aku belum selesai bicara, Sunbae!" Nickhun meninggikan suaranya. Dari matanya dia bisa melihat namja yang ada di penjaranya mengatupkan bibir dan tubuhnya gemetaran ketakutan. Apalagi mata yang bening dan bulat itu berkaca-kaca, siap untuk menumpahkan air mata.

"Disaat aku hampir bisa melupakanmu, Lee Hyukjae... mengapa kau datang kembali? Kau ingin mengacau hidupku lagi?" Nickhun mendekatkan kepalanya ke sisi wajah Hyukjae, mencermati bagaimana wajah cantik itu hampir menangis.

Bahkan jika wajah ini menangis pun, dia akan tetap cantik... pikir Nickhun, mulai terjerat pesona Hyukjae lagi.

Sedangkan wajah cantik yeoja bernama Stephanie Hwang mulai memudar.

"Aku tak tahu mengapa aku begitu mudahnya terjatuh padamu lagi, Sunbae... kau datang baru beberapa detik, dan langsung merebut semuanya begitu saja. Padahal aku telah menemukan calon penggantimu yang juga nyaris sempurna," bisik Nickhun dengan menyapukan hidungnya di leher Hyukjae, menghirup aroma yang dikuarkan namja manis itu perlahan. Aroma samar manis strawberry membuatnya mabuk.

Hyukjae benar-benar ketakutan sekarang. Kemana perginya Nickhun Horvejkul yang dulu dia kenal? Apakah perubahan hoobaenya ini adalah imbas penolakannya dulu?

"Ni-Nickhun... ma-maafkan aku jika sikapku dulu membuatmu sakit hati... Me-mengapa kau berbeda dari yang kukenal dulu?" Hyukjae memberanikan diri memandang tepat ke mata Nickhun.

Nickhun malah mencermati bagaimana bibir merah itu bergerak. Bibir mantan sunbaenya terlihat begitu menggoda, lembut, merah, dan ranum seperti cherry. Apakah rasanya juga semanis cherry? Terka Nichkun.

Hyukjae makin ketakutan dengan diamnya Nickhun. "Ni-Nickhun...?"

Apalagi saat bibir itu memanggil namanya. Sunbae, ini semua adalah salahmu, pikir Nickhun gusar, tak tahan lagi dan meniadakan jarak antara bibirnya dan bibir Hyukjae.

Selamat tinggal, Tiffany.

.

.

.

Hyukjae menggigit bibir. Dia masih shock karena kejadian yang barusan dia alami.

"Jadi... bagaimana kabar Cho Kyuhyun sekarang, Sunbae?" tanya Nickhun tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. Diliriknya Hyukjae yang berusaha duduk sejauh mungkin darinya di kursi penumpang dan menempel di pintu mobil. Nichkun tertawa pelan melihat sunbae-nya itu begitu cute.

"Dia baik-baik saja..." Mungkin, tambah Hyukjae dalam hati. Dia begitu gugup dan takut berdua saja dengan mantan hoobaenya, ditambah dengan tindakan yang barusan Nickhun lakukan padanya.

Dimana Nickhun dengan ganas merebut ciumannya, menariknya dengan kasar, memaksanya masuk ke dalam mobil, dan kini entah kemana dia akan dibawa pergi.

Nickhun kembali tertawa. Persetan jika anak itu tahu aku menyentuh pacarnya. Salahnya sendiri tidak menjaga Hyukkie Sunbae dengan baik, pikir Nichkun.

"Dia pindah tak lama sejak kepindahanmu, Sunbae. Anak itu dimana sekarang?" tanya Nichkun kasual.

Pertanyaan Nickhun membuat Hyukjae kembali teringat momen paling menyakitkan dalam hidupnya. Jantungnya berdenyut sakit karena hal itu.

"A-aku ti-tidak tahu..." pelan Hyukjae.

Nickhun hampir menabrak mobil yang melaju di depannya. "Apa maksud Sunbae jika Sunbae tak tahu Cho Kyuhyun ada dimana?"

Menggigit bibir dan menutup matanya erat, Hyukjae berusaha menghirup napas.

Se-sesak...

Rasanya seperti berabad-abad setelah dia kembali menemukan suaranya. "Ka-kami berpisah..."

Kata-kata itu, meskipun diucapkan dengan pelan, terdengar sangat keras bagi Nickhun.

Melajukan mobilnya secepat batas maksimal kecepatan mobilnya, Nickhun membawa Hyukjae ke suatu tempat. Tak dia hiraukan pekikan Hyukjae yang ketakutan. Setelah mengebut sekitar sepuluh menit, mereka sampai di tempat yang tak Hyukjae kenal. Nickhun keluar dari mobil dengan membanting pintunya, melangkah dengan cepat dan menarik Hyukjae keluar.

"Ni-Nickhun—"

Hyukjae kembali berada dalam kungkungan tubuh dan tangan Nickhun. Meskipun dia takut, tetapi dia bisa merasakan pipinya terbakar.

"Bagaimana bisa?" desis Nickhun.

Hyukjae hanya bisa menatap Nickhun. "Ba-bagaimana apa—"

"Kau. Cho Kyuhyun. Putus."

Hyukjae memalingkan wajah. Hatinya tersayat lagi mengingat hari dimana dia meninggalkan Kyuhyun.

"Bu-bukan putus... Aku yang meninggalkannya..."

Nickhun mendengus. "Konyol. Kau nyaris sempurna, Sunbae. Tidak mungkin kau yang meninggalkannya. Keparat tak tahu diri itu pasti yang meninggalkanmu."

"Itu tidak benar! Kyunnie tidak sal—"

Ciuman Nickhun membungkam Hyukjae. Entah karena perasaannya atau apa, Hyukjae merasa dadanya bergelenyar.

"Aku sudah merelakanmu dan meminta brengsek itu untuk menjagamu... sekarang, apa yang terjadi, kalian putus?" Nickhun memamerkan seringaiannya. Hyukjae tak tahu lagi apa yang dirasakannya sekarang.

Nada bicara Nickhun seperti es, menusuk kulitnya dan menyisakan rasa ngilu.

"Aku tak akan menahan diri lagi, Hyukjae."

Wajah Nickhun mendekat. Hyukjae memejamkan matanya rapat-rapat, mengacuhkan napas Nichkun yang berhembus halus.

"Kau milikku sekarang, Lee Hyukjae."

.

.

.

Ciuman Nichkun berbeda dengan Kyuhyun. Kyuhyun selalu menciumnya dengan lembut, penuh kehati-hatian, mencurahkan cintanya yang membuncah dengan begitu halus. Seakan jika dia menyentuh dengan sedikit tekanan saja Hyukjae akan hancur.

Ciuman Nickhun begitu berbeda. Dia menyentuh Hyukjae dengan segala perasaan, menumpahkan segalanya melalui sentuhan itu. Mengekspresikan cintanya, sakitnya, rindunya. Seakan dia ingin menghancurkan Hyukjae dengan sentuhannya.

Nickhun mencium Hyukjae dengan begitu lekat. Menekan, mengulum, menjilat, menggigit bibir ranum nan manis itu. Sejak merasakannya untuk yang pertama kalinya tadi, Nickhun kecanduan akan bibir Hyukjae. Lidah Nickhun berusaha menerobos masuk, merasakan apa yang ingin dia miliki sejak dulu.

"Ni-Nick—hentika-aahn—" Hyukjae mencoba melepaskan kuncian tangan Nickhun di tengkuk dan pinggangnya.

Nickhun mengacuhkan semuanya dan semakin memperdalam ciumannya. Dia menginginkan dominasi atas namja manis ini. Dia menginginkan segalanya dari namja manis ini. Dia mencium Hyukjae dengan rakus, kehausan dan mendamba cairan manis yang merupakan bibir namja dalam dekapannya.

Sedangkan Hyukjae? Berusaha menahan desahannya dan berjuang agar tidak terlena akan permainan Nickhun. Dia masih mencintai Kyuhyun.

Nickhun menekan tengkuk Hyukjae agar ciuman mereka semakin mendalam. Dia ingin cinta pertamanya ini mendesahkan namanya.

Dan, terlena akan ciuman Nickhun yang mampu membuatnya lupa sesaat akan Kyuhyun, Hyukjae menyerah. Dia mendesah atas sentuhan Nickhun.

"A-angh~"

Nickhun menyeringai dalam ciumannya. Sedangkan Hyukjae, sadar akan apa yang sedang dia lakukan, merasa tertampar. Hyukjae berusaha memukul dada Nickhun. Dia bagaimanapun juga namja, dan dicium paksa oleh orang selain Kyuhyun membuatnya merasa dia berkhianat.

"Ku-kubilang hentikan!" seru Hyukjae setelah mendorong tubuh tegap Nichkun sekuat tenaga. Nichkun sontak terjatuh karena tak siap menghadapi serangan tiba-tiba Hyukjae.

Hyukjae menghirup udara sebanyak-banyaknya. Airmata menggenang di pelupuk matanya. Dia mengangkat tangan, mengusap kasar bibirnya yang diperkosa Nickhun.

Nickhun memamerkan seringaiannya lagi. Dia berdiri dan kembali mendekati Hyukjae. Hyukjae langsung menepis tangan Nickhun yang hendak melingkar di tubuhnya lagi. Nickhun hanya tersenyum simpul.

"Lihat dirimu, Hyukjae... terengah-engah, merona dan mendesah karena diriku," bisik Nickhun.

Hyukjae mengangkat tangannya dan menampar Nickhun. Sedangkan korban tamparan Hyukjae hanya tertawa kecil.

"Menolak sekarang pun, kelak kau akan jatuh ke pelukanku, Hyung. Tunggu waktunya tiba saja, hingga kau datang padaku," kata Nickhun mengacuhkan rasa panas hasil tangan Hyukjae.

"Aku tak akan pernah mencintaimu, Nickhun... terlebih karena yang kau lakukan barusan," kata Hyukjae dengan amarah yang mulai timbul.

Nichkun hanya mengangkat bahu. "Itu katamu sekarang, Hyung. Besok, kau pasti akan mengatakan kau mencintaiku."

Bibir Hyukjae terkatup dan menipis karena marah. "Tidak akan," desisnya.

Tangan Nickhun dengan cepat menahan dagu Hyukjae. "Well, terserah. Aku tinggal mengejarmu saja lagi," bisik Nickhun dengan nada final di telinga sang namja pirang.

Kesal, Hyukjae menepis kasar tangan mantan hoobaenya itu dan melagkah pergi meninggalkan Nickhun.

.

.

.

Setibanya kembali ke studio, Hyukjae buru-buru meminta maaf pada semua orang karena pergi begitu saja.

Nickhun menyusul masuk ke studio tak lama setelah Hyukjae masuk. Di wajahnya terpasang seringaian yang ingin Hyukjae rebut dari wajah itu.

Selama pemotretan berlangsung (Hyukjae menyesali kebiasaannya yang tak pernah membaca jadwal kerjanya dengan teliti. Jika dia sedikit teliti, dia bisa menghindari pertemyan dengan Nickhun, kan?), Nickhun berusaha menggoda Hyukjae. Bagaimana seringaian itu langsung membuat Hyukjae emosi, apalagi saat pemotretan, sepertinya namja itu sengaja berbuat salah.

"Yah! Bukan begitu pose yang kuinginkan!" seru Hyukjae gusar. Kesabarannya habis menghadapi namja mantan hoobaenya ini.

Nickhun hanya tersenyum, yang membuat banyak yeoja di studio itu ber-fangirl ria.

"Aku tidak mengerti pose yang kau inginkan, Jakkanim... bisa kau jelaskan lagi?" goda Nickhun dengan senyuman yang sampai Hyukjae mati pun tak akan Hyukjae akui jika senyuman itu seksi.

Dengan langkah dihentakkan, Hyukjae menghampiri Nickhun. Dengan gusar dia menjelaskan agi pose yang dia inginkan. Nickhun hanya mendengarkan dengan senyuman terkembang. Hyukjae berusaha berkonsentrasi pada apa yang ingin disampaikannya, karena melihat senyuman dan attire Nickhun cukup mengacuhkan konsentrasi.

Hyukjae merutuki keinginan editor majalah yang meminta Nickhun topless, dan hanya menyampirkan blazer di bahu. Nickhun yang memamerkan abs kecokelatan sempurna membuat yeoja di studio menggila tadi. Terlebih celana kulit yang garis pinggangnya sangat rendah.

Hyukjae mulai kesal karena Nickhun hanya mengangguk-anggukan kepala.

"Kau paham?!" sentak Hyukjae.

"Kau cute jika mengomel seperti itu, Jakkanim," kata Nickhun.

Hyukjae terkesiap. Yeoja-yeoja yang sedari tadi memperhatikan jalannya pemotretan juga terkesiap. Sedetik selanjutnya mereka berteriak.

Frustasi, Hyukjae meninggalkan studio. Setibanya dia di atap gedung itu, Hyukjae berteriak sepuasnya.

"E-er... Hyung," panggil seseorang.

Hyukjae, yang masih terlihat sangat marah, menoleh dengan cepat.

"Apa?!" salak Hyukjae. Sesaat kemudian dia bersalah, karena Jonghyun tersentak. "Ah... mian, Jonghyun-ah... ada apa?"

"E-eh... se-semua orang mencarimu, Hyung... pemotretan ha-harus di—"

"Oke. Aku kesana," ujar Hyukjae. Kali ini, dia harus bisa bertahan menghadapi Nickhun. Harus, tekad Hyukjae.

Hyukjae memgang kata-katanya. Kali ini, dia tak menggubris semua tingkah laku Nickhun. Melihat jika mantan sunbae-nya yang kini menjadi fotografer terlihat sangat serius, akhirnya Nickhun mau berkooperasi dan pemotretan dengan cepat selesai.

"Bagaimana hasilnya, Yoojin-ah?"

Yoojin, yang sedang mengedit hasil foto, menoleh. Pandangannya tak fokus. "Yoojin-ah?" panggil Hyukjae lagi.

"Selesai, Oppa," kata Yoojin.

"Kau oke?" tanya Hyukjae.

Bukannya menjawab, Yoojin malah terkesiap. Hyukjae mengangkat sebelah alis, lalu dia merasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya.

"Hai, Hyung," sapa Nickhun mesra.

Namja pirang itu langsung mencubit tangan Nickhun dan menginjak kakinya. Nickhun hanya tertawa.

"Sebenarnya, hubungan Hyukjae Oppa dengan Nickhun-ssi apa?" tanya Yoojin sambil menunggu hasil print foto.

Nickhun malah nekat mencuri ciuman di pipi Hyukjae. "Hyukkie Hyung adalah namjachinguku."

Hyukjae kembali mencubit pinggang Nickhun hingga sang model berseru kesakitan.

"Aku bukan namjachingu-nya, Yoojin-ah. Jangan percaya hal apapun mengenaiku yang keluar dari bibirnya," ancam Hyukjae.

Yoojin terihat bingung, sedang Nickhun hanya mengangkat bahu. "Yah, kau kan tidak punya namjachingu. Tak ada salahnya jika aku terang-terangan mendekatimu, kan?"

"Aku punya namj—"

"Kalian sudah menjadi mantan, Hyung," kata Nickhun dengan dingin.

Hyukjae memandang Nickhun sengit. "Tapi aku masih mencintainya."

"Tu-tunggu... Nickhun-ssi tahu pacar Hyukjae Oppa?" tanya Yoojin.

"Tentu saja aku tahu. Karena MANTAN pacarnya-lah dulu aku ditolak, berkali-kali," ujar Nickhun menekankan kata mantan. Hyukjae menginjak kaki Nickhun, sedangkan yang diinjak hanya tersenyum yang menurut Hyukjae menyebalkan.

"Yah!" Hyukjae telanjur kesal karena perlakuan Nickhun. Dia memilih duduk di sebelah Yoojin, melipat tangan dan wajahnya mengerut imut.

"Hyuuung~ kami sudah selesai membereskan peralatan," kata Taecyeon.

"Oke. Yoojin sudah selesai mengedit foto dan aku akan memberikannya pada staf, setelah itu ayo kita pulang," kata Hyukjae.

"Yah, Hyukkie... kau mau langsung pulang? Kencan dulu denganku mau?" rayu Nickhun.

"Ogah!" seru Hyukjae. Dia mengambil flashdisk dan beberapa lembar hasil print pemotretan dan mencari sang editor. Nickhun segera mengikutiny bak anak anjing.

"Mengapa kau sejak tadi uring-uringan begitu, Hyung?" goda Nickhun setelah Hyukjae menyelesaikan urusannya dengan editor.

"Karena kau ada disini, babo," kata Hyukjae sengit.

Nickhun melemparkan tangannya di bahu mungil Hyukjae. "Karena itu, menyerah dan jadilah milikku, Hyung. Jika kau terus-terusan membuat pertahanan seperti itu, kau bisa lelah."

Hyukjae langsung membuang tangan Nickhun. "Tak akan."

Setelah itu, Hyukjae langsung melarikan diri dari Nickhun.

.

.

.

Selama beberapa hari kedepan, namja bernama Nickhun Buck Horvejkul selalu mengikuti Hyukjae. Terlebih jika keduanya bekerja di lokasi yang sama, Nickhun selalu berusaha mendapatkan perhatian Hyukjae.

Taecyeon, Yoojin, Jonghyun dan Myungsoo mulai terbiasa melihat sang supermodel selalu berusaha merayu Hyukjae. tak jarang keempat manusia yang sudah Hyukjae anggap dongsaeng sendiri itu ikut membantu Nickhun. Hal ini membuat Hyukjae luar biasa kesal.

Meski begitu, kembalinya Nickhun dalam hidupnya membangkitkan kenangan masa SMA-nya dulu. Seperti deja vu, Nickhun kembali mengejar-ngejar dirinya. Dulu hidupnya terasa begitu sempurna, sebelum dia mengambil keputusan untuk meninggalkan Kyuhyun.

Hyukjae yang hari itu kesal karena pagi-pagi Nickhun sudah datang ke kantor agensi untuk merayu Hyukjae, pergi dari kantor. Dia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan pikiran.

Setelah membeli sekotak besar susu strawberry, Hyukjae mendapat pesan dari Taecyeon jika ada seorang namja yang mencarinya. Hyukjae bergegas kembali ke agensi, mendapati Taecyeon bersama seorang namja tegap dengan wajah sangat tampan. Namja tampan berlesung pipi itu mengatakan jika dia mengenal Kyuhyun. Tubuh Hyukjae membeku, seolah kerja otaknya mati begitu saja. Kenangan-kenangan yang dulu saat bersama Kyuhyun terputar dalam memori Hyukjae secara otomatis. Bibirnya membuka dan menutup, matanya terbelalak, tangannya menggapai ke arah sosok itu.

"Anda... mengenal... Kyuhyun...?" bisik Hyukjae.

.

.

.

Di suatu pemakaman Seoul, seorang namja berambut cokelat ikal dan berwajah tampan membawa seikat besar bunga lily kuning dan tulip.

Kata Sungmin, lily kuning dan tulip adalah bunga kesukaan Lee Yongjun dan istrinya, Lee Jiwoo.

Di depan namja itu terdapat nisan dengan tulisan yang dapat dibaca dengan jelas pertanda keluarga almarhum sering datang mengunjungi makam.

Di sini terbaring anggota keluarga Lee, Yongjun dan Jiwoo.

Sosok namja tersebut berdiri tegap dihadapan nisan yang terletak di pemakaman dengan hamparan rumput hijau yang membentang dengan begitu indahnya. Bola matamiliknya memandang sayu tepat dimana sebuah nisan dari orangtua kekasihnya.

Sebuah senyum diberikan dengan tulus untuk makam tersebut. Sebuah senyum yang terdapat segenggam kesedihan didalamnya.

"Yongjun-ssi... Jiwoo-ssi..." ucap namja itu lirih. Dia menghembuskan nafasnya sekali sebelum melanjutkan kata-katanya yang terhenti.

"Yongjun-ssi, Jiwoo-ssi... Cho Kyuhyun imnida. Sebelumnya maaf, karena baru kali ini aku bisa datang kemari. Kuharap kalian mau memaafkanku," ucapnya lagi. Dia bungkukkan tubuhnya sebagai permintaan maaf. Kemudian Kyuhyun, namja itu, meletakkan rangkaian bunga lily kuning dan tulip diatas depan nisan tersebut.

"Kalian tahu? Sejak pertama kali aku melihat sosoknya, aku yakin bahwa sosok itulah pemilik sebagian jiwaku. Aku begitu mencintainya. Aku begitu bangga akan sosoknya. Aku sangat ingin melindunginya dari segala hal dan membahagiakannya. Dia memiliki hati yang sangat kuat dan tulus. Ketulusan hatinya jugalah, yang menarik jiwaku dari kegelapan yang selama ini selalu mengekangku. Dia menjadi matahariku. Aku sangat berterimakasih padanya. Sejak hari dimana aku menyadari aku mencintainya, aku diam-diam memutuskan untuk selalu melindunginya, menjaga agar senyum lembut itu selalu terkembang. Melindunginya, seseorang yang sangat berarti bagiku, Yongjun-ssi, Jiwoo-ssi. Kurasa sekarang waktu yang tepat untukku meminta izin pada kalian..." Kyuhyun, sekali lagi menarik napas yang panjang sebelum mengatakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang menjadi tujuan utamanya datang ke pemakaman itu.

"Yongjun-ssi! Jiwoo-ssi! Izinkanlah aku untuk selalu mencintai dan menyayanginya. Izinkanlah aku untuk selalu melindunginya. Izinkanlah aku untuk menjadi penopang hidupnya. Izinkanlah aku untuk selalu bersamanya. Izinkanlah aku untuk memilikinya seutuhnya. Sebagai namja... dan juga sebagai seorang suami..." ujar Kyuhyun mantap. Tersirat sebuah keyakinan dari kata-katanya itu. Dia mencurahkan semuanya dihadapan makam yang begitu dia hormati. Hatinya lega, setelah mengatakan semua ganjalan yang singgah dihatinya.

Kesunyian yang terjadi di tempat itu, begitu menenangkan jiwanya. Menepis semua pikirannya sesaat. Hingga dia memejamkan matanya perlahan. Merasakan kenyamanan dari panorama yang ada. Merasakan hembusan angin yang begitu lembut membelai wajahnya. Simfoni lembut yang begitu lirih. Entah itu suatu fenomena alam atau suatu kejaiban, ketika terdapat sebuah melodi indah dari nyanyian burung yang tiba-tiba berterbangan secara serempak. Begitu indah dan mempesona. Tapi, bukan itu yang membuat Kyuhyun tersentak dan membuka matanya. Itu semua karena, dibalik melodi indah dari nyanyian burung itu, terdapat sebuah suara yang begitu membuat hatinya merinding ketika mendengarnya. Sebuah suara yang mampu membuat hatinya merasa bahagia dan puas. Sebuah suara yang membuat senyum tulus terpancar dari wajahnya. Sebuah suara yang membuat hatinya tersentuh. Sebuah suara yang mampu membuat hatinya bergetar dan meneteskan air mata. Sebuah suara yang mengatakan...

Ya...kami mengizinkanmu, Kyuhyun-ah. Jagalah Hyukkie kami baik-baik...

Kyuhyun begitu terharu. Tidak ada lagi yang dapat Kyuhyun rasakan. Pikirannya yang tadi begitu kalut, langsung sirna melalui satu kalimat pendek tersebut dan menjadi sebuah kekuatan dalam dirinya. Kekuatan yang semakin memperkokoh kepercayaan dirinya untuk dengan tegar menjalani hidup demi orang terkasih.

Terima kasih, Yongjun-ssi. Terima kasih, Jiwoo-ssi, kata Kyuhyun dalam hati. Hanya kalimat itu yang mampu ia katakan dihadapan nisan kedua orang tua calon pasangan hidupnya.

Lee Hyukjae.

.

.

.

Hyukjae masih terpaku melihat namja bertubuh atletis dan berlesung pipi itu.

Sosok itu, Cho Siwon, menoleh pada Hyukjae dan langsung memeluknya.

"Mian, Hyukkie... namaku Cho Siwon, hyung Kyuhyun."

Hyukjae masih shock. Siwon kemudian melepaskan pelukannya. Matanya menatap mata Hyukjae.

"Ada yang harus kubicarakan padamu, Hyukkie."

Hyukjae ditarik menuju taman di dekat kompleks gedung agensi Hyukjae. Di sana Siwon mengajak Hyukjae duduk di bangku taman.

"Apa... yang ingin Hyung katakan?" ujar Hyukjae pelan.

"Semuanya, Hyukkie. Semuanya," kata Siwon.

"Se-semua...?"

Siwon mulai menceritaan tentang appanya dan appa Kyuhyun yang menolak hubungan Kyuhyun dengan Hyukjae, lalu appanya yang meminta mereka putus. Appanya juga memaksa Kyuhyun sekolah di Inggris. Dan sikap Kyuhyun berubah semenjak pindah ke Inggris. Di Inggris pulalah, Kyuhyun membuat perjanjian dengan ayah mereka, Cho Youngwoon, agar kelak Cho Youngwoon menyetujui hubungan Kyuhyun-Hyukjae. Siwon bercerita tentang perjuangan Kyuhyun dalam mengembangkan perusahaan baru, agar dia diakui oleh ayahnya. Kyuhyun bisa bertahan karena selama ini Siwon selalu membawa berita untuknya mengenai Hyukjae. Juga karena foto-foto Hyukjae dikirimkan Sungmin secara diam-diam selalu memompa semangatnya. Kyuhyun ingin memberi kabar pada Hyukjae, tetapi tidak bisa karena perjanjian dengan ayahnya yang tak memperbolehkan menghubungi Hyukjae.

"Dan kini, Kyuhyun tengah bersitegang dengan Appa agar memenuhi perjanjiannya, Hyukjae-yah," kata Siwon mengakhiri cerita.

"Ja-jadi... selama ini Sungminnie Hyung...?" tanya Hyukjae setengah melamun.

"Ne. Berkat itu Kyuhyun selalu berjuang dan bertahan. Yunho Hyung juga ikut andil dalam memberitahu Kyuhyun mengenai keadaanmu, Hyukkie," jelas Siwon.

"La-lalu... Kyu juga di sini? Di...Seoul?" kata Hyukjae.

Siwon tersenyum dan mengangguk.

Hyukjae merasa perasaannya campur aduk, antara bahagia, sedih, kalut, rindu, dan perasaan lain yang tak bisa dia sebutkan. Tak menyangka... jika selama ini Kyuhyun berjuang demi dirinya. Perasaan bersalah menggelayut di dada Hyukjae. Kenapa dulu dia tega meninggalkan Kyuhyun? Seharusnya mereka berjuang bersama.

Hyukjae menelan ludah dengan susah payah. Yang akan ditanyakan adalah pertanyaan paling penting.

"Si-siwon Hyung... a-apakah Kyu-Kyuhyun berhasil memenangkan perjanjian itu?Perjanjian dengan Appa Hyung," tanya Hyukjae sangat pelan, tetapi Siwon masih dapat mendengarnya.

Siwon tersenyum sangat lebar.

"Kalau itu... lebih baik kau tanyakan langsung pada orangnya, Hyukkie chagi," ucap sebuah suara yang merdu.

Suara yang sangat dirindukan Hyukjae. Suara yang membuat Hyukjae mengingat segala kenangan cinta pertamanya. Suara yang membuatnya menoleh, mendapati sang pemilik tersenyum tulus dengan tangan memeluk buket lily yang sangat besar.

Air mata Hyukjae langsung mengalir melihat pemilik suara merdu itu. Kedua tangan Hyukjae membekap mulutnya, berusaha menahan isakan yang hendak melesak keluar. Rasa bahagia membuncah dalam dadanya.

Waktu seakan berhenti saat kedua manik mata itu bertemu dan saling memandang dalam dengan sorot penuh cinta. Alam seakan hening saat dua manusia yang merupakan belahan jiwa satu sama lain itu bertemu. Tak ada yang mengganggu, untuk detik itu dunia benar-benar menjadi milik mereka berdua.

Betapa mata cokelat itu sangat dirindukan Hyukjae. Betapa rambut cokelat ikal yang diterbangkan angin itu terlalu menggoda untuk disentuh Hyukjae. Betapa... betapa senyum itu selalu menghiasi tiap mimpi dan khayal Hyukjae.

"Aku pulang, Hyukkie," kata Kyuhyun lembut, membuat Hyukjae ingin menangkap udara yang berisi lembutnya suara Kyuhyun dan menyimpannya di hati, untuk dirinya sendiri.

Hyukjae langsung berlari dan menerjang Kyuhyun, memeluknya sangat erat, seolah jika dia melepaskannya, Kyuhyun akan memudar, lenyap terbawa angin.

Kyuhyun tertawa saat Hyukjae mendekapnya dengan erat. Dia balas memeluk Hyukjae sama eratnya, menyurukkan kepala pada pertemuan leher dan bahu Hyukjae, menghirup dalam-dalam wangi samar stroberi yang selalu menyeruak sama seperti dulu saat Kyuhyun memeluk Hyukjae.

"Hiks, Kyu..." isak Hyukjae, menghirup aroma mint yang selalu menyerbu indra penciumannya jika dia memeluk Kyuhyun.

"Uljima, chagi," ujar Kyuhyun lembut, menatap tepat manikonyx Hyukjae yang selalu menghanyutkannya. Tangannya naik, mengelus rambut Hyukjae yang disadari Kyuhyun sekarang berwarna pirang.

"Tapi... ta-tapi... hiks," Hyukjae masih terisak-isak. Tak percaya. Akhirnya Kyuhyun ada di hadapannya.

Kyuhyun menunduk, lalu mencium sudut mata Hyukjae, menjilat air mata yang mengalir.

"Uljima, sekarang aku akan selalu ada untukmu, Hyukkie," ucap Kyuhyun.

Hyukjae berusaha menghentikan tangisannya. Tangan Kyuhyun mengusap sisa-sisa air mata di pipi Hyukjae.

Hyukjae menghirup napas dalam-dalam, berusaha menahan tangisannya. Putra ketiga keluarga Lee itu mendongak, tersenyum manis pada Kyuhyun.

"Selamat datang, Kyuhyunnie," kata Hyukjae lembut.

Dada Kyuhyun seakan-akan meledak karena rasa bahagia yang membuncah. Dia menunduk lagi, kali ini mencium bibir merah Hyukjae. Mata Hyukjae terpejam, menikmati sensasi saat Kyuhyun menciumnya. Jantung keduanya berdebar keras, seakan ciuman ini ciuman pertama mereka. Setelah kecupan singkat itu berakhir, Kyuhyun melonggarkan pelukannya, lalu melepaskan tubuh Hyukjae, tetapi menautkan tangannya pada tangan Hyukjae. Keduanya saling memandang dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan. Senyum tulus tak lupa menghiasi bibir keduanya.

"Saranghae, Hyukkie. Yeongwonhi saranghae."

"Nado saranghae, Kyu, nado."

Langit keX adalah langit terakhir Hyukjae tanpa Kyuhyun. Karena hari itu, langit keseribu enam ratus empat puluh, adalah langit yang menaungi bertemunya satu jiwa dua fisik Kyuhyun dan Hyukjae.

Penantian Hyukjae akhirnya terbalas. Empat tahun berlalu bagaikan angin.

.

.

.

Balesan review.

Lee MiHyuk: saya udah gak nyiksa nih... mereka udah ketemuuuu~ anyway, thanks udah ninggalin review :*

Nurayuoctarina1: udah disatuin, nih, dedek :D makaih udah nunggu, en makasih juga udah review :*

Octta x secrett: ini dah lanjuuut~ thanks udah ninggalin review :*

Polarise437: saya gak mungkin bisa misahin mereka, chinguuu~ dan, jangan berani-berani ambil Hyukkie! Hyukkie cuman buat Kyu! Anyway, thanks udah ninggalin review :*

Chocoolate: ini dah lanjuuut~ thanks udah ninggalin review :*

Novaanchovishy: ini Kyu udah jemput Hyukkie~ tuh, momen KyuHyuk-nya. Sori kalo ada KhunHyuk, tapi. Thanks udah ninggalin review :*

Youmustbeknowme: gua males ngetik unname baru loe. Angka-angka gitu. Hahaha. Ini gak hiatus, cuman ketunda lama soalnya kemaren-kemaren ada ujian banyaaak. Sori juga udah bikin nunggu. Ini satu dua chapter lagi tamat kok. Tapi, thanks udah ninggalin review :*

OceanBlue030415: saya gak rela Hyukkie jadi hadiah buat kamuuu~ iya, SiMin jadian... ini udah dilanjut, maaf kalo lama, ya. Salah kamu sendiri sih, ngasih review kayak gini. Mana ngetawain hasil ujian lagi. IP saya cukup bagus, tauuu :P. Anyway, thanks udah ninggalin review :*

Ranigaem1: ini udah mulai nyelesain masalah mereka. Thanks udah ninggalin review :*

MingKyuMingKyu: ini dah lanjuuut~ thanks udah ninggalin review :*

Ps: maaf banget update-nya lama. Daripada saya stress karena mikirin ini FF, saya putusin satu atau dua chapter lagi Now and Forever tamat. Yeeeey! Akhirnya mau tamat juga ini FF~ /sebenernya saya niat bikin gak sih/

Tapi emang rencana saya gitu. Meski di tulisan asli cerita ini pemeran utamanya nyampe punya anak, saya gak mau bikin FF-nya juga gitu. Capek, man. Mana Mitos itu bikin kesel lagi. Siapa sih yang bikin FF kayak gitu?

Makasih banyak selama ini udah ngasih review. Ada yang baca aja saya udah seneng banget. Makasih~ dan maaf kalo selama ini bikin kesel. Harus maafin, lho ya. Kan lebaran ini kekeke.

See you soon!

August 2,

Rain drops lover,

Raito.