Halohalohaihai... Kembali dengan saia, author cerita ini! (reader: Jadi yang kemaren authornya siapa?)

Sebenarnya, saia terharu sekali, melihat semakin banyaknya orang-orang di fandom ini... *ngelap iler* sebagai pengunjung lama fandom ini, saia turut merasakan semakin banyak pecinta Dynasty Warriors... Walopun saia lama tidak main gara-gara mesin yang sudah lama, paling tidak saia TERHARU!*capslock jebol*

Wokey. Selesai sudah curhatan saia. Reply review:

ilhamakbar anshari:

Waduh, maapkan saia. sebenernya yang kata-kata terakhir sebelum fanfic diputar(?) itu balasan review buat anda seorang*bingung mau manggil apa* Tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba namanya hilang tanpa sepengetahuan saia... Sekali lagi mohon maaf... Kalau ini masih belum muncul, mungkin saia ketik saja saat pembuatan fic selanjutnya... Dan maaf juga kalau pennamenya kurang titik... Thanks for the review!

SoniCanvas:

Thanks for the review! Ide Soni-san(?) sepertinya bisa saia pakai... Pokoknya lihat saja di chapter ini, oke? *kedipmata(reader: *muntah)

sarasion:

Thanks for the review!

Aiko Ishikawa:

Sebenernya saia juga iri sama Lu Su.

Lu Su: Lo kira enak apa?! Image kebijaksanaan gue jadi ilang, tauk!

Okelah, Lu Su. Thanks for the review!

zhonghui kuran: dari other ya... Hmm.. Belum kepikiran tuh... *ditabok warga other* pokoknya pasti ada! Maapkan saia review untuk chap1 nya tidak dibalas, karna saia ingin mup on... *pasang tampang jones*

Happy Reading!


Chapter 3: Day 1: Wei

Saat itu, Xiahou Dun menemukan Guo Jia yang lagi malas-malasan.

"Guo Jia, apa kamu tidak bersama tuan Cao Pi?" Tanyanya dengan Formal.

"Oh, tuan Xiahou Dun." Guo Jia pun bangun dari tidurnya dan memberi salam. "Saat ini saya sedang mendapat waktu senggang saya."

Hyuusshh... Angin berhembus kencang. Guo Jia pun menguap. Malangnya, sesuatu masuk ke dalam mulutnya, dan itu pun tertelan. Xiahou Dun yang terlalu menikmati suasana pun tidak menyadari apa yang terjadi pada lawan bicaranya itu.

"Omong-omong, tuan Guo Jia-loh? Dia hilang, mungkin dia sudah kembali..."Akhirnya, Xiahou Dun pun menjejakkan kakinya ke dalam istana.

"Hei! Tuan Xiahou Duunnn!" Terdengar suara yang nyaring memanggil nama Xiahou Dun. Namun, karena volume-nya yang terlalu kecil, suaranya pun tidak kesampaian. Si pemilik suara pun memutuskan untuk masuk ke dalam istana.

-makan siang-

"Hanya Guo Jia yang belum datang?" Tanya Cao Cao, sambil mengabsen bawahannya satu per satu.

"Biar kucari dia." Kata Cai Wenji, berdiri dari bangkunya. Dia pun berjalan menuju kamar Guo Jia.

Tok! Tok!

... Tak ada Respon.

Toktoktok!

... Tetap tak ada respon

Toktokotoktoktoktokotoktok!

... Tidak ada suara sama sekali.

"Guo Jia, kau di dalam?" Teriak Cai Wenji berkali-kali sambil menggedor pintu kamar Guo Jia.

"Lama sekali, Cai Wenji! Tuan Cao Cao sudah menunggu." Kata Wang Yi.

"Maaf. Sepertinya Guo Jia tidak ada di kamarnya."

"Benarkah? Tapi kamarnya terkunci. Kalau begitu-" Wang Yi pun mendobrak paksa pintu itu, dan mereka berdua tidak melihat siapapun di dalamnya, selain jendela yang terbuka.

"... Apa menurutmu orang seperti Guo Jia akan muat jika keluar melewati jendela itu?" Tanya Wang Yi.

"... Kurasa tidak. Lagipula, Guo Jia bukanlah tipe orang yang akan melakukan hal seperti itu.

Apa mereka sadar kalau ada seseorang di belakang mereka?

Tap... Tap...

SHIIUUTTT!

PLAK!

"Awww!" Mereka merasa memar di betis mereka masing-masing. Dan yang mereka lihat adalah...

"Jangan bergerak!" Teriak seorang anak kecil. Dia menodongkan tongkat pada Wang Yi dan Cai Wenji, berjalan mundur, lalu lari.

"Ayo kita kejar!" Wang Yi mengejar anak kecil itu, begitu pula Cai Wenji.

...

... Akhirnya, mereka berhasil menangkap anak itu.

"A-Aaahhh! Lepaskan akuuu!" Anak itu rerus menggertak. Namun semua itu sia-sia karena Wang Yi mengangkatnya bagaikan mengangkat kucing(baca: mengngkat kerahnya).

"Siapa ini?" Tanya Yue Jin.

"Mana kutau." Jawab Wang Yi dingin.

"Menyingkir! Yang mulia Cao Cao ingin melihat anak itu!" Teriak seseorang. Cao Cao pun berjalan mendekati anak itu. Wang Yi pun menurunkannya, namun ia memegang bahunya.

"Jadi... Siapa namamu, nak?" Tanya Cao Cao ramah *Cao Cao bisa ramah? XD/plak*

"Yah... Kayaknya dia mirip seseorang deh..." Kata Cao Pi, sambil memerhatikan anak itu. Yang dilihat pun mersa deg-degan.

"Oh ya? Siapa" Tanya Cao Cao.

"Entahlah... Mungkin Guo Jia?" Jantung anak itu pun serasa berhenti. Ra,but pirang dan mata biru, sudah cukup membuktikan kalau dia adalah Guo Jia.

"Siapa namamu, nak?" Tanya Zhen Ji. Anak itu tetap diam.

"Jawab pertanyaannya!" Kata Dian Wei karena kesal. Karena insiden ini, makan siang sedikit diundur.

"A-Aku Guo-"

"Guo Jia?" Kata itu pun disambut anggukan oleh anak kecil itu. Semuanya pun terperanjat.

"HAAAAHHHH?!"

"Bagus! Ayo, Guo Jia, semuanya menunggumu di ruang makan!" Kata Li Dian dengan polosnya. Padahal semua warga Wei sudah berada di sekitarnya.

"Gila lu, Li Dian! Lalu yang ada di sekitar kita siapa? Author?" Tanya Yue Jin. Omong-omong, saia ini cuma satu orang, lho...

Sudahlah, Author skip saja sampai selesai makan siang...

"Bagaimana kamu bisa jadi seperti ini?" Tanya Cao Cao.

"Waktu saya menikmati angin bersama tuan Xiahou Dun tadi, sesuatu memasuki mulut saya, lalu karena tidak sengaja, tertelan. Sejak saat itulah saya jadi kecil begini." Kata Guo Jia kecil sambil berpose(?) nggak kok.

"Bagaimana, sepupu? Apa dia benar?" Tanya Cao Cao ke sepupunya itu.

"Iya juga... Tadi aku memanggilnya, tapi tak ada jawaban... Jadi kutinggal..."

"Dengan badanmu yang kecil itu, mungkin kau bisa masuk ke perutnya Xu Zhu!" Kata Yue Jin disambut dengan deathglare dari Xu Zhu.

"Tapi hanya badanmu kan yang mengecil? Memorimu masih sama kan?" Tanya Yu Jin. Guo Jia mengangguk.

"Berarti tak masalah." Kata Cao Cao. "Selama memorinya masih ada, kita masih aman! Yu Jin, kau jaga dia!"

"Tapi saya lebih suka sendiri-Ah! Bagaimana kalau Zhang He?" Tanyanya sambil menunjuk Zhang He.

"Aduh apa sih, eyke kan lagi benerin rambut... Oh, jaga Guo Jia? Boleh deh... Yuk sini sama tante!" Guo Jia yang mendengarnya pun merinding.

"Tapi, tak mungkin Guo Jia dijaga Zhang He terus. Nanti dia ketularan bancinya..." Kata Cao Pi.

"Kalau begitu, kau yang mencari penawarnya, Cao Pi!" Kata-kata itu pun disambut jawdrop oleh Cao Pi.

"Sekarang ayah sibuk! Ayah mau ada rapat dengan petinggi Cina! Daahhh" Cao Cao pun meninggalkan gedung, maksud saia istana.

Keadaan yang terlihat saat ini pun adalah suasana yang normal, hanya saja Guo Jia kecil kita ini terus diikuti Zhang He, selaku babysitter-nya untuk sementara.


Author: Akhirnya... UDAH CHAPTER 3!

Guo Jia: Ya ampun thor... masih mencapai rekor lama aja bahagia banget!

Author: Tentu saja Guo Jia! Ini fanfic keduaku yang bukan oneshot! Dan aku, tentu saja tidak akan membiarkan fanfic ini berhenti di sini, seperti fanfic yang lalu! Paling tidak aku harus membuat seseorang tiap kingdom jadi kecil dulu, baru aku bisa berpikir untuk menunda fic ini!

Guo Jia: Jadi, kau tak akan mengembalikanku seperti semula? *pasang kuda-kuda*

Author: Tidaakkk... *kabur*

Xiahou Dun: Aku turut berduka cita sama jenderal-jenderal yang dijadikan author ini kecil... Karena Guo Jia sama Author lagi ribut maka-

Author: Jangan lupa meninggalkan review ya! Aw! Guo Jia! Jangan musou aku! *kabur*

Guo Jia: *ngejar*