.

.

.

Hiashi Hyuuga pov

Aku tidak dapat menutupi rasa terkejutku mendengar apa yang dikatakan bocah Uchiha ini. Melamar putriku? Berani sekali dia. Tidakkah ia mengetahui resiko yang akan ia dapatkan dengan menikahi putriku? Kerajaan kalangan bawah saja tidak ada yang mengambil resiko itu. Kheh, seperti aku dulu. Hanya melihat kecantikan seorang tuan putri saja.

Aku pernah mendengar nama bocah Uchiha ini. Siapa yang tidak mengenalnya? Semua orang mengenalnya karena hampir semua kerajaan memiliki ikatan kerja sama dengan Uchiha Kingdom. Apalagi sejak meninggalnya Uchiha Fugaku, nama Uchiha Sasuke kian merajai semua kalangan. Seorang bocah yang mampu menunjukkan kekuatannya dengan menaklukkan banyak kerajaan sehingga 'melempar' posisi Uchiha Kingdom dari posisi tiga menjadi posisi satu mengalahkan Pein dari Akatsuki Kingdom.

Uchiha Sasuke. Aku tidak heran Uchiha Kingdom mengalami kemajuan yang gemilang.

End of Hiashi pov

"Apa yang kau harapkan dengan menikahi putriku?"

"Menyatukan dua kerajaan untuk keuntungan bersama tidak ada salahnya kan, Hyuuga-sama?"

"Jadi maksudmu ini adalah pernikahan politik?"

"Anda dapat mengatakannya begitu, Hyuuga-sama."

"Aku ingin pernikahannya dilangsungkan di Hyuuga Palace."

"..."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Sasuke merasa tidak dapat berkata apa-apa. Dia memang tidak menginginkan penolakan. Dia juga sangat yakin akan diterima. Tapi dia sama sekali tidak memprediksikan akan secepat ini mendapatkan izin seorang Hyuuga Hiashi. Bahkan, dia memprediksikan akan mendapatkan peerimaan setelah satu minggu kemudian karena pasti seorang ayah sekaligus Raja yang diagung-agungkan pasti akan berpikiran panjang untuk mempertimbangkan banyak hal untuk masa depan putri tunggalnya.

"Bukan itukah jawaban yang kau inginkan, Uchiha?"

"Tentu saja, Hyuuga-sama."

Suatu keberuntungan menjadi serang Uchiha. Memiliki refleks dan pengendalian diri yang bagus.

"Pernikahan itu akan dilangsungakn dengan satu syarat."

"Apapun."

"Hari pernikahan adalah hari pertama kau melihat putriku."

Mulutnya menganga lebar mendengar syarat dari raja Hyuuga tersebut. Bukan. Tentu saja bukan mulut Sasuke Uchiha. Tapi yang disampingnya. Kau tidak mungkin melupakan peranan Naruto Uzumaki sebagai pendamping dalam pelamaran ini, kan?

Sasuke hanya menyeringai melihat ekspresi sahabat sekaligus panglima andalannya itu. Dia tentu tahu apa yag dipikirkan seorang Naruto.

Sedangkan Sasuke? Dia tentunya sudah menduga syarat tersebut mengingat cerita yang dia dengar dari Sakura. Dan satu keuntungan lagi menjadi seorang Uchiha. Kecerdasan yang mendekati sempurna.

Dengan sebuah senyum politik yang tipis, Uchiha mulai membuat hubungan dengan Hyuuga.

"Syarat disetujui, Hyuuga-sama."

.

.

.

Yukata itu tampak cantik dan anggun membalut tubuhnya yang ramping dengan bentuk yang proporsional dan dengan lekukan yang sesuai pada tempat tempatnya.

"Uchiha Kingdom?"

"Ya. Persiapkan dirimu sebulan lagi."

Selanjutnya hanya anggukan kepala yang dapat diberikan oleh sang Tuan Putri dari ceramah panjang Hyuuga Hiashi.

"Mengerti?"

"Hai, Tuo-sama. Aku mengerti pernikahan ini hanya pernikahan politik. Aku juga akan melaksanakan tugasku dengan baik."

"Hn. Kau boleh pergi."

"Hai, Tuo-sama."

"Dan -"

Hinata membalikkan badannya mendengar sesuatu yang akan menjadi tambahan 'ceramahnya' kali ini.

"Dan kau tidak boleh lemah. Lawan siapapun yang membuatmu tidak bahagia."

.

.

xx Uchiha Kingdom xx

"Teme, kau lihat sendiri bukan? Kenapa kau tidak mempercayai kami?"

"Hn."

"Berhentilah hanya mengatkan 'Hn' dan pikirkan masa depanmu jika kau tetap bersikukuh dengan pendirianmu untuk menikahi Tuan Putri Hyuuga itu."

"..."

"Bahkan, Hyuuga-sama saja merasa malu dengan wajah putrinya. Dia mungkin takut kau akan membatalkan pernikahannya kalau kau sudah tahu bagaimana rupanya."

"Sasuke-kun!"

'Ah, tambah satu lagi keributan. Apa Naruto baka ini saja tidak cukup?' pikir Sasuke.

"Ada apa Sakura-chan?" tanya naruto

"Seluruh warga kerajaan telah mendengar berita lamaran Sasuke-kun pada Tuan Putri Hyuuga yang tidak jelas itu. Mereka kecewa mendengar Sasuke-kun melakukan itu."

"Biarkan saja."

"Tapi, Sasuke-kun, mereka adalah rakyatmu. Bagaimanapun juga kau harus mendengarkan pendapat mereka. Mereka hanya ingin memiliki seorang permaisuri yang pantas disandingkan dengan Sasuke-kun."

"Bahkan kau juga tahu kan Teme, kalau para menteri juga sangat kecewa dengan keputusanmu itu. Mereke berpikir kalau nanti semua raja kerajaan lain meremehkanmu karena keputusanmu yang suka hati dan tidak mempertimbangkan kehormatan kerajaan."

"Maksudmu, Hyuuga bukanlah kerajaan terhormat, Dobe?"

"Kau tahu bukan 'terhormat' itu yang kumaksud Teme. Bagaimana nanti jika kau melakukan kunjungan kerajaan? Atau pertemuan kerajaan? Atau ingin melakukan jalan-jalan? Kau tidak mungkin tidak membawa 'istrimu' itu. Lalu apa kata orang nantinya jika melihat wajahya? Tidakkah kau merasa malu?"

"Benar yamg dikatakan Naruto, Sasuke-kun."

"Hn."

"Jadi Sasuke-kun akan membatalkannya?" tanya Sakura senang.

"Tidak."

Hah,,,, seharusnya mereka tahu akan percuma mengubah keputusan Sasuke. Sebelum menitikkkan air matanya dan mempermalukan diri-sendiri, Sakura pergi ke kamarnya.

.

.

xx Hyuuga Kingdom xx

"-"

"-"

"-reka tidak tahu apa-apa."

"Benar sekali. Tunggu saja saat acara pernikahan nanti. Mereka semua pasti jilat lidah karena sudah menghina Tuan Putri Hinata."

Dayang-dayang itu tidak menyadari bahwa percakapan mereka dapat didengar oleh orang lain.

Hinata hanya mendiamkan dayang-dayangnya seperti tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan tidak mempedulikan walaupun orang diluar sana menganggapnya jelek. Hal ini sudah biasa baginya.

.

.

Hinata pov

Aku tidak dapat menyalahkan mereka ataupun orang diluar sana yang berpikiran tidak baik padaku. Karena memang sejak kecil aku sudah tidak diperbolehkan menginjakkan kaki dari istana ini. Aku juga tidak akan menyalahkan Tou-sama atas hal tersebut. Aku terlalu menyayangi Tou-sama untuk dapat membencinya karena telah mengurungku selama ini.

Aku memang tidak tahu tujuan Tou-sama mengurungku selama ini. Aku yakin bukanlah untuk hal yang tidak baik karena aku mengenal Tou-sama. Dia menyayangiku. Walaupun selama ini ia hanya mengajariku dan menekankan agar aku tidak boleh tampak lemah, tapi itu sudah cukup untukku mengetahui kalau Tou-sama menyayangiku. Mungkin, itu adalah caranya untuk melindungiku.

Uchiha Sasuke. Aku tidak mengenalnya. Aku hanya pernah –sering- mendengar namanya dibicarakan oleh para dayang. Mungkin dia adalah orang yang haus akan kekuasaan karena hanya dialah satu-satunya yang berani mengambil resiko dengan melamarku.

Aku tidak berharap banyak dengan lamaran politik ini. Yang aku tahu aku dapat membuat Tou-sama puas dan bangga padaku. Aku juga tidak mempercayai apa yang namanya cinta. Karena Tou-sama mencintai Oka-sama. Tapi, tetap saja Tou-sama kehilangan Oka-sama.

.

.

~~Wedding Day~~

Sejak fajar menyingsing, aula itu sudah dipenuhi dengan para tamu luar kerajaan, sedangkan di sekitar aula juga sudah dipenuhi oleh masyarakat banyak. Padahal acara inti akan dilangsungkan baru tiga jam lagi.

Dari kejauhan tampak rombongan mewah dengan kuda-kuda tangguh yang sudah dihias. Kereta kuda itu megah. Rombongan itu adalah dari pihak Uchiha Kingdom.

"Lihatlah Teme, aula ini sudah dipenuhi warga. Semua orang akan mencemoohmu. Dan ketika kau menyesal nanti jangan bilang aku tidak mengingatkanmu."

"Hn."

"Dari sini saja banyak raja dan pangeran kerajaan saingan kita yang menyeringai padamu Teme. Jangan berpura-pura tidak melihatnya."

"Diamlah Dobe. Aku hanya memikirkan keuntungan yang akan kuperoleh jika Hyuuga Kingdom bergabung dengan keuasaan Uchiha. Kekayaan kerajaan akan meningkat bahkan mencapai dua kai lipat."

"Tapi kau juga harus memikirkan hidupmu Teme. Kau akan hidup dengan gadis buruk rupa yang pasti akan tergila-gila padamu sedangkan kau hidup dalam kemewahan tanpa cinta."

"Cinta itu tidak penting."

"Bagaimana jika dia adalah orang yang sombong dan juga ingin memonopoli kerajaan?"

"Aku akan membuat dia tahu siapa aku. Dia tidak akan berani memonopoli apapun. Di sini akulah yang berkuasa."

"Bagaimana jik-"

"Diamlah, kita sudah sampai."

.

.

Sasuke dan Naruto turun dari kereta kuda yag sama. Mereka langsung disambut dengan teriakan histeris gadis-gadis di aula.

"Sasuke-samaaaaaaa."

"Uchiha-samaaa..."

"Kyaaa,,, tampannya."

Disusul oleh turunnya Sakura dari kereta kuda cantik dengan hiasan warna pink. Ia memakai gaun berwarna pink yang sangat cantik dan pastinya sangat mahal.

"Sakura-channnn..."

"Cantik sekali dia, coba aku secantik Sakura-sama."

"Sasuke-sama dan Sakura-chan sangat serasi."

Berhasil.

Gadis cantik berambut pink itu mendapatkan yang diinginkannya. Ia ingin menunjukkan bahwa dialah wanita tercantik disini dan pantas bersanding dengan Sasuke.

Sesampainya mereka di aula dan menduduki kursi paling depan, pangeran dari Kerajaan Akatsuki-kerajaan saingan- langsung mendatangi Sasuke.

"Hai, Uchiha-sama. Aku mendengar namamu diteriakkan gadis-gadis 'cantik' di aula sana. Mereka 'cantik' bukan? Pasti enak memiliki seorang istri yang 'cantik'. Mampu memuaskan suami dan dapat menjadi kebanggan." Pemimpin Akatsuki tersebut menekankan setiap kata 'cantik' dalam kalimatnya. Tentu saja bermaksud sindiran.

Naruto hanya dapat mengepalkan tangannya. Dia tidak mungkin melakukan hal konyol di tengah pesta seperti ini, kan?

"Suatu kehormatan 'Pain-sama' menghampiri seorang Uchiha Sasuke. Terimakasih atas ucapan pernikahannya." Ucap sasuke tenang.

Ketenangan Uchiha lah yang paling menjengkelkan Akatsuki. Kesal karena umpannya sama sekali tidak berhasil. Menggertakkan gigi, ia pun berlalu.

.

.

Hyuuga-sama tibaaaa. Suara yang diiringi terompet itu mencuri perhatian semua orang. Inilah yang paling ditunggu-tunggu. Bukan, bukan acara inti yang ditunggu. Bukan pernikahannya. Tapi kesempatan melihat rupa Tuan Putri Hinata lah yang ditunggu-tunggu.

Demi menunjukkan kesopanan, Sasuke menghampiri kereta kuda putih dengan hiasan bunga lavender di sekitarnya. Sangat—sangat cantik. Anggun.

Selayaknya seorang pangeran-juga raja-Sasuke membungkukkan sedikit badannya dan mengulurkan tangannya ke depan untuk menyambut tangan 'calon istrinya'. Tidak lama kemudian, ia merasakan sambutan uluran tangannya. Lembut. Sangat lembut. Dan halus. Penasaran, ia mendongakkan wajahnya tepat ketika tirai kereta kuda tersebut dibuka. Dan...

Sasuke pov

Ya Tuhan.

Benarkah ini calon istriku?

Tidak mungkin.

Kalau aku tidak sedang memegang tangannya aku pasti sangat yakin dia adalah seorang bidadari.

Dia sangat, sangat, agh! Aku tidak dapat menggambarkannya. Cantik tidak cukup untuk menggambarkannya. Aku tidak pernah melihat gadis secantik dia.

Dia mengagumkan.

Matanya sangat indah dan baru pertama kali kulihat seumur hidupku. Didominasi oleh warna putih dengan iris berwarna soft lavender cantik. Aku tidak dapat mengalihkan mataku darinya. Aku mulai percaya hipnotis itu ada.

Dia mengenakan gaun putih bermotif bunga-bunga indah berwarna lavender. Gaun itu membalut tubuhnya yang ramping. Rambutnya panjang dan sangat indah. Sebagian dibiarkan tergerai mencapai pinggang, sebagian lagi diikatkan keatas. Ditambah dengan hiasan pita kecil di pinggir sepanjang rambutnya.

Kurasakan jantungku berdetak kencang. Ketika latihan pedang saja detak jantungku tidak secepat ini. Apa yang terjadi padaku?

"Ehm."

Suara yang dibuat Hyuuga Hiashi yang sudah disampingku-entah kapan- mengembalikanku ke pikiran normal. Dan aku baru menyadari bahwa aku-Uchiha Sasuke-menahan nafas dan melebarkan onixku. Aku juga menyadari suasana aula yang sangat—sangat—hening. Kurasa 'calon istriku' ini membuat kejutan untuk semua orang. Termasuk AKU.

Segera kubantu ia keluar dari kereta kuda yang sudah tidak lagi cantik dimataku. Semua kecantikan dia acara ini terserap oleh'nya'.

Lalu kami berdua berjalan beriringan menuju aula. Dapat kulihat mata-mata semua orang melihat kagum kearahnya. Oh, tidak semua. Karena sebagian besar gadis disitu tidak dapat menyembunyikan rasa iri yang kentara. Apalagi Sakura. Dia pasti menyesal dan malu telah menghina 'calon istriku'. Rasa kagum itu hanya ditampakkan para pemuda, pangeran dan raja dari kerajaan lain.

Kugulirkan onixku melihat ke arah Pain.

Berkedip saja matanya tidak. Kheh, lucu sekali. Aku tertawa dalam hati. Tapi melihat hampir semua peraih gender laki-laki tidak henti-hentinya melihat 'calon istriku', rasa tidak suka menjalari hatiku. Aku cemb-. Ah, tidak. Itu hanya karena aku tidak suka. Bukan karena cemb-kau tahu lah maksudku-. Dan kepemilikan dalam diriku muncul tiba-tiba. Langsung saja kugenggam tangannya yang lembut. Erat. Mungkin dia terkejut. Dia menatap ke arahku dan tentu saja ku tatap balik. Dan, hei... dia merona. Pipinya yang tembam itu sangat imut dan manis ketika merona.

Dan saat itu kuputuskan aku menyukai calon istriku.

Dan juga

Mencintai seorang wanita –kecuali ibuku- untuk pertama kalinya.

Tbc

Thanks for reading my fic. Hope you like it. Really sorry for some typo. Tell me your mind by REVIEWING.

Arigatou.