Disclaimer: Inuyasha sepenuhnya hak milik Rumiko Takahashi
Chapter 2.
...
"Higurashi, bisakah kau tolong antarkan file ini ke ruangan di sebelah?" Suara Kaede, guru matnya itu membuyarkan lamunan gadis berambut hitam legam itu.
"Siapa? Aku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, bisa kan aku minta tolong padamu untuk mengantarkan file ini kepada Kagura Sensei, guru di kelas sebelah?" pintanya sekali lagi.
"Oh… Baiklah Kaede Sensei… Aku segera kesana." Jawabnya sambil berdiri dari kursinya dan mengambil file di atas meja Kaede. Kagome lantas keluar dari kelasnya itu dan langsung menuju ke kelas sebelah.
"Selamat pagi, Kagura Sensei. Saya datang untuk mengantarkan sesuatu yang dititipkan oleh Kaede-" Belum selesai diucapkannya kalimat tersebut, matanya sudah tertuju pada seorang pemuda berambut hitam panjang. Seakan-akan itu adalah takdir dan bukanlah kebetulan semata, mata mereka beradu.
'Dia!' pekiknya dalam hati, 'ternyata laki-laki menyebalkan itu ada di kelas ini!'
Sementara itu, Inuyasha hanya tersenyum-senyum dari tempat duduknya. Dilihatnya wajah gadis itu sudah mulai memerah, entah karena kesal karena bertemu dengan dirinya lagi atau malu.
"Oh, terima kasih, nona- maaf, siapa namamu?"
"Namaku Ka-"
"Kagome Higurashi." Jawab Inuyasha dengan santainya, membuat semua mata tertuju kepadanya. Jadi Inuyasha kenal gadis yang terlihat 'biasa-biasa' saja ini? Di sekolah tersebut, tidak biasanya seorang senior mau beramah-tamah dengan juniornya. Apalagi, Inuyasha adalah salah satu senior yang cukup populer. Dan gadis itu…. Dari lagaknya sih, sepertinya gadis yang biasa-biasa saja…
'Mau apa dia ini…?' batin Kagome.
"Inuyasha, kau kenal dia?" Tanya Kouga terkejut, sahabat sekaligus musuhnya sejak kecil.
"Ah, tidak juga sih. Aku hanya kebetulan-" ucapnya sambil melirik ke arah gadis pemilik rambut legam itu, "kebetulan menemukannya sedang sendirian di kelas sebelah karena dia terlalu antusias datang lebih dari setengah jam sebelum bel. Latihan basket saja bahkan belum dimulai!"
Beberapa orang di kelas mulai tertawa.
"Junior memang selalu unik ya."
"Tapi masa sampai seantusias itu sih datang ke sekolahnya?"
Wajah Kagome memerah padam. Laki-laki ini…. Bisa-bisanya dia mempermalukannya di depan banyak senior seperti ini!
Inuyasha sepertinya menyadari ketidaknyamanan Kagome. Namun, bukannya berhenti, dia malah melanjutkan permainan kecilnya itu. "Jadi, aku tidak sengaja melempar bola basketku kearah nona ini… Lalu… yah begitulah, aku minta maaf padanya."
Seisi kelas meng- ooohhh. Tidak biasanya Inuyasha meminta maaf kepada orang.
"Tetapi… Dia malah marah-marah padaku saat aku minta maaf karena aku tidak memanggil namanya! Tambah kaget lagi aku waktu aku dengar dia panggil namaku! Mengerikan ya? Tahu dari mana dia? Ya sudah, biar imbal, aku tanya juga namanya." Selesainya.
Seisi kelas mulai berbisik.
"Kelihatannya dia gadis yang biasa saja, tidak disangka dia cukup agresif ya… masa hari pertama sekolah udah menguntit Inuyasha sih?"
Kagome memutuskan sudah cukup dia mendengar ejekan-ejekan itu.
"Dengar ya." Ucapnya sambil memberanikan dirinya, "Aku tidak menguntit laki-laki menyebalkan yang tidak tahu sopan santun ini. Aku tidak tertarik dengan orang seperti ini, dan aku tidak akan pernah peduli kepadanya!" Dengan marah, keluarlah gadis itu dari ruangan tersebut. Meninggalkan beberapa pasang mata yang hanya bisa melongo.
"Inuyasha, kau baru saja diejek oleh gadis biasa-biasa itu loh." Bisik Kouga padanya.
"Biar saja Kouga, sepertinya ini akan jadi menarik." Jawab Inuyasha, senyum penuh arti menghiasi bibirnya.
Masih dengan perasaan kesal, Kagome kembali ke ruangan kelasnya.
'Laki-laki itu…. Urgh! Bisa yah ada orang semenyebalkan itu? Bisa gila aku kalau bertemu dengannya lagi!' Pikirnya dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, bel istirahatpun berbunyi.
"Kagome, mengapa sih sejak tadi mukamu murung terus?" tanya Sango sambil membuka bekalnya.
"Kelas sebelah ternyata kelas si idiot itu, Sango!" jawab Kagome kesal.
"Maksudmu, senior menyebalkan yang kau ceritakan beberapa hari yang lalu itu?"
"Iya!" desis gadis Kagome, lalu menjelaskan apa yang terjadi di kelas sebelah itu kepada gadis berambut cokelat gelap itu.
Sango hanya tertawa kecil. "Kubilang apa, Kagome. Dia hanya mencoba mencari perhatianmu."
"Hah! Mencari perhatian apa maksudmu ini? Itu sih hanya buat aku makin kesal padanya, Sango! Jangan ngawur-ngawur deh kau ini!"
Sango tertawa lagi melihat wajah temannya itu sudah semerah tomat.
"Oh ya, Kagome, aku tidak bisa pulang denganmu hari ini… Kaede Sensei memintaku membantunya menyusun beberapa file-file soal untuk muridnya di kelas yang lain."
Kagome hanya menganggukkan kepalanya. Biarpun baru beberapa hari dia mengenal Sango, dia tahu bahwa gadis ini cukup pintar, rajin dan sopan. Tidak heran kalau Kaede Sensei meminta bantuan darinya untuk hal sepenting itu.
"Sudah, Kagome… sekarang cheer up! Lupakan senior menyebalkan itu!" hiburnya.
Kagome hanya terdiam. 'Yah… itu kalau aku tidak bertemu dengannya lagi yah…'
.
.
"Ah… hujan!" ucap Inuyasha ketika dilihatnya jalanan diluar sekolah. "Untung hari ini aku bawa payung…" Dengan segera, dikeluarkannya payung dari dalam ranselnya itu.
Namun, ketika ia henda berjalan keluar, tatapannya tertuju kepada gadis berambut legam yang sedang berdiri di pintu depan sekolah, terlihat kebingungan melihat hujan.
'Dasar, dia pasti tidak bawa payung. Ceroboh sekali.' Pikirnya sambil berjalan terus.
"Duluan ya." Ucapnya saat dia melewati gadis itu.
Kagome hanya terpaku melihat senior menyebalkannya itu. Dia ingin marah padanya, tapi atas hal apa? Salah dia sendiri kalau dia tidak bawa payung kesekolah…
Sementara itu, Inuyasha mulai merasa tidak enak.
'Kasihan juga dia. Hujannya besar dan tidak tahu kapan berhentinya… Ya sudahlah, kali ini biar aku berbaik hati padanya. Toh aku juga sedang bawa jaket hujan juga.' Pikirknya, lalu dia mulai berjalan balik ke arah gadis itu.
Kagome, kesal pada dirinya sendiri yang begitu ceroboh lupa membawa payung, tidak sadar bahwa ternyata diatas kepalanya sudah ada sebuah payung.
"Eh?"
"Nih. Pakai payungku. Aku bawa jaket hujan kok." Ucap Inuyasha santai.
Kagome ternganga. Kenapa orang ini tiba-tiba jadi baik? Pasti ada maunya….
"Tidak usah! Aku bisa menunggu sampai hujan berhenti kok!" tolaknya.
"Heh gadis bodoh. Ini hujan besar sekali tahu. Kau mau menunggu sampai malam, ha?"
Mendengar kata-kata 'bodoh' itu lagi, Kagome lantas melototi laki-laki yang merupakan seniornya itu.
"Namaku bukan bodoh!"
"Baiklah, kalau begitu nona Kagome… kau mau sendirian di sekolah sampai malam?"
Kagome terdiam. Benar juga sih kata-katanya. Ini hujan deras sekali, kalau dia mau menunggu sampai hujannya berhenti, bisa-bisa dia malah tidak pulang…
Dengan ogah-ogahan, diterimanya payung tersebut. "Makasih. Tapi jangan harap dengan ini aku jadi terbeban padamu!"
Inuyasha tertawa terkekeh. "Bodoh. Siapa juga yang mau dibebani olehmu."
Kagome menggeram kesal. Sudah dipanggil bodoh lagi dia!
"Ya udah. Aku jalan dulu. Ja-ne!" ucap Inuyasha sambil mengenakan jas hujannya dan segera berlari melewati hujan besar itu.
"Eh tunggu!" Terlambat, laki-laki itu sudah lenyap dari pandangan.
'Dasar orang aneh. Ngapain dikasih payungnya padaku dan sendirinya lari menerobos hujan?' pikir Kagome dalam hati. 'Ah ya sudahlah, anggap saja ini hari baik ku.'
End Chapter
