~Hinata pov~

Aku merasakan ketidaknyamanan di tempat baru ini. Kamar ini mewah—sangat mewah—dan tidak jauh berbeda dengan kamarku di Hyuuga Palace, jadi kurang mewah dan bagus bukanlah alasan yang tepat untuk ketidaknyamananku saat ini. Aku hanya tidak terbiasa. Memikirkan bahwa kami akan menempati kamar dan ranjang yang sama membuatku mual saja.

Aku sebenarnya ingin meminta kamar yang berbeda saja dari Uchiha-san. Tapi, tentu saja tidak kulakukan. Bukankah hal yang wajar jika sepasang suami-istri berada dalam kamar yang sama? Aku tidak ingin Uchiha-san berpikir bahwa Tou-sama tidak bisa mengajari tata krama Hyuuga.

Hanya saja aku belum terbiasa.

Kami-sama, bagaimana ini?

Apa yang akan kulakukan sekarang? Sebaiknya aku mandi saja, kemudian tidur.

End of Hinata pov

.

.

~Sasuke pov~

Agggghh! Kenapa rasanya sulit sekali? Dari tadi –mulai dari selesai pesta- aku berusaha mencari ide masuk akal dan terbaik agar Hinata terbiasa berada di sampingku. Tapi, sekuat apapun kukerahkan kemampuan otak Uchiha ku, hasilnya tetap saja nihil.

Aku teringat kejadian kecil di pesta tadi. Ketika aku hendak menciumnya, dia agak menundukkan sedikit kepalanya. Aku mengerti maksudnya. Aku hanya bisa mencium keningnya untuk saat itu.

Menurutku itu adalah hal yang sangat wajar mengingat ia tidak pernah keluar istana dan kami bahkan belum saling mengenal. Tapi, kejadian kecil juga terjadi ketika kami sampai di Uchiha Kingdom.

"Kau langsung saja ke kamar. Dayang ini akan mengawalmu. Ada hal yang harus kutangani segera."

"Hai, Uchiha-san."

'Uchiha-san' katanya.

Dan, bahkan dia tidak pernah melirik—sedikitpun—kearahku. Aku memiliki insting dan pengindraan yang kuat. Aku tahu kemanapun aku pergi banyak gadis yang melirikku diam-diam walaupun kebanyakan dari mereka lebih berani dan lebih suka terang-terangan dan meneriakkan namaku dengan keras.

Tapi Hinata? Dia berbeda. Selama perjalanan dia hanya diam dan menjauh sampai di pojokan kereta yang membawa kami ke Uchiha Kingdom. Dia lebih menyukai pemandangan di luar sana dibandingkan mengajakku berbicara atau bahkan hanya melirik kearahku. Aku kurang tahu apakah aku menyukai hal itu atau tidak. Jika kukatakan aku menyukainya karena artinya istriku bukanlah salah satu fangirl-ku, itu benar. Tapi memikirkan istriku sama sekali tidak tertarik padaku, itu tidaklah mengenakkan. Dadaku sakit memikirkannya. Aku bahkan tidak tahu letak sakitnya dimana. Yang pasti dadaku sesak.

Lebih baik aku kembali ke kamar dan melihat keadaannya. Dia pasti merasa tidak nyaman di tempat baru dan asing.

Kamar ini kosong. Tapi suara gemericik air menyampaikan bahwa Hinata ada di dalam kamar mandi. Saat kuputuskan akan melangkahkan kaki dan menunggunya saja di pinggiran tempat tidur, aku mendengar suaranya mengaduh kesakitan diiringi suara jatuh yang cukup keras. Aku mulai panik dan mengetuk pintu kamar mandi dan menanyakan keadaannya.

"Hinata, apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, Uchiha-san."

Dia mulai lagi kan? Aku berjanji akan mengajarinya bagaimana seharusnya memanggil namaku nanti. Sekarang aku harus melihat keadaannya dulu.

"Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Buka pintunya."

"..."

"Buka pintunya, atau aku akan mendobraknya, Hinata."

Karena tidak juga mendapatkan jawaban, langsung saja pintu itu kudobrak dan terbuka. Aku dapat melihat Hinata yang hanya dibalut handuk dari dada sampai paha. Dan saat itu pikiranku benar-benar tidak bekerja normal. Pikiranku terbagi dua. Logikaku ingin segera memeriksa keadaannya dan memastikan dia baik-baik saja. Tapi, mataku tidak dapat bekerjasama dengan otakku yang masih ingin melihat setiap inci tubuhnya. Kulitnya seputih susu. Pahanya yang putih mulus terekspos dengan jelas. Dan kakinya yang jenjang itu berusaha untuk bisa berdiri.

20%

Dan kakinya yang jenjang itu berusaha untuk bisa berdiri.

50%

Dan kakinya yang jenjang itu berusaha untuk bisa berdiri.

Berusaha untuk berdiri?

100%

Aku merutuki kebodohanku dan pikiran liarku yang tidak dapat diajak kerja sama. Cih, disaat seperti ini. Aku segera mendekatinya dan memapahnya untuk dapat berdiri. Tapi sepertinya dia bahkan tidak dapat menahan berat badannya sendiri. Sepertinya dia terjatuh dan kakinya terkilir. Segera kulingkarkan tangannya ke leherku dan kuangkat badannya menuju kasur.

Aku sedikit tidak rela melepaskannya dan meletakkannya di kasur. Wangi rambutnya, wangi kulitnya. Semuanya menenangkan. Wangi lavender dan sedikit vanila.

Aku kemudian menyuruh pengawal untuk memanggil tabib istana.

Hanya butuh lima menit agar tabib istana sampai.

"Apa yang bisa saya bantu, Uchiha-sama?"

"Hinata sepertinya terkilir dan perlu diobati."

"Saya mengerti, Uchiha-sama."

Ketika akan membuka pintu kamar, aku baru teringat sesuatu hal yang sangat penting. Ah, kenapa tidak terpikirkan dari tadi? Aku langsung membalikkan badan dan bertanya,

"Apa yang dapat dilakukan untuk mengobati kaki yang terkilir?"

"Eh? Sederhana saja, Uchiha-sama. Kompreskan es yang sudah dibalut kain ini pada daerah yang terkilir dan usahakan saat istirahat posisi kaki yang terkilir lebih tinggi daripada jantung. Dan ditambah dengan obat penahan rasa sakit berwarna hijau ini"

"Baiklah, kau boleh pergi."

"Tapi Uchiha-sama, ini adalah tugas saya."

"Apa kau bermaksud mengatakan bahwa aku tidak dapat melakukannya sendiri?"

"Bukan begitu, Uch—"

"Kalau begitu pergilah."

"Hai. Permisi Uchiha-sama." Kata tabib itu sambil menyerahkan bahan-bahan untuk kompres itu padaku.

"Hn."

Setelah tabib itu pergi, aku pun membuka pintu dan mendapati Hinata yang masih merintih sedikit menahan rasa sakit. Berikutnya, wajah herannya lah yang dapat kulihat.

"Apakah tabibnya tidak bisa datang?"

"Hn."

Setelah meletakkan nampan berisi obat-obat itu di meja samping tempat tidur, aku mulai membalut es dengan kain yang ada. Tapi ketika aku ingin mengompres kakinya, dia menjauhkan sedikit kakinya sambil merintih pelan.

"Aku dapat melakukannya, Uchiha-san."

"Diamlah."

Segera saja kuraih kakinya dan kuluruskan pelan-pelan. Akupun mengompres kakinya dengan menekan-nekankan es yang terbalut kain itu disekitar kakinya yang kemerahan dan sedikit bengkak.

Kau tahu? Kakinya sangat halus dan putih. Mana mungkin aku membiarkan tabib itu melihat keindahan yang sudah menjadi milikku ini. Apalagi memegangnya. Hinata hanya milikku. Apalagi dia hanya mengenakan handuk mandi sebatas paha. Aku tidak dapat mengontrol mataku melirik ke arah atas. Dan aku tahu saat itu aku melakukan kesalahan. Aku tidak seharusnya melihat keatas dan melihat ekspresinya yang begitu menggoda. Wajahnya memerah menahan sakit sambil sedikit menggigit bibir bawahnya.

Arrgghh! Aku tidak dapat melanjutkannya. Aku tidak mungkin menyerangnya malam ini. Kakinya masih cukup sakit. Lagipula, aku yakin dia belum siap untuk itu. Bagaimana mungkin dia siap? Kami baru bertemu tidak lebih dari 8 jam yang lalu.

"Selesai. Sisanya, kau cukup beristirahat saja."

"Arigatou, Uchiha-san."

Kuambilkan bajunya yang cukup longgar di lemari dan meletakkannya di sampingnya.

"Aku tidak mau kau masuk angin."

Alasan, tentu saja. Aku tidak dapat mengontrol diriku jika dia tetap 'berpenampilan' seperti itu.

"Ada sedikit urusan yang harus kutangani. Tidurlah."

"Hai. Arigatou."

End od Sasuke pov

.

.

"Kau mau kemana, Sakura-chan?"

"Tentu saja menghampiri Sasuke-kun."

"Jangan mengganggunya. Apa yang kau pikir kau lakukan menemui suami orang di malam pertamanya?"

"Aku tidak ingin mengganggu. Lagipula Sasuke-kun sepertinya tidak menyukai istrinya."

"Maksudmu?"

"Lihat saja. Sasuke-kun ada di taman belakang. Mungkin dia tidak betah seranjang dengan Hinata-san."

"Tapi—"

"Aku akan menemuinya. Dan kau jangan mengikutiku."ancam Sakura.

"Kapan kau akan mengerti bahwa Sasuke bukan untukmu, Sakura-chan? Bahkan kau tidak dapat melihatku."

.

.

"Sasuke-kun."

"Hn."

"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah ini adalah malam pertama kalian? Ah, aku tahu. Pasti Hinata-san tidak bisa membahagiakanmu, Sasuke-kun. Aku sudah mengingatkanmu untuk memikirkan lamaran itu, tapi Sasuke-kun tidak mendengarkanku." Keluh Sakura.

"Berhenti menjelek-jelekkan Hinata, Sakura. Dan perlu kau ketahui bahwa aku sangat beruntung tidak membatalkan lamaran itu."

"Tapi—"

"Aku ingin melihat keadaan Hinata."

Perempuan berambut pink itu terdiam ditempatnya sambil menahan air matanya yang mulai keluar melihat kepergian pria yang sudah diidam-idamkannya sejak kecil.

"Aku yang lebih dahulu mengenalmu, Sasuke-kun. Aku yang lebih mencintaimu. Dan takkan ku biarkan siapapun mengambilmu dariku. Akan kuperlihatkan padamu bahwa aku lebih baik darinya. Lihat saja besok pagi."

.

.

Di kamar dengan penerangan yang cukup buram itu memperlihatkan Sasuke yang sedang memperhatikan wajah istrinya yang tertidup sambil menopangkan kepalanya pada telapak tangannya dimana siku sebagai penopangnya. Tidak jarang terlihat senyum di wajah tampannya yang jarang sekali diperlihatkannya bahkan untuk sahabatnya Naruto dan Sakura. Dia sangat enggan menutup matanya untuk menghentikan kontak matanya dengan mahkluk indah di depannya. Tapi tetap saja, kantuk lebih mendominasi ketika malam sudah larut.

.

.

Ketika onix hitam itu terbuka, hal pertama yang disadarinya adalah ketidakberadaan Hinata di sampingnya.

'Mungkin sedang berkeliling' pikirnya.

Langsung saja pemuda gagah nan tampan itu mandi. Tapi, tiba-tiba ia teringat akan kaki Hinata. Ia lalu bergegas mengenakan bajunya dan segera mencari Hinata. Tidak lama mencari, Hinata tampak sedang menghidangkan makanan di atas meja. Sasuke memgangkat alisnya melihat apa yang Hinata lakukan dan mendatangi salah satu koki.

"Kenapa kalian membiarkannya memasak sendiri?"

"Maaf, Uchiha-sama. Hinata-sama yang ingin berkikeras membantu memasak walaupun telah kami larang."

"Lalu kenapa ada banyak sekali makanan yang disiapkan?"

"Sakura-sama menyuruh kami untuk melakukan penyambutan pada Hinata-sana, Uchiha-sama."

"Hn."

Setengah jam kemudian meja makan itu telah dikelilingi oleh Sasuke, Hinata, Naruto dan Sakura dan lima orang para petinggi kerajaan.

"Saya sengaja mengundang makan bersama pagi ini dalam rangka penyambutan untuk Hinata-san." Sakura membuka pembicaraan di meja itu.

"Anda sungguh wanita yang baik, Sakura-san." Ucap salah satu menteri.

"Ini hanya hal kecil, Shika-kun"

"Hinata, aku belum sempat memperkenalkanmu dengan teman-temanku. Mereka adalah Naruto dan sakura. Kau dapat menganggap mereka sebagai teman-temanmu juga. Dan yang lainnya adalah para petinggi kerajaan yang sudah banyak berjasa dalam Uchiha Kingdom. Kakashi, Shikamaru dan Chouji." Kata Sasuke.

"Salam kenal." Ucap Hinata

"Salam kenal Hinata-chan."

Mendengar 'Hinata-chan', Sasuke langsung memberikan death glarenya pada asal suara. Tentu saja. Mungkin itu biasa saja jika yang mengucapkannya adalah Sakura. Tapi, ini adalah Naruto. 'Apa-apaan dia?' pikir Sasuke. 'Aku saja tidak memanggil Hinata seakrab itu'.

"Kau harus sopan padanya, Dobe."

"Eh? Aku kan sopan, Teme!" kilah Naroto tidak mau disalahkan.

"Hn. Ayo, mulai makannya."

"Hm, rasanya sangat enak. Lebih enak dari biasanya. Apa kau mengangkat koki baru, Sasuke?" Tanya Chouji.

"Hn." Hanya itu yang Sasuke ucapkan karena dia merasa Hinata tidak terlalu suka dipuji seperti itu. Dan itu terbukti saat Hinata menyunggingkan senyum sedikit setelah Sasuke mengucapkan dua konsonan itu.

"Sasuke-kun, aku sudah memikirkan tentang rencana pembangunan itu seminggu terakhir ini. Dan menurutku kita harus membuat penginapan yang mewah untuk menarik petinggi dari kerajaan lain. Selain itu, pendapatan negara juga kan meningkat."

"Maksudmu?" tanya Kakashi.

"ini tentang pembangunan yang akan dilakukan di pantai timur Kerajaan itu, Kakashi-san."

"Oh, bukankan lebih baik membuat sebuah pantai hias saja seperti keputusan minggu lalu? Agar para petinggi yang berkunjung betah dan tertarik bekerja sama dengan Uchiha Kingdom. Lagipula keputusan itu sudah final bukan?" Tanya Kakashi.

"Benar, tapi ide penginapan itu akan memberikan keuntungan yang lebih besar. Jika memang ada ide yang lebih tidak ada salahnya mengubah hasil rapat itu." Jawab Sakura

"Benar juga." Kata Chouji dan Shikamaru.

Mendengar pembelaan itu, Sakura makin bersemangat melanjutkan rencananya.

"Bagaimana menurutmu dengan rencana ini Hinata-san?" tanya Sakura memulai rencananya.

"Apa maksudmu Sakura?" tanya Sasuke kurang suka dengan arah pembicaraan ini.

"Aku hanya ingin meminta pendapat Hinata-san tentang pembangunan ini, Sasuke-kun. Bagaimanapun juga Hinata-san sudah menjadi bagian dari Uchiha Kingdom. Lagipula dia adalah seorang Putri kerajaan yang jaya. Pasti Hinata-san adalah wanita yang sangat cerdas."

Dalam hati Sakura tersenyum senang dengan umpannya. Semua orang juga tahu Hinata tidak pernah keluar dari istana sekali pun. Pastinya dia tidak pernah mengikuti pemabelajaran sedikitpun. Apalagi yang berhubungan dengan ekonomi dan wilayah kerajaan. Dia ingin menunjukkan bahwa dia lebih baik dari siapapun untuk Sasuke.

"Bagaimana, Hinata-san?" tanya Sakura lagi dengan senyum manis yang dibuat-buat.

"Kau tidak perlu menjawabnya, Hinata." Ucap Sasuke.

"Ide yang anda tawarkan sangat luar biasa, Sakura-san." Ucap Hinata sambil tersenyum tanpa ragu sedikitpun saat mengucapkannya walaupun semua mata telah tertuju padanya sejak ia mengeluarkan suaranya.

"Yang saya ketahui, Uchiha Kingdom sangat kaya karena keindahan dekorasi lingkungannya yang dapat menarik para petinggi kerajaan lain. Sudah sangat banyak aset Uchiha Kingdom yang didapat dari segi penginapan mewah dan hiasan lingkungan. Yang saya ketahui juga Uchiha Kingdom sangat bergantung pada Akatsuki Kingdom untuk mencukupi kebutuhan hasil laut rakyat, bahkan wilayah barat pernah mengalami krisis hasil laut karena pernah ada masalah dengan Akatsuki Kingdom. Menurut saya, membuat sebuah wilayah perikanan dekat pantai Timur tidak ada salahnya juga. Banyak rakyat yang akan dapat mencukupi kebutuhan hasil laut mereka, terutama bagi rakyat bagian barat. Kemakmuran rakyat dengan begitu akan meningkat, sedangkan pengeluaran untuk mencukupi kebutuhan hasil laut akan berkurang."

"..."

"Memang sangat menguntungkan membuat penginapan di sekitar pantai. Tapi, bukankah mencukupi kebutuhan rakyat adalah tanggung jawab utama bagi kerajaan? "

"..."

"Sepertinya saya terlalu banyak berbicara. Itu hanya ide sederhana yang mungkin tidak lebih baik. Tapi itulah pendapatku, Sakura-san."

"Pendapat sederhana yang bahkan tidak terpikirkan oleh kami, Hinata-sama." Ucap Chouji sungguh-sungguh.

Shikamaru hanya dapat angguk-angguk menyetujui Chouji. Dua menteri lain hanya bisa terpana dengan kalimat sang tuan putri. Sedangkan Kakashi tersenyum singkat tidak jelas. Dan yang lebih tidak jelas lagi adalah Sasuke yang mulai senang sekali menggratiskan seringainya.

"Sepertinya ide Hinata-sama akan kita pakai." Kata Kakashi yang diikiiuti anggukan puas dari semua orang minus Sakura.

"Tapi, bukankah keputusan rapat kemarin sudah final? " tanya Sakura tidak terima.

"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau memang ada ide yang lebih baik kita dapat menggantinya?" tanya Kakashi.

Tidak ada yang mengatakan bahwa menjilat ludah sendiri itu nyama, bukan?

.

.

"Hyaaa!"

Pohon itu hampir jatuh hanya dengan satu pukulan tangan yang dikeluarkan wanita berambut pink itu. Emosi telah memenangkan pikirannya.

"hosh, hosh, hosh, kalau memang aku tidak dapat menyingkirkannya sendiri, mungkin berdua lebih baik."

Dengan kedua tangannya ia kembali memukul pohon itu. Dan tentu saja, ambruk.

"Sepertinya tawaran Pein-sama tidak buruk."

.

TBC

Gomenne, atas keLELETan update. Saya memang bukan orang sibuk. Tapi seluang-luangnya waktu sesorang, pasti memiliki kesibukan, bukan?

#alasan

Maaf juga karena tidak sempat balas review readers yang sudi mereview fic ini. Semoga chap ini tidak terlalu mengecewakan karena tidak sempat diedit. Saya juga kurang PeDe updatenya. Tapi berhubung banyak –mungkin- yang meminta cepet update, jadinya diupdate saja tanpa editan.

.

.

Hope your reviews to know what's on your minds.