Disclaimer: Inuyasha hak milik Rumiko Takahashi.

Chapter 3.

"Hah? Dia meminjamkan payungnya padamu?"

"Ssttt…Tidak usah teriak seperti itu, Sango. Kau ini, kelas sudah dimulai tahu. Memangnya apa sih yang special tentang hal itu?"

"Maaf, Kagome, aku hanya kaget saja kenapa seseorang yang kau sebut 'arogan' itu mau meminjamkan payungnya padamu di hujan lebat seperti itu, Kagome, atau…." Seulas senyum penuh arti terulas di bibir gadis berambut brunette itu.

"Atau apa, Sango?" tanya Kagome sambil menaikkan sebelah alis matanya.

"Atau… orang itu benar-benar tertarik padamu! Ah, indahnya… cinta pada pandangan pertama diantara seorang kakak kelas dan juniornya…" ucap Sango dengan mata berbinar-binar.

"…"

"Apa?"

"Kau ini benar-benar….."

Sango hanya tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, Kagome, Ayame si anak yang berambut merah itu kemarin mengajakku nonton kakak-kakak kelas main basket di waktu istirahat… kau mau?"

Kagome terdiam. Basket? Kakak kelas? Berarti si aneh berambut panjang itu ada disana juga…

"Hm….. Eh, aku lupa mengerjakan PR mat dari Kaede… Jadi sepertinya aku tidak bisa ikut kalian…" jawab Kagome.

Sango mengernyitkan dahi. "Bukannya PR itu dikumpulnya besok, Kagome?"

'Shoot.'

Gadis berambut legam itu pun berusaha mencari-cari alasan."Eh… Aku… um… aku cuma mau mengerjakannya sekarang! Ya, aku mau mengerjakannya sekarang karena nanti pulang aku akan sibuk!"

"Ohhh… Aku tahu, kau hanya tidak mau bertemu dengan kakak kelas itu ya?" Jawab Sango sambil tersenyum-senyum bodoh.

"Apa! Siapa bilang!"

"Wajahmu merah, Kagome…" Godanya lagi.

"Urgh… Baiklah! Aku ikut aku ikut! Senang kau sekarang?"

Sango tersenyum puas "Sangat."


"AH! SANGO! KAGOME! LIHAT LIHAT KOUGA SEDANG MENGGIRING BOLA!" jerit Ayame kegirangan.

"Aku lihat, Ayame, aku lihat." Jawab Sango tanpa semangat.

Sementara itu, Kagome hanya menatap lapangan basket dengan tatapan bingung. Mana Inuyasha?

'Ah, bodoh, buat apa juga aku mencari-cari orang itu….Tapi, mengapa dia tidak ada ya? Apa tidak masuk? Aduh, buat apa aku pikirkan dia?'

"Ngomong-ngomong, Kagome, mana sih kakak kelas menyebalkan yang kau bilang-bilang itu?" Suara Sango membuyarkan lamunan Kagome.

"Eh…. Dia tidak ada disini…." Jawab gadis berambut legam itu.

"Ah, masa sih? Ayolah Kagome jangan bohong padaku….."

"Serius Sango, aku tidak melihat-"

"Kagome Higurashi, kan?" potong sebuah suara laki-laki itu tiba-tiba.

Kedua gadis junior yang sedang berdebat itu segera memalingkan pandangan mereka kearah suara tersebut.

"Iya..?" jawab Kagome dengan bingung.? Laki-laki ini… Sepertinya dia pernah melihatnya di suatu tempat. Oh! Dia adalah temannya Inuyasha yang kemarin latihan basket bersamanya! Pantas dia tahu namanya! Inuyasha kan menyebutkan nama dia jelas-jelas didepan kelasnya kemarin!

Laki-laki berambut pendek itu tersenyum. "Ah, untunglah aku tidak salah…. Perkenalkan, namaku Miroku Takeshi." Matanya lalu melirik kearah gadis berambut brunette disebelah Kagome. "Dan… nona di sebelahnya ini?"

Wajah Sango tersipu merah. "Halo, namaku Sango."

Setelah mengetahui nama gadis tersebut, Miroku tersenyum puas. "Ah, nama yang cocok untuk seorang gadis anggun sepertimu…"

Wajah Sango semakin memerah dibuatnya.

Kagome hanya tertawa kecil, tetapi, tiba-tiba muncul di benaknya untuk menanyakan pemuda ini tentang Inuyasha.

"Ngomong-ngomong, Miroku, kenapa aku tidak melihat Inuyasha ya?"

"Oh… Inuyasha sedang sakit. Jadi dia tidak masuk sekolah hari ini…"

Kagome tersentak. Dia sakit? Apa jangan-jangan itu karena..?

"Katanya dia kemarin berlari-lari pulang kerumahnya ditengah hujan besar tanpa membawa payung, bodoh sekali. Padahal rumahnya cukup jauh dari sekolah. Yah, begitulah Inuyasha, selalu cuek."

Mendengar ini, Kagome menjadi merasa bersalah. 'Itu karena payungnya dipinjamkan padaku….'

TING TONG

Bel tanda berhenti istirahatpun berbunyi.

"Oh! Kagome, ayo kita kembali ke kelas!" Seru Ayame.

"Iya Kagome, ayo!" Tambah Sango, seraya menarik lengan temannya itu.

"Selamat tinggal, gadis-gadis! Sampai jumpa nanti!" ucap Miroku sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Sango. Gadis berambut brunette itu hanya tersenyum tersipu.

Sekembalinya dikelas, Kagome tidak bisa berhenti memikirkan hal yang dikatakan Miroku. 'Jangan-jangan benar dia sakit karena itu! Ah bagaimana ini aku merasa bersalah sekali!'

Waktu berjalan sangat lambat untuk Kagome sampai akhirnya bel selesai sekolah pun berbunyi. Kagome bergegas untuk mengemasi barang-barangnya dan dengan kilat, berlari keluar kelas.

"Kagome!" seru Sango melihat sahabatnya berlari meninggalkannya.

"Maaf, Sango! Aku ada kepentingan yang sangat mendadak!" jawab Kagome.

Kagome berdiri didepan kelas sebelahnya itu, sambil menunggui Miroku keluar kelas. Saat laki-laki itu akhirnya keluar dari kelas, dengan cepat Kagome menyergapnya dengan pertanyaan.

"Miroku, bisa tolong beri tahu aku alamat tempat tinggal Inuyasha?"

.

.


Gadis berambut hitam legam itu terpaku didepan sebuah rumah beratap hitam di depannya.

"Takahashi." Gumamnya saat dia membaca nama keluarga di depan tembok pintu rumah itu. 'Yakinkah aku ini mu masuk kerumahnya…?'

Dia lalu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memencet bel rumah tersebut. 'Baiklah… ini dia…'

Lima menit pun berlalu. 'Mengapa tidak ada yang keluar? Ah, mungkin memang bukan jodohnya aku berkunjung kesini!'

Namun, belum sempat diputarnya badannya, suara pintu terbuka pun terdengar.

"Ya?" Suara itu adalah suara laki-laki..

Hati Kagome berdebar kencang. "Hai-Aku-" Kalimatnya itu putus saat dilihatnya laki-laki dibalik suara itu. Rambut hitam panjang, rahang kotak, dan bola mata violet gelap. Dia ini mirip sekali dengan Inuyasha… hanya saja warna kulitnya lebih terang.

"Ada keperluan apa ya?" Tanya lelaki berambut panjang itu dengan sopan. Suaranya tenang dan halus layaknya beludru…

'Benar benar alter ego nya Inuyasha, kalau begini sih…. ' Pikir Kagome sambil tertawa kecil dalam hatinya.

"Ah… Namaku Kagome Higurashi. Aku ad-"

'Jangan, Kagome. Buat apa kau beritahu dia adik kelasnya? Apa pikirnya nanti kalau adik kelas belum apa-apa sudah berani berkunjung kerumah kakak kelasnya di hari ketiga sekolah?'

"Aku teman sekelas Inuyasha! Hari ini ia tidak masuk sekolah… Dan… Guru kami baru saja memberikan sebuah projek yang harus dikerjakan bedua, dan ternyata Inuyasha adalah partnerku…. Jadi kupikir sebaiknya aku kerumahnya untuk memberitahukannya!"

'Jenius sekali bualanku ini.' Pikir Kagome puas dalam hati.

Laki-laki berambut panjang itu menaikkan sebelah alisnya. "Oh… Kalau begitu masuk saja ya, Inuyasha akan kupanggilkan."

Setelah dipersilahkan duduk, Kagome pun lalu duduk sementara laki-laki yang diduganya adalah kakak Inuyasha itu naik ke lantai atas. Rumah Inuyasha tidak begitu besar, tetapi dalamnya tertata dengan rapi dan apik. Terdapat banyak sekali foto-foto anak-anak laki-laki yang sepertinya adalah Inuyasha dan kakaknya, juga seorang pria dewasa yang sepertinya adalah ayah Inuyasha. Namun Kagome bingung. Mana foto ibu mereka?

Tak beberapa lama kemudian, turunlah Inuyasha sambil mengomel-ngomel.

"Apa sih, Sesshomaru? Kau ini hanya mengganggu istirahatku sa-" Belum sempat diucapkannya kata-katanya itu, matanya menangkap sesosok gadis berambut hitam legam yang tengah duduk di sofa ruang tamunya.

"Kau…?" tanyanya tidak percaya.

"Aku ada urusan, aku pergi dulu ya." Ucap laki-laki bernama Sesshomaru itu santai seraya keluar dari rumahnya.

Sepeninggal Sesshomaru, Inuyasha dan Kagome hanya berdiam masing-masing.

Inuyasha mendesah gusar. "Kalau kau tidak ada kepentingan, lebih baik kau pulang. Aku mau istirahat."

"Tidak! Tunggu!" jawab Kagome.

Inuyasha menaikkan sebelah alisnya. "Kau ini, apa maumu sebenarnya tiba-tiba datang kerumahku? Dan satu lagi… Tahu dari mana kau alamat rumahku ini?"

Kagome mengigit bibirnya. "Ah itu… aku… aku tahu dari temanmu, Miroku."

"Oh, begitu. Lalu, apa yang membuatmu datang ke- *batuk sini? *batuk"

Gadis berambut hitam itu menjadi semakin merasa bersalah. "Aku... maaf.. Kalau kau tidak meminjamkan payungmu padaku kemarin, kau pasti tidak akan sakit seperti ini."

Inuyasha terlihat sedikit terkejut. "Gadis bodoh. Kenapa meminta maaf padaku? Aku yang memang mau meminjamkannya padamu akan? *batuk

"Ya tapi kan kau jadi sakit dan tidak bisa masuk sekolah hari ini!" jawab Kagome.

"Oh? Jadi kau mengkhawatirkanku, hmm..?"

Wajah Kagome mulai tersipu memerah. "Bukan begitu juga!"

"Kau bahkan sampai menanyakan alamatku pada Miroku... Hm... sepertinya fansku makin bertambah saja ya. Apa kau ini jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa?"

"Jangan-jangan kau jatuh cinta padaku, hm..?" Tanyanya sambil tersenyum penuh arti.

Jika mungkin, wajah Kagome semakin memerah lagi. "Tentu saja bukan! Kau ini benar-benar!"

"Benar-benar apa, Ka-go-me? Benar-benar sangat menarik dan tidak tertahankan sehingga membuatmu langsung jatuh cinta padaku dari pertama bertemu?" Senyum Inuyasha semakin lebar.

"Kau..." Kagome menggeram kesal, "Lupakanlah! Anggap aku tidak pernah meminta maaf atau kerumahmu!" Dengan itu, Kagome lantas berdiri, bermaksud untuk meninggalkan rumah tersebut, namun betapa kagetnya ia saat dirasakannya lengannya ditarik oleh seseorang yang tak lain adalah Inuyasha.

"Tunggu! Maaf, aku hanya bercanda...Ayolah temani aku sebentar ngobrol disini...Aku bosan sekali." ucap Inuyasha pelan. Kagome terdiam.

'Kasihan juga dia, disini sakit dan sendirian. Baiklah... sepertinya tidak ad salahnya juga aku menemaninya sebentar...' pikirnya dalam hati.

Teringatlah oleh gadis berambut hitam legam itu tentang foto yang dilihatnya di rumah tersebut. "Inuyasha, boleh aku bertanya sesuatu?" Kagome sangat penasaran tentang ketidak adaanya foto ibu Inuyasha di foto-foto sebanyak itu.

"Apa itu?"

"Mengapa foto ibumu... tidak dipajang dimana-mana?"

Inuyasha terdiam. Melihat ekspresi Inuyasha, Kagome tiba-tiba menyesal telah menanyakan hal tersebut. "Ah, maaf Inuyasha, aku menyinggung masalah pribadimu. Tidak seharusnya kutanyakan pertanyaan seperti itu padamu, kita ini kan baru saja kenalan."

Namun diluar dugaan, Inuyasha menjawab pertanyaan tersebut. "Ibuku... Ibuku sudah lama meninggal."

DEG. Meninggal? Jadi Inuyasha sudah tidak punya ibu?

"Ibuku bukanlah istri pertama ayahku. Beberapa tahun sebelum dia bertemu ibuku, ayah sudah menikahi ibu Sesshomaru, namun mereka berpisah ketika Sesshomaru berusia tiga tahun, dan Sesshomaru dipercayakan pada ayah. Saat itulah, ayah menikahi ibuku. Tetapi... pernikahan ayah dan ibu tidak disetujui oleh keluarga ayah. Aku tidak tahu mengapa, tapi Ayah selalh berkata bahwa keluarganya tidak menyukai ibuku."

Kagome menyimak cerita Inuyasha dengan seksama. Ternyata, dibalik topeng 'laki-laki cuek' nya ini, dia menyimpan sebuah cerita yang memilukan hati..

"Ibu meninggal karena sakit saat aku berusia lima tahun. Dan saat itu, keluarga ayah membuang semua foto-foto ibuku, katanya, aku tidak perlu mengingat-ingat ibuku lagi. Ayahpun, setiap kutanyakan tentang ibu, selalu mengelak dan pergi." Saat menjelaskan hal ini, mata Inuyasha menerawang jauh, Kagome tidak bisa menangkap emosi yang terpancar dari wajahnya itu.

"Maaf, Inuyasha. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu mengingat hal seperti itu..." ucap Kagome dengan penuh rasa bersalah.

Inuyasha hanya tersenyum sedih. "Tidak apa-apa kok. Ya sudah, ini sudah hampir jam empat. Sebelum sore, sebaiknya kau pulang kerumahmu."

"Kau tidak apa- apa sendirian disini? Maksudku, kau sedang sakit dan tidak ada orang dirumah..." tanya Kagome khawatir.

"Tentu saja tidak! Kau pikir aku ini lemah ya?" Ucap Inuyasha, seraya berdiri dari sofa. Namun beberapa saat sesudah dia berdiri, dirasakannya kepalanya berputar dan ia kembali terjatuh ke sofanya.

"Inuyasha!"

"Aku tidak apa-apa, hanya pusing sedikit..."

Kagome segera menaruh tangannya di dahi laki-laki berambut hitam panjang itu. "Astaga... Suhu tubuhmu panas sekali! Lihat, wajahmu sampai merah seperti itu! Mana mungkin kau ini tidak apa-apa! Ayo, sini, kubantu kau naik kekamarmu!"

Sesampainya di kamar Inuyasha dan membantunya untuk berbaring di ranjang, Kagome segera mencari thermometer untuk mengukur panasnya.

"Ya ampun, panasmu 39 derajat! Pantas saja kau sampai pucat seperti itu! Apa perlu kupanggilkan dokter ya?" Ucap Kagome panik sebelum ia memutuskan untuk keluar kamar untuk menelepon dokter.

Sekejab, tangan Inuyasha menangkap lengan Kagome. "Tidak perlu! Aku tidak mau dipanggilkan dokter...Panas seperti ini sih dengan obat saja pasti turun. Kumohon.. temani saja aku disini..."

Melihat Inuyasha yang sepertinya terlihat sangat menderita, Kagomepun memutuskan untuk memenuhi keinginannya. "Baiklah, akan kuambilkan kompress air dingin untukmu dulu."

Kagome lalu keluar untuk mengambil air es dan ember, dan segera kembali kekamar. Diambilnya sebuah kain kering dan dicelupkannya kedalam air es itu, lalu digunakan untuk mengompres dahi Inuyasha.

"Setidaknya, ini akan membantu menurunkan panasmu sedikit... Sekarang kau harus minum obat. Apa kau sudah makan, Inuyasha?"

Inuyasha menggeleng.

"Baiklah, bersabarlah disini sebentar. Aku akan memasakkan bubur untukmu. Boleh kupakai dapurmu?" Inuyasha mengangguk. Dan dengan itu, gadis itu segera turun ke dapur.

Beberapa saat kemudian, Kagomepun kembali ke kamar Inuyasha. "Maaf membuatmu menunggu, Inuyasha. Akan kuganti kompresmu dulu."

Kagome lalu menaruh mangkuk berisi bubur hangat dan sendok yang dibawanya di meja disebelah ranjang lalu mengganti kompres Inuyasha dengan kompres yang baru. Diambilnya kembali bubur di meja dan disodorkanya ke Inuyasha. "Sekarang, makanlah."

Inuyasha lalu duduk dan mengambil makanan dari tangan Kagome. "Terima kasih." ucapnya.

Tetapi, laki-laki berambut panjang itu tiba-tiba terdiam setelah dimakannya sesuap dari bubur itu.

"Mengapa, tidak enak ya?" tanya Kagome cemas.

"Ah, bukan itu... aku hanya teringat... Dulu waktu aku kecil, saat aku sakit, ibuku juga membuatkanku bubur dan memberikan kompress untuk membantu menurunkan panasku..." jawab Inuyasha.

Kagome terdiam. 'Kasihan Inuyasha,' batinnya, 'Ditinggal pergi oleh ibunya di usia semuda itu... Dia pasti sedih sekali bertumbuh tanpa sosok seorang ibu.'

Setelah selesai makan dan minum obat, Kagome mengukur panas Inuyasha lagi, dan ternyata panas tubuhnya sudah turun sedikit. Lega, Kagome pun menyuruh Inuyasha untuk kembali tidur. Inuyasha yang sudah lelah itu pun tanpa mengelak segera membaringkan tubuhnya ke ranjang. Tak berapa lama, terdengar suara bel rumah bereka berbunyi.

"Itu sepertinya Sesshomaru, dia pasti tidak membawa kunci karena terburu-buru... Oh, Kagome, ini sudah hampir malam... lebih baik kau pulang sekarang..."

"Kau yakin kau akan baik-baik saja?"

"Tentu saja. Panasku sudah turun. Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang, Kagome."

Kagome tersenyum. "Baiklah, Inuyasha. Aku pulang dulu. Cepat sembuh ya!"

Inuyasha berusaha membalas senyumannya itu. "Terima kasih ya, Kagome, untung ada kau disini tadi..."

"Tidak apa-apa, Inuyasha. Aku yang harus berterimakasih karena kau sudah meminjamkan payungmu kemarin!" Dengan itu, gadis itu pun segera meninggalkan kamarnya.

Sesampainya dibawah, dilihatnya Sesshomaru sedang merapikan sepatunya. "Ah.. aku akan pulang... terimakasih karena sudah menerimaku di rumahmu!"

Sesshomaru mengangguk. "Hati-hati dijalanmu pulang."

Kagome tersenyum. "Terima kasih!"


Sepeninggalnya Kagome, Inuyasha menyadari sesuatu yang ditinggalkan Kagome di kamarnuya itu.

'Hp? Gadis itu benar-benar ceroboh ya?' pikirnya geli dalam hati. 'Ya sudah, akan kukembalikan hp nya ini besok saat kita berjumpa di sekolah...'


End Chapter