Thanks for:
Guest, hana, Yafa mut, Animea Lover Ya-ha, IndigOnyx, lavenderaven, rima lavenderonyx, Aisanoyuri, bluerose, ariefafelov, name, lovesseta, Dewi Natalia, RizRiz 21, Devil Macma, chiaki arishima , Moku-Chan, Hyou Hyouichiffer , AzuraCantlye , indigohimeSNH , BrilliBerry Kurosaki , Aisanoyuri , Yafa mut, Diane Ungu, bluerose, eL-Uchiha Himechan, rima lavender hime, kertas biru, Diane Ungu, KumbangBimbang kirei- neko, Jurig cai, jenaMaru-chan, Atamae Hinasudachi , bluerose, Moyahime ArisaKinoshita0, Fumiko Yamazaki,
.
.
.
"Apa?!"
"Utusan dari Akatsuki Kingdom datang dan sedang menunggu di gerbang utama untuk diizinkan memasuki istana, Uchiha-sama."
Bukan. Bukan itu yang dimaksud pemuda bermata onix hitam pekat itu. Dia tentunya dengan jelas mendengar perkataan pengawal gerbang itu sejak pertama kali pengawal itu mengatakannya. Dia sebenarnya ingin bertanya untuk apa seorang 'Akatsuki' memasuki Uchiha Kingdom, bahkan ingin bertemu dengannya. 'Sangat mencurigakan', pikirnya. Tapi mengetahui jalan pikiran Akatsuki kali ini tidak ada salahnya.
"Hn. Izinkan dia masuk."
.
.
"Bukankah perjanjian itu adalah perjanjian Uchiha-Akatsuki yang terakhir? Lagipula saya sangat ingat dengan jelas bahwa perjanjian itu telah dihapuskan." Ucap sasuke datar.
"Perjanjian itu memang perjanjian Uchiha-Akatsuki yang terakhir Uchiha-sama, tapi tidak pernah ada penghapusan pada perjanjian itu sampai sekarang. Jadi, Uchiha dan Akatsuki masih memiliki hubungan dalam bidang pelayanan masyarakat, Uchiha-sama."
"Lalu, apa yang kalian inginkan?"
"Besok akan diadakan pertemuan untuk membahas masalah pelayanan kesehatan masyarakat di perbatasan Uchiha-Akatsuki Kingdom setelah itu malamnya akan diadakan pesta kecil-kecilan yang akan dihadiri kedua pihak keluarga kerajaan, Uchiha-sama."
"Hn. Apa ada yang lain?"
"Cukup, Uchiha-sama. Saya hanya ditugaskan untuk memastikan Uchiha-sama dapat menghadiri acara." Jawab utusan itu.
"Hn. Kau boleh pergi."
"Hai. Permisi, Uchiha-sama."
Setelah memastikan utusan itu pergi, Sasuke memberikan sinyal pada dayangnya untuk memanggil Sakura.
"Ada apa Sasuke-kun?" tanya Sakura lembut.
"Kenapa perjanjian Uchiha-Akatsuki terakhir itu belum dihapuskan? Aku masih ingat jelas bahwa kaulah yang kuberikan amanat untuk itu."
"Saya tidak tahu Sasuke-kun, sepertinya ada prajurit yang lengah karena tugas ini aku berikan padanya. Waktu itu sedang kurang enak badan, jadi aku menyuruhnya melakukan ini. Aku akan memanggilnya jika Sasuke-kun tidak percaya."
"Hn. Tidak perlu. Tidak ada gunanya lagi. Kau boleh pergi, Sakura."
"Hai."
Gadis cantik itu tidak dapat lagi menahan senyumannya ketika sudah jauh dari Sasuke. Semua skenario yang ia buat berjalan dengan lancar, tentunya ia sudah meperkirakan pertanyaan itu sebelumnya. Pertanyaan yang sudah dirancang mestilah memiliki jawaban yang juga sudah dirancang. Seharusnya sempurna, bukan?
.
.
Kamar itu kosong. Sasuke hanya tersenyum kecil mengetahui dimana tepatnya Hinata sekarang. Ini memang hari kedua setelah pernikahan mereka, tapi untuk ukuran Uchiha pasti tidaklah sulit mempelajari dan mengetahui kesukaan istrinya itu. Bagaimana mungkin dia tidak tahu, hampir setiap jam ia keluar dari ruang kerjanya hanya untuk melihat apa yang dikerjakan sang istri. Diam-diam tentunya.
Hinata terbiasa bangun pagi sekali, lalu setelahnya dia akan mandi. Hal yang dilakukannya selanjutnya adalah membagi perhatiannya pada taman. Bahkan tadi pagi ia menanam tanaman baru yang didapatkannya entah dari siapa di sebuah pot kecil. Dan tempat yang dapat membuat Hinata betah berjam-jam menghabiskan waktunya adalah perpustakaan khusus istana.
Dan disitulah tepatnya ia sekarang. Seharusnya.
Membuktikan firasatnya, Sasuke dapat melihat Hinata yang kini membaca buku di pojokan lemari. Sasuke yakin bahwa Hinata sangat serius membaca buku itu walaupun wajah cantiknya itu tidak menunjukkan keseriusan. Hanya wajah cantik nan tenang yang tampak.
Sebenarnya Sasuke hanya ingin melaihat wajah Hinata tanpa berniat mengganggu aktifitasnya. Seperti biasa.
"Adakah hal yang ingin disampaikan, Uchiha-san?" Tapi sepertinya kali ini Hinata cukup peka dengan kehadiran Sasuke.
"Hn. Besok kita akan berangkat ke Akatsuki Kingdom. Bersiaplah."
"Baiklah."
Inilah hal yang paling Sasuke benci sejak dua hari kemarin. Mereka hanya berbicara ketika ada hal yang ingin disampaikan saja, selebihnya mereka hanya diam. Padahal Sasuke sangat ingin melakukan hal-hal menyenangkan dengan istrinya. Hei, hal menyenangkan maksud Sasuke disini adalah mengobrol akrab misalnya, walaupun ada hal yang lebih menyenangkan tapi mengobrol akrab saja pun sudah cukup. Asal berdua. Tapi hasilnya nihil. Hinata terlalu pendiam sedangkan Sasuke terlalu malas untuk memulai pembicaraan.
.
.
Dua kereta utama berangkat pagi itu menuju Akatsuki Kingdom. Kereta pertama diisi oleh Sasuke dan Hinata sedangkan kereta kedua diisi oleh Naruto dan Sakura. Kereta Naruto dan Sakura berada beberapa meter di depan kereta Sasuke dan Hinata memimpin perjalanan yang tidak terlalu panjang ini, sebenarnya. Jarak antara Uchiha dan Akatsuki memang tidak terlalu jauh karena kedua kerajaan ini adalah tetangga dan masih memiliki hubungan di salah satu perbatasan wilayah.
Sasuke memperhatikan Hinata yang tidak mau melepaskan pandangannya dari pemandangan disebelahnya. Ia maklum, mungkin bagi Hinata itu adalah hal-hal baru. Sampai ia menyadari bahwa sekali-kali Hinata merinding merasakan hawa pagi yang cukup dingin.
Tenggelam dengan pikirannya sendiri, Hinata dapat merasakan seseorang memberikannya mantel sutera yang membuatnya merasa lebih nyaman. ia pun melihat Sasuke yang menyunggingkan sedikit senyum.
"Udara pagi ini sangat tidak bersahabat. Sebaiknya tutup saja jendelanya. Kita bisa jalan-jalan lain kali."
"Apakah Akatsuki Kingdom masih jauh?"
"Butuh dua jam untuk sampai disana. Jadi kita akan sampai satu setengah jam lagi. Sebaiknya kau tidur saja, aku tidak mau disana kau terlalu lelah."
.
.
"Kau jangan menanyakan hal yang sama terus-menerus, Baka!"
"Tapi ini aneh, Sakura-chan. Aku yakin perjanjian itu telah dihapuskan."
"Jadi kau meragukanku?"
"Bukan beg-."
"Lalu apa? Mungkin ada baiknya juga perjanjian itu belum dihapus. Akatsuki adalah kerajaan yang besar, jadi sangat menguntungkan jika kita bekerja sama dengan mereka."
"Mereka memang kaya, tapi kau tahu sendiri terkadang mereka melakukan hal-hal yang kurang baik untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Terutama Pein-sama."
'Memang itu yang aku ingnkan sekarang' batin Sakura.
"Sudahlah, Sasuke-kun saja sudah tidak mempermasalahkannya." Ucap gadis itu kemudian menutup matanya dan berpura-pura tidur. Sangat malas meladeni Naruto.
Naruto yang melihatnya hanya menghela nafas.
'Aku takut apa yang aku pikirkan benar dan kau akan semakin jauh dari dirimu sendiri Sakura-chan.' Batinnya.
.
.
Sasuke tidak dapat menahan senyumnya melihat wajah tidur istrinya. Hinata bergerak tidak nyaman dalam tidurnya, sepertinya udara pagi ini memang sangat tidak bersahabat. Kain sutera itu saja tidak cukup untuk menyamankan Hinata. Mencoba berbagai posisi nyaman, Hinata melingkarkan tangan kanannya di pinggang Sasuke, sedangkan tangan kirinya dia letakkan di bahu kanan Sasuke. Itulah kenyamanan yang ia pilih, terbukti dari bibirnya yang sedikit menyunggingkan senyum.
Sedangkan Sasuke? Dia sibuk dengan blushing yang mampir di wajah tampannya. Menyeringai tak jelas, ia kemudian mencium kening Hinata lalu memandangi wajah istrinya itu. Haha. Hal yang memang sudah sangat ingin dilakukannya tiap ia memandangi wajah Hinata dan tiap ia memikirkan Hinata. Artinya, TIAP SAAT.
Sasuke tidak menyangka akan berada di posisi seperti ini. Awalnya ia hanya melihat Hinata tertidur dengan posisi yang kurang nyaman. ia lalu mendekati Hinata dan menyandarkan kepala Hinata di bahunya. Sekarang ia hanya mencoba menutupi wajahnya yang terasa hangat dengan tangannya. Dasar Uchiha. Padahal tak ada seorang pun yang melihatnya.
Bbrk.
'Dasar batu pengganggu' pikirnya ketika ia melihat Hinata mulai terbangun dan mengerjapkan matanya. Karena tidak ingin melihat Hinata malu, ia kemudian pura-pura tidur dan memasang wajah stoicnya itu.
Hinata terbangun dan menyadari bahwa ia memeluk Sasuke. Terkejut, ia segera melepaskan tangannya dan menjauh ke sudut kereta. Hei, padahal kan mereka suami-istri. Ck,ck.
Dan Sasuke yang 'hanya' pura-pura tidur, sukses menangkap pipi chubby Hinata yang sangat merah sekarang.
'Haha. Kena kau, Hime.'
Berpura-pura –lagi—bangun, Sasuke melihat sekitarnya dan bertanya,
"Apa kita sudah sampai?"
"S-se-sepertinya s-sebentar lagi." Jawab Hinata gugup tidak berani melihat wajah Sasuke. Dia sangat malu mengingat posisi tidurnya tadi.
"Benarkah? Hei, apa kau sakit? Wajahmu sangat merah." Tanya Sasuke mati-matian menahan evil smirknya keluar. Dasar iblis tampan.
"Aku baik-baik saja. Mungkin ini karena cuaca sudah mulai panas."
"Hn. Mungkin memang begitu."
Satu hal lagi yang baru Sasuke ketahui tentang istrinya. Menggemaskan. Sangat.
.
.
Yang pertma kali tiba di istana Akatsuki s adalah kereta kuda Naruto-Sakura. Beberapa meter di belakangnya kereta Sasuke-Hinata pun berhenti. Sakura dan Naruto merasa aneh karena ketika Sasuke turun dari kereta. Bagaimana tidak aneh? Wajahnya yang biasanya stoic itu menampakkan ekspresi lain yang sudah tak pernah ia tunjukkan sejak keluarga Uchiha lainnya, terutama Kaa-sannya meninggal. Dia benar-benar tersenyum. Lalu membantu Hinata turun dari kereta mewah itu. Naruto akhirnya mengerti dan nyengir tidak jelas setelah melihat wajah Hinata.
Sedangkan Sakura tidak menyukai wajah memerah Hinata yang masih jelas tercetak di wajahnya. Tangannya mengepal erat dan memandang mereka tidak suka. Cemburu, tepatnya.
"Suatu kehormatan Uchiha Sasuke akhirnya menginjakkan kakinya di Akatsuki Kingdom."
"Hn."
"Aa, tentunya inilah Tuan Putri Hyuuga Hinata. Saya hanya dapat melihat Anda dari kejauhan waktu itu. Anda bahkan lebih cantik lagi dari dekat seperti ini. Perkenalkan, saya adalah Pein." Ucap Pein sambil mengulurkan tagannya dengan sopan. Mengajak berkenalan tentunya.
Ketika Hinata hendak mengulurkan tangannya juga, Sasuke tidak membiarkannya. Ia memegang tangan istrinya dan malah menggantikan Hinata menjabat tangan Pein.
"Hn. Namanya Hinata UCHIHA. Istri Uchiha SASUKE. Senang berkenalan denganmu, Pein-sama."
"Teme, kau tidak perlu sepossessif itu."
Melihat hal itu, Pein melirik sekilas pada Sakura. Sakura yang dilihat seperti ini hanya menampakkan ekspresi yang tak dapat diartikan.
"Baiklah, silahkan. Saya sudah menyiapkan kamar istirahat untuk kalian sebelum acara dimulai siang ini. Dan bersiap-siap untuk acara nanti malam tentunya."
"Hn." Lalu mereka mengikuti dayang-dayang itu ke tempat masing-masing. Sedangkan diurutan paling belakang Pein dan Sakura berjalan beriringan.
"Apa kau kira ini akan mudah? Si Uchiha itu sudah jatuh cinta pada Hinata."
"Tidak. Sasuke-kun hanya mencintaiku. Mungkin dia belum menyadarinya. Dan kau harus membantuku. Bukankah kau yang menawarkan bantuan waktu itu?"
"Baiklah, terserah padamu."
"Sebenarnya apa untungnya untukmu menawarkan bantuan itu?"
"Maksudmu apa Sakura?"
"Aku tidak percaya kalau kau membantuku 'Cuma-Cuma'. Aku sudak lama mengenalmu. Pasti ada sesuatu dalam kepalamu itu. Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
"..."
"Dan aku sangat tidak menyukai senyum menyebalkanmu itu."
"Kau tidak perlu tahu urusanku, kucing kecil."
.
.
Peresmian pelayanan masyarakat itu dilaksanakan di perbatasan Uchiha-Akatsuki. Banyak warga sekitar yang ingin mengetahui tentang pelayanan apa saja yang disediakan kerajaan pada mereka. Mereka senang karena akhirnya kedua kerajaan itu memperhatikan mereka. Karena letak wilayah mereka yang berada di perbatasan, mereka tidak memiliki status yang jelas dan sulit mendapatkan pelayanan ketika membutuhkan bantuan.
Sepanjang acara, Sasuke selalu menggenggam tangan mungil Hinata. Dia sepertinya mulai menyadari untuk mendapatkan hati Hinata, ia harus lebih berani dan tidak segan-segan.
Acara peresmian itu berjalan lancar sampai akhirnya seorang kakek berteriak dari kerumunan paling belakang.
"Tolong cucu saya! Dia tiba-tiba pingsan."
Acara itu terhenti sejenak. Pein memerintahkan prajuritnya untuk memanggil tabib Akatsuki.
"Tapi butuh setengah jam untuk memanggil tabib dari sini. Bagaimana dengan nasib cucuku?"
Sasuke merasa kasihan melihat kakek tua itu. Sangat menyedihkan ketika kita kehilangan keluarga yang sangat kita cintai. Tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dia tidak berbakat dalam pengobatan. Jalan satu-satunya adalah menunggu tabib datang. 'Semoga belum terlambat'.
Tiba-tiba Sasuke merasakan tangan Hinata terlepas. Hinata berjalan menuju cucu kakek tua itu. Semua yang ada disitu merasa heran dengan apa yang akan sang putri lakukan.
Hinata membuka kelopak mata gadis kecil itu lalu memeriksa detak nadi dari lehernya. Lalu, tangannya perlahan turun ke bagian kaki gadis kecil itu. Dan benar saja, tampak bekas gigitan ular disitu. Semua orang yang ada disitu, terutama si Kakek sangat cemas dan kaget. Tanpa buang waktu, Hinata lalu merobek ujung gaunnya lalu mengikatkannya pada kaki gadis kecil itu, lau ia membuat sayatan baru yang kecil di dekat bekas gigitan itu. Dan yang paling membuat semua yang ada disitu kaget adalah ketika Hinata menghisap darah gadis kecil itu dari sayatan kecil yang baru saja dia buat.
"Hinata-sama, apa yang anda lakukan? Biarkan tabib saja yang akan mengobati anak itu." Suara Painlah yang pertama kali menyuarakan kekagetannya.
"Gadis kecil ini digigit ular berbisa. Jika menunggu tabib, racunnya akan segera menyebar."
"Bagaimana dengan cucu saya, Hinata-sama?"
"Dia akan baik-baik saja. Sepuluh menit kemudian bukalah ikatan ini selama satu menit untuk membiarkan darahnya tetap mengalir, lalu ikat lagi. Begitu seterusnya sampai tabib datang."
Selesai mengatakan itu, Hinata langsung pergi untuk membersihkan mulutnya dan mengganti gaunnya. Dan tentunya ia meninggalkan semua mata yang menatap kagum ke arahnya. Yang pertama bergerak dari tempat itu adalah Sasuke. Menyusul Hinata.
"Apa kau tidak apa-apa?"
Hinata sedikit kaget dan mengangkat kepalanya dan mata lavendernya bertemu dengan onix Sasuke di kaca kamar mandi itu. Kontan saja mukanya memerah. Tiap melihat wajah Sasuke ia selalu mengingat kejadian di kereta itu. Padahal dari tadi, ia berusaha untuk tidak bertatap langsung dengan Sasuke. Ada hal aneh yang tiba-tiba ia rasakan. Dan hal aneh itu selalu sukses membuat wajahnya panas dan tiba-tiba memerah sendiri.
"Saya baik-baik saja, Uchiha-san."
.
.
Sepertinya Sasuke pernah mengatakan bahwa dia akan mengajarinya bagaimana seharusnya Hinata memanggil namanya. Dan sepertinya ini bukanlah waktu yang buruk untuk melakukannya.
"Benarkah? Tapi aku pernah mendengar bahwa tidak baik langsung menghisap darah bekas gigitan ular seperti itu. Itu berbahaya, kau tahu?"
"Tidak ada cara lain. Gadis itu harus segera ditolong. Lagipula aku baik-baik saja."
Lalu tiba-tiba saja Hinata merasakan badannya dibalik dan terpaksa menatap mata Sasuke. Yang ditatap hanya menampakkan seringaian menggodanya. Melihatnya, Hinata segera memalingkan wajahnya ke samping karena merasa malu dan tidak nyaman.
Yang ia rasakan kemudian Sasuke tiba-tiba mencium pipinya sehingga ia dengan otomatis memalingkan lagi wajahnya menghadap Sasuke dan,
CUP
Hei, kali ini dibibir. Hinata yang jelas kaget berturut-turut membelalakkan matanya tidak percaya. Dan Hinata lagi-lagi merasaka gejala aneh itu. Wajahnya tiba-tiba memanas dan kali ini jantungnya juga ikut-ikutan menyemarakkan gejala aneh itu. Ini adalah pertama kalinya jantungnya sangat tidak teratur seperti ini.
"Ap-apa-apaan i-itu?" tanyanya sambil menutupi bibirnya dengan telapak tangan kanannya.
"Hn. Memastikan kau baik-baik saja. Aku pernah dengar ciuman bisa memastikan seseorang baik-baik saja atau tidak. Lagipula itu dapat menjadi penawar jika racun itu terhisap olehmu." ternyata Uchiha juga berbakat dalam mengarang. Sejak kapan ciuman bisa memastikan seseorang baik-baik saja? Apalagi sebagai penawar racun.
"Asal!"
"Tapi tidak ada salahnya dicoba, bukan? Sepertinya cara itu benar-benar ampuh."
"T-tap-tapi aku sudah mengatakan k-kalau aku baik-baik saja, Uch-."
CUP
Tapi kali ini bukan hanya sekedar menempelkan bibirnya saja. Sasuke mulai lebih berani terhadap Hinata. Ia ketagihan pada bibir lembut istrinya yang seharusnya sudah dimilikinya sejak hari pertama mereka menikah. Ia melingkarkan tangan kirinya di pinggang Hinata dan tangan kanannya di wajah Hinata. Hinata yang terlalu-sangat-kaget tidak dapat menggerakkan badannya sama sekali. Bahkan saat bibir Sasuke bergerilya di bibirnya -penuh nafsu- pun ia hanya bisa berdiam saja. Dan tetap seperti itu sampai Sasuke merasa Hinata mulai megap-megap kekurangan oksigen. Ia pun dengan tidak rela melepaskan ciumannya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Hinata.
"Sasuke, Hime. Panggil aku Sasuke."
Tidak ingin kejadian yang lebih parah menimpa dirinya, Hinata dengan buru-buru pergi dari kamar mandi itu. Wajahnya sudah merah tidak karuan. Dan sepertinya dia butuh menenagkan detak jantungnya sendiri.
Sebenarnya Sasuke juga sangat tidak mengira ia akan mencium Hinata. Hal itu hanya tiba-tiba saja terlintas dipikirannya.
Apakah Sasuke menyesal?
Evil smirknya itu membuktikan bahwa ia sama sekali tidak menyesal.
"Kau harus bertanggung jawab karena aku sepertinya ketagihan, Hime."
.
.
Ada yang aneh pada Hinata sejak kejadian tadi sore. Dia selalu berusaha menghindari Sasuke ataupun jika terpaksa bertemu ia tidak akan mau menataap Sasuke secara langsung, ia terus menundukkan kepalanya. Dan Sasuke menyadari itu. Tapi ia senang mengetahuinya karena itu artinya Hinata mulai menyukainya. Tapi di sisi lain dia kurang senang karena Hinata jadi lebih sering mendiamkannya. Sesekali ia melirik Hinata yang sedang berhias di depan kaca.
Tok tok tok
Yah. Paling tidak suara ketukan itu memecahkan kesunyian di antara mereka.
"Uchiha-sama, pesta akan segera dimulai." Ucap salah satu pengawal dari luar pintu.
"Hn."
Melihat Hinata bangkit dari duduknya, Sasuke segera berdiri.
"Tunggu, Hinata."
Seperti biasanya, Hinata menurut. Tapi kali ini tanpa menatap Sasuke.
Hal selanjutnya yang Hinata sadari adalah dirinya telah kembali berdiri di depan kaca rias dengan Sasuke yang ada di belakangnya. Sasuke mengambil sesuatu dari sakunya dan memakaikannya di leher Hinata.
Cantik.
Itulah kata pertama yang terlintas dipikiran Hinata saat melihat kalung itu. Itu adalah kalung terindah yang pernah ia lihat.
"Ini adalah pemberian Kaa-san. Kau sangat cantik memakainya Hinata."
"Arigatou, Uch-."
CUP
Leher Hinata menjadi sasaran bibir Sasuke kali ini. Dan kali ini juga, Hinata sempat menganga tidak percaya. 'B-berani se-sekali'
"Sasuke, Hime." Bisiknya lagi.
"S-sep-sepertinya kita akan terlambat. Aku akan ke aula terlebih dahulu jika Uc-, jika S-Sa-Sasuke-kun masih ingin disini."
Tapi langkah Hinata terhenti karena Sasuke menggenggam tangannya erat.
"Tentu saja kita bersama, Hime." Katanya, lalu mengganti genggamannya menjadi gandengan selayaknya pasangan.
.
.
tbc
